Sunday, July 15, 2012

Manusia diberi petujuk (Hidayah) oleh Alloh Swt. Karena manusia ada di kehidupan Sunnatullah.

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Manusia pada dasarnya mengemban amanat dimuka bumi ini, amanat tersebut disimpan oleh Alloh Swt. didalam diri manusia yaitu amanat yang berupa tugas-tugas kegamaan. Sehingga dengan amanat yang diberikan Alloh Swt. maka timbulah interfensi Iblis dalam menggoda umat manusia (Bani Adam). Mengapa Iblis interfensi dalam kehidupan keagamaan manusia ?, ialah karena sesungguhnya Iblis sangat membenci pada risalah kebaikan yang diamanatkan Alloh Swt. khusus bagi manusia (Bani adam). Sebab itu atas dasar interfensi Iblis dalam kehidupan manusia timbulah kedzaliman, perselisihan, kebodohan, sementara manusia itu sendiri tidak menyadarinya.  Alloh Swt. menggeriskan amanat tersebut dalam firman-Nya :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Artinya ; “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (Q.S. al-Ahzab : 72)

Mengapa Alloh Swt. memberikan amanat itu pada manusia , bukannya pada makhluk ciptaan yang lain ?, Alloh Swt. telah menjelaskan “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya..”, maka manusialah yang diberikan potesi yang lebih dibanding dengan makluk-makhluk lainnya untuk mengemban amanat-Nya yaitu tugas-tugas kegamaan, sementara makhluk-makhluk lain tidak diberi tugas keagamaan, tetapi tugas yang sesuai dengan citra dan indentitas dirinya. Adapun tugas itu seperti Sunnatullah (hukum Alloh Swt. yang telah ditetapkan-Nya), sekaligus sunnatullah tersebut dijadikan peringatan dan tanda-tanda kebesaran-Nya bagi manusia. Tetapi sayang, manusia tidak menggunakan akalnya untuk berfikir sehat, jernih, tidak menggunakan hatinya untuk beriman, dan merenungkannya, tidak menggunakan dirinya untuk taat atas isi amanat tersebut.

Saudaraku, isi amanat Alloh Swt. itu adalah fenomena Hidayah diin bagi manusia dan jin pada khususnya. Ketika Alloh Swt. memberikan amanat tersebut (Hidayah) tidak begitu saja, melinkan melalui proses Sunnatullah (ketetapan hukum Alloh) dan diatara manusia yang pertama kali menerima hidayah itu adalah Adam dan Hawa.

Ketika Adam dan Hawa berada dimuka bumi, disitu ada bebrapa hidayah yang dapat diketahui ada empat huidayah, pertama, Hidayah naluri atau instink sehingga adam dapat merasakan keberadaannnya dimuka bumi, kedua Hidayah aqli sehingga adam dapat berfikir dan memikirkan untuk hidup dimuka bumi, ketiga, Hidayah qalb sehingga adam dapat menerima wahyu dari Alloh Swt. untuk beriman kepada-Nya dan dapat mengerti baik dan buruk. keempat, hadayah Diin sehinga sehingga adam dapat menerima Wahyu dari Alloh Swt. untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi laranggan-Nya. Nah… dengan keempat Hidayah itu Adam dapat berkehidupan dimuka bumi ini dengan cara kreatif, berfikir sendiri bagaimana memenuhi kebutuhan ekonomi, kebutuhan biologis, rasa aman, dan kebutuhan kebergantungkan kepada penciptanya (Alloh Swt).

Begitupun dengan bani adam sampai sekarang ini, cara kita berkehidupan didunia ini tentu tidak terlepas dari keempat hidayah itu. Jika salah satunya lepas, maka ia bukan manusia sempurna melainkan makhuk-makhluk lain yang menyerupai manusia. Cara berkehidupan manusia dimuka bumi ini sesungguhnya memilki Adab (akhlak) bagi dirinya sendiri, lingkungan maupun Sang pencipta dan klebanyakan manusia tidak menyadari akan fenomena Hidayah ini.

Sunnatullah merupakan pelengkap bagi cara kehidupan manusia dalam mengemban amanat (Hidayah Diin). Andai kata manusia hidup tanpa sunnatullah, maka ketidak akan terjadi keseimbangan fenomena alam. Peryantaan ini sesuai dengan seorang ilmuwan Amerika yang tertarik akan proses menetasnya telur ayam tanpa harus dierami oleh induknya, caranya  telur ditaruh pad suhu panas yang sama dengan didapatnya dari induk yang sedang dieraminya. Ia mengumpulkan telur dan dimasukan pada alat penetas. Ada seorang petani menesahatinya agar telur itu dibolak-balik karena itulaha yang dilakukan induk ayam. Usul ini dicibirkan oleg si ilmuwan sembari memberikan penjelasan kepada si petani bahwa hal itu dilakukan oleh induk ayam untuk menghangatkan bagian bawah telur yang belum terkena panas tubuhnya. Oleh karena itu si ilmuan memasang alat di sekeriling telur itu yang dapat menyebarkan panas yang setabil ke setiap bagian telur. Si ilmuawan terus melakukan eksperimen. Waktu menetaspun tiba, tetapi tidak satu butirpun menetas. Eksperimen itu dilakukan terus seperti apa yang diusulkan petani atau lebih tepatnya mengekor kepada induk ayam. Ketika tiba waktunya menetslah telur ayam, tidak ada satu butir telurpun yang tidak menetas. Secara ilmiah akhirnya dikethui bahwa anak-anak ayam yang sedang diproses dalam telur mengalami pengendapan bahan makanan pada tubuhnya jika isinya tetap tidak digerakan, dalam hal ini induk ayam tidak tidak membalik telur dalam hari pertama dan terakhir.  Nah.. berkat Sunnatullah (ketetapan hukum) Alloh Swt. dan Hidayah-Nya yang sempurna dalam mempertahankan kelangsungan jenis inilah, ayam dapat mempertahankan keseimbangannya didunia. Ia tahu persis apa yang dilakukan ayam dari generasi perama sampai genrasi selanjutnya bahkan sampai saat ini jenis ayam tetap masih lestari. Andai kata Hidayah tidak disertai Sunnatullah, apakah telur akan mentas ?, dan apakah suhu panas dapat bekesinambungan dengan pengendapan bahan makanan didalam telur ?, sudah Sunnatullah fenomena mentasnya telur tidak akan terjadi.

قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى

Artinya : “Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (Q.S. Thaha : 50)

Begitupun manusia dapat bertahan hidup berkat Sunnatllah dan Hidayah-Nya. Tetapi manusia justru tidak memikirkan dengan teliti akan hal ini.  Andaikata tanpa Hidayah, bagaimana kita bisa mencari makanan, bagaimana kita bisa tahu apa yang dibutuhkan dan pasti manusia itu sendiri tidak ada, karena tidak bisa berfikir, merasa, menerima, memberi dan sejnisnya. Sungguh Alloh Swt. Mengkaruniakan Nama-Nya dalam jenis Hidayah (al-Hadi) kesegala sesuatu.

Tetapi Hidayah diin hanya diberikan bagi manusia sebagimana al-Qur’an menjelaskan. …dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Dzalim karena didzalimi oleh Iblis “ Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya (Adam dan Hawa)” dan bodoh karena dibodohi oleh Syetan yang sekaligus menjadi sifat manusia “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu)”, Sehingga manusia lupa akan Hidayah diin itu. Sebagaimana yang telah dijelaskankan di atas hidayah diin mencakuphal-hal yang berkaitan dengan fitrah manusia yaitu naluri untuk bertauhid kepada Tuhan semesta alam.

Post a Comment