Sunday, August 5, 2012

Di Manakah Allah (6)

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Ilmu Allah Di Mana-Mana, Bukan Dzat Allah
 
Segala puji bagi Allah, Yang Menetap Tinggi Di Atas ‘Arsy-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.
Dalam kesempatan kali ini, kami masih melanjutkan perkataan ulama masa silam mengenai di manakah Allah. Pembahasan ini memang cukup panjang. Namun ini semua kami torehkan dalam beberapa tulisan agar semakin memperjelas manakah aqidah yang mesti diyakini oleh seorang muslim dengan benar. Dari perkataan ulama masa silam yang akan kami sebutkan, para pembaca Rumaysho.com dapat menilai di manakah letak kekeliruan abu salafy cs yang menyatakan dengan bahwa Allah tidak di langit. Yang jelas aqidah yang beliau usung adalah aqidah orang-orang sesat di masa silam yaitu dari kalangan Jahmiyah, lalu beliau hidupkan kembali. Semoga tulisan kali ini pun dapat membongkar kedok Jahmiyah dan orang-orang yang mengikuti pemahaman menyimpang tersebut. Ya Allah, berilah kemudahan dan tolonglah kami.
Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi[1], Ulama Hanafiyah, murid dari Muhammad bin Al Hasan
Kita dapat saksikan dari perkataan beliau ini, bahwa orang yang masih ragu Allah di atas langit, ia dimintai taubatnya. Coba perhatikan secara seksama riwayat berikut ini.
قال ابن أبي حاتم حدثنا علي بن الحسن بن يزيد السلمي سمعت أبي يقول سمعت هشام بن عبيد الله الرازي وحبس رجلا في التجهم فجيء به إليه ليمتحنه فقال له أتشهد أن الله على عرشه بائن من خلقه فقال لا أدري ما بائن من خلقه فقال ردوه فإنه لم يتب بعد
Ibnu Abi Hatim mengatakan, ‘Ali bin Al Hasan bin Yazid As Sulami telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ayahku berkata, “Aku pernah mendengar Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi –ketika itu beliau menahan seseorang yang berpemikiran Jahmiyah, orang itu didatangkan pada beliau, lantas beliau pun mengujinya-. Hisyam bertanya padanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.” Orang itu pun menjawab, “Aku tidak mengetahui apa itu terpisah dari makhluk-Nya.” Hisyam kemudian berkata, “Kembalikanlah ia karena ia masih belum bertaubat.”[2]
Pelajaran dari perkataan Hisyam ini:
  1. Keyakinan Allah di atas langit wajib diyakini oleh setiap muslim.
  2. Orang yang tidak meyakini hal ini setelah datang penjelasan yang begitu gamblang, maka ia harus dimintai taubatnya.
  3. Perlu dipahami bahwa jika kita katakan Allah di atas langit, bukan berarti Allah di dalam langit atau menempel dengan ‘Arsy sehingga dapat dipahami bahwa Allah berada di dalam makhluk. Ini justru pemahaman yang keliru. Yang mesti dipahami bahwa Allah itu terpisah dari makhluk-Nya sehingga Allah berada di atas semua makhluk-Nya dan bukan berada di dalam langit. Inilah yang diisyaratkan dalam perkataan Hisyam di atas.
Nu’aim bin Hammad Al Khuza’i[3], Al Hafizh (pakar hadits)
قال محمد بن مخلد العطار حدثنا الرمادي قال سألت نعيم ابن حماد عن قول الله تعالى هو معكم قال معناه أنه لا يخفى عليه خافية بعلمه ألا ترى قوله ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم الآية
Muhammad bin Mukhlid Al ‘Aththor, ia mengatakan, Ar Romadi menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aku berkata pada Nu’aim bin Hammad mengenai firman Allah Ta’ala,
هُوَ مَعَكُمْ
“Allah bersama kalian.” (QS. Al Hadiid: 4). Nu’aim bin Hammad mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, “Tidak ada sesuatu pun dari ilmu Allah yang samar dari-Nya. Tidakkah kalian memperhatikan firman Allah,
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ
“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” (QS. Al Mujadilah: 7)[4]
Pelajaran penting dari perkataan Nu’aim bin Hammad:
Makna Allah itu bersama kalian adalah dengan ilmu-Nya dan bukan dengan Dzat Allah. Sehingga ayat semacam ini bukan menunjukkan Allah berada di mana-mana.
Basyr Al Haafi[5], Ulama yang Begitu Zuhud di Masanya
Disebutkan oleh Adz Dzahabi,
له عقيدة رواها ابن بطة في كتاب الإبانة وغيره فمما فيها والإيمان بأن الله على عرشه استوى كما شاء وأنه عالم بكل مكان
Basyr Al Haafi memilki pemahaman aqidah yang disebutkan oleh Ibnu Battoh dalam Al Ibanah dan selainnya, di antara perkataan beliau adalah: “Beriman bahwa Allah menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang Allah kehendaki. Namun meski begitu, ilmu Allah di setiap tempat.”[6]
Pelajaran penting dari Basyr Al Haafi adalah:
Allah itu menetap tinggi di atas ‘Arsy. Meskipun jauh, Allah tetap mengetahui setiap tempat di muka bumi karena ilmu-Nya yang Maha Luas.
Ahmad bin Nashr Al Khuza’i[7]
قال إبراهيم الحربي فيما صح عنه قال أحمد بن نصر وسئل عن علم الله فقال علم الله معنا وهو على عرشه
Ibrahim Al Harbi berkata mengenai perkataan shahih darinya, yaitu Ahmad bin Nashr berkata ketika ditanya mengenai ilmu Allah, “Ilmu Allah selalu bersama kita, sedangkan Dzat-Nya tetep menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.” [8]
Pelajaran penting dari Ahmad bin Nashr adalah:
Allah tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya bukan di mana-mana, sedangkan yang bersama kita adalah ilmu Allah.
Qutaibah bin Sa’id[9], Ulama Besar Khurosan
قال أبو أحمد الحاكم وأبو بكر النقاش المفسر واللفظ له حدثنا أبو العباس السراج قال سمعت قتيبة بن سعيد يقول هذا قول الأئمة في الإسلام والسنة والجماعة نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه كما قال جل جلاله الرحمن على العرش استوى وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه
Abu Ahmad Al Hakim dan Abu Bakr An Naqosy Al Mufassir (dan ini lafazh dari Abu Bakr), ia berkata, Abul ‘Abbas As Siroj telah menceritakan pada kami, ia berkata, aku mendengar Qutaibah bin Sa’id berkata, “Ini adalah perkataan para ulama besar Islam, Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.[10]
وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه
Begitu pula dinukil dari Musa bin Harun dari Qutaibah, ia berkata, “Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya.”
Adz Dzahabi setelah membawakan perkataan Qutaibah, beliau mengatakan, “Inilah Qutaibah sudah dikenal kebesarannya dalam ilmu dan kejujurannya, beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai keyakinan Allah di atas langit”. [11]
Pelajaran dari Qutaibah bin Sa’id:
Adanya penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa Allah berada di ketinggian di atas ‘Arsy-Nya. Setelah ini kita juga akan menemukan nukilan ijma’ dari Ishaq bin Rohuwyah.
Abu Ma’mar Al Qutai’iy[12], Guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim
نقل ابن أبي حاتم في تأليفه عن يحيى بن زكرياء عن عيسى عن أبي شعيب صالح الهروي عن أبي معمر إسماعيل بن إبراهيم أنه قال آخر كلام الجهمية أنه ليس في السماء إله
Dinukil dari Ibnu Abi Hatim dalam karyanya, dari Yahya bin Zakariya, dari ‘Isa, dari Abu Syu’aib Sholih Al Harowiy, dari Abu Ma’mar Isma’il bin Ibrohim, beliau berkata, “Akhir dari perkataan Jahmiyah: Di atas langit (atau di ketinggian) tidak ada Allah yang disembah.”[13]
Pelajaran dari Abu Ma’mar Al Qutai’iy:
Keyakinan di atas langit tidak ada siapa-siapa itulah keyakinan sesat dari Jahmiyah, yang lalu diusung kembali oleh orang belakangan semacam Abu Salafy cs.
‘Ali bin Al Madini[14], Imam Para Pakar Hadits
قال شيخ الإسلام أبو إسماعيل الهروي أنبأنا محمد بن محمد بن عبد الله حدثنا أحمد بن عبد الله سمعت محمد بن إبراهيم بن نافع حدثنا الحسن بن محمد بن الحارث قال سئل علي بن المديني وأنا أسمع ما قول أهل الجماعة قال يؤمنون بالرؤية وبالكلام وأن الله عزوجل فوق السموات على عرشه استوى
Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harowi mengatakan, Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdillah menceritakan kepada kami, aku mendengar Muhammad bin Ibrahim bin Naafi’ mengatakan, Al Hasan bin Muhammad bin Al Harits menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ali bin Al Madini ditanya dan aku pun mendengarnya, “Apa perkataan dari Ahlul Jama’ah (Ahlus Sunnah)?” ‘Ali bin Al Madini mengatakan, “Mereka (Ahlus Sunnah) beriman pada ru’yah (Allah akan dilihat), mereka beriman bahwa Allah berbicara dan Allah berada di atas langit, menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya.”
فسئل عن قوله تعالى ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم فقال اقرأ ما قبله ألم تر أن الله يعلم قد أكثر البخاري في صحيحه عن علي بن المديني وقال ما استصغرت إلا بين يدي ابن المديني مات في ذي القعدة سنة أربع وثلاثين ومائتين
Ali bin Al Madini juga ditanya mengenai firman Allah Ta’ala,
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ
Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” (QS. Al Mujadilah: 7). Beliau pun menjawab, “Cobalah baca awal ayatnya,
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ
Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui.” (QS. Al Mujadilah: 7)[15]
Pelajaran dari Ali bin Al Madini:
Lihatlah pelajaran yang sangat berharga dari ulama Robbani. Sebagian orang mengira maksud surat Al Mujadilah ayat 7 adalah Allah di mana-mana. Namun lihat bagaimanakah sanggahan dari Ali bin Al Madini? Cobalah baca awal ayat, itulah yang dimaksud. Jadi yang dimaksud adalah ilmu Allah yang di mana-mana dan bukan Dzat Allah.
Ishaq bin Rohuwyah[16], Ulama Besar Khurosan
قال حرب بن إسماعيل الكرماني قلت لإسحاق بن راهويه قوله تعالى ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم كيف تقول فيه قال حيث ما كنت فهو أقرب إليك من حبل الوريد وهو بائن من خلقه
ثم ذكر عن ابن المبارك قوله هو على عرشه بائن من خلقه
ثم قال أعلى شيء في ذلك وأبينه قوله تعالى الرحمن على العرش استوى رواها الخلال في السنة عن حرب
Harb bin Isma’il Al Karmani, ia berkata bahwa ia berkata pada Ishaq bin Rohuwyah mengenai firman Allah,
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ
Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” (QS. Al Mujadilah: 7). Bagaimanakah pendapatmu mengenai ayat tersebut?”
Ishaq bin Rohuwyah menjawab, “Dia itu lebih dekat (dengan ilmu-Nya) dari urat lehermu. Namun Dzat-Nya terpisah dari makhluk. Kemudian beliau menyebutkan perkataan Ibnul Mubarok, “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.”
Lalu Ishaq bin Rohuwyah mengatakan, “Ayat yang paling gamblang dan paling jelas menjelaskan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.[17]
Al Khollal meriwayatkannya dalam As Sunnah dari Harb.[18]
قال أبو بكر الخلال أنبأنا المروذي حدثنا محمد بن الصباح النيسابوري حدثنا أبو داود الخفاف سليمان بن داود قال قال إسحاق بن راهويه قال الله تعالى الرحمن على العرش استوى إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة اسمع ويحك إلى هذا الإمام كيف نقل الإجماع على هذه المسألة كما نقله في زمانه قتيبة المذكور
“Abu Bakr Al Khollal mengatakan, telah mengabarkan kepada kami Al Maruzi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Muhammad bin Shobah An Naisaburi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Abu Daud Al Khonaf Sulaiman bin Daud. Beliau katakana, Ishaq bin Rohuwyah berkata, “Allah Ta’ala berfirman,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”[19]. Para ulama sepakat (berijma’) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy dan beristiwa’ (menetap tinggi) di atas-Nya. Namun Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bawah-Nya, sampai di bawah lapis bumi yang ketujuh.[20]
Adz Dzahabi rahimahullah ketika membawakan perkataan Ishaq di atas, beliau rahimahullah mengatakan,
اسمع ويحك إلى هذا الإمام كيف نقل الإجماع على هذه المسألة كما نقله في زمانه قتيبة المذكور
“Dengarkanlah perkataan Imam yang satu ini. Lihatlah bagaimana beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai masalah ini. Sebagaimana pula ijma’ ini dinukil oleh Qutaibah di masanya.”[21]
Pelajaran berharga dari Ishaq bin Rohuwyah:
  1. Kalau kita katakan Allah di atas langit atau di atas ‘Arsy-Nya, bukan berarti Allah di dalam langit atau menempel pada ‘Arsy. Lihatlah penjelasan gamblang dari Ishaq bin Rohuwyah bahwa Allah itu terpisah dari makhluk-Nya, sehingga menunjukkan bahwa Allah bukan berada di dalam langit.
  2. Ini menunjukkan bahwa pengertian langit tidak selamanya dengan bentuk langit yang ada di benak kita karena langit sekali lagi bisa bermakna ketinggian. Jadi jika kita katakan Allah fis samaa’, itu juga bisa berarti Allah di ketinggian. Karena ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak bersatu dengan makhluk. Mohon bisa dipahami.
  3. Pengertian Allah itu bersama hamba tidak melazimkan bahwa Allah berada di mana-mana. Allah tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya, di atas seluruh makhluk-Nya, sedangakan yang berada di mana-mana adalah ilmu Allah. Dan sekali lagi, bukan Dzat Allah.
  4. Sudah ada dua nukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang menyatakan bahwa Allah berada di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya. Sebelumnya pula kami sudah sebutkan adanya ijma’ yang diklaim oleh Qutaibah dan sekarang oleh Ishaq bin Rohuwyah. Lalu masihkah keyakinan ijma’ ini disangsikan?

Pembahasan ini kami cukupkan dulu untuk sementara waktu. Masih banyak perkataan ulama yang kami nukil lagi dalam posting selanjutnya, terutama dari ulama pakar hadits semacam Bukhari, Abu Zur’ah dan lainnya. Semoga Allah mudahkan.
Semoga pelajaran-pelajaran berharga yang kami sajikan dalam tulisan kali ini bisa sebagai sepercik hidayah bagi yang ingin meraihnya. Hanya Allah yang beri taufik.


[1] Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi meninggal tahun 221 H.
[2] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 169. Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Al Haruwi dalam “Dzammul Kalam” (1/120). Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 181.
[3] Nu’aim bin Hammad Al Khuza’i hidup pada tahun 146-228 H.
[4] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 171-172. Sanad riwayat ini shahih. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 184.
[5] Basyr Al Haafi hidup pada tahun 151-227 H.
[6] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 172. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 185.
[7] Ahmad bin Nashr Al Khuza’i meninggal tahun 231 H.
[8] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 173. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 186-187.
[9] Qutaibah bin Sa’id hidup tahun 150-240 H.
[10] QS. Thoha: 5.
[11] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 187.
[12] Abu Ma’mar Al Qutai’iy meninggal tahun 236 H.
[13] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174-175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188.
[14] ‘Ali bin Al Madini meninggal tahun 234 H.
[15] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188-189.
[16] Ishaq bin Rohuwyah hidup antara tahun 166-238 H
[17] QS. Thoha: 5.
[18] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 177. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 191
[19] QS. Thaha: 5.
[20] Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 179. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 194.
[21] Idem

Enhanced by Zemanta
Post a Comment