Friday, July 13, 2012

Tiga Sudut Pandang Tasawuf

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Tasawuf sumbernya ada tiga; pertama, tasawuf indal akhlaq wal adab; yang kedua tasawuf indal Fuqaha, tasawuf menurut fuqaha; tasawuf inda ahlil Ma’rifat. Ini yang perlu diketahui.

Tasawuf inda akhlaq wal adab bisa kita terapkan sedini mungkin untuk anak-anak kita. Terutama makan; pake tangan kanan, di ajari sedini mungkin, masuk kamar mandi kaki kiri, keluar kaki kanan ini tasawuf akhlak wal adab. Karena sumbernya tasawuf adalah min akhlaq wal adab, dari pekerti dan tatakrama.

Yang kedua tasawuf indal fuqaha: bagimana fiqih ini tidak berhenti hanya secara fiqhiah belaka. Contoh orang kalau sudah menjalakan wudhu mau sholat, setelah dipake shalat wudhunya kemana? Selesai kan?!  Nah orang tasawuf tidak mau. Tasawuf menuntut sejauhmana anda membawa  wudhu ini terlepas daripada kefardhuan yang sudah anda laksanakan. Apakah anda wudhu didalam shalat hanya terikat oleh syarat-syarat atau hukum-hukum syari’at. Anda dituntut oleh ulama tasawuf agar  wudhumu bisa mewudhui bathiniah Anda atau tidak. Dan seterusnya. Disinilah hebatnya ilmu tasawuf.  

Tasawuf inda ahli ma’rifat, nah disini banyak orang terjebak. Dalam dunia tasawuf, dalam ilmu ma’rifat  mereka yang perbendaharaannya belum mumpuni, belum mencukupi seringkali terjebak. Akhirnya dia memunculkan analis-analis, seolah-olah tasawuf berbau Budha tasawuf, berbau Hindu. Karena apa? Mereka tidak tahu. Ilmu ma’rifatnya saja mereka tidak  mengerti, apa sebetulnya ma’rifat itu. Dari kekosongan itu, mereka belajar menganalis tasawuf; orang-orang yang sudah ahli Marifat, tinggi sekali, dengan bahasanya yang luar biasa. Wong dalam Tasawuf fuqaha saja mereka sudah tidak bisa memahami.        
           
Contoh Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali menjawab dunia falsafah, menjawab dunia tauhid aliarn ilmu kalam pada waktu berkembang macam-macam faham. Dijawab dengan tasawuf fuqaha, yaitu dengan munculnya ‘Ihya Ulumiddin’.

Mengapa dalam kitab Ihya Ulumiddin banyak hadits-hdits maudu’ disamping dhaif. Karena apa? Pendapatnya ahli  falasifah dijawab oleh Imam Al Ghazali dengan hadits yang maudhu saja, masih lebih baik hadits maudu’ daripada pendapat-pendapat kaum falasifah. Masih tepat, karena apa? Walaupun ini maudhu, tapi yang menggunakannya adalah orang-orang yang mengerti ma’rifat kepada Allah. Makanya disini digunakan oleh Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali.

SUFI, PARA PEJALAN DI JALAN TUHAN

Istilah shufi berasal dari kata Arab “shaf” yang berarti suci. Kaum sufi diberi gelar ini karena alam batin mereka disucikan dan diterangi oleh cahaya ilmu, tauhid, dan keesaan. Dalam pengertian lain. Mereka disebut sufi karena secara ruhani mereka dekat dengan para sahabat Rasulullah yang disebut “Ahlu Shufah” 1) – yang berbaju kasar terbuat dari bulu domba. Bahkan, mereka sendiri mungkin selalu mengenakan pakaian kasar dan murah yang terbuat dari bulu domba (shuf) dan banyak pula dari mereka yang selalu mengenakan pakaian using penuh tambalan.

Seperti penampilan lahir mereka yang miskin dan hina, begitupun kehidupan duniawi mereka. Mereka sangat bersahaja dalam makan, minum, dan kesenangan duniawi lainnya. Dalam kitab berjudul al-majma’ dikatakan, “Kaum sufi adalah mereka yang bersikap sederhana dalam pakaian dan pandangan hidup”. Mungkin saja mereka tampak tertarik oleh kehidupan dunia. Namun, pengetahuan mereka diwujudkan dalam perilaku yang sopan santun sehingga orang-orang lain tertarik kepada mereka. Sesungguhnya mereka merupakan teladan bagi manusia. Mereka mengikuti ajaran-ajaran Allah. Dalam pandangan Tuhan, mereka berada di garis terdepan manusia; dalam pandangan para salik, terlepas dari penampilan lahiriah, mereka adalah orang-orang yang menawan hati. Mereka memiliki cirri-ciri yang sangat khas, karena mereka telah mencapai tingkatan tauhid yang sesungguhnya.

Dalam bahasa arab, kata tashawwuf, terdiri atas empat huruf t, sh, w, dan f. huruf pertama t, adalah singkatan dari tawbah, tobat. Inilah langkah pertama yang harus ditempuh di jalan ruhani, yang meliputi langkah lahir dan langkah batin. Langkah lahir ditempuh dengan perkataan, perbuatan, dan perasaan. Secara lahiriah, orang yang bertobat harus memelihara hidupnya dari dosa dan maksiat serta condong kepada ketaatan; ia harus membebaskan diri dari penyimpangan dan kekafiran, serayamencari keridaan dan keselarasan. Langkah batin tobat ditempuh oleh hati. Langkah ini ditempuh dengan menyucikan hati dari segala noda dan salah. Langkah ini bersumber dari perlawanan terhadap hasrat duniawi dan keteguhan dalam kesucian. Tobat-yang merupakan kesadaran atas dosa dan kemestian meninggalkannya, juga merupakan kesadaran atas kebaikan dan tekad untuk mengamalkannya-akan membawa seseorang kepada tingkatan kedua.

Tingkatan kedua adalah keadaan tenang dan bahagia, shafa. Tingkatan ini pun meliputi dua langkah, yakni langkah menuju kesucian hati, dan langkah menuju inti hakikatnya.
Ketenteraman dating dari hati yang bebas dari kecemasan. Kecemasan disebabkan oleh kesenangan kepada dunia-makanan, minuman, tidur dan cengkerama. Semua ini, seperti daya tarik bumi, menurunkan eter hati. Tentu saja, membebaskan diri dari tarikan duniawi merupakan langkah yang sangat berat dan melelahkan. Perjuangan itu menjadi semakin berat akrena ada ikatan lain yang membelenggu eter hati ke bumi, termasuk hasrat, kekayaan, juga cinta istri dan anak-anak.

Cara membebaskan dan menyucikan hati adalah mengingat Allah. Pada awalnya, dzikir dilakukan secara lisan dengan menyebut nama-Nya berulang-ulang, melafalkannya dengan keras sehingga kau dan orang lain mendengardan mengingat-Nya. Ketika ingatan kepada-Nya telah mantap, zikir berlangsung dalam hati dan menjadi bagian batin; yang tertinggal hanya keheningan. Allah berfirman ;
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (al-Anfal (8) : 2).

Gemetar berarti kagum, takut, dan cinta kepada Allah. Dengan berzikir dan menyebut nama Allah, hati terjaga dari kelalaian, dan diterangi. Dengan begitu, bentuk dan rupa rahasia alam gaib akan terpantul padanya. Rasulullah SAW bersabda. “Para ulama secara lahir mengunjungi dan memeriksa segala sesuatu dengan pikiran mereka, sedangkan kaum bijak secara batin sibuk membersihkan dan menerangi hati mereka.”

Inti hati akan meraih ketenteraman jika telah disucikan dari segala sesuatu dan dipersiapkan untuk hanya menerima dzat allah, yang akan memasukinya jika ia telah dihiasi oleh cinta Ilahi. Inti hati dapat dibesihkan dengan zikir batin dan terus-terusan melafalkan kalimat tauhid “la ilaha illallah” dengan lidah hakikat. Ketika hati dan intinya berada dalam keadaan tenteram dan bahagia maka tingkatan kedua, yang disimbolkan oleh huruf sh menjadi sempurna.

Huruf ketiga, w, adalah singkatan dari wilayah, yakni tingkatan kewalian para pencinta dan kekasih Allah. Tingkatan ini bergantung pada kesucian batin. Dalam kitab suci Al-Quran disebutkan bahwa para wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati; dan bahwa bagi mereka berita gembira di kehidupan dunia dan (di kehidupan) akhirat… (Yunus (10) : 62 dan 64).
Orang yang telah mencapai maqam kewalian sepenuhnya mencintai dan terhubung kepada allah. Buah keadaan ini adalah perilaku yang sopan dan kepribadian yang hangat. Inilah karunia Ilahi yang dianugerahkan kepadanya. Rasulullah SAW bersabda,”Perhatikanlah akhlak Allah dan berperilakulah sesuai dengannya.” Pada tingkatan ini, seseorang telah menghapuskan sifat-sifat duniawinya yang fana dan menyatu dengan sifat-sifat Ilahi. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman :
Jika Aku mencintai hamba-Ku, Aku menjadi matanya, telinganya, lidahnya, tangannya, dan kakinya. Dia melihat melalui Aku, dia mendengar melalui Aku, dia berbicara melalui Aku, tanggannya menjadi tangan-Ku, dan dia berjalan bersama Aku.

Sucikan hatimu dari segala sesuatu dan ingatlah hanya kepada Allah, sebab :
Katakanlah olehmu (Hai Muhammad), telah dating kebenaran dan telah binasa kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu binasa. (al-Isra (17) : 81).

Ketika kebenaran dating dan kebatilan binasa, tingkatan wilayah menjadi sempurna.
Huruf keempat, f, merupakan singkatan dari kata fana’, peniadaan diri. Diri yang batil dan keakuan luruh musnah ketika sifat-sifat Ilahi memasuki jiwa seseorang. Keakuan digantikan oleh keesaan.

Pada hakikatnya, kebenaran akan selalu ada; tak pernah hilang atau pun surut. Pemusnahan yang dimaksudkan di sini adalah bahwa seseorang mukmin menyadari dan menyatu dengan zat yang telah menciptakannya. Ketika berada bersama-Nya, ia menerima keridaan-Nya : wujud manusia yang fana menemukan eksistensinya dengan menyadari hakikat yang kekal : Segala sesuatu musnah kecuali zat-Nya… (al-Qashash (28) : 88).

Hakikat-Nya dikenali melalui keridaan-Nya. Jika kau melakukan sesuatu karena Dia dan diridai-Nya, berarti kau telah mendekati hakikat-Nya, zat-Nya. Setelah itu, semuanya musnah kecuali Yang Esa; Dia menyatu dengan orang yang diridai-Nya. Amal saleh adalah ibu yang melahirkan hakikat, yaitu jiwa-sejati-yang-kembali. Allah berfirman, Kepada-Nya naik perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikan-Nya. (Fathir (35) : 10). Jika seseorang berbuat karena segala sesuatu selain Allah, berarti ia telah menyekutukan Allah. Sebab, ia telah menempatkan seseorang atau yang lainnya di tempat Allah. Menyekutukan Dia adalah dosa yang tak teramuni yang lambat laun akan membinasakan dirinya. Namun, jika diri dan keakuan sirna, ia akan mencapai tingkat kebersatuan dengan Allah, yang dicapai di alam kedekatan kepada-Nya; alam yang dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya :
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa. (al-Qamar (54) : 54-55).

Alam itu adalah alam hakikat sejati; hakikat segala hakikat; tempat keesaan dan ketunggalan. Itulah alam yang disediakan untuk para nabi, orang yang dicintai Allah, dan para kekasih-Nya. Allah bersama orang-orang yang benar. Ketika eksistensi ciptaan menyatu dengan eksistensi yang kekal, eksistensi keduanya menajdi tak terpisahkan. Ketika seseorang telah melepaskan dirinya dari semua ikatan duniawi utnuk berada bersama Allah, niscaya ia akan menerima kesucian yang kekal, yang tak pernah ternodai dan menjadi salah seorang penghuni sorga, mereka kekal di dalamnya (al-A’raf (7) : 42). Mereka adalah orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (al-A’raf (7) : 42). Namun, kami tidak memikulkan kewajiban kepada seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya. (al-A’raf (7) : 42). Untuk bias mencapai tingkat penyatuan seperti itu, dibutuhkan kesabaran dan ketabahan, karena Allah bersama orang-orang yang sabar. (al-Anfal (8) : 66).

1)  Ahlu Shufah juga sering dimaknai sebagai para penghuni serambi. Sebutan ini merujuk kepada para Sahabat nabi SAW yang tinggal di serambi masjid Nabawi. Mereka adalah para sahabat yang fakir dan selalu beribadah kepada Allah.

Sumber : Sirr al Asrar (Secret of the Secrets) : Hakikat Segala Rahasia Kehidupan hal 115 - 120, Syaikh Abdul Qadir al Jilaniy, Penerjemah Zaimul Am, 2008
Post a Comment