Sunday, July 8, 2012

"Al-Bahru Al-maurud" Kitab Tasawuf yang Langka

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

"Al-Bahru Al-maurud" Kitab Tasawuf yang Langka

 Oleh: KH. Tb. Ahmad Rifqi Chowas Nuruddin.

Kitab Karya Al-imam Abil Mawahib Assya'rony (wafat th 973 H) ini tebalnya sekitar 306 halaman dan telah ditahqiq oleh Moh Adib Al jadir, diterbitkan oleh percetakan Dar el Kotob al ilmiyah, Beirut Libanon. .

Kitab tashowuf ini terbilang agak asing di telinga. Disamping tidak dikenal, kalau melihat isinya ternyata memang asing. Ada beberapa pengajaran yang cukup menarik dan belum banyak dikenal oleh masyarakat. Meski demikian, bila dibandingkan dengan kitab sekarang, kitab akhlaq ini, tidak terlalu jauh kalau disebut sebagai "kitab undang undang Tashawuf".

Tentang Penyusun sendiri, Imam Assya'rony adalah ulama kenamaan pada Zamannya. Beliau ulama Ahli fiqh, hadits dan tentunya Tashawuf. Beliau termasuk murid Al-imam Abu Zakariya Al-anshary, seorang guru besar ilmu fiqh, hadits, ushul fiqh yang dikenal sebagai mufti Madzhab Syafi'ie. Imam Assya'roni berkomentar tentang gurunya bahwa beliau adalah waliyullah yang menutupi dirinya dengan ilmu fiqh. "Aku berkhidmat kepadanya selama 30 th, aku memasakkan makanannya namun aku bawa bekal sendiri dan tidak makan dari hartanya", demikian menurut Assya'rony sang murid.

Sehingga kita tahu, imam Sya'roni menonjol di berbagai bidang ilmu. Di bidang fiqh beliau menyusun kitab "al Mizan al Kubro", sebuah literatur fiqh empat madzhab yang cukup lengkap melebihi "Bidayatul Mujtahid" karya Ibn Rusyd. Dalam bidang hadits, beliau juga menyusun kitab monumental dengan judul "Kasyful Ghummah an jamie'il ummah" sebuah kitab hadits yang meliput ushul masail fiqhiyah untuk memudahkan istinbath (metodologi pengambilan hukum) untuk para fuqoha'.

Seperti biasanya, imam Sya'rony bila ditelaah dari ratusan karya tulisnya ia menggunakan bahasa yang jelas, gamblang, renyah dan padat juga disertai dengan dalil-dalil yang kuat.


UU Shufi

Yang menjadi titik tekan dalam kitab ini, terdapat 251 point undang-undang shufi. Dalam setiap point, beliau menjelaskan sejelas-jelasnya dengan disertai dalil-dalil dari Alquran maupun hadits. Tidak ketinggalan pula "laku lampah" para Shahabat, tabi'ien, tabi'ittabi'ien dan para a'immah yang nota bene mereka adalah "Salaf al Ummah" yang sebenarnya.

Kitab ini masuk dalam kategori mukhtashor atau resume dari kitab satunya (al uhud al kubro).


Dalam bidang ilmu agama, penulis dapat dikategorikan sebagai juru bicara para shufi kepada para Fuqoha' dan Muhadditsin yang belum menyelami dunia tashawuf secara totalitas. Mungkin semacam imam Abu Hamid Alghazaly yang menjadi corong bagi Ahlussunnah waljama'ah plus para shufi dari manuver-manuver ahli filsafat.


Baiklah, untuk memperjelas gambaran isi dari kitab ini, bagi yang penasaran dengan karya agung imam Sya'roni ini, kita lihat dan cermati beberapa point dari kandungan kitab ini:


Point ke 37:

Telah ditetapkan perjanjian atas kita, untuk ikhlash dalam bertauhid kepada Allah swt, baik dalam perbuatan maupun ucapan[juga kepemilikan dan segala yang wujud. Seluruh martabat dengan Syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh ahli-ahli tauhid. Kita tidak boleh menambahi campur tangan makhluq baik manfa'at maupun madhorot, solusi maupun keterkaitan. Janganlah kita berkata, "saya, dengan kami, bagi kami, milik kami" kecuali berdasarkan pengertian majaz (metaforis), karena yang semacam itu termasuk syirik yang khofy. Allah swt berfirman: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan apapun (Annisa :36). Dalam ayat ini Allah mengingkari Assya'i (sesuatu) dan tidak men ta'yin/menyatakan, apakah sesuatu itu?, fahamilah.

Ada sebuah kisah seorang faqir (shufi) yang dengan memohon ampunan kepada Tuhannya, dia berkata: "Wahai Tuhanku ampunilah aku karena Engkau berjanji untuk mengampuni orang yang tidak mempersekutukan Mu dengan apapun, dan Engkau tahu bahwa aku tidak mempesekutukan Mu dengan apapun", namun tiba-tiba terdengarlah suara hatif/suara tanpa rupa mengatakan: meskipun di hari air susu..?... dia terperajat dan teringat bahwa pada suatu hari, dia dijamu dengan air susu untuk di minum, namun dia tidak jadi meminumnya karena takut berbahaya, maka Allah swt merekam kejadian tsb, dikarenakan dia menisbatkan "bahaya" kepada air susu tadi. Maka perhatikanlah...!


Point ke 48:

Telah ditetapkan perjanjian atas kita, bahwa kita harus memperbanyak istighfar [dan menyesali kebaikan yang tertinggal, baik kita merasa berbuat ma'shiyat maupun tidak. Ketahuilah bahwa penyesalan atas tidak melakukan ma'shiyat itu bisa menggugurkan amal baik, sebagaimana menyesali atas ketertinggalan Tho'at itu bisa membathalkan ke ikhlashan.

Alhashil dari kitab ini, kita bisa menimba ilmu-ilmu para salik, shufy, mukhlish , di mana ilmu yang didapat tersebut bukan hanya berasal dari teks-teks al qur'an dan hadits semata, meskipun kedua hal tadi adalah mainstreamnya Tashawuf sebagaimana yang dikatakan oleh sayid Atthoi'fah imam Junaid Al Baghdady ra. Namun banyak ilmu-ilmu Al asror Al Robbaniyah yang bisa kita dapatkan dari suluk atau pengalaman ruhaniyah para Wali Allah swt, sebagaimana difirmankan dalam AlQur'an... "wattaquuLLaaha wa yu'allimkumuLLaah" (bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah niscaya Allah swt akan mengajarkan kamu sekalian)


...Alluhumma uhsyurnaa fi Zumrotihim amien, ya Allah giringlah kami bersama mereka hamba-hambamu yang shalih dan tha'at kepada Mu, amien.


KH. Tubagus Ahmad Rifqi Khan

Pengasuh Pondok Darussalam, Buntet Pesantren Cirebon
Sumber: Facebook-uhu

Post a Comment