Tuesday, July 3, 2012

AL-BIDAYAH FIL-IMAN wan NIHAAYAH FIL-IHSAN

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

PENGERTIAN AL-BIDAYAH FIL-IMAN wan NIHAAYAH FIL-IHSAN


 Pengertian ini ingin melihat lebih jauh mengenai Metode qiyās menurut pandangan para Ulama’ Ahlu sunnah wal-jama’ah dalam disiplin ilmu TAUHID & Asal UshulNYA di dalam kitabnya Bidāyah al- Mujtahid Fil-iman wa Nihāyah al- Muqtaṣid Ihsan , yaitu dengan cara mendeskripsikan dan melihat secara langsung metode qiyās Ulama’ di dalam kitab-kitab tersebut ,,

 dalam penelitian ini juga akan di teliti mengenai status keterikatan metode qiyās Ulama’ dengan metode Ijtihad Imam Mālik maupun Mazhab Maliki. Peneliti merasa tertarik menulis penelitian ini karena kitab Bidāyah al-Mujtahid fil-iman wa Nihāyah al-Muqtaṣid ihsan merupakan karya monumental yang merupakan karya alloh dalam TAUHID menurut Ulama’ AHLI Tauhid yang dikemas secara sistematis. Dalam kitab tersebut juga dapat dilihat mengenai Ijtihad para Ulama’ yang cukup aplikatif dalam mengintegrasikan antara teks /ayat ( nas ) dengan rasio ( qiyas ), sehingga menghasilkan produk hukum yang berbeda dan jauh dari kesan bertentangan sunnah nabi SAW & Nash Al-Qur’an .

Karena BIDAYAH FI AL-HIDAYAH ini melahirkan pengertian Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman, Islam  dan  ihsan, ketiga istilah itu memberi  umat  Islam     tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang  penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup.  Dalam penglihatan  itu  terkesan  adanya semacam kompartementalisasi antara  pengertian  masing-masing  istilah  itu,    seolah-olah
 setiap  satu  dari  ketiga  nama  itu  dapat dipahami secara tersendiri, dapat bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.

Setiap pemeluk Islam mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam (al-Islam) tidak absah
 tanpa iman (al-iman), dan  iman  tidak  sempurna  tanpa  ihsan (al-ihsan).

Islam adalah  inisial  seseorang  masuk  ke dalam  lingkaran  ajaran  Ilahi.  Sebuah  Ayat Suci melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah  beriman  tapi Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru ber-Islam,  sebab  iman  belum masuk  ke  dalam  hati  mereka :

قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Orang-orang Arab Badwi itu berkata: 'Kami telah beriman'. Katakanlah (kepada mereka): 'Kamu belum beriman', tetapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.49:14)

Jadi, iman lebih mendalam daripada Islam, sebab dalam  kontek  firman  itu,  kaum  Arab  Badui tersebut barulah tunduk dengan hormat kepada Nabi muhammad  secara lahiriah, dan itulah  makna  kebahasaan  perkataan "Islam",  yaitu  "tunduk" atau "menyerah." Tentang hadits yang terkenal yang menggambarkan  pengertian  masing-masing  Islam iman  dan  ihsan

Salah satu hal lagi yang membuat Al-Faqir merasa tertarik untuk menulis penelitian ini, karena ketertarikan peneliti mengenai figur para Ulama’ sendiri yang merupakan Ulama yang lahir dan hidup di wilayah andalusia yang notabene-nya adalah sentral pengembangan mazhab -mazdhab pada waktu itu. Hal itu yang membuat Ulama’ juga disinyalir sebagai ulama mazhab Maliki, serta dalam berijtihad pun kemungkinan mengikuti ijtihad mazhab maliki dan madzhab lainnya.

Tetapi apakah yang terjadi memang demikian? Hal inilah yang juga membuat ketertarikan AL-FAQIR  untuk meneliti mengenai keterikatan metode qiyas Ulama’ dengan metode ijtihad Imam Maliki maupun mazhab selain Madzhab  maliki ,,
Ketertarikan terhadap metode qiyas para Ulama’ seperti yang telah disebut diatas.
. Dalam menulis pengertian ini, metode yang Al-faqir gunakan adalah bersifat penialian pribadi dan hanya untuk kajian & sudut pandang Ilmiyah belaka : yaitu menggambarkan serta menginterpretasi data yang yang dikaji pandangan para ‘aalim & di nuqil dari kitab-kitab tauhid karya ulama yang ahli di bidangnya ...


Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ushuliyah yang berupa metode tashkhih  yang merupakan metode untuk mengambil dalil yang terkuat, karena memang Kitab Bidayah al-Mujtahid merupakan kitab perbandingan ijtihad para ulama yang tentunya harus diteliti menggunakan metode tashkhih . Selain itu, pendekatan yang Al-faqir  gunakan adalah pendekatan sejarah yaitu mengenai sejarah kehidupan para Ulama’, hal tersebut juga untuk melihat seberapa jauh hubungan antara Ulama’ dengan mazhab Maliki & madzhab-madzhab lain yang berkembang pesat di tempat kelahirannya pada waktu itu...

Hasil dari penelitihan ini adalah menjelaskan secara sistematis mengenai pandangan Al-faqir tentang metode qiyas dalam kitab-kitab  tersebut. Pengertian ini juga akan menunjukkan mengenai status keterikatan metode qiyasnya Ulama’ dengan metode Ijtihad Imam Malik maupun Mazhab-madzhab lainya dalam kitab Bidayah al-Mujtahid Fil-iman wa Nihayah al-Muqtasid fil ihsan . Untuk membatasi serta mempermudah pengertian mengenai metode qiyas para Ulama’ terdahulu serta keterikatan dengan 4 mazhab maliki dalam kitab bidāyah al-mujtahid tersebut, maka peneliti akan mengambil 1 contoh kasus dalam kitab tersebut sebagai rujukan untuk memahami pengertian DASAR-DASAR KEIMANAN seorang manusia ...
Adapun masalah yang di kaji adalah :
HIDAYAH :

الهداية هي الطريق المستقيم الموصل إلى الغاية وهو أقصر الطرق ، وغاية هذه الحياة هي أن تصل إلى نعيم الآخرة

Petunjuk yang dalam al qur'an menggunakan kata “HIDAYAH” atau “HUDA” diartikan sebagai petunjuk digunakan...

Dengan demikian semua manusia yang menganut agama Islam artinya telah mendapatkan hidayah dari Alloh Ta’ala (Jalan lurus yang dapat mencapaikan seseorang pada tujuan kehidupan bahagia di akherat) tetapi tidak semua dari mereka mendapat taufiq untuk mengerjakan amal sholeh.

 pada 2 penggunaan; yaitu secara ‘Am (umum) dan Khos (khusus). Contoh penggunaan ‘Am adalah dalam ayat:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah pada) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggal-kannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah, atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." – (QS.2:185)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." – (QS.2:186)

Sedangkan contoh penggunaan kata hidayah yang bermakna khos yaitu dalam firman alloh SWT :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

 [ Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa] (QS Al baqoroh : 2)


Pengertian [HUDAN] (petunjuk) disini merupakan suatu petunjuk yang kekhususan bagi orang yang bertaqwa. Sehingga sebagian para ulama mendefinisikan kata [HIDAYAH] dengan Makna yang ‘Am (umum) adalah : Terangnya jalan kebenaran (Alloh) dan jelasnya hujjah alloh, walaupun jalan untuk menelusurinya itu sudah jelas atau tidak Seperti dalam ayat :

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


[[ dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan ]] (QS Al Fushilat : 17)
Maksudnya, alloh telah memberikan petunjuk kepada kaum tsamud jalan (ajaran) alloh melalui lisan nabi sholeh walaupun mereka tidak sedikitpun menelusuri jalan jalan petunjuk alloh tersebut karena dalam keterangan selanjutnya disebutkan bahwasanya kaum tsamud memilih tersesat.

ابانة الطريق الحق وايضاخ المحجة سواؤ سلكها المبين له ام لا

“ Terangnya jalan kebenaran (Alloh) dan jelasnya hujjah alloh, walaupun jalan untuk menelusurinya itu sudah  jelas atau tidak”
 <[[ tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk ]]>
.
Atau dalam ayat lain surat lain :

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا


Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”.(QS al Insan : 3)

  Maksudnya Alloh telah menjelaskan atau menerangkan kepadanya jalan kebaikan dan kejelekan, karena kalimat selanjutnya {ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir}
Adapun definisi hidayah dengan makna khos (khusus) adalah

تفضل الله بالتوفيق علي العبد

Anugerah(kelebihan) yang diberikan oleh Alloh kepada seorang hamba dengan Taufiq (pertolongan / petunjuk) 

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُو

 إِلا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

"Mereka itulah, orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah ? 'Aku tidak meminta upah kepadamu, dalam menyampaikan (Al-Qur'an)'. Al-Qur'an itu tidak lain, hanyalah peringatan untuk segala umat." – (QS.6:90)


فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

"Barangsiapa yang dikehendaki Alloh mendapat petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Alloh kesesatannya, niscaya Alloh menjadikan dadanya sesak, lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Alloh menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." – (QS.6:125)


Berikut  ini  kita  akan  mencoba MENELAAH , berdasarkan pembahasan para ulama,  apa  pengertian  ketiga  istilah  itu  dan    bagaimana wujudnya   dalam   hidup   keagamaan  seorang   pemeluk  Islam.Diharapkan  bahwa  dengan  memahami  lebih   baik  pengertian istilah-istilah yang amat penting itu kemampuan kita menangkap makna luhur agama dan pesan-pesan sucinya dapat ditingkatkan Pembahasan secara berurutan pengertian istilah-istilah di atas pertama Islam, kemudian iman dan akhirnya ihsan - dilakukan tanpa harus dipahami sebagai pembuatan kategori-kategori  yang terpisah  -  sebagaimana sudah di jelaskan dalam al-qur’an

Jika kita telah memahami hal ini, maka kita akan mengerti bahwa hidayah yang khusus bagi orang bertaqwa adalah makna dari hidayah yang khos yaitu pemberian anugerah/ kelebihan dengan taufiq sedangkan hidayah yang diberikan kepada semua manusia merupakan pengertian dari makna yang ‘Am (umum) , yaitu telah terangnya jalan-jalan kebenaran dan jalan-jalan alloh .... setelah HIDAYAH IMAN telah di tiupkan oleh alloh kepada hamba-hamba yang di pilihnya barulah mereka masuk dalam agama ISLAM tanpa paksaan .... dan menempati firman alloh :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

"Sesungguhnya, agama (yang diridhoi) di sisi Alloh hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka (terhadap Islam). Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Alloh sesungguhnya Alloh sangat cepat hisab-Nya." – (QS.3:19)

Agama Islam yang berasal dari bahasa arab ,perkataan al-Islam dalam  firman  ini  bisa  diartikan  secara lebih  umum,  yaitu  menurut makna asal atau turunya, yaitu
 "pasrah kepada alloh," suatu semangat ajaran  yang  menjadikan karakteristik  pokok  semua  agama  yang  benar.  Inilah dasar pandangan dalam al-Qur'an bahwa semua agama yang benar  adalah agama  Islam,  dalam  pengertian  semuanya  mengajarkan sikap pasrah kepada AL-ILAAH , sebagaimana penjelasan yang  disimpulkan dari firman alloh

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: 'Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami, dan yang diturunkan kepadamu; Ilah kami dan Ilahmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri'." – (QS.29:46)

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الْكَافِرُونَ

"Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al-Kitab (Al-Qur'an), maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al-Kitab (Taurat), mereka beriman kepadanya (Al-Qur'an); dan di antara mereka (orang-orang kafir di Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami, selain orang-orang yang kafir." – (QS.29:47)

Dalam ayat ini menjelaskan inti dalam beragama islam itu adalah kepasrahan muthlaq kepa alloh swt tanpa adanya syarat ...

 Sama dengan perkataan "al-Islam" di atas, perkataan "muslimun" dalam  firman  itu  lebih  tepat   diartikan    menurut   makna asalnya, yaitu "orang-orang yang pasrah kepada alloh." Jadi seperti diisyaratkan  dalam  firman  itu,  perkataan  muslimun dalam  makna  asalnya  juga  menjadi  kualifikasi para pemeluk agama lain, khususnya  para  penganut  Kitab  Suci.  Ini   juga diisyaratkan dalam al-qur’an :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Barangsiapa mencari agama, selain daripada agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." – (QS.3:85)


Sudah tentu hakikatnya tidaklah cukup demikian. Setiap pemeluk Islam  mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam (al-Islam) tidak absah tanpa iman (al-iman), dan  iman  tidak  sempurna  tanpa  ihsan (al-ihsan).  Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin  tanpa  inisial  Islam dan iman dalam islampun mustahil tanpa HIDAYAH Alloh SWT.  Dalam  telaah lebih lanjut oleh para Ulama’ ahli, ternyata pengertian antara ketiga istilah itu :  terkait satu  dengan  yang  lain,  bahkan  tumpang tindih sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya dan saling mendukung satu sama lainnya sehingga menjadikan sang pemeluknya menempati pada ISLAM KAFFAH . Dalam iman terdapat Islam  dan ihsan,  dalam  Islam  terdapat  iman dan ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari  sudut  pengertian  inilah  kita melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahiyah
Post a Comment