Friday, July 13, 2012

Nur Muhammad & Tradisi Tasawuf

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
 Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)

Salah satu tema pokok (kalau bukan satu-satunya tema pokok) dari prefetologi tasawuf adalah Cahaya Muhammad, nur Muhammad. Itu adalah seperti cahaya matahari, yang di sekitarnya segala sesuatu berputar; ia adalah “cahaya nama” yang oleh Iqbal, seperti juga banyak penyair lain sebelumnya, disebutkan dalam sajak sajaknya. Gagasan itu telah “ mewarnai setiap ungkapan kesusasteraan dari Islam mistikal (tasawuf), dan juga telah menjadi ciri luas dalam Islam rakyat, sejak masa-masa awal hingga abad kita sekarang ini.

Mengenai “cahaya” banyak terdapat dalam judul judul buku yang membicarakan tentang Nabi atau tentang hadis, dari koleksi hadis yang berjudul Misykat Al Masabih, “Ceruk untuk Lampu-lampu,” sampai karya ‘Aqqad Matali‘ An-Nur “Tempat tempat Terbitnya Cahaya;” dari karya Busiri Al-Kawakib Ad-Durriyyah, “Planet-planet yang Bercahaya . . . ,” sampai puisi Turki modern karya Kisakurek dengan judul Cole Inean Nur, “Cahaya yang Turun ke Gurun Pasir.”

Salah satu pengalaman yang paling mengharukan yang dapat dialami oleh seorang pengunjung ke Pakistan atau India adalah qawwali, suatu perkumpulan yang di dalamnya musik keagamaan dinyanyikan. Penyanyi utama dan paduan suara pengiringnya lambat laun terbawa perasaannya dan, seperti kebanyakan para pendengar mereka, tampaknya mencapai tahap mendekati ekstase.

Di antara lagu-lagu yang paling sering diperdengarkan pada kesempatan kesempatan semacam itu adalah sebuah ghazal Persia yang dianggap sebagai karya Amir Khusrau, penyair dan pemusik India Abad Pertengahan, yang kepadanya music Hindustan berutang budi, kalau bukan untuk dasarnya, maka setidak tidaknya untuk daya dorongnya yang sangat penting.
Syair itu dimulai dengan:

Namidanam che manzil bud syabgahi ki man budam: Aku tidak tahu tempat manakah itu, tempat yang pernah kudatangi di malam hari.. . .

dan setelah membicarakan tentang suatu perayaan malam yang misterius di mana Tuhan sendiri muncul sebagai pemegang cangkir, penyair itu mengakhirinya dengan baris yang mencengangkan:

Muhammad syam-i mahfil bud . . . Muhammad adalah lilin di sana — tempat yang pernah kudatangi di malam hari

Nabi Muhammad adalah lilin bagi majelis itu, syam’-i mahfil, cahaya yang menerangi kegelapan dunia ini di mana para pendengar itu berkumpul, lilin yang bersinar yang di sekelilingnya hati manusia berkerumun bagaikan laron yang tersihir.

Di antara semua atribut dan penggambaran yang telah dijalin diseputar pribadi Nabi untuk menyelubunginya dengan tabir puji-pujian yang bercahaya, mereka yang menyatakannya sebagai bagian dari alam cahaya itu adalah yang paling umum. Sesungguhnyalah, Al Quran sendiri (surah 33:46), sebagaimana yang kami pahami, menamai Nabi sirajun munir, “sebuah lampu yang bersinar”. Suatu ungkapan yang diambil alih oleh Hassan ibn Tsabit, yang pernah menggambarkan Muhammad sebagai seseorang yang membawaceahaya dan kebenaran di dalam kegelapan (seperti dalam surah 5:15);

Datanglah kepadamu dari Tuhan seberkas cahaya dan sebuah kitab yang jelas!

Lebih jauh lagi, dalam menggambarkan perang Badar, Hassan menyatakan bahwa wajah Nabi bersinar bagaikan bulan pumama.

Hassan ibn Tsabit, Diwan, no. 34, baris 8: bandingkan juga dengan no. 9, baris 21. Ibn ‘Arabi menganggap sahabat Muhammad, Ibn ‘Abbas, sebagai pencipta sebuah syair puji pujian yang, bagaimanapun juga, memuat seluruh terminologi teosofis dari masa masa sesudahnya; pengarangnya — siapa pun dia — menggambarkan cahaya Nabi yang menyinari bumi pada saat kelahirannya, dan sebagajnya. Lihal: Deladriere, La Profession de Foi d’Ibn ‘Arabi hal. 125.

Ibn Al Farid pun, dalam puisinya “Tih dallan,” berlagu : 

Masyarakat Badr berada dalam arak arakan di mana engkau melakukan perjalanan di malam hari
Tidak, sebaliknya mereka bepergian di siang hari di bawah cahayamu . . .

Dikutip 0leh Arberry, Aspeets of Islamie Eivilization, hal. 66, dan Nieholson, Studies in Islamie Mystieism, hal. 174. Dan dalam lagu belasungkawanya untuk Nabi yang dipuja puja itu dia menyebutkan juga cahaya terang yang bersinar pada saat kelahiran Muhammad, suatu topik yang diulang berkali kali dalam literatur:

Dan dia yang dituntun menuju cahaya yang penuh rahmat, dtunjuki dengan benar.

Pernyataan puitikal ini tampak bagaikan pendahuluan bagi penafsiran atas ayat Cahaya dalam Al Quran sebagaimana dikemukakan oleh ahli teologi Muqatil pada abad keenam. Kelihatannya dia adalah orang pertama yang menafsirkan kata-kata dari ayat ini sebagai mengacu kepada Nabi:

Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi; persamaan dari cahayaNya adalah seperti sebuah ceruk yang di dalamnya terdapat sebuah lampu lampu itu berada dalam sebuah kaca, dan kaca itu seolah olah sebuah bintang yang bersinar yang dinyalakan dari sebatang Pohon yang Diberkahi, sebatang pohon zaitun yang tidak berasal dari Timur maupun Barat, yang minyaknya hampir menyala bahkan sekalipun tidak ada api yang menyentuhnya: Cahaya di atas Cahaya Allah menuntun menuju Cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki Allah membuat beberapa perumpamaan kepada manusia Dan Allah mengetahui segala-galanya. (surah 24:35).

Lampu, mishbah, itulah yang dianggap Muqatil sebagai suatu lambang yang tepat bagi Muhammad. Melalui dia Cahaya Ilahi dapat menyinari dunia, dan melalui dia umat manusia dituntun menuju sumber cahaya ini. Kata-kata “tidak dari Timur maupun Barat” diambil sebagai merujuk ke sifat tugas Muhammad yang menyeluruh, yang tidak terbatas pada satu bangsa atau ras tertentu dan yang melampaui batasan batasan waktu dan ruang.

Lihat Hallaj, “Tasin As Siraj,” dalam Kitab At-Tawasin, hal. 12, yang juga menggabungkan julukan ini dengan sebutan Makki “sebab dia tabah dalam kedekatan denganNya” dan harami, “menjadi milik tempat suci (Makkah)” dikarenakan karuniaanya yang sangat melimpah.

Sampai masa kita ini, salah satu julukan yang paling umum bagi Nabi adalah nur al-huda, Cahaya Penuntun yang Benar. Tidakkah Muhammad sendiri menyebutkan tentang cahaya yang menembus dirinya di dalam salah satu doanya, yaitu doa yang termasuk dalam khazanah kekayaan yang paling berharga dari kaum beriman dari abad ke abad?

Wahai Allah, tempatkan cahaya di dalam hatiku, dan cahaya di dalam jiwaku, cahaya pada lidahku, cahaya di mataku dan cahaya di telingaku, tempatkan cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di belakangku dan cahaya di hadapanku, cahaya di atasku dan cahaya di bawahku. Tempatkan cahaya di syarafsyarafku, dan cahaya di dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya dalam rambutku dan cahaya dalam kulitku! Berikan kepadaku cahaya, perbanyaklah cahayaku, ciptakan cahaya bagiku.

Padwiek, Muslim Devotions, hal. 212; M. Smith, Readings from the Mysties of Islam, ha. 47. Meskipun ia tetap ada sampai kini melalui suatu rangkaian lemah pam perawi, doa itu terdapat dalam hampir semua karya tasawuf, terutama secara pas dalam karya Dard, “Syam’-i Mahfil,” dalam Chahar Risalah, no. 341, di mana ia menjadi bab yang terakhir dan juga kata kata Dard yang terakhir; dia meninggal segera setelah mengulangi doa kesayangan Nabi*

Teori-teori menyangkut karakter Muhammad yang bercahaya mulai berkembang, atas dasar penjelasan-penjelasan Muqatil, dalam paruh kedua bas kesembilan. Adalah seorang tokoh sufi Irak, Sahl Al Tustari (wafat 896), yang pertama-tama mengungkapkan seluruh Heilsgeschichte itu dalam terminologl Cahaya Muhammad, dan dia juga mengambil gagasan-gagasannya dari ayat Cahaya itu. Sebagaimana ditulis oleh penafsir modernnya, Gerhard Bowering, dalam telaah mendasarnya tentang peranan Nabi dalam teologi Tustari:

Allah, dalam keesaan-Nya yang mutlak dan realitas transenden-Nya, ditegaskan oleh Tustari sebagai misteri yang tak tertembus dari cahaya Ilahi yang bagaimanapun juga mengungkapkan dirinya sendiri dalam perwujudan prakeabadian dari “persamaan cahaya-Nya” matsalu nurihi, yaitu, “persamaan cahaya Muhammad,” nur Muhammad. Asal usul nur Muhammad dalam prakeabadian dilukiskan sebagai suatu masa bercahaya dari pemuliaan primordial di haribaan Allah yang mengambil bentuk suatu tiang tembus cahaya, ‘amud, cahaya Ilahi dan membentuk Muhammad sebagai ciptaan utama Allah.

Dengan demikian, dalam menjelaskan tentang terminologi ayat Cahaya itu, Tustari berkata: “Ketika Allah berkehendak untuk menciptakan`Muhammad, Dia memunculkan sebuah cahaya dari cahaya-Nya. Ketika ia mencapai selubung Keagungan, hijab al-‘azhamah, ia membungkuk dan bersujud di hadapan Allah. Allah menciptakan dari sujudnya itu sebuah tiang yang besar bagaikan kaca kristal dari cahaya, yang dari luar maupun dari dalam dapat ditembus pandang.

Yang menarik, Tustari juga mengaitkan surah 53 dengan Cahaya Muhammad. Dia tidak menafsirkan surah ini sebagai menyangkut penglihatan permulaan Nabi _atau perjalanannya ke langit, tetapi justru menyatakan bahwa kata-kata “Dan dia melihat-Nya lagi di waktu yang lain” (53: 13) mengandung arti “pada awal waktu,” ketika tiang Cahaya Muhammad berdiri di hadapan Allah, sebelum dimulainya penciptaan selama sejuta tahun. Dia berdiri di hadapanNya untuk memuja-Nya, ‘ubudiyyah, dengan keteguhan iman, dan (kepadanya) diungkapkan misteri oleh Misteri itu sendiri “di pohon Sidrah di Tapal Batas” (surah 53:14), yaitu pohon di mana pengetahuan setiap orang berakhir.

Lalu, ketika penciptaan dimulai, Allah “menciptakan Adam dari cahaya Muhammad”.

Cahaya para nabi berasal darinya, cahaya Muhammad dan cahaya kerajaan langit, malakut, adalah dari cahayanya, dan cahaya dunia ini dan dunia yang akan datang berasal dari cahayanya.

Bowering melanjutkan penafsirannya atas doktrin Tustari:

Akhimya ketika kemunculan para nabi dan alam raya spiritual di dalam pra‘ keabadian telah sempurna, Muhammad dibentuk tubuhnya, dalam bentuk temporal dan teresterial, dari lempung Adam, yang telah diambil dari tiang nur Muhammad dalam pra-keabadian. Dengan demikian, penciptaan cahaya prakeabadian telah disempurnakan: manusia pertama itu dicetak dari cahaya Muhammad yang telah terkristal dan mengambil sosok pribadi Adam.

Itu berarti, sebagalmana yang dinyatakan oleh Ibn ‘Arabi tiga abad setelah Tustari, bahwa_Nabi adalah “seperti benih,bidzr, umat manusia dan para penyair tak henti-hentinya menyinggung tentang paradoks itu, yaitu bahwa Muhammad temyata ada lebih dulu dibanding Adam dalam esensinya, meskipun secara lahiriah dia adalah keturunannya. Spekulasi-spekulasi Tustari yang membumbung tinggi, yang mempengaruhi aliran besar dalam pemikiran sufi, diuraikan secara lebih puitikal oleh muridnya, Hallaj, yang mengatakan dalam Thasin Al Siraj (Thasin Lampu), bab pertama dari karyanya, Kitab Al-Thawasin:

(Dia adalah) sebuah lampu dari cahaya Yang Tak Terlihat, sebuah bulan yang bercahaya di antara bulan-bulan lainnya, yang rumahnya berada dalam lingkaran segala misteri; Kebenaran Ilahi (Tuhan) menyebutnya ummiy
 dikarenakan késempurnaan aspirasinya yang mulia (himmah) . . . Cahaya cahaya kenabian — dari cahayanyalah mereka muncul, dan cahaya cahaya mereka berasal dari cahayanya, dan tidak ada cahaya di antara cahaya cahaya lain yang lebih cemerang dan lebih terang serta mendahului praeksistensi, daripada cahaya tokoh mulia ini.

*Hallaj, “Tasin As-Siraj,” dalam Kitab At-Tawasin, hal. 9, ll. Lihat juga puisinya (Syaibi, Syarh Diwan Al-Hallaj, hal. 188, no. 24), dengan pembukaan ‘Ilm An-Nubuwwa Misbahun min An Nur, ”Pengetahuan kenabian merupakan cahaya dari segala cahaya . . .”*

Kita harus ingat bahwa kata-kata ini ditulis kurang dari tiga ratus tahun setelah wafatnya Nabi. Dari saat itu Nabi yang bercahaya itu muncul di mana mana dalam karya karya mistikal dan puitikal. Dia sendiri diyakini pernah mengemukakan pernyataan pernyatan yang berkaitan dengan peringkatnya yang sangat tinggi, misalnya, “Hal pertama yang diciptakan Allah adalah cahayaku,”" dan perkataannya “Para sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang” sangat sesuai dengan peranannya sebagai matahari sebagai pusatnya atau bulan purnama dalam Islam.

Kawan Hallaj, yaltu Syibli yang agak eksentrik, membaca di atas ranjang kematiannya sebuah sajak yang masih dilantunkan dalam qawwali:

Setiap rumah yang engkau diami Tidak membutuhkan lampu sama sekali, Dan pada hari ketika bukti bukti dibawakan Maka buktiku adalah wajahmu

Meskipun sajak ini aslinya tidak dimaksudkan sebagai lagu puji pujian untuk Nabi (yang akan bertentangan dengan sikap umum Syibli terhadapnya), ia membuktikan bahwa sejak itu ia dianggap sebagai kiasan bagi wajah Nabi yang bersinar. Lagi-lagi, Ibn ‘Arabi itulah yang terutama bertanggung jawab atas peranan pokok cahaya ini dalam ajaran sufi selanjutnya.

Cahaya pertama muncul dari Selubung dari Yang Tak Terlihat, dan dari pengetahuan ke eksistensi konkret, ia adalah cahaya dari Nabi kita Muhammad.

Ibn ‘Arabi menyatakan dalam Pernyataan Keimanannya, dan selanjutnya dia membandingkan Muhammad, siraj munir, dengan matahari, dan dari sini menyimpulkan bahwa “intelegensi, ‘uqul, spirit, arwah, intuisi, basha’z’r, dan esensi, dzawat, semuanya dipelihara oleh esensi yang bercahaya dari Mushthafa yang Terpilih, yang merupakan Matahari Eksistensi”.

Gagasan-gagasan dari Ibn ‘Arabi dan penafsirnya, ‘Abdul Karim Al Jili, menjadi dasar bagi banyak pernyataan dalam puisi di seluruh dunia Muslim di mana Nabi digambarkan dalam pengertian yang kadang kadang terdengar mengherankan, bahkan juga mengagetkan, bagi orang luar.

Jili membicarakan, misalnya, tentang haqiqah muhammadiyyah dan yang muncul dalam pra-keabadian sebagaichrysolite putih, yaquta baidha. Allah melihatnya, dan ia buyar menjadi gelombang gelombang dan zat-zat cair lainnya, yang dari situ muncullah dunia ciptaan. Tetapi riwayat itu jauh lebih tua umurnya. Tsa‘labi, dalam karyanya, ‘Ara’is Al Bayan, yang ditulis tak lama setelah tahun 1000, mengetahui adanya suatu dongeng yang penuh warna di mana “sebuah mutiara yang bersinar” memainkan peranan utama. Dalam nada yang tidak terlalu puitikal, Najm Daya Razi, tokoh seangkatan Ibn ‘Arabi tetapi bukan pengikutnya, menawarkan sebuah kisah yang serupa mengenai penciptaan: Tetesan keringat yang bagaikan mutiara yang muncul dari Cahaya Muhammad merupakan zat untuk menciptakan 124.000 nabi.

* Menurut Tsalabi, esensi Muhammad digabungkan dari lempung surgawi dan air dari air mancur surga Tasmin, dan tampak seperti sebutir mutiara putih yang, karena terpesona oleh pandangan Tuhan yang penuh kasih, mulai berkeringat. Dari sini, dapat dengan mudah diciptakan hubungan dengan julukan durra yatima, “si yatim,” yaitu mutiara yang unik, yang menjadi lebih bermakna lagi sebab Muhammad memang seorang anak yatim.
Untuk Tsalabi lihat Goldziher, “Neuplatonisehe und gnostisehe Elemente im hadits.”

Roy, Islamie Syneertistie Tradition, hal. 121 ff., terutama 127 ff., banyak membicarakan tentang kisah-kisah ini, yang dengan jelas dia anggap sebagai tradisi Bengali. Lihat juga ibid., hal. 176; nur Muhammad itu tersembunyi dalam sebuah mutiara putih pada bunga teratai di amrit kunda (air kehidupan) yang terdapat dalam wilayah ke dua tertinggi, ‘alam i jabarut. Lihat lebih jauh Razi, The Path of God’s Bondsmen, hal. 61. Yang menarik, suatu versi modern dari mitos Sufi kuno terdapat dalam ‘Abdur-Rahim, Islamie Book of the Dead, hal. 20-22. Di situ, disebutkan bukan hanya “mutiara putih bagaikan burung merak” dan penciptaannya dari keringat utusan primordial, tetapi juga peringkat peringkat manusia yang berbeda sesuai dengan peranan dari bentuk pre-eksistensi Muhammad yang di atasnya mata mereka jatuh; siapa pun yang melihat kepalanya, menjadi seorang khalifah dan sultan di antara semua makhluk; siapa pun yang melihat tangan kirinya menjadi ahli tulis; siapa pun yang melihat bayangannya menjadi seorang penyanyi, dan seterusnya; mereka yang tidak melihat apa-apa menjadi orang Yahudi, Kristen, Majusi, atau malah orang kafir.*

Dalam riwayat inilah para penyair Turki dan Bengali melagukan peranan yang menakjubkan dari cahaya Muhammad, sebagaimana, misalnya, yang dilakukan oleh Khaqani dalam Hilyah Turkinya:

Allah (haqq) menyukai cahaya ini dan berkata: “Kawanku tercinta (habibi)!” ` Dan menjadi terpihat (‘asyiq) oleh cahaya ini. . .

Dan kemudian cahaya primordial ini, yang berkeringat karena terpesona dan takjub, menghasilkan bertetes tetes peluh, yang masing masing tetesnya menjadi seorang nabi; ialu setahap demi setahap, sebuah samudera, uap air, dan bola bola dunia muncul dari cahaya ini. Para sufi sebelum Ibn ‘Arabi senang sekali menggunakan pandangan Tustari mengenai tiang cahaya pra-keabadian, dan beberapa bagian dari puisi Persia Abad Pertengahan memberikan suatu gambaran yang lebih mengesankan dibanding baris baris ‘Attar dalam bagian pendahuiuan dari Manthiq Al Thayr:

Yang pertama tama muncul dari kedalaman Yang Tak Terlihat Adalah cahayanya yang murnl – tak perlu dipertanyakan dan tak perlu dlragukan lagi! Cahaya yang tinggi ini membuka tanda-tanda ~ Tahta, Penunjang kaki, Pena dan Lembaran Catatan dengan demiklan muncul. Satu bagian darl cahayanya yang murni menjadi dunia, Dan satu bagian Adam dan benih umat manusla. Ketika cahaya yang agung ini  berslnar, la jatuh Di hadapan Allah, bersujud dengan hormat. Selama berabad abad ia tetap bersujud Dan lama sekali berserah diri pula, Dan dari tahun ke tahun ia berdiri tegak dalam doa, Sepanjang hidup mengucapkan pernyataan iman: Doa Lautan Cahaya rahasia ini Memberikan kepada umat ritus doa!

Tetapi bukan hanya para penyair utama yang pandai saja yang membicarakan tentang Muhammad yang bercahaya; mereka diikuti, bahkan dilampaui, oleh para penyair kelana rakyat. Maka Yunus Emre, pada akhir abad ketiga belas, menyatakan bahwa Allah berfirman: 

Aku menciptakannya dari cahayaKu sendiri Dan Aku mencintainya kemarin dan hari ini! Apa yang akan Aku lakukan dengan semua dunia ini tanpa dia? Muhammad-Ku, Ahmad—Ku yang Bercahaya!

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang sufi di India menulis, dalam bahasa Persia:

Inilah cahaya Allah (haqq), yang mewujud dalam sosok pribadi Nabi, Sebagaimana cahaya bulan diambil dari matahari.

Pangerah Kalhora, Sarfaraz Khan, dari Sindh, yang menggubah suatu kalimat yang menyentuh hati untuk Nabi selama berada dalam penjara pada 1774, seperti para penulis yang tak terbilang jumlahnya sebelum dia, mengatakan bahwa:

Tidak ada ciptaan, tldak ada malaikat, tldak ada pula langit atau bumi — Cahayamu cemerlang menyinari segalanya.

Maulana Rumi juga memuji muji sifat sifat yang menakjubkan dari cahaya primordial itu:

Jika saja satu cabang dan berjuta cabangnya terbuka, Beribu ribu eklesiastik Kristen akan segera melepas sabuk kekafiran mereka.

Begitu pula, sebagaimana dilagukan oleh Jami‘, cahaya ini dapat mengubah keadaan kaum Muslim menjadi lebih baik:

Setiap orang yang terkena cahaya kebaikanmu (atau, matahari: mihr) Akan menjadi merah mukanya (dihormati) diseluruh dunia bagaikan fajar.

Dan sebelumnya Rumi lagi lagi bertanya:

Bagaimana mungkin kaml melakukah kesalahan? Karena kami berada dalam cahaya Ahmad!

Keikut sertaan dalam cahaya Muhammad inilah yang membedakan orang beriman yang sejati, dan setelah dia menenggelamkan dirinya ke dalam cahaya primordial ini, neraka akan berkata kepadanya: “cahayamu telah mematikan api ku”. Sebab api neraka, sebagai ciptaan, dapat dimatikan, sedangkan Cahaya Muhammad, yang telah ada dalam prakeabadian, tidak dapat diganggu gugat.

Pada tingkat yang berbeda konsep Muhammad sebagai nur al anwar, “cahaya dari segala cahaya” dikaitkan dengan dongengan bahwa dia tidak mempunyai bayangan. Sebagaimana dijelaskan oleh Najm Razi, dia, dari satu sudut pandang, adalah matahari, dan matahari tidak mempunyai bayangan

sebagaimana dia, dari sudut pandang yang lain, “adalah raja agama,” dan “raja itu adalah bayangan Tuhan
di atas bumi,” dan sebuah bayangan tentu saja tidak mempunyai bayangan. Juga dikatakan bahwa cahaya ini dapat menyala seperti lampu di gelap malam. Para seniman kaligrafi menganggap wajar bahwa karena alasan ini tak satu pun dari nama-nama asli Nabi Muhammad, Ahmad, Hamid, dan Mahmud, ataupun julukannya rasul Allah mempunyai tanda tanda pembeda dalam penulisan bahasa Arab: cahayanya tidak ternoda oleh titik-titik hitam ketika nama dan statusnya ditulis.”

Di wilayah wilayah tertentu seluruh dongengan itu berkembang dari spekulasi spekulasi mengenai nur Muhammad. Cara yang digunakan oleh seorang penyair sufi Bengal dari abad kelima belas, Syaikh Ehand, untuk melukiskan awal penciptaan tentu saja tidak akan dapat diterima oleh kaum Muslim yang lebih ortodoks dan kurang berminat kepada puisi, tetapi itu kurang lebih merupakan suatu sarana untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang disebutkan dalam tulisan tulisan Ibn ‘Arabi dan para penggantinya:

Pemilik nur (cahaya) dengan sebatang tongkat ditangannya, memandang ke timur. Penciptaan dimulai dengan nur Muhammad. Allah membawa nur dari hatinya sendiri.

Setelah melukiskan bagaimana nur Muhammad dikaruniai kesadaran, nafsu, akal, tujuan, kekuatan, dan juga kematian, dia melanjutkan:

Maka Allah mengucapkan kata kun (Jadllah), Kaf dan nun, kedua huruf ini tercipta, Dan dengan menggabungkan kedua huruf ini, Allah mengungkapkan diri-Nya. Kaf mewakili kalimah (pernyataan iman) dan nun mewakili nur (cahaya), dari salah satu antara keduanya. Karena keeintaan-Nya kepada nur, Allah  menetapkan alam raya, Dengan melihat keindahan nur, dia menjadi terpesona Dan terpikat dan memandang kepadanya . . .

Kesamaan dengan pelukisan Khaqani mengenai tindak penciptaan (yang tersebut di atas) tampak jelas. Hubungan silang antara spekulasi spekulasi Sahl Al-Tustari, Hallaj dan Ibn ‘Arabi di satu pihak, dan doktrin doktrin Syi‘ah tentang cahaya para Imam di pihak lain, adalah sangat mungkin, tetapi sulit sekali untuk memperkirakan artikulasi mereka yang setepatnya. Hal yang sama juga berlaku untuk pengaruh dari gagasan gagasan Helenistik-Makrifat yang mungkin merupakan dasar dari seluruh mistikisme cahaya serta dasar dari tradisi-tradisi lain di mana Nabi ditinggikan peringkatnya menjadi hampir seperti manusia super.

Banyak riset telah dilakukan untuk menyelidiki aspek-aspek profetologi mistikal ini, tetapi gambaran sejarah yang sempurna masih bélum jelas sepenuhnya. Sejalan dengan berkembangnya gagasan bahwa Muhammad merupakan cahaya asli dalam penciptaan, timbul keinginan untuk mengangkat Nabi dalam setiap hal yang memungkinkan, dan memberinya kedudukan yang jauh melebihi peringkat manusia. Kecenderungan yang
semakin meningkat adalah melupakan bahwa sebagian dari para tokoh sufi paling awal — di antara mereka adalah wakil pertama tasawuf cinta, Rabi‘ah dari Basrah (wafat 801) — pemah menyatakan bahwa kecintaan kepada Allah telah memenuhi hati mereka sebegitu rapatnya sehingga tidak ada lagi ruang bagi cinta kasih yang khusus untuk Nabi.

Tetapi satu abad kemudian, ketika sufi Al Kharraz memberikan jawaban yang sama kepada Nabi, yang dilihatnya di dalam mimpi, dia menerima jawaban: “Orang yang mencintai Allah, pasti juga mencintaiku!”. Sekalipun demikian, beberapa tokoh sufi dari masa sesudahnya masih takut untuk memberikan kepada Nabi kedudukan yang terlalu tinggi. Syibli, misalnya, berkata kepada Allah ketika dia mengucapkan panggilan untuk shalat (yang berisi dua pengakuan iman): “Jika Engkau tidak memerintahkannya, aku tidak akan menyebutkan nama siapa pun di samping namaMu” Tetapi keragu-raguan semacam itu, yang muncul dari perasaan bahwa menyebutkan tentang “utusan Allah” di tempat yang begitu menonjol akan merusak Keesaan Allah yang tak ada bandingnya, dihapuskan oleh banyak sufi dari masa selanjutnya.

Hujwiri, ketika berbicara tentang perjalanan Bayazid Bistami ke langit, mengungkapkan tentang pertanyaan yang banyak membingungkan para sufi: “Apa yang harus aku lakukan?” Allah menjawab: “Wahai Abu Yazid, engkau harus membebaskan dirimu dari ’ke-engkau-an’ dengan menjadi pengikut kekasih-Ku. Sapulah matamu dengan debu kakinya, dan ikutilah dia terus.”

Setidak-tidaknya sejak masa hidup Muqatil, pemuliaan mistikal terhadap Muhammad berkembang pesat. Banyak hadis kini dikutip untuk membuktikan bahwa dia merupakan makna dan tujuan penciptaan. Dalam salah satu hadis dia berkata: “Aku telah menjadi nabi, sementara Adam masih berwujud antara air dan lempung,” yaitu, belum tercipta.”

Nabi juga diriwayatkan pernah berkata, “Yang pertama tama diciptakan Allah adalah jiwaku;” tetapi orang mendapati penyataan petnyataan yang bertentangan seperti “Yang pertama-tama diciptakan Allah adalah Pena” (yang ternyata “identik dengan Jiwa Muhammad”) atau “Akal.” Najm Razi dengan terampil menggabungkan ketiga hadis yang tampaknya saling bertentangan itu dengan menafsirkan ketiganya sebagai menyangkut Nabi: “Ketika Allah Yang Mahakuasa menciptakan jiwa Muhammad dan memandangnya dengan penuh kasih sayang, rasa malu menguasai jiwanya, dan mengakibatkannya jadi terbelah dua, separuh dari Pena Allah menjadi Jiwa Nabi, dan separuh yang lain menjadi Akal Nabi”.

Yang sangat penting dalam perkembangan ini adalah sebuah hadits qudsi, yaitu wahyu di luar Al-Quran, di mana Allah berfirman: Laulaka ma khalaqtu’l-aflaka, “Jika engkau tidak ada (yaitu, tetapi demi engkau), Aku tidak akan menciptakan dunia itu”.

Hadis ini menjadi begitu panting, terutama dalam` bahasa puitikal, sehingga Muhammad sering disapa sebagai “penguasa laulaka”. Masih ada lagi firman Ilahi lainnya yang dikutip berulang ulang sebagai bukti bagi peringkat Nabi yang sangat tinggi, terutama dalam tradisi India:

“Dari Tahta sampai ke sesuatu yang ada di bawah debu, segala sesuatu mencari keridhaanNya, dan aku lebih dulu mencari keridhaanmu, wahai Muhammad”.

Para sufi dan penyair masa sesudahnya tidak ragu ragu untuk menerapkan kepada Nabi hadits qudsi yang berbunyi:Kuntu kanzan makhfyyan “Aku adalah kekayaan yang tersembunyi, dan Aku ingin dikenal; itulah  sebabnya Aku menciptakan dunia” Allah, karena ingin sekali dalam kesendirian pra-keabadianNya untuk dikenal dan dicintai, meciptakan Muhammad sebagai cermin pertama cahaya dan keindahan-Nya, suatu cermin diimana Dia dapat melihat diriNya sendiri dengan penuh kecintaan. Oleh karena itu, hadis yang berbunyi “Siapa yang pernah melihatku, telah melihat Al Haqq” (telah melihat realitas, Kebenaran, yaitu Allah)“ sering ditafsirkan sebagai mengandung arti bahwa Muhammad itu benar-benar merupakan cermin sempurna Keindahan llahi, tempat perwujudan semua nama dan atribut Ilahi, yang melalui keindahannya orang akan memahami Keindahan dan Kesempurnaan Ilahi.“

* Furuzanfar, Ahadits-i Matsnawi no. 163, dari Bukhari dan Muslim. Dalam Suyuti, Al Jami’ As-Shaghir, yang dikutzip oleh Furuzanfar, hadis itu dikemukakan dengan tambahan la yatazayya bi, “sebab Setan tidak mengambil bentuknya;” yaitu bahwa melihat Nabi dalam suatu mimpi atau bayangan berarti benar-benar melihat dia. Bagaimanapun juga, penafsiran akan haqq, “kebenaran,” sebagai Kebenaran Ilahi menjadi umum setidak tidaknya dari masa Al-Hallaj; dia menafsirkan perkataan ini sebagai yang mengacu kepada Muhammad dalam keadaan menyatu mutlak dengan Tuhan, ‘ayn al-jam‘ (Kitab At Tawasin, hal. 80, ulasan mengenai “Tasin As-Siraj”). Rumi mengemukakan bahwa Nabi pemah berkata “Ketika engkau melihatku berarti engkau melihat Tuhan,” dan Iqbal mengambil gagasan itu dalam puisinya yang baru, Armaghan-i Hijaz, hal. 71. Hal itu diterima secara luas dalam pengertian ini di kalangan para Sufi.

Risalah-risalah pendek dari tokoh Sufi Naqsyabandi India, Miskin, pada abad kesembilan belas memuat paragraf panjang mengenai jamal i Muhammadi, “keindahan Muhammad,” seperti: “Kekasih yang Sejati (Tuhan) telah mengambil cermin Esensi Muhammad di hadapan wajahNya dan berkata ’Aku adalah kekayaan yang tersembunyi . . .”’ (“Risala-i suluk,” dalam Ladzdzat-i Miskin, 2: 74; bandingkan dengan  ibid., 2: 88, 96 dan “Tariq-i mahbub,” ibid., 2: 100; dan “Dida.r -i yar,” ibid., 2: 104).

Ibn ‘Arabi menempatkan hadis mengenai “kekayaan tersembunyi” itu pada pusat sistemnya, dan pada diri penggantinya serta penafsir puisinya, ‘Jami, para penyair itu berlantun:

Allah menjadikanmu cermin Esenssi Sebuah cermln untuk Esensi yang unik

atau:

Dari “Aku adalah kekayaan” sifatmu yang sejati menjadi jelas: Sosokmu adalah cermln Cahaya sempurna

Nabi juga dipandang sebagai benih dan buah penciptaan, atau sebagai pohon besar — suatu cerminan dari dongeng-dongeng mengenai Pohon Kosmik atau Pohon Kehidupan. Maulana Rumi menafsirkan mimpi seseorang mengenai sebatang pohon di pantai samudera sebagai berikut: “Samudera yang tak berbatas itu adalah Kebesaran Allah Yang Mahatinggi, dan pohon yang besar itu adalah eksistensi Muhammad yang diberkahi, dan cabang cabang pohon ini adalah peringkat peringkat para nabi dan kedudukan orang orang suci, dan burung-burung besar itu adalah jiwa jiwa mereka, dan lagu-lagu yang berbeda yang mereka nyanyikan adalah misteri-misteri dan rahasia rahasia lidah mereka”.

Gagasan-gagasan yang serupa – yang jauh lebih dikenal oleh kaum Muslim Abad Pertengahan dibanding fakta-fakta sejarah mengenai kehidupan Nabi — terdapat, misalnya, dalam literatur Indo-Muslim. Pada abad keenam belas Manjhan berlantun dalam karya epiknya, Madzumalati, setelah menyebutkan tentang “cahaya Muhammad”:

Muhammad, setelah menjadi akar pohon (kosmik), Seluruh alam raya menjadi cabangnya. Tuhan memasanghan mahkata sembilan lakh (100.000an) di atas kepalanya. Tidak ada yang dapat menyamainya. Dia adalah tubuh itu, dan seluruh dunia adalah cerminannya. Dia adalah pencipta tersembunyi yang dikenali setiap orang; Muhammad, yang merupakan perwujudan Tuhan, tak seorang pun tahu. Dia yang bisa dilihat, tak terlihat dan tak terbatas, Yang sama telah mengambil bentuk Muhammad,
Nama bentuk itu tetaplah Muhammad. . . .

Kepercayaan kepada pra-eksistensi esensi Muhammad ini, yang pertama tama diuraikan oleh Sahl Al Tustari dan Hallaj, yang dipuji puji dengan kata-kata indah oleh para pengarang seperti Al-Tsaflabi dan dibuat sistematik menjadi teori oleh Ibn ‘Arabi, selanjutnya meresap ke dalam ajaran tasawuf. Sebagaimana ditulis oleh seorang India dari akhir abad kesembilan belas dalam salah satu dari banyak risalahnya mengenai ”Sang Kekasih”.

Benih esensi Muhammad itu diselubungi dan tak terlihat di lahan non-eksistensi. Ketika matahari Eksisten yang Nyata dan Kekasih yang Nyata (yaitu Tuhan) dipancarkan atasnya, dan ketika benih itu, yang merupakan “Rahmat bagi seluruh dunia,” menerima air Rahmat, ia mengangkat kepalanya dari lahan non-eksistensi, dan segala sesuatu di samping Tuhan, yang terdapat di antara bumi dan Tahta, antara Timur dan Barat, mengangkat kepalanya dari rahim yang diberkahi dari Esensi Muhammad dan menemukan kesegaran dan pesona. Oleh karena itu Tuhan berfirman, Laulaka, “Tetapi demi engkau . . .” jika bukan  karena Muhammad, tidak akan ada manusia, Dan kedua dunia itu tidak akan tercipta.

Dalam tasawuf setelah Ibn ‘Arabi, pra eksistensi Nabi, yang dinamakan al haqiqah al Muhammadiyyah, dianggap sebagai sumber semua aktivitas kenabian. Sebab haqiqah Muhammadzyyah ini — suatu istilah yang sering diterjemahkan sebagai “Pola Dasar Muhammad” — mewujudkan dirinya pertama kali dalam diri Adam, lalu dalam diri semua nabi lain, sampai ia menemukan ungkapannya yang sepenuhnya sekali lagi dalam diri Muhammad yang historikal, yang karenanya menjadi Alfa dan Omega dari penciptaan. Muhammad sang Nabi adalah perwujudan yang mencakup keseluruhan “dan sempurna dari cahaya primordial, dan bersamanya daur perwujudan itu berakhir, sebab dia adalah Penutup para Nabi. Dalam tradisi Arab, Ibn Al Farid (wafat 1235) ada di antara tokoh-tokoh pertama yang mengungkapkan pemikiran pemikiran semacam itu, dalam Ta’iyyah-nya yang besar:
Dan tak satu pun dari mereka (para nabi sebelumnya) yang tidak menyeru umatnya Menuju Kebenaran dengan karunia Muhammad dan karena dia adalah pengikut Muhammad.

Gagasan-gagasan ini selalu diulang ulang dalam puisi sesudahnya. Dalam tradisi Persia, Jami‘-lah yang terutama suka menyanyikan, dalam syair pembukaannya yang panjang dari karya karya epiknya, mengenai perkembangan yang menakjubkan ini. Menurut kata katanya, risalah setiap nabi yang pernah hidup tidak lain adalah bagian dari risalah Muhammad yang sangat luas:

Cahayanya muncul di dahi Adam Sehingga para malaihat menekurkan kepala mereka bersujud; Nuh, di tengah bahaya banjir, Menemukan pertolongan darinya dalam pelayarannya; Harum karunianya sampai kepada Ibrahim, ‘ Dan mawarnya bermekaran dari tumpukan kayu bakar Namruj. Yusuf mendukungnya, di istana kebaihan (Hanya) seharga seorang budak, tujuh belas dirham. Wajahnya menyalakan api Musa, Dan bibirnya mengajarkan kepada ‘Isa bagaikan menghiduphan orang yang mati. 

Baris-baris semacam itu dapat membantu kita memahami mengapa para tokoh sufi dari masa selanjutnya biasanya berusaha untuk menyatu dengan haqiqah Muhammadiyyah, yang kini dianggap sebagai tahap terakhir di jalan itu. Dalam perjalanan ke sana mereka naik, dan akhirnya mélampaui tahap-tahap semua nabi lainnya. Dengan demikian, sufi itu mungkin merasa di satu waktu bahwa dia telah mencapai tahap Nuh dan mengalami banjir itu, dan ada kemungkinan bahwa dia atau yang lain lainnya akan tetap berada di salah satu tahap ini; sebab hanya sedikit, barangkali, yang dikaruniai penyatuan dengan prinsip pertama penciptaan, yaitu Pola Dasar Muhammad. Kami mendapatkan catatan catatan dari para pemimpin sufi yang menceritakan tentang jalan yang mendaki menuju haqiqah Muhammadiyyah ini, dan puisi sufi, terutama yang ditulis oleh para pemimpin tarikat-tarikat sufi, penuh dengan perujukan perujukan ke kemajuan dalam tahap tahap itu.

*Menurut Aflaki, Manaqib Al-‘Arifin, hal. 614, bab 4, para. 3, bahkan Rumi mengatakan: “Para sarjana luar mengenal kisah kisah, akhbar, tentang Nabi; Maulana Syamsuddin tahu tentang misteri misteri, asrar, Nabi, dan aku adalah tempat perwujudan dari cahaya cahaya, anwar, Nabi”.*

Yah, kecintaahku tumbuh sebelum Adam, Aku bersama dengan cahaya Ahmad di ketinggian

demikian dilantunkan oleh Ibrahim Al Dasuqi, pendiri sebuah persaudaraan di Mesir pada abad ketiga belas. Di bawah pengaruh Ibn ‘Arabi, yang menyatakan dirinya sebagai “pewaris sifat menyeluruh Nabi,” al-thabi‘ah al-jam‘iyyah, dan “pewaris Tahap Muhammad, al—maqam al-muhammadiy, puisi semacam itu menjadi semakin popular. Ibn ‘Arabi sendiri telah mewarisi, pada umur tiga puluh tiga (pada 1197-98), maqam muhammadiy melalui suatu pentahbisan di hadapan Kawan Tertinggi, al mal’a al a‘la, dan telah menjadi “penutup orang orang suci,” orang suci terakhir di hati Muhammad, ‘ala qalb Muhammad. Pernyataan ini mendorongnya untuk mengutarakan gagasan gagasannya dengan cara yang sangat berani. Tetapi adalah menarik untuk dicatat bahwa rekan sezamannya yang lebih muda, Syams-i Tabrizi, pemberi ilham yang kuat kepada Maulana Rumi, mengatakan bahwa meskipun Ibn ‘Arabi pernah menyatakan, “Muhammad adalah penjaga tirai kita,” ternyata “dia tidak (benar-benar) mengikutinya” — suatu tuduhan yang telah banyak diulang sampai masa kita sekarang ini oleh banyak golongan Muslim anti-sufi.

Dalam sistem Ibn ‘Arabi, Muhammad tampil sebagai tokoh yang berpengaruh luas, “dijaga oleh aliran karunia yang paling suci dan paling tinggi,” al faidh al aqdas al a‘la. Dia adalah Manusia Sempurna, yang pada dirinya pleroma atribut-atribut dan nama nama Ilahi tercermin. Maka timbullah pernyataan dari orang orang yang telah mencapai penyatuan dengan haqiqah Muhammadiyyah bahwa mereka dikaruniai” sifat menyeluruh” atau dibedakan oleh julukan al-jami, Yang Komprehensif (seperti ditulis oleh Mir Dard dalam penjelasannya tentang upayanya untuk naik melalui tahap-tahap para nabi). Dalam teori teori ini, Muhammad menempati kedudukan mikrokosmos yang mewakili, atau mencerminkan, dalam dirinya makrokosmos — dia adalah benar benar cermin yang diciptakan Allah untuk mengagumi Diri-Nya Sendiri. Hatinya, seperti dikatakan oleh murid Ibn ‘Arabi, Kasyani, dalam ulasannya mengenai surah 7:54, setara dengan Tahta llahi: kalimat dalam Al-Quran “Siapa yang ada di Tahta” mengandung arti “di atas Tahta hati Muhammad, dengan mewujudkan Diri-Nya sepenuhnya dengan seluruh atribut-Nya ke dalam sosoknya.

Sebagai insan kamil, Manusia Sempurna, Muhammad menjadi penghubung antara Allah dan dunia ciptaan; dia, bisa dikatakan sebagai barzakh, penengah di antara Yang Pasti dan eksistensi yang bergantung. Peranan Nabi sebagai prinsip penengah ini terungkap, menurut ajaran Ibn ‘Arabi, dalam kata-kata pengakuan iman itu sendiri, Muhammad rasul Allah: Muhammad adalah “prinsip yang mewujud,” rasul, utusan, adalah “perwujudan prinsip,” dan Allah adalah “Prinsip itu Sendiri.”

Unsur rasul itulah yang menghubungkan Prinsip itu Sendiri dengan prinsip yang mewujud. Dalam kedudukan ini Nabi menunjukkan suatu sifat ganda: kontemplatif dan reseptif, sebab dia merupakan sarana bagi wahyu Ilahi, tetapi juga tetap aktif dalam pengertian bahwa dia melaksanakan kehendak Ilahi di dalam dunia ini. Dia dapat dipandang sebagai prinsip pertama penciptaan, dan karenanya disamakan, oleh beberapa tokoh sufi yang lebih cenderung kepada filsafat, dengan Akal Universal; kadang kadang, dalam lagu lagu pujian yang puitikal, Akal Universal itu bahkan digambarkan sebagai bayi jika dibandingkan dengannya.

*Rumi, Diwan, no. 1793. Bandingkan juga. dengan baris yang terkenal dari karya Nizami dalam “Makhzan Al Asrar” (Kulliyat-i Khamsah, hal. 2):

Ahmad sang Utusan, yang di hadapannya akal menjadi debu Kedua dunia terikat oleh tali pelananya (fitrak).*

Dan karena dia adalah yang pertama tama diciptakan, maka dia merupakan nabi terakhir yang muncul dalam wujud sebagai manusia. Dalam peranan ganda ini dia menyandang seluruh Nama Ilahi dalam dirinya. Sedangkan seorang manusia biasa merupakan sarana perwujudan hanya untuk satu nama saja. Dengan demikian kalimat Al Quran dalam surah 5:5, yang diwahyukan pada waktu Muhammad melakukan ibadah haji terakhir, ditafsirkan sebagai mengungkapkan peringkat tertinggi Nabi ini:

“Hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kurelakan Islam menjadi agamamu.”

Sebab Muhammad, Penutup para Nabi, adalah penyempurna risalah para nabi, dan pada dirinya, sebagai penutup, seluruh kesempurnaan para pendahulunya disatukan sebagaimana jumlah suatu rangkaian aritrnatik mewakili seluruh angka . . . Pada hakikatnya mereka menyatu dengannya dan sama sama  menerima kehormatan yang diberikan kepadanya.

Lukisan lukisan tentang Muhammad yang abadi yang diciptakan oleh para sufi dalam bentuk karya prosa, dan kemudian juga puisi penuh dengan gaya bahasa yang berlebih lebihan dan memancarkan keindahan puitikal: mereka jauh sekali dari pernyataan Nabi yang sederhana, yang menganggap dirinya hanyalah sebagai “seorang manusia yang memberi wahyu”

Sebuah contoh yang sangat bagus terdapat dalam tulisan-tulisan ‘Abdul Qadir Jailani, pendiri Qadiriyah, yaitu tarikat sufi dengan jumlah pengikut terbesar, pada abad kedua belas (dia meninggal satu tahun setelah Ibn ‘Arabi dilahirkan):

Dia telah dipuja karena seluruh sifatnya yang agung; dia diberi persembahan segala kata. Karena sifatnya yang mulia, tiang tiang penyangga tenda seluruh eksistensi tetap tegak dl tempatnya; dia adalah rahasia  kata-kata kitab malaikat, makna huruf huruf “penciptaan bumi dan langit;” dia adalah pena Penulis yang telah menuliskan tumbuhnya benda benda ciptaan; dia adalah murid di mata dunia, guru yang telah menetapkan penutup eksistensi. Dia adalah yang menyusu kepada putihg wahyu, dan membawa misteri abadi itu; dia adalah penerjemah bahasa keabadian, Dia membawa bendera kehormatan dan menjaga kendali pujian; dia adalah mutiara utama pada kalung kenabian, dan permata pada mahkota para rasul. Dia adalah yang pertama sebagai penyebab, dan yang terakhir dalam eksistensi. Dia diutus dengan namus terbesar untuk membuka tabir kesedlihan, untuk membuat yang sulit menjadi mudah, mengesampingkan godaan hati, melipur kesedihan jiwa, memoles cermin batin, menerangi kegelapan hati, membuat kaya mereka yang miskin hatinya, dan melonggarkan ikatan ikatan jiwa

*Andrae, Die person Muhammads, hal. 338-39, mengutip karya Syattanaufi, Bahjat Al-Asrar, hal. 36. Namus adalah nomes dalam bahasa Yunani, tetapi di sini digunakan sebagai kekuatan malaikat atau spiritual. Lihat EI, edisi pertama, jil. 5, s.v. namus*

Muhammad dengan demikian menjadi satu satunya cita cita penciptaan, sebagaimana dilukiskan oleh hadits laulaka; tetapi lebih lebih lagi, melalui dia sajalah dunia mendapatkan eksistensinya, dan melalui dia sajalah karunia Ilahi disarnpaikan.

S.H. Nashr telah mengemukakan bahwa bahkan lukisan lukisan semacam itu, yang tampaknya begitu asing dengan gambaran sejarah Muhammad, telah berkembang secara sangat logis dari pemujaan yang ditujukan kepada Nabi. Meskipun Muhammad telah diingatkan dalam Al Quran agar mengatakan, “Aku hanyalah manusia seperti kalian juga,” kaum Muslim yang saleh segera menambahkan, “Memang benar, tetapi dia bagaikan mirah delima di tengah berbagai batuan”.

Secara lahiriah dia sama dengan mereka, tetapi secara batiniah dia membawa Cahaya Ilahi, yang sinarnya menjadi semakin tampak jelas sejalan dengan berlalunya waktu. S.H. Nashr di sini setuju dengan banyak sufi dan penyair Muslim yang telah berdebat dengan nada yang serupa. Ketika Ghalib, yang menulis di Delhi pada abad kesembilan belas, menyebut Nabi sebagai imam, yaitu permata panjang dalam tasbih Muslim yang ditempatkan terpisah dari yang lain lainnya tetapi tetap menjadi bagian integral dari tasbih itu, dia mengungkapkan perasaan yang sama yang tampak dalam pemhandingan Nabi dengan “mirah delima di tengah berbagai batuan.” Untuk membuat perbandingan ini lebih dekat dengan pemahaman para pembaca Barat, kita harus menambahkan bahwa mirah delima, menurut cerita rakyat timur, berasal dari batu biasa yang terus menerus menerima sinar matahari: karena itu mirah delima adalah sinar matahari yang berubah menjadi batu. Dengan demikian padanannya dengan Nabi sebagai manusia yang dibuat mampu menerima Cahaya Ilahi menjadi lebih bermakna.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa Hallaj — sepanjang pengetahuan kita, untuk pertama kalinya —  mengungkapkan gagasan tentang sifat ganda Nabi: sebagai siraj, sebagai lampu kenabian (nubuwwah), dia pra-abadi; tetapi peranannya sebagai utusan (rlsalah) dimulai dengan kemunculannya di atas bumi”.

Dalam teori beberapa sufi, Muhammad kadang kadang tampil sebagai mutha‘, “0rang yang dipatuhi.” julukan ini dapat dengan mudah diketahui asalnya dari ketentuan Al Quran untuk mematuhinya, dan dari surah 81:21. Bagi Sa‘di, dia adalah rasuluh mutha‘un, “nabi yang dipatuhi,” dan Jami‘ menamakannya “mutha‘ (yang dipatuhi) bagi manusia, dan muthz” (orang yang patuh bagi Tuhan)“.

Dalam karya esoterik Al Ghazali, Mlsykat Al Anwar (Ceruk untuk Cahaya) lagi lagi suatu kiasan mengenai kedudukan Nabi menurut ayat. Cahaya dari Al-Quran mutha‘ itu tampaknya adalah semacam Akal Pertama, sebagai pihak yang kepadanya tuntunan di dunia ini dipercayakan “suatu kekuatan kosmik, kepada siapa aturan dan gerakan alam raya ini bergantung.”

Hubungan antara Allah dan matha‘ diperbandingkan dengan hubungan antara esensi cahaya yang tak tertembus dan sinar matahari yang dapat dlihat. Teori teori Ghazali telah membingungkan para penafsir pertama karyanya, karena tampaknya mereka membayangkan suatu penafsiran Islam — penafsiran “makrifat” atau “teos0fikal” — yang dia perangi dengan gigih. Bagaimanapun juga, dalam konteks sejarah pemuliaan kepada Nabi, penafsirannya sangat sesuai dengan penafsiran yang menjadi semakin luas diterima di kalangan para sufi. Muhammad, purwa rupa dari alam raya dan juga individu, “murid di mata umat manusia,” Manusia Sempurna yang diperlukan oleh Allah sebagai perantara, yang melaluinya Dia dapat mewujudkan diri-Nya agar dikenal dan dicintai —-{ semua gagasan ini télah diuraikan seeara teologikal setelah Ibn ‘Arabi oleh para pengikutnya, yang di antara mereka ‘Abdul Karim Al Jili pada akhir abad keempat belas menempati kedudukan yang panting dikarenakan teori teorinya mengenai Manusia Sempurna. Syair puji pujiannya untuk Nabi mermuat teori teori yang relevan secara ringkas:

Wahai Pusat kompas! Wahai lahan terdalam kebenaran! Wahai poros kepastian dan kemungklnan!
Wahal mata seluruh daur eksistensi.’ Wahal titlk Al-Quran dan Al—Furqan! Wahal orang yang sempurna, dan penyempurna dari yang paling sempurna, yang telah diperindah oleh keagungan Allah Yang Maha Pemurah! Engkau adlalah Kutub (quthb) dari segala hal yang menakjubkan Lingkaran kesempurnaan dalam kesendirianan berpaling kepadamu. Engkau transenden, engkau kekal, milikmu adalah semua yang diketahui dan yang tldak diketahui, abadi dan takkan musnah Millkmu dalam realilas adalah Maujud dan bukan maujud: nadir dan zenit adalah dua bajumu. - Engkau sekaligus cahaya dan kebalikannya, tetapl engkau menjadi kegelapan hanya bagi suatu makrifat yang kacau

Kepercayaan kepada peranan Muhammad sebagai prinsip penggerak dunia ini menjadi dasar bagi hampir semua lagu lagu pujian untuk menghormati Nabi, sebagaimana itu dilagukan dalam bahasa Arab dan bahkan Persia, Turki, dan Urdu. Hal itu juga tercermin dalam gambaran gambaran populer tentang kelahiran Nabi dan perjalanannya ke langit.

Tampaknya seolah olah para penyair telah mendahului para ahli teologi dengan memberikan kepada Muhammad nama nama dan julukan julukan yang lebih cemerlang, dan dengan memuji mujinya dengan berbagai kata pujian yang berlebih lebihan. Syair Sana’i dan ‘Attar, yang ditulis jauh sebelum Ibn ‘Arabi melakukan sistemisasi terhadap “Muhammadologi” mistikal, membuktikan bahwa gagasan gagasan ini telah ada jauh sebelumnya. Setelah Ibn ‘Arabi, yang ajaran ajarannya biasanya diterima dan disebarkan ke seluruh tarikat sufi yang berkembang pesat, mereka menyaringnya pada semua tingkat tasawuf, dan tampil secara lebih lantang lagi dalam lagu lagu pujian yang dinyanyikan untuk menghormati Nabi, mulai dari Maroko hingga India.

Di mata para sufi masa sesudahnya, Nabi tampak sebagi fajar yang berada di antara malam dari kehidupan makhluk dan siang dari cahaya Ilahi; melalui dialah orang bisa mengalami siang hari, dan dialah yang merupakan awal dari Hari Ilahi. Seperti dikatakan oleh seorang sufi Naqsybandi di Sindh pada abad kedelapan belas:

Menakjubkan sekali realitas kawan itu (yaitu, haqiqah Muhammadiyyah): Orang tidak dapat menyebutnya Tuhan, tetapi juga bukan makhluk. ’ Sebagaimana fajar dia menyatukan malam dan siang.

Orang boleh menafsirkan peranan Nabi ini dalam citra citra yang berlainan: sebagai Penutup para Nabi, Muhammad bagi dunia ini adalah seperti batu untuk cincin, sebab pada batu itu tertulis sesuatu yang
dipakai raja untuk menyegel peti peti hartanya. Banyaknya perujukan tak langsung kepada hati sebagai ciri pengenal dalam literatur Islam pada abad-abad setelah Ibn ‘Arabi menulis karyanya mengenai profetolegi, yaitu Fushush Al Hikam (Permata Kebijakan), mungkin karena terilhami oleh karya ini, yang pada judulnya simbolisme ciri pengenal itu tampak nyata.

Dalam penafsiran mistikal mengenai peranan Muhammad, perujukan perujukan tak langsung Al Quran kepada dirinya selalu dipenuhi dengan makna baru, dan isi perujukan perujukan tak langsung itu sering terungkap dalam citra citra yang sangat berani — entah itu surah 54:1, “Telah dekat terjadinya kiamat, di mana bulan akan belah” atau surah 93, “Demi cahaya Pagi!” atau surah 17:1 dengan perujukan perujukan tak langsungnya kepada perjalanan malam, atau surah 53, “Bintang”.

Satu surah pendek Al Quran, surah 108, surah Al Kautsar, adalah yang paling disukai oleh kaum sufi, yang kebanyakan di antaranya telah menganggapnya sebagai ungkapan yang paling indah tentang kesempurnaan karunia yang diberikan oleh Allah kepada Nabi-Nya. Kata kautsar, dari akar k-ts-r, “banyak,” telah ditafsirkan sebagai nama sebuah air mancur yang diberkahi di surga; tetapi sekaligus ia juga menjadi lambang karunia sangat besar yang membedakan Nabi yang menerimanya, sedangkan musuh dan pemfitnahnya dihukum dan menjadi abtar, “yang putus”. Sebuah contoh khas penafsiran dari masa selanjutnya atas surah ini adalah yang ditulis oleh seorang sufi Naqsyabandi di Sindh pada abad kedelapan belas, ‘Abdur Rahim Girhori.

Ulasan puitikalnya yang panjang atas surah 108, dalam bahasa Sindh, jelas dipengaruhi oleh syair besar Jami‘, yang, seperti juga dia, menjadi anggota tarikat Naqsyabandiyah”. Tetapi dia melangkah lebih jauh dari gurunya di Herat dan membuat Allah berkata, di antara kata-kata pujian yang melambung lainnya untuk Nabi:

Begitu banyak karunia yang tidak Ku berikan kepada siapa pun kecuali engkau. Engkau adalah pemegang  cangkir di depan air mancur itu teruskan kini penyebarannya, wahai orang yang berani! Kunci kunci menuju kekuasaan telah kuserahkan ke tanganmu, wahai kawan; Pengetahuan tentang langit dan bumi adalah karunia untuk Ahmad. Batu filosof itu telah kuberikan kepadamu, obat ajaib Adam, wahai kawan. Untuk Isa, sebagian tertentu dari karunia itu telah (diberikan) dari 0bat ajaib ini, Yang dengan itu orang yang mati dibangkitkan, orang yang tuli bisa mendengar Untuk orang buta: mata jadi bisa melihat; dan orang lepra  lepaslah penyakit itu Apa pun yang tertulis dalam Taurat adalah bagaikan sesesap air dari samudera luas,  seluruh ketampanan Yusuf adalah tanda karunia itu. Hanya sedikit dari cinta kasihmu, wahai Ahmad, telah  sampai kepada Zulaikha Surga adalah bagian dari samudera itu, seolah olah ia merupakan es samudera itu.

Neraka berada di depan pintumu, memohon bagaikan peminta minta, Tanpa izinmu ia tak memiliki  kekuatan untuk membakar orang orang kafir Surga adalah perwujudanmu yang sangat indah, suatu pandangan penuh cinta Rupa kemarahanmu, wahai orang yang suci, adalah api neraka. Langit, bumi, surga tertinggi, Tahta Tuhan, manusia, jin, dan para malaikat Hidup, Kekasihku, dengan selalu bergantung kepadamu. Sayang, umat manusia menjadi berharga karena cahayamu, Karena cerminanmu, Cintaku, kuncup dan bunga bermekaran. . ..
* Semua gagasan ini tentu saja tidak baru; yang baru adalah penggunaannya dalam bahasa Sindh. Lihat misalnya Jami‘, Diwan, h. 195, ghazal no. 157:

Wahal engkau yang cemerlang! “Demi cahaya pagi” (surah 93: 1) adalah dahimu, “Demi malam!” (surah  92: 1) adalah selubungmu yang berwama batu ambar; Thaha (surah 20) adalah lembar dari kisahmu, Yasin (surah 36) adalah batas lengan bajumu; Surga adalah hasil karuniamu yang berlimpah; Neraka adalah percikan bara kemarahanmu.

Dalam tradisi Sindh, sebuah Siharfi modern oleh Kamal Faqir (wafat 1927) mengungkapkan gagasan gagasan yang sama dengan sangat jelas: bukan hanya para nabi itu tampil sebagai muird murid Muhammad, tetapi Taurat dan Injil pun merupakan ulasannya; dalam Baloch, Tih Akharyun, 1: 294-303.*

Tentu saja mungkin bahwa gagasan-gagasan yang begitu tinggi mengenai peringkat primordial Muhammad dan kedudukan utamanya dalam sejarah alam raya akan merosot menjadi citra citra dongeng yang aneh, terutama pada tingkat rakyat, dan ungkapan yang tepat dalam bahasa Persia hama ust, “Segala sesuatu adalah Dia,” benar-benar menuntun para penyair yang bodoh ke arah apa yang dapat dikatakan sebagai pernyataan pernyataan “bid‘ah” karena keinginan mereka untuk memuji muji Muhammad setinggi mungkin.

Tetapi, para ahli teologi dan pakar yang lebih waras selalu sadar akan adanya bahaya ini. Sesungguhnyalah, bagaimana mereka tidak begitu, sedangkan seorang penyair Urdu pun berani berlantun: (*admin: puisi di bawah hanya sebagai contoh betapa pemujaan terhadap Nabi Muhammad yang Agung, kadang melampaui batas keimanan, untuk itulah diperlukan kontrol kesadaran iman yang tinggi) Bagaimana orang tahu peringkat Pemimpin dunia kita itu? Jika engkau ingin mencapai Tuhan, kenali Muhammad sebagai Tuhan!

*Enamul Haqq, Sufism in Bengal, h. 94, catatan 2. Pada bulan Desember 1982 seorang wanita Turki yang sering mengunjungi seorang guru sufi di Istanbul mengatakan kepada saya, dengan penuh ketakutan, bahwa para murldnya menganggap bahwa Muhammad itu benar benar sama dengan Allah — bagaimana dia sebagai Muslim yang berpegang-teguh kepada syari‘ah dapat bergaul dengan orang orang semacam itu?
Bahkan para pengikut paling setia Ibn ‘Arabi mungkin akan ngeri dengan perkataan semacam itu, “Tuhan tetap Tuhan, dan hamba tetap hamba”

Tampaknya penambahan dongengan kepada kisah penciptaan yang menyangkut Muhammad itu bukannya tidak diketahui, terutama di lingkungan India, Syaikh Chand, penyair Bengal dari Abad Pertengahan yang kata katanya mengenai Cahaya Muhammad kita kutip sebelumnya, melukiskan penciptaan dunia dari tubuh Muhammad primordial dalam istilah istilah yang begitu konkret dan mengingatkan kita kepada dongengan Vedic:

Tujuh langit itu diciptakan dari tujuh bagian tubuh Muhammad: Langit pertama adalah langit langit mulut, yang kedua dari dahi, Yang ketiga adalah dalam lubang hidung, yang keempat adalah dasar bibir atas.
Yang kelima, engkau tahu, adalah tenggorokan, Yang keenam ada di dalam dada, Yang ketujuh ada di dalam pusar.

Qazi Abdal Mannan, “Sufi Literature in Bengal,” h, ll. Gagasan itu mengingatkan kepada Purusa sakta dalam tradisi Veda, meskipun sebagian orang mungkin lebih suka melihat pengaruh pengaruh dongeng dongeng Qadmon Adam Makrifat. Tetapi di Bengal, pengaruh India lebih besar daripada pengaruh mitologi Timur Dekat.
Dalam sistem klasikalnya Jili para malaikat diciptakan dari kekuatan spiritual Muhammad (Israil dari jantungnya, Izra‘il dari penilaiannya, dan sebagainya).Tetapi Syaikh Chand mengatakan kepada para pen-
dengarnya bahwa mereka muncul dari tubuh primordial Nabi: 

Farista (malaikat: bahasa Persia firisyta) Israfil diciptakan dari hidung Dan Izra‘il dari telinga, Dari mulut keluar Zibril (Jibril) Dari mata munecul Mika ‘il. Bersama setiap farista datanglah 70.000 lagi Dari setiap helai rambut masing-masing farista terlahir farista lain, Dari 300 juta rambut di badan muneul 300 juta farista. Dengan demikian dari nur Muhammad terjadilah penciptaan.

Dan, lanjut pengarang, atas perintah Tuhan ciptaan ini menjadi murid Muhammad. Mengingat kedudukan Muhammad yang unik maka tidaklah mengherankan bahwa namanya dilantunkan dalam doa doa yang tak terbilang banyaknya, dan bahkan dalam mantra-mantra sihir, untuk memastikan keberhasilan dan meminta bantuan. Sebuah contoh yang bagus adalah doa panjang berbahasa Persia, yang dinamakan Munajat-i kun fa yakun (Doa “]adi, dan Jadilah”) di mana bukan hanya nama nama semua nabi, para sahabat, imam, dan orang-orang suci disebutkan, tetapi juga empat puluh kali permohonan “Demi kehormatan . . .Muhammad,” biasanya dilantunkan dalam pasangan irama atau aliterasi; misalnya:

Demi kehormatan sifat, khu, Muhammad dan ikal, gesu, Muhammad, _
Demi kehormatan  hati, dil, Muhammad, dan lempung, gil, / Muhammad, Demi keharmatan ketampanan, jamal, Muhammad dan kesempurnaan, kamal, Muhammad, Demi kehormatan selera, dzauq, Muhammad dan kerinduah, syauq, Muhammad, Demi kehormatan jalan, thariqat, Muhammad dan hukum, syariat, Muhammad, Demi kehormatan mahkota, taj, Muhammad dan perjalanan ke langit, mi‘raj, Muhammad, Demi kehaormatan perjalanan, safar, Muhammad dan kemenangan, zhafar, Muhammad, - Demi kehormatan penengahah, syaf`at, Muhammad dan keberanian, syaja‘at, Muhammad. . .

Puji-pujian lain, yang dikatakan dapat “menyembuhkan penyakit,” menggunakan rumusan rumusan yang sama: setelah pengakuan imam diikuti dengan rumusan
Tidak ada penyakit dan luka yang tidak ada obat atau penyembuhannya Demi kehormatan Muhammad Rasul Allah
Lalu diikuti dengan nama seorang Sahabat Nabi, lalu pengulangan yang sama atas rumusan pertama, dan seterusnya sampai semua Sahabat dan semua khalifah (atau, dalam puji pujian yang berkaitan, semua
anggota tarikat tarikat sufi dari Nabi hingga orang orang suci terkemuka abad pertengahan) disebutkan satu demi satu. Tetapi, puji-pujian untuk Muhammad merupakan titik utama semua puji-pujian ini. Mereka juga menjadi bukti bagi kepercayaan yang tak tergoyahkan dari kaum beriman kepada kekuatan Nabi, dan keyakinan mereka kepadanya, yang pertama dan terakhir dalam rangkaian para nabi.

Adalah mengherankan bahwa meskipun Nabi menempati kedudukan terpenting dalam tradisi sufi, dan terutama dalam ajaran sufi populer pasca abad ketiga belas, banyak kritikus dari luar tetap sadar akan peranan mulia yang dimainkannya dalam kehidupan beragama para pengikutnya. Ini tampak jelas dari contoh mengenai beberapa penafsir Hindu atas puisi Muslim di India. Meskipun sejumlah orang Hindu adalah pengikut setia orang orang suci Muslim, dan bahkan melantunkan lagu-lagu pujian untuk Nabi dalam bahasa Urdu dan Sindh, tampaknya banyak di antara mereka yang tidak dapat mengukur kedalaman pemujaan mistikal kepada Nabi.
Sebuah contoh bagus adalah Lilaram Watanmal, yang pada 1889 menerbitkan buku pertama yang bercakupan luas mengenai penyair sufi Sindh, Shah ‘Abdul Latif. Dia menulis dengan cara yang rendah hati:

Shah Latif pun, dalam karyanya Risalo, di beberapa tempat, telah mengesankan pendengarnya tentang perlunya kepercayaan kepada Muhammad sebagai seorang nabi dan sesuatu lainnya. Memang benar bahwa sebagian dari puisinya yang memuji-muji nabi, yang agak kasar bahasanya, bukan milik penyair kita   . . Tetapi tidak dapat diragukan lagi bahwa ada beberapa puisi asli di mana penyair kita telah mengungkapkan kepercayaan penuhnya kepada nabi . . . Kaum Mahommad (sic) mungkin mempercayainya sebagai nabi utama dari Tuhan. Tetapi kaum sufi tidak dapat, sesuai dengan doktrin doktrin panteistik mereka, mengatakan bahwa Mahommad adalah satu satunya sarana penyelamatan . . . Ada kemungkinan bahwa Shah Latif ingin menuntun pikiran para pengikutnya secara pelan pelan dan lambat laun menuju ajaran sufi yang lebih tinggi dengan membiarkan mereka untuk pertama tama mempercayai nabi mereka, dan kemudian setahap demi setahap naik lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

Watanmal, yang, seperti semua ahli tafsir Hindu lainnya atas puisi Sindh dan Punjab, berusaha menjelaskan ajaran sufi sebagai suatu versi yang kurang lebih bersifat panteistik dan agak keislam-islaman dari ajaran mistik Veda mengenai Keesaan, mungkin telah mengenal Islam dari luar tetapi tidak begitu sadar akan kedudukan utama Muhammad sebagai penengah dan “tiang cahaya,” sebagai Manusia Sempurna dan yang pertama dan terakhir di antara para nabi, sebagaimana terungkap selama berabad abad dalam berbagai citra dan lambang, dan sebagaimana hal itu ditetapkan sebagai yang sangat menentukan dalam pengalaman keagamaan di lingkungan yang luas di dunia Islam.

Bagaimanapun juga, kita harus selalu ingat akan satu fakta penting: meskipun Muhammad diangkat ke ketinggian yang terpuji dan mencapai kedudukan yang dapat diperbandingkan, dalam cara tertentu, dengan kedudukan Logos dalam teologi Kristen, _bahkan sebagai Manusia Sempurna, dia tetaplah ‘abduhu — hamba Tuhan dan makhluk ciptaan-Nya, yang paling dicintai di antara semua ciptaan-Nya. Meskipun beberapa penyair tampaknya melanggar batas-batas yang sewajarnya dalam puji-pujian mereka, gagasan mengenai suatu inkarnasi dalam pengertian Kristen mutlak mustahil dalam tradisi Islam.

Selama berabad-abad kaum ortodoks Islam merasa, dan itu dapat dipahami, tidak cocok dengan pemujaan mistikal yang terus tumbuh untuk Nabi, yang tampaknya di mata kebanyakan mereka terlalu berlebih lebihan dan tidak selaras dengan jiwa esensial Islam. Dengan tepat mereka,menyatakan bahwa poros Islam itu bukan soosok Nabi melainkan Firman Tuhan, sebagaimana yang diwahyukan melaluinya dan dituliskan dalam Al-Quran. Sekalipun demikian, tampaknya kecintaan yang melimpah untuk Nabi, kepercayaan kepadanya dan pemujaan kepadanya, merupakan faktor yang menentukan dalam penggubahan puisi dan kesalehan rakyat, dan menawarkan kepada kaum Muslim suatu objek manusia yang kepadanya mereka dapat menumpahkan perasaan kelembutan dan kekaguman mereka.

Aspek manusiawi Nabi, dan kemungkinan bertemu bermuka muka dengannya, yang tampaknya lebih dapat dicapai dibanding Esensi Ilahi yang abadi, mengisi hati mereka dengan kebahagiaan. Dan barangkali merupakan suatu akibat wajar dan logis dari kecenderungan “Makrifat” tasawuf Islam dari masa sesudahnya, di mana pertemuan yang penuh kasih sayang antara manusia dan Tuhan Pribadi yang sekaligus adalah Pencipta, Penjaga dan Hakim, tidak lagi dianggap mungkin, sehingga imajinasi kaum beriman berpindah kepada penghormatan kepada Nabi, yang dengan segala kebesaran mistikalnya tetap meyupakan sosok manusia yang kepadanya sesama makhluk dapat berpaling dengan penuh kasih sayang, harapan, dan pemujaan, yang kemudian mereka usahakan untuk mengungkapkannya dalam kata kata yang baru, lebih kaya warna dan ekstatik.
Post a Comment