Monday, July 9, 2012

TITIK PERTEMUAN ANTARA TASAWUF DAN KEBATINAN

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

TITIK PERTEMUAN ANTARA TASAWUF DAN KEBATINAN

BabI

Pendahuluan

 

Aliran kebatinan atau sekarang dikenal dengan “kepercayaan”, lengkapnya adalah kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa merupakan suatu sistem kepercayaan  atau sistem spiritual yang ada di Indonesia selain agama, aliran, faham, sekte, atau madzhab dari agama tersebut, serta bukan pula termasuk kepercayaan adat. Nama kebatinan lebih dikenal pada tahun 1950-an sampai akhir tahun 1960-an, muncul dalam berbagai bentuk gerakan atau perguruan kebatinan.1 Banyak para ahli ilmu sosial maupun ilmu agama yang menganalisa dan memberikan pendapatnya kenapa aliran kebatinan pada saat itu tumbuh dengan pesat. Hal itu antara lain karena disamping dimungkinkan karenaa adanya pernyataaan kebebasan beragama dalam UUD, juga karena berbagai krisis yang terjadi pada masa itu menuntut orang untuk mencari pegangan hidup, serta penguat batin.
            Faham kebatinan ini dalam proses perkembangannya senantiasa selalu didukung oleh golongan priyayi, yaitu golongan keluarga istana dan pejabat pemerintah kraton. Mereka termasuk dalam kategori Islam abangan lapisan atas, yakni orang Islam yang kurang mengetahui serta kurang memahami ajaran-ajaran agama Islam yang tentu saja tidak mengamalkan syari’at-syari’at agama Islam. Mereka mempertahankan budaya agama yang telah sampai pada mereka sebelum datangnya Islam sehingga mereka menganggap Islam sebagai tambahan, yaitu tambahan untuk melengkapi keperluan dalam ajaran-ajaran mistik. Dalam mistik priyayi ini, tidak ada bedanya antara yang muthlak ( Tuhan ) dengan manusia. Antara tuhan dan manusia bisa terjadi persatuan yang ditentukan oleh usaha manusia itu sendiri. Sedangkan dalam mistik Islam, jelas bahwa tuhan (kholiq) berbeda dengan manusia (makhluk). Terbukanya tirai antara manusia dengan tuhannya adalah merupakan anugrah dari Yang Maha Agung, manusia hanya bisa memohon dan mempersiapkan diri. Namun mistik priyayi tidak canggung-canggung menggunakan istilah-istilah dalam mistik Islam yang mungkin sesuai dengan mistik penghayatan mereka, seperti istilah al-fana, al-baqa, wihdatul wujud, dan lain sebagainya.2
Perjalanan batin atau perjalanan nurani manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup yakni dengan berada sedekat-dekatnya dengan tuhan yang disebut mistik. Dan oleh karena mistik itu senantiasa berkaitan dengan pengalaman ke-agamaan, maka mistik ada pada setiap agama, bahkan ada pada aliran-aliran pseudo-agama, yakni agama atau faham yang menyerupai agama. Pada agama-agama besar dunia terdapat mistik Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Dan pada aliran-aliaran yang meyerupai agama kita sebut dengan mistik kebatinan, dan disebut dalam Islam dengan meyerupai tasawuf atau sufisme. 3

 

Bab II 

Tasawuf

A. Pengertian Tasawuf

Kecenderungan hidup secara zuhud yang telah tumbuh pada abad pertama hijriah. Praktek hidup menjauhi dunia ini, atau zuhud, pada masa itu belum disebut dengan tasawuf. Dan orang yang mengamalkan hidup semacam itu baru dikenal dengan sebutan “Zahid”. Zuhud dengan demikian kemudian merupakan benih yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi tasawuf. Menurut Al Qusyairi, istilah “syufi” baru dipergunakan pada akhir abad kedua hijriah, atau sekitar tahun 800 M. sebutan ini menunjukkan kepada kelompok orang-orang yang zuhud yang memakai pakaian kasar (bulu doma), yang menurut Ibnu Khaldun, untuk membedakan diri mereka dari orang-orang yang memakai pakaian yang mewah. Sebutan ini pertama kali ditujukan pada Abi Hasyim Al-kufi (w. 150 H). Dialah perintis dari orang yang hidup zuhud, wara, tawakkal, mahabbah, dan menjadi orang yang pertama dikenal sebagai sufi. Inilah asal usul kata tasawuf, menurut Dr.Ibrahim Basyuni lebih bisa diterima dilihat dari aspek bahasa histories dibanding dari pendapat-pendapat lain.4
Pendapat lain yaitu, Abu Nasr al- Sarraj al-thusi dalam kitab al-Luma, mengatakan bahwa tasawuf  berasal dari kata sofa yang artinya bersih karena tujuan kaum sufi ialah memperoleh kebersihan batin. Masih ada pendapat lain yang mengatakan bahwa ia berasal dari kata “shuffah” yakni sebuah kamar di luar masjid Nabawi yang ditempati oleh kaum fuqoro, orang-orang yang sangat ingin bertemu dengan Allah. Sedangkan Jurji Zaidan berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani shopia yang berarti bijaksana.5

C. Sumber Tasawuf
Pada masa awal Islam, sufisme tidak dipandang sebagai sisi batin (terdalam) dari ajaran Islam sebagaimana yang terjadi pada masa sekarang, melainkan ia dipandang sebagai Islam sendiri. Bahkan, dalam rangka meremehkan kebangkitan aspirasi manusia sesudah fase pertama perkembangan Islam, kalangan sufi mengatakan: “ pada awalnya sufisme merupakan sebuah nama tanpa realitas”. Menurut kalangan sufi, guru sufi yang terbesar dan guru yang sejati tidak lain adalah Nabi Muhammad sendiri yang mengajarkan ajaran esoteris Islam kepada para sahabat, yang pada masa berikutnya mereka menjadi penerus. Dari sumber inilah para sufi mewarisi inspirasi dan ajaran-ajaran para sahabat. Para sahabat juga memberikan barakah, anugerah, atau berkah spiritual yang diterima Nabi Muhammad dari Allah pada masa awal risalahnya dan yang kemudian disampaikan kepada para sahabatnya melalui Baia’t al-Ridwan (sumpah kesetiaan) yang berlangsung di Hudaibiyyah ( al-quran 48:10). Rangkain yang transmisi yang berpangkal pada sumpah di Hudaibiyyah ini yang oleh seorang Syaikh disampaikan kepada seorang Syaikh yang lainnya dinamakan silsilah. Seluruh sufi mestilah secara otentik dihubungkan dengan sebuah metode silsilah ini.6
Menurut sejarah, Islam diturunkan dan semula berpusat di kota Mekkah dan Madinah, kemudian meluaskan daerah kekuasaannya di luar jazirah Arab, Mesir, Syiria, Irak, Persia, dan yang lainnya. Didaerah-daerah taklukan ini Islam terpaksa berhadapan dan mendapat pengaruh tradisi budaya setempat, terutama ajaran filsafat Yunani (Helenisme) dan pengaruh mistik timur. Pengaruh fisafat Yunani purba mempercerdas dan meningkatkan kemampuan berfikir ilmiah ulama-ulama mujdtahid sehingga banyak ulama-ulama yang mujdtahid menjadi mujdtahid-mujdtahid yang agung. Dari pemikiran mujdtahid-mujdtahid agung yang mampu menguasai ilmu logika Aristoteles inilah lahirnya madzhab-madzhab agung dalam segala cabang ilmu-ilmu ke-islaman. Dengan menyadap dan mengolah unsur-unsur budaya progresif Yunani purba untuk menafsirkan ajaran agama dan mengembangkan budaya ilmiah agama. Kebudayaan Islam dapat mencapai perkembangan yang sangat indah dan menjadi mercusuar peradaban dunia pada masa itu. Kemudian orang-orang Eropa mulai mengenal kebudayaan progresif Yunani purba melalui perantara berguru pada ilmuan-ilmuan muslim seperti Ibn Rasyid, Ibn Sina, Al Farabi, dan lain-lainnya.7
            Adapun perkembangan atas dasar pengaruh budaya dan mistik timur melahirkan ajaran sufisme-sufisme atau tasawuf yang mulai dirintis orang Islam sejak pertengahan dari abad 2 H. Ajaran Tasawuf menurut kodratnya adalah exterm kerohanian dan anti kritik penalaran rasional. Dalam perkembangan selanjutnya sufisme akhirnya mampu mendominasi alam pikiran Islam semenjak runtuhnya kejayaan peradaban Bagdad dan Cordova pada abad ke-13 M.
           
D. Pengaruh Tasawuf
Tasawuf berusaha mengalihkan pikiran umat Islam, kalau ajaran sunni atau syar’i memacu pikiran Islam untuk berijtihad mengembangkan cara berfikir ilmiah ; maka tasawuf mendorong pemikiran keilmu gaib ( pengalaman kasyf) yang irrasional. Sejarah membuktikan dominasi ajaran sufisme yang berlangsung sejak abad ke-13 sampai abad ke-20 M ditandai dengan kemunduran total pemikiran Islam. Akibat kemunduran ini umat Islam menjadi terhina lantaran dijajah oleh bangsa-bangsa barat yang lebih pintar. Itu semua adalah fakta dalam sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Tasawuf ternyata melenyapkan kemampuan ijtihad umat Islam. Maka dominasi ajaran sufisme yang berlangsung selama tujuh abad ternyata mandul, tidak mampu melahirkan seorang mujtahidpun. Mengapa? Karena pola budaya yang ekspresif murni over ekspresif murni  yakni pola budaya yang teori rasionalnya amat kecil. Hal ini berbeda dengan pola budaya Islam sunni dengan lembaga  Ijtihadnya sangat tinggi nilai pemikiran teori rasionalnya.8

E. Tasawuf Sunni, Tasawuf Falsafi, Ciri, Tujuannya serta Perbedaannya
Tasawuf sebagai mistik Islam, menurut Abul Wafa Tafta Zani memiliki cirri-ciri umum yang bersifat psikis, moral dan epistomologi. Menurut pendapatnya bahwa tasawuf adalah merupakan suatu bentuk peningkatan moral, artinya setiap tasawuf memiliki nilai-nilai moral tertentu dan merealisasikan nilai-nilai itu dengan maksud untuk membersihkan batin. Tujuan tasawuf adalah untuk pemenuhan fana dalam realitas muthlak, yaitu kondisi psikis tertentu, dimana seorang sufi tidak merasakan adanya diri atau keakuhannya. Jika kondisi fana terwujud maka sufi akan memungkinkan memperoleh pengertahuan intwitif langsung, yang bagaikan sinar kilat muncul dan pergi secara tiba-tiba dan secara psikis akan muncul pengalaman rohani yang dirasakan sebagai ketentraman dan kebahagiaan rohani.9
Untuk mencapai tujuan mendekatkan diri kepada tuhan, menurut sejarah, semula tasawuf mengambil bentuk zuhud, dalam arti sikap hidup sederhana dan menjauhi kemewahan duniawi. Selanjutnya tasawuf juga dipergunakan untuk memperhalus budi pekerti dan sopan santun ketika manusia mengadakan hubungan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia. Corak penghayatan tasawuf ini muncul dalam awal perkembangan tasawuf yang cenderung merupakan gerakan moral, dimaksudkan untuk memperhalus budi pekerti dan pengalaman syari’at yang biasa dijalankan dengan ketat dan  kaku, sehingga ajaran syari’at itu menjadi lebih halus, mendalam, dan bermakna. Tasawuf ini dikategorikan sebagai mistik kepribadian karena hubungan antara manusia tidak sampai pada penyatuan esensi, karena antara tuhan dan manusia pada dasarnya berbeda, tasawuf ini disebut juga sebagai tasawuf akhlaqi atau tasawuf sunni10. Tasawuf ini dikembangkan dan tetap berpegang pada ortodoksi al-qur’an dan sunnah Nabi dengan konsep khouf ( takut ) kepada balasan tuhan, dengan konsep al-hubb al-Ilahi yakni cinta kepada Allah, ma’rifat billah, mengenal Allah dengan mata hati. 
Namun dalam perkembangan tasawuf lebih lanjut, memperlihatkan bahwa tasawuf bukan hanya untuk memperhalus budi pekerti yang bersifat akhlaki, tetapi juga merupakan pandangan hidup yang disistimatisir atas dasar pemikiran dan mendasar yang bersifat falsafi. Corak kefalsafian ini, bukan saja untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, tetapi juga untuk bersatu dengan tuhan. Tasawuf ini, disebut sebagai tasawuf non sunni11 dan dapat dikategorikan sebagai mistik ketakterhinggaan yang berlandaskan kepada kepercayaan monistis, panteistis. Sebuah cabang sufisme yang populer yang bersifat kebaktian berusaha mencari ketenaran terutama dalam fenomena psikis, berkomunikasi dengan ruh (spirit) dan jinn, tarian, magic, dan sejumlah keajaiban seperti memakan kaca, menusuk badan dengan pisau dan lain sebagainya. Dalam kekuatan psikis dan kondisi mental yang luar biasa ia menghadirkan bukti-bukti pencapaian spiritual. Hal ini menimbulkan penerapan kata Faqir (lit orang yang melarat) dikalangan bangsa Eropa dengan pengertian “pertunjukan ahli magic di pasar” yang mana hal ini cukup dikagumi bukan saja oleh kalangan peneliti tetapi juga dalam masyarakat Islam sendiri.15
Dengan melihat kedua kecenderungan penghayatan tasawuf tersebut merumuskan perbedaan tujuan tasawuf  yaitu ma’rifah billah dan ihsan kamil. Tujuan ma’rifah billah dipegangi oleh tasawuf  akhlaqi atau tasawuf sunni yang merujuk pada al-qur’an dan hadits dan selalu memperhatikan syari’at. Sufi yang telah mencapai derajat ma’rifah, seluruh aktifitasnya tersentral kepada Allah. Ma’rifah kepada Allah adalah merupakan cahaya yang telah di pancarkan oleh Allah di hati hamba-Nya.
Disisi lain, tasawuf falsafi lebih menekankan kepada tujuan pencapaian derajat insan kamil, kondisi itu dapat dicapai orang yang telah berhasil merealisasikan seluruh kemungkinan yang ada. Insan kamil merupakan cermin tuhan yang diciptakan atas namanya dengan kata lain kondisi tersebut dapat terwujud mana kala manusia sudah dapat mencapai kesatuan muthlak dengan Tuhan. Tujuan ini dilandasi oleh adanya keyakinan kesamaan essensi antara tuhan dan manusia, realisasi wahdah azasi yang mengakibatkan adanya sifat-sifat dan keutamaan tuhan pada dirinya. Oleh Yazid al-Bustani disebut Ittihad, dan oleh al-Suhrawardi Isyraq, dan menurut al-Hallaj disebut hulul. Hulul berarti “ mengambil tempat” maksudnya Tuhan mengambil tempat (menyatu) pada diri manusia. Konsep hulul dilandasi oleh suatu pandangan bahwa dalam diri manusia terdapat sifat  ketuhanan (al-lahut), dan dalam diri Tuhan terdapat kemanusiaan (al-nasut). Dengan demikian persatuan antara Tuhan dengan manusia bisa terjadi.12

F. Metode, Sitim dan Maqomat Pencapaian
Untuk mencapai tujuan akhir dari perjalanan sufi hingga sampai kepada ma’rifat ataupun insane kamil, maka para sufi harus menempuh perjalanan panjang yang sangat berbeda antara sufi satu dengan yang lainnya. Adapun jalan yang ditempuh disebut suluk atau thoriqot yakni berusaha melatih diri ( riyadoh) serta berjuang (bermujahadah) melepas diri dari belenggu hawa nafsu dan dari sifat kebendaan yang merupakan hijaab (pembatas) antara diri dengan tuhan. Suluk ataupun tarekat yang detempuh tentulah harus sejalan dengan syari’at.
Diantara tarekat atau metode yang ditempuh dalam latihan jiwa tersebut antara lain sitim makomat tujuh tingkat yang dikembangkan oleh al-Suhrawardi dan Halwatiyah yakni dengan berjuang melawan nafsu amarah kemudian naik ke tingkat nafsu lawwamah, ketingkat nafsu mulhamah, ketingkat nafsu muthmainnah, ketingkat nafsu kamilah. Metode yang dipakai al-Ghozali disebut system pendidikan pengawasan diri yang terdiri dari tujuh tingkat yakni musawarathah (memperingati diri), muroqobah (pengawasan diri), muhasabah (membuat perhitungan atas diri), mu’aqobah (menyesali diri), mukasyafah (terbuka hijab). Sedangkan sistem yang lain adalah sistem pendidikan tiga tingkat yaitu takholi, tahalli, tajalli.13
Pada pendidikan tiga tingkat ini langkah pertama adalah takholli yang berarti mengosongkan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan hidup duniawi, yang dapat ditempuh dengan jalan menjauhkan diri kemaksiatan dalam segala bentuknya berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu. Diantara sifat yang tercela dari maksiat lahir dan batin yang perlu dibersihkan seperti sifat-sifat hasad (dengki), su’udzon (buruk sangka), kikir, ujud (merasa sempurna diri dari yang lain), riya’ (memamerkan kelebihan), suma’ (cari-cari nama atas kemasyhuran), bukhul (kikir), hubbul mal (gila harta), tafahur (membanggakan diri), godhob (pemarah), gibah (pengumpat), namimah (mengadu domba atau bicara belakang orang), kidzib (dusta), khianat (munafik) dan lain-lain.
Sesudah tahap takholli maka tahap kedua adalah Tahalli, yakni menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sifat, sikap, dan perbuatan yang baik. Tahap ini merupakan tahap pengisian jiwa yang telah dikosongkan dan diisi dengan sifat-sifat terpuji. Dalam hal ini segala tingkah laku perbuatan harus berjalan sesuai dengan ketentuan agama, baik kewajiban yang bersifat lahir maupun batin kewajiban lahir yang bersifat formal seperti puasa, sholat, zakat, dan haji, sedang aspek batin seperti iman, ketaatan, kecintaan terhadap tuhan, dan lain-lain. Termasuk dalam sifat terpuji adalah taubah (menyesali diri dari perbuatan tercela), khouf (perasaan takut kepada Allah), ikhlas (niat dan amal yang tulus), syukur (rasa terima kasih), zuhud (hidup sederhana), sabar (tahan diri dari segala kesukaan, menahan diri dari amarah, menahan diri atas kesukaran), ridho (bersenang hati menerima keputusan Allah), tawakkal (menggantungkan nasib kepada Allah), mahabbah (perasaan cinta kepada Allah), dzakrul maut (selalu ingat akan mati).14
Jika kedua tahap takhalli dan tahalli telah dilalui, maka memungkinkan seorang sufi mencapai tahapan tajalli yakni memperoleh seluruh kesempurnaan kesucian jiwa sehingga terbuka jalan untuk mencapai tuhan. Pada tingkat ini hati seorang sufi bercahaya terang benderang, dadanya seperti terbuka luas dan lapang, terangkatlah tabir malakut dengan karunia rahmat dan jelaslah segala hakekat yang selama ini terhijab.

 Bab III

Mistik Kebatinan

A. Pengertian Kebatinan     
Aliran kebatinan atau sekarang dikenal dengan “kepercayaan”, lengkapnya adalah kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa merupakan suatu sistem kepercayaan  atau sistem spiritual yang ada di Indonesia selain agama, aliran, faham, sekte, atau madzhab dari agama tersebut, serta bukan pula termasuk kepercyaan adat. Nama kebatinan lebih dikenal pada tahun 1950-an sampai akhir tahun 1960-an, muncul dalam berbagai bentuk gerakan atau perguruan kebatinan.16 Banyak para ahli ilmu sosial maupun ilmu agama yang menganalisa dan memberikan pendapatnya kenapa aliran kebatinan pada saat itu tumbuh dengan pesat. Hal itu antara lain karena disamping dimungkinkan karena adanya pernyataaan kebebasan beragama dalam UUD, juga karena berbagai krisis yang terjadi pada masa itu menuntut orang untuk mencari pegangan hidup, serta penguat batin.
           


B. Perkembangan Aliran Kebatinan
Faham kebatinan ini dalam proses perkembangannya senantiasa selalu didukung oleh golongan priyayi, yaitu golongan keluarga istana dan pejabat pemerintah kraton. Mereka termasuk dalam kategori islam abangan lapisan atas, yakni orang Islam yang kurang mengetahui serta kurang memahami ajaran-ajaran agama islam yang tentu saja tidak mengamalkan syari’at-syari’at agama Islam. Mereka mempertahankan budaya agama yang telah sampai pada mereka sebelum datangnya Islam sehingga mereka menganggap Islam sebagai tambahan, yaitu tambahan untuk melengkapi keperluan dalam ajaran-ajaran mistik. Dalam mistik priyayi ini, tidak ada bedanya antara yang muthlak ( Tuhan ) dengan manusia. Antara tuhan dan manusia bisa terjadi persatuan yang direntukan oleh usaha manusia itu sendiri. Sedangkan dalam mistik Islam, jelas bahwa Tuhan (kholiq) berbeda dengan manusia (makhluk). terbukanya tirai antara manusia dengan tuhannya adalah merupakan anugrah dari yang maha agung, manusia hanya bisa memohon dan mempersiapkan diri. Namun mistik priyayi tidak canggung-canggung menggunakan istilah-istilah dalam mistik islam yang mungkin sesuai dengan mistik penghayatan mereka, seperti istilah al-fana, al-baqa, wihdatul wujud, dan lain sebagainya.17
Perjalanan batin atau perjalanan nurani manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup yakni dengan berada sedekat-dekatnya dengan tuhan yang disebut mistik. Dan oleh karena mistik itu senantiasa berkaitan dengan pengalaman ke-agamaan, maka mistik ada pada setiap agama, bahkan ada pada aliran-aliran pseudo-agama, yakni agama atau faham yang menyerupai agama. Pada agama-agama besar dunia terdapat mistik Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Dan pada aliran-aliaran yang meyerupai agama kita sebut dengan mistik kebatinan.18


C. Sumber-Sumber Kebatinan

            Pernyataan bahwa kebatinan adalah merupakan budaya spiritual tampak lebih mencuat setelah masuk dalam GBHN 1978, dimana dinyatakan bahwa Kepercayaan terhadap Tuan Yang Maha Esa bukanlah agama. Sebagaimana ditetapkan pada kepres No.7 tahun 1978 tentang pelita III Bab 18, telah dinyatakan bahwa kepercayaan adalah sebagai bagian dari kebudayaan Naional. Oleh karena itu defenisi kerja dari Direktorat PPK juga menyatakan : “ Kepercayan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah kebudayan spiritual yang berunsurkan: tuntunan luhur dalam mewujudkan perilaku, hukum dan ilmu suci, yang dihayati oleh penganutnya dengan hati nurani dalam kesadaran dalam keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan membina keteguhan tekad dan kewaspadaan batin serta menghaluskan budi pekerti dalam tata pergaulan menuju kebersihan jiwa dan kedewasaan rohani, demi kesejahteraan dan kesempurnasan hidup di dunia dan dialam kekal”.19
            Adapun budaya spiritual yang dimaksud disini tentunya adalah budaya warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Hanya saja apabila ditelusuri secara mendalam akan lebih nyata corak suku Jawa yang lebih menonjol. Hal itu terlihat dari kenyataan bahwa hampir 45% dari jumlah aliran kebatinan yang berada di Indonesia ada di tanah Jawa, terutama Jawa Tengah. Kajian terhadap histories menunjukkan latar belakang kenapa Jawa merupakan basis dari berbagai macam aliran, karena pada hakekatnya Kebatinan adalah inti sari dari falsafah orang Jawa yang disebut “ngelmu kejawen”,20 atau apa yang oleh Koentjaraningrat disebut dengan agama jawi, yaitu warisan dari agama Islam orang Jawa yang bersifat sinkretis yang masih mencampur adukkan antara agama Islam dengan kompeks keyakinan dan konsep-konsep Hindu Budha yang cenderung kearah mistik.21 Ajaran-ajaran semacam ini telah ada sejak abad 16-17 M, terdapat dalam kesusastraan suluk yaitu himpunan syair mistik yang ditulis dalam bentuk macapat gaya Mataram, semacam suluk Sukarsa dan suluk Wujil. Demikian juga unsur-unsur kesusastraan suluk yang bersifat sinkretis dan mistik itu pada akhir abad 18 sampai dengan awal abad 19 telah dimasukkan oleh pujangga Kraton Mataram dalam karya-karya seperti serat centini dan serat Cabolek. Karya-karya semacam itu dipandang sebagai karya adi luhung, karena tidak hanya nilai sastra gaya bahasa yang bagus tetapi lebih dari itu mempunyai sisi ajaran pandangan hidup yang luhur. Diantara pujangga dan cendikiawan ahli strategi kebudayaan kraton syang dipandang sebagai peletak dasar bagi konsep-konsep Agami Jawi itu adalah Yasadipura I (1803-1927) dari Kraton Mataram di Surakarta dibawah pemerintahan Sunan Pakubuana III (1749-1788) dan kemudian Sunan Pakubuwana IV (1788-1820). Diantara karyanya Serat Cabolek itulah yang  bersifat mistik moralis. Karya itu, dan juga karya yang lain ditulis atas dasar kerangka pemikiran bahwa kedatangan agama Islam adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi dan diterima oleh orang Jawa. Walau demikian dia menghimbau agar agama dan hukum Islam hanya merupakan wadah saja untuk kebudayaan Jawa, tetapi untuk kehidupan spiritualnya sebaiknya orang Jawa berpegang pada kebudayaanya sendiri. Yang dimaksud dengan kehidupan spiritual disini adalah meliputi cara untuk menemukan kemurnian jiwa dan kesempurnaan hidup dan usaha untuk menemukan dirinya di dalam Tuhan.
            Jadi karya-karya sastra pada zaman itulah yang dipandang sebagai warisan nenek moyang yang menjadi dasar ajaran-ajaran Kebatinan dewasa ini. Dalam kaitannya dengan itu, tepat pula yang ditulis oleh R. Tohar bahwa Serat Centini dapat dipandang sebagai Encyklopedia ilmu kesempurnaan Jawa.22 Oleh  karena itu aliran-aliran kebatinan/kepercayaan secara umum dapat dikatakan sebagai kepercayaan masyarakat Jawa atau kejawen yang sudah beridentitas. Dimaksud beridentitas disini bahwa kepercayaan itu sudah dapat dibedakan dengan yang lainnya karena sudah menyusun ajarannya masing-masingsecara spesifik, dan mempunyai guru atau pemimpin atau kadang-kadang mempunyai organisasi.23

D. Tujuan Kebatinan
Konsep dasar dari mistik Kebatinan itu dijelaskan oleh Koentjaningrat dalam bukunya Kebudayaan Jawa, bahwa menurut pandangan mistik kebatinan Jawa, kehidupan manusia merupakan bagian dari alam semesta yang abadi, dimana manusia itu seakan-akan “hanya berhenti sebentar untuk minum” dalam menjalani suatu perjalanan yang tiada henti-hentinya, untuk mencari tujuan akhirnya yaitu bersatu dengan sang pencipta. Untuk mencapai tujuan tersebut hal yang perlu sangat mutlak adalah kemauan dan kemampuan untuk melepaskan diri dari kebendaan, yaitu memiliki sifat rila (rela) untuk melepaskan segala hak milik, pikiran atau perasan untuk memiliki, serta keinginan untuk memiliki. Melalui sikap rohaniah ini orang dapat membebaskan diri dari beberapa kekuatan serta pengaruh dunia kebendaan sekitarnya. Sikap menyerah serta mutlak ini tidak boleh dianggap sebagai tanda lemahnya seseorang; ini menandakan bahwa orang itu memiliki kekuatan batin dan keteguhan iman.30
Prof. Kamil Kartapraja menyatakan bahwa kebatinan (ngelmu kebatinan) adalah suatu ilmu yang bersangkutan dengan ajaran-ajaran mistik, sufi. Ilmu kebatinan ini disebut juga dengan ngelmu hakiki, ngelmu sejati, yaitu ilmu yang berusaha mencari hakekat hidup, hakekat manusia, hakekat tuhan dan segala yang bersangkutan dengan Metafisika (alam gaib).
            Apa yang disebut mistik kebatinan Prof. M.M. Djajadigoeno, SH, lebih memperjelas sebagaimana dia menyatakan bahwa yang disebut kebatinan pada lazimnya adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan dirinya. Tujuan terakhir ialah apa yang dalam bahasa jawa disebut panunggaling kawulo gusti (bersatunya makhluk dengan khalik) dan dilambangkan sebagaimana “curiga manjing rangka maning ing curiga” (bersatunya keris dengan rangka dan bersatunya rangka keris dengan keris). Dalam bahasa latin disebut “Unio Mystica” dan orang yang bergama Budha  menyebutnya “Nirwana”. Sedangkan jalan untuk mencapai tujuan itu disebut samadhi atau meditasi.24
Tujuan untuk mencapai manunggaling kawulo Gusti itu dilandasi oleh suatu pemikiran teologis-metafisika “sangkanparaninfg dumadi” (asal dan kembalinya segala sesuatu yang ada). Dari pandangan filosofis tersebut dapat diketahui ajaran-ajaran Tuhan, manusia dan alam, siapakah manusia, dari mana asal usulnya, serta bagaimana hubungannya dengan Tuhan. Menurut ajaran kebatinan itu, manusia berasal dari Tuhan yang diciptakan oleh Tuhan melalui suatu proses tanazzul, semacam proses emanasi, dimana Tuhan mengejawantah atau menjelmakan diri dalam beberapa pangkat emanasi, dari wujudnya yang gaib sampai akhirnya bermuara pada terwujudnya manusia yang terdiri dari jasmani dan rohani, yang disebut sebagai insane kamil. Semula intisari manusia yang disebut dengan nama-nama yang bermacam-macam sebagai urip, atman, roh suci, berada di alam awang- awung, alam dimana Tuhan bersemayam, sebagai alam yang digambarkan alam kebahagiaan. Keberadaan intisari manusia itu masih manunggal dengan Tuhan dan melalui proses tanazzul sejak dari alam ahdiyat, kemudian turun ke- alam wahdat,dan seterusnya ke alam wahidiyat, alam arwah, alam mitsal, alam ajsam dan akhirnya menjelma menjadi insan kamil.25
Sebagai hasil dari panunggaling kawulo Gusti itu memungkinkan manusia akan memperoleh pula kekuatan gaib, daya liniwih diluar batas-batas kemampuan manusia biasa. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Rahmat Subaya dalam memberikan defenisi “Kebatinan sebagai berikut: Kebatian merupakan sebuah gerakan :a) untuk meningkatkan integrasi manusia b) yang membawa sertanya latihan-latihan agar diri manusia beralih dari kedudukan semula kepada tingkat yang lebih sempurna c) karena menyebabkan partisifasi manusia dalam daya luar biasa yang mengatasi kemampuan orang biasa”.26
            Termasuk dalam kemampuan luar biasa itu adalah:
  1. Hadir dalam dua tempat pada waktu yang sama.
  2. Menyembuhkan penyakit oleh daya budi
  3. Bisa berhubungan dengan roh-roh halus di alam gaib.
  4. Mengetahui niat yang terkandung dalam hati orang lain.
  5. Bisa meramal nasib seseorang atau apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
  6. Memindahkan benda tanpa disentuh tangan atau diangkat.
  7. Memiliki pendengaran, penglihatan dan penciuman yang gaib.27
Tidak berbeda dengan pengertian yang diatas, Drs. Niels Mulder memberikan defenissi bahwa Kebatinan itu adalah mistik penembusan terhadap dan pengetahuan mengenai alam raya dengan tujuan mengadakan suatu hubungan langsung antar individu dengan lingkungan Yang Maha Kuasa. Dinyatakan bahwa termasuk dalam penertian ini Kebatinan juga meliputi ilmu gaib, ilmu sihir, baik sihir hitam maupun sihir putih. Demikian juga kepercayaan akan ramalan-ramalan, upaya mempengaruhi kejadian-kejadian di masa datang, penafsiran terhadap praktek nujum, magi, azimat, tuah, mantra, rapal, kesurupan jiwa, hari naas,tenung, dan lain sebagainya, lambing-lambang kesaktian barang-barang keramat serta makam-makam yang keramat, itu semua termasuk kedalam lingkungan gaib yang merupakan bagian dari Kebatinan.28
Dengan adanya praktek-praktek ilmu gaib tersebut yang dikembangkan okeh kebatinan, maka aliran-aliran kebatinan dapat dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu:
a.       Aliran yang bersifat positif konstuktif dalam membina mental para anggotanya, dengan mengembangkan dan mengamalkan White Magic, seperti memberi pengobatan dengan daya gaib, ramalan cari jodoh dan lain-lain.
b.      Aliran yang bersifat negatif destruktif menyimpang dari ketentuan moral, didorong oleh nafsu dunia serta mengembangkan dan mengamalkan Black Magic, seperti praktek guna-guna, tenung dan lain sebagainya.29

 

Bab IV

Kesimpulan
(Titik Pertemuan)
           
Dari uraian yang panjang diatas dapat diketahui titik-titik pertemuan antara tasawuf dengan kebatinan. Titik temu itu tidak saja tampak pada tujuan yang hendak dicapai, yakni upaya mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga pada alur pikir yang melandasi jalan mistik yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan mistik tersebut.
            Namun demikian titik temu akan lebih tampak kelihatan antara mistik kebatinan dengan tasawuf falsafi (non sunni) yang keduanya berkecenderungan mendasarkan faham ketuhanan yang bercorak monisme panteistik dan bertujuan untuk mencapai persatuan antara manusia dengan Tuhan. Lain halnya jika mistik kebatianan itu dihubungkan dengan Tasawuf sunni atau Tasawuf akhlaki yang mendasarkan faham ketuhanan monoteistik serta bertujuan hanya sebatas ma’rifatullah, maka jelas tampak keduanya berbeda. Bagi faham monoteis hubungan antara Tuhan dengan manusia sebatas pada hubungan antara Kholik (Tuhan) dengan Makhluk ( manusia). Tuhan sebagai pencipta, manusia sebagai yang diciptakan. Hakekat Tuhan berbeda dengan hakekat manusia, dan tidak bisa digambarkan seperti (transenden). Meski demikian, Tuhan juga dirasakan kedekatannya (immanen). Hanya saja immanensi Tuhan dirasakan karena ke-Maha kuasaanNya, artinyaTuhan dirasakan dekat dengan oleh hamba-Nya karena sifat-sifat-Nya, bukan karena esensi Dzat-Nya. Tuhan Maha Mengetahui, maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sehingga kasih sayang-Nya dirasakan oleh hamba-Nya. Demikian juga Tuhan Maha dasyat pembalasan-Nya, sehingga rasa takut akan dirasakan oleh hamba-Nya kapan saja.

Persamaan Metode
Pada jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan mistik,meskipun tampak perbedaan di dalam praktek-pratek latihan kejiwaan, namun tahapan-tahapan yang dilalui secara garis besar terdapat kesamaan, masing-masing memiliki aspek purgative dan kontemplatif. Pada tahap awal merupakan tahap penyucian jiwa (furgative), dimana pada tasawuf dilakukan dengan tajalli, yakni suatu aktivitas untuk membersihkan jasmani dan rohani dari segala sifat yang merintangi kemungkinan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang kemudian diikuti dengan Tahalli, yakni mengisi jiwa dengan perbuatan-perbuatan yang baik, dengan melakukan ahklak terpuji. Adapun kontemplasi atau konsentrasi merupakan pemusatan kesadaran hanya kepada Allah yang dilakukan dengan cara dzikir, mengucapkam lafadz Allah atau lailaha illa Allah secara berulang-ulang. Dzikir yang terus menerus dapat mengantar kearah pengalaman fana dalam ma’rifatullah. Pola yang sama terdapat dalam aliran kebatinan, karena di dalam latihan kejiwaan, kebersihan rohani menjadi syarat utama. Untuk itu perlu dihindari sifat-sifat araupun sikap-sikap yang tercela serta mengutamakan budi luhur, berbuat yang baik, dengan cara mengekang hawa nafsu, mengambil jarak dengan dunia materi. Kontemplasi pada kebatinan dilakukan denagn melalui aktivitas sujud, meditasi atau cara berdzikir sebagaimana yang dilakukan dalam tasawuf. Sementara itu terdapat konsep-konsep etika yang sama antara keduanya, seperti tawakkal, zuhud, sabar, ikhlas, ridlo.
            Jadi pada tasawuf dan mistik kebatinan terdapat persamaan pemikiran dalam mencapai tujuan mistik meskipun titik tolaknya berbeda. Dalam tasawuf misalnya, terdapat pemikiran bahwa roh manusia itu ibarat cermin yang dapat menjadi kotorkarena perbuatan yang  tidak bermoral. Maka untukdapat menerima dan memancarkan cahaya Tuhan, cermin itu harus dibersihkan dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik atas dasar akhlakul karimah. Sebaliknya dalam pemikiran Kebatinan bahwa inti manusia adalah rohani, bukan jasmani. Supaya rohani menjadi kuat dan sempurna, maka jasmani dilemahkan. Untuk melemahkan jasmani harus menjalankan laku, diantaranya berbuat yang baik dan meninggalkan wewaler (segala yang dilarang).
            Penghindaran atau jarak dari dunia materi (distansi) pada tasawuf dilakukan dengan zuhud dan uzlah, bahkan zuhud menurut sejarah merupakan bibit tasawuf yang dilakukan dengan cara makan, minum dan berpakaian secara sederhana, seperti pakaian bulu domba. Sedangkan pada mistik kebatinan distansi dilakukan dengan asketik, tapa berat, mengurangi dahar lan guling ( makan, minum, san tidur), puasa pati geni dan lain-lain. Dengan demikian perwujudan distansi itu berbeda, tetapi tujuanya sama yaitu untuk mensucikan batin dengan cara melemahkan jasmani, karena jasmani itulah yangmenjadi saluran-saluran nafsu.
            Hanya saja terdapat kecenderungan kebatinan memandang dunia sebagai penderitaan yang perlu dihindari sehingga dunia ini dihadapi dengan secara pasif dan pandangannya seakan tertuju kedalam dirinya saja untuk mencari kelepasan dari penderitaan. Sebaliknya tasawuf mempunyai kecenderunagan untuk menghadapi dunia secara aktif, pandangan diarahkan keluar dirinya, oleh karena keaktifannya menghadapi dunia ini sebagai perwujudan dari pelaksanaan Allah maupun meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya, sesuai tuntunan syari’at.
            Sungguhpun demikian berbagai istilah dari agama Islam pada kenyataanya telah banyak mewarnai ajaran-ajaran dalam mistik Kebatinan seperti istilah yang berkaitan dengan nafsu: nafsu lawwamah, amarah, sufiah, dan muthmainnah: yang berkaitan dengan tahapan pencapaian tujuan mistik: syaria’t, tarekat, ma’rifat,: dan semua yang berkaitan dengan budi luhur: ikhlas, tawakkal, sabar dan yang lain-lain. Oleh karena itu menurut Dr. Ardhani terhadap ajaran budi luhur itu sesungguhnya tidak ada hal yang perlu dipertentangkan antara Islam dengan mistik kejawen.31diduga berbagai ajaran pada mistik kejawen itu yang bersumberkan dari ajaran Islam yang diserap melalui buah pikiran yang tertuang dalam bebagai kitab sastra karya para pujangga Islam Jawa, yang kemudian menjadi rujukan Kebatinan.
Post a Comment