Sunday, July 8, 2012

Tasawuf Tanpa Tarekat

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Tasawuf Tanpa Tarekat = Teori
Tasawuf dari sekian banyak definisi bisa kita persingkat menjadi akhlak yang baik, dengan melaksanakan tasawuf maka akhlak manusia ikut menjadi baik. Rasulullah SAW sebagai teladan kita semua memberikan contoh akhlak yang baik dalam kehidupan Beliau, “Sungguh pada diri Rasulullah terdapat Akhlakul Karimah (akhlak yang baik)”. Dengan membaca karya-karya Tasawuf yang ditulis baik oleh Guru Sufi maupun orang-orang yang ahli tentang tasawuf secara teori mungkin bisa saja membuat perilaku kita berubah, suka menolong orang, rajin beribadah dan sabar dalam segala hal, akan tetapi perubahan itu tidak bersifat permanen tapi hanya sementara, selagi kita membaca dan mengingat apa yang ditulis dalam buku tasawuf saat itu kita menjadi baik namun ketika kita lupa maka semuanya akan kembali seperti semula. Akhlak manusia tidak bisa diubah hanya dengan membaca dan mempelajari buku saja. Rasulullah SAW mengubah akhlak manusia dengan menanamkan “Kalimah Allah” ke dalam qalbu para sahabatnya, membersihkan hati dengan zikir sehingga perubahan akhlak para sahabat bukan berasal dari luar akan tetapi berasal dari dalam dan itu bersifat permanen.
Kunci belajar tasawuf secara praktek lewat amal zikir dalam tarekat tergantung dari kualitas Mursyid yang membimbingnya. Seorang Guru Mursyid haruslah berkualitas Wali Allah yang bisa membimbing muridnya 24 jam dimana saja dan kapan saja. Seorang Profesor Tasawuf yang sangat mahir tentang ilmu tasawuf belum tentu bisa menjadi seorang Guru Mursyid. Kalau anda ingin mempelajari tasawuf secara teori, anda bisa membaca buku-buku tasawuf sebagaimana yang saya lakukan dulu sebelum mengenal tarekat atau lebih serius anda bisa kuliah di IAIN dengan mengambil jurusan Tasawuf di Fakultas Ushuluddin dan anda bisa melanjutkan ke jenjang S2 dan S2 baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ilmu yang anda dapat dibangku kuliah tersebut semua tergolong kepada ilmu Tasawuf secara teoritis. Apakah anda belajar Tasawuf Akhlak, Tasawuf Filsafat atau Tasawuf lain kesemua itu hanya mengisi akal pikiran anda tentang ilmu tasawuf.
Untuk bisa  mengaplikasikan ilmu-ilmu tersebut dalam bentuk nyata, dalam bentuk praktek maka diperlukan “bengkel” bernama Tarekat dibawah bimbingan montir ahli bernama “Mursyid”. Untuk bisa mempraktekkan ilmu dibengkel sebenarnya anda tidak harus menyelesaikan semua teori-teori tasawuf, bahkan orang yang tidak pernah membaca buku tasawufpun bisa mempraktekkannya dalam tarekat. Seorang yang sudah menjadi Sufi terkadang tidak menyadari dia sufi, tidak menyadari bahwa dia telah melewati semua maqam-maqam yang harus dilewati oleh para pencari Tuhan sebagaimana yang tertuang dalam kitab tasawuf. Karena kepatuhannya pada Guru Mursyid yang sangat ahli, tanpa disadari dia sudah sangat mahir mempraktekkan segala maca teori yang tertulis dalam buku.
Itulah sebabnya kenapa seringkali orang yang menekuni tarekat tanpa membaca buku tasawuf terkadang bingung dengan istilah-istilah tasawuf dan kalau kita jelaskan dengan detail makna dari istilah itu dia langsung paham dan tersenyum dan dia menganggap hal tersebut biasa-biasa saja karena sudah sering dilakukan.
Dalam praktek terkadang apa yang menjadi hal rumit secara terori akan menjadi mudah dan sederhana bahkan sangat mudah karena memang dibimbing oleh Sang Ahli, saya mengambil contoh sederhana, dalam pengajian yang dilaksanakan oleh lambaga Tasawuf Tauhid yang membahas tasawuf secara teori, ketika membahasa masalah UBUDIYAH, diperlukan waktu lama dengan berbagai dalil baik Al-Qur’an, Al-Hadist maupun ucapan-ucapan para ulama untuk menerangkan makna dari ubdiyah tersebut. Saya pernah mengikuti pengajian seperti itu dan saya yang sudah menekuni tarekatpun bukan tembah terang dan jelas akan tetapi bertambah bingung dengan teori-teori tersebut. Dalam prakteknya Ubudiyah atau menghambakan diri kepada Allah itu tidak sesulit dan serumit dalam teori. Guru saya, ketika ada orang ingin berubudiyah atau mengetahui makna ubidyah, maka Beliau cukup mewakilkan dengan satu kalimat, “Ambil cangkul dan cangkul tanah itu”, atau kalau sedang pembangunan Mesjid beliau cuma berkata, “Kalau kamu bisa aduk semen, silahkan aduk semen, itulah ubudiyahmu kepada Allah”. Singkat, jelas dan sederhana namun bagi yang melakukan bukan hanya memahami tapi juga merasakan karena telah mempraktekkan langsung makna ubidiyah tersebut.
Bisa jadi makna ubdiyah tidak langsung didapat dalam sehari hanya dengan sekali cangkul, mungkin seminggu, sebulan atau setahun baru dia memahami hakikat dari Ubudiyah. Barulah dia akan paham bagaimana posisi hamba dan bagai mana posisi Allah dalam kesehariannya. Karena ilmu praktek maka akan tunduk pada aturan-aturan dan hukum alam yang sudah berlaku. Kalau menanam bayam harus menunggu 21 hari, walaupun dipaksa tidak akan mungkin bisa panen dalam 1 hari. Begitu juga ilmu tasawuf yang dipraktekkan lewat tarekat, diperlukan kesabaran untuk bisa mencapai hasil-hasilnya. Hasil yang dimaksud adalah mencapai tahap Makrifatullah, mengenal Allah dengan sebenarnya.
Seringkali orang yang tidak berhasil dalam tarekat bukan karena dia tidak sungguh-sungguh, akan tetapi tidak sabar di dalam perjalanannya. Seperti Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Khidir, diperlukan kesungguhan dan kesabaran sehingga bisa selamat sampai ke tempat tujuan.
Tarekat berasal dari kata Thariqatullah artinya jalan kepada Allah, memerlukan proses, kesungguhan dan keyakinan penuh bagi si pejalan agar sampai kepada tempat tujuan. Dan yang lebih penting lagi diperlukan pembimbing sebagai sahabat rohani yang senantiasa memberikan petunjuk dan arahan agar tidak tersesat di jalan. Tasawuf yang tidak disertai tarekat tidak menghasilkan apa-apa selain hanya berupa teori semata. Tidak ada bedanya dengan orang belajar fiqih, belajar syariat yang semula adalah ilmu hakikat karena tidak ada pembimbing akan menjadi ilmu syariat, berupa teori semata.
Lebih berbahaya lagi orang mempraktekkan ilmu zikir dalam tasawuf tapi tanpa memiliki Mursyid, hanya berdasarkan apa yang tertulis dalam buku kemudian dipraktekkannya maka akan melahirkan kesesatan yang tanpa disadarinya. Istilah “kemasukan atau kerasukan wali” di datangi oleh Syekh Abdul Qadir Jailani atau Wali lain, berguru secara gaib kepada nabi Khidir atau berguru secara rohani kepada Wali Songo adalah istilah yang berasal dari orang yang mempraktekkan ilmu tanpa Guru Mursyid. Manusia suka cepat dan suka yang instan, tanpa harus zikir dan menuntut ilmu kepada Wali ingin langsung mencapai makrifat sehingga sekarang ada aliran Makrifat, langsung mencapai makrifat tanpa melalui tarekat dan hakekat. Apakah bisa mencapai makrifat langsung? Bisa! Inilah makrifat secara teori. Hakikat makrifat tidak bisa dipelajari lewat akal, ketika rohani kita diantar kehadirat Allah dan menyaksikan langsung SANG MAHA SEGALANYA disaat itulah kita mencapai tahap makrifat yang sebenarnya.


Tentang Ziarah Ke Makam Wali/Ulama

Tasawuf adalah dunia rasa dan tidak akan pernah mengetahui tanpa merasakan dan tasawuf juga adalah dunia yang sangat halus, laksana rambut dibelah tujuh, tanpa kehati-hatian bukan Makrifat sebagai puncak tauhid yang didapat akan tetapi malah terjebak dalam kemusyrikan. Para Wali dan Sufi sudah menjadi tradisi mengunjungi makam Wali untuk mengambil berkah dan untuk mendapat petunjuk, petunjuk dan berkah hanya akan didapat kalau memenuhi rukun syaratnya. Kenapa wali atau sufi mengunjungi makam wali karena keduanya mempunyai ikatan atau ada hubungan, apakah hubungan berguru langsung atau makam tersebut salah seorang yang tercantum dalam jalur keguruannya. Sedangkan orang awam, ikut-ikutan mendatangi makam wali tanpa mempunyai ikatan apa-apa bahkan ada yang tanpa mengetahui itu makam wali atau tidak membuat sesajian atau persembahan yang mengarah kepada Musyrik. Praktek-praktek perdukunan karena berhubungan dengan gaib dihubungkan dengan tasawuf yang merupakan mistik Islam yang berhubungan juga dengan gaib. Banyak orang mencampur adukkan yang HAQ dengan yang BATHIL sehingga bukan berkah yang di dapat tapi bala!
Saya misalnya, kalau ke Surabaya tidak pernah singgah ke makam Sunan Ampel, kenapa? Karena saya tidak kenal dengan sunan ampel dan jalur keguruan yang saya tekuni tidak tersambung kepada sunan Ampel. Guru saya bukan salah seorang murid dari Sunan Ampel begitu juga guru dari Guru saya. Kalau saya berada di kota Banda Aceh, saya tidak akan mengunjungi makam Syekh Abdurrauf As-Singkily yang dikenal dengan Syiah Kuala, kenapa? Karena saya tidak mengenal Beliau. Berbeda dengan orang-orang dari Sumatera Barat murid dari Syekh Burhanuddin Ulakan atau para pengamal tarekat Syattariyah yang diajarkan oleh Syekh Burhanuddin, mereka sering berziarah kepada kuburan Syiah Kuala karena Guru mereka Syekh Burhanuddin adalah murid langsung dari Syiah Kuala sehingga keduanya punya hubungan langsung.
Kalau nanti saya berziarah ke makam Syiah Kuala, kemudian ada yang berjubah putih datang mengaku sebagai syiah kuala dan memberikan petunjuk kepada saya, dari mana saya tahu kalau yang datang itu benar-benar Syiah Kuala atau hanya setan yang mengaku sebagai Syiah Kuala?
Inilah yang menjadi cikal bakal kesatan dalam Tasawuf yang sering di kritik oleh orang-orang syariat yang anti tasawuf. Kalau saya suatu saat ke Kazastan di daerah makam Syekh Bahauddin Naqsyabandi, mungkin saya akan berziarah ke makam Beliau karena memang masih ada hubungan tali silsilah, dan itupun harus dengan izin dari Guru saya, izin secara zahir maupun lewat kontak rohani sehingga dengan berkat doa Guru saya akan tersambung secara rohani kepada Syekh Bahauddin dengan demikian saya benar-benar akan mendapatkan berkah dari ziarah tersebut.
Lalu bagaimana dengan masyarakat umum yang datang ke kuburan wali untuk mendapat berkah? Menurut saya itu tidak salah, jangankan kuburan wali, kuburan orang tua kita yang bukan wali saja harus kita ziarahi. Banyak pelajaran yang bisa didapat dengan berziarah ke kuburan ulama, disamping mengingat akan mati juga untuk mengenang kembali perjuangan ulama dalam menegakkan agama ini dan juga menjadi contoh teladan yang baik akan akhlak ulama mudah-mudahan akan memberikan semangat kepada kita untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, mengunjungi kuburan wali tidak berarti anda menjadi seorang Sufi tapi itu tradisi yang dilakukan oleh para wali atau sufi terhadap Makam Guru mereka atau Makam Para Guru yang tersambung dalam jalur silsilah mereka.

Kesimpulan
Kesimpulan , siapapun ingin serius merasakan indahnya dunia tasawuf, merasakan kelezatan berjumpa dengan Allah, ketenangan bathin dan pencerahan jiwa jangan sekedar ikut-ikutan tradisi yang berlaku di tengah masyarakat walaupun itu benar tetapi harus menekuni Tarekat, harus menempuh jalan kesana dibawah bimbingan Guru Mursyid agar tidak tersesat di tengah jalan. Disamping untuk memperbaiki akhlak, yang lebih penting adalah bagaimana kita berkomunikasi dengan benar dengan Allah, mengenalnya dengan sebenar kenal sehingga kita tidak salah menyembah. Ketika kita telah mengenal Allah dengan benar, barulah kita bisa mencintai-Nya dengan benar pula. Cara paling aman dan paling mudah untuk bisa berjumpa dengan Allah adalah dengan bimbingan orang yang telah pernah dan sering berjumpa Allah, mereka itu tidak lain adalah Wali Allah (Kekasih Allah).
Post a Comment