Saturday, July 21, 2012

SERI TAUHID MUFADDHAL [3]

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

SERI TAUHID MUFADDHAL [3]


   
  Mufaddhal berkata: Pada hari kedua, dipagi hari aku bergegas datang kehadapan tuanku (Imam Ja’far Shadiq As). Beliaupun mengizinkan aku masuk [ke dalam rumah] kemudian dengan perintah beliau akupun duduk dihadapan beliau, setelah itu beliau bersabda:
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan satu masa setelah berlalu setiap masa dan satu abad setelah berlalu setiap abad dan satu alam setelah berlalu setiap alam. Atas dasar keadilan, Dia dapat membalas orang–orang yang berbuat buruk dengan siksaan dan mengganjar orang-orang yang berbuat baik dengan pahala. Maha suci Asmâ [nama-nama] -Nya, maha agung nikmat-nikmat-Nya. Dia tidak akan menzalimi siapapun akan tetapi mereka sendirilah yang menzalimi diri mereka. Sebagai bukti dari ini adalah firman-Nya yang suci:
 “Barang siapa yang berbuat kebaikan (meskipun) seberat atom, maka ia akan melihatnya. Dan barang siapa yang berbuat keburukan (meskipun) seberat atom, maka ia akan melihatnya” (Az-zilzal ayat:7)
Kenyataan ini banyak disebutkan dalam kitab-Nya -yang merupakan penjelas segala sesuatu yang tidak tersentuh oleh kebatilan baik dari depan dan belakang dan yang diturunkan oleh Tuhan yang Mahabijaksana dan terpuji- oleh karena itu Nabi Muhammad Saw bersabda “pahala dan siksa adalah amalan kalian itu sendiri yang dikembalikan kepada kalian”
Kemudian Imam As menundukkan kepala beliau beberapa saat sebelum kemudian kembali mengangkatnya dan bersabda:
Wahai Mufaddhal kebanyakan manusia terjebak dalam kesesatan, mereka mabuk dalam kezalimam, mengikuti para setan dan para penzalim. [Tampaknya] mereka memiliki mata namun [pada kenyataannya] mereka buta dan tidak dapat melihat, [tampaknya] mereka dapat bicara namun [pada kenyataannya] mereka bisu dan tidak berfikir, [tampaknya] mereka mendengar namun [pada hakikatnya] mereka tuli dan tidak mendengar. Mereka rela dengan sesuatu yang sedikit dan rendah dan menyangka bahwa diri mereka berada pada jalan yang lurus. Mereka mengikuti jalan orang-orang yang cerdik dan sibuk menggembala di tempat gembalaan orang-orang yang kotor dan perusak, seakan-akan kelompok ini akan terbebas dari kematian yang akan datang tiba-tiba dan terselamatkan dari pembalasan dan siksaan. Celaka bagi mereka! Alangkah sengsaranya mereka! Betapa sulit dan panjang kepedihan dan siksaan mereka.Hari tatkala suatu kawan tidak berguna sedikitpun bagi kawan yang lain, dan tidak pula mereka akan ditolong(ad-Dukhan: 41)
Mufaddhal berkata: Medengar kata-kata Imam ini akupun menangis, kemudia beliau bersabda: Jangan kau menangis! Engkau akan terbebas [dari api neraka] jika engkau telah menerima, dan engkau akan selamat jika engkau telah mengenal.
Kemudian beliau kembali bersabda: Aku akan memulai [pembahasan ini] dari hewan dan seperti halnya yang lain, aku pun akan menjelaskan mengenainya.
Perhatikanlah struktur dan bentuk badan daripada hewan! [Ia telah diciptakan] tidak keras seperti batu, karena jika demikian ia tidak dapat bergerak dan menekuknya ketika bekerja. Tubuh hewan juga tidak diciptakan terlalu lembut dan lunak, sehingga ia tidak dapat tegak berdiri dengan sendirinya. Akan tetapi ia telah diciptakan dengan daging yang kenyal yang di dalamnya terdapat tulang yang keras yang menyanggahnya dan juga urat saraf serta pembuluh darah yang satu dengan lainnya saling mengikat, kemudian diseluruh permukaannya diselimuti oleh kulit yang kuat yang akan menjadi pelindungnya.
Fenomena ini mirip dengan patung-patung yang dibuat dari kayu, dimana kayu itu diselimuti dengan kain dan kain dijahit dengan benang kemudian seluruh permukaannya dilumuri oleh lem.
Kayu-kayu yang keras bagaikan tulang-tulang, kain-kain yang lunak bagaikan daging, benang-benangnya bagaikan urat dan pembuluh serta lemnya bagaikan kulit. Seandainya hewan yang hidup dan dapat bergerak ini dapat terwujud serta muncul dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya, maka [sudah barang tentu] patung yang merupakan benda mati juga dapat muncul dengan sendirinya. Jika hal ini [ada secara kebetulan dan tanpa pencipta] mustahil terjadi pada sebuah patung yang merupakan benda mati, maka lebih mustahil lagi jika ini terjadi pada seekor hewan yang merupakan makhluk hidup.
 
Struktur dan Bentuk Tubuh Hewan
Sekarang perhatikanlah badan hewan berkaki empat yang terdiri dari daging, tulang, urat dan pembuluh sebagaimana tubuh manusia! Mereka juga telah dibekali dengan telinga dan mata supaya dengannya mereka dapat membantu memenuhi kebutuhan manusia. jika mereka tuli dan buta maka manusia tidak dapat memanfaatkannya [secara maksimal] dan tidak dapat menggunakannya untuk memenuhi segala kebutuhannya. Selain itu, mereka pun tidak dibekali dengan akal dan pikiran supaya mereka tunduk dihadapan manusia, sehingga jika manusia ingin menggunakan mereka untuk melakukan pekerjaan yang sulit atau membawa barang yang berat, merekapun tidak akan menolaknya.
jika seseorang berkata: terkadang para budak sahaya pun amat tunduk dan patuh kepada tuannya serta selalu mematuhi perintahnya, mereka rela mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sulit, padahal mereka memiliki akal dan dapat berfikir. Untuk menjawab ini kita katakan: kelompok orang-orang seperti ini sangatlah sedikit, kebanyakan orang tidak bersedia dipekerjakan seperti hewan, membawa barang berat, menggiling [membajak] dan lain sebagainya.
Selain itu, jika manusia melakukan seluruh pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan hewan, maka ia tidak akan dapat mengerjakan pekerjaan lainnya. Karena untuk menggantikan satu ekor unta atau satu ekor keledai saja akan memerlukan beberapa orang pekerja [sehinga mereka dapat menggantikannya dan mengerjakan pekerjannya] dan hal demikian, jelas akan menyulitkan dan melelahkan manusia dan juga akan menyakiti tubuhnya, sehingga semua ini akan menghalanginya untuk melakukan berbagai industri lainnya.
 
Penciptaan Tiga Jenis Hewan
Wahai Mufaddhal! renungkanlah bagaimana bijaknya penciptaan tiga jenis macam hewan ini [manusia, hewan berkaki empat dan hewan jenis burung]. Masing-masing dari mereka telah diciptakan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan maslahat diri mereka. Manusia memilik akal dan mampu berpikir sehingga dapat mengerjakan pekerjaan seperti membangun [rumah dan gedung], berdagang, menambang emas, menjahit dan mengerjakan pekerjaan lainnya, oleh karena itu untuknya telah diciptakan tangan-tangan yang lebar dan jari-jari yang kuat dan serasi, sehingga ia bisa mengambil [dan menggenggam] segala sesuatu guna mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut.
 
Hikmah dan Filsafat yang Terkandung dalam Penciptaan Hewan-hewan Pemakan Daging (karnivora)
Sebagaimana yang telah ditakdirkan bahwa makanan hewan-hewan pemakan daging adalah dihasilkan dengan memburu hewan-hewan lain, dengan demikian tangan-tangan [dan kaki-kaki] hewan-hewan ini diciptakan dengan memiliki cakar-cakar dan kuku-kuku yang keras, tajam dan kuat, sehingga layak digunakan untuk berburu. Kaki, tangan dan kuku serta cakar seperti ini tidak akan sesuai [jika dipergunakan] untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan manusia.
Hewan-hewan pemakan tumbuhan, berdasarkan hikmah dan maslahat yang ada, yang mana mereka tidak dapat bekerja dibidang produksi dan industri [seperti halnya manusia] dan juga mereka tidak memburu binatang lain, oleh karena itu [mereka tidak dibekali dengan cakar-cakar yang tajam melainkan] sebagian mereka telah dibekali dengan kuku [yang terbelah dua seperti kuku kuda,kambing dll] dikakinya supaya tanah tempat gembalaan yang keras dan bergelombang tidak akan menyulitkannya saat ia mencari rerumputan untuk makannya. Sebagian hewan-hewan telah dibekali dengan kuku yang memiliki alas, yang dengannya mereka dapat berpijak di atas tanah dengan kokoh hingga sangat layak untuk menjadi [alat] tunggangan dan pembawa barang.
Dan juga renungkanlah bagaimana hewan-hewan pemakan daging telah diciptakan dengan memiliki gigi-gigi yang tajam, cakar-cakar serta kuku-kuku yang kuat dan tajam dan juga mulut-mulut yang besar dan lebar!
Sebagaimana yang telah ditakdirkan bahwa makanan hewan ini adalah daging, oleh karena itu ia telah diciptakan sedemikain rupa sehingga sesuai dengan tujuan dan kadar penciptaannya. Walhasil, hewan-hewan ini, dengan memiliki senjata dan perlengkapan yang layak untuk berburu, akan memudahkan mereka [dalam menjalani kehidupannya]. Demikian pula halnya dengan burung-burung pemburu (buas), mereka memiliki paruh dan kuku-kuku yang layak dipergunakan untuk berburu.
Jika hewan-hewan yang liar [pemakan tumbuhan] diberikan cakar berarti mereka telah dibekali dengan sesuatu yang tidak dibutuhkannya, karena memang mereka tidak berburu dan juga tidak memakan daging. Demikian pula jika hewan buas pemakan daging dibekali dengan kuku seperti kuku kuda, maka inipun tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkannya saat berburu guna memenuhi kehidupannya.
Tidakkah engkau melihat bagiamana masing-masing jenis dari kedua hewan ini, telah dibekali dengan segala sesuatu yang sesuai dengan jenisnya masing-masing, guna menjaga kelangsungan hidup dan kemaslahatan mereka!
 
Rahasia Kemandirian Anak Hewan Berkaki Empat
Sekarang perhatikanlah hewan-hewan yang berkaki empat! bagaimana [setelah dilahirkan] dengan sendirinya mereka dapat berdiri di atas kakinya serta dapat berjalan mengikuti induknya, dan tidak seperti bayi manusia yang membutuhkan buaian pendidikan dan perawatan [seorang ibu]. Karena memang induk-induk hewan ini tidak seperti seorang ibu yang memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk membuai dan merawat [anaknya]. Selain itu, mereka juga tidak memiliki tangan-tangan dan jari-jari yang layak untuk melakukan pekerjaan semacam ini. Maka dari itulah anak-anak mereka diberikan kemampuan [yang mana setelah dilahirkan tanpa pendidikan dan perawatan ibunya] dengan sendirinya ia dapat beridiri di atas kakinya.
Demikian pula betapa banyak hewan-hewan jenis burung yang engkau lihat, seperi ayam, burung puyuh, burung quail (sejenis burung puyuh) dan burung moku setelah menetas dan keluar dari telurnya [ia dapat berdiri dan berjalan] untuk mencari makanannya, adapun itik-itik yang lemah seperti: itik merpati, merpati liar dan jenis merpati yang berwarna merah, mereka tidak memiliki kemampuan untuk berdiri [setelah telurnya menetas].
Sebagai gantinya, induk-induk [jenis burung-burung ini] diberikan rasa belas kasih dan rasa sayang [terhadap anaknya] sehingga ia terinspirasi untuk mengumpulkan biji-biji makanan di mulutnya untuk kemudian diberikan dan disuapkan kepada itik-itiknya, sampai itiknya menjadi kuat dan mandiri [untuk mencari makanannya]. Dari sini engkau dapat melihat bahwa burung merpati tidak diberikan itik yang banyak seperti ayam, sehingga sang induk dapat membesarkan itik-itiknya hingga tidak punah. Alhasil kedua jenis burung ini telah diciptakan dengan adil dan bijak oleh Tuhan yang maha bijaksana dan penyayang.
 
Kaki-kaki Hewan dan Bagaimana Ia Melangkah
Perhatikanlah kaki-kaki hewan bagaimana telah diciptakan secara berpasangan sehingga layak untuk digunakan sebagai alat berjalan. Sangatlah tidak seimbang jika mereka hanya memiliki satu kaki, karena hewan yang sedang berjalan, ketika ia mengangkat kakinya untuk melangkah ia akan berpijak pada kaki yang satunya. Hewan yang memiliki dua kaki [seperti manusia] saat ia berjalan, ia mengangkat salah satu kakinya dan berpijak pada satu kaki lainnya. Hewan-hewan yang memiliki empat kaki, ia mengangkat dua kakinya dan berpijak pada dua kaki lainnya, tetapi ia mengakat dan memijakkan kakinya dengan cara menyilang [yaitu jika disaat ia melangkah, ia mengangkat bagian kiri kaki depannya, maka ia akan mengangkat pula bagian kanan kaki belakangnya] dan bukan dengan cara mengangkat kedua kaki depannya dan berpijak dengan kedua kaki belakangnya, karena dengan demikian ia tidak akan dapat berdiri di atas tanah dengan kokoh, sebagaimana kursi atau ranjang tidak dapat berdiri tegak jika dua dari kakinya telah patah. Oleh karena itu [ketika hewan berkaki empat melangkah] ia akan mengangkat bagian kanan kaki depannya dan bagian kiri kaki belakangnya, dan setelah memijakkannya, ia akan mengangkat kadua kaki lainya secara menyilang, hingga ia dapat berdiri di atas tanah dengan kokoh dan tidak terjatuh saat berjalan.
 
Rahasia Patuhnya Sebagian Hewan Di hadapan Manusia
Apakah engkau tidak memperhatikan seekor keledai, meskipun ia melihat kuda dalam keadaan nyaman dan tidak dipekerjakan untuk melakukan pekerjaan yang berat, namun ia tetap tunduk kepada manusia ketika dipekerjakan untuk menggiling atau membawa barang-barang? Dan apakah engkau tidak melihat seekor unta yang memiliki sedemikian kekuatan yang mana beberapa orangpun tidak dapat menandingi kekuatannya, akan tetapi bagaimana ia bisa tunduk dihadapan seorang anak kecil hingga ia dapat mengendalikannya? Demikian pula dengan sapi jantan yang kuat, bagimana ia dapat patuh dan tunduk dihadapan pemiliknya sehingga pemilik sapi itu dapat meletakkan sepotong kayu di atas lehernya guna dipekerjakan untuk membajak tanah? Dan juga seekor kuda perang bagaimana ia sudi mempertaruhkan dirinya dalam sabetan-sabetan pedang dan tancapan panah semata untuk menjalankan kehendak tuannya? Dan bagaimana kambing-kambing gembalaan dapat digembala [dan dijaga hanya] dengan satu orang? Jika kambing-kambing gembalaan bertebaran dan masing-masing berjalan ke arah yang berbeda, bagaimana mungkin satu orang dapat menjaga dan menggembalanya? Dan demikian pula halnya dengan seluruh hewan-hewan yang jinak. Bukankah ketundukan dan ketaatan [hewan-hewan ini dahadapan manusia] dikarenakan mereka tidak memiliki akal, pikiran dan perasaan? jika mereka memiliki akal dan dapat berpikir, maka mereka tidak akan tunduk dihadapan manusia dan mereka tidak akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Unta tidak akan patuh kepada penunggangnya dan sapi juga tidak akan mengikuti dan mentaati pemiliknya. Kambing-kambingpun tidak akan menuruti perintah dan keinginan penggembala sehingga masing-masing mereka akan berjalan ke segala arah yang berbeda. Dan hewan-hewan yang lainpun juga akan demikian [tidak akan tunduk dan patuh dihadapan manusia].
 
Rahasia Tidak Dibekalinya Hewan Buas Dengan Akal dan Pikiran
Sama halnya jika hewan-hewan buas memiliki akal dan dapat berpikir, maka mereka akan bersatu untuk menghadapi manusia dan membunuhnya dan dalam waktu yang singkat, mereka akan menjadikan manusia lemah dan tak berdaya. jika seluruh singa, macan dan serigala bersatu untuk menghadapi manusia dan memeranginya, lantas siapakah yang dapat menolong manusia untuk menghadapi mereka?
Tidakkah engkau melihat bahwa mereka tidak dibekali dengan nikmat ini [akal dan pikiran], sehingga bukan manusia yang khawatir dan takut akan kekuatan mereka akan tetapi merekalah yang takut terhadap manusia dan menyerah dihadapannya, sehingga untuk mencari makanan saja, biasanya mereka keluar pada malam hari dan itupun tidak keluar jauh dari lingkungan mereka. Mereka dengan segala kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya, akan tetapi tetap sangat takut terhadap manusia, yang mana jika tidak demikian [mereka memiliki akal dan dapat berpikir], maka untuk menyelamatkan diri dari mereka, manusia akan selalu menetap dirumahnya dan [sudah barang tentu] hal ini akan sangat menyulitkannya.
 
Anjing Merupakan Hewan yang Setia dan Pembela Manusia
Anjing adalah salah satu dari hewan buas yang mana ia telah diciptakan dengan dibekali rasa belas kasih dan kesetiaan kepada tuannya sehingga ia selalu menjaga dan melindungi tuannya. Dikegelapan malam ia akan memanjat pagar dan naik ke atap rumah tuannya untuk menjaganya dari pencuri [dan para pengganggu].
Rasa belas kasih dan bersahabat serta kesetiaan seekor anjing kepada tuannya, terkadang hingga mencapai batas dimana ia rela mempertaruhkan dirinya dalam bahaya dan [bahkan] mengorbankan nyawanya semata demi menjaga jiwa, harta dan hewan peliharaan tuannya. Seekor anjing sedemikian sayang dan setia kepada tuannya sehingga [ia tetap akan menjaga tuannya] meskipun dengan menahan rasa lapar dan haus. Mengapa seekor anjing diciptakan dengan dibekali rasa belas kasih dan kesetiaan? Tidak lain dikarenakan agar ia dapat menjaga dan melindungi tuannya. Oleh karena itu ia memiliki taring-taring yang tajam serta kuku-kuku yang lancip dan suara lolongan yang menakutkan agar pencuri merasa takut dan menjauhi tempat-tempat yang dijaganya.
 
Rahasia Bentuk Muka, Mulut dan Buntut Hewan Berkaki Empat
Wahai mufaddhal lihatlah bagaimana pengaturan wajah binatang berkaki empat! Kedua mata mereka diletakkan tepat berada di depan, sehingga ia dapat melihat dengan baik segala sesuatu yang ada di depannya dan ia tidak akan selalu menabrak dinding-dinding atau terperosok ke dalam lubang. Belahan mulutnya tepat berada di bagian bawah mukanya, yang mana jika ia memiliki belahan mulut seperti layaknya mulut manusia yang berada di atas dagu, maka ia tidak dapat memakan sesuatu yang ada di atas tanah. Tidakkah engkau melihat manusia tidak makan sesuatu [lagsung] dengan mulutnya akan tetapi ia akan mengambilnya dengan menggunakan tangan sebelum meletakkannya di mulut? Hal ini adalah sebagai penghormatan bagi manusia dan untuk memuliakannya dari seluruh hewan yang ada. Dikarenakan hewan berkaki empat tidak memiliki tangan yang layak untuk digunakan saat memakan tumbuhan dan dedaunan, maka belahan mulutnya diciptakan tepat di bawah [wajahnya] sehingga ia dapat mengambil dan memakan makanannya dengan mudah. Selain itu mereka juga dibekali dengan bibir yang pajang sehingga dapat memakan tumbuhan yang dekat dan yang jauh darinya.
Hikmah serta manfaat yang ada pada buntut (ekor) hewan:
1.    Buntut merupakan penutup dan pelindung dubur serta kemaluan hewan;
2.    Di sekitar dubur dan perut hewan terdapat kotoran hingga banyak lalat dan nyamuk berkumpul [dan hinggap] di atasnya, buntut hewan adalah sebagai alat pengusir lalat dan nyamuk yang dengannya, seekor hewan dapat mengusir lalat serta nyamuk [yang hingggap di tubuhnya].
3.    Dengan menggerakkan buntutnya ke arah kiri dan kanan, seekor hewan akan merasa nyaman. Sesungguhnya disaat ia berdiri dengan empat kakinya dan berat badannya diemban oleh kedua kaki depannya, disaat ini ia akan merasa nyaman jika menggerak-gerakkan buntutnya.
Selain itu [buntut hewan] juga memiliki banyak manfaat lainnya, dimana manusia tidak mampu untuk menyingkap seluruhnya, dan terkadang manusia dapat mengetahui manfaat sebagian darinya saat ia membutuhkannya. Sebagian dari manfaat tersebut adalah: tekadang seekor hewan terjebak [dan terjatuh] di dalam kubangan lumpur dan ia tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dijadikan sandaran yang dapat membebaskannya, [disaat ini] buntutnyalah alat berpegang yang baik untuk membangkitkan dan mengeluarkannya [dari lumpur tersebut]. Rambut-rambut buntut hewan juga memiliki banyak manfaat bagi manusia, yang mana dengannya manusia dapat memenuhi banyak kebutuhannya.
Hewan yang berkaki empat memiliki bokong yang lunak sehingga mudah dan sesuai untuk ditunggangi. Dan juga letak kemaluan [jenis betina hewan ini] berada di bagian belakang sehingga hewan jantan dengan mudah dapat mengawininya, jika ia memiliki kemaluan seperti kemaluan seorang wanita, maka hewan jantan tidak akan mampu untuk mengawininya. Apakah engkau tidak melihat bahwa hewan tidak dapat mengawini betinanya secara behadap-hadapan seperti layaknya seorang lelaki?
 
Rahasia Penciptaan Gajah dan Belalainya
Renungkanlah rahasia dan hikmah yang terkandung didalam belalai gajah! Belalai gajah menggantikan posisi tangan yang bakerja guna mengambil tumbuhan dan air untuk dimakannya. jika [tidak diciptakan demikian dan] ia tidak memiliki belalai, maka ia tidak akan mampu mengambil sesuatu dari atas tanah untuk dimakannya, karena gajah tidak seperti binatang berkaki empat lainnya yang memiliki leher yang panjang sehingga ia dapat menjulurkannya ke arah makanannya. Namun sebagai gantinya, ia telah dibekali dengan belalai yang panjang yang dapat menggantikan posisi leher dan mengerjakan pekerjaannya, sehingga seekor gajah juga dapat memenuhi segala kebutuhannya. Selain pencipta yang maha penyayang dan belas kasih kepada makhluk-Nya, siapakah yang telah menggantikan anggota badan yang tidak dimiliki seekor gajah dengan anggota badan yang lain, sehingga anggota itu dapat menggantikan dan mengerjakan pekerjaan anggota badan yang tidak dimilikinya? Kenyataan yang mana yang dapat sesuai dengan pemikiran dan ideologi orang-orang kafir yang mengatakan: bahwasannya segala sesuatu ada tanpa tujuan dan muncul dengan sendirinya?
jika seseorang berkata mengapa hewan ini tidak dibekali leher yang panjang sebagaimana hewan yang lainnya? Jawabannya adalah: kepala dan telinga gajah sangatlah besar dan berat, seandainya ia tidak diberikan dan dibekali dengan leher yang besar dan sesuai dengan kapasitasnya, maka dalam waktu yang singkat [beban] kepala dan telinganya akan merusak lehernya. Oleh karena itu kepala gajah langsung menyambung dan menenpel ke badannya sehingga ia tidak mengalami kesulitan saat melakukan pekerjaannya. Dan sebagai ganti peran lehernya, ia telah dibekali dengan belalai, sehingga dengan itu ia dapat mengambil makanan untuk dimakannya dan kendatipun ia tidak memikili leher yang panjang, iapun tetap dapat memenuhi segala kebutuhannya dan menjalani aktivitasnya dengan mudah.
 
Alat Vital Gajah Betina
Sekarang perhatikanlah bagaimana penciptaan kemaluan gajah betina! Bagaimana ia telah diciptakan berada di bawah perutnya, tapi disaat syahwatnya naik, kemaluannya [dengan sendirinya] akan bergeser dan tampak di bagian atas, dengan demikian gajah jantan dapat mengawininya dengan mudah. Perhatikanlah bagaimana letak kemaluan gajah betina berbeda dengan hewan-hewan lainnya! Yang mana untuknya telah diciptakan alat reproduksi sedemikian rupa agar ia dapat mempertahankan spesiesnya sehingga tidak punah.
 
Keajaiban Penciptaan Jerapah
Perhatikanlah dalam penciptaan [anggota tubuh] jerapah! Perbedaan dan kemiripannya dengan bagian tubuh hewan lainnya! Kepalanya menyerupai kepala kuda, lehernya menyerupai leher unta, tapalnya menyerupai tapal sapi dan kulitnya menyerupai kulit macan.
Sebagian manusia yang bodoh dan tidak mengenal Allah Swt [dan rahasia-rahasia penciptaan-Nya] mengira bahwa hewan ini dihasilkan dari perkawinan beberapa jenis hewan. Mereka mengatakan: [bahwa hewan ini dihasilkan karena] bermacam jenis hewan darat ketika masuk dan berendam di dalam air, lalu masing-masing [hewan jantan] mengawini hewan betina yang berbeda jenisnya, sehingga hal ini menghasilkan seekor hewan pemakan tumbuhan yang memiliki struktur tubuh serupa dengan tubuh berbagai jenis hewan. [Pernyataan ini] muncul dari kebodohan pembicaranya atas Allah sang pencipta yang maha kuasa, [karena] masing- masing jenis dari hewan tidak akan mengawini jenis hewan lainnya. Kuda tidak akan mengawini unta dan unta tidak akan mengawini sapi dan seterusnya. Akan tetapi perkawinan dua hewan dapat terjadi [jika kedua hewan tersebut dari jenis yang sama atau] keduanya memiliki kemiripan dalam penciptaan [struktur tubuhnya] seperti: perkawinan antara kuda dan keledai yang dengannya akan melahirkan seekor bighal [jenis kuda kecil] atau perkawinan antara serigala dan hyena (anjing hutan) yang darinya akan melahirkan seekor hewan yang dikenal dengan sim’.
Dan tidaklah demikian, bahwa hewan yang dilahirkan dari perkawinan silang sebagian anggota badannya sama dengan angota badan kedua induk dan jantannya [yakni sebagian anggota badannya sama dengan angota tubuh induknya dan sebagiannya lagi sama seperti anggota badan jantannya], seperti halnya tubuh seekor jerapah yang sebagian darinya menyerupai bagian tubuh kuda dan sebagian lainya menyerupai tubuh unta dan sapi, akan tetapi [anggota badan hewan yang dihasilkan dari perkawainan silang] akan menjadi seperti hasil percampuran dan peleburan antara kedua tubuh induk dan jantannya. Sebagaimana yang engkau lihat pada [anggota tubuh] seekor bighal, yang mana bentuk kepala, telinga, paha [kaki] dan buntut serta tapalnya, pertengahan antara bentuk seekor kuda dan keledai, juga ringkikannya seperti gabungan antara ringkikan kuda dan keledai. Ini adalah sebagai bukti bahwasanya jerapah bukanlah hewan yang dihasilkan dari pekawinan bermacam jenis hewan sebagaimana yang disangka oleh orang-orang yang bodoh, akan tetapi ia merupakan makhluk yang menakjubkan yang diciptakan oleh Allah Swt sebagai bukti akan kuasa-Nya, yang mana tidak ada satupun yang dapat melemahkan-Nya [Dia mampu untuk menciptakan segala sesuatu]. Dan juga agar manusia mengetahui bahwa Dia-lah yang menciptakan segala macam hewan yang ada, maka Dia pun mampu mengumpulkan anggota-anggota badan berbagai jenis hewan dan menjadikannya seokor hewan yang berbeda. Kapan Dia menghendaki Dia dapat mengumpulkannya dan kapan saja Dia menghendaki Dia dapat memisah-misahkannya dan kapan saja Dia menghendaki Dia dapat menambahkan dan mengurangi penciptaannya, sebagai bukti akan kuasa-Nya atas segala sesuatu dan tidak satupun dapat melemahkan-Nya jika Dia menghendaki sesuatu.
Adapun leher jerapah diciptakan dengan bentuk yang panjang dikarenakan ia hidup dan dibesarkan di tengah hutan balantara yang dipenuhi dengan pepohonan yang tinggi, maka dari itu ia membutuhkan leher yang panjang agar mulutnya dapat menggapai ranting-ranting dan dedaunan pohon [yang tinggi itu], dan juga dapat mengambil buah dan segala sesuatu yang dihasilhan oleh pohon tersebut.
 
Penciptaan Kera dan Perbedaannya dengan Manusia
Perhatikanlah dalam penciptaan [struktur tubuh] seekor kera yang memiliki banyak kemiripan dengan anggota tubuh manusia, seperti: kepala, wajah, kedua bahu dan organ dalam tubuhnya! Ia juga dibekali dengan kecerdikan sehingga ia dapat memahami isyarat-isyarat serta perintah tuannya atau perawatnya, serta dapat meniru gerakan-gerakan manusia. [Salah satu hikmah] penciptaan kera yang memiliki banyak kemiripan dengan struktur manusia ini, supaya manusia dapat mengambil palajaran bagi dirinya bahwa iapun diciptakan dari jenis hewan. Seandainya manusia tidak memiliki keunggulan dan keistimewaan berupa akal, pikiran dan perasaan maka iapun akan menjadi layaknya seekor hewan.
meskipun sebagian dari tubuh kera memiliki pebedaan dengan tubuh manusia seperti moncong, buntut yang panjang dan rambut lebat yang menutupi seluruh tubuh kera, akan tetapi ini [jelas] tidak akan menghalangi seekor kera untuk memiliki kriteria seperti manusia, jika iapun dibekali akal pikiran dan perasaan seperti manusia. Pada hakikatnya inti pemisah yang membedakan kera dan manusia adalah akal dan pikiran yang tidak dibekali kepada seekor kera.
 
 
Manfaat yang Terkandung Pada Bulu Hewan dan Tapal Kaki-kakinya
Wahai Mufaddhal renungkanlah! Bagaimana Allah Swt berdasarkan kasih sayang dan belaskasih-Nya terhadap hewan-hewan, Dia telah membekali mereka rambut dan bulu yang menutupi seluruh tubuh sehingga dapat melindunginya dari cuaca yang sangat dingin dan dari segala yang dapat membahayakannya. Selain itu mereka juga telah dibekali tapal [dikakinya] hinggga dapat melindungi kaki mereka dari segala yang dapat melukainya. Semua ini dikarenakan hewan-hewan tidak memiliki tangan dan jari-jari yang layak untuk menjahit [baju, pakaian dsb] maka dari itu segala apa yang mereka butuhkan telah tersedia pada tubuh mereka sendiri, dan tanpa harus selalu menggantinya, mereka dapat memenuhi segala kebutuhannya sepanjang hidup mereka.
Adapun manusia memiliki alat-alat dan tangan-tangan yang sesuai untuk digunakan bekerja, ia dapat menjahit dan menenun sehingga dapat membuat pakaian yang layak untuk dirinya dan iapun akan selalu menggantinya disaat yang sesuai. Dari beberapa sisi hal ini sangat menguntungkan manusia sendiri.
1.    Dengan membuat dan memproduksi pakaian, manusia dapat mencegah dirinya untuk tidak menganggur serta berbuat kerusakan dan apa yang dikerjakannya tidak akan sia-sia;
2.    Sesuai dengan tabiat manusia yang mana ia akan merasakan kenyamanan ketika ia membuka dan menggantinya dengan yang baru;
3.    Dengan mengenakan pakainan yang bagus dan indah sesuai pilihannya dan juga dengan menggonta-ganti pakaiannya ia akan merasa puas dan nyaman;
4.    Dengan ini manusia dapat memproduksi berbagai macam kaus kaki, sandal dan sepatu yang dapat menjaga kaki-kakinya;
5.    Hal ini dapat membuka banyak lapangan kerja untuk manusia sendiri dan dengan banyaknya orang yang bekerja di pabrik serta tempat industri ini, ia dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya dan keluarganya.
kesimpulannya, rambut dan bulu-bulu hewan merupakan pakaian baginya dan tapal-tapal kakinya merupakan sepatu baginya.
 
Merasakan Dirinya Akan Mati, Hewan akan Menyembunyikan Dirinya
Wahai Mufaddhal perhatikanlah keistimewaan yang telah diberikan kepada hewan-hewan berkaki empat! Sesungguhnya mereka akan menyembunyikan dirinya ketika merasakan dirinya akan mati, seperti layaknya manusia yang mengubur dan menyembunyikan mayat-mayat mereka. Maka dari itu seluruh bangkai-bangkai binatang buas jarang sekali ditemukan, padahal jumlah hewan-hewan ini tidaklah sedikit sehingga sulit untuk ditemukan. Bahkan dapat dibenarkan jika ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka lebih banyak dibanding jumlah manusia.
Lihatlah di gunung-gunung dan di gurun-gurun berapa banyak jumlah rusa-rusa, banteng-banteng, kijang-kijang dan binatang buas lainnya seperti: singa-singa, macan-macan, serigala-serigala dan lain sebagainya! Lihatlah serangga-serangga dan binatang tanah lainya, dan juga berbagai hewan jenis burung seperti: burung gagak, burung merpati, angsa dan burung-burung buas pemakan daging! Bangkai dari hewan-hewan ini tidak kita temukan kecuali hanya sedikit dari mereka yang [itupun] merupakan hasil buruan pemburu atau binatang buas lainnya.
Hewan-hewan ini ketika merasakan dirinya akan mati, ia akan segera menyembunyikan dirinya di tempat yang sangat tersembunyi dan iapun akan mati di sana. Jika tidak demikian maka permukaan bumi [di gurun-gurun, gunung-gunung dan lautan] akan dipenuhi oleh bangkai-bangkai mereka, dan ini akan menyebabkan bau busuk dan menyebarnya berbagai penyakit seperti kolera yang dapat mewabah keseluruh penjuru daerah. Lihatlah bagimana semenjak pertama diciptakannya, manusia telah meniru adat ini [menguburkan mayat], dari kasus seekor gagak yang menguburkan gagak lainnya. Kecerdikan seperti ini telah diberikan kepada seekor hewan, agar [dengan menirunya] menusia dapat terlindung dari segala penyakit dan kerusakan.
 
Rahasia Kecerdikan Sebagian Hewan seperti Kijang, Musang dan Ikan Lumba-lumba
Wahai Mufaddal perhatikan kecerdikan yang dimiliki masing-masing hewan! Bagaimana Allah Swt berdasarkan kasih sayang dan rahmat-Nya telah membekali kecerdikan dan insting kepada hewan-hewan yang tidak memiliki akal dan pikiran, sehingga mereka tidak terhalang dari nikmat-Nya [akal yang telah diberikan kepada manusia].
Seekor kijang betina jika ia memakan ?? ular [setelah itu dengan sendirinya] ia akan merasa sangat kehausan, oleh kerena itu ia akan berdiri di kubangan air namun dikarenakan khawatir akan menjalarnya bisa keseluruh tubuhnya, sedikitpun ia tidak meneguk air tersebut dan ia hanya meringgkik sekeras-kerasnya. Seandainya [disaat itu] ia meminum air, maka dalam jangka waktu yang singkat bisa ular tersebut akan menjalar keseluruh tubuhnya dan akan membunuhnya.
Lihatlah bagaimana hewan ini telah dibekali kecerdikan yang telah menghalanginya untuk meminum air meskipun ia dalam keadaan sangat kehausan! Yang mana biasanya manusia yang memiliki akal dan pikiranpun tidak dapat menahan dirinya jika ia mengalami hal yang sama.
Seekor musang ketika ia merasa sangat lapar, ia kan membaringkan dirinya dengan cara terlentang dan meniup [membesarkan] perutnya, sehingga seekor burung akan mengiranya telah mati, dan ketika seekor burung hinggap di atas tubuhnya, sang musang dengan sigap akan menyergapnya dan lantas memakannya. Siapakah yang telah mengajari kecerdikan dan muslihat kepada seekor musang yang tidak dapat berpikir itu? Tidak lain Dia-lah yang telah membekali rezki dan kebutuhan hidupnya dengan jalan seperti ini!
Selain itu, seekor musang tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menandingi musuh-musuh yang akan memburunya, namun dengan kecerdikan yang telah dibekali kepadanya, sehingga dengan cara memperdaya musuh-musuhnya ia dapat mempertahankan hidupnya.
Ikan lumba-lumba ketika berada di dalam air, ia pun dapat memburu seekor burung. Kecerdikan yang dimilikinya dalam memburu adalah demikian: [untuk menangkap seekor burung] ikan lumba-lumba akan mengambil seekor ikan dan membunuhnya lantas membiarkannya terapung di atas air, kemudian ia menyembunyikan dirinya di dalam air seraya menggerak-gerakkan air sehingga dirinya tidak tampak dari luar, dan ketika seekor burung telah hinggap di atas bangkai ikan tersebut, dengan cepat ia akan menagkapnya.
 
Ular dan Awan
Mufaddal berkata: aku berkata: wahai tuanku jelaskan kepadaku tentang apa yang terjadi antara ular dan awan! Dan Imampun bersabda: Sesungguhnya awan bagaikan kiriman [dari sisi Allah Swt, ia bagaikan hewan pemburu yang dikirim sang pemburu untuk mengambil hasil buruannya] yang mana ia dapat menyedot ular seperti besi berani menyedot besi. Maka dari itu disaat musim hujan dan langit berawan, hewan ini tidak akan mengeluarkan kepalanya dari tanah [atau lubangnya]. Karena rasa takutnya kepada awan, hewan ini hanya akan keluar [dari lubangnya] ketika cuaca sangat panas dan langit tidak berawan.
Aku berkata: mengapa awan [diciptakan demikian hingga] dapat memburu ular dan akan menagkapnya jika menemukannnya? Imam bersabda: agar manusia dapat terselamatkan dari bahayanya.
 
Tabiat Semut, Rayap dan Laba-laba
Mufaddal berkata: saya berkata: tuanku anda telah menjelaskan kepadaku akan hewan-hewan berkaki empat juga segala apa yang dapat dijadikan ibrah darinya [sekarang] terangkanlah kepadaku tentang semut dan burung! Imampun bersabda: Wahai Mufaddal perhatikanlah wajah semut (jenis semut yang sangat kecil) yang sangat lemah dan kecil apakah engkau menemukan kekurangan padanya hingga segala kebutuhannya tidak dapat terpenuhi? Dari manakah kesempurnaan serta keserasian dalam penciptaan semut kecil ini? Tidak lain hanya dari Sang Pencipta yang telah meciptakan segala makhluk yang besar maupun yang kecil.
Perhatikanlah kehidupan semut, bagaimana ia mengangkat makanan dan mengumpulkannya dengan cara bergotong royong! lihatlah ketika sekelompok dari mereka memindahkan makanannya ke tempat yang tinggi untuk ditimbun, bukankah ini akan mengingatkan kita akan usaha sekelompok manusia yang memindahkan makanan ke rumah mereka? Bahkan dalam hal ini semut tampak lebih semangat dan sungguh-sungguh dibanding manusia. Apakah engkau tidak melihat bahwa ketika mereka mengangkat dan memindahkan biji-bijian serta makanan ke sarangnya satu sama lainnya saling membantu, seperti layaknya sekelompok manusia? Setelah itu mereka akan membelah biji-bijian itu menjadi dua sehingga tidak dapat tumbuh di dalam sarangnya yang akan menjadikan usaha dan kerjanya sia-sia. Dan jika biji-bijian tersebut basah tekena air, mereka langsung mngeluarkan biji-biji tersebut dan mengeringkannya. Juga selain di tempat-tempat yang tinggi, semut-semut tidak akan membuat sarangnya [untuk menghindari] agar air tidak masuk ke dalam sarang dan menenggelamkan mereka.
Semua ini bukan dihasilkan dari akal dan pikiran mereka, akan tetapi Allah Swt demi maslahat mereka telah membekalinya dengan insting dan kecerdikan.
Perhatikanlah seekor rayap yang umumnya disebut dengan (singa lalat) bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-harinya, yang mana kemampuan muslihat dan memperdaya telah diberikan kepadanya! Ketika ia merasa ada seekor lalat di dekatnya dalam beberapa saat ia akan berdiam dan tidak bergerak seperti mayat, hingga jika seekor lalat itu melihatnya dan mengiranya [telah mati] kemudian hinggap di atasnya, sang rayappun dengan sangat sigap dan cepat akan segera menyergapnya. Setelah itu ia akan selalu mencengkram dan menjaganya agar lalat tersebut tidak dapat lepas dan lari dari cengkramannya kemudian iapun akan memakannya saat ia merasa bahwa [buruannya] telah lemah dan tidak bernyawa. Dengan cara inilah seekor rayap dapat mempertahankan kehidupannya.
Adapun laba-laba, ia membangun sarangnya dan menjadikannya sebagai perangkap lalat-lalat [serangga-serangga] kemudian ia akan bersembunyi di tengah-tengah sarangnya dan jika seekor lalat telah terperangkap di sarangnya dengan perlahan-lahan ia akan menggulungnya hingga [lemah tak berdaya dan] layak untuk dimakannya. Dengan cara inilah ia dapat menghidupi dirinya.
Serangga itu [seekor rayap] menggambarkan cara berburunya seekor anjing dan singa. Dan hewan ini [laba-laba] menggambarkan cara berburunya seekor hewan yang berburu dengan menggunakan perangkap dan jaring.
Lihatlah hewan yang lemah dan kecil ini, bagaimana dalam tabiatnya telah dibekali dengan kecerdikan yang mana manusiapun tidak mampu melakukan pekerjaan tersebut kecuali dengan tipu muslihat atau menggunakan alat-alat! jika pada serangga yang kecil seperti semut, rayap dan lainya terdapat pelajaran dan ibrah yang dapat diambil darinya, ini dikarenakan kekecilan [kerendahan] dan ketakberdayaan yang dimilikinya. Karena sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi bisa saja dimiliki oleh suatu yang kecil dan tidak berharga, dan hal ini sama sekali tidak akan mengurangi kadar dan nilai sesuatu tersebut. Sebagaimana jika keping dinar emas ditimbang dengan sepotong besi [hal ini] sama sekali tidak akan menurunkan nilai emas tersebut.
 
Hikmah Serta Keserasian yang Terkandung dalam Penciptaan Burung
Wahai mufaddal perhatikanlah tubuh dan penciptaan seekor burung! Sesungguhnya ketika ditakdirkan bahwa sesekor burung dapat terbang di udara, Allah telah menciptakan badannya dengan beban yang sangat ringan, sebagai ganti dari empat kaki [telah diciptakan untuknya] dua kaki dan sebagai ganti dari lima jari-jari [telah dibekali untuknya] empat jari-jari dan sebagai ganti dari dua lubang kencing dan kotoran [telah diciptakan untuknya] satu lubang.
Sebagaimana bagian bawah perahu berbentuk lancip dan tajam agar dapat membelah air, demikian pula dengan dada dan bagian depan seekor burung menyerupai bagian bawah perahu sehigga dapat membelah udara dengan mudah dan ia dapat terbang kapan saja ia menginginkannya. Sayap dan buntutnyapun dibekali dengan bulu-bulu yang panjang agar ia dapat terbang dengan mudah. Seluruh badannya diselimuti dengan bulu sehingga udara tidak dapat menembus badannya dan ia dapat terbang di ketinggian udara dengan nyaman.
Sebagaimana yang telah ditakdirkan pula bahwa makanan burung dihasilkan dari biji-bijian dan daging dan juga ia harus memakannya dengan cara menelannya tanpa mengunyahnya terlebih dahulu, oleh karena itu ia tidak dibekali dengan gigi dan bibir seperti layaknya manusia, namun telah diberikan kepadanya paruh yang tajam dan keras, agar dengannya ia dapat mengambil dan memakan makanannya tanpa harus memecahkan biji-bijian dan mengunyah daging yang dapat merusak paruhnya. Dikarenakan seekor burung tidak memiliki gigi, dan makanan yang ditelannya adalah biji yang keras dan daging yang mentah, namun di dalam tubuhnya terdapat hawa panas yang dapat meleburkan dan mencerna biji-bijian meskipun tanpa dikunyah terlebih dahulu. Dikarenakan manusia tidak memiliki kemampuan ini [jika manusia memakan biji-biji ini tanpa dikunyah terlebih dahulu] maka biji tersebut akan tetap terjaga seperti keadaan semula, akan tetapi biji-bijian ini jika masuk ke tubuh seekor burung, maka ia akan hancur lebur dan tidak akan ada bekasnya.
Dan juga burung-burung telah ditakdirkan sebagai hewan yang bertelur dan tidak dapat mengandung, sehingga tidak akan memberatkannya saat ia terbang. Sesungguhnya jika ia dapat mengandung dan anaknya membesar diperutnya [seperti hewan menyusui lainnya], tentulah ini akan memberatkannya dan akan membuatnya tidak dapat berdiri dan tidak mampu untuk terbang.
Alhasil seekor burung telah dibekali dengan segala sesuatu yang sesuai dengan ciri khas dan kebutuhannya.
Sebagian burung-burung yang selalu terbang dan berpergian ini, akan mengerami telurnya selama satu minggu, sebagian lagi sampai dua minggu dan sebagian lainnya hingga tiga minggu sampai telurnya menetas dan itiknya ke luar dari telur. Ketika itiknya telah menetas, ia akan meniupkan angin keparuhnya agar tembolok [itiknya] dapat membesar dan iapun dapat memberi makan kepadanya, setelah itu ia akan memberikan makan dengan makanan yang layak untuknya sampai itiknya membesar.
Siapakah yang telah mengajarinya untuk mengambil makanan serta menyimpannya dalam tembolok, dan kemudian mengeluarkannya setelah [beberapa saat makanan tersebut] menetap di temboloknya untuk diberikan kepada itiknya? Dan mengapa ia rela menanggung segala kesulitan ini? Bukankan ia tidak memiliki akal dan pikiran? Dan bukankah tidak ada sesuatu yang dapat diharapkan dari itiknya sebagaimana manusia berharap dari putranya, seperti untuk: kebanggaan, kemuliaan, pertolongan dan penerus keturunannya?
Allah Swt berdasarkan kasih sayang dan rahmat-Nya telah menciptakan seekor burung sedemikin rupa sehingga meskipun ia tidak dapat memahami sesuatu, namun berdasarkan insting dan kecerdikan yang telah diberikan kepadanya, ia dapat menyayangi itik-itiknya dan memberinya makan sehingga spesiesnya akan tetap lestari.
Perhatikanlah seekor ayam betina, bagaimana ia memiliki keinginan untuk bertelur dan merawat itik-itiknya! Padahal ia tidak memiliki tempat atau sarang yang layak dan cukup untuk menampung telur-telur di dalamnya! Setelah bertelur, induk ayam akan menahan rasa lapar dan tidak akan memakan sesuatu agar ia dapat mengeramkan telurnya sampai telurnya menetaskan itik-itiknya. Bukankan ini semata demi menjaga kelestarian spesiesnya? Bukankah seekor ayam betina tidak memiliki akal dan pikiran? Lantas atas dasar apa ia berusaha keras dalam menjaga spesiesnya? Semua ini tidak lain kecuali Sang maha Penciptalah yang telah membekali kemampuan dan kecerdikan itu kepadanya!
 
Penciptaan Telur Burung dan Hikmah yang Terkandung Di Dalamnya
Ambillah pelajaran serta ibrah yang terkandung dalam telur burung ! Dimana di dalamnya terdapat bahan yang berwarna kuning dan cairan yang kental dan berwarna putih. Sebagian darinya [kuningnya] akan membentuk menjadi seekor itik dan sebagian lagi [putihnya] akan menjadi makanannya selama ia berada di dalam telur. Lihatlah hikmah yang terkandung di dalamnya! Dikarenakan seekor itik ayam dibesarkan di dalam kurungan dinding-dinding yang keras dan tidak ada jalan untuk masuknya sesuatu ke dalam, maka di dalam [telur itu] telah dibekali sekedar makanan yang dapat memenuhi kebutuhannya hingga ia keluar dari telur tersebut. Seekor itik bagaikan seorang tahanan yang dipenjara di dalam bui yang di kelilingi oleh dinding-dinding yang kokoh dan tinggi, sehingga tidak ada satu jalanpun yang dapat dilalui untuk mengantarkan makanan kepadanya. Maka dari itu ia dibekali dengan makanan yang dapat mencukupinya sampai ia dapat keluar dari penjara telurnya.
 
Keajaiban Tembolok Seekor Burung
Wahai Mufaddal perhatikanlah penciptaan tembolok [burung] dan hikmah yang terkandung di dalamnya! Lorong jalannya makanan dari tembolok ke rempela sangatlah sempit, hanya dengan cara perlahan-lahan makanan [dari tembolok] dapat masuk ke dalamnya. [Ketika memakan sesuatu] seekor burung untuk menelan biji selanjutnya ia tidak perlu menunggu biji pertama masuk ke rempelanya, karena ini akan membuat pekerjaannya menjadi lambat dan lama sehingga ia tidak akan mendapatkan makanan yang cukup untuk dirinya [oleh sebab itu seekor burung dengan sangat cepat akan memakan dan menelan makanannya dan kemudian menimbunnya di temboloknya].
Dikarenakan kecermatannya, seekor burung akan segera menelan makanannya, maka dari itu temboloknya diciptakan mirip dengan buntalan yang tergantung di bagian depannya sehinga kapan saja ia menelan [makanannya] dengan cepat akan masuk dan tertampung di dalamnya, akan tetapi makanan tersebut [yang telah tertampung di tembolok] akan masuk ke rempela dengan perlahan-lahan.
Pada tembolok burung, juga terdapat hikmah tertentu, yaitu: sebagian burung-burung memberi makan itik-itiknya dari makanan yang telah tersimpan dalam tembolok, dengan mengeluarkan makanan dari tempat yang dekat, [jelas] ini akan lebih memudahkannya.
 
Keragaman Warna Pada Tubuh Seekor Burung
Mufaddal berkata: sebagian orang-orang yang ingkar [akan penciptaan Allah] menyangka bahwa perbedaan warna dan bentuk burung-burung, adalah merupakan hasil dari percampuran dan tumpang tindih yang terjadi begitu saja tanpa adanya perencanaan sebelumnya serta tujuan dibaliknya. Imam As bersabda: Wahai Mufaddhal engkau melihat warna yang bermacam-macam dan indah serta teratur yang ada pada seekor burung merak dan burung gagak, [warna-warna ditubuhnya] bagaikan lukisan yang dilukis di atas tubuh mereka, bagaimana mungkin keindahan ini dihasilkan secara kebetulan dan tanpa pengaturan serta ada dengan sendirinya tanpa tujuan? Dan bagaimana tumpang tindih yang terjadi begitu saja dapat mewujudkan satu bentuk teratur dan serasi? Tidak diragukan lagi [semua ini] bukan dihasilkan secara kebetulan dan ada dengan begitu saja, karena suatu yang terjadi secara kebetulan sama sekali tidak akan menghasilkan suatu yang teratur dan serasi, akan tetapi sesuatu yang dihasilkannya akan tidak teratur dan berantakan.
 
Bulu Seekor Burung
Perhatikanlah bagaimana bentuk bulu-bulu seekor burung! Dimana engkau melihat [bulu-bulu ini] mirip seperti pakaian yang ditenun dari benang yang sangat halus dan lembut, bulu-bulu ini tersusun sangat rapih layaknya tenunan lembaran-lembaran benang yang satu dengan lainnya saling mengikat dan merekat, dan ketika engkau menariknya ia tidak akan terlepas seluruhnya [dari badan] akan tetapi hanya sedikit darinya yang akan tecabut, [bulu-bulu ini diciptakan demikian] agar hawa dapat masuk diselah-selahnya dan seekor burung dapat terbang dengan mudah tanpa merasa berat di udara. Di bagian tengah bulunya ada semacam tiang yang kokoh dan tegak berdiri sehingga kekokohannya dapat menjaga bagian dari bulu-bulunya. Namun meskipun bagian tengah bulu burung amat kokoh dan kuat tetapi di dalamnya kosong (kopong) sehingga tidak akan memberatkan seekor burung saat ia terbang.
 
Manfaat Panjangnya Kaki Sebagian Burung
Wahai Mufaddhal apakah engkau telah melihat burung-burung yang memiliki dua kaki yang panjang? Dan apakah engkau mengetahui apa saja manfaat dari panjang kakinya? Burung-burung yang memiliki dua kaki yang panjang ini, biasanya engkau lihat berada di tempat berair. Sebagaimana layaknya seorang pengintai yang berada di atas menara, burung ini selalu mengintai dan memperhatikan sesuatu di dalam air. jika ia melihat sesuatu yang dapat dimakannya ia akan melangkah secara perlahan dan menangkapnya, [pada saat itu] perutnya tidak akan menyentuh air hingga air tidak bergelombang yang akan menyebabkan buruannya takut dan lari. Dengan demikian, dua kaki ini diciptakan untuk memudahkannya dalam memenuhi kebutuhan serta mencari makanan guna kehidupannya.
Perhatikanlah keserasian yang terkandung dalam penciptaan burung ini! Seekor burung yang memiliki dua kaki yang panjang iapun memiliki leher yang panjang pula, sehingga dengan itu ia dapat mengambil makanan dari permukaan tanah. Seandainya burung ini memiliki leher yang pendek, maka sudah barang tentu ia tidak akan mampu mengambil sesuatu dari atas tanah. Selain itu panjang paruhnya akan membantu lehernya hingga dapat memudahkan pekerjaannya.
Tidakkah engkau perhatikan, bahwa segala sesuatu yang engkau lihat telah diciptakan dengan paling sempurna dan sangat beraturan dan seluruh keberadaannya telah ditakdirkan dengan sangat bijaksana!
 
Burung-burung Pipit Ketika Mencari Makanan
Perhatikanlah burung-burung pipit, bagaimana ia mencari makanannya pada siang hari! meskipun makanannya tidak tersedia [didepan matanya] akan tetapi dengan terus mencari dan berusaha ia akan mendapatkannya. Demikian halnya dengan seluruh makhluk yang ada. Maha suci Zat yang telah menyediakan dan memberi mereka rezki kepada tiap-tiap makhluk-Nya dengan cara menebarkannya di antara mereka, dan tidak menjadikan mereka sulit atau tidak mampu untuk mendapatkannya. Dia telah menjadikan seluruh makhluk-Nya selalu membutuhkan [rezkinya], namun Dia tidak menghendaki para makhluk-Nya bisa mendapatkan rezkinya tanpa sedikitpun usaha, karena hal ini tidaklah maslahat dan akan merugikan diri mereka sendiri. Karena jika segala makanan sehari-hari mereka telah tersedia begitu saja di hadapan mereka, maka hewan-hewan akan terus memakannya sampai mereka mati [dikarenakan kekenyangan] dan manusiapun akan menganggur dan tidak memiliki pekerjaan yang mana ini akan menjerumuskan mereka pada kerusakan, kemaksiatan dan segala kemungkaran.
 
Kehidupan Burung Hantu, Celepuk dan Kelelawar
Apakah engkau mengetahui apa makanan burung-burung yang hanya keluar pada malam hari, seperti burung hantu, celepuk dan kelelawar? Saya berkata: tidak wahai tuanku.
Beliau bersabda: Sesungguhnya makanan mereka adalah serangga-serangga yang berterbangan di udara seperti nyamuk, laron, belalang dan lebah, Kerena serangga-serangga ini berterbangan di udara dan selalu memenuhinya. Untuk mengetahui kenyataan ini, pada malam hari engkau dapat menyalakan lampu di atas atap atau di pelataran rumah, sehingga engkau akan melihat serangga-serangga ini berkumpul di sekelilingnya. jika serangga-serangga ini bukan berasal dari sekitar lampu, lantas dari mana ia datang? Jika ada yang mengatakan bahwa mereka datang dari gurun sahara. Kita katakan: apakah jarak yang jauh ini dapat ditempuh dalam jangka waktu yang singkat? Dan juga bagaimana dari jarak yang sangat jauh mereka dapat melihat sinar lampu di dalam rumah sehingga berdatangan ke arahnya? Ini adalah sebagai bukti bahwa serangga-serangga selalu bertebaran dan memenuhi udara. Nah! serangga-serangga inilah yang menjadi makanan (santapan) burung-burung malam saat mereka terbang di udara.
Sekarang lihatlah makanan burung-burung yang hanya keluar pada malam hari ini yang telah disediakan dari serangga-serang yang ada di mana-mana! Dari sini dapat diketahui [salah satu dari] rahasia dan manfaat diciptakannya serangga yang berterbangan ini, sangatlah bodoh orang yang menyangka bahwa [keberadaan] mereka hanya sia-sia dan tidak ada manfaat yang terkandung dalam penciptaannya.
 
Struktur Tubuh Seekor Kelelawar
Seekor kelelawar telah diciptakan dengan sangat menakjubkan dan mengagumkan yang mana [bentuk tubuhnya] merupakan pertengahan antara bentuk burung dan hewan berkaki empat. [Bentuk] penciptaannya lebih banyak menyerupai hewan berkaki empat, karena seekor kelelawar memiliki telinga yang panjang, gigi, dan bulu, dan iapun dapat melahirkan anak, menyusui dan membuang air kecil. Selain itu, ketika berjalan iapun menggunakan kedua tangan dan kakinya, yang mana semua ini jelas tidak sesuai dengan ciri-ciri seekor burung.
Kelelawar termasuk jenis burung yang terbang pada malam hari dan pemakan serangga-serangga yang bertebaran di udara. Sebagian orang mengira bahwa kelelawar hanya menghirup angin dan tidak memakan sesuatu. Ini tidak dapat dibenarkan dilihat dari dua sisi:
1.    Keluarnya kotoran dan air seni tidak akan disebabkan kecuali dari makanan;
2.    Memiliki gigi; jika kelelawar tidak memakan sesuatu, lantas untuk apa ia dibekali dengan gigi. Dan kita dapat lihat bahwa tidak ada satu makhlukpun yang diciptakan tanpa hikmah dan manfaat.
Burung-burung malam ini sangat bermanfaat bagi manusia, hingga kotorannyapun dapat digunakan [untuk pupuk dan lainya] dan yang lebih penting lagi ialah penciptaannya yang menakjubkan yang menjadi bukti akan maha kuasa Sang penciptanya, yang mana Dia akan menciptakan segala sesuatu yang diinginkan-Nya berdasarkan maslahat yang diketehui-Nya.
 
Kecerdikan Seekor Burung yang Kecil Dalam Mempertahankan Dirinya
Adapun mengenai burung kecil yang dikenal dengan abu tamrah (arb, lebih kecil dari burung pipit) disaat ia berada di sarangnya dan tiba-tiba ia melihat seekor ular yang besar menghampiri sarangnya dan dengan mulutnya yang terbuka lebar telah siap untuk melahapnya. Saat burung itu merasa sangat ketakutan dan kebingungan bagaimana ia dapat lolos dari ular itu, jika ia melihat sebatang duri ia akan segera mengambilnya dan menancapkannya di mulut ular, dikarenakan itu sang ular akan melingkar-lingkar dan membalik-balikkan tubuhnya sampai dirinya mati. Sungguh! jika aku tidak mengabarkan kepadamu akan hal ini, apakah akan terlintas di benakmu dan juga selainmu bahwa duri memiliki manfaat seperti ini dan seekor burung yang kecil memiliki kecerdikan demikian. Ambillah pelajaran dan ibrah dari hal ini dan juga dari yang lainnya! Ketahuilah bahwa segalanya memiliki manfaat dan maslahat yang sangat banyak dan tak terhitung yang mana dengan perantara terjadinya sesuatu atau informasi dari seseorang [manfaat-manfaat tersebut] dapat diketahui.
 
Lebah, Madunya dan Sarangnya
Lihatlah! Bagaimana lebah telah membuat madu dengan cara bergotong-royong. Juga perhatikanlah! Bagaimana kecerdikan, kemahiran serta ketelitian mereka dalam membangun sarang dan rumah mereka yang berbentuk segi enam.
Sesungguhnya jika engkau perhatikan dengan benar pekerjaan mereka, engkau akan mendapatkannya sangat rapih dan menakjubkan. Demikian juga ketika engkau memperhatikan hasil dari pekerjaan mereka, maka engkau akan mendapatkannya merupakan suatu yang berharga dan mulia serta baik kedudukannya ditengah masyarakat. Namun jika engkau melihat pelaku pekerjaan ini, engkau akan mendapatkannya sangat dungu dan bodoh terhadap dirinya apalagi terhadap selainnya. Ini adalah bukti yang jelas bahwa pekerjaan dan segala hasilnya yang penuh hikmah dan berharga ini bukan semata terlahirkan dari seekor lebah [yang dungu dan bodoh] akan tetapi ia terilhami dari sisi Zat yang telah memberikan kecerdasan dan fitrah kepadanya sehingga untuk manfaat yang kembali kepada manusia, Dia telah mengilhami kepada para lebah untuk menjalankan pekerjaan ini.
 
Belalang adalah Hewan yang Lemah dan Juga Kuat
Lihatlah belalang betapa lemah dan kuatnya dia! Ketika engkau melihat penciptaan tubuhnya maka engkau akan mendapatkannya [termasuk] hewan yang paling lemah. Namun jika sekumpulan darinya bergerak menuju satu negeri layaknya pasukan tentara yang menyerang, maka tidak ada seorangpun yang dapat membebaskan negeri itu dari serangannya. Apakah engkau tidak melihat meskipun seorang raja dimuka bumi ini, mengerahkan seluruh pasukan berjalan dan penunggang kuda untuk membebaskan tanah airnya [daerahnya] agar terbebas dari serangan belalang, maka ia tidak akan mampu melakukannya. Apakah ini tidak menjadi bukti akan kekuasaan Allah Swt yang dapat mengirim mahkluk-Nya yang paling lemah kepada makhluk-Nya yang terkuat, akan tetapi makhluk yang kuat tidak mampu menandinginya?
 
Banyaknya Belalang
Perhatikanlah belalang-belalang bagimana ia menyebar keseluruh permukaan bumi seperti layaknya air bah. Yang mana mereka telah memenuhi gunung, gurun, perkotaan dan perdesaan, hingga jumlahnya yang banyak ini dapat menutupi cahaya matahari. jika hal ini merupakan hasil buatan tangan [selain tangan Allah Swt] sampai kapan ia dapat mengumpulkan jumlah yang sangat banyak ini? Dan akan memakan waktu berapa tahun? Ambillah contoh ini sebagai argumen untuk membuktikan kekuasan Allah yang mutlak yang tidak akan pernah meminta pertolongan dari selain-Nya!
 
Penciptaan Ikan
Perhatikan dengan baik seekor ikan dengan segala keserasian dan hikmah yang terkandung dalam penciptaannya! Dalam penciptaannya ia tidak dibekali dengan kaki karena ia hidup di dalam air dan tidak butuh berjalan. Dan ia juga tidak dibekali dengan paru-paru karena di dalam air ia tidak dapat bernafas. Sebagai ganti dari tangan dan kaki, ia telah dibekali dengan sirip-sirip yang keras dan kuat. Sebagaimana layaknya pengendara perahu yang dapat menjalankan perahunya dengan mendayung air, begitu pula seekor ikan dengan menggerakkan sirip-siripnya untuk menendang air, iapun dapat bergerak dan berenang. Tubuhnyapun diselimuti oleh sisik-sisik yang keras dan menancap kedalam yang menyerupai susunan keping-keping baja yang kecil, agar dapat melindunginya dari segala bahaya dan dari sesuatu yang dapat melukainya.
Penglihatan seekor ikan amatlah lemah, selain itu air pun dapat mencegah penglihatannya, oleh sebab itu sebagai ganti dari kekurangan yang dimilikinya, ia telah dibekali dengan penciuman yang tajam sehingga dari jarak yang sangat jauh ia dapat mencium bau makanan dan buruannya, dan dengan mengendusnya ia akan bergerak menghampirinya. jika [kemampuan] ini tidak diberikan kepadanya, maka bagaimana ia dapat mengetahui letak makanannya? Dan ketahuilah bahwa di antara mulut dan telinga ikan terdapat lubang-lubang yang menyambungkan antara mulut dan telinganya. Seekor ikan selalu menghirup air ke dalam mulutnya dan mengeluarkannya melalui lubang telinganya agar ia dapat seperti hewan-hewan lain yang merasakan kenyamanan dan kenikmatan ketika menghirup udara segar.
 
Sebab Banyaknya Anak Ikan
Sekarang perhatikan dan renungkanlah akan banyaknya keturunan ikan dan hikmah yang terkandung didalamnya! jika engkau melihat di dalam perut seekor ikan terdapat banyak sekali telur-telur yang tak terhitung jumlahnya, hal itu semata untuk memudahkan pekerjaan [dalam memenuhi kehidupan] para pemangsa ikan yang jumlahnya tidak sedikit. Hingga binatang buaspun yang ada di hutan ia akan bersembunyi di tepi air guna memburu seekor ikan, jika ada seekor ikan melewatinya, maka iapun akan segera menagkapnya.
Ketika binatang-binatang buas, burung-burung, para manusia dan ikanpun memakan ikan maka sangatlah layak dan bijak jika ikan diberikan anak yang berjumlah sangat banyak dan tak terhitung.
 
Luasnya Hikmah Sang Pencipta dan Dangkalnya Ilmu Manusia
jika engkau ingin mengetahui luasnya hikmah Sang Pencipta dan dangkalnya pengetahuan manusia, maka tengoklah lautan dengan segala apa yang ada di dalamnya berupa ikan-akan yang beragam jenisnya, hewan-hewan laut, kerang-kerang dan berbagai jenis hewan lainnya yang tidak terhitung jumlahnya! Dan engkau tidak akan mengetahui segala manfaat dari seluruh penciptaan ini kecuali hanya sebagian kecil darinya yang engkau dapat mengetahuinya dikarenakan terjadinya sesuatu, seperti halnya: warna merah yang manusia mengetahuinya lantaran seekor jenis keong. [cerita peyingkapan ini sebagai berikut]: ketika seekor anjing berjalan di tepi laut, kebetulan ia menemukan seekor keong kemudian iapun memakannya, sehingga darah keong itu mewarnai mulutnya. [Ketika melihat mulut anjing ini] masyarakat mengagumi keindahan warnanya, dan akhirnya mereka menjadikannya sebagai bagian dari warna. Demikian juga dengan kasus-kasus lainya, yang terkadang lantaran kejadian tertentu menusia dapat mengetahui dan menyingkap hakikat sesuatu.
Mufaddhal berkata: saat pembicaraan sampai disini, waktu dhuhurpun tiba, dan tuanku Imam Shadiq As segera berdiri untuk menunaikan shalat dan beliau bersabda: Besok pagi segeralah datang kehadapanku! Kemudian aku pun berpamit dari hadapan beliau.
Dikarenakan pengetahuan dan ilmu-ilmu yang telah diajarkan Imam As kepadaku, aku pun merasa sangat gembira dan bahagia dan penuh syukur kepada Allah Swt atas segala yang telah diberkati kepadaku, dan malam itu aku lewati dengan perasaan yang gembira dan bahagia.
Post a Comment