Friday, August 10, 2012

Seluruh Jagat Raya Bertawaf kepada Allah SWT

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Dalam al-Qur'ân digambarkan bahwa malaikat itu sangat taat pada Tuhan, "Yaf'alûna mâ yu'marûn (melaksanakan apa yang diperintahkan)" (Q., s. al-Nahl/16:50 dan s. al-Tahrîm/66:6). Kemudian mereka menjaga 'arsy Allah s.w.t. 'Arsy artinya kursi atau singgasana. Karena itu ada ayat kursi, karena ayat itu menggambarkan "wasi'a kursiyyuhu 'l-samâwâti wa 'l-ardl (Singgasana-Nya meliputi langit dan bumi)" (Q.S. al-Baqarah/2:255).

Juga digambarkan bahwa 'arsy itu berada di atas air di luar jagad raya ini. Para ulama sekarang menafsirkan bahwa yang dimaksud air itu tidak harfiah air, tapi substansi. Banyak gambaran dalam al-Qur'ân bahwa para malaikat itu menjaga 'arsy Tuhan dan berkeliling sekitar 'arsy itu.

Maka ada yang mengatakan bahwa ibadah tawaf di Makkah mengelilingi Ka'bah itu sebetulnya meniru malaikat mengelilingi 'arsy. Jadi Ka'bah itu simbolisasi dari seluruh jagad raya yang intinya adalah 'arsy, kemudian kita menirukan malaikat mengelilingi 'arsy. Kebetulan juga bahwa seluruh jagad raya ini thawaf atau berkeliling.

Misalnya, rembulan mengelilingi bumi, bumi mengelilingi matahari, matahari bersama anggota keluarganya yang disebut sebagai tata surya (seluruh sistem itu) mengelilingi inti dari gugusan Bima Sakti (Milky Way). Yaitu, suatu keluarga besar yang meliputi termasuk tata surya kita ini yang dipimpin oleh matahari. Dan dalam Bima Sakti itu terdapat milyaran matahari. Bima Sakti mempunyai pusat yang di situ ada lubang hitam (black hole). Semuanya berputar berkeliling, karena itu gambarnya bulat dan berputar. Kemudian Bima Sakti sendiri sekarang diketahui berputar, tapi berputar mengelilingi apa, itu yang tidak diketahui. Jadi seluruh jagad raya ini sebetulnya thawâf.

Para filsuf kemudian menafsirkan bahwa ilustrasi dalam al-Qur'ân tentang para malaikat yang mengelilingi 'arsy itu ialah ilustrasi tentang jagad raya ini yang mengelilingi suatu pusat, yaitu dengan sendirinya Allah s.w.t. Kita tidak bisa membayangkan itu karena wahyu itu datang dari Allah pada Nabi secara spontan ketika itu juga melalui malaikat Jibril. Kita membayangkan perjalanan Jibril itu misalnya dari langit yang ketujuh ke bumi itu bagaimana?

Al-Qur'ân mengatakan bahwa langit itu tujuh lapis, seperti dalam surat al-Mulk, "Khalaq-a sab'-a samâwât-in thibâq-ân (menciptakan langit berlapis-lapis)" (Q., s. al-Mulk/67:3). Tetapi sebetulnya tidak ada keterangan mengenai tujuh lapis langit itu seperti apa. Ada yang mengatakan bahwa itu sebetulnya simbolisasi angka. Tetapi ada juga yang mengatakan itu harfiah dan angka tujuh itu memang angka yang favorit untuk orang-orang Timur Tengah. Hari tujuh itu juga buatan orang-orang Timur Tengah. Orang Jawa harinya cuma lima: legi, pahing, pon, wage, kliwon.

Tetapi, terlepas dari apa pun maknanya, karena memang kita tidak tahu itu, namun ada keterangan dalam al-Qur'ân surat al-Mulk mengenai langit yang pertama. Yaitu, bahwa langit yang pertama itu dihiasi Allah dengan bintang-bintang, "Wa laqad zayyan-nâ 'l-samâ'-a 'l-duny-â bimashâbîh-a (Telah Kami hiasi langit lapisan terbawah dengan pelita-pelita)" (Q., s. al-Mulk/67:5). Kemudian di tempat lain secara harfiah disebutkan, "Innâ zayyan-nâ 'l-samâ'-a 'l-dunyâ bî zînat-i 'l-kawâqib (Kami telah menghiasi langit lapisan bawah dengan indahnya bintang-bintang)" (Q., s. al-Shâffât/37:6).

Secara kesimpulan terbalik (mafhûm mukhâlafah), maka berarti bahwa semua bintang itu ada dalam langit pertama. Itu penting kita ketahui, sebab dalam astronomi definisi bintang itu ialah benda-benda langit, artinya betapapun jauhnya bintang itu masih dalam langit yang pertama. Sekarang diketahui bahwa bintang itu jauhnya dari bumi dua milyar tahun cahaya. Sebagai bandingan, matahari jauhnya dari bumi delapan menit cahaya. Makanya bulan itu tidak bisa dihitung lagi dengan cahaya, melainkan dengan kilometer saja. Milky Way itu kalau hari terang kelihatan seperti kabut membujur utara dan selatan, karena itu seperti cakram (miring). Keluarga matahari berada di pinggirnya, karena itu lalu yang kelihatan ialah kabut yang membujur. Garis tengahnya empat ratus tahun cahaya. Artinya, perjalanan dari pinggir ke pinggir itu memakan waktu empat ratus tahun bagi cahaya.

Jadi memang ada bagian-bagian yang tidak mungkin diterangkan secara ilmiah, oleh karena harus percaya. Malaikat digambarkan sebagai terbuat dari cahaya. Dalam bahasa Einstein, malaikat itu dari energi. Tetapi tentu saja ini bagian-bagian yang ilmiah, artinya tidak perlu diimani. Cuma perlu diketahui bahwa tugas malaikat itu tidak bisa digambarkan manusia karena menyangkut hal yang hanya Allah yang bisa mengerjakannya, seperti mengirim wahyu dan sebagainya. Setelah ada internet, faks, dan sebagainya, sekarang lebih gampang memahami wahyu.

Permadi, sang paranormal itu, pernah ditantang oleh Jaya Prana, "Saya tidak percaya santet, coba santet saya, cuma saya minta dijamin kalau saya kesantet betul supaya ada yang menyembuhkan." Permadi menjawab bahwa karena ditantang dia sendiri tidak bisa. Yang bisa itu Gendeng Pamungkas dari Surabaya. Tetapi Permadi lalu menjelaskan tentang teori santet. Misalnya kita tidak senang kepada seseorang dan kita ingin orang itu menderita, kita kirim paku ke perutnya.

Caranya bagaimana? Paku itu melalui "orang pinter" diubah menjadi energi, lalu dikirim, dan masuk, tanpa orang itu sendiri merasa. Tetapi begitu ada di dalam perut berubah lagi menjadi paku. Kemudian nanti kalau ada orang yang lebih pinter lagi, paku dalam perut itu diubah lagi menjadi energi dan diambil, kemudian di tangannya diubah lagi menjadi paku. Itu logis atau semacam pseudo-ilmiah. Sebetulnya cara kerja mesin faks juga seperti itu: gambar diubah menjadi gelombang-gelombang listrik, dan di sana diubah lagi menjadi gambar.

Meyakini Malaikat
Karena Malaikat berada di bidang-bidang gaib maka ia tidak bisa diterangkan secara ilmiah. Termasuk, misalnya, fenomena Isrâ' Mi'râj pun harus dipahami dalam kerangka gaib. Sebab seandainya tidak dipahami secara gaib, tetap juga tidak bisa diterangkan secara ilmiah. Taruhlah misalnya dipahami secara harfiah bahwa langit itu tujuh lapis dan Nabi sampai ke Sidrat al-Muntaha yang berada di atas langit yang ke tujuh; lalu kita ukur langit itu sampai batasnya dua milyar tahun cahaya, berarti kalau kecepatan perjalanan Nabi secepat cahaya, maka beliau dalam waktu dua milyar tahun baru tembus langit pertama. Bayangkan! Padahal, kata Einstein, benda itu tidak mungkin berjalan secepat cahaya, sebab ia akan hancur menjadi energi. Itu yang disebut kecepatan mutlak, yang mengubah semua benda menjadi energi.

Dalam teori Einstein: kereta api ketika berjalan lebih pendek daripada waktu berhenti. Secara teoritis, walaupun sepersekian-sekian milyar mili bedanya, tetapi itu lebih pendek. Artinya kalau kereta api itu misalnya didorong terus untuk berjalan makin kencang, sampai secepat cahaya, ia habis menjadi energi. Kalau Nabi Muhammad waktu itu berjalan secepat cahaya, beliau akan hancur.

Jadi memang tidak bisa diterangkan seperti itu. Tetapi ada keterangan yang lain yaitu teori mengenai lorong waktu, "time tunnel". Secara teori, kita bisa berjalan-jalan ke masa depan ataupun masa lalu (itu sudah diangkat ke dalam film-film science fiction). Maka ketika Nabi Isra' dan bertemu para nabi di Yerusalem, itu bisa diterangkan secara pseudo-ilmiah, bahwa Nabi sedang kembali ke masa lalu. Kemudian bahwa nanti di langit beliau melihat orang masuk neraka, dan macam-macam gambaran lain, itu artinya beliau sedang melihat masa depan, sebab bagi Allah, lagi-lagi dalam "ayat Kursi," "Ya'lamu mâ bayna aydîhim wamâ khalfahum (Ia mengetahui segala yang di depan mereka dan segala yang di belakang mereka)" Q., s. al-Baqarah/2:255). Allah mengetahui masa lalu dan masa depan. Kita lah yang tidak mengenal masa depan ataupun masa lalu, karena kita terkena oleh dimensi waktu, Tuhan tidak terkena oleh dimensi waktu sebagaimana juga tidak terkena oleh dimensi ruang.

Maka dari itu malaikat bisa kita pahami, dia lebih tinggi dari benda. Tetapi untuk tahu malaikat seperti apa, itu nanti setelah mati. Sekarang ini diyakini saja. Tetapi meyakininya tidak boleh opportunis, "Ah percaya saja kalau-kalau nanti benar, kalau tidak benar juga toh tidak apa-apa." Sikap seperti itu justeru tidak berfungsi. Keyakinan itu harus "haqq-u 'l-yaqîn," sama dengan kehidupan sesudah mati yang juga harus diyakini.

Malaikat Berwujud Manusia
Apa efek dari percaya kepada malaikat? Pertama tentu saja bahwa kita kemudian menerima teori tentang wahyu, suatu berita yang datang dari Allah kepada para nabi. Ada ilustrasi bahwa malaikat itu terbang dengan sayap-sayap. Maka di Gereja-gereja di Roma banyak gambar atau patung malaikat dalam bentuk bayi-bayi yang bersayap. Al-Qur'ân tidak menyebut malaikat seperti bayi. Tetapi mengenai sayap itu ada dalam al-Qur'ân, "Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi (dari yang tiada), yang menjadikan para malaikat sebagai utusan yang bersayap,- dua, tiga, empat (pasang); Ia menambahkan dalam ciptaan-Nya segala yang Ia kehendaki; karena Allah Maha Kuasa atas segalanya" (Q., s. Fâthir/35:1).

Jadi kalau melihat adanya patung atau gambar malaikat bersayap itu memang ada dasarnya dalam al-Qur'ân. Yang tidak ada dasarnya ialah kalau malaikat digambarkan seperti bayi atau bahkan seperti manusia. Malaikat tidak seperti manusia, tidak seperti apa-apa. Hanya saja, sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman para Nabi, termasuk Maryam ibundanya 'Îsâ al-Masîh, malaikat itu bisa menjelma menjadi manusia. Malahan tentang adanya rukun iman dan rukun Islam itu pun munculnya adalah dari Jibril yang datang pada Nabi dalam bentuk manusia lalu bertanya kepada Nabi.

Ada suatu kejadian aneh yang dituturkan oleh Umar (khalifah yang kedua itu), bahwa ada orang yang tidak dikenal, yang bajunya putih bersih, lalu tiba-tiba maju ke depan dan duduk bersimpuh di depan Nabi dengan lutut-lututnya dipertemukan dengan lutut Nabi seperti orang yang sangat akrab, lalu bertanya, "Hai Nabi, ajarilah aku apa itu Islam". Disebutkan Islam itu bahwa kamu bersyahadat, salat, zakat, puasa dan haji. Itu rukun Islam. Setiap kali Nabi selesai menjawab, orang itu mengatakan, "Engkau benar." Setelah itu ia bertanya lagi, "Apa itu Iman?" Nabi menjawab, "Iman adalah bahwa kamu percaya kepada Allah, hari kemudian...dst." Lalu dia lagi lagi mengatakan, "Engkau benar".

Sehingga para sahabat itu heran, orang ini bertanya, setelah dijawab malah bilang engkau benar, seakan-akan dia mau menguji. Lalu orang itu bertanya lagi, "Ihsan itu apa?" Nabi menjawab, "Ihsan ialah bahwa kamu menyembah Allah, seolah-olah kamu melihat Allah, dan kalau kamu tidak bisa melihat Allah, kamu harus yakin bahwa Allah sudah melihat kamu." Lagi-lagi dia mengatakan, "Engkau benar". Setelah itu dia pamit.

Jadi Malaikat itu tidak seperti manusia, tapi bisa menjelma menjadi apa saja, termasuk menjadi manusia. Jika ada cerita-cerita tentang orang yang bertemu malaikat di Makkah, itu mungkin saja benar. Sebab Makkah itu pusat spiritual umat Islam. Bahkan pusat spiritual umat manusia. Pertama, al-Qur'ân mengatakan bahwa rumah suci yang pertama didirikan oleh Tuhan untuk manusia yang pertama itu ialah yang di Makkah. Kedua, ibadah thawâf dalam haji itu menirukan tindak-tanduk malaikat bahkan seluruh jagad raya.

Ada penuturan yang sangat umum di kalangan orang Arab, mengapa ada Ka'bah di lembah itu? Konon, sewaktu Adam diusir dari surga ia terlunta-lunta, apalagi dia pisah dari istrinya Hawa. Lalu akhirnya bertemu di padang Arafah (di Jabal Rahmah) itu. (Maka dari itu Jabal Rahmah itu disebut "Jabal Jodoh"; yang belum punya jodoh naik ke gunung itu lalu berdo'a. Tapi itu tidak ada dalam agama, itu adanya dalam legenda-legenda orang Arab. Termasuk pelabuhan Makkah itu disebut Jeddah yang artinya nenek, maksudnya ialah Hawa, karena di situ lah konon Hawa dimakamkan).

Setelah bertemu Hawa, Adam menuju ke lembah itu, dan di situ, konon (nah ini legenda lagi), Adam mengeluh, "Tuhan, soal sengsara di dunia kami terima, tetapi yang kami tidak terima ialah bahwa kami tidak lagi bisa ikut para malaikat beribadat mengelilingi 'arsy-Mu". Maka legenda mengatakan, "Baiklah Adam, kalau begitu buat saja tiruan 'Arsy itu atas petunjuk Kami." Kemudian dibuatlah Ka'bah itu. Kemudian Tuhan memerintahkan Adam untuk berkeliling Ka'bah itu menirukan malaikat.

Jadi Makkah itu sudah menjadi pusat spiritualitas sejak dulu (kalau legenda itu benar). Tetapi al-Qur'ân sendiri yang dengan jelas mengatakan bahwa rumah suci yang pertama didirikan untuk manusia ialah yang di Makkah itu, sebelum ada Yerusalem, sebelum ada Benaresh, dan yang lain-lainnya. Al-Qur'ân melukiskan bahwa Nabi Ibrahim tidak disebut membangun kembali Ka'bah itu tetapi mengangkat pondasinya, "Wa idz yarfa'-u Ibrâhîm-u 'l-qawâ'id-a min-a 'l-bayt-i wa Ismâ'îl-a (Dan ingatlah, Ibrahim dan Ismail mengangkat dasar-dasar Rumah itu [sambil berdoa])" (Q., s. al-Baqarah/2:127). Karenanya ayat itu pula yang dicantumkan sebagai kaligrafi Kiswah. Itu artinya, menurut para ulama, pondasi itu ada di dalam, tetapi selama ini hilang. Kemudian melalui petunjuk Allah ditemukan lagi, dan lalu diangkat, maksudnya dibersihkan untuk digunakan kembali.

Karena Ka'bah dan Makkah itu memang pusat spiritualitas manusia, maka tidak mustahil makhluk-makhluk spiritual itu ada di sana termasuk malaikat. Meskipun begitu harus dicatat bahwa daerah sekitar Ka'bah itu sendiri sama sekali bukan dunia spiritual, artinya dunia seperti kita juga.

Dikutip dari tulisan Cak Nur (DR. Nurcholish Madjid)

Semoga Bermanfaat
Wassalamualaikum wr.wb
Post a Comment