Sunday, July 15, 2012

Mutiara Tauhid Bab Iman

Bab 3
Pertanyaan Tentang Iman
………………………..
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah Iman mereka dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal”(Al Anfal 3).

Tanya: Apa arti percaya akan Allah, dan akan Rasul, dan mana rupa percaya akan Malaikat, dan mana rupa percaya akan Kitab, dan mana rupa percaya akan Hari kemudian, dan mana rupa percaya akan Untung baik dan jahat yang datangnya dari pada Allah?
Jawab: Arti percaya akan Allah yaitu percaya akan Zat-Nya53), dan Sifat-Nya, dan Af’al-Nya dan Asma’-Nya.
Jawab: Arti percaya akan Rasul yaitu percaya akan jadi rasul,bangsanya kurayis lahir dinegri mekkah,umurnya 63 thn,berpindah kemadinah dan wafat di madinah,kuburnya dimadinah.54)
Jawab: Arti percaya akan Malaikat yaitu percaya bahwa malaikat itu dijadikan Allah ta’la bertubuh halus ,tiada ia laki-laki/perempuan dan tiada minum dan makan ,tiada bersahwat dan beranak/diperanakan dan tiada tidur/lalai.55)
Jawab: Arti percaya akan Kitab,yaitu diturunkan Allah dari langit dibawa jibril,banyaknya 104 buah kitab. 56)
Jawab: Arti percaya akan hari kemudian yaitu  hari Kiamat,berbangkit dari dalam kubur,berhimpun kepadang mahsyar ,bertimbang dosa pahala,titian syiratal mustaqim,telaga, syurga dan neraka 57)
Jawab: Arti percaya akan qadar baik dan buruk itu yaitu qadar baik adalah iman dan ta’at qadar buruk adalah kafir dan maksiat,keduanya itu dijadikan allah ta’la.58)
 ...........................................................................................................................................................................
53) Percaya akan adanya Zat Allah.sebagaimana yang telah diterangkan dalam Al Qul’an”
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ “Dia-lah Allah, Zat Yang tiada Tuhan yang Haq selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”(Al hasyr 22).disini telah disebutkan ZatNya, wajib kita percaya akan adanya Zat Allah itu, dan maha mengetahui ,maha pengasih dan penyayang itu adalah sifatNya,yang wajib pula kita mempercayainya.
Jika anda berkata : kalau begitu Allah itu ada dua jenis,pertama namaNya Zat dan kedua namaNya sifat,,,?  Kita jawab: Zat itu tidak mengandung pisah atau berpadu dengan Sifat,akan tetapi Sifat Allah itu berdiri pada ZatNya, seperti zat gula dengan sifat manisNya sebagai contoh,,,
Yang tidak percaya adanya Allah itu mempunyai sifat, adalah kaum Mu’tazilah yang dikepalai Wasil bin Atha (Wafat 131 H) dan Umar bin Ubaid (Wafat 144 H). lihat (I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah hal 176karya -KH Sirajuddin Abbas).

54) Ini jawaban tertentu kepada seorang rasul yaitu nabi Muhammad saw,sedang segala nabi dan rasul itu banyaknya 315,seluruh nabi itu 8000 orang,4000 dari kalangan bani israil dan 4000 dari sekalian manusia (Tafsir jalalain).
dan arti percaya kepada rasul itu adalah percaya kepada segala apa yang dibawanya sebagai wahyu,mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, Firman Allah :
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul  kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Hasyr:7)  dan FirmanNya :“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu.(Q.S. An-Nisa’:59)

55)  Firman Allah: عِبَادٌ مُكْرَمُونَ وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pengasih telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci Allah. (mempunyai anak) akan tetapi Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan.” (Al anbia’ 26).dan FirmanNya:
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَجَعَلْنَاهُ رَجُلا  “Dan kalau Kami jadikan Rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki ”.(Al an’am 9) ,,Ibnu Katsir menjelaskan:
يقول: لو أتاهم ملك ما أتاهم إلا في صورة رجل؛ لأنهم لا يستطيعون النظر إلى الملائكة من النور
“Jika malaikat-malaikat Allah itu datang kepada mereka,tidaklah datang malaikat itu kepada mereka kecuali dengan rupa seorang laki-laki,karena mereka tidak kuat melihat malaikat itu yag dijadikan daripada Nur” (Tafsir Ibnu katsir juz 3 hal 242).dalam ayat ini disebutkan malaikat itu jika diutus sebagai rasul maka Allah jadikan Ia seperti rupa laki-laki,akan tetapi malikat itu tidak laki-laki dan tidak pula perempuan,dan tidak pula banci,tidak ada jenis kelaminnya,
Percaya pada malaikat itu apa yang dibawaNya wajib hukumnya mengimaninya,

56) Diturunkan kepada segala nabi dan rasulNya,dan segala yang terdapat dalam 104 buah kitab itu telah terkumpul dalam Alqur’an isinya,beriman kepada Alqur’an berarti telah beriman pada semua kitab itu,

57)  Sebagaimana yang tedapat keterangannya dalam Alqur’an banyak sekali,dan itu semua termasuk ilmu Ghaib yang tidak dicapai ‘akal keadaannya, dan tidak bisa dideteksi dengan laboratorium atau diteliti dengan miskoroskop yang paling canggih sekalipun,dan Allah pun tidak menyuruh memikirkannya dan menelitinya,melainkan hanya wajib iman kepadanya Firman Allah:  ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ “Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,ialah mereka yang beriman pada yang Ghaib”,(Al baqarah 2).
58)  Firman Allah: “وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى “Siapa yang ditaqdirkan Allah(dapat petunjuk) maka Allah memberi petunjuk kepadanya” (Al A’la 3). وهدى للرشد والضلالة “maksudnya Allah menunjuki karena Allah ingin mencerdikannya dan  Allah tidak menunjuki maka jadilah ia sesat, Sabda Nabi:
  اِنَّ اﷲَعَزَّ وَجَلَّ قَبَضَ قَبْضَةً فَقَالَ : فِى الجّنَّةِ بِرَحْمَةِ ، وَقَبَضَ قَبْضَةً فَقَالَ فِى النَّارِ وَلاَ اُبَالِىْ .
Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla menggenggam segenggam (tanah) lalu berfirman: “Di surga karena rahmat-Ku”, dan menggenggam genggaman (lain) lalu berfirman: “Di neraka, dan Aku tidak menghiraukannya.”
(HR.Abu Ya’la di dalam Musnadnya 171/2 ,dari hadits Al-Hakam bin Sinan, dari Tsabit dari Anas secara marfu’.)
Para Mujtahid berkata: siapa yang tidak dapat petujuk Allah pastilah dia tersesat dalam ma’siat,itulah arti qadar Allah,menunjuki itu qadar baik yang disertai ridhaNya dan sayangNya, dan tidak menunjuki itu qadar buruk yang disertai marahNya dan murkaNya, dan ,(Tafsir Qurtubi Juz 20 hal 15),, Dari Ibnu umar Rasulullah bersabda:” Allah menciptakan qadar makhluk limapuluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi”.( HR Muslim –Sahih Muslim no 2653). dari Ibnu Dailami ia berkata : “Aku datang kepada Ubay bin Ka’ab, kemudian aku katakan kepadanya : "Ada sesuatu keraguan dalam hatiku tentang masalah qadar, maka ceritakanlah kepadaku tentang suatu hadits, dengan harapan semoga Allah Subhanahu wata’ala menghilangkan keraguan itu dari hatiku”, maka ia berkata :
لو أنفقت مثل جبل أحد ذهبا ما قبله الله منك حتى تؤمن بالقدر وتعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطـئك، وما أخطأك لم يكن ليصيبك، ولو مت على غير هذا لكنت من أهل النار
“Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung uhud, Allah tidak akan menerimanya darimu, sebelum kamu beriman kepada qadar, dan kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset, dan apa yang telah ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu, dan jika kamu mati tidak dalam keyakinan seperti ini, pasti kamu menjadi penghuni  neraka.(Al Musnad dan Sunan abu dawud dan ibnu majah)  Dan adapun mengenai Taqdir Allah itu para ‘ulama membaginya dalam 4 bagian, 1 Taqdir yang dalam Azali,2 Taqdir yang tertulis di Luh Mahfuz,3 Taqdir dalam rahim Ibu,4  Taqdir dalam kenyataan didunia,untuk jelas perincian Taqdir ini lihat (40 Masalah agama jilid 4 hal 294-karya KH Sirajuddin Abbas ).
 Tanya: Bagaimana mengesakan Zat Allah,bagaimana mengesakan Sifat Allah, dan bagaimana mengasakan Af’al Allah?

Jawab: Mengesakan Zat Allah itu yaitu tiada yang maujud didalam alam hanya Allah,wujud “ghairullah” itu tidak ada pada hakikat,59) hanya seperti wujud bayang-bayang tiada hakikat baginya.
Jawab: Megesakan Sifat Allah itu yaitu tiada yang hidup,mengetahui,berkehendak,mendengar,melihat,berkata,pada hakikat melainkan hanya Allah ta’la60) adapun zahir sifat ini kepada makhluk  tempat memandang sifat tuhan yang zahir kepada makhluk,Yakni bayang-bayang sifat tuhan kepada hamba61) , mustahil bayang-bayang dengan tiada wujud yang mempunyai bayang-bayang itu, mustahil pula bergerak bayang-bayang itu sendirinya,mustahil pula bercerai bayang-bayang dengan yang punya bayang-bayang,misal ini hanya untuk menghampiri faham.62) sesungguhnya Allah ta’la maha suci dari pada misal (tasbih),hanya bayang-bayang itu adanya barang yang bertubuh dan beku,seperti kayu dan batu, Zat Allah tiada ‘ain,(materi/jisim yang tersusun,) ibarat ini hanya tempat zahirnya , seperti wujud nur matahari menunjukkan adanya matahari.63)
Jawab: Mengesakan Af’al Allah itu yaitu tiada yang mempunyai perbuatan,dalam alam hanya perbuatan Allah, tidak ada perbuatan makhluk seberat zarrah jua dalam alam64)
Dan jika engkau sangka65) ada perbuatan dan ikhtiar itu bagi makhluk biar sebesar zarrah pun, maka engkau itu telah syirik 66)
Tanya: Apa perbedaan iman dengan islam ?
Jawab: Iman itu dengan batinnya dan islam itu dengan zahirnya, tidak boleh terpisah antara keduanya, tidak sah islam itu kecuali dengan iman, tidak sah pula iman kecuali dengan islam,tidak disebut muslim orang yang tak beriman 67) yang tidak mengerjakan perintah dan menghentikan larangan,
...................................................................................................................................................................
59)  Syekh Haji Muhammad Wali Khalidy berkata: ini tauhid ‘arifin tiada wujud dalam zuknya.Pada hakikat,tapi ada hanya menurut pandangan syari’at,(Tanwirul anwar).sesuai Firman Allah: وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا  “adalah kamu itu mati” ,”( Al Baqarah 28).  Ibnu Katsir menjelaskan: قد كنتم عدمًا فأخرجكم إلى الوجود،  sesungguhnya kamu itu ‘adam( tiada). Maka Aku (Allah) yang mengeluarkanmu kepada Wujud.(Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal 121) yang dimaksud ‘adam adalah tidak ditemukan hakikatnya.ini berbeda dengan faham wahdatul wujud yang mengi’tiqadkan ‘Allah dan alam itu satu.Allah menzahirkan wujud menjadi alam” i’tiqad yang kacau,Allah itu Qadim sedang alam ini Muhaddas.bagimanapun Allah tidak akan menjadi alam,dan alam tidak akan menjadi Allah.

60)  Ini sifat ma’nawi bukan semua sifat Allah,yang mana sifat ma’nawi itu  artinya yang hidup,yang mengetahui,yang mendengar,yang melihat, yang berkata hanya Allah yang memilikiNya,dalil nya sangat banyak dalam Al Qur’an dan hadits,sifat yang zahir kepada makhluk adalah sifat ma’ni namanya,yang artinya dihidupkan diberi pengatahuan,dikehendakkan,diperdengarkan,dan seterusnya,adapun sifat Allah itu sangat banyak, sebab dijawab disini dengan sifat ma’nawi dan ma’ni karena sifat itu yang berbekas pada diri,,,

61) maksud sfat tuhan kepada hamba,Hamba diberi oleh Allah sifat melihat,mendengar,berkata dll,dalilnya sangat banyak terdapat dalam Alqur’an,seperti :
مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلا تَسْمَعُونَSiapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan cahaya terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?" ( Al Qashas 71).dan lagi Firmannya: أَفَلا تُبْصِرُونَ Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" ( Al Qashas 72). Namun yang dimaksud diberi sifat itu bukan dipindahkan sifat Allah itu kepada hamba, ma’na bayang-bayang bukanlah satu adanya yang pengertiannya wujud alam ini adalah wujud Allah/pendengaran kita ini adalah pendengaran Allah dan penglihatan kita adalah penglihatan Allah,I’tiqat itu adalah I’taqad yang tergelincir,sebagaimana yang kita kenal dengan sebutan “Wahdatul wujud”yang artinya wujud yang satu,yakni satu wujudnya dengan wujud Allah,,,Wujud Allah itu qadim tidak berpemulaan,akhir tidak berkesudahan,tapi alam itu tidak qadim,kita termasuk alam,kita diawali dengan lemah kemudian kuat kamudian lemah kembali,itulah ma’na dari surat ( Al Baqarah 28).

62) Yang diamaksud mustahil bercerai bayang –bayang dengan yang punya bayang-bayang adalah,” mustahil sifat ma’ni itu bercerai dengan sifat ma’nawiNya.karena kalau bercerai berarti pendengaran kita, kitalah yang menjadikan,kalau begitu kenapa orang tuli itu tidak menjadikan pendengarannya sendiri,maka itu mustahil”,Misal /contoh yang diibaratkan kepada bayang-bayang kita dengan kita,yang diambil sebagai ibarat disini adalah tentang bekas sifatnya,bukan tentang wujudnya,kalau kita ambil ibarat tentang wujudnya(bayang-bayang) maka pengertianya, kita ini bayang-bayang tuhan, kemanapun tuhan maka otomatis kita mengikutinya,apapun yang dilakukan tuhan maka kita meniru perbuatannya seperti bayang bayang kita mengikuti kelakuan kita, kemana kita pergi dan apapun yang kita lakukan,kita adalah makhluk allah yang kehidupan kita sangat jauh berbeda dengan kehidupan allah, maha suci allah dari mempuyai bayang,tak sepatah katapun dalam alqur’an/hadits menyebut alam ini adalah bayang –bayang tuhan dan tidak pula kehidupan allah itu diberikannya kepada alam,Ahli thariqat menuturkan ibarat ini dengan sebuah pepatah, Putuih ilmu banasakah, Putuih thariqat baibarat,Maksudnya ,matangnya ilmu berbekas pada jiwa, matangnya thariqat ber ibarat, Itulah ibaratnya untuk mendekatkan faham. 
63) Tajali itu artinya meliputi,bekasnya nyata pada makhluk,bukan pindah/foto copy sifat tuhan pindah menjadi sifat makhluk,atau sifat tuhan adalah  sifat makhluk ini,akan tetapi berbekas sifat tuhan itu nyata pada makhluk . bukan kembar,bukan pula satu adanya,tapi adanya makhluk menunjukan adanya sang khaliq, Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits Qudsi:”“Tidak suatu amalan pun yang mendekatkan hambaku kepada-Ku yang lebih aku cintai selain dari amalan yang aku wajibkan kepadanya, dan hambaku itu tetap akan mendekatkan diri kepadaku dengan amalan-amalan sunnat hingga aku mencintainya,apabila aku telah mencintainya maka aku menjadi alat pendengarannya saat ia mendengar,dan aku menjadi penglihatannya saat ia melihat, dan menjadi tangannya saat ia bekerja,dan menjadi kakinya saat ia berjalan,jika ia meminta kepadaku pastilah akan aku kabulkan jika ia berlindung kepadaku pastilah aku lindungi” (HR. Bukhari-Arba’in Nawawi no 38).yang dimaksud Aku menjadi tangannya saat ia bekerja adalah menyertai dan meliputi ,memelihara,dan mengkuasakan,Firman Allah:
 فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى tidaklah engkau yang membunuh mereka tetapi Allah yang membunuhnya, dan tidaklah engkau yang melempar saat engkau melempar, malainkan Allah yang melempar. (Al Anfal 17)

64) ini telah melewati batas I’tiqat Ahlussunah wal Jamaah,kalau teri’tiqatkan semua perbuatan dan ikhtiar itu dari tuhan tidak ada sedikitpun dari makhluk apalah artinya tuhan dan apa artinya makhluq,apakah tuhan itu pernah berzina,yang mana berzina itu perbautan makhluk,apakah tuhan itu pernah buang air besar, apakah tuhan pernah tidur,apakah tuhan pernah azan dan qamad dimasjid,,,? ini faham yang kacau,begitulah faham Jahal bin Safwan tokoh utama kaum Jabariyah,yang disebut dalam ( I’tiqat Ahlussunah wal jamaa’ah oleh KH sirajuddin Abbas pada bab Jabariyah hal 245) walau hanya sekedar I’tiqat bagi ‘ammah atau zuk bagi ‘arif,itu tidak sah menjadi jawaban tauhid af’al.
65) maksudnya ter‘itiqatkan bukan sangka,karna sangka itu waham yang menjadi sifat manusia yang lemah ,kalau teri’tiqatkan yang seperti itu hanya makhluk saja tidak ada urusan Allah dalam usaha kalaulah bukan karena makhluk usaha itu tidak akan jadi,,kalulah tidak karena dokter itu yang mengobati pastilah tidak akan pernah sembuh,maka itu benar syirik,karena yang akan menyembuhkan itu hanya  Allah,
66) Hati-hati dengan kata syirik,Yang syirik itu menduakan ‘Afal Allah,Firman Allah: وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ  “Aku yang menjadikan kamu dan apa yang kamu kerjakan,(Allah juga yang menjadikan)”,( As Shafat 96).Ibnu katsir Mentafsirkan ayat ini dengan
persamaaan “الذي ”dengan kalimah  مَا dengan kalimah seperti ini والله خلقكم والذي تعملونه  “Allah yang telah menjadikan kamu dan apa(zat) yang kamu kerjakan/usahakan itu”, karena مَا masdar dan الذي isim mausul sederajat ma’nanya  kedua kata itu adalah Lazim, (Tafsir Ibnu Katsir juz 7 hal 26),, kalau teri’tiqatkan Allah yang menjadikan seperti alam semesta,dan makhluk juga ada yang menjadikan,seperti menjadikan nasi dari beras,maka itu namanya menduakan af’al Allah,pada ayat diatas telah diterangkan bahwa Allah yang menjadikan dan kamu yang mengerjakan(iktiar),walu sering diucapkan dalam kehidupa sehari-hari,seperti “saya menbuat air teh”,namun hakikat sebenarnya “saya mengaduk air dengan teh”,,,,,
Mengesakan af’al Allah itu adalah: Allah yang menjadikan benda apa saja di alam ini,tidak ada selain Allah yang menciptakan,manusia hanya mengerjakan yang telah diciptakan Allah itu, dan kekuatan yang kita gunakan untuk bekerja itu Allah juga yang menciptakan, bukan makluk yang menciptakan kekuatannya sendiri, bukti  ikhtiar atau usaha itu ada pada makhluk sebagaimana Firman Allah:
الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ”Pada hari qiyamat setiap diri menerima balasan  menurut yang diusahakannya, Tidak dianiaya diri pada hari itu. Sesungguhnya Allah menghisab sangat cepat” ( Al Mu’min 17).bukanlah Allah pula yang punya usaha seperti yang difahami oleh kaum jabariyah, karena (usaha)pekerjaan Allah tidak ada yang membalas,dan lagi Firman Allah:
 لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ “Bagi manusia  itu balasan apa yang diusahakannya, dan atas manusia  itu hukuman apa yang diusahakannya”,( Albaqarah 286)
Pada ayat ini jelas usaha itu ternistbat kepeda manusia bukan kepada Allah,jika Allah jua yang berusaha maka sipakah yang membalasnya dan siapakah yang akan menghukumnya,,? Singkat kata usaha itu Allah yang menciptakan manusialah yang mengerjakan dengan izin Allah, Allah yang memutuskan berhasil atau tidaknya usaha itu manusia berikhtiar melakukan yang terbaik,Allah yang berkuasa segalanya manusia menerima keputusan Allah,begitulah faham Ahlussunah wal Jamaah .jika tersangka atau teri’tiqatkan ada kekuasaan bagi makluk dalam memperbuat disamping kekuasaan Allah juga ada yang memperbuat itu namanya syirik.seperti Allah berkuasa menjadikan gunung,manusia juga berkuasa meruntuhkan gunung itu,itu namanya syirik Af’al Allah,kerena Allah yang mengizinkan runtuhnya gunung itu,walau tampa usaha manusia,gunung itu bila tiba saatnya akan runtuh jua.seperti itu pula hujan yang diturunkan Allah,tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya meliankan izin Allah.walau tampa tankal hujan dan segala macamnya dari manusia,bila tiba saatnya hujan itu akan berhenti juga,siapakah yang mampu melawan Allah,,,,? Jangankan Allah malaikat maut saja gak seorangpun yang mampu melawannya,,,,.
“Al-A’masy dari Yazid Ibnul Asham, dari Ibnu Abbas. Rasulullah bersabda:

 أَجْعَلْتَنِي مَعَ اللهِ عَدْلاُ ( وَفِي لَفْظٍ نِدًّا ) لاَ بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ
                “Apakah kamu menjadikan aku bersama Allah sebagai bandingan? (dalam suatu lafazh setara?). Tidak, tetapi suatu kehendak Allah sendiri.” (HR.Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad  787),dan ( Ibnu Majah (2117),

67) Maksudnya muslim yamg sempurna,kesimpulannya iman itu Roh dan islam itu tubuh(syari’at) karena yang diseru allah untuk berpuasa bulan ramadhan dan mendirikan shalat adalah orang yang beriman,agar menjadi orang islam yang sempurna.ya’ni orang yang bertaqwa.sesuai Hadts sahih Riwayat Muslim dari Umar,tentang iman, islam dan ihsan seperti yang telah diterangkan pada bab diatas.
Post a Comment