Thursday, August 9, 2012

Kunci makrifat

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
 Apakah yang dikatakan kunci makrifat itu, pada umumnya sudah tentu kuncinya banyak dan bergantung kepada tahap kerohanian mereka itu..
Salah satu daripadanya ialah …. kecepatan mereka mengalihkan fokus perhatian mereka daripada makhluk kepada Allah…banyak mereka yang lupakan Allah dalam kehidupan seharian…apa yang mereka lihat hanyalah yang zahir sahaja… pandangan mereka tidak tembus kepada senario di belakang apa yang kelihatan… mereka yang begini sudah tentu tidak mempunyai makrifat..
Bagi yang mempunyai makrifat sudah tentu, telah menikmati banyak nikmat yang dianugerahkan oleh Yang Maha Pemberi, ..sudah tentu kenikmatan itu tidak terkirakan…bagaimanapun bagi memudahkan citra… secara umumnya ada tiga tanda-tanda yang dapat diperhatikan.. dan sudah pasti .. nanti yang diperolehi daripada yang tiga itu …lebih lagi…..
Pertama: anggota jasad mereka yang bermakrifat tenang… maksudnya tidak sakit….Kedua: kehidupan mereka aman.. iaitu tidak mengalaman stress dan angin ‘taufan’..dan yang Ketiga: kemenangan rohani dalam kehidupan mereka.. contohnya, syaitan dan jin tidak mengganggu mereka..
Mereka yang bermakrifat adalah mereka yang melihat Allah dengan mata hati,  iaitu  merasakan Dzahir nya Allah…
Mereka yang merasakan wujud Allah, …mereka itu berkekalan lebur dan tenggelam dalam merasakan NYA.

Percaya diri atau percaya Allah

 Banyak pakar motivasi… yang  mahukan khalayaknya percayakan diri sendiri. …kata mereka percayakan diri itu penting untuk mencapai kejayaan di dunia yang penuh mencabar ini. … tetapi benarkah mereka yang percayakan diri itu akan mencapai kejayaan. .. kerana sering juga kita lihat mereka yang percayakan diri tetapi … akhirnya kecundang mengharungi hidup di dunia ini.
Bagaimanakah diri yang kosong ini… yang tiada hakikatnya bolih dipercayai… bagaimana mempercayai mereka yang tidak ada… tidak mungkin dengan cara yang demikian mereka akan berjaya…mustahil…
Sudah pasti yang paling nyata… yang paling ADA … adalah  Dzat Yang Mesti Wujud  (Allah), … jikalau kita percaya kepada yang INI… sudah pasti kita akan berjaya kerena DIA pasti dapat melaksanakan sesuatu, … kerana IA memang ADA… yang ADA pasti dapat menghasilkan sesuatu… berbanding yang tidak ada… yang kosong… yang kosong mustahil dapat berbuat sesuatu..
Apabila kita makan,.., yakinlah bukan mekanan itu yang mengenyangkan.. tetapi Allah, ..apabila kita bekerja… yakinlah Allah lah yang menyempurnakan … kerja kita itu,… apabila kita meminta kepada NYA ,… yakinlah DIA akan memberikan apa yang kita minta itu…
Latihlah diri begini selalu…agar ia menjadi kebiasaan,…bahawa  kita hanya yakin kepada Allah, …bukan yang lainnya…

Makrifatullah


MAKRIFATULLAH:  Mengenal Allah SWT, pada Zat-nya, pada Sifat-nya, pada Asma-nya dan pada Af’al-nya.
AWALUDIN MA’RIFATULLAH Artinya :
Awal agama mengenal Allah.

LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFAT Artinya:
Tidak sah  shalat tanpa mengenal Allah.

 MAN ARAFA NAFSAHU FAKAT ARAFA RABBAHU Artinya:
Barang siapa mengenal dirinya dia mengenal Tuhannya.

ALASTU BIRAB BIKUM QOLU BALA  SYAHIDNA  Artinya:
Bukankah aku ini Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami menjadi saksi.(QS.AL-ARAF 7:172)

AL INSANNU SIRRI WA ANNA SIRRUHU Artinya:
Manusia itu RahasiaKu dan akulah Rahasianya.

WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN Artinya:
Di dalam dirimu mengapa kamu tidak melihat.


ANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ Artinya:
Aku lebih dekat dari urat nadi lehermu.

 LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH Artinya:
Aku tidak akan menyembah Allah apabila aku tidak melihatnya terlebih dahulu.

HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH
Pada malam Ghaibul Ghaib iaitu dalam keadaan antah-berantah hanya Dzat semata. Belum ada awal dan belum ada akhir, belum ada bulan dan belum ada matahari, belum ada bintang belum ada sesuatupun. Malahan belum ada Tuhan yang bernama Allah, maka dalam keadaan ini, Diri yang punya Dzat tersebut telah mentajalikan diri-Nya untuk memuji diri-Nya.
Lantas tajalilah  Nur Allah dan kemudian tajali pula  Nur Muhammad (Insan Kamil), yang pada peringkat ini dinamakan Anta Ana, (Kamu, Aku) , (Aku,Kamu),Ana Anta. Maka yang punya Dzat bertanya kepada Nur Muhammad dan sekalian Roh untuk menentukan kedudukan dan taraf hamba.
Lantas ditanyakan kepada Nur Muhammad, Aku ini Tuhanmu? Maka dijawablah Nur Muhammad yang mewakili seluruh Roh, Ya…Engkau Tuhanku.
Persaksian ini dengan jelas diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Araf 7:172: ALASTU BIRAB BIKUM, QOOLU BALA SYAHIDNA.
Artinya : Bukan aku ini Tuhanmu? Betul engkau Tuhan kami, Kami menjadi Saksi.

Selepas pengakuan atau persumpahan Roh itu  dilaksankan, maka bermulalah era baru di dalam perwujudan Allah SWT. Seperti firman Allah dalam Hadits Qudsi yang artinya :“Aku suka mengenal diriku, lalu aku jadikan mahkluk ini dan aku perkenalkan diriku. Apa yang dimaksud dengan mahkluk ini ialah : Nur Muhammad sebab seluruh kejadian alam maya ini dijadikan daripada Nur Muhammad tujuan yang punya Dzat mentajalikan Nur Muhammad adalah untuk memperkenalkan diri-nya sendiri dengan diri Rahasianya sendiri. Maka diri Rahasianya itu adalah ditanggung dan diakui amanahnya oleh suatu kejadian yang bernama : Insan yang bertubuh diri bathin (Roh) dan diri bathin itulah diri manusia, atau Rohani.
Firman Allah dalam hadis Qudsi:
AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU
Artinya : Manusia itu RahasiaKu dan Akulah yang menjadi Rahasianya.

Jadi yang dinamakan manusia itu ialah karena ia mengenal Rahsia.
Dengan perkataan lain manusia itu mengandung Rahasia Allah.

Karena manusia menanggung Rahasia Allah maka manusia harus berusaha mengenal dirinya, dan dengan mengenal dirinya manusia akan dapat mengenal Tuhannya, sehingga lebih mudah kembali menyerahkan dirinya kepada Yang Punya Diri pada waktu dipanggil oleh Allah SWT. Iaitu  tatkala berpisah Roh dengan jasad. (Tambahan Hajrikhusyuk: kembali kepada Allah harus selalu dilakukan semasa hidup, masih berjasad, contohnya dengan solat, kerana solat adalah mikraj oang mukmin atau dengan ‘mati sebelum mati’).
Firman Allah An-Nisa 4:58: INNALLAHA YAK MARUKUM ANTU ABDUL AMANATI ILAAHLIHA. Artinya: Sesunggunya Allah memerintahkan kamu supaya memulangkan amanah kepada yang berhak menerimanya. (Allah).
Hal tersebut di atas dipertegas lagi oleh Allah dalam Hadits Qudsi :
MAN ARAFA NAFSAHU,FAQAT ARAFA RABAHU.
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.

Dalam menawarkan tugas yang sangat berat ini, pernah ditawarkan Rahasia-nya itu kepada Langit, Bumi dan Gunung-gunung tetapi semuanya tidak sanggup menerimanya.
Seperti firman Allah SWT Al Ahzab 33:72.
INNA ‘ARAT NAL AMATA, ALAS SAMAWATI WAL ARDI WAL JIBAL FA ABAINA ANYAH MILNAHA WA AS FAKNA MINHA,WAHAMA LAHAL INSANNU.
Artinya : Sesungguhnya kami telah menawarkan suatu amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung tetapi mereka enggan memikulnya dan merasa tidak akan sanggup, lantas hanya manusia yang sanggup menerimanya.

Oleh karena amanat (Rahasia Allah) telah diterima, maka adalah menjadi tanggung jawab manusia untuk menunaikan janjinya. Dengan kata lain tugas manusia adalah menjaga hubungannya dengan yang punya Rahasia.
Setelah amanat (Rahasia Allah) diterima oleh manusia (diri Batin/Roh) untuk tujan inilah maka Adam dilahirkan untuk bagi memperbanyak diri, diri penanggung Rahasia dan berkembang dari satu abad  ke satu abad, diri satu generasi ke satu generasi yang lain sampai alam ini mengalami KIAMAT  DAN  RAHASIA ITU  KEMBALI  KEPADA  ALLAH.
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJIUN.
Artinya : Kita berasal dari Allah, dan  kembali kepada Allah.

Salam,
Enhanced by Zemanta
Post a Comment