Tuesday, August 7, 2012

DEFINISI " اللَّهُ " (ALLAH)

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Para pembaca yang saya muliakan, kalau kita berbicara soal : kebathinan, kejiwaan dan kerokhanian, ini tidak akan terlepas dari soal : Ketuhanan, karena :
- Tuhan  (Allah ) sumber dari segala sesuatu
- Tuhan Maha Tahu
- Tuhan Maha Bisa
- Tuhan Serba Ada
- Tuhan Pengasih Penyayang dan Pengampun
Berikutnya, maka saya akan menyampaikan kepada para pembaca, pengertian-pengertian "Kekeluargaan" tentang Allah atau jelasnya :
" KONSEP TENTANG TUHAN ATAU ALLAH "
maka akan saya dahului dengan pengertian-pengertian dasar. Tuhan itu artinya Sesembhan, yang disembah, yang diagungkan. Tuhan saya adalah Allah berarti dan dapat diartikan:
-      Pertama, yang saya sembah adalah Allah
-      Kedua, yang saya agungkan adalah Allah
-      Ketiga, tempat saya meminta dan mengabdi adalah Allah
Tiap-tiap perwujudan mempunyai kerangka dan batas-batas. Jika ada seseorang menyebutkan sesuatu nama, akan tetapi ia tidak dapat memberikan kerangka pada nama itu, maka pengetahuan akan nama yang disebutkan itu hanya khayalan atau kira-kira belaka. Pengertian ini juga dapat dijadikan ukuran keimanan terhadap apa yang diketahuinya, apalagi yang ia yakini.
Kita menyebut nama  اللَّهِ "Allah":, kita sama-sama yakin adanya Allah, maka  kita dapat harus membuktikan dan dapat memberikan kerangka pada nama " Allah" tersebut.
2. ARTI PERKATAAN    اللَّهِ   "ALLAH"
Dalam sastra Arab pernah kita temukan uraian sebagi berikut: "ILLAH" berarti: Tuhan atau sesembahan atau yang disembah. Allah berasal dari kata "AL" dan "ILLAH" disingkat menjadi "اللَّهِ" berarti maha sesembahan.
Dengan demikian maka Allah adalah "Sesembahan Yang Tertinggi" ialah sesembahannya dari segala sesuatu yang ada didalam dan bagi (untuk) hidup, kehidupan dan penghidupan. Allah adalah tempat pengabdian dari segala makhluk.
Dengan pengertian pendahuluan ini maka saya akan menguraikan konsepsi tentang Allah dengan pengertian-pengertianya yang ditinjau dari berbagai sudut, sesuai dengan alam pikiran Kekeluargaan"
Saya bermaksud dan beritikad menguraikan konsep tentang Allah ini kepada :
A. PEMBACA YANG SAYA MULIAKAN SEKARANG INI
1. Yang mewakili pimpinan Ormas-ormas, kebathinan / Kejiwaan / Kerokhanian dan tergabung pada "Pakem" (Pengawas Aliran kepercayaan Masyarakat) Kejaksaan Tinggi Jakarta (di Gedung Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan Negara (STIKN) Kebayoran Baru pada tanggal 26 Juni 1966, Jam 09.30 Wib). 
2.     Pemerintah Republik Indonesia lewat Pakem Kejaksaan Tinggi Jakarta dan para      
-      Pejabat Pemerintah yang berwenang.
-      Para alim Ulama dari golongan agama yang disahkan Pemerintah.
-       
 B. NUSA, BANGSA DAN NEGARA PADA UMUMNYA.
 C. UMAT ISLAM PADA UMUMNYA.
Saya akan mencoba menguraikan dengan kata-kata sesederhana mungkin dengan kerangka atau huruf   اللَّهُ
Bagi alam pikiran “ kekeluargaan “ didalam ijtihadj nya, maka kerangka atau penyusunan atau tuliasa   اللَّهُ itu merupakan suatu kerangka yang mempunyai arti dan makna serta daya hidup dan yang menghidupkan. Segala sesuatu yang menyangkut tentang hidup, kehidupan dan penghidupan, dapat dicarikan dasar-dasar hukumnya dan tergantung pula pada pemikiran kewaspadaan, terjurus dari penyorotannya.


3. DZAT, HIDUP DAN 4 UNSUR-UNSUR POKOK PERWUJUDAN. (EVOLUSI KEJADIAN)
Untuk mempermudah kita bicara tentang apa yang "tidak", marilah kita mencari jalan dari apa yang "ada". Jadi yang saya maksud dengan yang "ada" ialah :  Alam, penerangan tentang adanya alam ini, menurut Al-Quran surat Yunu ayat 3 (10:3) berbunyi:
نَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُﺍ الأمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلا تَذَكَّرُونَ
“ Inna Robbakumullahu Iladzii Samawaati Walardho Fisittati Ayaamin TsummastawaalaalarsyiYudabbirulamro. Maamin Syafii’in Illamimbadi Idznihi, Dzaalikimullahu Robbukuk Fabuduhu, Afalaa Tadzakaruun “
Artinya :
“ Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudia dia bersemayam diatas Arasy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak seorangpun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izinnya. Yang demikian itulah Allah Tuhan kami maka Sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”
Nah saudara-saudara ternyata dari penerangan tadi, bahwa alam ini terjadi tidak hanya dengan kata-kata “Kun” sekali jadi terus berwujud, tetapi dengan enam hari. Enam hari tidak berarti enam hari, tetapi dengan Fase (tahapan) yang berarti berevolusi.
Jadi sebulum alam ini ada, yaitu masih awang-awang atau kosong (gong lewang-lewong) yang ada ialah Dzat yang tidak seumpama apapun juga (lihat : Jabar). Sebelum apa-apa dialam ini, yang ada ialah Dzat yang tidak seumpama apapun juga. Pengertian ini umumnya sudah diluar batas pikiran manusia, dan kita mau tidak mau harus percaya. Dzat yang tidak seumpama apapun juga ini ada dengan sendirinya dan terjadi dengan sendirinya.
Dzat yang tiada seumpama apapun pula, yamg ada dengan sendirinya dan jadi dengan sendirinya itu dan mengadakan hidup (lihat : tasjid). Karena adanya hidup, maka terjadilah adanya gerak atau getaran. Kesemuanya ini masih goib. Getaran ini hidup terus dan menimbulkan cahaya : Merah (Lihat : Alif). Setelah cahaya Merah timbulah cahaya : Kuning (lihat : Lam Awal), Setelah cahaya kuning timbullah cahaya : Putih (lihat : Lam Akhir), Setelah cahaya Putih timbullah Cahaya : Hitam (lihat : lihat Ha)
Cahaya-cahaya tersebut telah dimengerti unsure-unsur pokok dari setiap perwujudan dengan alam hidup ini:
-      Merah diartikan            :  Unsur Api
-      Kuning diartikan           :  Unsur Angin
-      Putih diartikan              :  Unsur Air
-      Hitam diartikan             :  Unsur Bumi.
4. ALLAH DAN MAKHLUK ALLAH
Kempat cahaya tersebut  اللَّهِ (lihat : Alif, Lam, Lam, Ha) yang saling berbenturan karena adanya gerak dan getar (lihat : Tasjid) dengan diliputi oleh Dzat Yang Hidup (lihat : Jabar), keseluruhan itulah baru menjadi perwujudan yang dinamakan :  اللَّهِ (Allah)
Jadi dari dzat yang tiada seumpama apapun juga (Jabar) sampai dengan apa yang kita lihat dan berwujud sudah menyatu. “Tidak” dan “Ada” adalah satu inilah yang dinamakan   Allah. Jadi jelasnya seluruh alam ini adalah perwujudan dari yang tidak.
Saudara-saudara kita ini adalah perwujudan dari pada dzat dan gerak / getar dari empat unsur, itulah menjadi satu perwujudan. Inilah yang dikatakan bahwa Tuhan dengan kita tidak ada antaranya lagi seperti “Urat leher dan lehermu”.
Dengan adanya benturan 4 unsur ini maka terjadilah alam seisinya dan terjadinya makhluk hidup mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Benturan-benturan maupun perpaduan ke 4 unsur tersebut ini ada tingkatanya, begitu juga perwujudan ada juga tingkatanya, dari makhluk yang terendah tingkatanya sampai dengan makhluk yang tinggi tingkatanya seperti Manusia.
Kami jelaskan lagi uraian saya dengan kata lain :
Dari yang tidak (jabar) lalu menjadi Gerak/Getaran (Tasjid) dan selanjutnya Gerak/Getaran itu menimbulkan 4 cahaya yang bernama : Api, Angin, Air, Bumi (Alif, Lam Awal, Lam Akhir, Ha). Empat (4) cahaya tersebut adalah unsur pokok, yang ada dalam hidup.
Karena adanya Gerak/Getaran maka benturan empat kekuatan pokok ini timbulah suatu perwujudan  Allah  namanya.
Surat al-Baqaroh ayat 115 (2:115)
 فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ
“ FAAYNAMAA TUWALLU FATSAMMA WAJHULLAHI “
Artinya :
Maka kemanapun kamu menghadap disitullah wajah Allah
Wajah Allah adalah perwujudan Allah yang kita lihat dan temukan. Yang “Tidak” dan yang “Ada” adalah merupakan satu kesatuan dan persatuan yang mutlak “Allah” namanya.
Dan dari  perwujudan-perwujudan yang kita jumpai dalam hidup, kehidupan dan penghidupan adalah manusia makhluk yang tertinggi. Inilah yang dikatakan : Kita dan Tuhan tidak ada natara lagi. Kalau seumpama dzat yang tidak seumpama juga adalah “air” maka kita sebagai perwujudtanya adalah “Es” nya. Kita ini adalah merupakan pembekuan dari Dzat. Hidup kita adalah Gerak atau Yang hidup atau juga Hidup.
Gerak ini digerakkan oleh Yang tidak bergerak, ialah Dzat Antara yang tidak bergerak dan yang bergerak adalah “SATU KESATUAN DAN PERSATUAN”.
Jadi, seluruh alam ini adalah “satu perwujudan” atau lebih tegas lagi “satu pembekuan” dari “tidak”, diantara mana tidak ada batas-batas pemisahan sedikit juga dengan yang “ada”. Kesemuanya ini adalah suatu perwujudan dari Allah (secara keseluruhan maupun secara sendiri), karena asalnya dari tidak menjadi ada. Kita ini (perwujudan secara sendiri), menurut ajaran agama adalah Makhluk allah. Makhluk manusia adalah perwujudan yang tertinggi dari setiap adanya perwujudan dalam hidup, kehidupan dan penghidupan, seperti diterangkan di dalam surat Al-Maidah ayat 3 (5:3):
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
Artinya :
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu menjadi agama kamu”
Dalam pandangan kita yang meluas kepada macro cosmos, maka dapat saya berikan pengertian:
Allah adalah suatu perwujudan yang berada didalam wadah yang tidak bertepi dengan Dzat-Nya yang meliputi. Jika pandangan kita menuju kepada Micro Cosmos terutama kepada diri sendiri maka kita hendaknya kembali kepada pengertian hakekat tauhid “bahwa setiap perwujudan adalah perwujudan Allah”. Pengertian akan hakekat tauhid tersebut adalah dapat dijadikan dasar mutlak bagi pemberian pengertian akan ketuhanan Yang Maha Esa.
Demikian secara singkat telah saya terangkan penertian atau konsepsi tentang Allah dari Kekeluargaan ditinjau dari sudut hidup. Para pujangga Arab telah menentukan (dengan karunia Allah), kerangka atau tulisan Allah dengan susunan huruf-huruf sebagai yang tercantum didepan hadirin sekalian.
Kerangka atau susunan huruf اللَّهُ tersebut tidak akan berubah sepanjang zaman, karena makna arti dan daya yang memancar dari kerangka tersebut mempunyai daya adanya kesatuan hukum-hukum hidup, kehidupan dan penghidupan. Umpamanya Jabar dan Tasjidnya dihilangkan tersisa Alif, Lam, Lam, Ha ini adalah kerangka yang mati, kerangka hampa yang tidak mempunyai makna arti dan daya yang hidup.
Demikianpun jika kerangka tersebut kita terjemahkan atau kita ganti dengan huruf atau bahasa lain hampa rasanya. Sebagaimana saya terangkan dimuka, susunan huruf atau lebih tepat kerangka  (Allah) bagi kita semua mempunyai makna, arti dan daya yang hidup dan menghidupkan. Bagi saya khususnya demikianlah adanya kerena saya dapat memberikan penjelasan tentang penyorotan kerangka itu dari sudut : Hidup, Kehidupan dan Penghidupan, lahir- Bahtin-Dunia- Akherat.
Kesemuanya digali dari yang tersurat dan tersirat pada Al-Quran dari Hadits. Hal ini akan membutuhkan waktu yang khusus dan semoga saya akan berkesampatan untuk berhadapan muka dan berdialog dengan hadirin sekalian dilain waktu. 
Post a Comment