Monday, July 9, 2012

Shalat: Guru Sejati Kita

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Shalat: Guru Sejati Kita 

Di Buntet Pesantren bagian Barat, tepatnya di Kinandran, banyak warga Buntet menanam jati. Di mana-manapun kayu jati memang jadi primadona. Selain mahal, dipercaya sangat kuat menopang bangunan. Hingga salah satu Wali Songo pun dikubur di Gunung Jati, mungkin waktu itu gunung tersbut banyak pohon jatinya. Atau hanya sebagai istilah saja. Tapi hebatnya kyai dulu, lain lagi. Ketika menghadapi penjajah Belanda, istilah untuk pohon jati yang tidak bagus untuk dibuat bangunan, disebut Jati Welanda… Laughing Yang paling menarik dan menjadi tema tulisan ini adalah Shalat sebagai guru sejati. Istilah ini pernah dikemukakan oleh salah seorang Kyai Buntet. Saya ingin mencoba membuka dialog, dan mengawali tulsian tentang Fiqh. Ini berkaitan dengan permintaan Pak Jailani teman Kang Darda. Satu lagi sebuah tausiah dari Kyai Buntet yang perlu direnungi?

Kalau saya coba renungi, kata shalat sebagai guru sejati itu mungkin berkaitan dengan persoalan masalah pembimbingan dan pengarahan kepada Yang Maha. Coba bila kita renungi, siapakah sebenarnya yang bisa mengarahkan kepadaNya? Rasa-rasanya hanya shalat satu-satunya cara. Jadi shalatlah yang bisa menuntun hidup kita. Jika merasa bahwa yang membimbing kita adalah sang shalat rasanya hidup menjadi nikmat. Alasannya boleh jadi sebagai berikut:
Pertama, Saat shalat, kita bertemu dengan Allah swt (bertemu dalam arti menghadap). Bukankah shalat adalah satu-satunya cara bertemu dengan Allah? “Inni wajajhtu wajhia lilladzii fatharassamaawati wal ard” (sungguh aku hadapkan wajahku pada Tuhan pencipta langit dan bumi… dst). Adakah cara lain, lafadz lain yang mengatur itu? Di sini berarti, shalat sebagai guru yang baik karena mengajarkan dengan kalimah yang benar dan hak.
Kedua, Shalat adalah jalan pintas menemui Allah swt. Mungkinkah mengerjakan shalat karena ingin bertemu dengan orang lain? Jadi, di sini jelas sekali visi dan arah tujuannya. Bukankah guru sejati adalah yang mampu mengarahkan anak muridnya agar menjadi selamat?
Ketiga, Dilihat dari sejarahnya, shalat merupakan hasil dari oleh-oleh pengalaman rohani saat Isra Mi’raj. Konon, Kanjeng Nabi Muhammad saw langsung bertemu Allah di Sidratul Muntaha… dan pengalaman ini diceritakan untuk umatnya. Jadi, shalat merupakan produk original yang sudah berumur ribuan tahun. Jika shalat itu produk manusia, mungkinkah bisa bertahan ribuan tahun?. Berarti, tidak ragu lagi karena produk shalat itu langsung dari Allah swt.
Keempat, Hidup paling enak diatur oleh wahyu. Jika diatur oleh pikiran barangkali yang ada hanya bingung dan terhuyung-huyung karena tidak ada pegangan. Nah karena shalat adalah produk wahyu, maka shalat adalah pegangan yang paling tepat.
Akhinya, setiap manusia yang kangen dengan Allah akan melakukan shalat berkali-kali dan yang me¬nun¬tun hidup kita langsung sang shalat. Jika ini disadari betul-betul oleh kita, pasti hidup terasa nikmat. Sebabnya karena saat kita shalat langsung bertemu dengan Allah swt. Karena jalan pintas menemui Allah adalah dengan cara itu (shalat). Begitu juga karena syareat tentang shalat dan juga sejarah shalat itu begitu jelas dari peristiwa isra-mi'raj. Maka cukuplah apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw itu kita ikuti dengan sebaik-baiknya.
Adapun mengenai caranya Rasulullah menyruh para sahabatnya untuk meniru saja. titik! Tidak pakai diskusi, debat, atau seminar. Jadi ternyata belajar shalat itu begitu singkat begitu gampang.
Syariat islam biasanya hanya membutuhkan praktek bukan teori atau lainya. Membaca quran tidak mesti harus mengerti artinya; shalat, tidak mesti alim dulu atau menunggu tua dulu. Begitu pula syariat yang lainnya : zakat tidak mesti menunggu kaya.
Singkatnya dari sisi syariat shalat sebagai guru kita akan ada selalu dihadapan kita dan siap selalu membimbing untuk bertemu dengan Sang Pencipta… pantas saja jika nabi kangen dengan peristiwa Isra-Mi’raj, nabi menyuruh Bilal untuk adzan. Kalau masih kangen, beliau terus menerus shalat panjang sekali. Itulah perbuatan Nabi saw telah mencontohkan begitu gamblang buat kita bahwa sahalat adalah sebuah guru sejati dan realita.

 


Pada bagian pertama tulisan tentang ini menjelaskan bagaimana shalat sebagai guru sejati. Di sana dijelaskan bahwa guru sejati yang dimaksud mengarahkan pada muridnya untuk bisa berkomuniksi dengan Allah, dan shalat sendiri merupakan oleh-oleh dari Isra Mi’raj Kanjeng Nabi Muhammad saw. Maka pada bagian tulisan ini mencoba membuka wacana kembali, bagaimana kita bisa menikmati bimbingan sang shalat sebagai guru sejati itu.
 
Dalam sebuah buku “Menguak Tirai Gaib” (Mizan: 1998) karya Dr. Jalaluddin Rakhmat dibahas tentang seorang yang ingin menikmati shalat. Kenikmatan yang dimaksud adalah bisa menangis saat shalat. Yang menjadi kasus cerita itu adalah kawan kang Jalal seorang purnawirawan. Ia mengaku sukar sekali menangis kalau shalat. Padahal ia sendiri jika melihat tontonan seorang anak yang disakiti, kerap timbul rasa kasihan dan bisa menangis. Namun tidak bisa saat melakukan shalat. Padahal ia sendiri ingin sekali bisa menangis dengan keras saat shalat.

Kemudian kang Jalal mengatakan pada si Bapak : “Lebih baik menangis ketika melihat penderitaan orang ketimbang menangis pada waktu shalat. Menangis pertama lebih bermanfaat ketimbang menangis yang kedua. Menangis di waktu shalat hanya menguntungkan diri Anda saja. Boleh jadi, tidak ada bekasnya sesudah itu.”

“Betul, saya pernah menyaksikan seorang dalam rombongan jamaah haji. Ketika dia shalat di Masjidil Haram, dia menangis keras. Tetapi begitu keluar dari Masjidil Haram, dia tertawa terbahak-bahak. Tidak tampak tangisan itu sesudahnya.” Tukas sang purnawirawan.

Menurut Kang Jalal, kenikmatan dalam shalat bukanlah ditandai atau diukur dengan menangis. Namun tidak salah jika menangis dalam shalat. Sebab memang dianjurkan oleh Rasulullah saw : “kalau kamu tidak bisa menangis, maka usahakan supaya kamu bisa menangis.”

Siti Aisyah bercerita. Ketika malam tiba, beliau minta izin: “Wahai Aisyah, izinkanlah aku beribadah pada Tuhanku.” Aisyah berkata: “Ya Rasulullah, aku senang jika engkau dekat denganku, namun aku juga lebih senang seandainya lebih dekat dengan Tuhanmu.” Maka segera saja tatkala Rasulullah saw takbiratul ikhram lalu membaca surat, beliau terisak-isak dalam tangisnya. Begitupula tatkala sujud. Sehingga ketika hendak masuk waktu subuh, Bilal memberitahukan bahwa sesaat lagi akan masuk waktu Subuh. Ia menyaksikan Rasulullah saw masih terisak dalam tangisnya. Bilal heran dan bertanya: “Ya Rasulllah, mengapa engkau menangis. Bukankah Allah telah mengampuni segala dosa-dosamu?” Waktu itu Rasulullah saw menjawab: “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?”.

Cara Nabi melakukan shalat dengan menangis lalu diikuti oleh para awliya, para sholihin. Sehingga generasi kemudian menduga bahwa shalat itu harus menangis. Sehinggalah kemudian banyak yang menciptakan susasana agar bisa menangis saat berdoa. Atau diistilahkan dengan spiritual engineering. Padahal menangis yang tulus dan tanpa rekayasa bisa tercipta dalam kondisi sendirian. Sehingga bisa saja menangis dalam kondisi berjama’ah namun dikhawatirkan itu karena suasana kebersamaan yang mempengaruhinya.

Lalu bagaimana dengan kita yang tidak bisa menangis dalam shalat. Padahal sudah jelas bahwa menangis merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah dan generasi berikutnya. Menurut Kang Jalal, menangis dalam shalat yang dicontohkan Rasulullah saw itu hanya terdapat pada shalat sendirian utamanya shalat malam. Tetapi belum ditemukan keterangan jika dalam shalat fardu. Sebab shalat fardu biasanya disunahkan dibaca pendek-pendek suratnya. Karena di belakang kita, masih banyak orang-orang yang memiliki keperluan mendesak atau dalam kondisi tidak enak badan.

Jika shalat belum memperoleh kenikmatan, maka besar kemungkinan shalat kita belum bisa diterima Allah swt. Sebab dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang mulia bersabda: “Pada hari kiamat nanti, ada orang yang membawa shalatnya kepada Allah swt. Kemudian dia memepersembahkan shalatnya kepadaNya. Lalu shalatnya dilipat-lipat seperti dilipatnya pakaian yang kumal kemudian dibantingkan ke wajahnya. Alalh tidak menerima shalatnya.” Bukan itu saja banyak pula orang yang shalat namun justeru celaka. “Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang melalaikan shalatnya.” (QS.107:4-5)

Pendeknya, dari uraian di atas, shalat sebagai guru sejati, hendaknya memberi dampak kenikmatan pada diri kita. Salah satu cirinya mampu membuat haru. Haru kata Iqbal, adalah tanda spiritual yang mendalam. Namun tanpa rekayasa atau dibuat-buat. Jika pun tidak bisa menangis dalam shalat, maka kenikmatan lain misalnya saat mengamalkan “shalat aktual” yaitu dengan menyantuni fakir miskin dan anak terlantar. Jika rasa religiusitas tersentuh di sana, maka Maha benarlah firman Allah swt. Dalam banyak ayat tentang perintah shalat selalu menyambung kepada keluarkan zakat. “waaqiimushalah, waatuzzakaah”. Semoga dengan shalat faktual disertai shalat aktual kita benar-benar mendapatkan pencerahan dan juga kenikmatan nasehat dari guru sejati, sang Shalat. Wallahu a’lam.
Post a Comment