Sunday, July 15, 2012

Tujuh Tingkatan Nafs

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Tradisi Sufi menyediakan suatu panduan lengkap bagi seorang pencari atau pejalan ruhani (salik) dengan langkah-langkah penting di dalam perjalanan menuju pengenalan diri (ma’rifah al-nafs – self-knowledge). Hal ini juga menjawab sejumlah pertanyaan yang muncul, ketika kita mulai melakukan “pencarian” atas Realitas. Apakah yang mencegah kita untuk melihat “tangan” Kesatuan Ilahi di dalam kehidupan dan Keesaan di dalam Keanekaragaman? Apa yang menahan kita bertindak spontan mengikuti pandangan seperti itu? Mengapa kita melanjutkan derita kita dengan keterikatan kita pada duniawi? Kita mesti menguji beberapa terminologi yang kita temukan dalam Sufisme yang akan memperluas dimensi pemahaman kita.
TUJUH TINGKATAN NAFS
Kata nafs merupakan sebuah terminologi kunci dalam tradisi Sufi. Terjemahan harfiah nafs dari Bahasa Arab adalah ‘diri’ (self). Namun, sesungguhnya, nafs berisi keseluruhan spektrum makna yang mencakup ‘diri’ atau entitas ‘aku’. Seorang pembicara berbahasa Arab mengetahui rasa bahasa dari kata nafs yang dimaksud dalam suatu konteks. Kata-kata, nafs dan nafas (bahasa Arab), berasal dari akar yang sama, yang berarti nafas (dalam bahasa Indonesia). Tanafus adalah tindakan bernafas, yang didasarkan pada dua kejadian yang berlawanan: menarik napas (udara) dan menghembuskannya ke udara dan pernapasan itu sendiri. Ada sejumlah ayat di dalam al-Quran yang meminta kita untuk merenungkan sifat alami al-nafs, sebagai contoh:
Demi al-nafs, dan Dia yang menyempurnakannya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaannya” (Al-Quran Surah Al-Syams [91]: 7-8)
Di dalam pemikiran kita, kita akan bertanya,”Apakah diri (al-nafs) diilhami kefasikan atau ketakwaan?”
Setiap manusia mengandung 2 unsur yang saling bertentangan ini — pergerakan menuju ke arah pelanggaran dan pergerakan menuju ke arah ketaatan. Namun kesadaran hadir lewat pengenalan batasan-batasan dan melalui pengetahuan bahwa pelanggaran hanya akan menyebabkan kita mengalami penderitaan dan kesengsaraan.
Di dalam sistem Sufi, suatu spektrum diri (al-nafs) terdiri atas 7 tingkatan, berkisar antara yang paling tinggi sampai kepada yang paling rendah. Bayang-bayang abu-abu berada di antara tingkatan-tingkatan ini, karena bagian-bagian di antara semua tingkatan ini tidaklah sepenuhnya dapat dilihat (nyata) atau dapat diukur atau dihitung.
1. NAFS AL-AMARAH (NAFS YANG MEMERINTAH)
Tingkat terendah dari al-nafs disebut nafs al-amarah atau diri yang memerintah (the commanding self). Ini adalah tingkatan yang paling kotor, yang paling curang, dan yang paling keras. Suatu nama yang menyiratkan bahwa diri ini memerintahkan seseorang untuk melakukan apapun yang datang ke pikiran, seperti sebuah tindakan zalim atau brutal. Tindakan-tindakan itu didorong oleh alasan yang mementingkan diri sendiri (selfish). Apakah itu terjadi tanpa emosi, tanpa rasio, ataupun secara non intelektual, ia masuk ke dalam diri manusia di mana diri ini sudah mendominasi. Secara total, tanpa rasa bersalah dan tanpa ada yang dapat menghentikannya, mereka memerankan tingkah mereka. Nafs ini keras, tertutup, tidak dapat ditembus, gelap, sewenang-wenang dan keras dalam mempertahankan kepentingan dirinya.
2. NAFS LAWWAMAH (NAFS YANG MENYALAHKAN)
Tingkatan yang kedua adalah nafs atau diri yang menyalahkan (the blaming self). Pada tingkatan ini, hati yang keras adakalanya melembut dan suatu cahaya kesadaran masuk ke dalam. Diri ini adakalanya mempertanyakan tindakannya yang salah. Pertanyaan ini menandai adanya suatu celah dari kekerasan egoisme diri, yang membiarkan seberkas cahaya menyinari realitasnya dan adakalanya merefleksikannya.
3. NAFS MULHAMAH (NAFS YANG TERILHAMKAN)
Tingkatan yang ketiga adalah nafs yang kreatif dan toleran (the creative or inspired) self). Ini adalah diri yang berkembang dan meningkat tetapi tidak cukup untuk mengamankan. Ketika kita dalam suatu suasana hati yang artistik atau kreatif, kita tidak mempunyai banyak ketakutan atau kecemasan dan terbuka bagi inspirasi (ilham). Dari sudut pandang Sufi, diri yang menyenangkan ini (sebenarnya) dalam bahaya, sebab terbuka seluruhnya, mengancam hukum-hukum atas sikap yang benar, yang mana ciptaan menjadi subyek.
Nafs Mulhamah adalah diri yang berpandangan terbuka yang mengatakan baik untuk segalanya. Seperti air raksa yang berada di atas meja, diri (nafs) ini melompat ke setiap arah. Ini adalah sikap ‘mengapa tidak?’ (why not?). Hal ini seperti seorang laki-laki dari tujuh puluh orang yang belum pernah bermain ski dalam hidupnya, lalu tiba-tiba ia memutuskan untuk mencobanya. Kemungkinan besar dia akan terjatuh dan menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk menyembuhkan luka-lukanya.. Walaupun diri yang terilhami mungkin menemukan dirinya sendiri di dalam kesulitan, hal itu juga dapat membantu mengembangkan harapan karena kefleksibilitasannya. Kebanyakan orang yang memulai menapaki jalan ruhani akan mengawali tingkat toleransi ini dan bersikap bebas, sebab mereka ingin melihat kebodohan mereka sendiri.
4. NAFS AL-MUTHMAINNAH (the secure (or certain) self)
Tingkatan yang keempat adalah diri yang aman, diri yang tenang. Keadaan diri seperti ini didasarkan pada kepastian dan kepercayaan. Inilah diri yang matang dan diri yang berpengalaman, meyakini bahwa suatu hasil akan selalu baik, dan kapan pun ia menghadapi kekacauan, ia akan mengingat pengalaman masa lalu dan peristiwa-peristiwa sebelumnya demi menyempurnakan kesetiaan, ketenangan dan kesabaran. Al-Qur’an mengingatkan sang diri [al-nafs-the self] yang berada dalam maqam ketenangan (maqam al-muthma’innah) untuk kembali ke Penopangnya, untuk kembali ke pengetahuan yang telah diberikan sebelum ciptaannya dan untuk kembali ke posisi tersebut, ketika itu ia belum memahami waktu, untuk kembali ke sumbernya, kepada Tuhannya.
Rasa aman, tenang dan yakin diawali dengan kepercayaan. Melalui kepercayaan kita bisa mengenal dan mengetahui. Karena kita meinginkan kebaikan dan kepuasan di dalam hidup ini, tampaknya alamiah jika kita menerima hipotesis bahwa keadaan ini sudah dapat dicapai. Jika tidak, mengapa manusia mempunyai keinginan ini? Pada saat tertentu, kita mungkin merasa tidak bahagia dan berada dalam kesulitan, tetapi dengan iman, secepatnya kita mengetahui penyebab di balik situasi yang kita alami itu dan kita mulai belajar bagaimana cara kita melepaskan diri dari keadaan dan perasaan seperti itu.
Dengan mengedepankan kepentingan tetap berada pada jalan ruhani, sang pencari memulai perjalanannya dengan kepercayaan bahwa apa yang sedang ia cari harus dapat dicapai dan tepat, walaupun ia masih belum secara penuh dapat mencapainya, sebagaimana ketika sehari-hari ia berada di sepanjang jalan tersebut, ia akan menemukan bahwa ia berada dalam suatu keseimbangan yang lebih besar sebagaimana ketika tingkat kesadaran diri (self-awareness)-nya pun meningkat. Ada hubungan yang lebih antara niat batinnya dengan tindakan lahiriahnya. Kepercayaannya membantu ke arah peningkatan ketenangan dan kepuasannya, dan ia pun menjadi lebih stabil dan mantap.
Jadi, kita mulai melangkah maju dari inspirasi yang tidak beraturan ke dalam inspirasi yang didasarkan pada suatu disiplin dan pada suatu kepercayaan yang akan kita kenali. Kita mulai melangkah pada jalan yang kita ketahui akan bermanfaat bagi kita seketika dan di dalam hari-hari yang akan datang. Pengetahuan ini harus didasarkan pada suatu realitas batini dan percaya. Bagaimana selanjutnya, kita akan bicarakan tentang suatu akhir yang bukan Anda maupun aku dapat merasakannya atau mengerti?
5. NAFS AL-RADHIYA (The Contented Self)
Tingkatan yang ke lima adalah diri yang senang dan puas [ridha]. Kepuasan atau keridhaan ini didasarkan pada pengetahuan bahwa yang apa pun yang terjadi adalah hasil yang terbaik, karena itulah realitas, untuk pertimbangan yang kita dapat atau tidak bisa kita lihat. Hidup kita senantiasa terisi dengan “naik” dan “turun”; terisi bahkan ketika penyakit menyerang kita. Kita mungkin tidak dapat memahami keseluruhan dari situasi kehidupan kita; kita juga mungkin tidak menyadari keluasan yang mana kita sudah terlalu banyak mempekerjakan diri kita; kita tidak dapat memahami bahwa benih kuman yang menyerang kita hanya mempercepat proses siklus dari jaringan sel.
Mereka tidak pernah menyerang suatu organ tubuh yang berada dalam keadaan baik. Kepuasan atau keridhaan tidak menyiratkan penerimaan yang pasif. Hal ini muncul hanya ketika kita merasakan bahwa kita sudah melakukan yang terbaik dari kita. Kita tidak terisi ketika kita mengetahui bahwa orang lain atau diri kita sendiri mungkin telah lebih sadar atau telah melakukan yang lebih. Kegagalan untuk berbuat yang terbaik menandai adanya kesia-siaan atau ketidakcakapan. Kita tidak suka akan kesia-siaan, sebab secara alamiah dan Jalan Allah adalah jalan atau cara yang paling sempurna, jalan yang paling efisien, dan kita semua mengejar kesempurnaan di dalam apapun yang kita sedang kita mulai, sekalipun jika kita adakalanya menemukan alasan untuk menghentikan tayangan pada separuh jalan dan menyalahkan kekeliruan kita atas orang lain atau keadaan-keadaan tertentu. Selalu ada suatu imbauan atau dorongan batin.
Diri yang berlabuh, diri yang meyakini, berisi bahwa ia akan dapat mengenali. Sekarang ia tidak mengetahui, karena ia tengah mengamati segalanya melalui warna, tebal, dan kacamata gelap. Ia tidak memahami gambar keseluruhan, tetapi ia melihat situasi masing-masing di dalam mikroskopik atau mikroskomik. Pada kenyataannya, bagaimanapun, kita adalah masing-masing suatu mikrokosmos yang berisi arti dari makrokosmos itu.
Jadi, Diri Yang Ridha dan merasa puas ini adalah diri yang memulai perjalanan ruhaninya dan mengikat dirinya sendiri untuk berusaha; Sang diri tidak akan berhenti sampai ia mengenal Sang Penyebab keberadaannya. Bagaimana agar kita dapat menjadi ridha? Sebaliknya kita hanya mempunyai kepastian akan terjadinya kematian fisik dan ditinggalkan, betapapun pengalaman hidup manusia umumnya adalah makanan bagi cacing-cacing di dalam kubur.
Diri Yang Ridha didewasakan oleh pengetahuan. Pada maqam ini diri (nafs –self) telah banyak dikaruniai cahaya kesadaran, yang muncul setelah pikiran sudah ditambatkan. Kata ‘aql di dalam bahasa Arab menunjukkan suatu fakultas pemikiran atau pertimbangan. Biasanya di dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai ‘mind’, tetapi terjemahan yang lebih baik adalah ‘intellect’ atau ‘reason’.
NAFS AL-MARDHIYAH [The Pleasing or Harmonious Self)
Setelah melalui diri yang terpuaskan (nafs al-radhiya), maka muncullah kemantapan batin yang sedemikian besar dan kuat yang membawa sang nafs ke tingkat Nafs al-Mardhiyah – Diri Yang Diridhai, yang telah mencapai keharmosian dan keselarasan dengan Semesta Alam, atau dengan kata lain, kemanunggalan sang mikrokosmos dengan makrokosmos.
Jika kita telah terpuaskan dengan setiap kejadian maupun situasi yang terjadi dalam hidup kita, kita akan tersadarkan secara spontan - ketimbang secara analitis – akan kompleksitas dan kesempurnaan yang menyebabkan segala situasi dapat terjadi.
Mungkin saja kita tidak menyukai apa yang kita lihat; kita tiada mengharapkannya; namun akhirnya kita akan melihat kebenaran yang sempurna di dalamnya. Bisa jadi, misalnya, kita sudah memiliki harapan yang pasti atas kemampuan atau prestasi anak-anak kita, lalu yang terjadi justru bukan seperti apa yang kita harapkan sehingga kita pun kecewa. Sekali waktu, kita melihat (sadar) bahwa kita sudah berlebihan dalam mengharapkan sesuatu. Kesadaran kita akan perhitungan kita yang salah ini telah membawa kita ke suatu pengetahuan dan kepuasan. Walaupun begitu, keadaan diri yang tersadarkan dan terpuaskan ini tidak mencegah kita dari bertindak positif untuk meralat suatu situasi, atau dari menilai kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak dari satu sudut pandang yang seimbang.
Untuk mencapai tingkatan (maqam) nafs al-mardhiyah ini, sang nafs yang telah terpuaskan ini akan menghubungkan kesadaran kita dengan seluruh maujud yang ada dalam Alam Semesta ini. Karena jika kita merasa puas (ridha), maka seluruh maujud di alam ini pun bere-aksi atau memantulkan keridhaannya pula kepada kita. Takkan ada lagi jarak bahkan pemisahan antara kita dengan Semesta Alam ini; Kita menjadi “aman” di dalam pengetahuan sehingga kita tidak lagi peduli dengan situasi apa pun yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Dan akhirnya kita akan menuai semua tindakan-tindakan yang telah kita lakukan terhadap manusia maupun alam. 1]
Semua tindakan kita itu merupakan investasi yang akan kita tuai. Sejatinya, orang yang berada pada tingkatan ini adalah orang yang berada dalam keseimbangan yang mantap (complete equilibrium), karena dia benar-benar sadar akan apa yang bakal terjadi pada dirinya dan selalu terhubungkan dengan seluruh maujud di alam ini. Dia juga telah mampu melihat dengan jelas bagaimana dia nanti, dan akhirnya dia akan memperoleh buah (hasil) dari semua tindakannya di dunia ini.
NAFS AL-KAMILAH (The Perfect or Fulfilled Self)
Tingkatan Nafs yang ketujuh dan terakhir ini adalah Nafs Al-Kamilah, Diri Yang Sempurna. Diri yang berada pada suatu kesadaran yang spontan dan terus-menerus. Kesadaran dalam keseimbangan penyatuan, yang meningkatkan diri menuju ke kesadaran sejati (pure consciousness), tetap tersadarkan dan peka akan Realitas Ilahi Yang Kekal. Inilah nafs (diri) yang secara lahiriah bertindak sebagai wakil kebaikan, yang membantu orang lain menuju ke perkembangan yang konstan dan ketentraman dan secara batiniah ditelan oleh Sang Samudra Wujud (The Ocean of Beingness). Ini adalah nafs yang sisi luarnya berjuang dan berkorban, dan sisi batinnya telah terpuaskan oleh cinta yang tanpa batas.
Inilah diri yang telah mencapai kesadaran yang sejati, murni, lengkap, otentik dan total. Arah kita mesti jelas, yaitu ingin merasakan ketakterbatasan dengan fisik yang terbatas ini. Kadang-kadang kita membebani tubuhnya di luar batas kemampuannya. Hal ini dikarenakan kita terus-menerus salah mengarahkannya hingga melampaui batas. Tubuh kita tak habis-habis mengalami hal ini. Kita mesti mempelajari perbedaan yang sulit ini dan menggunakan energi kita sewajarnya.
Sekali waktu kita menyadari suatu spektrum penuh dari berbagai area yang tidak kita ketahui termasuk apa yang kita sebut nafs (diri) dan kita mulai melihat secara spontanitas, penderitaan kita yang mungkin sudah berkurang.
Jika suatu waktu kemarahan muncul dari dalam diri kita, kita melihat bahwa suatu ungkapan kekecewaan telah dibelokkan dari pencapaian hasrat; kemudian kita segera memahami perhitungan kita yang salah, dan kemarahan kita pun surut.
Hal ini tidak berarti bahwa sang pencari atau sang pengembara ruhani tidak pernah mengalami kekecewaan. Dia bahkan bisa jadi sangat kecewa dan marah ketika dia melihat suatu ketidakadilan atau kezaliman terjadi di depan matanya. Kemarahannya ini muncul secara spontanitas dari dalam dirinya sebagai suatu mekanisme yang membawanya ke bentuk tindakan.
Apakah seorang pengembara ruhani akan berdiam diri ketika ia melihat seorang laki-laki sedang memukuli anaknya sendiri? Tentu saja tidak! Seorang pengembara ruhani bukan orang yang masa bodoh atas apa yang terjadi di sekitarnya. Dia tidak akan sungkan-sungkan menegur, memperingati bahkan meneriaki orang-orang zalim karena kezaliman mereka. Sang pengembara ruhani akan terus berpihak kepad kaum yang lemah, yang diinjak-injak hak-hak mereka, mereka ynag terus dibodohi oleh suatu sistem tiran, apakah itu dijalani oleh sekelompok orang atau beberapa kelompok yang bergabung ingin merampas hak-hak orang lemah.
Jika kita tinggal di sebuah lingkungan yang sedang mengalami kemunduran atau kemerosotan moral, maka suatu waktu akan datang kewajiban agama agar kita melakukan tindakan yang tepat dan bijak atau paling tidak menjauhi dan meninggalkan lingkungan seperti itu. Karena komunitas atau lingkungan yang moralnya sudah sedemikian merosot akan segera mengalami kehancuran. Kita tidak dibenarkan membiarkan kezaliman berlaku di depan mata kita. Imam Ali as berkata, ”Pelaku kezaliman, yang membantunya dan yang rela (ridha) dengan perbuatan tersebut, ketiganya bersekutu dalam kezaliman!” (Ihqaaq al-Haq 12 : 432)
Dengan lugas Al-Syahid Murtadha Muthahhari mengatakan, “Pelaku kezaliman (Penindas) dengan orang yang dizalimi (yang ditindas) bak dua mata gunting. Keduanya bekerja sama dalam melakukan penindasan.”
Kebencian kita kepada kemungkaran sudah merupakan bentuk ketidakridhaan kepada kezaliman. Sebagaimana yang dilakukan oleh Luth atas kaumnya yang menganut paham seks bebas : Luth as berkata, ”Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatan kalian! (Lalu Luth berdo’a): “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan. Lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya semua” (QS 26 : 168-170) Ayat ini menjelaskan bahwa ketidakridhaan Nabi Luth as atas perbuatan homoseks kaumnya menyebabkan beliau as beserta keluarganya diselamatkan dari azab Tuhan yang keras. (Bersambung)
Catatan kaki :
1] Inilah yang terjadi pada kita semua, semua bencana dan musibah yang kita alami saat ini disebabkan karena kita tidak peduli pada orang lain, alam dan ajaran-ajaran agama kita sendiri. Kita senantiasa disibukkan dengan ego dan nafsu kita sendiri. Al-Qur’an mengatakan :
Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. “ (QS al-Anfal [8] ayat 25)

Post a Comment