Sunday, August 12, 2012

DAHSYATNYA PADANG MAHSYAR

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

DAHSYATNYA PADANG MAHSYAR

Kami ingin menukil data-data dari kitab suci Al-Quranul Karim dan hadits-hadits Baginda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh para ulama shalihin Ahlussunnah wal Jama`ah, tentang sebagian kecil dari dahsyatnya padang mahsyar dan siksaan neraka yang merupakan wujud nyata dari kemurkaan Allah SWT kepada orang-orang yang durhaka dan menentang ajaran Rasul-Nya. Kami mulai dari Alam Barzah(alam kubur) yang mana setiap orang dipastikan akan mengalaminya.

Diriwayatkan dalam kitab “Sabilul Iddikar” Lil Imam Quthbil Irsyad Al-Habib `Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra halaman 67, bahwa orang yang meninggal dunia ruhnya masih tetap hidup, ada yang bahagia dan ada yang tersiksa sesuai amal perbuatannya masing-masing, Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya alam kubur adakalanya menjadi taman dari taman surga dan adakalanya menjadi jurang dari siksa neraka”.
Dalam kitab Ihya `Ulumuddin, lil Imam Hujjatul Islam, Abu Hamid Al Ghazali, juz 4/478 diterangkan bahwa:
”Orang yang berbahagia dialam kubur, akan lebih berbahagia lagi pada saat ditunjukkan tempat tinggalnya nanti di surga dan orang-orang yang tersiksa dialam kubur akan lebih tersiksa lagi pada saat ditunjukkan tempat tinggalnya di neraka”.
Sesungguhnya kebanyakan siksa kubur karena tiga perkara, yaitu :Ghibbah (membicarakan keburukan orang lain), Namimah (Mengadu Domba) dan kurang bersih dalm membersihkan kencing.
Nabi SAW selalu memperbanyak memohon perlindungan dari siksa kubur dan beliau SAW menganjurkan dibaca dalam doa setelah bacaan tasyahud setelah shalat dan pada bacaan pagi dan petang karena adzab kubur dan kenikmatannya merupakan perkara yang nyata. Kenikmatan dalam kubur diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah SWT, sedangkan siksa kubur diperuntukkan bagi orang-orang kafir, munafik dan suka berbuat maksiat, masing-masing dari kedua golongan iniberbeda-beda dalam mendapatkan kenikmatan dan sikasa sesuai tingkatan amal perbuatan mereka didunia, baik itu perbuatan yang membuahkan pahala dan kenikmatan atau yang membuahkan hukuman dan siksaan.
Diantara perkara yang Allah jadikan perisai dan manfaat bagi seorang mayit dalam kubur adalah berdoa untuknya, memohon ampun dan bersedekah atasnya. Nabi SAW bersabda : kalau bukan karena orang-orang yang masih hidup, pasti celakalah orang-orang yang telah mati. Karena orang-orang yang telah meninggal dunia mendapat kiriman doa, istighfar dan permohonan rahmat untuk mereka dari orang yang masih hidup.
Hadiah yang paling besar berkah dan manfaatnya untuk orang mati adalah bacaan Al Qur`an yang dihadiahkan pahalanya kepada mereka. Hal semacam ini telah dilakukan oleh umat islam berabad-abad yang lalu dan di berbagai tempat, para ulama salaf dan khalaf telah menganjurkan dan ada beberapa hadits yang menyebutkannya. Oleh karena itu janganlah lupa mendoakan, membacakan istighfar dan bersedekah untuk orang yang telah meninggal hingga kelak setelah ia mati ia tidak akan dilupakan oleh orang-orang setelahnya dan menjadi seperti orang-orang yang sebelumnya, karena orang yang mengingat ia akan diingat dan yang melupakan akan dilupakan, perbuatan baik bagaikan hutang dan Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.
Ketahuilah, bahwa berziarah kubur merupakan perkara yang dianjurkan dan Rasulullah SAW telah mengizinkan setelah sebelumnya beliau SAW melarang hal ini, Nabi SAW bersabda :
“Ziarahlah kubur, karena ia dapat mengingatkan akan kematian”.
Nabi SAW bersabda :
“ Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah, karena sesungguhnya ia dapat menimbulkan rasa zuhud sisunia dan mengingatkan kalian pada akhirat”.
Nabi SAW bersabda:
“Tak seorangpun yang menziarahi kubur saudaranya dan duduk didekatnya melainkan ia akan merasa senang kepadanya dan ruhnya dikembalikan kepadanya sampai orang itu bangun dari tempat itu”.
Nabi SAW bersabda:
“Yang paling menyenangkan mayit dalm kuburnya adalah bila ia dikunjungi oleh orang yang ia cintai semasa hidupnya”.

Diriwayatkan dalam kitab “Sabilul Iddikar” Lil Imam Quthbil Irsyad Al-Habib `Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra halaman 67, bahwa orang yang meninggal dunia ruhnya masih tetap hidup, ada yang bahagia dan ada yang tersiksa sesuai amal perbuatannya masing-masing, Baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya alam kubur adakalanya menjadi taman dari taman surga dan adakalanya menjadi jurang dari siksa neraka”.
Begitulah keadaan mereka sampai hari kiamat nanti, yaitu pada saat Allah SWT memerintahkan malaikat Israfil as meniup terompetnya yang pertama kali.

Diriwayatkan dalam kitab “Sabilul Iddikar” Lil Imam Quthbil Irsyad Al-Habib `Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra halaman 76:
”Pada saat malaikat Israfil meniupkan terompetnya yang pertama kali, maka setiap makhluk hidup dialam semesta mati saat itu juga, baik yang berwujud ruh atau yang berupa jasad, dilangit dan dibumi, kecuali dari sebagian malaikat yaitu: malikat pembawa Arsy, malaikat Jibril as, malaikat Mikail as, malaikat Israfil as dan malaikat `Izrail as. Kemudian Allah SWT menghendaki kematian bagi mereka semua, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Tafsir Al-Quranul Karim Lil Imam Ibnu Katsir (3/283) dan kitab Tanbihul Ghafilin (hal. 17), bahwa malaikat maut (`Izrail as), menghadap Allah SWT dan berkata:
”Ya Allah, sesungguhnya semua penghuni langit dan bumi sudah mati semua tak tersisa kecuali sebagian malaikat yang Engkau kehendaki”.
Kemudian Allah SWT berfirman:
”Wahai `Izrail, siapa saja yang masih hidup”.
Sesungguhnya Allah SWT lebih mengetahui hal itu.
Malaikat `Izrail as menjawab: ”Ya Allah, sesungguhnya yang masih ada hanyalah Engkau Dzat yang Maha Hidup kekal abadi, malaikat pembawa Arsy, malaikat Jibril as, malaikat Mikail as, malaikat Israfil as dan aku sendiri”.
Kemudaian Allah SWT berfirman:
”Wahai `Izrail, cabutlah nyawa malaikat Jibril, malaikat Mikail dan malaikat Israfil”.
Dengan penuh takjub para malaikat pembawa Arsy berkata:
”Ya Allah, apakah Engkau kehendaki juga kematian untuk malaikat Jibril, malaikat Mikail dan malaikat Israfil”.
Seketika Allah SWT berfirman:
”Diamlah kalian wahai para malaikat pembawa Arsy, sesungguhnya telah Aku tetapkan kematian sejak zaman azali bagi seluruh makhluk dibawah Arsy-Ku”.
Seketika malaikat Izrailpun mencabut nyawa mereka. Kemudian Allah SWT berfirman:
”Wahai Izrail, siapa saja yang masih hidup?”.
Sesungguhnya Allah SWT lebih mengetahui hal itu.
Malaikat Izrail as menjawab:
”Ya Allah, sesungguhnya yang masih ada hanyalah Engkau Dzat yang Maha Hidup kekal Abadi, para malaikat pembawa Arsy dan aku sendiri”.
Kemudian Allah SWT berfirman:
“Wahai Izrail, cabutlah nyawa para malaikat pembawa Arsy”.
Seketika malaikat Izrail pun melaksanakannya.
Kemudian Allah SWT berfirman:
“Wahai Izrail, sekarang siapa yang masih hidup?’.
Sesungguhnya Allah SWT lebih mengetahui hal itu.
Malaikat Izrail as menjawab:
“Ya Allah, sesungguhnya yang masih ada hanyalah Engkau Dzat yang Maha Hidup kekal Abadi dan aku sendiri hamba-Mu yang lemah ini”.
Kemudian Allah SWT berfirman:
“Wahai Izrail, bukankah kamu telah mengetahui Firman-Ku, bahwa semua makhluk hidup pasti akan merasakan kematian dan kamu juga sebagian dari makhluk ciptaan-Ku, sesungguhnya Aku ciptakan kamu untuk melaksanakan tugasmu (mencabut nyawa), maka aku perintahkan kamu untuk mencabut nyawamu sendiri saat ini juga”.
Maka malaikat Izrail pun melaksanakan perintah Allah SWT mencabut nyawanya sendiri dengan merasakan kepedihan yang sangat menyakitkan hingga berkata: “Seandainya aku tahu beginilah sakit dan pedihnya kematian, niscaya aku akan lebih lemah lembut mencabut nyawa orang-orang yang beriman”.
Setelah semua makhluk mati tak tersisa, sebagaiman awal mulanya yang awal hanyalah Allah SWT, Dzat yang Maha Awal, Maha Kekal Abadi Selamanya, maka Allah SWT berfirman:
“”Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (Q.S. Ghafir-16)
Kemudian Allah SWT menciptakan padang mahsyar dari hamparan logam yang rata dan sangat luas sekali, mencukupi seluruh penghuni mahsyar dari binatang, manusia, jin, setan, malaikat dan lain sebagainya.
Diriwayatkan dalam kitab “Sabilul Iddikar” Lil Imam Quthbil Irsyad Al-Habib `Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra halaman 84: bahwa Allah SWT menyebarkan bibit-bibit makhluk dipadang mahsyar, kemudian menurunkan sel-sel kehidupan kepada mereka dan menurunkan hujan selama 40 hari, sehingga padang mahsyar dipenuhi dengan air setinggi 12 hasta (kurang lebih enem meter) dan kemudian Allah menumbuhkan jasad-jasad mereka seperti tumbuhnya sayur-sayuran, sehingga tumbuh jasad mereka dengan sempurna. Kemudian Allah SWT menghidupkan empat malaikat pembawa Arsy dan menambahnya menjadi delapan dan menghidupkan malaikat Jibril as, malaikat Mikail as dan malaikat Israfil as. Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada malaikat Israfil as untuk mengambil terompetnya dan Allah SWT menaruh para arwah didalam terompet tersebut untuk menghidupkannya. Kemudian Allah SWT berfirman kepada malaikat Israfil as :
“Wahai malaikat Israfil, tiuplah terompet dengan tiupan kebangkitan”.
Maka malaikat Israfil as meniup terompetnya, seketika keluarlah para arwah bagaikan lebah memenuhi angkasa, arwah orang mu`min putih bercahaya gemerlapan dan arwah orang kafir hitam pekat. Jarak antara tiupan terompet yang pertama dan yang kedua adalah 40 tahun.
Kemudian Allah SWT berfirman:
“Demi Kemuliaan dan Keagungan-Ku, kembalilah wahai setiap ruh kepada jasadnya masing-masing”.
Seketika setiap ruh masuk kejasadnya masing-masing melalui hidung dan menyebar keseluruh jasadnya, para manusia dibangkitkan oleh Allah SWT dalam umur yang sama yaitu tiga puluh tiga tahun dan sesungguhnya yang pertama kali bangkit adalah BAGINDA RASULULLAH SAW.
Wallahu A`lam..

Post a Comment