Tuesday, August 14, 2012

Aqidah Imam Syafi'i

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Apabila disebut nama Imam Syafi'i, rata-rata umat Islam mengenalinya. Terlebih lagi di negara asia tenggara seperti Indonesia dan Malaysia, yang mayoritas umat Islam bermazhab Syafi'i. Walau begitu, ada pendapat atau pegangan Imam besar ini yang tidak populer di negara kita, atau mungkin sengaja tidak dipopulerkan. Diantaranya:

1) Imam Syafi'i beraqidah Allah Ta'ala berada di atas 'Arsy

Imam Syafi'i berkata: “Pegangan dalam sunnah yang aku berada di atasnya, dan dipegang oleh mereka yang aku temui seperti Sufyan, Malik dan lain-lain ialah menyaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allåh dan Muhammad adalah utusan Allah, dan Allah berada di atas 'arsyNya di langitNya, mendekati makhlukNya sebagaimana Dia kehendaki, turun ke langit dunia sebagaimana Dia kehendaki”. [lihat Al-Uluw oleh Adz-Dzahabi (hlmn: 165), Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah (hlmn: 165)]

2) Imam Syafi'i menegaskan kewajiban beriman dengan segala sifat Allåh, dan sifat Allåh hendaklah dipelajari melalui keterangan yang datang dari-Nya dan Råsul-Nya, bukan dengan akal

Imam Syafi'i berkata: “Allah Ta'ala mempunyai nama-nama dan sifat-sifat. Tidak boleh seseorang pun menolaknya. Sesiapa yang menyalahi selepas tertegak hujah di hadapannya, maka dia menjadi kufur. Manakala sebelum tertegaknya hujah, dia dimaafkan dengan alasan jahil. Karena ilmu tentangnya tidak dapat diperolehi dengan akal, pandangan, dan fikiran”. (lihat Fathul Bari 20/494)

3) Imam Syafi'i berpendapat pahala bacaan Al-Qur'an tidak sampai kepada mayyit

Firman Allah Taala yang artinya:

“Dan bahwa sesungguhnya tidak ada (balasan) bagi seseorang melainkan (balasan) apa yang diusahakannya”. (Al-Najm: 39)

Al-Imam Ibnu Katsir berkata, “Daripada ayat yang mulia ini, Imam Syafi'i -rahimahullah- dan mereka yang mengikutinya mengeluarkan hukum bhawa pahala hadiah bacaan (Al-Quran) tidak sampai kepada orang-orang yang mati (mayyit)”. (lihat Tafsir Ibnu Katsir: 7/465)

4) Imam Syafi'i melarang shålat yang berimamkan orang Syi'ah

Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi'i) bertanya kepada Imam Syafi'i, “Bolehkah aku shålat di belakang orang Syiah?”

Imam Syafi'i berkata, “Jangan shålat di belakang orang Syi'ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji'ah”

Lalu Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi'i menyifatkan, “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan imam, maka dia Syi'ah”. (Siyar A’lam Al-Nubala 10/31)

5) Imam Syafi'i mencela golongan sufi

Imam Syafi'i berkata: “Kalau seorang lelaki bertasawwuf pada pagi harinya, maka tidak sampai pada waktu dhuhur kamu akan mendapati dia sudah menjadi dungu” (Manaqib Al-Syafi'i 2/208)

Beliau berkata: “Tidak ada seorang pun melazimi golongan sufi selama 40 hari, kemudian akalnya boleh kembali (seperti sediakala)”. (lihat Talbis Iblis: 371)

Beliau berkata: “Seorang sufi tidak menjadi sufi melainkan ada padanya empat sifat:

- sangat malas
- banyak makan
- banyak tidur
- banyak berbicara omong kosong”.

(Manaqib Al-Syafie 2/208)

Beliau juga berkata: “Aku mendampingi golongan sufi selama tiga puluh tahun, aku tidak melihat seorang pun dalam kalangan mereka berakal kecuali Muslim Al-Khawwash”. (Talbis Iblis: 447)

6) Imam Syafi'i mencela orang yang mendalami ilmu kalam (ilmu falsafah)

Imam Syafi'i berkata: “Hukumanku terhadap ahli kalam ialah mereka hendaklah dipukul dengan pelepah-pelepah, diusung di atas unta, dan bawa mengelilingi kabilah-kabilah. Dilaungkan kepada mereka: Inilah balasan orang yang meninggalkan Kitab dan Sunnah, dan mempelajari ilmu kalam” (Tawali al-Ta’sis: 64).

7) Imam Syafi'i mewajibkan tunduk kepada dalil (al-qur'an dan as-sunnah ash-shåhihah sesuai dengan pemahaman shåhabat), bukan ta'ash-shub kepada imam

Imam Syafi'i berkata: “Telah ada ijma' (kesepakatan) dari para ulama, bahwa siapasaja yang telah nyata baginya sunnah Rasulullah Shållallahu 'Alaihi Wasallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena untuk mengikuti pendapat seseorang” (Madarij al-Salikin 2/335)

No comments: