Sunday, August 19, 2012

Mempelajari Tauhid harus dengan Al-Qur'an dan Hadist Tidak Dengan Kitab-Kitab Non Islam

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Salah seorang terkemuka berkata pada khalayak umum untuk mempelajari kitab-kitab injil dan taurot dia berkata "alangkah baiknya kalau kita (muslimin) mengambil Hikmah dan mempelajari kitab-kitab injil, taurot seperti mereka mempelajari kitab suci kita al-Qur'an"  

Memang benar kita juga diperbolehkan membaca kitab-kitab non islam tapi tidak untuk tahap belajar atau tahap mendekatkan diri kepada Allah. Atau  dengan tujuan mendekatkan diri dengan membaca kitab-kitab Injil, Taurot, Zabur Karena dalam Al-Qur'an sendiri sudah lengkap sudah mencakup berbagai hukum dalam kehidupan baik Tauhid, Fiqih, Tasawuf dan Amaliyah-amaliyah lannya. Membaca kitab-kitab injil, taurot dll hanya sebatas untuk pengetahuan saja tidak tahap untuk pembelajaran Agama Islam.

seperti hadist bukhori berikut 

Adalah ahli kitab, mereka membaca Taurat dengan Bahasa Ibrani dan mereka menafsirkannya dengan bahasa Arab untuk warga Islam. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah kamu sekalian membenarkan ahli kitab dan jangan kalian membohongkan mereka. dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri". (HR Al-Bukhari, kalimat yang akhir itu dari Al-Qur’an Surat Al-Ankabut: 46).
Kesempurnaan al-Qur'an dan ajaran nabi Muhammad sudah sangat jelas diterangkan oleh Al-Qur'an sendiri dan juga oleh beberapa hadist nabi. kalau memang untuk mempelajari ilmu agama ya harus berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist Nabi Bukan belajar dengan Taurot atau kitab-kitab non islam hal ini langsung ditegur oleh Nabi. 

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa Umar bin Khatthab mendatangi Nabi saw dengan kitab yang dia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab, lalu Nabi saw membacanya, maka beliau marah lalu bersabda: ِApakah mereka bingung mengenainya wahai Anak Khatthab.Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh telah aku bawakan dia (pengganti Taurat) dalam keadaan putih lagi suci. Janganlah kalian menanyakan kepada mereka (Ahli Kitab) tentang sesuatu lalu mereka mengabarkan kepada kalian kebenaran maka kamu membohongkannya atau kebatilan maka kamu membenarkannya. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya Musa saw keadaannya hidup maka tidak ada kelonggarannya kecuali ia mengikutiku. (HR Ahmad dalam Musnadnya, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Ad-Darimi dengan lebih sempurna. Hadits ini punya banyak jalan menurut Al-Lalkai dan Al-Harawi, maka penulis Al-Fikrus Shufi, Abdur Rahman Abdul Khaliq menyebutnya hadits hasan).

Hadits tersebut adalah pokok mengenai penjelasan manhaj (metode pemahaman) Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak boleh seorang pun mencari petunjuk --untuk mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri pada Allah dan memperbaiki diri-- kepada ajaran yang tidak dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, hatta walaupun dulunya termasuk syari’at yang diturunkan atas salah satu nabi yang terdahulu, bila tanpa pembolehan dari Allah dan rasul-Nya. (Tasawuf Belitan Iblis, hlm. 6).
Enhanced by Zemanta
Post a Comment