Sunday, July 15, 2012

TEMPAT DAN SUMBER TAUHID

Salah seorang sufi Iskadariyah berpendapat مَاطَاِلعُ ْاَلاْنوَارِ اْلقُلُوْبُ َواْلاَسْرَار  maksudnya : “ tempat terbitnya berbagai cahaya Illahi itu ada dalam hati manusia dan rahasia-sahasianya”7, Apabila Iman (Tauhid) itu ada dibagian Luar hati, maka seorang hamba akan mencintai dunia dan akhirat, yakni sebagian mencintai Alloh dan sebagian mencintai dirinya.  Dan apabila iman telah masuk kedalam lubuk hati maka dia akan membenci dunianya dan ditolak kehendak hawa nafsunya.

Hati قلب merupakan sumber keimanan, keyakinan, cahaya, maqom, dan ahlwal, rahasia, dan penyaksian (suhhud). Tetapi hati yang dimaksud pada bab Tauhid ini bukanlah hati menurut ilmu kedokteran, tetapi hati yang tidak berbentuk. Sehingga dengan hati yang tidak berbentuk itu dapat hadir segala-sesuatu diluar nalar manusia. Hati merupakan ruang tak terbatas, segala sesuatu pasti memasukinya, sehingga hati memiliki atsar (bekas) seperti : sedih, gembira, takut, sesal, senang dan sebagainya. Oleh karena pada bab ini hati terbagi kedalam :

  1. Hati yang jujur فؤاد , ia jujur dengan apa yang dilihatnya dengan mata kepala, sebagaimana tercantum didalam al-Qur’an :

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى

Artinya : “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” (An-najm : 53).8

  1. Hati yang belum mantap قلوب , sehingga ia bimbang dalam memutuskan keyakinan yang haq dan batil, sebagaimana tercantum di dalam  al-Qur’an :

…وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً …

Artinya : “…dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang …”( Q.S Al-Hadid : 27)

  1. Hati yang menunjukan asal kejadian صدر , ia bersifat dzahiri serta penuh keakraban.

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

Artinya : “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”. (Q.S al-Hijr : 47)9

Indikasi-indikasi hati :

  1. Hati yang tertutup, sehingga ia buta, tuli sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an :

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Alloh telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Q.S. al-Baqoroh : 7)

  1. Hati yang Munafiq, sehingga ia berpenyakit, sebagaiman tercantum dalam al-qur’an :

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Artinya : “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. (Q.S. al-Baqoroh : 10)

  1. Hati yang bodoh

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا

Artinya : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh)” (Q.S. Al-A’rof : 179)

  1. Hati yang merasa takut karena berkarat akibat dosa :

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ

Artinya : “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”.(Q.S. Ali-Imron : 151)

  1. Hati yang terkena virus, sehingga pingin memerintah

يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

Artinya : “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.(Q.S al-Anfal : 12)

  1. Hati yang sulit menerima kebaikan/nasehat ketuhanan

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Artinya “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman”.(Q.S al-baqoroh : 6)

  1. Hati yang tidak senang mendengar kebaikan, kebenaran Alloh dan Rosul-Nya

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

Artinya : “Dan apabila hanya nama Alloh saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Alloh yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati”. (Q.S Az-Zumar : 45)

  1. Hati yang penuh dengan prsangka

بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا

Artinya : “Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mu’min tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa”. (Q.S al-Fath : 12)

  1. Hati yang disegel mati oleh Alloh

…كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الْكَافِرِينَ

Artinya : “… Demikianlah Alloh mengunci mati hati orang-orang kafir.” (Q.S Al-A’rof : 101)

Demikian pembagian indikasi hati yang ada pada jasad manusia. Jika kita merawat hati kita untuk ber-Tauhid pada Alloh Swt, maka Hati itu akan bersinar menerima Sirr dari Alloh Swt. Dan jika sebaliknya maka hati kita akan buta, banyak prasangka, bodoh, munafiq dan dikunci mati oleh Alloh Swt A’udzubillahimindzalik. Tauhid yang dimaksud adalah “La Illaha Illa Alloh” , atau para mutakalimiin menyebut dengan aqidah uluhiyah.

Tauhid bukanlah sebuah argumentasi melainkan sebuah keyakinan yang harus di I’tikadkan oleh setiap mansia. Oleh karena itu Tauhid yang sejati adalah menenggelamkan diri kedalam lautan Rubbubiyah (Keesaan Alloh), sehingga kebasyriahannya fana, tajalli, dan binasa dengan cahaya Rububiyah.

Yang dimaksud tenggelam kedalam lautan Rububiyah ini adalah kemampuan untuk berinterkasi dengan Alloh, kemampuan untuk ta’at, dan menjauhi larangan-Nya. Sementara yang dimaksud dengan fananya kebasyariyhan, adalah hilang, lenyap, binasanya sifat-sifat kemanusiaan sehingga yang nampak adalah kebaikan (Akhlak Alloh) maka sampai lah pada Hadits Nabi Muhammad Saw. “ia melihat dengan penglihatan Alloh, mendengar dengan pendengaran Alloh..”, karena sudah samapai pada Maqom Qudrat dan Irodat-Nya sebagaimana ia merasa berada dalam Qudrot Irodat Alloh. Inilah maqom para Waliyulloh dan Nabiyulloh.

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa antara Nabi-nabi yang bukan  Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.

Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, “Esok engkau dikehendaki keluar  dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau  sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam.  Nabi itu kebingungan sambil berkata, “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.”

Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga  menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan  syukur ‘Alhamdulillah’.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas  Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun  menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.

Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu.” Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu  terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata,  “Wahai Nabi Alloh, tolonglah aku.”

Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung  helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Alloh, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah  engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara  itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat  daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.

Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari  dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada  malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, “Ya Alloh, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku,  maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini.”

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Alloh S.W.T. bahwa, “Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi  pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.

Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah  kamu khianat kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat.  Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita  sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah  kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Alloh  akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, “Wahai Alloh, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku  kerjakan di dunia dulu.”

Maka berkata Alloh S.W.T., “Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu.” Dengan ini haruslah kita sedar bahwa walaupun apa yang kita kata itu  memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


KEDAISUFI2
Kita yang ditakdirkan hidup pada kurun sepeninggal Nabi Muhammad dan menjadii muslim karena keturunan, tidak salah jika lebih dulu mengenal syariat sebelum makrifat. Tetapi, kebanyakan muslim awam, bahkan tidak tahu sama sekali bahwa setelah syariat wajib mempelajari makrifat; bahwa di dalam Islam juga ada ajaran tauhid yang wajib dipelajari guna melengkapkan ibadah kita kepada Allah Swt.. Bahkan, banyak sekali muslim yang tertipu dengan fatwa anonim bahwa, “Ingin tahu tentang Tuhan itu dosa!”

Padahal, justru inilah anjuran Nabi sejak awal. Padahal, inilah tujuan utama penciptaan manusia. Sedangkan yang dilarang itu mengira-kira tentang Tuhan dengan akal telanjang atau memikirkan Tuhan tanpa berdasarkan ilmu agama.

Tauhid adalah fardu. Mencari yang halal juga fardu. Mencari ilmu-ilmu yang menyangkut kegiatan sehari-hari juga fardu. Ikhlas dalam beramal juga fardu. Tidak meminta ganti dalam beramal juga fardu. (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani)

Rasul Saw. mengajarkan bahwa fitrah ke-manusia-an itu sesungguhnya cenderung kapada agama tauhid dan senantiasa membutuhkan Tuhan. Oleh sebab itu, beliau bersabda,

awwaluddinmakrifatullah
Awal agama adalah mengenal Tuhan, 'awwaluddin makrifatullah'.


Sabda beliau ini diperkuat oleh dalil-dalil yang menerangkan tujuan penciptaan manusia, seperti tersurat dalam firman-firman Allah Swt. berikut ini. 
  • Aku adalah harta yang tersembunyi. Aku ingin dikenal, maka Aku menciptakan makhluk (hadis qudsi). 
  • Tidak kuciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku.(Q.S. Aż-żariyāt:56) 
  • Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Q.S. Al-Baqarah:30) 
  • Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku,....(Al-Hijr:29) 
  • Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Rūm:30) 
  • Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Q.S. Al-Mu`minūn:115) 

Mempelajari tauhid sesungguhnya wajib bagi setiap muslim. Sama wajibnya dengan mengerjakan ibadah fardu lain. Jika kita cermati sejarah penyebaran Islam selama ±23 tahun, tercatat bahwa pada mulanya yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. adalah ajaran aqidah (tauhid); mengenai siapa manusia itu dan siapa, di mana, dan bagaimana yang benar-benar disebut Tuhan itu. Adapun perintah mengerjakan ibadah syariat baru turun pada tahun ke-11 ketika beliau mengalami peristiwa Isra Mikraj.
Jadi, dalam Islam sejatinya makrifat mendahului syariat.
|___Periode Makrifat_____|_____Periode Syariat_____| 
Menjadi Nabi                    Isra Mikraj                                     Wafat


I
nti ajaran tauhid adalah mengenal siapa yang disembah sebelum melakukan penyembahan. Ibnu Abbas, seorang mufasir Alquran periode awal, menafsirkan kata-kata “beribadah kepada-Ku” (ya`budūni) dalam Q.S. Aż-żariyāt: 56 bermakna “mengetahui-Ku” (ya`rifūni) (Karamustafa dalam pengantar buku Mencari Tuhan, 2006). Memang, tidak logis jika kita mengabdi pada raja atau sultan yang tidak kita kenali. Prinsip agama sebagai (penggunaan) akal (adīnul aqli) menuntut hal ini. Jangan sampai keber-agama-an manusia berakal maju kembali seperti keber-agama-an manusia primitif—yang menyembah berhala-berhala akibat persangkaan-persangkaan mereka tentang teori ketuhanan. Tauhid mengingatkan manusia bahwa penobatan Tuhan sebagai Tuhan tidaklah sahih jika kriterianya didapat melaluii persangkaan manusia semata. 

Hanya Tuhan yang mengetahui Tuhan.

Sebuah hubungan baru terjalin dengan baik setelah seseorang memperkenalkan dirinya atau setelah terjadi proses saling mengenal. Sederhananya, dalam ajaran tauhid Allah-lah yang lebih dulu memperkenalkan Diri, Zat, Nama, Sifat, dan Perbuatan-Nya kepada makhluk melalui firman-firman-Nya. Ini agar manusia tidak lagi mengulangi kebodohan umat-umat sebelumnya.


Untuk menyinggung satu sifat saja, Allah menurunkan banyak dalil dalam Alquran yang menginformasikan bahwa Ia bersifat Maha Mengetahui. Berikut ini beberapa petikannya.


  • Allah meliputi langit dan bumi. (Q.S. Al-Baqarah: 255)
  • Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.(Q.S. Al-Baqarah: 115)
  • Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(Q.S.Al-Hadīd: 4)
  • Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. (Q.S. Al-Baqarah: 186)
  • Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). (Q.S. Al-An`am: 59)
  • Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. (Q.S. Yunus: 61)


Berdasarkan petikan ayat-ayat di atas, kita paling tidak menyadari kelogisan mengapa Tuhan itu Mahatahu. Premis-premis di atas mengisyaratkan bahwa Allah meliputi seisi alam sehingga ke mana pun memandang di situlah “Wajah”-Nya. Jadi, Tuhan itu dekat, berada di mana saja kita berada (berbeda dengan kalimat "Tuhan itu ada di mana-mana" <-- ini pandangan yang tersesat). Allah Mengetahui gugurnya sehelai daun karena Allah meliputi seluruh alam, seperti air yang meliputi tubuh ikan di samudera. Ya, kita ini diliputi oleh Allah! Kita senantiasa berenang-renang dalam samudera ketuhanan; tidak terpisah dari-Nya sedetik pun. Sangat logis jika Allah Maha Mengetahui segala sesuatu karena segala sesuatu itu berada “di dalam” Allah sendiri. (Pemahaman ini sekadar pemahaman tauhid dasar yang tidak dimaksudkan untuk mengecilkan makna kemahatahuan Allah yang hakiki. Allahualam bishawab)


Dengan mempelajari ilmunya, atas Izin-Nya setiap muslim akan benar-benar merasakan kehadiran Yang Kuasa. Atas Kehendak-Nya, setiap muslim akan serta-merta menjadi ihsan tanpa perlu meng-ihsan-ihsan-kan diri., Dengan pemahaman sederhana seperti itu saja, beramal ibadah rasanya menjadi mudah (padahal, kita belum lagi membahas dalil Q.S. Qāf:16 yang berbunyi:”Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Bukankah urat leher itu ada di dalam tubuh kita?! Ternyata Allah Swt. lebih dekat lagi).



Allahua'lam.

Post a Comment