Sunday, July 15, 2012

Mutiara Tauhid Bab ilmu

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

بسم الله الرحمن الرحيم
Bab 1
Pertanyaan Tentang Ilmu.
……………………
                قال نبي ص م :طلب العام فريضة على كلى مسلم ومسلمة
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Menuntut ilmu itu fardu atas setiap muslim dan muslimat”. (HR. Ibnu Majah-dengan sanad hasan).
Tanya: Manakah ilmu yang Fardu ‘ain 1) menuntutnya?
Jawab: Ilmu yang fardu ‘ain menuntutnya itu ada3, ilmu Usuluddin2), Fiqih3), dan Tasawuf 4).
Tanya: Apakah Had (Undang-undang) ilmu Usul yang fardu menuntutnya,dan manakah had ilmu Fiqih yang fardu menuntutnya,dan mana had ilmu Tasawuf yang fardu manuntutnya?

1) yang artinya Fardu untuk diri sendiri.

2) Yaitu usul agama artinya asal/pokok  agama islam,karena didalamnya banyak membahas masalah I’tiqad sebagai pondasi iman,ada yang menyebut ilmu kalam,karena dikaitkan dengan kalam Tuhan yang menyebutkan sifat-sifatNya yang lebih dikenal dengan sifat 20, ada juga yang menamai ilmu Tauhid,yaitu “keesaan Allah”,karena didalamnya mengkaji tentang keesaan Allah,Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘ulumuddin, lebih suka menyebut ilmu tauhid daripada ilmu kalam,karena ilmu tauhid lebih mendekati ma’na daripada ilmu kalam,adajuga yang menyebut ilmu ‘aqaid yaitu ‘aqidah,karena yang banyak dibicarakan didalamnya masalah ‘aqidah (kepercayaan).semua istilah tersebut adalah sama maksudnya yaitu Usuluddin.

3) Berbagai masalah tentang hukum syari’at islam /peraturan dalam menjalankan amal ibadah,yang ahli dibidang fiqih itu sepanjang sejarah islam yang termasuk ‘ulama mutaqaddimin adalah empat orang:
1.       Imam Abu Hanifah ( Imam Hanafi) lahir 80H-150H usia 70 thn,
2.       Imam Malik bin Anas ( Imam Maliki) lahir 95H-179H usia 84 thn
3.       Imam Muhammad Idris ( Imam Syafi’i) lahir 150H-204H usia 54 thn,
4.       Imam Ahmad bin Hanbal ( Imam Hanbali) lahir 164H-241H usia 77thn.
4) Asal kata صوف . yang berarti bulu domba,yang mana pada mulanya orang-orang Tasawuf itu memakai pakaian yang berasal dari bulu domba yang kasar dan tidak suka memakai pakaian yang mewah-mewah/bermegah-megah,maka mereka diberi julukan nama sawuf (si bulu domba),maka dari itu orang-orang awam mengira mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah yaitu perhiasan,tuduhan seperti itu disebabkan kebodohannya,karena orang-orang tasawuf tidak pernah mengharamkan perhiasan mewah,hanya “Tidak Suka” disebabkan kezuhud-an mereka, Ada yang mengatakan asal kata itu صفة yang artinya pendopo/pondok sebuah tempat di samping masjid madinah,karena disana mula-mula mereka bertempat,mengikuti nabi dan meniggalkan rumahnya. Ada yang mengatakan berasal dari kalimat  صف yaitu saf sembahyang ,yang mana orang-orang Tasawuf itu bersaf-saf dihadapan allah diakhirat nanti pada saf terdepan karena ketulusan hatinya,(KH Sirajuddin abbas 40 Masalah agama jilid 3 hal 32,)
Imam Abul Qasim Al qusyairi,imam besar Ulama Tasawuf, berkata:  istilah saf ini kurang tepat bila dinisbatkan kepada kelompok mereka.Imam Abul Qasim Al qusyairi mengambil istilah Tasawuf ini dari sebuah Hadits nabi saw : Diriwayatkan dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abu Juhaifah yang berkata: “Bahwa Rasulullah pernah datang kepada kami yang wajahnya tampak seperti marah,lalu Bersabda:
  ذهب صفوُ الدنيا وبقي الكدر فالموت اليوم تحفةٌ لكل مسلم.  “Telah hilang “kebersihan” dunia dan tinggal keruhnya saja,maka mati pada hari ini adalah  sesuatu yang mahal bagi setiap muslim”. (HR,Daruquthni dari Jabir,-Al kanz 15/551 no 42138 dan dari  Ibnu Mas’ud dengan sanad mauquf.) dan (Risalah Qusyairiyah bab Tasawuf ), Al Qusyairi imam besar ulama tasawuf mengambil kalimat Tasawuf dari kata “sawuf” pada hadits diatas,yang artinya bersih (tulus).
واضح الدلالة في فضل العلم، لأن الله تعالى لم يأمر نبيه صلى الله عليه وسلم بطلب الازدياد من شيء إلا من العلم، والمراد بالعلم العلم الشرعي الذي يفيد معرفة ما يجب على المكلف من أمر عباداته ومعاملاته، والعلم بالله وصفاته، وما يجب له من القيام بأمره، وتنزيهه عن النقائض، ومدار ذلك على التفسير والحديث والفقه، وقد ضرب هذا الجامع الصحيح في كل من الأنواع. الثلاثة بنصيب، فرضي الله عن مصنفه، وأعاننا على ما تصدينا له من توضيحه بمنه وكرمه.
Hafiz ibnu ahjar atqalani berkata Tentang firman Allah  رَبِّ زِدْنِي عِلْما”Ya allah tambahkanlah bagiku ilmu” Ini sebaik-baik dalil pada keafdalan ilmu,sesungguhnya Allah Ta’ala tidak memerintahkan nabi Muhammad saw dengan menuntut tambahan daripada sesuatupun kecuali ilmu,dan yang dimaksud adalah ilmu syari’at yang berfaedah pada mengenal barang yang wajib atas setiap mukallaf dari mengerjakan ibadah dan beramal kepada allah,dan ilmu billah dan tentang sifat-sifat Allah,dan apa yang wajib baginya mendirikan dengan suruhan Allah…..(Fathul baari 1/13).
Jawab: Adapun had ilmu Usul yang fardu manuntutnya yaitu mengetahui  sekedar yang wajib5), dan yang mustahil 6), dan yang harus7) , bagi Tuhan Allah ‘azza wa jalla, seperti itu pula kepada Rasul 8) dengan sekira-kira yang mengesahkan akan “Imannya”.
Jawab: Adapun had ilmu Fiqih yang fardu ’ain menuntutnya yaitu dengan sekira-kira yang mengesahkan akan “Amalnya”,seperti mangetahui akan segala syarat dan segala rukunnya dan yang membatalkannya9) ,
Jawab: Adapun ilmu Tasawuf yang fardu ‘ain manuntutnya yaitu dengan sekira-kira mangetahui  segala yang akan membatalkan  pahala amal ibadahnya, seperti ria,sum’ah,‘ajib,takabbur dan sebagainya yang dicela oleh syara’ 10).


5) Yang wajib bagi allah itu adalah sifatnya yang wajib, yaitu 20 sifat yang wajib bagi Allah,yang artinya perlu ada/pasti ada,tidaklah sama pengertiannya dengan wajib bagi manusia. karena  tidak ada yang mewajibkan kepadaNya,dan tidak ada yang memberi pahalaNya dan tidak ada pula yang memberi Ia dosa,maha suci Allah dari sesuatu yang mamberatkannya.(Ihya ‘ulamuddin-bab Aqaid ).

6) Mustahil artinya pasti tidak ada yaitu 20 sifat yang mustahil lawan wajib bagi allah. maha suci Allah dari sifat-sifat cacat ( Ihya ‘ulumuddin-Bab Aqaid).

7) Harus artian dari jaiz,maksudnya boleh ada dan boleh tidak,yaitu satu sifat yang jaiz bagi allah,adalah menjadikan sekalian alam.(‘Aqidatus Sanusi hal 4).

8) Rasul yang dimaksud disini adalah (Muhammad saw) (yaitu 4- sifat yang wajib bagi rasul,4- sifat yang mustahil bagi rasul,dan 1- sifat yang jaiz bagi rasul  ( ’Aqidatus sanusi hal 4 dan Fathul Majid hal 5 ). Bukan wajib bagi semua rasul, karena sifat yang wajib bagi rasul itu siddiq,tablingh, amanah,futunah,tidak semua rasul yang wajib ada amanah futunah baginya,seperti Rasul Yunus As yang lari dari kaumnya karena terlambat datangnya janjian Allah,lari itu termasuk sifat tidak amanah.
Syekh Isa bin Abdullah Mani’ al-Hamyari,dalam lingkungan mazhab Syafi’i menjelaskan: “Aqidah iman atau aqidah sifat 50 adalah ijma ulama dan tidak boleh dipertikaikan. Aqidah Sifat 50 yaitu:- 20 Sifat yang wajib bagi Allah, 20 sifat yang mustahil bagi allah, 1 sifat yang harus/jaiz bagi Allah,dan  4 sifat yang wajib bagi Nabi saw, 4 sifat yang mustahil bagai Nabi saw, 1 sifat yang harus bagi Nabi saw,Bagi mereka yang mempertikaikan maka pastilah ada masalah dalam aqidah mereka.seperti kata mereka”Apakah Allah hanya memiliki 20 sifat itu saja,,?” maka Kita katakan: Allah bersifat dengan sifat-sifat kamalat yang tidak terhitung banyaknya. 20 sifat adalah yang wajib diketahui,sementara sifat-sifat yang lain adalah terkandung didalam 20 sifat tersebut.karena 20 sifat ini adalah berdasarkan dalil-dalil yang qati’ (Tashih Al-Mafahim Al-’Aqadiah fi sifatul ilahiyah hal 53).

9)  Rasulullah bersabda:
 (من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين، وإنما أنا قاسم والله يعطي، ولن تزال هذه الأمة قائمة على أمر الله، لا يضرهم من خالفهم، حتى يأتي أمر الله).
Dari  Sai’d bin ’Afir berkata dari Ibnu wahab dari Yunus dari Ibnu Syihab berkata:berkata Hamid bin ‘Abdul Rahman: Aku mendengar dari Mu’awiah Khatib berkata: Aku mendengar Nabi saw bersabda: “Siapa yang dikehendaki Allah kebaikan kepadanya maka Allah menfahamkan (faqih/fiqih) dia pada agama,dan saya hanya membagi-bagikan sedang yang memberi (ilmu) adalah Allah, sebagian dari ummat ini akan tetap berpegang teguh pada agama Allah,tidak ada yang dapat mempengaruhinya hingga datang pekerjaan Allah (hari kiamat). (HR,Bukhari no 71 ) Arti..(memfaqihkannya) dalam riwayat Al- Mustamli- dalam kalimah “Yufaqihu” adalah Yufahamu =Faham atau pintar dibidang syari’at islam,sesuai Firman Allah:
 هَؤُلاءِ الْقَوْمِ لا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًاMaka mereka itu (orang munafik) hampir-hampir tidak “memahami”  hadits ( berita )”, (Annisa’ 78) dan (Futuhul baari jilid 1 hal 302).

10) Tasawuf mengatur dibidang hati dan akhlak, dalam kitab Ta’limul muta’lim mengatakan : ilmu yang wajib menuntutnya itu ada 4 :1 Ilmu tauhid (ushul),2 ilmu hal yang berkaitan dengan tingkah laku (akhlaq),3 ilmu yang berkaitan dengan gerak hati(Tasawuf),4 ilmu fiqih. (Ta’limul muta’lim hal 1-5) Tasawuf tidak ada hubungannya dengan Filsafat Yunani Sebagimana yang dida’wakan sebahagian orang ,ada yang mengatakan ilmu Tasawuf itu ada kesamaan dengan filsafat,walau ada kesamaan tapi ada bedanya,adapun filsafat bersandarkan kepada akal dan rasio,sedang Tasawuf bersandarkan kepada Alqur’an dan Hadits.
 
Tanya: Bagaimanakah dengan orang yang beramal yang tidak mangetahui ilmu yang 3 itu ?
Jawab: Sabda nabi: Tidak sekali-kali diterima segala ‘amal ibadahnya  walau mengerjakan haji  sekalipun dan lagi haram manuntut ilmu pardu kifayah11) sebelum mengetahui ilmu fardu ‘ain,
contoh; seperti seseorang berhutang qada’ sembahyang luput nya yang tiada ‘uzur, maka haramlah berbuat sunat sebelum habis masa waktu qada’ shalat yang tiada ‘uzur itu,juga tidak sah ia menjadi wali nikah dan saksi nikah12) ya’ni orang yang meniggalkan ilmu fardu ‘ain itu.
Tanya: Orang yang berilmu itu berapa macamnya ?,
Jawab: Ulama itu terbagi 2,
1.      Ulama’ dunia,
2.      Ulama’ akhirat13)

11)  Sabda nabi dengan matan seperti ini tidak ditemukan, Mungkin yang dimaksud adalah Sabda Nabi saw:
فضل العلم خير من فضل العبادة
“Afdalnya ilmu itu lebih baik daripada seafdal-afdal ibadah”(HR.Tabrani-Arbain nawawi no 10 bab Afdalul ilmi) dan (Ibnu abi syaibah dari Waqi’ no 26639)
Dan dari ibnu abbas Rasulullah bersabda:
.طَلَبُ العِلْمِ أَفْضَلُ عِنْدَ الله مِنْ الصَّلاَةِ والصِّيَامِ وَالحَجِّ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ الله عَزَّ وَجَلَّ
“Menuntut ilmu itu lebih afdal disisi Allah daripada shalat,puasa dan haji dan jihat fisabilillah azza wa jalla”(HR.Dailami dengan sanad da’if-Fathul kabir no 7510)
Sufyan Tsauri berkata:
ما من عملٍ أفضل من طلب العلم إذا صحت النية
“Tidak daripada ‘amal yang lebih afdal daripada menuntut ilmu apabila sah niat(Arbain nawawi  no 10)
Imam syafi’I Ra berkata:
طلب العلم أفضل من صلاة النافلة
“Menuntut ilmu itu lebih afdal daripada shalat sunat” (Tahzib asma’ pasal  Fi nawarad 1/63)
Dan bagi yang mengajarkan ilmu begitu pula Rasulullah bersabda:”Apabila muncul bid'ah-bid'ah di tengah-tengah umatku wajib atas seorang 'alim menyebarkan ilmunya (yang benar). Kalau dia tidak melakukannya maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Tidak akan diterima sadaqahnya dan kebaikan amalannya”. (HR.imam empat)
Imam Al Ghazali salah seorang tokoh tasawuf mengatakan: “orang yang meninggalkan fardu ‘ain seraya mengerjakan fardu kifayah bagaikan orang yang sengaja meninggalkan shalat seraya menenun pakaian dengan menda’wakan “saya menenun pakaian ini untuk orang yang melakukan shalat dalam keadaan telanjang dan tidak menemukan kain penutup aurat mereka, ia menyangka perbuatannya itu baik padahal tidak “( Ihya ‘ulumuddin),
 Fardu kifayah Yaitu fardu untuk diri sendiri dan untuk orang banyak,jika dalam suatu quryah tidak ada yang melakukannya maka berdosalah semua orang quryah itu,jika ada 1 orang yang melakukannya maka gugurlah dosa semua orang yang dalam quryah itu.Dalam kitab Ta’lim muta’lim dikatakan:
 بأنَ علم ما يقع على نفسه فى جميع الأحوال بمنزلة الطعام لابد لكل وحد من دًلك,وعلم مايقع ف بعض الأحايـين بمنزلة الدوإ يحتاج اليه فى بعض الأوقات.
“Sesungguhnya ’ilmu yang berkaitan dengan diri sendiri dalam setiap saat (fardu a’in) laksana makanan dimana yang setiap orang membutuhkannya,dan ilmu yang diperlukan pada saat-saat tertentu (fardu kifayah) laksana obat yang dibutuhkan pada saat-saat tertentu saja” .( Ta’limul muta’lim hal 7 ).

12) Karena fasiqnya,yaitu menyengaja meninggalkan yang fardu, seraya mengerjakan yang sunnat,yaitu meninggalkan menuntut ilmu yang fardu ‘ain bagi dirinya,seraya berbangga-bangga dangan tumbuhnya beberapa helai rambut dibawah dagunya,dan menuding orang yang tidak meniru gayanya dengan kafir..mereka mengira bahwa amalnya itu baik,dan menegakkan sunnah padahal tidak,,,

13) Menurut longhat yang disebut orang yang  berilmu itu adalah ‘alim,identik dengan ‘ulama yaitu orang yang mengamalkan ilmunya,Rasulullah bersabda: “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat”. (HR.Imam empat),
dan lagi Sabdanya: “Apabila kamu melihat seorang ‘ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri”. (HR. Ad-Dailami) dan “Celaka atas umatku dari ‘ulama yang buruk”. (HR. Al Hakim),
Berlandasan hadits diatas, maka ‘ulama itu terbagi dua yaitu ‘ulama dunia dan ‘ulama akhirat,untuk lebih jelas rincian pembagiannya lihat keterangan Imam Al Ghazali (Ihya ‘ulumuddin-bab ‘ulama su’in).
Tanya: Berapa alasan lebihnya ilmu dari harta?
Jawab: Ada 5 alasan:
1.      Harta tidak dibawa mati,tapi ilmu dibawa mati,
2.      Ilmu memberi manfa’at didunia dan di akhirat14)
3.      harta hanya bermanfaat didunia saja,seperti menafkahkannya dijalan allah.
4.      Ilmu tidak akan binasa/dicuri, tapi harta pastilah binasa,15) Harta bila dinafkahkan makin berkurang sedang ilmu bila dinafkahkan makin bertambah,
5.      Harta warisan Qarun,ilmu warisan Nabi,harta jadi beban diakhirat nanti,jika halalnya dihisab haramnya diazab,ilmu tidak demikian16) .Sabda nabi: orang faqir lima ratus tahun lebih dahulu masuk syurga dari orang kaya17)
Tanya: Mana yang dimaksud kaya disini?
Jawab: Yaitu menuntut harta yang lebih dari sekedar hajat yang memadai18)


14) Maksudnya ilmu yang bermanfa’at  Rasulullah saw bersabda:
إدَ مات الإ نسان أنقتع عمالُه إلا مِن ثلاثِِ: صدقة جاريةِ, علم ينتـفع بهِ, ولدِِصالح يدعوله 
”Apabila mati seorang insan maka putuslah segala ‘amalnya kecuali 3 perkara: 1 Sedekah jariyah, 2 ilmu yang bermanfa’at, 3 Anak yang sholeh yang berdo’a kepada Allah untuknya” ( HR, Muslim-Mukhtarul Hadits nabawi hal 18)

15) Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra memberi nasehat kepada Kumail bin Ziyad: “wahai kumail….! Ketahuilah bahwa ilmu lebih baik dari harta,sebab ilmu akan dapat menjagamu,sementara engkau akan menjaga harta,harta akan lenyap apabila dinafkahkan,dan ilmu akan tetap suci abadi bila diberikan,hilanglah harta benda bersama hilangnya harta itu sendiri”.( Ta’limul muta’lim hal 1).

16) Firman Allah:
 لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ  “Kami(Allah)tidak menuntut (tanggung jawab) engkau tentang rizki,karena kami yang memberimu rizki” (Tha ha 132).Ibnu Jarir Al Thabari salah seorang ‘ulama tafsir dalam lingkungan mazhab Syafi’I mengatakan:”Allah memulai ayat ini dengan menyuruh Ahli bait mendirikan shalat,itu sebagai tanggung jawab kepala rumah tangga yang akan dihisab, tapi tidak dihisab  dihari akhirat nanti tentang mencukupkan harta (rizki)”,(Tafsir Thabari juz 18 hal 405).

17) Hadits Riwayat Thirmidzi dan Ahmad, maksudnya orang faqir yang berilmu (‘alim) dan orang kaya yang sibuk mengurus kekayaannya dan lalai dari menuntut ilmu.sebutan lima ratus tahun itu adalah ungakapan jarak yang begitu lama,sedang dihari akhirat tidak ada lagi hitungan hari,Seperti Allah menjadikan langit dan bumi dalam enam hari,padahal langit dan bumi baru dijadikan dan belum ada siang dan malam,bagaimanakah disebut enam hari,,,? Imam Suyuthiy berkata dalam Tafsir jaelalain: maksudnya Allah mengajari manusia mengerjakan sesuatu dengan tenang-tenang dan tidak tergesa-gesa,,,rangkaian kalimat seperti itu sudah lazim dalam dunia Islam,

18) Yang dimaksud kaya disini adalah orang yang memiliki harta yang lebih dan berlimpah, bukab menuntut harta dan bukan pula kaya hati seperti dalam Hadits nabi saw: “Kekayaan bukan banyaknya harta-benda yang dimiliki, tetapi kekayaan itu adalah kaya hati”. (HR. Bukhari),
Akan tetapi seperti yang tersebut dalam  riwayat  Dari Anas bin Malik r.a. berkata, "Ketika kami duduk dengan Nabi saw di masjid, masuklah seorang laki-laki yang mengendarai unta, lalu mendekatkan untanya ke masjid, dan mengikatnya. Kemudian ia berkata, 'Manakah di antara kalian yang bernama Muhammad?' Nabi saw sedang bertilakan di antara mereka, lalu kami katakan, Laki-laki putih yang bertilakan ini. Laki-laki itu bertanya,…. Wahai putra Abdul Muthalib, Saya menyumpahmu dengan nama Allah, apakah Allah menyuruhmu untuk mengambil zakat ini dari orang-orang kaya kita, lalu kamu bagikan kepada orang-orang fakir kita?' Beliau bersabda, Ya benar, Allah yang menyuruhku”.(HR,Bukhari-Sahih Bukhari 'bab ilmu).
Seiring keterngan Imam Nawawi  : yang disebut faqir adalah orang yang punya harta sekedar hajatnya untuk hari ini tapi tidak ada cadangan untuk besok,yang disebut miskin orang yang tidak punya harta untuk hari ini apa lagi untuk besok. (Minhaj Thalibin bab zakat).
Sedang sibuk menuntut harta pada jawaban diatas  itu ghurur (lalai) namanya, seperti yang tersebut dalam Firman Allah  “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, hingga kamu masuk ke dalam kubur” (At Takasur 1-2).
Sabda nabi saw: siapa menuntut harta lebih dari sekedar hajatnya yang memadai maka allah butakan kedua mata hatiny19),Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Manakah orang yang tidak ber’akal ya rasulullah? Rasulullah menjawab; Yaitu orang yang meninggalkan menuntut ilmu karena menuntut harta benda yang berlebihan20)
Tanya: Mana yang benar-benar ilmu?
Jawab: Yaitu mengetahui baik, jahat, zahir, batin, awal, akhir, halal, haram, makruh, mubah, sunat, fardu, rukun, syarat, sah dan batal.
Tanya: Apakah yang mengalahkan ilmu,?
Jawab: Yaitu nafsu.21)
Tanya: Apa yang mengalahkan nafsu?
Jawab: Takut akan allah yang benar-benar takut22).
Tanya: Mana kesudahan ilmu?
Jawab: Yaitu kembali kepada asal, seperti sedia kala23).
Tanya: Ada orang yang berkata: ilmu Tasawuf itu adalah ilmu orang-orang dahulu,derajatnya sulit difahami,kita orang awam tidak mengerti dangan
hukumnya,jadi kita tidak diwajibkan menuntutnya,bagaimanakah dengan kata itu ?,
Jawab: Kata itu tidak berdalil kecuali hanya dalil akal,sedang nabi mewajibkan menuntut ilmu,sabda Nabi ini ditujukan kepada seluruh muslimin dan muslimat,terutama orang awam,orang dahulu itu sebelumnya juga awam,karena menuntut ilmulah makanya dia jadi ahli ilmu

19) Matan yang seperti ini bukan sabda nabi tapi Kata Syekh Ibnu Athaillah: Kegigihanmu untuk mencapai apa yang telah dijaminkan untukmu (yakni di dalam urusan rizki) disamping kelalaianmu pada (perkara-perkara) yang telah dituntut daripadamu (yakni di dalam mengerjakan ibadat) adalah suatu bukti butanya penglihatan mata hatimu. ( Al Hikam ke 5),  seiring firman Allah:
 وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُDan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”,,
Seiring Hadits Sahih Riwayat Ibnu Majah, “ Dari Sya’ibah dari Umar bin Salim dari Abdurahman dari Bapaknya dari Zaid bin Tsabit berkata:Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Siapa mencintai dunia maka Allah merasakan kepadanya kefakiran didepan matanya,dan siapa yang tergantung niatnya menuju akhirat maka Allah kayakan hatinya dan Allah cukupkan kehidupan dunianya”( HR.Ibnu Majah dengan sanad sahih) dan (Tafsir Ibnu katsir juz 5 hal 328).

20) Hadits Riwayat Ahmad dan Thirmidzi,Dalam alqur’an sangat banyak ditemukan yang senada dengan itu, salah satunya ( Al An’am 32) ”kehidupan dunia hanyalah permainan dan berlalai-lalai dan sesungguhnya kampung akhiratlah yang lebih baik bagi orang yang bertaqwa,kenapakah kamu tidak mengakali ??” sasaran pertanyaan Allah disini kepada orang yang memilih dunia dari pada akhirat adalah orang yang tidak berakal,(Tafsir Al Baghawii juz 3 hal 138). menuntut ilmu termasuk ibadah yang dikerjakan didunia untuk akhirat siapa yang meninggalkannya sebab mencari harta benda yang berlebihan adalah termasuk tidak berakal,Para ‘Ulama Mufassirin sepakat dengan penafsiran ayat tersebut.

21) Nafsu ‘amarah dan lawamah.seperti yang tersebut dalam Firman Allah:
 , وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ Dan aku tidak membebaskan nafsuku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (Yusuf 53 )   dan lagi Firmannya:
  وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ “dan sesungguhnya aku bersumpah demi nafsu lawwamah”. (Al qiyamah 2).

22) Firman Allah: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengkhabarkan”.( Al hujarat 13).sesuai dengan (Al Qashas 80) dan (Al an’am 32) seiring hadits nabi saw: “Bertaqwalah kamu kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah karena itu adalah kerahiban kaum muslimin, dan berzikirlah kepada Allah serta membaca kitabNya karena itu adalah cahaya bagimu di dunia dan ketinggian sebutan bagimu di langit. Kuncilah lidahmu kecuali untuk segala hal yang baik. Dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan. (HR. Ath-Thabrani).

23) Pepatah mengatakan: semakin banyak tahu makin terasa bodohnya diri.semakin banyak ilmu semakin tawaddu’,pakailah ilmu padi makin berisi makin tunduk.

Sedang hukum yang tidak dimegerti kata mereka,itu sudah pantas karena ia orang awam yang  tidak mengerti tentang Tasawuf,Sabda nabi:”Siapa yang buta didunia niscaya ia akan buta diakhirat nanti”24) Memang ada sebagian ulama tasawuf melarang orang menuntut ilmu tasawuf,yaitu kanak-kanak yang belum baligh berakal,karena dikhawatirkan dibawanya untuk main-main,akan tetapi larangan itu tidaklah umum,
Disebutkan oleh Ibnu Ajibah dalam kitabnya,”Iqazh Al-Himam”, Imam Al-Ghazali menyatakan secara terbuka bahwa tasawuf merupakan fardu ‘ain atas setiap muslim dan muslimah yang telah mukallaf, “karena, selain para nabi, tak ada seorang pun yang sama sekali terbebas dari kerusakan dan penyakit rohani.”
Hal demikian telah dicontohkan oleh Rasulullah sendiri saat seorang arab bertanya kepadanya tentang keberadaan Allah,sebagaimana tertulis dalam haditsnya
 وأخرج ابن مردويه عن أنس قال » سأل أعرابي رسول الله صلى الله عليه وسلم ، أين ربنا؟ قال : في السماء على عرشه ، ثم تلا { الرحمن على العرش استوى } [ طه : 5 ] وأنزل الله وإذا سألك عبادي عني فإني قريب
“Dari Ibnu Marduwiyah dari Anas berkata: seorang ‘arab badwi telah bertanya kepada nabi saw “dimanakah tuhan kita ya rasul,,?” Rasulullah menjawab,”tuhan kita pada langit diatas ‘arasnya.dan nabi membacakan surat (Tha ha 5)”Ar rahman istawa atas ‘Aras”,maka turunlah ayat “dan apabila bertanya kepadamu hambaku tentang Aku (jawablah) sesungguhnya Aku dekat”. (Al baqarah 186)”. dari kisah rasulullah itu terkandung pengertian saat Rasulullah ditanya oleh si ‘arab badwi itu rasulullah belum tau bahwa dia adalah seorang hamba allah maka dari itu dijawab oleh rasul dengan surat Ta ha 5,kemudian Allah menegur Rasul dengan diturunkan surat Al baqarah 186,disanalah nabi baru tau orang itu adalah hamba Allah yang diutus kepadanya untuk bertanya tentang Allah,kesimpulannya jawaban yang pertama surat (Tha ha 5) itu dikhususkan untuk orang jahil atau musrik yang belum beriman,atau yang masih belum baligh berakal,jawaban yang terakhir surat (al baqarah 186) itu dikhususkan untuk hamba Allah yang telah beriman kepada nabi dan yang telah mampu berfikir jernih.
Dalam peristiwa yang lain juga pernah diriwayatkan dari Waqi’ Al a’masy dari Ibrahim dari Al qamah dari Ibnu Mas’ud bercerita: pada suatu hari kami berjalan dengan nabi saw disuatu perkampungan madinah maka lewatlah satu kaum daripada yahudi maka mereka berbicara antara mereka tanyalah kepada orang itu (Rasulullah) tentang ruh,sedang yang lain berkata: jangan kamu tanyakan itu,akhirnya mereka bertanya juga” hai Muhammad..!! apakah itu ruh yang mana tergelincir perkataan orang yang mendudukkannya,,?” nabi diam sejenak kemudian berdiri, Ibnu Mas’ud melihat bahwa nabi diturunkan wahyu kepadanya, maka nabi saw menjawab dengan membaca surat (Al isra’ 85) Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kalian (yahudi) diberi pengetahuan melainkan sedikit". maka mereka berbisik-bisik antara mereka (si yahudi)dengan berkata: tadi sebelumnya telah aku katakan kepadamu “jangan kamu tanyakan tentang ruh itu padanya !!” (HR, Ahmad) (Tafsir Ibnu katsir juz 5 hal 114) dengan hadits yang serupa Riwayat Bukhari dalam ( Sahih Bukhari no 125 -7462) kelihatanya disini nabi tidak menjawab pertanyaaan mereka akan tetapi menyerahkan urusan itu kepada tuhan,karena mereka yang bertanya adalah orang yahudi dengan bertanya tidak sopan,sambil berjalan memanggil nabi dengan keras”hai Muhammad”walaupun dijelaskan nabi bagaimanakah ruh itu pastilah mereka mengingkari dan memperolok-olok nabi saw,maka dari itu Allah turunkan wahyu sebagai jawabannya,
Dalam pembahasan yang sama nabi menerangkan secara jelas tentang ruh seperti dalam surat .(Az-Zumar 42) “Allah memegang jiwa (ruh)seseorang ketika matinya dan (memegang) ruh orang yang belum mati di waktu tidurnya  Maka Dia tahanlah ruh orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa(ruh) yang lain sampai waktu yang ditetapkan Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”.(Az-Zumar 42) dengan jelas nabi menerangkan kepada kaum mu’min bagaimana Allah memegang ruh orang yang dimatikanNya dan ruh orang  yang ditidurkanNya dan menahan ruh orang yang telah ditetapkan kematiannya seperti nabi Isa as dan nabi Idris.dan dalam masalah ruh ini terdapat keterangan yang sangat banyak dalam Alqur’an sebagai pelajaran bagi kaum yang mampu berfikir,

24) Bukan sabda nabi tapi  Firman Allah dalam surah ( Al isra’ 72).Tafsir Al baghawi menyebutkan “siapa yang buta mata hatinya dari melihat qudarat allah dan ayat-ayat Allah dan melihat yang haq pada dunia ini,maka diakhirat nanti niscaya ia akan buta,bahkan lebih sangat buta lagi sesat jalannya”. (Tafsir Al baghawi juz 5 hal 110).sesuai dengan surat (Al hajji  46).
 
Post a Comment