Friday, July 13, 2012

TRILOGI FILSAFAT: TUHAN, ALAM DAN MANUSIA

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله 


TRILOGI FILSAFAT: TUHAN, ALAM DAN MANUSIA

A. TUHAN
Berbicara tentang Tuhan, maka kita akan berbicara tentang kekuatan (power) yang tidak pernah ada dan bahkan tidak akan pernah dimiliki oleh manusia kecuali atas izinNya. Itu sebabnya saya meyakini mengapa manusia di muka bumi ini bertuhan, karena ia meyakini bahwa ada kekuatan di luar diri manusia, yaitu kekuatan tuhan. Dan manusia pun “berlomba-lomba” mencari dan meyakini ketika menemukan ada kekuatan di luar dirinya, maka sesuatu itu disebut Tuhan.
Sama halnya (barangkali kalau boleh menyamakan) dengan Nabi Ibrahim AS dalam pencariannya tentang Tuhan. Tatkala melihat bintang, ia mengira itu adalah Tuhan, tapi ketika melihat bulan yang lebih besar dari bintang, ia pun meyakini inilah Tuhan. Tapi ketika melihat matahari yang lebih besar dan lebih terang dari bulan, dan menyinari bumi tiada henti-hentinya, ia pun meyakini inilah Tuhan. Tapi keraguan itu datang, karena Tuhan tidak mungkin mati ketika malam datang.
Saya mengira bahwa Nabi Ibrahim AS dalam pencarian tuhannya pasti dengan menggunakan penalarannya (ilmunya). Lain halnya di zaman sekarang, sebagian manusia yang mencari tuhannya tidak menggunakan penalarannya (ilmunya). Sehingga semua yang dianggap memiliki kekuatan di luar dirinya, itulah Tuhan. Matahari, bulan, bintang, awan, batu, pohon, gua, gunung, laut, sungai, binatang bahkan kuburan pun dianggap tuhan oleh manusia. Tuhan-tuhan tersebut pun disembah-sembah, dipuji-puji dan disanjung-sanjung. Bahkan di zaman modern ini pun tuhan yang modern pun ada, yaitu harta, tahta, wanita, dan cinta.
Saya meyakini bahwa Tuhan yang layak dan pantas disembah yaitu Allah SWT tidak “tinggal diam” melihat kondisi hamba-hambaNya seperti ini. Dalam sejarah hidup manusia banyak dikisahkan, bagaimana di zaman para nabi harus “meluruskan” keyakinan umatnya tentang tuhan yang telah ”menyimpang” dari yang seharusnya. Yang lebih parah adalah ketika manusia itu sendiri meyakini bahwa dirinya adalah tuhan. Karena ia mampu melakukan apapun layaknya tuhan, seperti menghidupkan dan mematikan, memberikan rezeki, menurunkan hujan dan lain-lain. Itulah Fir’aun. Nabi Musa AS pun diutus untuk “meluruskannya” agar kembali ke jalan yang benar. Di zaman sekarang pun saya kira butuh “Nabi Musa” yang berani meluruskan “fir’aun-fir’aun” kecil yang menganggap dirinya tuhan, yang menganggap dirinya hebat, berkuasa, bisa menaklukkan segalanya, dan bahkan menganggap tidak ada yang bisa berbuat dan menjadi apa-apa tanpa dirinya.
Memang rasa-rasanya (barangkali) senang memiliki sedikit kekuatan (power) Tuhan. Sedikit bercerita, saya teringat pernah menonton film yang dibintangi (kalau tidak salah) oleh Jim Carrey yang berjudul Bruce Almighty. Saya meyakini bahwa film adalah gambaran cerita hidup manusia yang penuh dengan kesenangan, kesedihan, keputusasaan, kecurangan, yang juga bisa diambil pelajaran dan hikmahnya (ibrah) dalam hidup.
Diceritakan bahwa Jim selalu sial dalam pekerjaannya sebagai reporter sebuah televisi swasta. Apalagi kalah “saingan” dengan teman kerjanya sendiri. Dan menganggap selalu sial dalam hidupnya, seperti anjingnya selalu kencing di dalam rumahnya, dipukuli oleh banyak preman gara-gara menolong seorang pengemis karena uang pengemis itu dirampas oleh preman tersebut, bahkan mobil kesayangannya pun dicoret-coret oleh preman tadi. Sehingga hidupnya pun menjadi putus asa dan menganggap Tuhannya tidak adil dalam memperlakukannya. Dia pun teriak-teriak “memaki-maki” Tuhannya.
Hingga suatu saat ia mendapat nomor panggilan dari Pager-nya agar menghubungi nomor tersebut. Akan tetapi karena kondisi dirinya sedang stress berat, Pager itu pun dibuang ke jalan raya, dan hancur dilindas ban truk. Anehnya Pager itu tetap berdering “Bip Bip Bip”. Dengan rasa aneh, Jim lalu menghubungi nomor itu (saya pun lupa berapa nomornya). Dari suara balik telepon didengar oleh Jim bahwa ia harus datang ke alamat yang sudah ditentukan. Jim pun datang, dan sebelum bertemu, kembali kesialannya muncul lagi. Ia menginjak lubang jalanan yang ada airnya, sehingga kakinya terperosok masuk dan celananya pun basah. Dengan rasa hati yang kesal, akhirnya ia bertemu dengan seorang cleaning service dan ternyata adalah tuhan (yang dianggap dalam film tersebut) yang mendengar keluhan dan “makian” dari Jim.
Terjadilah dialog antar mereka, yang pada intinya si tuhan ingin memberikan kekuatannya kepada Jim dan Jim-lah yang menggantikannya sebagai tuhan sementara agar dia tahu bahwa tugas tuhan tidaklah semudah yang dibayangkan Jim. Menurut saya si tuhan barangkali sedikit ngambek gara-gara dimaki oleh Jim, sama seperti sekarang ini manusia yang punya jabatan kalau dikritisi kinerjanya ada yang langsung ngambek dan memberikan jabatannya kepada orang lain sambil berkata, “lu aja deh yang ngerjain”.
Jim pun tidak percaya, bagaimana bisa manusia biasa tukang cleaning service yang menganggap dirinya tuhan akan memberikan kekuatan kepadanya. Ia pun pergi meninggalkan tuhan tersebut dengan begitu saja. Tapi anehnya ketika ia kembali ke mobilnya, ia menginjak lagi lubang jalanan yang penuh air tadi, tapi justru tidak masuk ke dalam lubang, bahkan ia berjalan di atas air. Tapi Jim tetap saja tidak percaya.
Setelah mengalami beberapa keanehan menurutnya, ia pun percaya bahwa kekuatan tuhan telah masuk ke dalam dirinya. Ia pun melakukan berbagai percobaan untuk membuktikan kekuatan tersebut. Bahkan ia membalas dendam kepada teman saingan kerjanya yang telah menghilangkan pekerjaannya sebagai reporter. Tidak hanya itu, ia pun membalas perbuatan preman-preman yang telah memukulinya. Anjingnya pun dijadikannya bisa kencing di kamar mandi. Dan lebih hebatnya lagi, ia memberikan “kenikmatan” yang luar biasa kepada pacarnya yang diperankan oleh bintang ternama Jennifer Aniston. Jim pun menikmati sekali kekuatan yang ada pada dirinya. Semua hidupnya berubah tidak lagi penuh kesialan, keputusasaan, stress dan kekesalan diri, melainkan ia bisa melakukan apa pun yang ia mau.
Andaikan dalam hidup masing-masing manusia mengalami hal seperti itu, dan masih ada yang seperti itu, saya kira ada dua hal yang harus diperhatikan, pertama, gunakan kekuatan tersebut demi kemaslahatan dan kebaikan orang banyak, dan kedua, tidak menjadikan diri sombong dan “se enak udele dewe”, melainkan harus tawadhu’ dan rendah diri. Dan barangkali harus banyak belajar kepada Superman, Spiderman, dan teman-temannya yang lain (cerita komik Amerika) yang selalu menyembunyikan identitas dirinya; kalau di Indonesia barangkali seperti Jaka Tarub, Gatot Kaca, Wiro Sableng, Pitung dan tokoh-tokoh lainnya yang selalu rendah hati. Dan yang akan menjadi sulit keadaan adalah kalau manusia yang memiliki kekuatan tersebut menjadi sombong dan bahkan menganggap dirinya adalah Tuhan.
Lalu, bagaimanakah cara mengenal Allah? Yang saya pahami berdasarkan sabda nabi Muhammad SAW bahwa untuk bisa mengenal Allah SWT, maka harus bisa terlebih dahulu mengenal diri sendiri. Sedemikian penting usaha mengenal diri ini sehingga natijahnya seseorang yang meniti perjalanan mengenal diri ini, tidak hanya akan mengenal kosmos tapi juga akan mengenal Tuhan pencipta kosmos. Pengenalan diri di sini adalah termasuk pengenalan panca indra dan anggota tubuh lainnya, fisiologis, esoteris dan eksoteris.
Ada cerita yang pernah saya dengar dalam suatu diskusi. Konon, pada suatu masa hidup seorang penjual minyak yang biasa menjual minyaknya dari kampung ke kampung dengan menggunakan kuda sebagai tunggangannya. Suatu hari seseorang bertanya kepadanya, “bagaimanakah engkau dapat mengenal Tuhan?”. Si penjual minyak tersebut berkata, “dengarkan baik-baik! Aku setiap waktu meniti jalan semenjak awal untuk menjajakan minyak, setelah mengisi penuh wadah ini dengan minyak, dengan kain atau nilon aku menutupnya dengan kuat. Dan selepas itu, mengikatnya dengan benang sekencang-kencangnya. Dengan semua langkah antisipatif itu, toh minyak tetap menetes setetes demi setetes dari wadah tersebut. Akan tetapi Tuhan sedemikian Dia menciptakan kita sehingga dalam keadaan bagaimana pun kalau kita tidak ada hajat maka aktivitas penolakan tidak akan terlaksana. Dan buang air kecil atau besar tanpa adanya kehendak dari nafs, tidak akan terjadi. Sementara pada saat yang sama ia tidak memerlukan nilon atau benang sebagaimana minyak yang diletakkan pada suatu wadah untuk menjaga minyak tersebut tidak tumpah! Aku dengan perenungan dan kontemplasi seperti ini aku menemukan dan mengenal wujud Tuhan. Mengenal Tuhan dengan menyaksikan fenomena-fenomena natural yang terjadi di sekeliling kita, dengan perenungan dan kontemplasi, kabut eksistensi yang menyelimuti semesta dapat disingkirkan dan wujud Tuhan dapat kita jumpai. Jalan yang dilakukan dengan merenungi eksistensi diri, menyelami jiwa dan raga secara fisiologis, eksoteris dan esoteris, dengan menatap batin sebagai sebuah fenomena yang dinamis, memandang diri sebagai bagian kecil dari tatanan kosmos ini”.
Saya meyakini bahwa antara Tuhan dan manusia terdapat persamaan, akan tetapi secara dzat, karena esensi manusia dan nafsnya merupakan maujud mujarrad yang tidak terpengaruh oleh kantuk dan tidur dan secara sifat karena nafs manusia memiliki peran manager dan pengelolah anggota tubuh. Di sini nafs memiliki peran sifat, seperti menarik, menolak, mengendali, menghafal, mengelola, mengatur, bijaksana, melihat, mengetahui, mendengar dan mencipta dan sebagainya. Di mana pada hakikatnya seluruh sifat ini dapat diserap dan diabstraksikan dari sifat-sifat manusia. Dan sifat perbuatan Tuhan juga seperti, pemberi rizki, pencipta, mendengar, mengetahui dan sebagainya demikian juga dapat diserap dan diabstraksikan dari sifat-sifat perbuatan Tuhan.
Manusia yang dual-dimensi (dimensi jasmani dan dimensi rohani) adalah makhluk yang memiliki warna dan corak Ilahi. Tentu apabila ia tidak mengaktualkan potensi yang diberikan Tuhan kepadanya, sekali-kali ia tidak akan menjelma menjadi manusia unggul dan sempurna. Setiap manusia berhajat kepada kesempurnaan. Fitrah manusia menegaskan bahwa ia cinta dan kasih kepada kesempurnaan. Apabila kita melakukan kontra-predikasi (naqsh al-haml) atas diktum di atas, barang siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, menjadi barang siapa yang tidak mengenal dirinya tidak mengenal Tuhannya. Karuan saja ia tidak akan pernah meraih derajat kesempurnaan.
Manusia untuk meraup kesempurnaan dan mentransendental, mau tidak mau ia harus mengenal tipologi, karakteristik dan segala potensi yang diberikan Tuhan kepadanya. Lantaran dunia dengan kerusakan moral dan kejahilan akan pengenalan diri telah terjerembab dalam jurang alienasi diri. Mereka telah melupakan diri dan Tuhannya. Mereka tak mengenal dirinya sehingga tidak sampai gilirannya untuk mengenal Tuhannnya. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial darimana datangnya, kemana jalan yang ia tuju dan untuk tujuan apa ia ada tak akan pernah dapat terjawab bagi mereka tak mengenal dirinya. Oleh karena itu, pengenalan diri ini menemukan urgensinya apabila insan dengan mengaktualkan potensi yang dimilikinya maka ia akan dapat meraih kesempurnaan insani dan maknawi yang akan menghantarkannya kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Kegunaan mengenal diri sangat banyak dan bermanfaat saya kira. Ada empat hal yang saya pahami dari selaksa manfaat dan keutamaan yang ada tentang kegunaan pengenalan diri ini. Pertama, kegunaan atau faidah praktis dari pengenalan diri adalah memberikan peluang kepada manusia untuk lebih familiar terhadap kemampuan dan bakatnya. Hal ini akan banyak membantu seseorang dalam hidupnya, misalnya mencegahnya dari memilih bidang studi atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan bakat yang diberikan Tuhan kepadanya. Kedua, di samping itu pengenalan diri sangat bernilai karena manusia dapat menyadari bahwa ia bukanlah sosok atau maujud yang mengada dengan sendirinya atau wujudnya tidaklah mandiri (self-existent). Hal ini penting, lantaran akan membantu seseorang untuk memahami bahwa sehebat apa pun ia atau setinggi apa pun kedudukan dan status sosialnya, toh ia hanyalah seorang yang berhajat dan berkeinginan. Ketiga, Pengenalan diri sangat efektif bagi sistem dan mekanisme pengembangan diri; bahkan seseorang dapat mengatakan bahwa makrifat diri atau mengenal diri mirip dengan bio-feed back therapies yang dikembangkan oleh banyak fisikawan di beberapa negara Barat yang menganjurkan kepada para pasiennya yang aktif dalam proses healing (penyembuhan) atau kepada pasien yang telah angkat tangan dari perawatan medikal moderen. Keempat, mengenal diri akan membantu seseorang memahami bahwa ia tidak tercipta secara kebetulan (by chance). Jika kita menginternalisasi dan menghayati akan keberadaan kita, diri kita, dengan argumen-argumen atau bahkan tanpa memerlukan argumen, maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang takterelakkan bahwa Tuhanlah yang mencipta seluruh keberadaan. Kita tidak mewujud dengan sendirinya atau hanya karena persemaian antara sperma dan ovum dari kedua orang tua kita. Manusia secara natural senantiasa mencari alasan keberadaannya.
Setelah mengenal Allah, maka tahap kemudian adalah menumbuhkan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah. Dalam hal ini, saya kira Rabi'ah al-Adawiyah (wanita sufi yang sangat terkenal dalam dunia tasawuf) telah memperkenalkan pertama kali konsep mahabbah ini. Begitu luar biasa cintanya kepada Allah SWT sehingga kehidupannya tidak luput dari rasa cinta kepada-Nya sedetik pun bahkan selalu terpelihara di dalam hatinya.
Konsep dan ajaran cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari sekadar cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridha Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam.
Rabi’ah telah mencapai puncak dari maqam itu, yakni Mahabbahtullah. Untuk menjelaskan bagaimana cinta Rabi’ah kepada Allah, tampaknya agak sulit untuk didefinisikan dengan kata-kata. Dengan kata lain, cinta Ilahi bukanlah hal yang dapat dielaborasi secara pasti, baik melalui kata-kata maupun simbol-simbol. Para sufi sendiri (saya kira) berbeda-beda pendapat untuk mendefinisikan cinta Ilahi ini. Sebab, pendefinisian cinta Ilahi lebih didasarkan kepada perbedaan pengalaman spiritual yang dialami oleh para sufi dalam menempuh perjalanan ruhaninya kepada Ilahi. Cinta Rabi’ah adalah cinta yang suci, bukan cinta nafsu atau cinta yang lain. Maka Allah SWT pun sangat cinta kepada Rabi’ah dan membalas cintanya dengan selalu menjaga hatinya, kesucian dirinya, kemurnian cintanya, bahkan segala hidupnya pun terlindungi dari godaan kemaksiatan.
Banyak sekali kisah-kisah cerita yang menggambarkan kepribadian Rabi’ah yang sangat luar biasa, menggugah jiwa dan menggetarkan rasa. Akan tetapi tidak banyak wanita yang memiliki kepribadian seperti Rabi'ah al-Adawiyah di muka bumi ini. Kepribadian yang tangguh, konsisten, penuh cinta, tanpa pamrih, ridha dengan segala yang telah diberikan, menjaga kesucian diri, zuhud, sabar, hidup sederhana, siap menderita, tekun beribadah, tidak bergantung kepada orang lain dan segudang kebaikan yang ada pada dirinya. Dan wanita suci ini sama sekali tidak memikirkan dirinya untuk menikah. Sebab, menurutnya, jalan tidak menikah merupakan tindakan yang tepat untuk melakukan pencarian Tuhan tanpa harus dibebani oleh urusan-urusan keduniawian. Dan saya kira barangkali juga cinta kepada-Nya akan terbagi jadinya.
Dalam cerita yang sangat terkenal, ada laki-laki sahabat Rabi’ah bernama Hasan al-Bashri yang juga berniat sama untuk menikahi Rabi’ah. Bahkan para sahabat sufi lain di kota itu mendesak Rabi’ah untuk menikah dengan sesama sufi pula. Karena desakan itu, Rabi’ah lalu mengatakan, “Baiklah, aku akan menikah dengan seseorang yang paling pintar di antara kalian.” Mereka mengatakan Hasan al-Bashri lah orangnya.” Rabi’ah kemudian mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Jika engkau dapat menjawab empat pertanyaanku, aku pun akan bersedia menjadi istrimu.” Kemudian Hasan al-Bashri berkata, “Bertanyalah, dan jika Allah mengizinkanku, aku akan menjawab pertanyaanmu.”
“Pertanyaan pertama,” kata Rabi’ah, “Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab.”
“Pertanyaan kedua, pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat Malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.”
“Pertanyaan ketiga, pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) semua nanti akan menerima buku catatan amal di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?” Hasan kembali menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Tahu.”
“Pertanyaan terakhir, pada saat Hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk surga dan sebagian lain masuk neraka. Di kelompok manakah aku akan berada?” Hasan lagi-lagi menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya Allah saja Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu.
Selanjutnya, Rabi’ah mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Aku telah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaimana aku harus bersuami yang kepadanya aku menghabiskan waktuku dengannya?”.
Saya yakin cinta Ilahi dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai tertinggi. Bahkan kedudukan mahabbah dalam sebuah maqamat sufi tak ubahnya dengan maqam ma’rifat, atau antara mahabbah dan ma’rifat merupakan kembar dua yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Apa yang diajarkan Rabi’ah melalui mahabbah-nya, sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang diajarkan Hasan al-Bashri dengan konsep khauf (takut) dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika Hasan al-Bahsri mengabdi kepada Allah didasarkan atas ketakutan masuk neraka dan harapan untuk masuk surga, maka mahabbah Rabi’ah justru sebaliknya. Ia mengabdi kepada Allah bukan lantaran takut neraka maupun mengharapkan balasan surga, namun ia mencinta Allah lebih karena Allah semata.
Diceritakan dalam diskusi kuliah yang saya ikuti, kira-kira begini ceritanya. Bahwa suatu hari Rabi’ah membawa ember yang diisi air dan obor kayu dengan api membara. Orang-orang yang melihatnya terheran-heran, “untuk apa itu wahai Rabi’ah?”, tanya salah seorang dari mereka. Rabi’ah menjawab “aku akan memadamkan api neraka agar manusia tidak takut kepada neraka, dan akan aku bakar surga agar manusia tidak berharap masuk surga”.
Sungguh luar biasa saya kira, Rabi’ah telah menjalani masa hidup hanya mengabdi kepada Allah sebagai Pencipta dirinya sampai ajal datang menghampirinya. Berbagai kisah menjelang kematian Rabi’ah menyebutkan, di antaranya, pada masa menjelang kematian Rabi’ah, banyak sekali orang alim duduk mengelilinginya. Rabi’ah lalu meminta kepada mereka: “Bangkit dan keluarlah! Berikan jalan kepada pesuruh-pesuruh Allah Yang Maha Agung!” Maka semua orang pun bangkit dan keluar, dan pada saat mereka menutup pintu, mereka mendengar suara Rabi’ah mengucapkan kalimat syahadat, setelah itu terdengar sebuah suara:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”.
Setelah itu tidak terdengar lagi suara apa pun. Pada saat mereka kembali masuk ke kamar Rabi’ah, tampak perempuan tua renta itu telah meninggalkan alam fana. Para dokter yang berdiri di hadapannya lalu menyuruh agar jasad Rabi’ah segera dimandikan, dikafani, disalatkan, dan kemudian dibaringkan di tempat yang abadi.
Kematian Rabi’ah telah membuat semua orang yang mengenalnya hampir tak percaya, bahwa perempuan suci itu akan segera meninggalkan alam fana dan menjumpai Tuhan yang sangat dicintainya. Orang-orang kehilangan Rabi’ah, karena dialah perempuan yang selama hidupnya penuh penderitaan, namun tak pernah bergantung kepada manusia. Setiap orang sudah pasti akan mengenang Rabi’ah, sebagai sufi yang telah berjumpa dengan Tuhannya. Dan ajarannya selalu dan senantiasa diilhami oleh banyak ahli tasawuf, dan perjalanan kisah hidupnya tidak pernah musnah ditelan masa.

B. ALAM
Saya meyakini bahwa alam diciptakan untuk membuktikan adanya Tuhan dan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Karena kalau tidak ada Tuhan, berarti alam ini pasti tidak ada. Karena kehebatan alam ini pasti diciptakan oleh Yang Maha Hebat pula. Dan manusia bisa mengenal Tuhannya dengan mempelajari segala yang ada di alam ini. Semakin manusia mampu mempelajari dan membuktikannya dengan bekal akal dan pikirannya akan semakin mampu mengenal dan dekat dengan Tuhannya. Sesungguhnya manusia yang mampu memikirkan segala apa yang ada di alam ini, baik penciptaan langit dan bumi serta isinya akan timbul rasa keyakinannya kepada Tuhan dan bahkan segala yang diciptakan-Nya tidak ada yang sia-sia.
Dari sinilah, ilmu pengetahuan muncul sebagai alat untuk mengetahui segala penciptaan-Nya, tentunya ini adalah hasil dari pikiran manusia itu sendiri dalam mempelajari alam ini. Dan tentunya tidak lepas dari petunjuk-Nya pula dan semangat ingin tahu dari manusia itu. Seperti ilmu yang mempelajari langit disebut ilmu Astronomi, ilmu yang mempelajari bumi disebut ilmu Geologi, ilmu mempelajari tumbuh-tumbuhan disebut ilmu Biologi, ilmu yang mempelajari hewan disebut ilmu Zoologi, ilmu yang mempelajari tubuh manusia disebut Anatomi dan berbagai ilmu-ilmu lainnya yang sangat luar biasa.
Dari sini pulalah, dari abad-abad dahulu sampai sekarang telah banyak muncul manusia-manusia (ilmuwan) hebat dan ternama (terkenal) yang telah menemukan teori-teori ilmu pengetahuan dengan berbagai cabang ilmu yang semua objek bersumber dari alam. Dan manusia yang hebat dan terkenal tersebut masing-masing berbeda merefleksikan ilmu yang ditemukannya, ada yang beriman kepada Tuhan dan ada pula yang tidak meyakini-Nya. Terlepas dari meyakini kepada Allah SWT atau pun tidak, alam telah memberi pengetahuan yang luas kepada manusia, sehingga manusia sudah lama “bersahabat” dengan alam.
Alam yang diisi dan dihiasi dengan keindahan dan kandungan yang luar biasa membuat manusia tidak akan pernah habis-habisnya mempelajari, mendalami dan mengamati, tentunya dengan tidak biasa pula. Bahkan manusia (ilmuwan) dengan semangat ingin tahu dan keterbatasan yang ada, terus menginterpretasi, mengekspresi dan mengeksploitasi alam. Dari hal-hal yang wajar sampai hal-hal yang tidak wajar. Dari hal-hal yang besar sampai hal-hal yang terkecil. dari hal-hal yang belum terjadi bahkan sampai hal-hal yang akan terjadi nanti. Sampai manusia pun berspekulasi usia alam ini.
Alam, selain memiliki zat cair, padat dan gas, juga memiliki unsur-unsur yang berbeda, seperti air, udara, tanah, cahaya dan api. Tentunya dengan kelebihan dan sifat yang berbeda-beda pula. Dari unsur-unsur inilah, Allah SWT telah menciptakan dan menghidupkan makhluk-makhluk Allah SWT di alam ini. Tidak ada satu unsur pun yang merasa lebih hebat dan lebih penting dari unsur yang lain. Semuanya saling berkaitan dan ketergantungan satu dengan yang lainnya. Tentunya ini menjadi pelajaran bagi yang mau berpikir, bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih hebat kecuali yang Maha Hebat yaitu Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah (2) ayat 164 :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.
Ada cerita yang pernah saya dengar dari sebuah pengajian. seorang Pendeta datang kepada sang ulama dan ingin menantang ulama tersebut. Kalau ulama tersebut bisa menjawab 3 (tiga) pertanyaan dari Pendeta itu, ia akan mengakui kehebatan ulama tadi. Pertama, kalau ulama menyembah Allah SWT, maka Allah SWT sekarang sedang apa? Kedua, mana yang lebih banyak, bintang di langit atau ikan di laut? Ketiga, di mana letak pusat bumi? Ulama tersebut agak bingung menjawabnya.
Tidak jauh dari pembicaraan keduanya, ada anak kecil yang mendengar dialog tersebut. Lalu ia berkata kepada ulama tadi, “anda tidak perlu menjawab, saya bisa menjawab ketiga pertanyaan Pendeta itu”. Lalu anak kecil tadi menjelaskan tiga pertanyaan Pendeta dengan tenang, “kalau pak Pendeta ingin tahu Allah SWT sedang apa? Maka saya minta anda berdiri di tempat saya berdiri sekarang. Karena saya akan menjelaskannya di tempat pak Pendeta berdiri”. Pendeta itu pun mengiyakan, “baiklah”. Maka posisi Pendeta itu sekarang telah berdiri di tempat anak kecil tadi berdiri sebelumnya. Anak kecil itu berkata, “pak Pendeta ingin tahu Allah SWT sedang apa? Allah SWT sedang memindahkan posisi saya ke tempat posisi pak Pendeta sebelumnya. Dan juga Allah sedang memindahkan posisi pak Pendeta ke tempat posisi saya sebelumnya. Karena sesungguhnya Allah SWT Maha Berkehendak atas segala sesuatu yang diinginkan-Nya”. “baiklah, bagaimana pertanyaan saya yang kedua?” kata si Pendeta. Anak kecil itu dengan tenang menjawab, “ikan di laut tentu lebih banyak dari pada bintang di langit, karena dari zaman dahulu hingga sekarang ikan sudah banyak diambil tapi tidak habis-habis sampai sekarang. Kalau pak Pendeta tidak percaya, hitung saja sendiri”. Dengan agak mengerutkan dahi, pak Pendeta itu berkata, “baiklah, kalau yang ketiga pasti kau tidak bisa menjawabnya?”. Anak kecil itu pun menjelaskan dengan sedikit tersenyum, “pak Pendeta, anak kecil juga tahu pusat bumi?, tapi sebelum saya tunjukkan, saya pinjam tongkat pak Pendeta.” Tongkat pun dipinjamkannya. Lalu anak kecil itu menancapkan tongkat tadi di atas tanah dan mengenai kaki Pendeta. Pendeta pun kesakitan, “apa-apa kamu ini?”, anak kecil tadi tersenyum, “di situlah letak pusat bumi, karena bumi itu bulat seperti bola, maka titik tengahnya (pusat bumi) di mana saja saya tancapkan, kalau tak percaya, hitung saja sendiri”. Maka dengan terheran-heran dan kesakitan, Pendeta tadi telah mengakui kecerdasan anak kecil tadi dengan anggapan anak kecil saja bisa menjawabnya, pasti ulama tadi lebih cerdas menjawabnya. Dari cerita di atas, menjadi sebuah renungan tentang bagaimana meyakini Allah SWT dengan ilmu pengetahuan yang ada melalui alam beserta isinya yang telah diciptakan-Nya.
Berikut ini saya akan menguraikan dari pemahaman dan pengetahuan saya tentang isi alam antara lain :
1. Hewan
Sungguh Maha Besar Allah yang telah menciptakan hewan dengan segala jenis bentuknya dan berbagai ragam indahnya di alam ini baik yang di udara, darat mau pun di air yang semuanya sempurna dalam perencanaan dan perancangan ciptaan-Nya. Dan semua makhluk hewan ini telah diatur segala rezeki dan kehidupan serta tidak luput dari pantauan-Nya. Allah berfirman dalam surat An-Nuur (24) ayat 45 :
“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Beberapa minggu yang lalu, saya pernah mendengar seorang Khatib dalam khutbah jum'atnya memberikan nasehat dengan kiasan Semut, Laba-laba dan Lebah. Dalam al-qur'an pun ketiga nama binatang ini diabadikan dengan nama surat an-Naml (Semut), al-'Angkabuut (Laba-laba) dan an-Nahl (Lebah). Dan ternyata memiliki sarat makna dan hikmah yang luar biasa menurut saya.
Khatib menjelaskan bahwa Semut adalah binatang yang paling rajin menghimpun makanan. Ia menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk mengumpulkan makanan, sedikit demi sedikit tanpa henti hentinya, terkesan sekilas sebagai mahluk rajin. Semut cenderung menghimpun makanan untuk persediaan, walaupun pada kenyataannya usianya sendiri tidak akan lebih dari masa waktu persediaan makanan yang dihimpunnya. Namun “ketamakannya” sedemikan besar sehingga tak jarang kita lihat Semut yang berusaha dan sanggup memikul dan membawa sesuatu jenis makanannya yang mana ukurannya jauh lebih besar dari ukuran badannya, walaupun belum tentu jenis bawaannya itu berguna bagi dirinya.
Lain halnya dengan Laba-laba, dengan profile yang menyeramkan dan sarangnya atau rumahnya jelas bukan tempat yang aman bagi mahluk lain, walaupun terlihat sarang Laba-laba itu indah dengan jalinan yang simetri dan teratur juga umumnya sarang atau rumah Laba-laba itu kebanyakan ditempatkan olehnya ditempat yang teduh. Pada kenyataannya rumah atau sarang Laba-laba sangat rapuh. Laba-laba terkesan sebagai makhluk sabar, yaitu menunggu mangsa yang mampir ke sarangnya. Apapun yang mampir atau singgah pada sarangnya pasti akan disergapnya dan pasti mati. Kekejamannya itu tidak sampai hanya sebatas itu, jantannya pun setelah berhubungan seks selalu dibunuh oleh betinanya.
Bagaimana dengan Lebah?, Lebah sangat disiplin dan mengenal pembagian kerja yang sangat baik, rumahnya atau sarangnya dibangun dan ditata dengan baik yaitu bersegi enam dan terbukti lebih kuat dibandingkan dengan segi empat atau segi lima, juga sarangnya selalu terjaga dari dari bahan bahan atau benda benda yang tidak berguna, kemudian yang dimakannya pun adalah dari sari bunga yang diolahnya kemudian jadi madu dan lilin yang mana sangat bermanfat bagi manusia. Ia hanya hinggap pada sari bunga dan memberi manfaat dan menolong agar perkawinan putik dan sari bunga terjadi sehingga akan menambah keasrian tanaman. Lebah tidak akan mengganggu bila tidak diganggu, sengatnya hanya dipergunakan bila ia merasa terancam, bahkan ternyata sengatannya pun dapat menjadi obat bagi penyakit tertentu.
Kenyataannya, gambaran ketiga binatang ini mempunyai kesamaan dalam hidup manusia. Manusia yang berbudaya Semut, senang menghimpun dan menumpuk sesuatu berlebihan dan seringkali melewati batas kenikmatannya, ia menggali ilmu tetapi tidak mengolahnya lebih lanjut sehingga jiwanya tetap kering tidak berfaedah bagi lingkungannya, ia menumpuk harta tanpa mengerti makna harta itu sendiri, sehingga ia tetap saja seolah-olah fakir. Manusia berbudaya Laba-laba tidak lagi butuh berpikir apa, di mana dan kapan ia makan, tetapi yang ia pikirkan adalah “siapa hari ini yang akan ia makan” dan “apapun jenis makanan ia makan.”. Bangunan mental spritualnya lemah, mudah hancur oleh tantangan kehidupan dan oleh gangguan duniawi.
Sedangkan manusia yang berbudaya Lebah jelas tidak akan mengganggu, apalagi merusak, tidak akan sembarangan makan, makanannya sangat tertentu dan baik “halalan tayiban”, tidak pula menghasilkan sesuatu yang sia-sia selalu bermanfaat bagi sekelilingnya di mana dia berada, dia tidak akan mampir atau singgah di tempat yang kotor dan maksiat serta dia tidak akan menyebabkan kerusakan, keonaran, permusuhan di mana pun dia bertempat tinggal atau singgah. Bangunan arsitektur jiwa manusia yang benar adalah terdiri dari enam fundamen, bagaikan lubang pintu sarang Lebah yang bersegi enam, yakni manusia yang selalu mengamalkan secara komitmen terhadap “6 Rukun Iman”.
Ini adalah bagian kecil dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, yang hanya bisa disyukuri dan dirasakan bagi orang-orang yang beriman dan berpikir akan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang lainnya.

2. Tumbuh-tumbuhan
Terlalu banyak ayat-ayat al-qur'an yang menyebutkan tentang tumbuh-tumbuhan, seperti dalam surat an-Nahl (16) ayat 10-11:
“Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan; yang pada tempat tumbuhnya kamu menggembala-kan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan, tanam-tanaman Zaitun, Kurma, Anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan”.
Dalam surat al-An'am (6) ayat 99 dijelaskan:
“Dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak dan dari mayang Kurma, tangkai-tangkai yang menjulai, (dan dari air itu) Kami keluarkan pula kebun Anggur, Zaitun dan Delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”
Dalam surat Qaf (50) ayat 9–11 juga dijelaskan :
“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dari air itu pohon-pohon dan biji-biji tanam yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rizki kepada hamba-hamba Kami. Dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering) seperti itulah terladinya kebangkitan.”
Adanya ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan betapa keagungan Allah SWT dengan segala kekuasaan-Nya.
Ada ayat lain yang perlu diperhatikan juga yaitu ayat yang membicarakan reproduksi dalam alam tumbuh-tumbuhan seperti dalam surat Thaha (20) ayat 53:
“Yang telah menjadikan bagimu sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan dan menurunkan dari langit air hujan, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dan tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.”
Kata Azwajan diterjemahkan pasangan yang mengandung arti pokoknya sesuatu yang dengan sesuatu lainnya menjadi sepasang.
Masih teringat dalam benak saya waktu di tingkat SMA dipelajari bahwa reproduksi terjadi pada tumbuh-tumbuhan dengan dua cara seksual dan aseksual. Sesungguhnya yang dapat kita namakan reproduksi itu hanya yang terjadi dengan cara seksual, karena reproduksi semacam itu menunjukkan proses biologi yang bertujuan untuk melahirkan individu baru yang sama dengan individu yang melahirkan.
Adapun reproduksi aseksual hanya merupakan pergandaan, karena reproduksi semacam itu terjadi dengan pembagian sesuatu organisme. Sesudah organisme itu terpisah, ia mengalami perkembangan yang akan menjadikannya sama dengan induknya. Contoh yang sangat sederhana dapat kita jumpai dalam hal seperti satu cabang dari tumbuh-tumbuhan yang dipotong, kemudian ditanam di tanah yang cukup mendapat air, cabang itu akan hidup sendiri dengan timbulnya akar-akar baru. Ada tumbuh-tumbuhan yang mempunyai anggota khusus untuk perkembangan tersebut, ada pula yang mengeluarkan anggota baru yang menyesuaikan diri seperti biji-biji (yang merupakan hasil reproduksi seksual). Reproduksi seksual tumbuh-tumbuhan terjadi dengan hubungan antara unsur jantan dan unsur betina yang bersatu di dalam tumbuh-tumbuhan itu sendiri atau terpisah pada tumbuh-tumbuhan lain.
Kita mengetahui bahwa “buah” adalah hasil proses reproduksi dari pada tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi yang mempunyai organisasi (susunan anggota) yang lengkap dan sangat kompleks. Tahap sebelum menjadi buah adalah bunga dengan anggota jantan dan betina. kemudian menghasilkan buah, dan sesudah matang buah itu menghasilkan biji. Tiap-tiap buah mengandung arti tentang adanya anggota jantan dan anggota betina. Tetapi yang harus diingat bahwa dalam beberapa pohon, buah dapat dihasilkan oleh bunga yang tidak dikawinkan seperti Pisang, Nanas, dan lain-lain.
Selesainya reproduksi terjadi dengan proses tumbuhnya biji, setelah terbukanya tutup luar (yang mungkin juga terpadat dalam biji). Terbukanya tutup luar itu memungkinkan keluarnya akar yang akan menyerap makanan dari tanah. Makanan itu perlu untuk tumbuh-tumbuhan yang lambat pertumbuhannya, yaitu untuk berkembang dan menghasilkan individu baru.
Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya tentang hal-hal yang manusia tidak mengetahui sebelumnya pada saat al-qur'an diturunkan dan sudah menjelaskan banyak tentang berbagai ilmu pengetahuan. Yang terpenting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut secara gamblang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan sains masa ini.

3. Air
Tampak jelas bahwa air, yang sangat diperlukan bagi kelangsungan makhluk hidup di bumi, adalah zat yang telah dirancang dan diciptakan secara khusus. Semua tumbuh-tumbuhan, baik yang besar maupun yang kecil, dari rerumputan sampai pohon-pohon yang tinggi serta beragam jenis bunga, dapat menghantarkan air dan zat-zat makanan atau nutrisi yang mereka bawa dari tanah sampai ke batang-batang dan daun-daun yang paling jauh. Namun, proses transportasi ini tidak hanya terlaksana berkat sistem yang ada dalam tumbuh-tumbuhan saja. Agar transportasi ini berlangsung, sifat air itu sendiri juga perlu selaras dengan struktur di dalam tumbuh-tumbuhan.
Kita dapat melihat keselarasan ini dengan cara mengamati struktur umum air. Salah satu ciri khas air yang terpenting adalah air memiliki “tegangan permukaan” yang besar. Tegangan permukaan terjadi jika molekul-molekul di permukaan suatu cairan saling menarik satu sama lain, sehingga menciptakan pembatas antara udara dengan cairan itu. Karena inilah, sebuah wadah air dapat menampung air yang sedikit melebihi tingginya sendiri tanpa meluap atau tumpah. Begitu pula, sebatang jarum logam dapat terapung di air tanpa tenggelam jika secara hati-hati diletakkan pada permukaannya dengan posisi horizontal. Tegangan permukaan air melebihi cairan manapun yang lainnya, dan hal ini memiliki dampak biologis yang luas bagi bumi. Kita akan mulai dengan memeriksa dampaknya pada tumbuh-tumbuhan.
Tumbuh-tumbuhan, dengan adanya tegangan permukaan, dapat membawa air yang diperoleh di kedalaman tanah sampai beberapa meter tingginya di atas permukaan, semuanya tanpa harus memiliki sistem otot atau pompa. Dalam dunia struktur rancangan manusia, tangki tekanan udara – suatu sistem yang benar-benar rumit - diperlukan untuk membawa air ke lantai atas bangunan apartemen. Namun demikian, tumbuh-tumbuhan tidak punya sistem seperti itu. Air mencapai titik terjauh dari tumbuh-tumbuhan hanya dengan tegangan permukaan. Saluran di akar tumbuh-tumbuhan dan barik-bariknya dirancang sedemikian rupa sehingga memanfaatkan tegangan permukaan air. Semakin ke atas, saluran ini menjadi semakin sempit dan semakin sempit sehingga memungkinkan air “merambat” ke atas. Jika tegangan permukaan air tergolong rendah, seperti pada kebanyakan zat cair lainnya, tumbuh-tumbuhan darat sama sekali tidak akan bisa hidup. Hal ini akan berdampak buruk bagi semua makhluk hidup di planet. Namun demikian, karena air maupun tumbuh-tumbuhan diciptakan dengan sempurna, masalah seperti itu tidak pernah timbul.
Kesesuaian antara tegangan permukaan air dan struktur tumbuh-tumbuhan yang memanfaatkan sifat air ini, menunjukkan penciptaan Allah yang sempurna. Hal ini merupakan bukti penting akan kenyataan bahwa alam dan makhluk hidup terwujud bukan secara kebetulan, tetapi melalui penciptaan Allah SWT dan perancangan-Nya.
4. Gunung
Al-qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung. Seperti dijelaskannya bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi, seperti dalam surat al-Anbiyaa' (21) ayat 31 :
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka...”
Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika al-qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.
Dalam diskusi yang pernah saya ikuti diterangkan bahwa, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Dalam ayat lain dijelaskan, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai “pasak”:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?”
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam al-qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah SWT.

5. Lautan dan sungai
Ilmu pengetahuan modern telah menemukan adanya batas di tempat pertemuan antara dua lautan yang berbeda. Pembatas itu membagi dua lautan sehingga setiap laut memiliki temperatur, berat jenis, dan kadar garam masing-masing. Misalnya, laut Mediterania memiliki air yang hangat serta kadar garam dan berat jenisnya lebih rendah dibandingkan Samudra Atlantik.
Temuan sains modern itu sejalan dengan Alquran yang telah mengungkapkannya sejak 14 abad lampau. Dalam surah ar-Rahman (55) ayat 19-20, Allah SWT berfirman:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir, yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya, ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.”
Perbedaan kadar garam kedua lautan yang dipisahkan pembatas itu juga diungkapkan dalam surah al-Furqan ayat 53:
“Dan, Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”. Kebenaran ayat al-qur'an itulah yang membuat para saintis Barat berdecak kagum.

6. Angin
Dalam surat al-Hijr (15) ayat 22 dijelaskan bahwa angin memiliki sifat mengawinkan dan membentuk hujan karenanya.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.”
Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke-20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran “mengawinkan” dari angin dalam pembentukan hujan.
Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi dengan cara berikut: di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.
Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujan pun tidak akan pernah terjadi. Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat al-qur'an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam. Sungguh jelas bahwa Allah SWT telah memberitahu kepada kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu. Dan hanya orang-orang yang berpikirlah yang mendapat pengetahuan-Nya yang sangat luar biasa.

7. Hujan
Maha Besar Allah yang telah menjadikan hujan sebagai rahmat bagi yang mau berpikir tentang proses kejadiannya. Dalam surat ar-Ruum ayat 48 dijelaskan:
“Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira”.
Semua tahap pembentukan hujan telah diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi, lagi-lagi Al-qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Dalam sebuah ayat, informasi tentang proses pembentukan hujan dijelaskan dalam surat an-Nuur ayat 43 :
“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan”.
8. Tata Surya
Saya sangat yakin bahwa al-qur'an memang mukjizat bagi orang mukmin yang luar biasa. Ketika suatu kebenaran baru ditemukan beberapa waktu yang lalu, al-qur'an telah menurunkan 14 abad yang lalu. Salah satunya adalah mengenai garis edar planet. Informasi mengenai garis edar planet yang berbentuk oval baru ditemukan pada abad 16-17 lalu, al-qur'an sudah secara tegas memuar masalah hokum itu.
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam al-qur'an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu. Dalam surat al-Anbiyaa' ayat 33 dijelaskan :
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
Disebutkan pula dalam surat Yaasiin ayat 38 bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
Fakta-fakta yang disampaikan dalam al-qur'an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman sekarang. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.
Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam al-qur'an surat ad-Dzaariyaat ayat 7:
“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”
Terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah “berenang” sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.
Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.
Dapat dipastikan bahwa pada saat al-qur'an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa “dipenuhi lintasan dan garis edar” sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam al-qur'an yang diturunkan pada saat itu, karena al-qur'an adalah firman Allah. Dalam surat al-Kahfi ayat 29 :
“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…”

C. MANUSIA
Manusia adalah makhluk yang terdiri dari unsur yang berbeda, yaitu unsur tubuh jasmani dan jiwa rohani. Fakta menunjukkan bahwa memenuhi kebutuhan jasmani jauh lebih mudah bila dibandingkan memenuhi kebutuhan rohani. Kalau dicermati, memenuhi kebutuhan jasmani manusia sudah mencapai pada puncaknya. Hampir segala sesuatu yang akan merusak dan menghancurkan jasmani telah dapat ditaklukkan oleh manusia. Dengan berbekal ilmu pengetahuannya telah banyak menemukan cara bagaimana memenuhi kebutuhan jasmaninya, dengan makanan yang serba istimewa, pakaian yang serba mewah, kendaraan yang bagus, mempercantik wajah dan tubuh, serta lain sebagainya.
Disisi lain kalau diperhatikan, bagaimana mengurus kebutuhan rohani jauh ketertinggalan bahkan sudah tidak dihiraukan lagi oleh manusia bahkan telah meluncur ke jurang kesengsaraan. Kalau dicermati di berbagai media cetak maupun elektronik selalu diberitakan adanya masalah penipuan, perampokan, pemerkosaan, perzinahan, korupsi, kolusi dan lain sebagainya. Hal seperti inilah yang dapat menghancurkan, merusak dan menyengsarakan jiwa rohani manusia. Akan tetapi semua itu dilakukan oleh manusia dengan rasa bangga, bahkan tanpa malu-malu sehingga sekarang ini (barangkali) kesuksesan dan kemodernan diukur dengan kekayaan yang sumbernya tidak diperhitungkan lagi, yang halal dijadikan haram, yang hak dijadikan batil, tidak bisa sikut yang kanan, sikat yang kiri bahkan menginjak yang bawah. Maka pantas dan wajar, kalau manusia sekarang ini sering ditimpa musibah oleh Allah SWT. Ini tak lain karena ulah manusia itu sendiri maka manusialah yang akan menanggung akibatnya.
Maka dari itu, akal dan pikiran yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah sebagai modal untuk memikirkan tuntutan kebutuhan untuk kelangsungan hidupnya baik yang bersifat materi (jasmani) maupun inmateri (rohani) agar manusia dapat hidup dengan lurus dan selamat. Dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain, manusia juga mempunyai kapasitas yang tinggi, mempunyai kecendrungan untuk dekat kepada Tuhannya melalui kesadarannya yang terdapat jauh di bawah alam sadarnya. Karena sesungguhnya manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Tuhannya. Demikian Al-Quran menjelaskan.
Dalam diri manusia senantiasa sering terjadi konflik antara kepentingan atau kebutuhan jasmani dan kepentingan atau kebutuhan rohani (jiwa). Hal yang paling ideal untuk mengatasi konflik antara aspek-aspek fisik dan spiritual dalam diri manusia adalah dengan mengkrompomikan antara keduanya. Ini dilakukan dengan memenuhi berbagai kebutuhan fisik dalam batas-batas yang diperkenankan oleh Allah SWT, dan pada saat yang sama, dengan memenuhi berbagai kebutuhan spiritualnya. Pengkrompomian antara kebutuhan-kebutuhan tubuh dan kebutuhan jiwa ini merupakan hal yang mungkin apabila seseorang dalam kehidupannya konsisten dengan sikap tengah-tengah dan moderat, dan menghindari diri dari berlebih-lebihan dalam memenuhi baik dorongan-dorongan fisiknya maupun dorongan-dorongan spiritualnya.
Apabila keseimbangan antara tubuh dan jiwa ini terealisasi, maka akan terealisasi juga kepribadian manusia dalam citranya yang hakiki dan sempurna, seperti yang tercermin pada kepribadian Rasulullah SAW, di mana pada dirinya terdapat keseimbangan antara kekuatan spiritual yang mendalam dan vitalitas fisik yang tinggi. Beliau selalu menyembah Allah dalam kekhusyuan dan kebeningan hati. Sementara sebagai manusia, beliau juga menikmati kelezatan duniawi dalam batas-batas yang diperkenankan agama. Oleh karena itu, beliau adalah cermin manusia sempurna dan kepribadian manusiawi yang ideal dan paripurna di mana kekuatan fisik dan spiritualnya dalam keadaan seimbang.
Manusia juga mempunyai kepribadian yang bersifat hewani yang tercermin dalam berbagai kebutuhan materi yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidupnya. Selain itu juga manusia mempunyai kepribadian yang bersifat malaikat yang tercermin dalam berbagai kebutuhan inmateri (jiwa) dalam kerinduan dan penyembahannya kepada Allah SWT. Apabila terjadi ketidakseimbangan di antara keduanya, maka akan terjadi gejolak pribadi manusia apakah mengarah ke pribadi hewani (aspala saapilin) ataukah pribadi malaikat.
Barangkali dengan kehendak-Nya pula Allah SWT telah menetapkan, bahwa cara manusia menyelesaikan itu semua merupakan ujian atau cobaan dari Allah SWT dalam kehidupannya. Oleh karena itu, barang siapa yang mampu memadukan antara aspek-aspek material dan spiritual dalam kepribadiannya dan berhasil merealisasikan keserasian dan keseimbangan antara kedua aspek tersebut, maka ia dipandang berhasil dalam ujian dan layak mendapat balasan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebaliknya barangsiapa yang lebih suka mengikuti hawa nafsu fisiknya dan melalaikan tuntutan-tuntutan spiritualnya maka ia dipandang gagal dan layak pula mendapat balasan setimpal.
Dengan karunia dan hikmah dari Allah SWT, manusia yang telah diberikan bekal dengan semua potensi akal pikiran dan hati yang diperlukan untuk menyeimbangi kedua kepribadian tersebut dengan kebebasan berkehendak dan memilih serta memutuskan jalan yang dikehendakinya. Tentunya itu semua dengan landasan tanggung jawab dan perhitungan atas tindakan manusia itu sendiri. Dengan demikian, dalam diri manusia terdapat kesiapan (potensi) untuk melakukan kejahatan dan kebajikan, mengikuti hawa nafsu fisiknya, tenggelam dalam kenikmatan indrawi dan berbagai keinginan duniawinya dan juga kesiapan untuk membumbung tinggi kearah ketakwaan, amal saleh, keutamaan yang akan membawa pada ketentraman psikis dan kebahagiaan spiritual.
Di dalam al-qur'an dijelaskan bahwa dua kepribadian yang sejatinya ada dalam diri manusia sudah menjadi fitrah yang sering disebut nafs. Nafs ini diciptakan Allah SWT secara sempurna dan harus tetap dijaga kesuciannya. Sebab ia bisa rusak dikotori dengan perbuatan maksiat. Kualitas nafs tiap orang berbeda-beda berkaitan dengan bagaimana usaha masing-masing untuk menjaga dari kecendrungan kepada syahwat, karena menuruti dorongan syahwat merupakan tingkah laku hewan.
Al-qur'an membagi nafs kepada tiga bagian, yaitu Nafs Muthmainnah, Nafs Ammarah dan Nafs Lawwamah. Nafs Muthmainnah adalah nafsu yang tenang, jauh dari segala keguncangan, selalu mendorong berbuat kebajikan. Manusia yang memiliki tingkat nafsu ini, hatinya selalu tenteram karena selalu ingat kepada Allah, yakin seyakin-yakinnya terhadap apa yang diyakininya sebagai suatu kebenaran, dan oleh karena itu ia tidak akan mengalami konflik batin, tidak merasa cemas dan tidak pula takut dan khawatir. Nafs Ammarah adalah nafsu yang selalu mendorong berbuat kejahatan, tunduk kepada nafsu syahwat dan panggilan setan. Manusia yang memiliki tingkat nafsu ini, potensi akalnya selalu dikuasai oleh hawa nafsu sehingga hidupnya ditandai dengan sifat-sifat yang tercela, suka menjalani maksiat dan tidak mau memenuhi panggilan kebenaran. Nafs Lawwamah adalah nafsu yang belum sempurna, selalu melawan kejahatan tapi jika suatu saat melakukan kejahatan, pada akhirnya harus disesalinya. Manusia yang memiliki tingkat nafsu ini, akan mengadakan kalkulasi berbagai kesalahan yang telah diperbuatnya dan berusaha untuk mencegah diri dari tindakan-tindakan yang membangkitkan murka Allah SWT. Namun terkadang jika tidak berhasil dalam upaya mencegah diri dari kesalahan tersebut, membuatnya kembali terjerumus ke dalam kesalahan lagi.
Allah SWT berfirman dalam surat al-Fajr (89) ayat 27-30 memberikan keistimewaan kepada Nafs Muthmainnah:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”.
Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dengan sempurna, bentuk fisik yang sangat baik, rupa yang seindah-indahnya dan dilengkapi dengan organ yang istimewa seperti panca indra dan hati, agar manusia bersyukur kepada Allah yang telah memberi banyak keindahan dan kesempurnaan. Dengan alasan inilah manusia dianggap mampu menjadi khalifah di muka bumi ini dari pada makhluk Allah yang lain. Kesempurnaannya ditandai dengan memiliki jiwa dan akal pikiran sebagai modal untuk bisa menjalani hidup dan kehidupannya dan mampu menyelesaikan segala persoalannya. Dibandingkan dengan makhluk Allah yang bernama hewan, manusia mampu servive (bertahan) dari segala perubahan atau dinamika kehidupannya. Sedangkan hewan, dia harus mengalami kepunahan apabila tidak mampu servive.
Dari abad ke abad, bahkan zaman ke zaman yang telah dilalui manusia, telah mampu mempertahankan eksistensi sebagai khalifah bumi yang ditandai dengan banyaknya peradaban demi peradaban yang diwujudkan dan mewarnai dalam perjalanan hidupnya. Sehingga dalam sejarahnya, manusia tiada henti memikirkan perubahan demi perubahan yang harus dihadapi dan dialami dari dulu hingga sekarang maupun yang akan datang.
Uniknya, perjalanan hidup manusia tidak bisa dikendalikan sendirian atau secara individu. Ini digambarkan bagaimana Nabi Adam AS tidak bisa “hidup” sendirian di surga tanpa Siti Hawa. Padahal kenikmatan di dalamnya tiada tara. Apalah artinya kenikmatan dan keistimewaan yang dirasakan tanpa seorang teman “pendamping” sejenis makhluk dengannya. Barangkali ini adalah bagian dari “skenario” Tuhan.
Dengan kata lain, manusia hakikatnya adalah makhluk sosial, sejak dilahirkan ia memerlukan orang lain untuk memenuhi segala kebutuhannya. Pada tahap awal ia memerlukan orang tuanya atau keluarganya. Menanjak dewasa ia mulai terlibat kontak sosial dengan teman-teman sepermainannya, ia mulai mengerti bahwa dalam kelompok sepermainannya terdapat peraturan-peraturan tertentu, norma-norma sosial yang harus dipatuhi dengan sukarela guna dapat melanjutkan hubungan tersebut dengan lancar. Dengan demikian, sejak awal manusia sudah mengenal norma-norma, nilai-nilai yang ada dalam kelompok di mana ia hidup dan sejak dini juga telah tertanam dalam pribadinya. Karenanya walau secara individu manusia adalah unik namun tidak terlepas dari pengaruh lingkungan di mana ia hidup.
Selain sebagai makhluk individual dan makhluk sosial, uniknya lagi manusia adalah makhluk berketuhanan yang secara naluri mengakui, bahwa ada sesuatu di luar dirinya yang memiliki kekuatan melebihi kekuatan manusia itu sendiri. Naluri pengakuan terhadap sesuatu itu terlihat jelas pada manusia primitif yang mengungkapkan pengakuan itu melalui penyembahan benda-benda mati yang memiliki kekuatan. Kepercayaan terhadap sesuatu yang memiliki kekuatan tersebut dipandang suatu pendorong yang memberikan dorongan kepada manusia untuk menjalani hidup dengan baik.
Manusia diberi kebebasan luas untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya atau serendah-rendahnya. Selain keunikan yang dimiliki, manusia pun dilengkapi dengan banyak kelemahan seperti ketergesah-gesahan, pembantah, melampaui batas, kikir, mudah putus asa, selalu berkeluh kesah, ingkar, tidak mau bersyukur, mudah lalai setelah mendapat nikmat. Walaupun demikian fitrah manusia adalah suci dan beriman. Kecenderungan terhadap agama (keyakinan) adalah sikap dasarnya, dalam keadaan sadar ataupun tak sadar manusia selalu merindukan Tuhan (Allah), taat, khusuk, tawakal dan tidak ingkar, terutama bila sedang mengalami malapetaka dan kesulitan hebat.
Lagi-lagi dalam perjalanan sejarah dan dinamika hidup, saya kira manusia telah menemukan rumus kehidupannya, yaitu “dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dengan agama hidup menjadi terarah, dan dengan cinta hidup menjadi berkah”.
Hidup manusia tidak bisa hindar dari suatu masalah, karena hidup manusia justru ditandai dengan banyak masalah. Semakin banyak masalah yang dihadapi, semakin maju pemikiran dan peradaban manusia. Akan tetapi, tidak banyak manusia yang sanggup dengan masalah yang dihadapi. Sehingga putus asa sebagai jalan pintas yang diambil oleh manusia itu sendiri. Disinilah peranan agama sebagai medianya. Agama membimbing manusia agar selalu berada di jalur yang benar sesuai yang diinginkan Tuhan.
Islam, sebagai ajaran agama yang dibawa oleh utusan Allah, nabi Muhammad SAW, mempunyai konsep yang universal, tidak hanya urusan dunia tetapi urusan akhirat pun diajarinya. Salah satu ajaran yang sangat spektakuler dan luar biasa bagi saya, dalam mengurusi hidup dan kehidupan manusia yaitu ibadah Shalat. Konsep shalat tidak hanya urusan akhirat, akan tetapi juga memiliki konsep dan makna dalam urusan dunia manusia.
Saya meyakini, shalat memiliki 3 hal makna yang luar biasa dari sekian banyak konsep dan makna lainnya yang luar biasa. Pertama, shalat sebagai lambang gambaran kehidupan manusia. Kedua, shalat memiliki gerakan olahraga jasmani manusia. Dan ketiga, shalat sebagai solusi dari permasalahan manusia.
Singkatnya, gambaran kehidupan manusia, yang dilambangkan dari gerakan-gerakan shalat mulai dari takbiratul ihram sampai salam, semua ada dalam hidup manusia. Pada intinya, sejatinya manusia hanya membutuhkan 8 keinginan yang digambarkan dari gerakan dan doa pada saat duduk diantara dua sujud, antara lain ampunan, kasih sayang, limpahan rezeki, derajat yang tinggi, petunjuk dalam hidup dan jasmani yang sehat.
Adapun shalat yang memiliki gerakan olahraga telah banyak dibuktikan oleh pakar atau ahli yang menyatakan hal tersebut. Antara lain, dapat mengobati diabetes, kolesterol, dan lain sebagainya. Bahkan bagi ibu hamil pun dianjurkan banyak sujud.
Sedangkan shalat sebagai solusi masalah manusia dapat dinyatakan memang benar adanya saya kira. Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 153 :
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Banyaknya masalah manusia, maka shalatlah sebagai solusinya. Jika manusia menghadapi kesulitan keuangan, maka dapat dibantu dengan shalat Dhuha. Jika ingin derajat dan kedudukan yang tinggi, rajin-rajinlah shalat Tahajjud. Jika ingin kebutuhan yang mendesak, maka shalat Hajat bisa jadi medianya. Jika musim kekeringan menimpa, maka shalat Istisqa' menjadi sarana memohon kepada Allah SWT. Dengan kata lain, Allah SWT telah menyiapkan begitu banyak petunjuk dan rahmat-Nya, melalui al-qur'an dan hadist rasul-Nya. tetapi tergantung manusialah apakah ia ingin atau tidak menjadikan pegangan dan pedoman dalam hidupnya atau tidak.
Wallahu 'alam bis showab...
Post a Comment