Thursday, July 5, 2012

Merebut Cinta Tuhan

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Merebut Cinta Tuhan



Manusia sebagai seorang hamba senantiasa dituntut untuk berusaha menjaga dan meningkatkan kualitas iman dalam menghambakan diri kepada Allah swt. Manusia harus sadar akan posisi dirinya sebagai hamba Allah (‘abid) yang harus taat dan tunduk terhadap-Nya, sebagai yang disembah (al-ma’bud) dalam kondisi bagaimanapun, untuk memperoleh cinta-Nya (al-mahabbah) yang sejati. Untuk memperoleh cinta tersebut banyak jalan yang dapat di lalui, dengan perjalanan spiritual yang melewati banyak stasiun (al-maqamat).
Perjalanan spiritual yang demikian itu kemudian dikenal dengan perjalanan atau pengalaman sufistik yang bertujuan semata-mata untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di Hadirat Allah swt. Intisari dari ajaran sufisme ini adalah kesadaran adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Allah dengan berbagai teori dan metode yang bermacam-macam. Kesadaran berada dekat dengan Allah itu dapat mengambil bentuk ittihad, hulul, ma’rifat ataupun mahabbah. Dalam makalah ini akan diuraikan hakekat mahabbah menurut konsep para sufi, yaitu bagaimana manusia dapat mencapai maqam atau tingkatan al-mahabbah tersebut ?

Al-Mahabbah dalam Pandangan Para Sufi

Ja’far al-Shidq (w. 765 H.) menyatakan bahwa dalam beribadah kepada Allah akan ditemui tiga macam bentuk; pertama, kaum yang menyembah Allah karena takut, dan inilah ibadahnya hamba sahaya; kedua, kaum yang menyembah Allah karena untuk mengharapkan imbalan, dan inilah ibadahnya para pedagang; dan ketiga, kaum yang menyembah Allah karena rasa cinta (mahabbah), dan inilah ibadahnya orang merdeka, dan inilah ibadah paling utama.
Persoalan cinta (mahabbah) adalah menyangkut aspek esoteris, yang merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt., dan mahabbah ini merupakan tingkat tertinggi dalam pencapaian menuju Allah. Dalam hal ini Ma’ruf al-Karkhi (w. 200 h./816 M.), mengemukakan bahwa, “cinta tidak dapat dipelajari manusia, karena ia merupakan suatu anugerah dari Tuhan dan datang atas kasih-Nya.” Dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam mendapatkan maqam cinta itu tidaklah mudah, namun harus melalui perjalanan panjang dan berliku-liku.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah (1292-1350 M.) mengatakan bahwa, “cinta adalah buhulnya iman, dimana orang tidak akan masuk syurga tanpa cinta. Seorang hamba tidak akan sejahtera maupun selamat dari ‘adzab Allah tanpa cinta. Maka hendaklah hamba itu berperilaku atas dasar cinta.” Lebih jauh dia melihat bahwa cinta adalah merupakan dasar dari perwujudan segala sesuatu yang ada di alam ini. Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa, “setiap yang hidup harus memiliki cinta, kemauan dan perilaku, dan setiap yang bergerak, maka dasar yang menggerakkannya itu adalah cinta dan kemauan. Semua yang wujud ini tidak akan harmonis kecuali bila digerakkan oleh rasa cinta terhadap yang menjadikan wujud tersebut.”
Jalaluddin Rumi juga mengemukakan bahwa cinta adalah segala-galanya dan alam semesta ini adalah alam cinta. Apa yang terjadi dalam proses kehidupan ini adalah muncul dari cinta, bahkan grafitasi bumipun terjadi karena cinta. Melalui cinta dan kasih, alam ini berproses secara teratur dan berevolusi secara kreatif; matahari menyinari bumi, malam menggantikan siang, benih tumbuh menjadi tanaman, tanaman berbunga, berbuah, berkembang… dan begitulah seterusnya. Cinta adalah lautan yang tak bertepi. Dengan cinta kehidupan ini terus berevolusi secara kreatif menuju kehidupan yang semakin baik; menuju pada kesempurnaan.
Lebih lanjut Rumi mengatakan, “andai tidak ada cinta, maka alam ini tidak lagi mempesona, kicauan burung tidak lagi merdu, panorama alam tidak lagi indah, bahkan dunia akan membeku tanpa makna.” Jalaluddin Rumi menggubah suatu puisi yang indah sebagai berikut:
Cinta adalah lautan tak bertepi, laut hanyalah serpihan buih belaka
Ketahuilah! Langit berputar karena gelombang cinta; andai tak ada cinta dunia akan membeku

Bila bukan karena cinta, bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan? Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh (hewan)?


Bagaimana ruh (hewan) akan mengorbankan diri demi nafas (ruh) yang menghamili Maryam?


Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju, tidak bisa terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang


Setiap atom jatuh cinta pada yang Maha Sempurna dan naik ke atas laksana tunas

Cita-cita mereka yang terdengar, sesungguhnya adalah lagu pujian keagungan pada Tuhan

Menurut Rabi’ah al-Adawiyah, kepatuhannya kepada Allah bukanlah tujuannya. Sebab dia tidak mengharapkan nikmat surga dan tidak pula takut pada siksa neraka, tetapi dia mematuhi-Nya karena cintanya kepada Allah SWT. Hal ini adalah peringkat perjalanan ruhaniah tertinggi dalam tashawuf.

Suatu ketika Sufyan al-Tsauri (w. 778 M.) bertanya kepada Rabi’ah, “setiap keyakinan mempunyai syarat, dan setiap keimanan mempunyai realitas. Bagaimana realitas keimananmu?,” Maka Rabi’ah menjawab: ”Aku tidak menyembah-Nya karena takut neraka-Nya, dan bukan karena mengharapkan surga-Nya, sepertinya aku ini hanya pekerja kasar yang bekerja hanya karena upah. Tapi aku menyembah-Nya karena aku cinta dan rindu kepada-Nya.”
Diriwayatkan pula, bahwa dalam suatu munajat Rabi’ah berdo’a, “Wahai Tuhanku, sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka-Mu, biarlah diriku terbakar api Jahannam, dan jika sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga-Mu, jauhkan aku darinya. Tapi sekiranya aku beribadah kepada-Mu, semata cinta kepada-Mu, wahai Tuhanku janganlah Kau halangi aku melihat keindahan-Mu, yang abadi.”
Menurut suatu riwayat juga, Rabi’ah pernah mengalami hal yang sama ketika ia sedang salat lalu sujud, matanya kemasukan duri, tetapi ia tidak merasakan apa-apa, sampai ia selesai salat. Karena Rabiah demikian mendalam kecintaaannya kepada Allah, maka tak ada satupun di dunia ini yang dapat membimbangkan hatinya atau mengalihkan perhatiannya dari Tuhan, sehingga duri yang menusuk matanya tak terasa sakit sedikitpun baginya. Juga pada suatu hari, kepalanya terbentur ke dinding, sehingga mengucurlah darah. Ia seolah-olah tidak merasakan apa-apa, sampai orang bertanya kepadanya, “Apakah kau tidak merasakan sakit?” Rabi’ah menjawab: ”Keikhlasanku menerima kehendak-Nya yang berlaku pada diriku, menyebabkan aku tak merasakan apa yang anda lihat.” Rabi’ah seolah-olah telah hidup dalam suasana yang tidak dirasakan oleh orang lain. Ia tetap meningkatkan martabatnya yang tinggi berkat kecintaannya pada Tuhan.
Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi wanita termasyhur pada masanya dan juga di dunia Islam, yang telah sampai pada maqam kesucian jiwa dengan membawa konsep tertingginya, yaitu konsep cinta (mahabbah) pertama kali, yang sebelumnya belum pernah dicetuskan oleh sufi-sufi sebelumnya. Yang di kemudian hari membawa pengaruh yang luar biasa terhadap sufi-sufi sesudahnya seperti Jalaluddin Rumi, seorang sufi dan penyair, filosof, dan juga budayawan Persi yang sangat produktif dalam menuangkan gagasan-gagasan cemerlangnya dan pengalaman spiritualnya melalui karya-karya tulisnya, antara lain adalah “Matsnawi” sebagai karya tulis yang sangat terkenal, juga “Diwan-i Syams-I Tabriz”, yang di dalamnya juga mengandung konsep-konsep mahabbah (cinta).
Adapun tahapan-tahapan yang dilalui Rabi’ah sebelum sampai pada maqam cinta (al-mahabbah) adalah Taubat, Sabar dan Syukur. Al-Hujwiri berpendapat bahwa terdapat tiga hal yang termasuk dalam taubat; pertama, taubat karena ketidaktaatannya, kedua, memutuskan untuk tidak melakukan dosa lagi, dan ketiga, segera meninggalkan perbuatan dosa itu.
Abu al-Hasan al-Nuri mengungkapkan bahwa, “Taubat adalah menolak dari semua, kecuali Allah yang maha tinggi,” dan pemikiran yang sama dari penyesalan tahap tertinggi adalah berbeda sama sekali dari yang biasa terjadi, sebagaimana ditemukan dalam suatu pernyataan, “Dosa-dosa bagi mereka yang dekat dengan Allah adalah suatu perbuatan baik yang pada tempatnya.” Sedangkan al-Ghazali menyatakan, bahwa hakikat taubat adalah kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari jalan yang jauh menuju jalan yang dekat.
Salah satu unsur taubat yang harus dipenuhi adalah adanya penyesalan diri atas dosa-dosa yang dilakukan kepada Allah swt. sebagaimana yang dikatakan al-Qusyairi bahwa, “Menyesali kesalahan adalah cukup untuk memenuhi persyaratan taubat,”. Lebih lanjut al-Qusyairi memberikan petunjuk cara bertaubat yaitu pertama adalah memisahkan diri dari orang-orang yang berbuat jahat, karena mereka akan mendorong untuk mengingkari tujuan ini, dan keraguan atas kelurusan niat yang telah teguh.
Di dalam sebuah fragmen yang dikutip Smith dari Hurayfisy dimana ia melampirkan syair Rabi’ah tentang dua cinta, ia berdo’a sebagai berikut:
Wahai kekasih hati, tak ada yang kumiliki selain diri-Mu,
Bagaimanapun, kasianilah orang-orang berdosa,
Yang datang pada-Mu.
Wahai harapanku, ketenanganku, kebahagiaanku,
Hati ini hanya dapat mencintai-Mu.
Sementara Dzun Nun al-Misri (w. 860 M.) mengatakan, “taubatnya orang awam itu dari dosa, taubatnya orang istimewa (khawash) dari kelalaian.” Sedang taubatnya para Nabi dari tidak mendekatkan diri kepada Tuhannya. Al-Hujwiri mengutip perkataan Hasan al-Basri, bahwa kesabaran itu terdiri dari dua macam; pertama, kesabaran terhadap ketidakberuntungan dan penderitaan; kedua, adalah kesabaran terhadap segala sesuatu yang oleh Allah telah diperintahkan ataupun dilarang untuk dilakukan. Terkait dengan hal ini, Abu Thalib membagi kesabaran menjadi tiga tahapan; pertama, menghentikan keluhan, dan ini termasuk dalam tahap pertobatan; kedua, merasa puas dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah swt., dan ini adalah tingkatan dalam asketisisme atau zuhud; dan ketiga, menerima dan menyenangi semua yang telah ditentukan oleh Allah kepada kita.
Al-Junaid mengatakan: “Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat. Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang tidak ada.”
Dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din, al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu yang melahirkan rasa syukur akan nikmat Allah itu meliputi tiga hal; mengenai wujud nikmat itu sendiri, bagaimana hal itu merupakan nikmat baginya; dan mengenai esensi atau sifat-sifat dari pemberi nikmat itu. Ilmu yang tersebut terakhir ini adalah jenis ma’rifat orang-orang muqarrabin, yang memandang bahwa segala sesuatu dalam alam semesta ini terbuat dari yang Maha Satu. Suatu pengenalan langsung yang dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya.
Kemudian tataran selanjutnya adalah Raja’ dan Khauf. Al-Qusyairi menyatakan, bahwa harapan (raja’) adalah keterpautan hati kepada sesuatu yang diingingkannya, yang terjadi di masa yang akan datang, sebagaimana halnya rasa takut (khauf), yang juga terjadi di masa mendatang. Harapan berlaku bagi sesuatu yang akan terjadi. Perbedaan antara harapan dan angan-angan (tamanny) adalah bahwa angan-angan membuat orang menjadi malas. Orang yang hanya berangan-angan tentang sesuatu, tidak akan pernah berusaha untuk mencapai apa yang diangankannya.. Harapan adalah sifat terpuji, tetapi angan-angan adalah sifat tercela. Harapan adalah kedekatan hati kepada kemurahan Tuhan.
Oleh karena itu, orang yang berharap seyogyanya harapan itu diikuti pula oleh tiga perkara; pertama, mencintai sesuatu yan diharapkan; kedua, merasa takut (khauf) akan gagal memperolehnya; dan ketiga, bertekad sepenuh hati untuk mencapainya.
Al-Hujwiri mengemukakan bahwa harapan dan rasa takut yang benar sangat penting bagi manusia di dunia, dan menganggapnya bagai dua pilar keimanan. Mereka yang merasa takut, akan beribadah kepada Allah sekan-akan takut terpisahkan dari-Nya, dan bagi mereka yang memiliki harapan, beribadat kepada Allah dengan penuh harapan akan dapat menyatu dengan-Nya. Oleh karena itu, al-Sarraj al-Thusi menyatakan, bahwa harapan dan rasa takut ini bagaikan dua buah sayap dimana tanpa keduanya, kerja seorang sufi tidak akan berhasil.
Rabi’ah berpendapat, adalah seorang hamba yang bodoh, apabila dalam beribadat kepada Allah selalu dilandasi pemikiran untuk melepaskan diri dari hukuman dan untuk meraih penghargaan (pahala). Baginya adalah Allah semata yang perlu ditakuti dengan penuh ta’dzim dikarenakan kesucian-Nya, dan sama bagi dirinya, harapan hanya kepada Allah semata, dalam bayang-bayang keindahan-Nya.
Kemudian dilanjutkan dengan Faqr dan Zuhud. Kefakiran (faqr), adalah maqam penting, al-Sarraj menyebutnya sebagai maqam syarif. Abu Muhammad al-Jurairi berkata bahwa, “fakir ialah hendaklah kamu tidak mencari sesuatu yang tidak ada pada dirimu, sehingga kamu kehilangan sesuatu yang ada pada dirimu, dan hendaklah kamu tidak usah mencari rizqi-rizqi kecuali kamu takut tidak dapat menegakkan kewajiban.”
Ruwaym pernah ditanya tentang tanda-tanda seoarang miskin dan ia menjawab, “Miskin berarti menyerahkan jiwa pada ketentuan-ketentuan Allah swt. Tanda orang miskin itu ada tiga yaitu dia melindungi batinnya, dia melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya, dan dia menyembunyikan kemiskinannya.” Selain itu al-Sarraj juga menyatakan, bahwa orang miskin adalah yang terkaya diantara ciptaan Allah. Mereka melepas pemberian demi sang Pemberi.
Zuhud mempunyai kesamaan dengan faham kemiskinan (faqr). Zuhud ialah penolakan terhadap gemerlapnya harta dunia. Bila seseorang menarik diri untuk beribadah dan menghindari diri dari keinginan menikmati kelezatan adalah zuhud pada dunia. Sementara al-Junaid menjelaskan bahwa zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikan dan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan).
Rasulullah saw. yang bersabda:
إزهدفىالدنيايحبك الله وازهدفيماعندالناس يحبك الناس0
“Zuhudlah engkau di dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia akanmencintaimu.”
Kemudian Mahabbah dan Ma’rifah, Cinta (mahabbah) itu sebagai tahap tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang ahli sufi yang menyelaminya. Termasuk di dalamnya kepuasan hati (ridla), kerinduan (syauq) dan keintiman (‘uns). Ridla adalah ketaatan tanpa disertai adanya penyangkalan, dari seorang pencinta terhadap kehendak yang dicinta, syauq adalah kerinduan sang pencinta untuk bertemu dengan kekasih, dan ‘uns adalah hubungan intim yang terjalin antara dua kekasih spiritual itu. Dari tahap cinta (al-mahabbah) ini seorang sufi akan langsung mencapai ma’rifat, ia akan mampu menyingkap keindahan Allah dan dapat menyatu dengan-Nya. Kepuasan hati (ridla) memiliki dua sisi; baik subyektif maupun obyektif, terdapat kepuasan antara menusia dengan Tuhannya dan keridlaan Allah kepada manusia.
Al-Sarraj juga berbicara tentang kerinduan (syauq) sebagai “Api yang maha tinggi” yang Dia nyalakan disetiap hati para sufi, sehingga mampu membakar semua nafsu, keinginan, rintangan dan kebutuhan duniawi yang ada di hati mereka. Konsep yang terikat erat dengan mahabbah juga adalah keintiman (‘uns), dimana sang penyembah itu merasa terpesona, sedangkan sang kekasih merasakan keintiman juga. Al-Sarraj membahas masalah ini sebagai kebahagian hati sang kekasih dan ia mendevinisikan bahwa tingkatan tertinggi dalam ‘uns, sebagaimana dalam syauq, akan menjadi ‘uns yang tidak disadarinya, dalam pengertian penghormatan (di dalam kehadiran Allah), kedekatannya kepada Allah, dan kebesarannya, semua unsur ini menyatu menjadikan suatu keintiman dengan Yang Agung.
Bagi Rabi’ah cinta itu ada dua macam, yaitu cinta yang dapat membahagiakan dan cinta sebagai hak Allah, Allah mutlak harus dicintai. Hal ini tergambar dalam ungkapan syairnya:
أحبك حبين حب الهوي وحبالأنك اهل لذاكا
فاماالذي هوحب الهوي فشغلي بذكرك عمن سواكا
وامالذي انت اهل له فكشفك لي الحجب حتي اراكا
فلاالحمدفي ذااوذاك لي ولكن لك الحمدفي ذااوذاكا

Imam al-Ghazali mengomentari lirik syair Rabi’ah tersebut, sebagai berikut; mungkin yang dimaksud cinta karena diriku adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya dengan seketika; dan cinta karena diri-Mu adalah cinta yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan melihat keindahan Tuhan, seperti yang disabdakan Nabi saw. dalam hadis Qudsi, “Bagi hamba-hamba-Ku yang shalih, Aku menyiapkan apa yang tidak terlihat oleh mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terbesit dalam kalbu manusia.
Adapun ajaran Rumi yang terkait dengan konsep cinta (mahabbah)nya adalah bahwa Tuhan dipandang Rumi sebagai pencipta. Ia menciptakan alam dari ‘adam (yang tiada). Tetapi ‘adam tidak dapat dipandang sebagai tiada (nonsens) begitu saja, sebagaimana dipahami dalam doktrin “creatio ex nihilo”, namun sebagai realitas potensial (a’yan al-tsabitah) yang aktualisasnya ke dalam wujud konkrit sangat tergantung pada karunia Tuhan. Penciptaan itu bukan sebagai sebuah pancaran (emanasi) melainkan sebagai pengejawantahan Tuhan.

Rumi berpendapat, bahwa cinta adalah segala-galanya. Alam semesta ini adalah alam cinta. Apa yang terjadi dalam proses kehidupan ini adalah muncul dari cinta. Bahkan grafitasi bumi pun terjadi karena cinta. Demikian pula proses alam yang lain. Melalui cinta dan kasih alam ini berproses secara teratur dan berevolusi secara kreatif, matahari menyinari bumi, malam menggantikan siang, benih tumbuh menjadi tanaman, tanaman berbunga, berbuah, … dan begitu seterusnya… Cinta adalah lautan yang tak bertepi. Dengan cinta kehidupan ini terus berevolusi secara kreatif menuju kehidupan yang semakin baik dan sempurna.
Menurut Rumi, yang pertama diciptakan Tuhan adalah cinta. Dari sinilah Rumi mengajukan sebuah spekulasi-filosofis yang sangat cemerlang, dengan memandang “Cinta sebagai kekuatan kreatif fundamental”. Cinta itulah yang bertanggung jawab atas pertumbuhan (evolusi) alam dari tingkat yang rendah ke tingkat lain yang lebih tinggi. Cintalah menurut Rumi, yang memberi kesatuan para partikel materi, cinta jua yang membuat tumbuh-tumbuhan berkembang dan yang menyebabkan hewan bergerak dan berkembang biak. Alam menurut Rumi adalah sebuah media untuk mengenal Allah. Tanpa alam nampaknya sulit untuk mengenal-Nya. Hal senada telah disampaikan oleh Ibnu Arabi, dalam konsepnya tentang cinta, dia memandang bahwa cinta adalah sebab dari penciptaan alam, karena atas dasar cintalah Tuhan bertajalli pada alam. Demikian pula, cinta juga menjadi sebab kembalinya semua manifestasi kepada esensinya yang semula dan hakiki, karena atas dorongan rasa cinta mereka ingin kembali ke asalnya. Jadi, cinta itu bersifat universal, ia melandasi kehendak sang Pencipta dan kehendak makhluk.
Ibnu Arabi menjelaskan bahwa cinta Ilahi merupakan salah satu faktor penopang yang fundamental dari pada manifestasi hakikat yang Esa, yaitu Tuhan. Cinta Ilahi merupakan salah satu prinsip utama yang melatari segala penciptaan yang muncul di alam semesta, sesuai dengan sifat Tuhan itu sendiri, yang maha Pengasih dan Penyayang. Sebelum Ibnu Arabi adalah al-Hallaj yang menyatakan hal ini, yang berkeyakinan akan pentingnya cinta Ilahi itu bukan hanya dibuktikan oleh sajak-sajaknya, melainkan melalui hukuman mati yang dia jalani. Setelah al-Hallaj, sufi lain yang menegaskan lebih jauh lagi tentang hal ini adalah Abu Sa’id al-Khair. Bagi Sa’id, Tuhan adalah yang Maha Mencintai dan Maha Penyayang (al-wadud) lebih dari yang Maha Penyiksa (al-mu’adzdzib). Cinta bagi mereka adalah yang terdalam dan paling merasuk dari segala jenis perasaan, dan dalam cintalah (cinta mistis) sebagian besar dari mereka menemukan pelabuhan terakhir dari pada keyakinannya.
Cinta adalah tujuan akhir dari perjalanan spiritual untuk mendapatkan ridla dan karunia Allah swt. Cinta bagi Rumi tidak hanya dimiliki oleh manusia, tetapi juga pada alam; cinta alam pada Tuhan yang disebut “Cinta semesta” (universal love). Cinta semesta tumbuh, ketika Tuhan sebagai wujud, menampakkan kecantikan-Nya kepada alam, yang pada saat itu masih berupa realitas potensial (‘adam). Ia mengatakan, “Telah Kau pamerkan keindahan wujud pada ‘adam, Engkau telah menjadi sebab ia jatuh cinta kepada-Mu”. Jalaluddin Rumi mengajak manusia ke kehidupan cinta, imbauan yang terbuka. Secara luas Rumi melukiskan sejumlah keajaiban cinta sebagai berikut:
“Sungguh, cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara berubah menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancur leburkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya, serta membuat budak menjadi pemimpin.”

Rumi menegaskan bahwa cinta adalah sayap yang sanggup menerbangkan manusia yang membawa beban berat ke angkasa raya, dan dari kedalaman mengangkatnya ke ketinggian, dari bumi ke bintang tsurayya, Bila cinta ini berjalan di atas gunung yang tegar, maka gunung pun begoyang-goyang dan berlenggang dengan riang. Cinta, ujar Rumi, adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri. Cinta adalah bara api yang siap menyala dan membakar segalanya, selain yang dicinta.
Melalui puisi-puisi cinta Rumi mengekspresikan hubungan manusia, alam , dengan Tuhan. Rumi juga mencoba membuat perbandingan antara cinta yang bersih dan akal yang cerdik. Cinta adalah pusaka warisan dari Nabi Adam as, sedangkan kecerdikan adalah nyanyian syetan. Orang yang cerdik pada hakekatnya bersandar pada nafsu dan akalnya, sedangkan cinta adalah penyerahan diri. Misalnya seseorang yang mempergunakan akalnya untuk berrenang, maka adakalanya seseorang sampai ke pantai, tetapi tidak jarang malah tenggelam. Sedangkan cinta ibarat perahu Nabi Nuh as, yang membuat para penumpangnya tidak perlu merasa khawatir akan tenggelam. Oleh karena itu, cinta Ilahiah (al-hubb al-Ilahi) itu membutuhkan keikhlasan yang dapat memelihara hati manusia dari syirik (kemusyrikan), dan mengantarkannya pada tingkat tauhid yang paling tinggi, yaitu ma’rifat kepada Allah (ma’rifatullah).

Penutup
Demikanlah uraian tentang cinta (al-mahabbah), pada hakekatnya semua sufi mengakui bahwa cinta Ilahi (al-hubb al-Ilahi) merupakan maqam puncak diantara maqam-maqam yang lain. Seorang sufi yang ingin sampai kepada maqam mahabbah (cinta), harus melalui tahapan-tahapan sebelumnya, seperti taubat, zuhud, shabar, faqr, tawakkal, dan sebagainya. Para sufi juga sepakat, bahwa mahabbah itu tidak dapat digambarkan, didevinisikan, diberi batasan, dan juga tidak dapat dijelaskan hakikat dan bentuknya secara material. Tetapi mahabbah (cinta) itu hanya dapat dirasakan akan keberadaannya melalui pengalaman batin.
Hal inipun hanya dapat dirasakan oleh sufi yang sudah memasuki tataran cinta (maqam mahabbah), dan keadaan yang demikian ini telah dialami misalnya oleh Rabi’ah al-Adawiyah dan Jalaluddin Rumi. Mahabbah (cinta) itu merupakan pengalaman mistis (ruhani) yang bersifat pribadi, dan hanya dapat dirasakan oleh masing-masing sufi yang mengalaminya. Jadi mahabbah itu tidak dapat didefinisikan dan dikategorikan secara matematis seperti ilmu pasti.
Mahabbah merupakan maqam terakhir bagi sufi dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT dan untuk mendapatkan ridla dan karunia-Nya berupa kesatuan (al-ittihad) serta ma’rifat bi Allah.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abu Nasr al-Sarraj al-Thusi, al-Luma’, (Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, t.t.).
Fazlur Rahman, Islam, alih bahasa Senoaji Saleh, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), Cet. II.
Abul Wafa’ al-Ghunaimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, alih bahasa Ahmad Rofi’ Usman, (Bandung: Pustaka, 1985).
Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Raudlat al-Thalibin wa ‘Umdat al-Salikin, (Dar al-Fikr, 1990), Cet. I.
_________________Ihya’Ulum al-Din,(Beirut: Dar al-Fikr, 1995).
Abu al-Qasim al-Qusyairi al-Naisaburi, al-Risalat al-Qusyairiyah, (Dar al-Khair, t.t.).
Abd al-Hakim Hasan, al-Tasawwuf fi Syi’r al-‘Araby, (Mesir: Dar al-Qalam, 1954).
Abd al-Hadi W.M., Sastra Sufi: Sebuah Ontologi, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), Cet. II.
Abu al-Hasan al-Nadwi, Jalaluddin Rumi: Sufi Penyair Terbesar, alih bahasa M. Adib Bisri, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), Cet. III.
Ahmad ibn Hajar al-Asqalani, Bulugh al-Maram, (Surabaya: Mathba’ah Salim ibn Nabhan wa Auladuh, t.t.).
Abd al-Qadir Mahmud, al-Falsafat al-Shufiyah fi al-Islam, (Dar al-Fikr al-‘Araby, 1966).
Fariduddin Attar, Tadzkirat al-Auliya’, terj. A. J. Arberry, Muslim Saints and Mystics, (London: Routledge & Kegan Paul, 1966).
Hamdani Anwar, Sufi al-Junaid, (Jakarta: Fikahati Aneska, 1995).
H.A.R Gibb, Shorter Encyclopadiae of Islam, (New York: University Press Itacha, t.t.).
Ibn Qayyim al-Jauziyah, al-Jawab al-Kafi Li Man Sa’ala ‘an Dawa al-Syafi, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1987).
Muhammad Abu Bakar al-Kalabadzi, al-Ta’arruf li Madzhabi ahl al-Tashawwuf,(Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1400 H).


Musthafa Kamil al-Syaibi, al-Shilah baina al-Tashawwuf wa al-Tasayyu’, (Kairo: Dar al-Ma’arif, t.t.)
Muhammad Ghullab, al-Tashawwuf al-Muqaran, (Mesir: Maktabah Nahdlah, t.t.).
Margareth Smith, Rabi’a: The Life & Work of Rabi’a and Other Women Mystics in Islam, (England: Oneworld Oxford, 1994).
Muhammad Athiah Khamis, Rabi’ah ‘Adawiyah, alih bahasa Aliudin Mahjuddin, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), Cet. IV.
Reynold A. Nicholson, Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi, alih bahasa Sutejo, (Jakarta: Pustaka Firdus, 1993).
________________The Mystics of Islam, (London: Routledge & Kegan Paul, 1975).
________________ Rumi Poet and Mystic, Terj. Sutejo, Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), Cet. II.
R. Mulaydi Kartanegara, Renungan Mistik Jalaluddin Rumi, (Bandung: Pustaka Jaya, 1986), Cet. I.
Syaikh Muhammad Mahdi al-‘Asifi, Muatan Cinta Ilahi, alih bahasa Ikhlas dkk., (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994).
Thaha Abd al-Baqi Surur, Rabi’ah al-‘Adawiyah, (Kairo: Dar al-Fikr al-‘Araby, 1957).
Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi, Pengembangan Insan Kamil ibn Arabi oleh al- Jili, (Jakarta: Paramadina, 1997).
Post a Comment