Sunday, August 26, 2012

Antara Tasawuf dan Syari'at

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Antara Tasawuf dan Syari'at




Seluruh pengamal tasawuf yang
mengamalkan pengamalan tarikat muktabarah sepakat bahwa landasan utama
peramalan itu adalah pengamalan syariat yang kuat. Semua lembaga
tarikat Muktabarah berlandaskan Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang sangat
menekankan pengamalan syariat yang sempurna, adalah satu-satunya jalan
untuk berhasilnya pengamalan tarikat itu. Sementara ada sebagian orang
yang berpura-pura mengaku pengamal tasawuf tapi tidak mengamalkan
syariat, mengatakan mereka telah sampai ke tingkat yang tinggi, telah
sampai ke tingkat musyahadah yang dibuktikan dengan beberapa
kekeramatan-kekeramatan.





Pengakuan yang
demikian ini adalah sesat, karena sangat bertentangan dengan Al Qur'an
dan Al Hadis, dan tidak sesuai dengan aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah
dan berbeda atau sangat bertentangan dengan kenyataan yang dilaksanakan
oleh para tokoh sufi pengamal tarikat Al Muktabarah.
Pengakuan-pengakuan yang demikian ini umumnya datang dari orang yang
berpura- pura pengamal tasawuf atau datang dari pihak-pihak yang tidak
senang kepada jalan yang ditempuh oleh para sufi.




Para sufi
menekankan peramalannya harus didasarkan kepada at Taslim (penyerahan
diri sepenuhnya kepada Allah SWT), At Tafwidh (berserah diri sepenuhnya
kepada Allah SWT), At Tabarri Minan Nafsi (Pembebasan diri dari hawa
nafsu), dan At Tauhid bil Khalqi wal Masyi'ah (mengesakan hanya Allah
sajalah yang Maha Pencipta dan Maha Berkehendak).




Berbeda dengan
golongan Qadariah yang mendasarkan peramalannya kepada Al Fi'lu
(perbuatan adalah kehendak yang bersangkutan), al Masyi'ah (semua
kehendak adalah kehendak yang bersangkutan), al Khalqah (semua yang
diciptakan adalah ciptaan yang bersangkutan) dan at Takdir (semua
takdir itu tergantung kepada yang bersangkutan). Mereka ini semuanya,
mendasarkan apa saja yang mereka lakukan tergantung kehendak mereka.




Di
dalam Al Qur'an banyak sekali dalil yang menunjukkan kebenaran landasan
peramalan para sufi tersebut. Hasilnya pun kelihatan dengan pengamalan
yang sungguh-sungguh yang didasarkan kepada syariat yang kuat, para
sufi memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman dan beribadat,
ketentraman dan ketenangan. Apa yang diperoleh para sufi ini merupakan
buah, hasil ibadatnya yang merupakan rahmat dari Allah SWT. Apa yang
diperoleh oleh para sufi ini belum tentu, atau bahkan kecil sekali
kemungkinannya dapat diperoleh oleh orang lain. Letak perbedaannya
menurut Al-Ghazali, para sufi lebih gigih dalam riyadlah dan mujahadah.
Mereka tidak memadai dengan pengamalan-pengamalan syariat wajib saja,
tetapi harus juga mengamalkan syariat-syariat sunnah. Para sufi tidak
hanya meninggalkan yang haram dan makruh saja, tetapi juga meninggalkan
hal-hal yang mubah (kebolehan), yang tidak berfaedah apalagi kalau hal
itu dapat membawa kepada melalaikan syariat.




Ibnu Khaldun
menyatakan, berkat riadlah dan mujahadah yang sungguh-sungguh, maka
para wali memperoleh tanda-tanda kemenangan yang besar, memperoleh
kekeramatan-kekeramatan, sebagaimana hal itu juga diperoleh para
sahabat Rasulullah As Sabiqunal Awwalun. Orang tidak boleh tertipu dan
terpedaya dengan adanya kekeramatan-kekeramatan ini sebelum dibuktikan
kuatnya syariat yang bersangkutan. Kekeramatan ini tidak menjadi tujuan
dan tidak pula menjadi ukuran. Yang menjadi tujuan adalah dekat kepada
Allah, mendapat ridla-Nya dan yang menjadi ukurannya mengamalkan
syariat dengan berhakikat sempurna.




Pengamal tasawuf yang telah
memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman dan beribadat,
ketentraman dan ketenangan adalah suatu bukti bahwa dia telah menjalani
atau menempuh jalan yang benar dan mengamalkan syariat yang haq.




Dalam
buku "Al Munqiz Minadlalal" diuraikan tentang para sufi yang banyak
memberikan pendapat atau komentar berkenaan tasawuf dihubungkan dengan
syariat, ini disebutkan di dalamnya.






a. Imam Al Ghazali

Al
Ghazali mengatakan, "Ketahuilah bahwa banyak orang yang mengaku, dia
adalah menempuh jalan (tarikat) kepada Allah, tapi yang sesungguhnya,
yang bersungguh-sungguh menempuh jalan itu adalah sedikit. Adapun tanda
orang yang menempuh jalan yang sungguh-sungguh dan benar, diukur dari
kesungguhannya melaksanakan syariat. Kalaupun ada orang yang mengaku
bertasawuf dan bertarikat dan telah menampakkan semacam
kekeramatan-kekeramatan, melalaikan atau tidak mengamalkan syariat,
ketahuilah bahwa itu adalah tipu muslihat, sebab orang yang bijaksana
(orang tasawuf) mengatakan :
"Jikalau kamu melihat
seseorang mampu terbang di angkasa dan mampu berjalan di atas air,
tetapi ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka
ketahuilah bahwa sebenarnya ia itu adalah setan." 






b. Abu Yazid Al Bustami

Beliau menyatakan : "Andaikata kamu melihat seseorang yang diberi kekeramatan hingga dapat
naik ke udara, maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu
dapat melihat dan meneliti bagaimana dia melaksanakan perintah dan
larangan agama serta memelihara ketentuan-ketentuan hukum agama dan
bagaimana dia melaksanakan syariat agama.
"



c. Sahl at Tasturi

At
Tasturi mengungkapkan tentang pokok-pokok tasawuf yang terdiri dari
tujuh pokok jalan (tarikat), yaitu berpegang kepada Al Kitab (Al
Qur'an), mengikuti Sunnah Rasul, makan dari hasil yang halal, mencegah
gangguan yang menyakiti, menjauhkan diri dari maksiat, selalu
melazimkan tobat dan menunaikan hak-hak orang lain.






d. Junaid al Baghdadi

Al
Junaidi mengomentari orang yang mengaku ahli makrifat tetapi dalam
gerak geriknya meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan
mendekatkan diri kepada Allah, maka beliau mengatakan "Ketahuilah bahwa
dia itu adalah setan". Selanjutnya beliau mengatakan,


Artinya :
Ucapan itu adalah ucapan suatu kaum yang mengatakan adanya pengguguran
amalan-amalan. Bagiku hal itu merupakan suatu kejahatan yang besar, dan
orang yang mencuri atau orang yang berzina adalah lebih baik daripada
orang yang berpaham seperti itu.






e. Abul Hasan As Syazili

As Syazili mengatakan, : Jika pengungkapanmu bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Rasul,
maka hendaklah engkau berpegang kepada Al Qur'an dan Sunnah Rasul itu,
sambil engkau mengatakan kepada dirimu sendiri "sesungguhnya Allah SWT
telah menjamin diriku dari kekeliruan dalam Al Qur'an dan Sunnah
Rasul". Allah tidak menjamin dalam segi pengungkapan, ilham, maupun
musyahadah (penyaksian), kecuali setelah menyesuaikan perbandingannya
dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasul.


F. Ibnu Qoyyim 


Beliau berkata dalam kitabnya "Madarij al-Salikin" yang didukung oleh Al-Kattani
dengan statemennya, "Tasawuf Islam adalah etika. Jika etikamu bertambah
(bagus), maka bertambahlah kebersihan jiwamu."


 






Sebagai kesimpulan, semua
pengamalan kaum sufi harus mengikuti semua Nash Al Qur'an dan As Sunnah
dan meneladani amaliah-amaliah Rasulullah, sebagai panutan tertinggi
para sufi.



 Nabi SAW ditanya
tentang suatu kaum yang meninggalkan amalan-amalan agama, sedangkan
mereka adalah orang-orang yang berbaik sangka kepada Allah SWT. Maka
jawab Nabi SAW, "Mereka telah berdusta. Karena jika mereka berbaik
sangka, tentu amal perbuatan mereka juga adalah baik."  Wallahu'alam.
Post a Comment