Sunday, July 15, 2012

Mutiara Tauhid Bab Ma'rifat

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Bab 2
Pertanyaan Tentang Ma’rifat
                                                     ...................
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Insan melainkan supaya mereka menyembah-Ku”(Adz Zariat 56).
Apabila Ia membukakan (Ma‘rifat) kepadamu akan ZatNya, maka janganlah engkau menghiraukan sedikitnya ‘amalmu, kerana tiadalah Dia(Allah) membukakannya untukmu melainkan kerana Dia ingin memperkenalkan
diriNya kepadamu,Ketahuilah bahwa Ma’rifat  itu adalah semata-mata karuniaNya kepadamu,
(Al Hikam no 8)

Tanya: Manakah asal ‘amal dan mana asal ma’rifat ?
Jawab: Asal ‘amal  dan ma’rifat itu yaitu ilmu25).
Tanya: Mana asal ilmu ?
Jawab: Asal ilmu adalah alqur’an dan hadits 26),ilmu yang tidak sesuai dengan alqur’an dan hadits tidak boleh dipegang.
Tanya: Mana awal agama ?


25) Maksudnya ilmu agama islam.Rasulullah bersabda: “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu itu pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla,” (HR. Imam empat).

26) Sabda nabi;   عن عاأشة رض الله عنه أنَ رسول الله ص م قال: من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردَ.
dari Ummul mu’minin Siti ‘Aisyah rda, beliau berkata; Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang beramal yang tidak kami perintahkan, maka amalnya itu ditolak” (HR. Muslim-Arba’in Nawawi no 5) maksudnya perintah dari Allah( Alqur’an) dan dari rasul (Al Hadits), dan Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad saw, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan (tanpa dalil). Tiap-tiap yang diada-adakan tanpa ada sandaran Alqur’an dan hadits adalah bid'ah, dan tiap bid'ah itu adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka”. (HR. Muslim),maka dari itu setiap yang berurusan dengan agama haruslah ada sandarannya boleh atau tidaknya,sah batalnya dari Alqur’an dan Hadits,Sesuatu yang tidak sesuai dengan Alqur’an dan hadits itu bid’ah,dan setiap bid’ah itu sesat,disebabkan tidak sesuai dengan alqur’an dan hadits,adapun jika itu sesuai dengan Alqur’an dan Hadits maka itu tidak bid’ah namanya,yang mana hal itu sangat banyak sekali kita temukan,seperti mentafsirkan Alqur’an,menyusun rukun dan syarat, menyimpulkan sebuah kalimat yang hasil dari hadits atau alqur’an dari kalimatnya yang sangat panjang namun maksudnya singkat, maka diungkapkanlah oleh ‘ulama ahli suatu kata yang singkat tepat demi untuk  memudahkan dalam memahaminya,maka dibuatlah suatu kesimpulan,diberi sebuah istilah nama seperti usul fiqih,mantiq,ma’ni,ikhtisar, Tasawuf,dan usulluddin dll,yang mana semua istilah-istilah itu tidak ada disebut nabi,ilmu seperti ini namanya ilmu usul,dan yang seperti ini namanya ilmu mantiq,yang ini mananya,nahwu,,maka itu tidak ada disebut nabi,istilah-istilah itu lahir setelah zaman nabi,disusun oleh para sahabat,tabi’in dan imam mujtahid,maka itu bukanlah bid’ah namanya,,,,




Jawab: Awal agama adalah sabda Nabi;
اول لدين معرفة الله,
Awal agama mengenal allah27).

27) Hadits ini masyhur tapi tidak ditemukan dalam kitab hadits dengan kalimat seperti ini,sebenarnya ini adalah kesimpulan dari beberapa dalil Alqur’an dan Hadits yang sahih, seperti yang tersebut dibawah ini ,, Firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ  “Tidak Kami mengutus seorang rasul sebelum engkau ya Muhammad melainkan Kami beri wahyu kepadanya bahwa sesungguhnya tiadalah tuhan kecuali (Allah) maka sembahlah Allah,”(Al Anbia’25) ,,,
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsirnya…
فكل كتاب أنزل على كل نبي أرسل، ناطق بأنه لا إله إلا الله،  
“Setiap kitab yang diturunkan kepada setiap nabi yang diutus ,Rasul itu menyeru bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan melainkan Allah” (Tafsir Ibnu Katsir juz 5 hal 338 )
Qatadah berkata:
 وقال قتادة: لم يرسل نبي إلا بالتوحيد، والشرائع مختلفة في التوراة والأنجيل والقرآن، وكل ذلك على الإخلاطأ والتوحيد
“Tidak diutus seorang nabi kecuali dengan tauhid, dan adapun syari’atnya berlain-lain pada Taurat dan Injil dan Alqur’an, dan setiap demikian(syari’at) tidak sama dengan tauhid (bidang kesamaan)”,( Tafsir Qurtubi juz 11 hal 280 ).
Dan dari Hadits sahih Riwayat Imam Bukhari:
(إنك تقدم على قوم من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إلى أن يوحدوا الله تعالى، فإذا عرفوا ذلك، فأخبرهم أن الله فرض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم، فإذا صلوا، فأخبرهم أن الله افترض عليهم زكاة في أموالهم، تؤخذ من غنيِّهم فتردُّ على فقيرهم
Dari Abu ‘Asyim dari Zakaria bin Ishaq dari yahya bin ‘Abdullah bin Sayfi dari Abi ma’bad dari Abu Abbas ra berkata: Rasulullah  saw  mengutus Mu’az kepada yaman dengan berkata:”Wahai Mu’az,engkau yang lebih dahulu menjadi ahli kitab,maka hendaklah engkau pertama-tama menyeru mereka(kaum yaman) memperkenalkan ke “Esa” an Allah pada mereka,setelah mereka mengenal Allah maka katakanlah bahwa Allah itu mewajibkan mereka shalat lima waktu sehari dan semalam,apabila mereka telah melaksanakannya maka katakanlah bahwa Allah mewajibkan mereka untuk berzakat dari harta mereka,,,, “  (HR.Bukhari-Sahih Bukhari no 6937).
Dari Imam Muslim,Diriwayatkan dari Umar bin Khattab Ra bercerita:” Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya bertemu kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas pahanya, seraya berkata, "Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam." Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu berjalan kepadanya." Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang iman." Rasulullah Saw menjawab,yaitu "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qadar baik dan buruknya." Orang itu lantas berkata, "Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan." Rasulullah berkata, "Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang  sa'ah (azab kiamat)." Rasulullah menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya." Kemudian dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang tanda-tandanya." Rasulullah menjawab, "Seorang budak wanita melahirkan tuannya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba-lomba membangun gedung-gedung bertingkat." Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, "Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?" Lalu aku (Umar) menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Saw lantas berkata, "Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian". (HR. Muslim-Arba’in Nawawi no 2).
Dalam Hadits yang panjang ini telah jelas Agama Islam mencakup tiga hal, yaitu: Islam, Iman dan Ihsan. Islam berbicara masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan mencakup keduanya,,dan malaikat jibril sendiri yang membuka pertanyaan tentang Islam,yaitu pertama sekali  bersaksi (diikrarkan dengan lidah serta ditasdidkan dalam hati) bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah,itulah awal dari agama.adapun Firman Allah diatas menunjukkan bahwa setiap rasul yang diutus kepada kaumnya mereka menyeru umatnya awal mulanya memperkenalkan Allah.
Junaid Al Baghdadi salah seorang Tokoh Tasawuf juga berkata:” Sebagaimana yang telah dijalankan  oleh para nabi dan rasul,bahwa mereka memulai agama itu dengan” Ma’rifatullah” (memperkenalkan allah) terlebih dahulu sebelum memasuki tahapan syari’at, mustahil syari’at bisa dijalankan kalau tidak dikenal Al haq sang  pembuat syari’at,siapakah Allah,dimanakah Ia,apa hubungannya dengan kita,kenapa kita wajib menyembahnya dan mengikuti peraturannya,,,?pertanyaan itu akan terjawab setelah kita beragama,awal agama itu adalah mengenal Allah”. ( Risalah Qusyairiyah bab ma”rifat),, dan banyak lagi hadits sahih dan ungkapan sahabat yang senada dengan ini tapi tidak dimuat disini,karena saya rasa Firman Allah dan Hadits sahih diatas telah menjadi bukti kebenaran jawaban tentang awal agama itu,,oleh karena itu hadits Awaludini ma’rifatullah itu adalah kesimpulan dari keterangan Nabi dari berbagai macam,,Wallahu a’lam.
Tanya: Mana asal mengenal allah ?
Jawab: Asal mengenal allah itu mengenal diri,28)
Tanya: Mana yang dinamai agama ?
Jawab: Adapun yang dinamai agama itu yaitu: iman , islam, tauhid ,ma’rifat 29).
Tanya: Apakah arti iman islam,tauhid dan ma’rifat itu?
Jawab: Arti iman itu percaya kepada allah,dan rasul,malaikat,kitab,dan hari kemudian,dan untung baik dan jahat yang datang dari pada allah swt.30)
Jawab: Arti islam menjujung titah allah dan menjujung (menghindari) segala yang dilarang oleh syara’ 31).
Jawab: Arti tauhid yaitu mengesakan zat allah,mengesakan sifat allah,mengesakan af’al allah.
Jawab: Arti ma’rifat yaitu membezakan antara muhaddas dengan qadim32)  jika engkau tidak membezakan antara muhaddas dengan qadim, maka itu yang dinamai jahil murkab,yang artinya bersusun dua jahil,pertama jahil akan dirinya dan kadua jahil akan Tuhannya.


28) Imam Al Ghazali menerangkan dalam Ihya’ ulumuddin dan kitabnya yang lain,yang maksudnya “mengerti dengan diri”.seiring Fiman Allah: Dan pada diri kamu kenapa kamu tidak melihat,,?( Adz zariyat 21)  Ini jawaban yang tertentu kepada diri,sedang awal mengenal Allah itu melalui banyak jalan,seperti Nabi Ibrahim memperkenalkan Allah pada kaumnya lewat benda-benda angkasa (Al an’am 75). dan mengenal Allah melalui sifat-sifatnya, (Fusilat 53 ).   
29) Sesuai hadits sahih yang diriwayatkan Imam Muslim, yang dinamai agama itu  adalah islam,iman dan ihsan,sedang ma’rifat itu adalah awalnya,,,dari Umar bin Khattab bercerita setelah laki-laki yang bertanya kepada nabi tentang islam,iman dan ihsan dan dijawab nabi,kemudian dia membenarkan jawaban itu lalu berlalu pergi,maka nabi saw berkata: kembalikanlah laki-laki tadi,maka sahabat mengejar laki-laki itu karena ingin kembali,akan tetapi mereka tidak melihat seorangpun,maka nabi saw berkata: dia adalah jibril datang kepadamu mengajarkan Agamamu” (HR.Muslim-Sahih Muslim no 9).

30)  Sesuai hadits sahih Dari Abi hayan dari Abi Zar’ah dari Abi hurairah bercarita: suatu hari datang kepada kami seorang laki-laki kulit putih rambut hitam dan bertanya kepada Rasulullah :
  فأخبرنى عن الإمن قال: أن تؤ من بالله وملإكته و كتبه و رسله و اليوم الأخر والقدر خيره وشره
Maka beritahulah kami (Ya Rasulullah) tentang Iman,Rasulullah menjawab: percayalah engkau kepada allah,dan malaikatnya,danKitab-kitabnya,dan Rasul-Rasulnya,dan Hari akhir, dan riwayat dari Umar Bin Khattab menambahkan  percayalah kepada qadhar baik dan jahat.(HR, Muslim-Sahih Muslim no 8-9 )

31) Ini arti islam secara loghat dan menyeluruh yaitu yang artinya“Selamat”.namun batasan islam menurut Muslim dalam haditsnya yaitu Rasulullah bersabda:
   ان  وتقم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحخ البيت قا ل رسوالله ص م:الاءسلام ان تشهد ان لاأله ألاالله وأن محمد ارسو استطعت الليه سبيلا,,فقال صدقة  “Islam itu engkau bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusanNya ,engkau dirikan shalat ,engkau datangkan zakat dan puasa dibulan ramadhan dan engkau haji ke baitullah bila telah kuasa berjalan kepadanya, (HR Muslim – Sahih muslim no 8 ).
Istilah dalam Ta’limul muta’lim menyebutkan:” sesuatu yang menyampaikan kepada wajib itu hukumnya juga wajib”,seperti mendirikan shalat,yang dimulai dari belajar bacaa’annya,kemudian tata caranya,bersuci,berwudu’,rukunnya,syaratnya,dan yang membatalkanya,dan lain sebagainya,maka dengan itu diistilahkan dengan menjujung titah allah dan menghindari segala yang dilarang syara’,tentunya segala yang berkaitan dengan rukun islam diatas,,, .
Sedang ahli Thariqat menerangkan arti islam itu :Menjujung titah allah,titah nabi dan titah guru,Serta menjauhi larangan allah ,larangan nabi dan larangan guru,maka artian ini mengandung arti umum/menyeluruh,Guru yang dimaksud disini adalah Ulama’ sebagai pewaris nabi,karena Allah dan Nabi dan Guru itu sepakat dalam menyuruh dan melarang,jika seorang guru menyuruh mengerjakan apa yang tidak diperintahkn Allah dan Nabi maka itu diluar katagori seorang guru/’ulama yang dimaksud disini, karena Allah tidak pernah menyuruh berbuat ma’siyat kepadaNya,

32) Ini Tauhid pada sisi ‘ammah.Arti Ma’rifat itu secara loghat yang masyhur adalah “Mengenal Allah” dan mengerti siapakah itu Allah,apa perbedaanNya dengan alam,itulah yang disebut membezakan antara muhaddas dengan qadim,yang qadim itu Allah dan yang muhaddas itu alam,siapa yang tidak mengerti dengan keduanya berarti jahil kepada keduanya.(Jahil murkab).
Tanya: Ma’rifat itu kemanakah ta’luknya ?
Jawab: Adapun mengenal diri itu ta’luknya kepada mengenal allah ta’la 33) dan mengenal Allah ta’la itu ta’luknya kepada binasanya wujud.34) Isyarat sabda nabi;
ومن عرف نفسه فقد عرف ربه,ومن عرف ربه فسدالجسد
“Dan barang siapa yang mengenal dirinya maka sesungguhnya ia mengenal tuhannya ,dan siapa yang mengenal tuhannya maka binasalah jasadnya”35)


33) Syekh Haji Muhammad Wali Khalidy berkata: menurut longat ‘arab معرفة ( ma’rifat ) itu ta’luknya kepada مُعرف  ( mu’arrif ) ma’rifat  عامة ( umum ) ta’luknya kepada bersalahan muhaddas ( binasa yang baru ) maksudnya segala yang bersifat baru,itulah yang muhaddas. ma’rifat  جاصة ) orang khusus ) ta’lu’nya kepada zat Allah sekedar yang dapat bagi makhluk untuk mengenal(sekedar apa yang dibukakan Allah) ( Tanwirul anwar).

34) Binasa wujud yang dimaksud disini adalah wujud yang ada pada pandangan zahir, boleh juga diartiakan dengan jasad itulah yang disebut bersalahan muhaddas.

35) Hadits ini sangat masyhur pada  ahli Tasawuf dan para ’ulama hadits,para ‘ulama hadits yang megutip hadits ini diantaranya adalah:
1.       Imam An-Nawawi- dalam kitabnya ( Al Fatawa, hal.120)
2.       As-Sakhawiy- dalam kitabnya (al-Maqashid al-Hasanah Fî Bayan Katsir Min al-Ahadits al-Musytahirah 'Ala al-Alsinah, hal.419 )
3.       Ibnu Ad-Diba'- dalam kitabnya (Tamyiz ath-Thayyib Minal-Khabits Fima Yadur 'Ala Alsinah an-Nas Min al-Hadits, hal.165 )
4.       Al-'Ajluniy- dalam kitabnya ( Kasyf al-Khafa` wa Muzil al-Ilbas 'Amma isytahara Min al-Ahadits 'Ala Alsinah an-Nas, Jilid.2 hal.262 )
5.       Muhammad bin Darwisy- dalam kitabnya ( Asna al-Mathalib, hal.219 )
6.       Imam As-Suyuthiy- dalam kitabnya (Al-Hawiy, Risalah: al-Qawl al-Asybah Fi Hadits Man'Arafa Nafsah  Jilid.2 hal.412 ) dan ( Tadrib ar-Rawy, hal.370)
7.       Ibnu Hajar Al-Haitamiy- dalam kitabnya ( Al-Fatawa Al-Haditsiyah, hal.211 )
8.       Abu Nu'aim Al-Ashfahaniy- dalam kitabnya ( Hilyah al-Awliya,Jilid.10, hal.208 ) Dll,,,,
Namun para ‘ulama itu tidak ada yang menyatakan kesahihannya,Ibn As-Sam'aniy berkata:Hadits ini maukuf yang disandarkan kepada Yahya bin Muadz ar-Razi.( Ad-Durar Al-Muntatsyrah Fi Al-Ahadits al-Musytahirah karya Imam As-Suyuthy ),Nasruddin Albany meletakkan hadits ini dalam deretan hadits da’if wa maudu’ dan mengomentari dengan perkataan“La asla lahu”,,,, Imam Al Ghazali menuturkan hadits ini dalam beberapa kitabnya,tafsirannya mengarah kepada cara mengenal diri, sebagai tahapan awal dalam mencapai pengenalan Allah, Mengenal diri itu adalah "Anak Kunci" untuk Mengenal Alloh,yang dimaksud tafakkur merenungi diri,dan sesuai dengan firman allah: Dan pada diri kamu mengapa kamu tidak melihat,,(Adz zariyah 21) dan lagi Firmannya:
   سَنُرِيهِمْ آَيَاتِنَا فِي الْآَفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Fusilat 53 ).    Bagi orang yang tidak mengerti seluk beluk tentang ma’rifat ketuhanan ia mengira bahwa dirinya itulah yang Tuhan,karena ia memahami secara dangkal hadits diatas ,maka itulah yang disebut jahil murkab, disinilah awal jatuhnya seorang ‘ulama besar yang kita kenal Syekh Siti Jenar , dengan pemahaman Wahdatul Wujudnya,faham yang sesat menurut pengakuan seluruh ‘Ulama Ahlussunah wal Jama’ah. (lihat I’tiqad Ahlussunah wal Jama’ah pada bab kaum syi’ah hal 117.karya KH.Sirajuddin Abbas-Al Minang Kabawi ).
Faham yang benar adalah,apa yang telah diterangkan dalam  kitab Ihya ‘ulumuddin dan kitab Ta’limul muta’lim:
من عرف نفسه فقد عرف ربه,فإدَ عرف عجز نفسه, عرف قدرةالله
“Siapa yang mengenal dirinya,maka ia akan mengenal Tuhannya,maka pada ketika ia megatahui kelemahan dirinya,akan muncul kesadaran pada kekuasaan Allah ”.  Ia menambahkan: maka janganlah kita berpegang teguh pada kemampuan dirinya dan akalnya,tetapi bertawakkal lah kepada allah,seraya memohon kepadanya akan petunjuk kebenaran,maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya”,(lihat Ta’limul muta’lim hal 74). Jadi ma’na عرف نفسه mengenal kelemahan diri dan ma’na عرف ربه mengenal kebesaran Allah yang ada pada dirinya.Syekh ‘Abdul Rauf aceh, guru Syekh Burhanuddin ulakkan sumbar mengungkapkan dalam kitab “Tanbihul masyi” :siapa yang megenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya,siapa yang mengenal Tuhannya maka jahillah dirinya, dan mengenal diri itu terkait dengan mengenal Tuhan,dan mengenal Tuhan itu terkait dengan jahilnya diri,(Tanbihul Masyi hal 20).seperti itulah pemahamn Ahlussunnah wal Jama’ah,,,untuk lebih jelasnya lagi dalam masalah ini hendaklah bertanya pada ahlinya.karena ilmu itu ada yang bisa diurai dengan tulisan dan ada yang tidak, melainkan hanya bisa di terangkan dengan lisan.wallahu a’lam.
Tanya: Mana yang dikatakan dekat kepada allah ?
Jawab: Apabila hati selalu ingat kepada allah maka itu dekat namanya.36)
Tanya: Mana yang disebut jauh dari allah?
Jawab: Apabila berhadap hati kepada makhluk,serta lupa dan lalai kepada allah maka itu jauh dari allah namanya37)
Tanya: Mana yang dinamai sampai kepada allah?
Jawab: Yaitu hapus sekalian yang ada dialam ini dari pandangan hati, hanya wujud allah yang hadir (dalam hati) senantiasa tiada lupa dan lalai.38)
Tanya: Ma’rifat itu berapa macamnya?
Jawab: Makrifat itu ada 3 macam:
1.      Ma’rifat orang syari’at
2.      Ma’rifat orang thariqat
3.      Ma’rifat orang hakikat.
Tanya: Apakah perbedaan antara yang 3 itu?
Jawab: Ma’rifat orang syari’at itu mengenal segala yang zahir seperti: halal, haram, sah, batal, makruh, sunat, mubah, fardu, rukun, syarat.
Jawab: Ma’rifat orang Thariqat itu mengenal barang yang sunyi seperti: ria, suma’ah,takabbur, ’ajib, hasad dan sifat yang mazmumah yang dicela syara’ seperti mengenal baik,buruk,dan kasih sayang allah dan lain sebagainya.
Jawab: Ma’rifat orang Hakikat antara Tasbih dan Tanzih, tidak terdinding pandangan zahir kepada batin dan pandangan batin kepada zahir.39)


36) Imam Abu Qasim Al Qusyairy menerangkan dalam Risalahnya pada bab muraqabah hal 74,bahwa yang dimaksud dalam hadits Riwayat Muslim tentang Ihsan”jika engkau tidak melihatnya maka Allah melihatmu” artinya selalu mengawasi yaitu muraqabah sesuai Firman Allah:
 وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا”Allah selalu dekat kepada tiap-tiap sesuatu“ ( Al Ahzab 52).

37) Bukan maksudnya jauh itu luput dari pengawasan allah/ berjarak jauh dari allah.Firman allah: sesungguhnya allah menyertaimu dimanapun kamu berada( Al hadid 4), Ahli thariqat bertutur: jauhnya tidak berjarak,dekatnya tidak berantara, Firman Allah: “Kami lebih dekat dari urat leher/tengkuk (Qaf 16),lagi Firmannya:” dan jika hambaku bertanya tentag Aku maka katakanlah Aku dekat lagi mengkabulkan do’a ( Al baqarah 186),jauh yang dimaksud disini yaitu terhijab oleh kelalaiannya hingga tersa jauh dari Allah,Ibnu Athaillah berkata: “Allah yang Haq Tiadalah terhijab(terhalang oleh sesuatu) daripada dirimu. Yang terhijab adalah dirimu daripadaNya.Andaikata Allah itu terhijab, apa yang menghijabNya
itu akan mengurungNya. Dan andaikata ada sesuatu yang mengurungNya,berarti  wujudNya lemah,tidak berkuasa atas hijab itu, Dan sedang Dia (Allah) adalah maha kuasa atas segala hambanya ( hijab)” (Al Hikam no 41).

38)  Wujud Allah yang hadir disini maksudnya dalam pandangan hati,Raslullah bersabda: “Engkau al zahir (setiap sesuatu menunjukan akan wujudNya), tidak ada sesuatu di atasMu, dan engkau Al Batin ( yang tidak dapat dibayangkan),tidak ada sesuatu dibawahMu”.(HR Muslim).kalau tidak ada sesuatu di atasNya dan di bawahNya maka Allah meliputi segalanya, ,,,yang dimaksud selalu hadir Bukanlah maksudnya dihadir-hadirkan,kalau dihadir-hadirkan itulah yang disebut Imam Al Ghazali membuat tuhan dalam hati. Imam Al Ghazali berkata: “bila kamu hanya merasakan hadirnya Allah pada dalam zikirmu, tapi tidak merasakan hadirnya Allah diluar zikirmu, maka berarti apa yang kamu rasakan dalam zikir itu bukanlah Allah” (Ihya ‘ulumuddin). Ibnu Athaillah berkata: “Bagaimana mungkin Allah itu akan dihijab oleh sesuatu, padahal Ia lebih dekat kepadamu daripada sesuatu itu” (Al Hikam no 22),dan Allah berfirman:”Sesungguhnya Allah  selalu dekat kepadamu” ( An nisa’ 1) dekatnya tidak didekatkan,tapi Allah selalu dekat walau teringat dalam hati atau tidak.

39) Inilah maqam baqa billah. Firman Allah: “Dan (Baqa) tetap kekal “Wajah”(Zat) Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar Rahman, 27).Rasulullah bersabda:” Iman yang paling afdal ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada” (HR. Ath Thobari) ,,,Baqa adalah salah satu sifat Allah yang mana manusia tidak akan pernah memilikinya selamanya, dalam Tasawuf baqa hanyalah dinisbatkan kepada maqam (tempat berdiri ma’rifat)bukan kepada diri,adapun istilah Baqabillah artinya kekal dengan Allah,yaitu ma’rifatnya yang kekal dengan Allah,bukan dirinya yang kekal,yang hanya memiliki ma’rifat itu adalah orang muntahi,boleh juga diistilahkan ma’rifat yang tinggi derajatnya.
Tanya: Mana yang dinamai Syari’at, Thariqat dan Hakikat ?
Jawab: Yang dinamai Syari’at engkau sembah allah, kerjakan perintahnya, jauhi larangannya,
Jawab: Yang dinamai Thariqat engkau sembah allah dengan ilmu dan amal sekedar yang kau tau,40)
Jawab: Yang dinamai hakikat engkau pandang allah dengan cahaya yang dipertaruhkan allah pada tengah hatimu,41)
Tanya: Apakah syari’at itu berlawanan dengan hakikat?
Jawab: Syari’at itu tidak berlawanan dengan hakikat,siapa yang mengata Syari’at itu berlawanan dengan hakikat maka hukumnya kafir,karena hakikat itu adalah syari’at nabi yang batin,Syari’at itu ilmu fatwa yaitu syari’at nabi yang zahir,sebab itu tidak boleh bercerai syari’at dengan hakikat, karena syari’at itu tubuh hakikat itu nyawa, Isyarat Sabda nabi: “Syari’at tampa hakikat hampa,hakikat tampa syari’at itu batal”,42)
Tanya: Mana ma’rifat hakikat (yang sebenarnya) yang tidak dapat mengenal,43) akan dia, yang melepaskan dari pada syirik,?
Jawab: Adapun ma’rifat(pengetahuan) tentang hakikat itu engkau pandang allah dengan cahaya yang dipertaruhkannya kepada hatimu, akan hakikat dirimu,dan apa yang ada pada dirimu pandanglah itu daripada allah kepadamu,
Tanya:  Apakah itu yang daripadamu dan apa yang daripada allah kepadamu?

Jawab: Yang daripadamu adalah hina,faqir,da’if dan lemah,itulah bagian dirimu,yang daripada allah kepadamu yaitu kaya,mulia,kuat dan kuasa itu semua milik allah,maka fanakan muliamu kapada mulia allah,kayamu kepada kaya allah,kuatmu kepada kuat allah,tidak satu zarrah pun dirimu pada hakikatnya hanya semata-mata anugrah allah kepadamu,pikirkanlah itu,adam artinya tiada dengan anugrah allah atasmu mengadakanmu,tidak karena alat,44) maka allah akan mendatangkan ni’mat imdad yang tak terkira,seperti memberi rizki yang dapat dirasakan manis,asam,pahit,pedasnya,dll.
..........................................................................................................................................................................................................................

40)  Adapun Istilah Syari’at dan Thariqat yaitu berdasarkan Firman Allah dalam surat ( Al maidah 48)
 جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا“kami jadikan pada kamu ( Mu’min ) Syari’at ( ya’ni sunnah yang akan dijalankan manusia),dan Minhaj (ya’ni Thariqat yang wadih lagi mudah)” ( Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal 129).

41) Artinya Nur hidayah.Firman Allah:
 أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ “ Siapa yang dibukakan Allah dadanya bagi islam( tuma’ninah hatinya) maka ia telah meperoleh Nur (hidayah) dari Tuhannya”( Az Zumar 22), (Tafsir Al Qurthubi Juz 15 hal 247)

42) Matan haditsnya seperti ini,Rasulullah bersabda: “ Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman”. (HR. Ath-Thabrani) dan dari Ibnu Umar berkata, "Rasulullah saw bersabda, 'Islam dibangun di atas lima dasar: 1 Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah, 2 Medirikan shalat, 3 Puasa pada bulan Ramadhan,4 Membayar zakat, 5 Naik haji jika telah mampu'"(HR. Bukhari bab ilmu no 2). Dalam hadits sahih ini telah terkandung syari’at dan hakikat, yang disebut hakikat adalah iman dan yang disebut syari’at adalah yang ke dua,ketiga dan keempat dan kelima,bila telah telaksana syari’at dan hakikat itu, maka itulah yang disebut islam yang sempurna,kalau hanya sekedar hakikat saja yaitu iman saja,tanpa mengerjakan shalat(syari’at), maka belum sempurna islamnya,maka itu disebut batal,dan kalau hanya mengerjakan syari’at saja tanpa hakikat(iman) maka itu disebut hampa.
Abu yazid Al Bustami berkata:”Jika kamu melihat seseorang yang dikaruniai karamah hingga ia terbang diudara,melipat bumi,berjalan diatas air,maka janganlah kamu tertarik padanya hingga kamu melihat ia melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah dan menjalankan segala kewajiban Syari’at”(Risalah Qusyairiyah hal 14).siapa yang mengaku ‘Alim dibidang Thariqat atau Tasawuf atau Tauhid atau Hakikat atau Ma’rifat akan tetapi dia tidak menjalankan syari’at maka sesungguhnya ia telah berbohong dengan apa yang ia tuturkan.(Ihya ‘ulumuddin)

43) Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,,yang melepaskan daripada syirik adalah Tauhid.
44) Firman allah: “Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya
(QS. An-Nahl: 53) dan lagi Firmannya: “kenapakah kamu kafir kepada Allah,,? Padahal kamu itu mati (tidak ada)dulunya,kemudian Allah menghidupkanmu (mengadakan) kemudian Allah mematikanmu,kemudian Allah menghidupkanmu tatkala berbangkit,kepada Aku lah engkau akan kembali,”( Al Baqarah 28).Ibnu Katsir menjelaskan tentang وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا  ma’nanya”sesungguhnya kamu itu ‘adam (tiada) maka Allah mengeluarkanmu dengan mewujudkan”.(Tafsir Ibnu Katsir juz 1hal 212), disini Allah telah menjelaskan dengan terang bahwa Allah lah yang berkuasa segalanya dalam diri kita itulah ma’na lahaula wala quatailla illa billa hal’aliyil ‘azim,bila Allah berkehendak menciptakan,mematikan dan menghidupkan,dengan kesadaran dari kenyataan itu itulah awal mula perkenalan dengan Allah.banyak dari kalangan orang awam menyelewengkan dalil ini,seperti disaat dia melakukan dosa secara terang-terangngan dengan menda’wakan “pada hakikatnya ini bukan aku yang berkuasa melakukannya tapi dikuasakan Allah dan dikehendakkan Allah pada diriku karena hanya Allah yang berkuasa pada diriku”,da’waan seperti itu jelas tergelincirnya,karena memaksa Allah melakukan apa yang dikehendaki hawa nafsu kebinatangannya,maha suci Allah dari apa yang mereka da’wakan,sesugguhnya Allah itulah yang berkuasa atas diri kita bukan kita yang berkuasa atas Allah,sedang Allah yang mereka da’wakan itu bukanlah Allah tuhannya sekalian alam,melainkan syetan yang menyamar sebagai Allah yang mewujudkan diri dalam hatinya,karena Allah itu tidak pernah menghalalkan apa-apa yang telah diharamkannya dan menyuruh mengerjakan apa-apa yang telah dilarangnya, sebagaimana semua itu telah tertulis dalam kitab sucinya dan hadits yang sahih kalam rasul utusannya, harap hati-hati menempatkan faham disini.karena syetan itu tidak akan senang hati bila hambanya berubah menjadi hamba Allah,
Tanya: Mana derajat hakikat itu?
Jawab: Yaitu hilang segala wujud yang zahir ini pada pandangan hati45)
Tanya: Mana hakikat tauhid ?
Jawab: Yaitu barang yang terlintas dalam hati maka itu binasa lagi baru.46)
Tanya: Mana hakikat Tasawuf ?
Jawab: Yaitu meninggalkan da’wa,47)
Tanya: Mana yang bernama diri ?
Jawab: Diri itu 3 perkara:
1.      Benar-benar diri
2.      Diri terpiri
3.      Diri terdiri
Tanya: Mana sebenar-benar diri?
Jawab: Sebenar-benar diri itu keadaannya kapas,yaitu keadaannya Allah.48)
Tanya: Mana diri terperi ?
Jawab: Yaitu keadaannya benang,kedaannya Muhammad.49)
Tanya: Mana diri terdiri ?
Jawab: Yaitu kedaannya kain,keadaannya adam.misal ini hanya mendekatkan faham,50)



45) Firaman Allah:
 فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا
“Tatkala tajalli Tuhan musa pada bukit itu jadilah bukit itu hancur, musa pun jatuh pingsan” ( Al a’raf 142) dalam Tafsir Thabari diterangkan:“pingsan yag dimaksud disini adalah tidak sadarkan diri,dan tidak sadarkan alam(Fanabillah)” (Tafsir Thabari juz 7 hal 279). Sabda Nabi saw: Jika seandainya tersingkap wajahNya (ZatNya) niscaya keagungan kesucian Wajah(Zat) itu membakar semua yang diketahui penglihatan”(HR.Muslim).

46) Firman allah :
 وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
 “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali zat Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.(Al qashas 88) yang dimaksud tiap-tiap sesuatu pasti binasa adalah alam selain Allah yang terlintas dalam hati,itulah yang baru dan pasti binasa,sedang Allah tidak baru dan tidak pernah binasa,

47)  Hakekat Tasawuf,Ahmad Amin menerangkan dalam kitab Dzuhrul Islam : ”Ibnu Khaldum (wafat 1406 M) adalah yang paling baik keterangannya,tentang hakikat tasawuf beliau berkata;
 واصلها اى طريقة التصوف العكوف على العبادة والانقطاع ألى الله والاعر اض عن زخرف الدنيا وزينته والزهد فيما يقبل من لزة ومال وجاه والأنفر ادعن الخلق فالخلوة للعبادة
“Dan asal pokok dari ajaran tasawuf adalah bertekun beribadah dan berhubungan langsung dengan tuhan menjauhkan diri dari kemewahan duniawi,dan zuhud dari pada harta dan tuah yang diburu manusia,bersunyi-sunyi diri dari melaksanakan ibadah”,(Dzuhrul islam 4 hal 151).bersunyi sunyi diri yang dimaksud disini adalah tidak ria dan sunyi dari mengharap pandangan orang banyak,hanya mengharap pandangan Allah, bukan lari kehutan atau kegunung untuk melaksanakan ibadah,walau kita melaksanakan ibadah dihadapan orang banyak terasa beribadah sendirian singkatnya beribadah sendiri atau dihadapan orang banyak sama saja keadannya.sedang meninggalkan da’wa jawaban diatas tidak dimengerti maksudnya.
48) Ini jawaban diri Allah yaitu zat Allah,bukan diri manusia, karena diri manusia itu berasal dari allah,Allah berfirman: “Allah jadikan mereka dengan QudaratNya dari diri yang satu” (An nisa’ 1) ibnu katsir menjelaskan yang dimaksud diri yang satu
   التي خلقهم بها من نفس واحدة، وهي آدم، عليه السلام “Allah  menjadikan mereka dengan QudaratNya dari “diri yang satu” yaitu Adam as”, (Tafsir ibnu katsir jilid 2 hal 206)
Dan FirmanNya:
  إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ “Sesungguhnya misal Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah"  engkau  maka jadilah ia ( Ali imran 59 ),itulah awal dari proses kejadian manusia,

49) Yang dimaksud adalah keadaan Nur Muhammad, sebagaimana para ‘ulama sepakat dengan keadaannya sebagai makhluq yang awal mula diciptakan Allah sebelum menjadikan sesuatu yang lainnya,sebagaiamana Hadits Nabi yang diriwayatkan dari Al Hakim meriwayatkan dari ‘Ali bin Hamshad Al-‘adl secara imla’,dari Harun bin ‘Abbas Al-hashimi dari Jundul bin Waliq,Al-‘Abbas ra bahwa Rasulullah bersabda: “Allah telah mewahyukan kepada ‘Isa as : Wahai ‘Isa, berimanlah engkau kepada Muhammad dan suruhlah siapa yang mendapatkan Baginda dari kalangan umatmu supaya beriman dengannya, kalaulah tidak kerana Muhammad Aku tidak menjadikan Adam, kalaulah tidak kerena Muhammad Aku tidak jadikan Syurga dan Neraka, Aku jadikan ‘Aras diatas air, kemudian ia bergoncang, maka ditulis atasnya ‘la ilaha illa’llah Muhammad Rasulullah, maka iapun tenang”. (HR ,Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya).
Sulaiman Al-Jamal wafat.1204 H, pensyarah Tafsir Jaelalain 4 jilid besar, dan Ibn Hajar Al-Haitami wafat 974 H dalam Fatawa Haditshiyahnya. Keduanya menukil hadits tersebut dengan maksud “kalaulah tidak karena Muhammad” adalah Nur Muhammad awal-awal dijadikan Allah,”
Diriwayatkan dari Sa’id bin Basyir dari Qatadah dari Al Hasan dari Abu Hurairah Ra,Rasulullah Saw Bersabda:
  كنت أول النبيين في الخلق وآخرهم في البعث فبدأ بي قبلهم
"Aku adalah Nabi yang pertama diciptakan, dan paling akhir diutus. Allah memulai dengan aku sebelum mereka." (HR Abu Nai’m dalam Ad Dala’il hal 6, dan Tsa’labi dalam Tafsirnya) Nasruddin Albany mengomentari Hadits ini dengan menyatakan derajad sanadnya da’if, karena Sa’id bin Basyir perawi yang da’if menurut Al Hafiz Al ‘iraqi (Silsilah hadits da’if wa maudu’ no 661).
Banyak ‘ulama hadits Yang menyebutkan Awal mula yang diciptakan Allah adalah Nur Muhammad,kalaulah tidak karena Nur Muhammad itu tidak diciptakan sesuatu jua.dan ulama yang membicarakan keadaannya ada 46 orang.yang lebih jelas keterangannya adalah “Syaikh Zainal ‘Abidin Al Fatani Rh” dalam (Maktabah wa Matba’ah darul-Ma’arif hal 3) Yang merujuk kepada kitab (Kashaf Al-Ghaibiyyah) karya Imam ‘Abdul  Al Rahim bin Ahmad Al Qadhi dan (Durar Al Hisan) karya Imam Al Suyuty,

50) Dengan contoh kepada kain dengan keadaannya, kain berasal dari benang dengan keadaannya,dan benang berasal dari kapas,keadaan yang dicontohkan seperti itu adalah  contoh pada pihak dasar dan keadaan,jika dinisbatkan kepada diri ini contohan yang agak jauh,contohan seperti itu hanyalah sebatas melihat dasarnya tidak lain,karena bila dita’birkan secara meluas maka kapas berasal dari pohon kapas, dan pohon itu berasal dari biji, dan biji berasal dari…hingga tak putus-putusnya,sedang kesepakatan para ulama mengatakan,diri Adam berasal dari tanah, dan tanah berasal dari Nur Muhammad, dan Nur Muhammad berasal dari Allah, dan Allah tidak berasal dari siapa-siapa,Allah itu qadim.pepatah Thariqat Shattary mengatakan :
Tanya: Apakah yang mendekatkan kita kepada allah?
Jawab: Yaitu anugrahnya.51)
Tanya: Mana kesudahan ma’rifat?
Jawab: Yaitu jahil akan dirinya.52) 


51) Firman Allah:
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاء
 "Sekiranya kalaulah bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari pada dosa) selama-lamanya(dari deki dosa dan syirik),akan tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendakinya" (An-Nuur:21 -Tafsir Thabari juz 19 hal 134) Karunia dan Ramat itu dengan istilah lain adalah Anugrah.

52) Jahil yang dimaksud disini adalah “fana” bukan bodoh,bila seseorang merenungi kebesaran Allah maka terasa baginya tidak berartilah dirinya,karena segala alam ini milik Allah dan akan kembali kepada Allah,tidak ada yang harus dibanggakan dan tidak ada yang dapat menolong kecuali Allah,tidak ada sehelai daun pun yang jatuh kebumi tampa izin Allah,tidak sehela nafaspun yang kita hirup dan hembuskan melainkan ni’mat Allah,dengan kesadaran itu maka terasa sangat hinalah diri ini,istilah itu disebut fana,,,itulah yang dilakukan ‘ulama tasawuf bahkan ada diantara mereka yang terlalu larut tenggelam dalam keadaan tafakkur itu, hingga tidak sadar apa yang diucapkannya,,,,
Dikisahkan bahwa Zun Nun Al Misri berkunjung kepondok Ibrahim Al Khawas,sedang Ibrahim Al Khawas sedang tafakkur hampa terpesona dengan keagungan Allah, dan lampu didalam pondoknya sedang mati,maka Zun Nun Al Misri mengetuk pintu setelah memberi salam dan memanggil ”adakah orang didalam,,?” Ibrahim Al Khawas menjawab: Siapakah yang engkau cari,,? Zun nun Al Misri berkata: Aku mencari sahabatku namanya Ibrahim Al Khawas,terdengar jawaban dari dalam “Ibrahim Al khawas tidak ada,Aku sedang mancari Ibrahim Al khawas”,,maka Zun Nun kembali dengan berkata”sesungguhnya sahabatku Ibrahim sedang dalam keadaan Fanabillah”.,,,
Inilah maqam fana yang tidak dimengerti keadaannya sebahagian dari orang yang tidak pernah merasakannya,Imam Al Ghazali bertutur: mustahil engkau bercerita kepada orang impontens tentang bagimana rasanya senggama itu,walau bagimanapun engkau menjelaskan/menggambarkan rasanya, niscaya ia tidak akan mengerti dengan peneranganmu selama-lamanya,walau dia seperti telah faham namun pemahamannya itu pastilah jauh dari kenyataan yang kamu terangkan,dan apabila datang orang lain menceritakan tentang rasa senggama itu kepadanya dengan gambaran yang lain,niscaya akan berubah pula pemahamannya,dan akhirnya ia ragu sendiri dalam waktu yang lama tanpa kata-kata,dengan melihat kebingungannya itu orang-orang tersenyum melihatnya,maka berubah lagi penilaiannya,dianggapnya orang-orang ini telah membohonginya dan memperolok-oloknya, dan akhirnya dia mengingkarinya (Ihya ‘Ulumuddin juz 1 hal 100 ).inilah akibat orang yang suka banyak bertanya tapi tidak mau mengamalkan apa yang telah diterangkan, yang pada akhirnya dia bingung sendiri dan mengingkarinya,semoga kita selalu dilindungi Allah dari prilaku tersebut ,Wallahu A’lamu bissawab.
Adapun kita berjalan kepada Allah ,,,Tiba pada Allah maka berhenti.
Post a Comment