Sunday, July 15, 2012

Empat Tahapan Mencapai Kesempurnaan ‘Nafs’

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

khomeini12.jpg
Aku heran kepada orang yang manakala kehilangan benda miliknya,
dia bersegera mencarinya,
tetapi manakala diri insaninya hilang,
dia enggan mencarinya”
(Imam Ali as, Mizan al-Hikmah 6:141)
TAHAPAN PERTAMA: MENEMUKAN DIRI
Manusia yang kehilangan nafs (diri)-nya adalah manusia yang kehilangan diri insani-nya, manusia yang kehilangan kesadar­annya. Mereka ini adalah orang-orang yang nafs-nya ditarik oleh kecenderungan duniawinya. Mereka lebih menghargai nilai-nilai duniawi daripada nilai-nilai spiritual (ruhani). Imam Ali as mengatakan,”Ahlud dunia karakbin yusaru bihim wa humniyaam” – “Para ahli duniawi itu seperti pengendara yang berja­lan dengan kendaraannya sementara mereka tertidur” (Nahjul Balaghah, Hikam : 64).
Ini artinya bahwa para pencinta dunia adalah orang-orang yang telah hilang kesadarannya. Mereka terjebak oleh rutinitas hidup yang cenderung duniawi atau lebih tepatnya hidup sekedar memenuhi kebutuhan-kebuthan jasmani belaka. Padahal pusat dari diri insani manusia berada pada kesadarannya, yaitu kesadaran insani yang melampaui kesadaran hewani, kesadaran yang melibatkan esensi dan selukbeluk dari obyek kesadarannya. Kesadaran ini mampu melampaui kesadaran lingkungan yang hanya diperoleh melalui indera jasadi. Kesadaran ini juga mampu untuk melakukan generalisasi sehingga melampaui batasan-batasan lingkungannya. Kesadaran insani tidak bergantung pada kekinian dan mampu memperhitung­kan masa mendatangnya, sehingga sanggup merubah sejarah. Inilah bentuk kesadaran yang membedakan nafs (diri) insani dari nafs (diri) hewani.
Perubahan-perubahan nafs (diri) dari nafs hewani ke nafs insani dapat digambarkan sebagai suatu perjalanan atau penda­kian dari ketidak sempurnaan menuju kesempurnaan atau dari kelalaian menuju kepada ingatan dan kesadaran.
Janganlah kamu termasuk orang yang melupakan Allah lantas Allah menjadikan mereka lupa akan dirinya sendiri” (al-Quran Surah al-Hasyr [59] ayat 19)
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar!” (QS al-Balad [90] ayat 10-11)
Realitas manusia meskipun tunggal, tetapi memiliki indra-indra dan dimensi yang majemuk (jama’). Kesatuan manusia terletak pada kesadarannya yang diarahkan kepada satu arah, yaitu Ruh Ilahi, sementara kemajemukannya berkaitan dengan jasad yang memiliki banyak sisi dan bagian. Ruh Allah digambarkan sebagai pusat lingkaran sementara seke­lilingnya adalah jasad. Nafs yang ditarik oleh kecenderungan jasadi sehingga berpaling dari pusat kepada sekelilingnya membuat nafs menyebar dan terpecah-pecah. Keadaan nafs yang terpecah-pecah inilah yang disebut hilangnya kesadaran. Seba­liknya jika nafs mengarah kepada pusat lingkaran atau sumbern­ya sendiri (Ruh Ilahi), ia menjadi menyatu dan menyeluruh dalam kesatuan. Ingatan dan kesadaran yang penuh berada dalam keadaan seperti ini. (Sachiko Murata, The Tao of Islam, hal.333)
TAHAPAN KEDUA: MEMBEBASKAN DIRI
Imam Ali as berkata,”Manusia di dunia ini terbagi menjadi dua: Yang pertama adalah mereka yang datang ke (pasar) dunia ini dan menjual dirinya hingga menjadi budak. Yang kedua adalah mereka yang membeli dirinya di pasar ini dan menjadi­kannya merdeka” (Nahjul Balaghah)
Orang yang menjual dirinya adalah orang-orang yang terampas kesadarannya sehingga ia kehilangan dirinya. Orang ini menyer­ahkan kebebasannya kepada orang lain, karenanya Imam mengata­kan orang ini telah menjadikan dirinya budak! Budak bagi kecenderungan-kecenderungan jasadnya. Sementara orang yang membeli dirinya menjadi orang yang merdeka dan terbebaskan! Ini juga berarti bahwa kebebasan dan kemerdekaan tidak bisa tidak harus diperjuangkan dan tidak bisa diperoleh secara cuma-cuma. Sebelum ia membebaskan dirinya dari belenggu-be­lenggu kecenderungan jasadi, pertama-tama sekali ia harus menemukan diri sejatinya. Ia harus mendapatkan kesadaran dari penemuan akan diri sejatinya itu. Kesadaran inilah yang nantinya akan mengantarkannya kepada upaya pembebasan! Salah satu tugas para Nabi adalah membuang beban dan belenggu dari manusia! “…yang membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka” (QS al-A;raaf [7]:157)
Contoh yang paling indah tentang usaha pembebasan nafs ini digambarkan Al-Qur’an dalam perdebatan Nabi Ibrahim as dengan kaumnya, “Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali kepadanya. Mereka berka­ta: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim?”
Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim” Mereka berkata: “(Kalau demikian) Bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan” Mereka bertanya: “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepadanya jika mereka dapat berbicara!” Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka..” (Qur’an Surah al-Anbiya’:58-64)
Al-Quran mengatakan dengan indahnya: “Faraja’uu ilaa anfusihim”, “maka mereka kembali kepada diri mereka sendiri!”, bahwa pada detik dan saat itu orang-orang yang berdebat dengan Ibrahim menemu­kan kembali diri mereka sendiri!. (Murtadha Muthahhari, Haula al-Tsaurah al-Islamiyah, hal.3)
Penemuan diri kaum Ibrahim diperoleh melalui proses berpikir, walaupun setelah itu mereka mengabaikan penemuan dirinya, itu soal lain. Paolo Freire di dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas membagi pemikir menja­di dua: pemikir naif dan pemikir kritis. Bagi pemikir naif , yang penting hanyalah membagi tempat bagi hari ini, sebaliknya bagi pemikir kritis, yang penting adalah kelanjutan dari perubahan realitas, kelanjutan dari proses pembebasan! “Se­sungguhnya Allah tidak akan mereformasi suatu kaum sehingga mereka mereformasi diri (nafs) mereka sendiri” (QS al-Ra’d:11)
Perubahan eksternal tidak dapat terwujud sebelum perubahan internal diwujudkan. Mungkin inilah yang dimaksud bahwa kebe­basan tidak bisa diperoleh begitu saja, kebebasan harus diper­juangkan dengan segenap kesungguhan hati. Dengan kata lain seseorang harus kembali kepada pusat kesadarannya dan menja­ganya agar tetap di sana. Selama seseorang memiliki kesadaran akan dirinya, keinginan dan kehendak untuk bebas merdeka akan terus mengusik nafs-nya.

KISAH ABU DZARR AL-GHIFARI
Ketika khalifah Utsman bin ‘Affan gagal dalam usahanya mem­bungkam protes dan kritik pedas dari Abu Dzarr ra atas kebija­kan-kebijakan politiknya, akhirnya ia membuang Abu Dzarr ke Damaskus. Tetapi di Damaskus pun Abu Dzarr membuat pejabat setempat gelisah dan menjadi gusar bukan kepalang. Muawiyah yang menjabat Gubenur di sana mengeluhkan sikap-sikap Abu Dzarr kepada khalifah Utsman, sehingga Utsman kemudian mengir­im budaknya kepada Abu Dzarr dengan membawa sekantung penuh uang dan Utsman berjanji akan membebaskan budaknya itu jika ia sanggup meyakinkan Abu Dzarr untuk menerima uang itu. Budak yang bermulut licin itu menemui Abu Dzarr dan membujuknya, namun Abu Dzarr tidak goyah sedikitpun, bahkan Abu Dzarr bertanya uang siapakah itu dan mengapa ditawarkan kepadanya, ia juga bertanya apakah orang lain juga diberikan uang seba­gaimana dirinya? Abu Dzarr dengan tegas menolak pemberian uang tersebut. Budak itupun mulai putus asa dan akhirnya ia mencoba menggugah perasaan religius Abu Dzarr: “Tidakkah engkau ingin membebaskan budak?” “Ya, tentu!”, jawab Abu Dzar. “Saya adalah seorang budak Utsman, dan ia berjanjii akan membebaskan saya, jika Anda menerima uang ini. Oleh karena itu lakukanlah itu demi saya”,kata budak itu. Abu Dzar menjawab,”Saya sangat menginginkan kebebasanmu, tetapi jika saya menerima uang ini, kamu akan mendapatkan kebebasanmu sementara saya akan menjadi budak Utsman” (Murtadha Muthahhari, The Unschooled Prophet)
Kesadaran nafs Abu Dzarr telah mampu menangkap maksud-maksud licik dari siapapun yang hendak menjebaknya kedalam perangkap kecintaan kepada materi. Abu Dzar bisa menjadi contoh yang baik tentang kesadaran macam ini. Ia tidak rela menjual harga dirinya dengan nilai-nilai materi. Ia juga tidak rela dibeli oleh siapapun!. Ini merupakan contoh dari dari seorang manusia merdeka dan terbebaskan!
KESADARAN ILAHIYAT
Kesadaran untuk merdeka dari ikatan-ikatan materi, jasadi dan duniawi diperoleh oleh mereka yang telah menemukan asal dan tujuan dari keberadaannya. Imam Ali as berkata: “Semoga Tuhan memberkahi orang yang tahu dari mana ia datang, di mana ia berada sekarang, dan ke mana ia akan pergi” (Murtadha Muthahhari, Human Being in The Qur’an) Al-Qur’an sendiri mengatakan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami akan kembali”. (QS al-Baqarah [2] ayat 156). Kesadaran akan asal diri membuat manusia sadar bahwa keberadaannya harus dinilai dari sisi Insaniyah-nya, bukan dari sisi basyariyah (fisik)-nya. Sisi Insaniyah-nyalah yang membawanya pada kemuliaan. Dan karena alasan ini pulalah manusia harus berusaha membebaskan nafs-nya dari tarikan jasad atau duniawinya. Memang tak bisa diingkari bahwa tarikan jasadi atau duniawi sangatlah kuat, karena manusia adalah anak-anak dunia, Imam Ali as mengatakan: “Manusia adalah anak dunia dan seseorang tak bisa disalahkan karena mencintai ibunya” (Nahjul Balaghah, Hikam:313).
Hadits ini menjelaskan bahwa kecintaan manusia kepada dunia itu masih terbilang wajar jika proporsional. Walaupun demikian manusia harus disapih. Ia harus biasa dan bisa memisahkan diri dari ibunya. Ia tidak boleh terus menetek dan bergantung kepada susu ibunya. Jika tidak segera disapih maka ia akan terus bergantung kepada ibunya dan hal ini melambangkan sikap yang tidak dewasa alias kekanak-kanakan. Manusia bagaimanapun juga mesti berjuang dan berjuang untuk membebaskan dirinya dari keterikatan dan kebergantungan yang berlebihan kepada ibunya yaitu dunia. Perjuan­gan ini mesti ia lakukan agar ia sanggup menjadi manusia merdeka, dan menjadi Insan Sejati!
khomeini1.jpg
TAHAPAN KETIGA: MENAKLUKKAN DIRI ATAU JIHAD AL-NAFS
Berbeda dengan maujud-maujud lainnya manusia adalah maujud yang dapat terpisah dari ke-insan-annya. Jika kita tak dapat memisahkan sifat ke-batu-an dari sebongkah batu dan tidak bisa memisahkan sifat ke-kucing-an dari seekor kucing atau sifat ke-harimau-an dari seekor harimau, sebaliknya manusia justru harus bersusah payah mewujudkan ke-insan-an pada dirinya.
Manusia harus berjihad dan berperang terhadap nafs-nya untuk menjadi manusia yang utuh. Ia mesti menaklukan nafs hewani-nya, karena kecenderungan-kecenderungan hewaninya ini merupa­kan musuhnya yang terbesar. Jika ia tidak berjuang menaklukkan musuhnya ini ia tiada berbeda dengan hewan.
Rasulullah saww bersabda, “Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafs-mu yang ada di antara dua sisimu (lambungmu)” (Bihar al-Anwar70:64)
Imam Musa al-Kazhim as berkata, “Berjihadlah atas nafs (diri)-mu untuk menolaknya dari hawa (nafs)-nya, karena sesungguhnya itu merupakan kewajiban atasmu sebagaimana berjihad terhadap musuhmu!” (Bihar Al-Anwar 78:315)
Dalam rangka menaklukkan atau menjinakkan nafs kita agar terkendali, kitapun harus membuat program untuk melatih diri kita. Tanpa riyadhah (latihan dan disiplin) kita hanya akan menjadi makhluk yang tiada berbeda dengan hewan. Jika rutini­tas kita di dalam urusan-urusan duniawi melalaikan kita dari urusan-urusan akhirat, maka kita tidak akan terangkat menjadi Insan Ilahiyah, bahkan terperosok menjadi makhluk yang hina . Imam Ali as adalah contoh Insan Ilahiyah yang telah berhasil menaklukkan diri(nafs)-nya, yaitu ketika beliau berperang tanding melawan musuhnya. Pada saat musuhnya terjatuh, Imam segera mengayunkan pedangnya, namun sebelum Imam menggerakkan pedangnya, musuhnya meludahi wajah beliau. Wajah Imam Ali memerah. Namun yang mengejutkan musuhnya, Imam justru berbalik mengurungkan niat untuk membunuhnya. Hal ini menyebabkan sebahagian sahabat beliau bertanya kepada Imam, “Mengapa anda tidak jadi membunuhnya?” Imam menjawab, “Ketika lelaki itu meludahi wajahku, aku menjadi marah, namun aku ragu: apakah aku marah karena Allah atau karena wajahku diludahi? Karena itu kuurungkan niatku untuk membunuhnya, aku khawatir jika aku membunuhnya bukan karena Allah”. Sosok pribadi yang mulia ini telah memberikan teladan yang begitu indah. “Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS 29:69)

TAHAPAN KEEMPAT: MEMFANAKAN DIRI

Memfanakan diri atau meniadakan diri adalah upaya untuk hijrah dari rumah kedirian (ego). Ini tahapan tertinggi di dalam jenjang (maqam) kaum irfan. Biasanya setelah ini kaum irfan akan sirna dalam Allah (Wahdat al-Wujud). Pada saat ini kita masih terperangkap dalam kedirian kita yang teramat gelap. Kita masih berputar-putar dalam keinginan-keinginan diri kita semata. Apapun yang kita inginkan, kita menginginkan untuk diri kita sendiri. Pandangan dan pikiran-pikiran kita hanya terpaku pada kepentingan-kepentingan diri kita sendiri dan duniawi belaka. “Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan duniawi sedang tentang akhirat, mereka lalai!” (QS 30:7)
Pada tahapan ini seseorang harus rela menanggalkan cinta diri dan cinta dunia. Kita harus menjadi seperti Nabi Musa as yang hendak menghadap Tuhannya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Aku ini Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesung­guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa!” (Quran Surah Thaha:12)
Sebahagian ahli Irfan menakwilkan kedua terompah sebagai diri dan dunia. Karena itu di kalangan para Irfan ada golongan yang disebut “Khala’ al-Na’lain” (Melepaskan Kedua terompah).
Pada tahapan ini seseorang harus memandang dirinya sebagai berhala yang paling besar. Ini dikarenakan kita sering melaku­kan kebaikan atau amal shalih hanya jika itu mendatangkan keuntungan bagi kita dan pada saat yang sama pula kita menolak kebenaran dan kebaikan jika itu tiada mendatangkan keuntungan pada diri kita. Semua tindak tanduk kita terpusatkan kepada diri kita sendiri. Bahkan kepedulian dan perhatian kita kepada orang lain hanya muncul apabila itu mendatangkan keuntungan bagi kita. Mungkin inilah yang dinamakan egoisme: Yang menarik seseorang kepada keinginan-keinginan diri sendiri.
Manusia memerlukan tangan-tangan gaib untuk dapat membebaskannya dari kuil diri atau dari penyembahan diri yang tiada disadari. Tangan-tangan gaib itu adalah para Nabi dan para wali-Nya yang suci. Kita perlu banyak berdo’a dan bertawassul kepada orang-orang suci. Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah dialog Nabi saww dengan seorang yang bernama Majasyi’.
Seseorang bernama Majasyi’ datang kepada Rasulullah saww dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan menuju pengenalan kepada Allah (al-Haq)?”
Rasul saww menjawab, “Pengenalan diri (nafs)”
Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara menyesuaikan diri dengan Allah?”
Rasulullah saww menja­wab, “Menyelisihi ego (nafs)”
Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan menuju keridhaan Allah?”
Jawab Nabi, “Membenci ego (nafs)”
Dia bertanya lagi, “Wahai Rasu­lullah, bagaimana cara untuk sampai kepada Allah?”
Jawab Nabi, “Hijrah dari ego (nafs)”.
Orang itu masih bertanya lagi: “Wahai Rasulullah bagaimana jalan untuk taat kepada Allah”
Jawab Nabi, “Menentang ego (nafs)”.
Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara berdzikir kepada Allah?”
Jawab Nabi, “Melupakan ego (nafs)”
Dia terus bertanya lagi, “Wahai Rasu­lullah, bagaimana cara mendekat kepada Allah?”
Jawab Nabi, “Menjauhi ego (nafs)”
Dia bertanya lagi, “Wahai Rasu­lullah, bagaimana cara berakraban dengan Allah?”
Nabi menjawab, “Melepaskan diri dari ego (nafs)”.
Sampai pada akhirnya orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulul­lah, bagaimana jalan untuk mencapai-Nya”
Rasulullah saww menjawab, “Memohon pertolongan kepada Allah di dalam mengatasi ego (nafs)” (Mizan al-Hikmah 6:142-143)
Post a Comment