Sunday, July 15, 2012

PEMBERSIHAN HATI MENUJU MA’RIFAT TAUHID

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Adapun fase-fase yang harus ditempuh  kearah mencapai hakikat, mutashowif (muta’alim) dapat melakukan amal ibadat cara menuju kepada Tuhan dengan menempuh empat fase :

Fase 1. Disebut dengan murhalah amal lahir. Artinya : berkenalan melakukan amal ibadat yang dipardukan dan sunnat, sebagai mana yang dilakukan Rosulullah Saw.

Fase 2. disebut amal batin atau moraqabah (mendekatkan diri pada Alloh) dengan jalan menyucikan diri dari maksiat lahir dan batin (takhalli), memerangi hawa nafsu, dibarengi dengan amal yang terpuji (mahmudah) dari taat lahir dan batin (tahalli) yang semuanya itu merupakan amal qalb (hati). Setelah hati dan ruhani telah bersir dan diisi dengan amalan batin (dzikir), maka pada fase ini mutashowif didatangkan nur dari Tuhan yang dinamakan nur kesadaran.

Fase 3. disebut murhalah riadhah/ melatih diri dan mujahadah/ mendorong diri. Maksud dari dari pada mujahadah yakni melakukan jihad lahir dan batin  untuk menambah kuatnya kekuasaan ruhani atas jasmani, guna membebaskan jiwa kita dari belenggu nafsu duniawi, supaya jiwa itu menjadi suci, Imam ghazali mengumpamakan seperti kaca cermin yang dapat menangkap sesuatu apapun yang bersifat suci, sehgingga salih dapat menerima informasi hakiki tentang Alloh.

Fase 4. disebut murhalah “fana kamil” yaitu jiwa mutashowif telah mencapai pada martabat menyaksikan langsung yang haq dengan al-haqq (syuhudul haqqi bil haqqi). Pada fase keempat ini, sebagai puncak segala perjalanan, maka didatangkan nur yang dinamakan “nur kehadiran”

Keempat fase ini adalah tahapan-tahapan secara garis besar dari semua guru-guru Tarekat, baik tarekat ‘Am maupun tharikat Khas, yang mesti dilakukan oleh mutshowif. Jika kita memandang rasi sudut tharikat Khas, dalam proses penyucian hati dengen metode suluk misalnya pandangan Tharekat Qadiriyah (Syekh Abdul-Qadir Ajjailani), dimana tarekat tersebut mengedepankan aspek praktis dalam berdzikir terutama dalam melantunkan asma’ Alloh secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya terdapat berbagai tingkatan penekanan dan intensitas. Ada dzikir yang terdiri dari satu, dua, tiga, dan empat.

Dzikir yang dilakukan dengan satu gerakan dilakukan dengan mengulang-ulang Asma Alloh, melalui tarikan nafas panjang yang kuat, seolah-olah dihela dari tempat yang tinggi, diikuti penekanan dari jantung dan tenggorokan, kemudian dihentikan sehingga nafas kembali normal. Hal ini harus diulang secara konsisten untuk waktu yang lama. Dzikir dengan dua gerakan dilakukan dengan duduk dalam posisi shalat, kemudian melantunkan asma Alloh di dada sebelah kanan, lalu dijantung, dan kesemuanya dilakukan dengan berulang-ulang dengan intensitas tinggi. Hal ini dianggap efektif untuk meningkatkan konsentrsi dan menghilangkan rasa gelisah dan pikiran yang kacau. Dzikir dengan ketiga gerakan dilakukan dengan duduk bersila dan mengulang pembacaan asma Alloh di bagian dada sebelah kanan, kemudia di sebelah kiri, dan akhirnya di jantung. Kesemuanya itu dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi dan pengulang dan yang lebih sering. Dzikir dengan keempat gerakan dilakukan dengan duduk bersila dengan mengucapkan asma Alloh berulang-ulang di dada sebelah kanan, kemudian disebelah kiri, lalu ditarik kerah jantung  dan terakhir dibaca di depan dada. Cara terakhir ini dilakukan dengan lebih kuat dan lebih lama.

Setelah melakukan dzikir, tarekat Qadiriyah menganjurkan untuk melakuakan apa yang disebut  pas-i anfas, yakni mengatur nafas sedemikian rupa sehingga dalam proses menarik dan menghembuskan nafas, asma Alloh bersirkulasi didalam tubuh secar otomatis. Kemudian diikuti dengan muraqabah atau kontempalsi. Dianjurkan untuk berkonsentrasi pada sejumlah ayat al-Qur’an ataupun sifat-sifat Illahiyah tertentu hingga sungguh-sungguh terserap ke dalam konsentrasi.

Tarekat Sammaniyah juga memiliki pandangan mengenai suluk dalam hal ini tarekat Sammaniyah membagi dzikir kedalam empat metode yaitu : dzikir nafi isbat, dzikir asm al-jalalah, dzikir ism al-isyarah, dan dzikir khusus yaitu dzikir Ah-Ah.

Dzikir nafi Isbat. Dzikir ini dilakukan dengan mambaca la ilaha illAlloh. Kata la ilaha bermakna nafi atau di tiadakan. Sementara kata illa Alloh bermakna isbat tau penegasan, yakni merupakan satu-satunya yang abadi.  Dzikir nafi isbat biasanya diberikan kepad murid yang berada pada tingkat permulaan. Biasanya mutashowif berdzikir nafi isbat sebanyak 10-100 nkali setiap kali. Namun, bisa di tambah menjadi 300 klai setiap hari apabila tingkat atau maqam-nya sudah lebih tinggi. Dzikir ism al-jalalah. Dzikir ini dengan membaca Alloh-Alloh. Dzikir ini biasanya dikerjakan kepada murid yang telah menacapai tingkat khusus. Dzikir ini dilakukan antara 40, 101, atau 300 kali sehari. Dzikir asm al-isyarah. Dzikir ini dengan membaca Huwa-Huwa. Dzikir ini diberikan kepada murid kepad murid yang telah ,menacapai tingkat tinggi, atau yang sudah mejadi mursyid. Jumlah dzikirnya antara 100-700 kali setiap hari. Tetapi, umumnya mereka memebaca dzikir ini sebanyak 300 kali setiap hari. Dzikir khuhus. Yakni dengan membaca Ah-Ah. Dzikir ini hanya diberikan kepada murid yang telah menjadi mursyid dan telah menacapai maqam tertinggi karena sudah Ma’rifat. Jumlah dzikir yang diwajibkan adalah antara 100-700 kali setiap hari.

Tidak jauh berbeda dengan tarekat Chistiyah, Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Syattariyah, Khalwatiyah, Sydziliyah dan tarekat-tarekat Muktabarah lainnya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semua tarekat Muktabarah yang berkembang di dunia Islam merujuk pada dua bentuk suluk.

  1. Suluk dalam berntuk Riyadhah ريضةyakni melatih jiwa secara metodik berdasarkan ajaran tarekat yang di pegangnya baik Tharekat ‘Am maupun Khos.

  2. Suluk dalam bentuk ibadah عبدةyakni yang dijelaskan oleh Ibnu ‘Atha’illah dalam al-Hikam yaitu memperbanyak dan menjadikan segala sesuatu yang mubah sebagai niat ibadah kepada Alloh, sebagaimana hikmah yang di tulisnya sebagai berikut :

مَنْ اَشْرَ قَتْ بِدَا َيتُهُ اَشْرَقَتْ نِهَا يَتُهُ

Artinya : “barang siapa bercahaya pada permulaannya, niscaya bercahaya pada akhirnya”

Orang yang giat beribadah kepada Alloh dengan niat yang ikhlas itu bisa mengantarkan dirinya kepada Alloh. Karena pada permulaannya bercahaya (giat beribadah) itulah satu-satunya jalan untuk menempuh Ma’rifat kepada Alloh yang pada akhirnya bercahaya (bisa membuahkan Ma’rifat –dan Ma’rifat kepada Alloh itu mempunyai macam-macam sifat terpuji. Dan sifat-sifat yang terpuji itu bisa membuahkan kebahgiaan dunia dan akhirat. Kegiatan beribadah kepada Alloh dengan ikhlas itu adalah salah satu pokok  yang terpenting dalam mencapai kebahagiaan, karena dia bisa berma’rifat kepada-nya dan dapat berkomunikasi dengan-Nya

Mengenai Suluk riyadhah tidak jauh berbeda dengan pembicaraan suluk ibadah. Yang menjadi titik perbedaannya yakni suluk ibadah lebih mengedepankan proses penyucian jiwa kearah memperbanyak ibadah, baik ibadah dalam bentuk mahdzoh seperti shalat, puasa, naik haji maupun ghaer mahdzoh seperti sedekah, zakat, bebuat baik sesama manusia dan lain sebagainya. Sedangkan  suluk riyadhah melakukan penyucian jiwa lebih kepada aspek hati (qalb) seperti uzlah, khalwat, berdiam, berpuasa sunat, menjauhi maksiat, memperbanyak Dzikir kepada Alloh, Tajarud ‘aniddunya, lapar, meninggalkan syahwat, dan sebagianya. Namun dari kedua bentuk suluk tersebut memiliki persamaan yaitu bertujuan untuk mensucikan jiwa dari berbagai penyakit ruhani dan jasmani, sampai mendapat karunia Ma’rifat dari Alloh SWT.

Ibnu ‘Atha’illah menganjurkan kepada mutashowif yang ingin mencapai ma’rifat agar menempuh tujuh langkah dan senantiasa bersungguh-sungguh (al-Juhd), merendahkan diri keada Alloh (al-taddharu), membakar hawa nafsu (ahrtiraq al-nafs), kembali dan taubat kepada Alloh (al-inabah), senantiasa sabar (al-sabr), selalu bersyukur pada nikmat Alloh (al-sykr), dan senantisa rela atas takdir dan ketentuan Alloh (al-ridha), Alloh akan tetap menjalankan takdir-Nya kepada hamba-Nya baik diminta ataupun tidak, maka cukuplah bagi seorang hamba untuk berserah diri kepada Alloh dan Dia akan mencukupi hamba-Nya yang senantisa tawakal.

Ibnu ‘Atha’illah juga mengatakan “janganlah engkau tinggalkan dzikir dikarenakan engkau tidak merasakan kehadiran Alloh dalam dzikir tersebut, sebab kelalaianmu terhadap-Nya dengantidak ada dzikir kepada-Nya itu lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadap-Nya dengan adanya dzikir kepada-Nya”. Dzikir adalah sebaik-baiknya jalan menju Alloh Swt. Jadi tidak boleh ditinggalkan walaupun tidak sedang konsentrasi penuh. Dzikir sebaiknya adalah dengan menghadirkan tuhan dalam hati, sehingga mampu melupakan segalanya selain Alloh Swt.

Dzikir merupakan metode yang efektif untuk membersihkan hati. Menurut Ibnu ‘Atha’illah orang yang berdzikir itu ada yang menggunakan lisan (dzikir al-dzahir atau dzikir huruf atau dzikir al-zahr), ada dzikir hati (dzikir al-qalb atau dzikir al-sirr atau dzikir al-khafi), dan ada pula dzikir anggota badan (dzikir a’dha al-abdan atau dzikir al-jawarih).

Post a Comment