Monday, July 9, 2012

Wahyu dan Ilham

Wahyu dan Ilham

Dari sejumlah hadis dapat diketahui bahwa para imam

Dari sejumlah hadis dapat di-ketahui bahwa para imam maksum juga memiliki pengetahuan-pengetahuan yang tidak termasuk pengetahuan pada umumnya dan tidak diperoleh melalui pancaindra melainkan melalui pengalaman batin dan penyaksian hudhuri mereka. Pengetahuan-pengetahuan semacam ini menyerupai wahyu tetapi sebagai bentuk penghormatan tidak disebut sebagai wahyu.

 
maksum juga memiliki pengetahuan-pengetahuan yang tidak termasuk pengetahuan pada umumnya dan tidak diperoleh melalui pancaindra melainkan melalui pengalaman batin dan penyaksian hudhuri mereka. Pengetahuan-pengetahuan semacam ini menyerupai wahyu tetapi sebagai bentuk penghormatan tidak disebut sebagai wahyu.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Ali bin Yaqtin meriwayatkan dari ayahnya yang bertanya pada Imam Musa bin Ja’far as, ‘Berasal dari manakah ilmu yang kalian miliki?’ Imam menjawab, ‘Bersumber dari pemberian dalam hati atau pada pendengaran atau melalui kedua-duanya.’”[145]
Disebutkan dalam sebuah riwayat, “Harits bin

Mughirah meriwayatkan: Aku bertanya pada Abi Abdillah, Imam Ja’far Shadiq as, “Jiwaku menjadi tebusanmu, jika imam ditanya tentang sesuatu dan tidak memiliki jawaban, dari mana imam mengetahui?” Imam menjawab, “Diletakkan ilmu dalam hati atau diperdengarkan pada pendengaran.”[146]
Diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Isa bin Hamzah Tsaqafi berkata, “Aku bertanya pada Imam Ja’far Shadiq as, ‘Terkadang kami bertanya tentang sesuatu pada kalian dan kalian langsung menjawabnya. Terkadang pula kalian menjawabnya setelah terdiam sejenak. Apa sebab hal itu?’ Imam menjawab, ‘Benar, masalah-masalah pengetahuan diberikan pada hati kami. Jika langsung diberikan, maka kami pun menjawabnya secara langsung dan jika pemberian sedikit terlambat, maka kami pun tidak segera menjawabnya.’” [147]
Yahya Madani meriwayatkan dari Abi Abdillah Imam Ja’far Shadiq as, “Aku bertanya pada Imam as, ‘Bagaimana Imam menjawab pada saat ditanya?’ Imam menjawab, ‘Melalui ilham atau pendengaran dan terkadang kedua-duanya berbarengan.’”[148]
Harits bin Mughirah juga meriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Aku berkata pada Abu Abdillah as, ‘Ilmu yang kalian ketahui, apakah sesuatu yang diletakkan dalam hati kalian atau sesuatu yang diperdengarkan pada pendengaran kalian?’ Imam terdiam, sampai-sampai kaum lupa akan hal itu. Kemudian, Imam menjawab, ‘Terkadang ini, terkadang itu.’” [149]
Hadis lain yang diriwayatkan oleh Harits bin Mughirah menjelaskan, “Aku bertanya pada Abu Abdillah as, ‘Ilmu para alim kalian apakah berupa kalimat yang diletakkan dalam hati kalian atau sesuatu yang diperdengarkan pada pendengaran kalian?’ Imam menjawab, ‘Sebuah wahyu seperti wahyu yang diberikan pada Nabi Musa as.’”[150]
Abu Bashir meriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Aku berkata pada Imam Shadiq as, ‘Jiwaku menjadi tebusanmu,

ilmu semacam apakah yang kalian miliki?’ Imam menjawab, ‘Sesuatu yang dibicarakan siang dan malam, permasalahan demi permasalahan, kejadian demi kejadian hingga hari kiamat.’”[151]
Riwayat lainnya dari Harits bin Mughirah menerangkan: Imam Shadiq berkata, “Sesungguhnya bumi tidak pernah ditinggalkan tanpa seorang alim.” Harits bertanya, “Darimana ilmu yang kalian ketahui?” Imam menjawab, “Warisan dari Rasulullah saw dari Ali bin Abi Thalib as. Ilmu yang menyebabkan kami tidak butuh pada manusia sementara manusia selalu butuh pada ilmu tersebut.” Aku berkata, “Ataukah berupa hikmah yang diletakkan dalam dada kalian atau pengetahuan yang diperdengarkan pada pendengaran kalian?” Imam berkata, “Termasuk keduanya.” [152]
Mufadhdhal meriwayatkan dari Imam Shadiq as, “Suatu hari, Imam Shadiq berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Abdillah,’ Aku menjawab, ‘Labbaik, jiwaku menjadi tebusanmu.’ Imam berkata, ‘Sesungguhnya setiap malam Jumat kami merasa senang.’ ‘Semoga Allah menambah kesenanganmu, apakah yang menyebabkan hal itu?’ tanyaku. Imam menjawab, ‘Sesungguhnya setiap malam Jumat Rasulullah saw naik menuju Arasy juga para imam dan kami pun naik bersama mereka. Ruh-ruh kami tidak kembali ke jasad kami kecuali dengan ilmu yang sangat bermanfaat. Andaikan tidak demikian, maka disempurnakan ilmu yang telah kami miliki.’”[153]
Yunus bin Abi Fadhl meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as, beliau berkata, “Setiap malam Jumat tidak terjadi sesuatu pada kekasih-kekasih Allah kecuali kebahagiaan.” Aku bertanya, “Jiwaku menjadi tebusanmu, bagaimana hal itu terjadi?” Imam menjawab, “Setiap malam Jumat, Rasulullah saw naik menuju Arasy dan aku naik bersama beliau. Aku tidak kembali kecuali dengan ilmu yang bermanfaat. Andaikan tidak demikian, maka disempurnakan ilmu yang telah kami miliki.”[154]

Zurarah meriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir as, “Aku mendengar beliau bersabda, “Dua belas imam dari keluarga Muhammad saw seluruhnya adalah muhaddats (manusia yang diajak bicara malaikat—penerj.) dari keturunan Rasulullah dan keturunan Ali as. Maka, Rasulullah saw dan Ali as adalah kedua orang tua.”[155]
Dari beberapa hadis yang telah disebutkan dan contohcontoh lainnya yang cukup banyak, kita dapat mengetahui bahwa imam-imam maksum dari Ahlulbait as memiliki pengetahuan yang tidak termasuk pemahaman-pemahaman pada umumnya dan tidak diperoleh melalui pancaindra. Pengetahuan itu diperoleh melalui pengalaman batin, lalu diberikan ke dalam hati mereka atau diperdengarkan pada pendengaran batin mereka. Hal ini adalah hakikat yang serupa dengan hakikat yang telah dijelaskan mengenai wahyu. Akan tetapi, mereka enggan untuk menyebut hal tersebut sebagai wahyu tetapi menyebutnya sebagai ilham atau qadzaf dalam hati mereka atau nakt (anugerah) yang diberikan pada pendengaran mereka. Kalaupun disebut sebagai wahyu, itu sama dengan wahyu yang diberikan pada ibu Nabi Musa as.
Hal ini disebabkan pandangan umat Islam pada umumnya mengkhususkan wahyu hanya pada para nabi. Begitu pula keyakinan mengenai berakhirnya kenabian dengan diutusnya Nabi Muhammad saw, maka masa wahyu secara istilah pun berakhir sebagaimana yang disampaikan oleh Amirul Mukminin Ali as, “Demi ibu dan ayahku yang menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah, sungguh telah terputus dengan kematianmu sesuatu yang tidak terputus dengan kematian selain dirimu dari kenabian, berita, dan kabar-kabar dari langit.”[156]
Pada kesempatan lainnya, beliau juga mengatakan, “Allah mengutus nabi-Nya pada masa peralihan para rasul dan pergantian manusia, dengan perantaranya (Nabi Muhammad saw—penerj.) Allah menyelesaikan utusan-Nya dan diakhiri wahyu dengannya.”[157]

Pengetahuan imam memiliki perbedaan penting dengan wahyu yang diberikan pada para nabi dalam dua hal berikut.

Perbedaan pertama , wahyu yang diturunkan pada para nabi mencakup hukum-hukum, aturanaturan, dan penjelasan mengenai halal dan haram yang diiringi dengan perintah untuk menyebarkan. Sementara itu, pengetahuan yang dimiliki imam tidak terdapat pada obyekobyek tersebut.

 
Hukum-hukum syariat tidak diberikan ke dalam hati imam tetapi penjelasan dan pendukung hukum-hukum tersebut yang diberikan pada imam sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sulaiman Dailami dari ayahnya, “Aku bertanya pada Abu Abdillah as, ‘Jiwaku menjadi tebusanmu, seringkali aku mendengar darimu ucapan, ‘Andaikan tidak bertambah ilmu kami, maka selesailah.’ Apakah maksud ucapanmu ini?’ Imam menjawab, ‘Adapun halal dan haram dalam syariat, demi Allah semua telah diturunkan dengan sempur-
na pada Rasululullah saw dan mengenai hal ini pengetahuan imam tidak bertambah.’ Aku bertanya, ‘Lalu ilmu apakah yang ditambahkan pada ilmu-ilmu kalian?’ Imam menjawab, ‘Dalam hal-hal lainnya selain kehalalan dan keharaman.’ Aku bertanya kembali, ‘Apakah sesuatu diturunkan pada kalian yang tidak diturunkan pada Rasulullah saw?’ ‘Tidak, ilmu yang hendak diturunkan pada kami, sebelumnya telah diturunkan malaikat pada rasul dan berkata, ‘Wahai Muhammad, Tuhanmu memerintahkanmu untuk melakukan perbuatan ini dan itu.’ ‘Sampaikanlah hal ini pada Ali,’ jawab Rasul. Malaikat membawa perintah tersebut pada Ali. Ali juga mengatakan, ‘Sampaikanlah hal ini juga pada Hasan.’ Disampaikanlah perintah

itu pada Hasan dan beliau juga mengatakan, ‘Sampaikan hal ini juga pada Husain.’ Disampaikanlah perintah itu pada Husain.’ Seperti inilah berlanjut satu per satu hingga sampai pada kami.’ Kembali aku bertanya, ‘Dengan demikian, ditambahkan sesuatu pada kalian yang tidak diketahui oleh Rasulullah saw?’ Imam berkata, ‘Hati-hati kau! Apakah diperkenankan imam mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah saw? Apakah imam lebih dulu dari Rasulullah?’”[158]

Penerima ilham adalah hati. Kendati memiliki perhatian terhadap ilham-ilham batin dirinya, akan tetapi perhatian para imam tertuju pada sumber yang meletakkannya ke dalam hati yaitu Allah SWT.

 
Dari tanda dan alamatnya dapat dipahami bahwa ilham tersebut berasal dari Allah bukan dari waswas setan dan diri mereka sebagaimana hal ini disebutkan dalam beberapa hadis berikut.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Muhammad bin Muslim bertanya pada Imam Shadiq as mengenai muhaddatsah. Imam menjelaskan, “Sesungguh-
nya dia mendengar suara namun tidak menyaksikannya.” Aku berkata, “Semoga Allah senantiasa memberi kemaslahatan padamu. Bagaimana dia mengetahui bahwa itu adalah ucapan malaikat?” Imam menjawab, “Dia diberi ketenangan dan kenyamanan sehingga dia mengetahui bahwa itu adalah malaikat.”[159]
Berkenaan dengan masalah tersebut, sebuah riwayat juga menjelaskan bahwa suatu saat Zurarah bertanya pada Imam Shadiq as. Zurarah bertanya, “Bagaimana (imam) mengetahui bahwa hal itu berasal dari malaikat dan tidak khawatir bahwa mungkin saja dari setan, mengingat dia tidak menyaksikan seseorang?” Imam menjawab, “Diberikan kepadanya ketenangan, dengan demikian dia mengetahui bahwa hal itu berasal  

dari malaikat. Andaikan dari setan, dia merasa galau dan tidak tenang. Kendati demikian, wahai Zurarah, hal seperti itu (gangguan dari setan) tidak mungkin dialami para imam.”[160]
Poin penting yang dapat diambil dari hadis ini yaitu adanya pengetahuan dan kesempurnaan melalui wahyu atau ilham yang diberikan pada hati imam yang hidup di setiap masa dengan jalan penurunan dari maqam kenabian dan wilayah.

Perbedaan kedua dari wahyu dan ilham yaitu penerima wahyu adalah nabi. Selain penerima wahyu, juga perhatikan sumber pemberi wahyu yaitu Allah Swt. Penerima wahyu memiliki perhatian bahwa pemberian-pemberian dan penyaksian-penyaksian dalam hatinya berasal dari Allah Swt karena hal inilah mereka mengalami ketenangan dan kenyamanan tertentu. Sementara ilham, tidaklah demikian.

Penyingkapan, Penyaksian Para Urafa

Para urafa (pelaku jalan spiritual) yang sesungguhnya mengklaim bahwa pada satu kondisi kejiwaan mereka terjadi penyingkapan hakikat dan pengetahuan yang kemudian kebenaran penyingkapan tersebut terbukti. Terkadang berita-berita kejadian masa lalu terlintas dalam hati mereka, terkadang pula mereka mendapat pengetahuan mengenai kejadiankejadian mendatang. Adakalanya mereka juga mengetahui kejadian atau sesuatu yang sulit untuk dijangkau pancaindra, menyaksikan sesuatu atau seseorang atau mendengar suara tetapi tidak melalui penglihatan dan pendengaran zahir. Beritaberita semacam ini sedemikian banyaknya sehingga pokok dari permasalahan tersebut tidak dapat dipungkiri. Kendati


sebagian dari mereka yang mengklaim hal-hal tersebut juga terdapat kebohongan yang jelas kita saksikan tetapi hal ini tidak mengganggu pokok permasalahan.
Penyingkapan-penyingkapan pelaku jalan spiritual juga dihasilkan dari pengalaman dan perjalanan batin serta pemberian pada hati mereka dan tidak memiliki keserupaan dengan wahyu dan ilham. Penyingkapan-penyingkapan tersebut memiliki perbedaan dengan wahyu dalam beberapa hal berikut.
1. Sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya bahwa penerima wahyu pada saat itu memiliki perhatian hudhuri pada pemberi wahyu yaitu Allah Swt dan memiliki keyakinan penuh bahwa wahyu berasal dari Allah Swt, berdasarkan hal inilah merasakan ketenangan. Berbeda dengan penyingkapan atau penyaksian para pelaku jalan spiritual yang tidak memiliki perhatian hudhuri kepada Allah SWT.
2. Pada penyingkapan irfani (pelaku jalan spiritual), kemungkinan terjadinya kesalahan dan ada kemungkinan berasal dari waswas setan. Dalam penyingkapan-penyingkapan irfani yang dinukil, terdapat hal-hal berupa khayalan dan hanya anggapan belaka yang bersumber dari kapasitas mereka. Berbeda dengan wahyu para nabi yang senantiasa terjaga dari segala bentuk kesalahan.
3. Wahyu kenabian memiliki pesan dan perintah untuk menyampaikan. Disampaikan guna memberikan kebahagiaan masyarakat di segala bidang. Berbeda dengan penyingkapan- penyingkapan irfani yang membantu pelaku penyingkapan dengan ilmu dan perjalanan spiritual.
4. Penyingkapan-penyingkapan irfani adalah perolehan yang dihasilkan melalui proses latihan-latihan dan menjalani amalan-amalan khusus. Berbeda dengan wahyu yang tidak membutuhkan latihan dan terjadi tanpa proses.
Post a Comment