Sunday, August 5, 2012

Pendapat Para Ulama Salaf tentang Allah di Langit

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Para tabi’in dan para imam ahli hadits
         
1. Al-Awza’i mengatakan, “Kami -dan saat itu para tabi’in masih banyak- mengatakan bahwa Allah Ta’ala Dzikruh di atas arsy-Nya dan kami beriman kepada apa yang tertulis dalam Al-Kitab dan As-Sunnah.”
(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanadnya dalam Al-Asma` wa Ash-Shifaat, 2/304, no. 865. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari mengatakan sanadnya kuat).

2.Adh-Dhahhak bin Muzahim
          Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dalam kitabnya As-Sunnah, Ayahku menceritakan kepadaku, Nuh bin Maimun menceritakan kepada kami, dia berkata, Aku mendengar Bukair bin Ma’ruf Abu Mu’adz hakim Naisabur dari Muqatil bin Hiyyan, dari Adh-Dhahhak tentang firman Allah “Tidak ada tiga orang yang bicara kecuali Allah akan jadi yang keempatnya….” (Qs. Al-Mujadilah: 7).
“Allah di atas arsy-Nya tapi pengetahuan-Nya bersama mereka.”
(As-Sunnah, 1/304, no. 592).

3.Sulaiman At-Taimi
          Al-Lalika`i meriwayatkan dalam kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah hal. 401, nomor riwayat 671: Ahmad bin Ubaid mengabarkan kepada kami, katanya, Muhammad bin Al Husain mengabarkan kepada kami, katanya, Ahmad bin Abu Khaitsamah mengabarkan kepada kami, dia berkata, Harun bin Ma’ruf menceritakan kepada kami, dia berkata, Dhamurah menceritakan kepada kami, dari Shadaqah yang berkata, Aku mendengar At-Taimi berkata,
”Andai aku ditanya di mana Allah, maka aku akan menjawab “Di langit”.”

4.Malik bin Anas
Abdullah bin Ahmad berkata dalam kitabnya As-Sunnah, “Ayahku –rahimahullah- menceritakan kepadaku, dia berkata, Suraij bin An-Nu’man menceritakan kepada kami, Abdullah bin Nafi’ mengabarkan kepadaku, Malik bin Anas rahimahullah pernah berkata, “Siapa yang mengatakan Al Qur`an itu makhluk maka dia harus disakiti dengan pukulan dan dipenjara sampai mati. Malik juga berkata, “Allah ‘Azza wa Jalla itu di langit dan ilmu-Nya ada di mana-mana….”
(As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, tahqiq: Dr. Al-Qahthani, hal. 107).

5. Abdullah bin Al-Mubarak
          Sudah sangat terkenal pernyataan dari Abdullah bin Al Mubarak sang hafizh ulung ketika dia ditanya “Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?” Maka dia menjawab, “Di langit, tidak seperti kata Jahmiyyah bahwa dia berada di sini (bumi).” (As-Sunnah, juz 1, hal. 111, tahqiq: Al-Qahthani).
          Perkataan Ibnu Al-Mubarak ini juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab Al-Asma` wa Ash-Shifaat, juz 2 hal. 335 dengan sanad yang shahih sebagaimana dijelaskan panjang lebar sanadnya oleh muhaqqiq kitab, Abdullah bin Muhammad Al-Hasyidi.

6. Al-Imam Ahmad bin Hanbal
          Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan dalah kitabnya Itsbat Shifat Al-Uluww:
          Abu Bakar Al-Atsram berkata, “Muhammad bin Ibrahim Al-Qaisi menceritakan kepadaku, Aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal, “Dikisahkan dari Ibnu Al-Mubarak bahwa dia ditanya, bagaimana kita mengetahui Tuhan kita? Dia mengatakan Allah itu di atas langit yang tujuh di atas arsy-Nya.”
Ahmad menjawab, “Demikian pula yang menjadi keyakinan kami.”
(Itsbat Shifat Al-Uluww, hal. 80 terbitan Dar Ash-Shahabah).
          Sangat banyak nukilan dari Imam Ahmad bin Hanbal yang jelas dan tegas menentang akidah Jahmiyyah seperti yang terdapat dalam kitab Al-Uluww dan Al-Arsy keduanya karya Adz-Dzahabi, di mana dalam kitab Al-Arsy Adz-Dzahabi menukil perkataan Imam Ahmad ini dalam kitab Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah yang menunjukkan bahwa Adz-Dzahabi sendiri meyakini penisbatan kitab tersebut kepada Imam Ahmad.

7. Al-Muzani, murid langsung Imam Asy-Syafi’i
          Ismail bin Yahya Al-Muzani memiliki sebuah risalah kecil yang dinamakan Syarh As-Sunnah. Risalah ini sudah diterbitkan dengan tahqiq Syekh Jamal ‘Azzun dari dua manuskrip dengan sanad yang lengkap sampai kepada Al-Muzani.
          Selain itu, akidah yang terdapat di risalah ini juga diriwayatkan secara bersambung sanadnya oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam kitabnya “Al-‘Arsy”, kitab ini juga sudah dicetak dengan tahqiq: Dr. Muhammad bin Khalifah At-Tamimi, diterbitkan oleh Adh-wa` As-Salaf tahun 1999 M.
          Dalam risalah tersebut Al-Muzani menegaskan keyakinannya dalam masalah iman dan tauhid. Adz-Dzahabi meriwayatkannya guna mendukung pendapat bahwa Al-Muzani juga berkeyakinan bahwa Allah berada di atas arsy dalam artinya lebih tinggi dari arsy itu. Berikut sanad Adz-Dzahabi:
Abu Al-Hasan Al-Yunaini Al-Hafizh menceritakan kepada kami, dari Ja’far Al-Hamdani, As-Silafi memberitakan kepada kami, Abdul Malik bin Hasan Al-Anshari memberitakan kepada kami di Mekah, Al-Husain bin Ali Al-Faqih An-Nasawi memberitakan kepada kami, Ismail bin Raja` Al-Asqalani memberitakan kepada kami juga di Mekah, Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al-Malthi memberitakan kepada kami demikian pula Abu Ahmad Muhammad bin Muhammad Al-Qaisarani juga memberitakan kepada kami, keduanya berkata, Ahmad bin Bakar Al-Bazuri Al-Faqih memberitakan kepada kami, Ali bin Abdullah Al-Hulwani menceritakan kepadaku, dia berkata, “Kami berada di Tarablus bersama para teman kami yang ahlus sunnah……”[1]
Sampai kemudian dia membicarakan tentang diri Al-Muzani dimana sebagian mereka menuduh Al-Muzani bermasalah dari segi akidah, terutama dalam masalah takdir dan kemakhlukan Al-Qur`an. Akhirnya Al-Muzani menulis surat kepada mereka berisi akidahnya dan itulah yang kemudian disebut dengan Syarh As-Sunnah tulisan Al-Muzani.
          Dalam risalah itu Al-Muzani berkata,
“Segala puji bagi Allah, sebagai kalimat yang paling pantas untuk pembuka, sebagai Tuhan yang paling berhak untuk disyukuri dan hanya kepada-Nyalah segala puja. Dia maha bersendiri dan maha esa, tiada teman tiada pula anak, maha suci diri-Nya dari segala yang serupa maka Dia tak punya tandingan atau saingan, yang maha mendengar lagi maha melihat, yang maha mengeahui lagi maha pandai, Dia maha tinggi di atas arsy-Nya dan maha dekat dengan ilmu-Nya……”[2]
          Lalu Adz-Dzahabi menyebutkan satu kalimat lagi yang dia jadikan istisyhad akan akidah Al-Muzani yang menyatakan bahwa Allah di atas arsy-Nya,
“Al-Qur`an adalah kalam Allah, berasal dari Allah, dia bukan makhluk sehingga akan sirna, kekal abadi dan telah ada pada masa azali, kekuasaan dan sifat-sifat Allah maha sempurna, tidak pernah kurang hingga harus ditambah, maha suci Allah dari keserupaan dengan sifat makhluk, Dia maha tinggi di atas arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya…..”[3]
(Al-‘Arys oleh Ad-Dzahabi, jilid 2 hal. 253 – 255).

8, 9. Abu Hatim dan Abu Zur’ah Ar-Razi
          Al-Lalika`i meriwayatkan dalam kitabnya Syarh I’tiqad Ahlis Sunnah dengan sanad sebagai berikut:
Muhammad bin Al-Muzhaffar Al-Muqri mengabarkan kepada kami, dia berkata, Al-Husain bin Muhammad bin Habsy Al-Muqri menceritakan kepada kami, dia berkata, Abu Muhammad Abdurrahman bin Abu Hatim menceritakan kepada kami, Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam hal pokok-pokok agama serta apa yang mereka ketahui mengenai pendapat para ulama di semua negeri dalam hal ini. Mereka menjawab, “Kami sudah mendapati para ulama di berbagai negeri seperti di Hijaz, Irak, Syam dan Yaman, di antara yang menjadi akidah mereka adalah…..”
Lalu disebutkanlah beberapa hal dan salah satunya, “Dan Allah berada di atas arsy-Nya terpisah dari makhluk sebagaimana yang Dia sifatkan sendiri dalam kitabnya dan berdasarkan lisan Rasul-Nya….”
(Lihat Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah oleh Al-Laki`iy, juz 1 hal. 176 – 177).
          Al-Lalika`i tidak sendirian meriwayatkan kalimat ini dari Ibnu Abi Hatim. Adz-Dzahabi juga menyebutkan dalam kitab Al-Arsy sanadnya sampai kepada Ibnu Abi Hatim sebagai berikut:
Ahmad bin Salamah memberi ijazah kepada kami, dari Abu Al Qasim bin Bausy, Abu Thalib Al-Yusufi memberitakan kepada kami, Abu  Ishaq Al-Barmaki memberitakan kepada kami, Ali bin Abdul Aziz memberitakan kepada kami, Abdurrahman bin Abu Hatim menceritakan kepada kami, …..(di sini Adz-Dzahabi hanya menukil kalimat yang menerangkan bahwa Allah di atas arsy terpisah dari makhluk sebagaimana yang saya tuliskan di atas).
(lihat: Kitab Al-Arsy oleh Adz-Dzahabi, hal. 255-256).
          Sanad-sanad Adz-Dzahabi ini dianggap jayyid oleh Al-Albani sebagaimana dalam Mukhtashar Al-Uluw, dan dia juga menyebutkan bahwa risalah Ibnu Abi Hatim tersebut tersimpan berupa manuskrip di perpustakaan Az-Zhahiriyyah. Artinya belum diterbitkan wallahu a’lam.
          Selain itu, Al-Lalika`iy juga menyebutkan bahwa dia telah membaca sebuah buku karya Muhammad bin Idris bin Al-Mundzir Abu Hatim yang di dalamnya terdapat akidah para imam seperti Ahmad bin Hanbal, Malik bin Anas dan lain-lain. Dia menukil agak panjang lalu di antara akidah itu adalah perkataan Abu Hatim:
“Yang benar, yang kami yakini adalah Allah di atas arsy-Nya terpisah dari makhluk, tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.”
(Lihat Syarh I’tiqad Ahlis Sunnah oleh Al-Lalika’iy juz 1 hal. 179 – 181).

Abu Al-Hasan Al-Asy’ari berkeyakinan bahwa Allah itu di langit
          Al-Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari ternyata juga berkeyakinan bahwa Allah itu di langit dan dia memastikan itulah akidah salaf. Hal tersebut diungkapkannya dalam tiga kitabnya yaitu Al-Ibanah fii Ushul Ad-Diyanah, Risalah ilaa Ahli Ats-Tsaghr dan Maqaalaat Al-Islaamiyyiin.
          Sebagaimana diketahui bahwa Abu Salafy dan seniornya Hasan As-Saqqaf meragukan keaslian kitab Al-Ibanah karya Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, meski sebenarnya mereka sendiri tidak bisa membuktikan tuduhan mereka tersebut. Tapi ya begitulah, kalau tidak menuduh tidak bisa menang.
          Baiklah, kali ini saya tidak akan menukil dari kitab Al-Ibanah langsung, melainkan dari kitab Tabyin Kadzib Al-Muftari ‘ala Abi Al-Hasan Al-Asy’ari tulisan Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir, beliau mengatakan,
فإذا كان أبو الحسن رضي الله عنه كما ذكر عنه من حسن الإعتقاد مستوصب المذهب عند أهل المعرفة بالعلم والانتقاد يوافقه في اكثر ما يذهب إليه أكابر العباد ولا يقدح في معتقده غير أهل الجهل والعناد فلا بد أن نحكي عنه معتقده على وجهه بالأمانة ونجتنب ان نزيد فيه أو ننقص منه تركا للخيانة ليعلم حقيقة حاله في صحة عقيدته في أصول الديانة فاسمع ما ذكره في أول كتابه الذي سماه بالإبانة فإنه قال
(Tabyin Kadzib Al-Muftari, hal. 148)
Selanjutnya Ibnu Asakir menyebutkan nukilan panjang dari kitab Al-Ibanah tersebut yang isinya sama persis dengan kitab Al-Ibanah yang ditahqiq oleh Dr. Fauqiyah,
وأن الله استوى على عرشه كما قال الرحمن على العرش استوى وأن له وجها كما قال ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام وأن له يدا كما قال بل يداه مبسوطتان وقال لما خلقت بيدي وان له عينا بلا كيف كما قال تجري بأعيننا
(Tabyin Kadzib Al-Muftari, hal. 158).
          Apakah Abu Salafy masih meragukan nukilan Ibnu Asakir ini?! Kalau memang masih ragu silahkan buktikan kesalahan nukilan Ibnu Asakir ini, lalu tunjukkan mana teks asli dari kitab Al-Ibanah versi anda dalam masalah di atas!!
Tidak hanya dalam Al-Ibanah, Al-Asy’ari ternyata juga mengatakan hal yang sama dalam kitabnya yang lain yaitu Risalah ila Ahli Ats-Tsaghr,
الإجماع التاسع
 وأجمعوا على أنه عز و جل يرضى عن الطائعين له وأن رضاه عنهم إرادته لنعيمهم وأنه يحب التوابين ويسخط على الكافرين ويغضب عليهم وأن غضبه إرادته لعذابهم وأنه لا يقوم لغضبه شيء وأنه تعالى فوق سمواته على عرشه دون أرضه وقد دل على ذلك بقوله أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض وقال إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه

 IJMAK KESEMBILAN:

Mereka bersepakat bahwa Allah Azza wa Jalla meridhai orang-orang yang taat dan bahwa keridaan-Nya kepada mereka adalah keinginan-Nya memberi mereka nikmat, dan bahwa Dia menyukai orang-orang yang bertaubat serta membenci orang-orang kafir, Dia akan murka kepada mereka dan bahwa kemurkaan-Nya itu adalah keinginan-Nya untuk mengazab mereka dan tidak ada sesuatu yang menjadi unsur dari kemurkaan itu. Dan bahwa Allah Ta’ala di atas semua langit-Nya, di atas Arsy-Nya, bukan di bumi-Nya. Itu telah ditunjukkan dalam firman-Nya: “pakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (Qs. Al Mulk : 16)
Juga firman-Nya, “Kepadanya-Lah kalimat yang baik itu naik dan amal shalih mengangkatnya” (Qs. Fathir : 10)
(Risalah ilaa Ahli Ats-Tsaghr, hal. 232, tahqiq: Abdullah Syakir Ahmad Al-Junaidi, terbitan Maktabah Al-Ulum wa Al-Hikam Damaskus cet. 1 tahun 1988 M).
          Di sini Al-Asy’ari mengakui adanya ijma’ para ulama salaf dalam masalah akidah bahwa Allah itu di atas langit.
Tidak hanya itu, Abu Al-Hasan Al-Asy’ari dalam kitabnya yang lain juga mengakui bahwa akidah dimana Allah istiwa` di atas arsy itu adalah akidah Ahlus Sunnah dan ahlul hadits sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya Maqalat Al-Islamyyiin,
وقال اهل السنة واصحاب الحديث ليس بجسم ولا يشبه الاشياء وانه على العرش كما قال عز و جل الرحمن على العرش استوى ولا نقدم بين يدى الله في القول بل نقول استوى بلا كيف
(Maqaalaat Al-Islaamiyyiin, juz 1 hal. 262, tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, terbitan Maktabah Nahdhah Al-Mishriyyah, cet. I 1950.
Sedangkan dalam naskah lain yang dicetak oleh Dar Ihya` At-Turats Al-‘Arabi Beirut, dengan muhaqqiq: Halmut Riter terdapat di juz 1 hal. 211 dengan teks yang sama persis).
          Lebih jelas Al-Asy’ari kembali mengulang bagaimana akidah Ahlus Sunnah dan Ash-hab Al-Hadits:
جملة ما عليه اهل الحديث والسنة والاقرار بالله وملائكته وكتبه ورسله وما جاء من عند الله وما رواه الثقات عن رسول الله لا يردون من ذلك شيئا وان الله سبحانه الة واحد فرد صمد لا اله غيره لم يتخذ صاحبة ولا ولدا وان محمدا عبده ورسوله وان الجنة حق وان النار حق وان الساعة آتية لا ريب فيها وان الله يبعث من فى القبور وان الله سبحانه على عرشه كما قال الرحمن على العرش استوى وان له يدين بلا كيف كما قال خلقت بيدى وكما قال بل يداه مبسوطتان وان له عينين بلا كيف كما قال تجرى باعيننا وان له وجها كما قال ويبقى وجه ربك ذو الجلال والاكرام

ِArtinya: “Kesimpulan pendapat ahli hadits dan ahli sunnah adalah penetapan akan adanya Allah, para malaikat dan rasul-rasul-Nya serta meyakini apa yang datang dari Allah, dan apa yang sanadnya diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya dari Rasulullah. Mereka tidak ragu akan hal itu sedikitpun. Allah adalah Ilah yang satu, sendiri, Ash-Shamad (tidak terdiri dari bagian), tidak ada ilah selain Dia dan Dia tidak mempunyai istri ataupun anak. Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Surga itu pasti, neraka itu pasti, hari kiamat itu pasti datang tidak ada keraguan di dalamnya dan bahwa Allah akan membangkitkan semua yang ada di alam kubur. Dan bahwa Allah Subahanahu itu di atas Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya, “Ar-Rahman beristiwa di atas Arsy” (Qs. Thaha : 5), dan bahwa Dia punya dua tangan tanpa membagaimanakan tangan itu, sebagaimana firman-Nya, “Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” dan firman-Nya pula, “Justru kedua tangan-Nya dihamparkan”. Dia juga punya dua mata tanpa membagaimanakan bentuknya sebagaimana dalm firman-Nya, “berjalan dengan mata Kami”. Dia juga punya wajah sebagaimana pada firman-Nya, “Dan kekallah wajah Tuhanmu yang maha mulia lagi maha terpuji.”
(Al-Maqalaat, juz 1 hal. 320 tahqiq: Muhyiddin Abdul Hamid).
          Perhatikanlah bagaimana Abu Al-Hasan mengakui bahwa bersemayamnya Allah di atas arsy dan bahwa Allah itu bukan jism bukan pula sama dengan apapun adalah akidah Ahlus Sunnah.


[1] Sanad Adz-Dzahabi ini diperkuat oleh sanad yang ada dalam tiga manuskrip kitab Syarh As Sunnah itu sendiri yang ditahqiq oleh Jamal ‘Azzun dan di sana beliau menjelaskan sanadnya dari tiga manuskrip rujukan dan Ali bin Abdullah Al-Hulwani tidak sendirian dalam meriwayatkannya, melainkan ada pula nama Abdul Karim bin Mu’adz bin Katsir yang juga duduk bersama Al-Hulwani kala itu, dan kepada merekalah Al-Muzani menulis risalah ini.
[2] Dalam versi cetak risalah ini yang ditahqiq oleh Jamal Azzun terdapat di halaman 79.
[3] Dalam versi cetak terdapat di halaman 81.

Post a Comment