Wednesday, August 22, 2012

Wuquufu al Qolbi Hadlir ila Robby

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Hubungan segala sesuatu selain Allah (mahluk) sudah seharusnya tidak memalingkan perhatiannya dari Allah SWT, walau sesaat pun. Begitu terputus dari segala macam ikatan, hanya hubungan dengan Allah saja yang mesti ada dan tersisa dalam hati sanubari. Dalam ungkapan lain, semua hubungan mestilah berasal hanya dan cuma satu saja, yang disebut oleh kaum Sufi tentang hadlir ilalloh terus menerus, senantiasa merasakan panggilan & KehadiranNYA di setiap gerak nafas mahluk yang begitu dekat melebihi dekatnya sesuatu yang paling dekat dengan diri mahluk, atau Kontemplasi Ilahi.
Seperti diungkapkan seorang penyair darwisy :Kehidupan dan hatiku sibuk dengan diriMu, dan mataku mengerling ke kanan dan ke kiri (muroqobah ma’iyah ‘ala haqiqoti al-ruh)Agar saingan-sainganku tidak tahu (fana’ kullun), bahwa Engkaulah sesungguhnya KekasihKU
Sesudah mengutip ayat-ayat Alquran ini, saya akan menyebutkan beberapa hadis Nabi Muhammad mengenai kewajiban mengerti (‘arif) Allah berikut segala keuntungan dan manfaat serta kefana’an diri yang diperoleh dariNYA barulah mahluk bisa mengingat dengan sebenar-benarnya mengingat.
Abdullah bin faqir
Seseorang berkata, “Ya Rasul Allah, aku demikian banyak terbebani oleh perintah-perintah dalam Syari’ah. Berilah aku nasihat ihwal sesuatu yang mesti kupegang erat-erat”. Nabi bersabda, “Hendaknya lidahmu tidak pernah berhenti mengingat dan menyebut-nyebut nama Allah sampai kau terpanggil dan fana’u al-fana’ ila baqo’u al-ilahiyah dengan seluruhnya”
Nabi Muhammad SAW bersabda : “Maukah aku beritahukan kepadamu amalan-amalan yang dipandang oleh Tuhanmu sebagai lebih baik dan lebih utama, yang menjadi sarana menaikkan derajatmu dan yang lebih baik ketimbang memberi sedekah berupa emas dan perak dan bahkan lebih baik ketimbang memerangi musuhmu, entah dalam keadaan membunuh mereka atau terbunuh mereka ?”. Mereka menjawab, “Ya”. Nabi bersabda ; “Mengingat Allah / dzikrul ilaahi”.
Seperti diungkapkan seorang penyair :
Kuucapkan nama-Mu dan kubakar kehidupanku,
Hingga sampai titik keADAManku.
Aku laksana lilin, dalam api, lantaran lidahKU ku mampu memujaMU.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah ibn ‘Umar bahwa Nabi Muhammad saw, bersabda : “Tak ada sesuatu pun yang lebih efektif dalam menyelamatkan diri kita dari hukuman Allah selain mengingat-Nya”. Orang-orang bertanya, “Tidak jugakah berjuang di jalan Allah akan menyelamatkan diri kita ?”. Beliau menjawab, “Tidak, tidak ada satu amalan pun bisa menyamai zikir atau mengingat Allah, sekalipun para prajurit menggunakan pedangnya sedemikian rupa sehingga pedang itu patah”.
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw
bersabda : “Orang-orang yang tidak terikat dan bebas ( hurrin / merdeka lahir bathin pada kepasrahan ) sudah lebih dulu unggul”, sabda Nabi SAW dan Orang-orang bertanya, “Ya Rasul Allah, siapakah orang-orang yang tidak terikat dan bebas itu ?”, Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang tidak henti-hentinya ingat setelah ‘arif billah”.
Seperti diungkapkan oleh seorang penyair Sufi :
Hati seorang Mukmin beroleh kegembiraan
dari kebahagiaan iman,
Kebahagiaan iman memberikan kebahagiaan
kepada kaum Mukmin.
Semua kegembiraan lainnya pun terlupakan,
Disaat kaum ahli bathin memperoleh kebahagiaan
dari mengingat Allah.
Anas meriwayatkan langsung, dari Rasulullah, “Allah SWT berfirman, ‘Aku senantiasa bersama pikiran hamba-Ku dan bersamanya manakala ia mengingat-Ku. Manakala ia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku juga mengingatnya dalam hati-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam sebuah majelis dan majelis ini lebih baik
dari majelisnya”.
Janganlah melupakan Allah, agar engkau terpanggil menjadi kekasihNYA. Jika engkau pernah mengingat-NYA setelah melihatNYA, pasti engkau telah terpanggil & dipilih untuk menjadi KEKASIHNYA tanpa washilah.
Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah saw, bersabda “Allah SWT berfirman, ‘Aku bersama hamba-KU manakala ia mengingat-KU dan bibirNYA hanya bergerak menyebut-nyebut nama-KU”.
Al-Qusyairi meriwayatkan dari Anas, “Nasib malang tidak akan menimpa orang yang mengatakan, BILLAAHI, LILLAAHI, MA’ALLOHI, WA ILALLOHI KULLUHUM AJMA’IINA”.
Dalam sebuah hadis lain diriwayatkan ; “Hari Kiamat akan terjadi jika Allah, Allah tidak lagi diucapkan di muka bumi”.
Seorang yang ‘ARIF billah bisa disamakan dengan orang hidup dalam kubah alloh ( kesadaran ), dan seorang yang tidak ‘Arif billah bisa disamakan dengan orang mati / mayat berjalan, yakni orang-orang yang ‘ARIF billah adalah hidup dalam panggilan kefana’an tauhid dan orang yang tidak ‘arif billah adalah mati (bangkai berjalan).
Sesudah mengetahui titik nuqoth yang ditegaskan pada BIKAANA BI YAKUUNU BIKUN BIHI maka berbagai MANFAAT dan HIKMAH, bisa Kita fahami dengan sebenar-benarNYA.
Dzikir adalah piagam Panggilan Allah. Barangsiapa diberi anugerah dzikir Haqqullah, maka yang demikian itu berarti bahwa ia sudah diberi perintah berikut, “Engkau memang benar-benar haqqi”.
Di sini lalu timbul pertanyaan : Mengapa dzikir atau mengingat Allah, yang demikian mudah dan sama sekali tidak susah, dipandang sebagai lebih bermanfaat dan lebih unggul ketimbang bentuk-bentuk ibadah lainnya yang memerlukan tindakan yang
sulit dan sukar ?. Imam al Ghazali memberikan jawaban sebagai berikut :
Kenyataan ini bisa ditetapkan melalui pengetahuan & pengalaman mistis/sepiritual, akan tetapi, sejauh pengetahuan & pemahaman praktis aqal, bisa dikatakan bahwa hanya dzikir atau mengingat Allah saja yang efektif dan bermanfaat, yang senantiasa dan terus-menerus dilakukan disertai kehadiran ( Allah ) dalam jiwa dan pikiran. Akan halnya dzikir atau mengingat Allah secara verbal dan hati disibukkan dengan permainan dan senda gurau saja tanpa isi, dzikir panggilanNYA dalam keadaan suci ,batal,sibuk,bercanda bekerja,berdiskusi tanpa di batasi oleh gerak lahir & bathin.
Hadis Nabi memperkuat pandangan ini. Sebagaimana diungkapkan seorang penyair darwisy :
Jika engkau tidak mengerti di saat mengingat Allah, Sebelum mengenali haqiqatnya (haqqu al-rububiyah). Meskipun engkau sibuk sepanjang hayatmu, maka engkau tak beroleh apa-apa kecuali kesesatan belaka dan dirimu tiada sadar merasa mengingat sesuatu yang belum pernah engkau melihat dan mengenalinya
Namun engkau telah menyebut dan merasa telah dzikir kepadaNYA.
Itulah CIRI-CIRI haqiqat MUNAFIQ, belum mengenal namun telah merasa mengingat al-haq. Namun, mengingat dzat Kekasih dengan panggilanNYA kekasih untuk kekasihNYA dalam kerelaan UBUDIYAH AL-RUBUBIYAH senantiasa bermanfaat dan selalu berguna sepanjang masa.
{يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا الأَلْبَابِ} (البقرة/269).
“Allah berikan HIKMAH kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang diberi HIKMAH, maka ia telah diberi kebaikan yang banyak” (Al Qur’an, Surah Al Baqoroh, 2:269)
Post a Comment