Sunday, July 1, 2012

SEJARAH PEMBAWA THORIQOH AL-TIJANIYYAH KE-INDONESIA

Sejarah Sayyid Ali At-Thoyyib at-Tijany al-Hasany

Sayyid Ali bin Abdullah at-Thoyyib al-Sufyani al-Azhari
al-Madani al- Hassani R.A
Al-Imam Ahli Thoriqoh al-Tijaniyyah
al-Allamah al-Fadhil al-Shodiq fi-Hubbil Habibb

Syeikh Ali bin Abdullah bin Mustofa al-Thoyyib al-Hasany
Al-Amin al-Fatwa Syafi’iyyah Sabiqon bil Madinah al-Munawwarah

Geneologi

Sayyidina Syeikh al-Arif Billah al-Waliy al-kabir Habibb al-Syarif Ali bin Abdullah al-Thoyyib al-Azhari al-Madani al-Hassani RA, adalah seorang Ulama besar yang berasal dari Kota Rosulullah SAW. Beliau dilahirkan di Madinah al-Munawwarah kira-kira pada penghujung Abad ke-19 dan berasal dari keluarga keturunan ahlul Bayt Nabi SAW. Sayyid Ali al-Thoyyib adalah putra dari Syarif Abdullah bin Mustofa bin Hamid bin ahmad bin Sayyid Muhammad al-Thoyyib al-Sufyani bin Sayyidi Muhammad bin Maulay Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ustman bin Muhammad bin Ahmad Muhammad bin ‘Isa bin Ustman bin Ismail bin Abdul Wahhab bin Yusuf bin Syaidan bin Ammaroh bin Yahya bin Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Maulana Idris al-Azhari bin Maulana Idris al-Akbar (Maulana Idris al-Akbar ini adalah kakak beradik dengan Sayyid Muhammad an-Nafsu Zakiyyah “ Muhammad an-Nafsu Zakiyyah ini adalah kakek moyangnya syekh Ahmad at-Tijani” ) bin Abdullah al-Kamil bin Hassan al-Mutsanna bin Hassan ash-Shibti bin Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karramallahu Wajhahu, Suami dari Sayyidah Siti Fatimah al-Zahro bintu Sayyidina Wa Habibana Muhammad Rosulullah SAW.
Nama al-Thoyyib pertama kali berasal dari nama buyut Beliau Yakni Sayyidina Muhammad Yang bergelar al-Thoyyib As-Sufyani (“Sayyidina Muhammad yang bergelar al-Thoyyib as-Sufyani ini adalah salah satu sahabat dekat Assyarif Sayyid Abil Abbas Ahmad Bin Muhammad al-Tijany dan sekaligus sahabat terdekat yang dicintai Syeikh Ahmad al-Tijani, dan Juga Beliau lah Yang Memandikan Jasad Syeikh Ahmad al-Tijani atas perintah langsung dari Syeikh Ahmad Tijani. Beliau juga sempat mengarang kitab al-Tijany Yakni Kitab al-Ifadatul Ahmadiyah.”dan nama Gelar al-Thoyyib disamping itu juga disebut juga as-Sufyani.) Dan nama marga/Fam al-Thoyyib al-Hassany  ini diteruskan kepada anak cucunya hingga saat ini.

Masa Menuntut Ilmu
            Semenjak usia dini, Sayyid Ali telah mendapatkan Pendidikan Agama pertama dari keluarganya sendiri, yang adalah Zurriyah Sayyidina Ali bin Abi Thalib “sang pintu kota Ilmu” Karramallahu Wajhahu. Kemudian pada usia 9 Tahun Beliau dibawa ke Negeri Mesir untuk menuntut Ilmu. Di Mesir, Sayyid Ali belajar di Universitas al-Azhar kairo, salah seorang gurunya yang terkenal adalah : Syeikh Hassan al-Saqa Rohimahullah, seorang Khotib di al-Azhar al-Syarif. Dalam Ilmu ushuluddin Beliau mengikuti Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana dirumuskan oleh Imam Abu Hassan al-Ashari RA dan Imam Maturidi RA adapun dalam Ilmu Fiqih Sayyid Ali mengikuti Madzhab al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’I RA. Sayyid Ali merupakan pelajar yang tekun disamping dikaruniai kecerdasan yang luar biasa ditambah lagi ketaatannya beribadah kepada Allah SWT dengan mengikuti Sunnah Kakeknya Yakni Nabi Muhammad SAW. Setelah tinggal di Mesir , selama kurang lebih 20 tahun, Sayyid Ali Hijrah menuju kota Makkah dan mengajar ilmu agama di sana selama kurang lebih 6 tahun. Di Hijaz al-Haromain, Sayyid Ali berguru pula kepada Ulama-ulama setempat, Khususnya kepada al-Sayyid al-Habibb Husain al-Hibshi Rohimahullah, seorang Mufti Madzhab Imam Syafi’i di Makkah al-Mukarromah.


Sayyid Ali al-Thoyyib Mufti Madzhab Syafi’i.
            Setelah tinggal di Makkah, Sayyid Ali Pulang ke Kampung halamannya (Madinah). Karena kepakaranya dalam Ilmu Fiqih khususnya Madzhab Imam Syafi’I, beliau dipercaya untuk mengajar dan memberi fatwa (menjadi Mufti) berdasarkan Madzhab Syafi’I di Madinah al-Munawwaroh. Meskipun saat itu usianya sangat muda namun karena keahliannya, Beliau diberi Gelar sebagai “Amin al-Fatwa al-Syafi’iyyah” sebagai bukti pengakuan masyarakat Madinah akan kedalaman ilmu agama Beliau.

Sayyid Ali al-Thoyyib Kholifah Toriqoh al-Tijaniyyah
            Sayyid Ali disamping mempelajari ilmu-ilmu syariat, Beliau kemudian mempelajari Ilmu Tasawuf, Khususnya Thoriqoh al-Muktabarah. Dalam Ilmu Thoriqoh, Sayyid Ali mengikuti Thoriqoh al-Mukatabaroh al-Tijaniyyah yang dibangun oleh Sayyidina Syeikh Abul Abbas Ahmad al-Tijani RA (1737-1815). Pertama beliau berguru kepada Syeikh Adam bin Muhammad Syaib al-Barnawi RA kemudian kepada Syeikh Muhammad Hasyim RA, seorang Ulama Ahli Hadits termahsyur di Madinah dan lebih dikenal dengan nama Imam Alfa Hasyim RA.
Dalam kitab “al-Munyat Fi Thoriqot al-Tijaniyyah” yang disusun oleh Syeikh Ali al-Thoyyib RA disebutkan sanad Ijazah Beliau dalam Thoriqoh Tijaniyyah : “Dan telah mengijazahkan kepadaku (Sayyid Ali al-Thoyyib) seluruh awraad Thoriqot Tijaniyyah (Yaitu) Syeikhul Allamah Adam bin Muhammad Syaib al-Barnawi RA pada Tahun (Musim) Haji 1324 Hijriyyah (1906/1907) dan menurut beliau, telah mengizinkan kepadanyaWA NAFAANA BIHI AMIN. Dan bagiku ada sanad lainnya di dalam Taqdim dan Kholifah (Yaitu) Syaikhina al-Allamah Zaman Imam al-Hadits di kota Madinah al-Munawwarah yaitu Syeikh Muhammad al-Hasyimi yang termahsyur dengan nama Alfa Hasyim dan Beliau dari al-Hajji Sa’id dari Syeikh Umar bin Sa’id (al-Fouthi) dari Syeikh Muhammad Ghola dari Syaikhina Ahmad al-Tijany RA dari Nabi Muhammad SAW dengan Muwajahah dan Musyafahah”
Diriwayatkan pula bahwa Syeikh Alfa Hasyim telah memberikan ijazah Toriqoh Tijaniyyah kepada Sayyid Ali al-Thoyyib pada bulan rajab 1334 H bersetuju dengan tahun 1915/1916 M.
Menurut keterangan dari Syeikh Fakhruddin al-Owaisi (Madinah) bahwa Sayyid Ali al-Thoyyib menerima pula ijazah Tijaniyyah dari Syeikhul Islam Ibrohim Niyasse RA yang menerima ijazah dari Syeikh Ahmad Sukayrj dari Syeikh Ahmad Abdal Lawi dari Syeikh Ali Tamasini dari Syeikh Quthbil Maktum Ahmad Tijani dari Rosulullah SAW. Keterangan tersebut ada dalam Kitab “Rihlah al-Hijaziyah” susunan Syeikh Ibrohim Niyasse RA.
Seorang Ahli Sejarah Afrika bernama Ighba Visigh menyatakan dalam karangannya Bahwa Sayyid Ali al-Thoyyib setelah belajar kepada Syeikh Alfa Hasyim, beliau Kemudian kembali ke Mesir dimana menurut Beliau masyarakat Umum di sana tidak banyak mengetahui tentang Tariqoh Tijaniyyah. Namun Sayyid Ali al-Thoyyib mengatakan bahwa ada sekitar 12.000 orang yang telah masuk Tariqoh Tijaniyyah di Mesir pada masa itu. (Jadi Sayyid Ali al-Thoyyib itu, Beliau sebelum menyebarkan Thoriqoh al-Tijaniyyah di Indonesia, Beliau juga sempat menyebarkat Thoriqoh al-Tijaniyyah di Mesir, dan sehingga lebih dari 12.000 orang masuk dalam Ajaran Syeikh Ahmad al-Tijany yakni Thoriqoh al-Tijaniyyah)

Pintu Gerbang/Perantara/Penyambung dan Penyebar Tariqoh Tijaniyyah Di Indonesia
Sekitar Tahun 1920-an Sayyid Ali berkunjung ke Indonesia dalam rangka dakwah. Informasi awal tentang kedatangan Sayyid Ali al-Thoyyib ke Indonesia dicatat oleh seorang orientalis Belanda yang bernama G.F Pijper dalam bukunya yang berjudul “Fragmenta Islamica”, menurut keterangan yang dihimpun oleh G.F Pijper yang mengaku telah bertemu dan melakukan wawancara dengan Sayyid Ali al-Thoyyib di Lereng Gunung Gede, Cianjur-Jawa Barat. Sayyid Ali al-Thoyyib pertama kali datang ke Cianjur dan menjadi kepala Madrasah Muawwanat al-Ikhwan selama 3 Tahun, kemudian pindah ke Kampung Arab Empang, Bogor dan menjabat Kepala Madrasah al-Falah al-Wahidiyah selama 3 Tahun, kemudian pindah lagi ke Tasikmalaya dan kembali mengajar selama 2 Tahun, kemudian pindah lagi ke Cianjur, selain itu Sayyid Ali al-Thoyyib juga mengunjungi beberapa tempat di Pulau Jawa sebelum akhirnya kembali ke Madinah al-Munawwaroh.

Murid-murid Sayyid Ali al-Thoyyib di Indonesia
Berikut ini adalah beberapa anak murid Sayyid Ali al-Thoyyib di Indonesia di antaranya :
  1. Habibb Muhammad bin Ali al-Thoyyib (Wafat 1987 M) Putra kandung Sayyid Ali al-Thoyyib dan tergolong sebagai sesepuh Ulama Kabupaten Bogor dan sekaligus Kholifah Tijaniyyah di Indonesia saat itu. Sepeninggal Ayahanda ke Madinah, Habibb Muhammad meneruskan jejak langkah Ayahanda sebagai Ulama dan Penyebar Thoriqoh Tijaniyyah di Indonesia dan tergolong sesepuh Muqoddam Tijaniyyah di Indonesia. Dan putra-putra dari Habibb Muhammad al-Thoyyib yang meneruskan jejak langkah ayahandanya adalah: al-Muqoddam al-Habibb Luqman al-Thoyyib (Caringin-Bogor) yang banyak sekali mendapatkan ijazah Thoriqoh Tijaniyyah. al Muqoddam al-Habibb Anwar al-Thoyyib (Garut) beliau juga banyak sekali mendapatkan ijazah Thoriqoh Tijaniyyah. Dan sekarang di Empang-Bogor dilanjutkan oleh al-Habibb Salim al-Thoyyib atas izin al-Habibb Luqman al-Thoyyib. Di samping itu, ada pula Putra kandung Sayyid Ali al-Thoyyib yang tinggal di Cianjur, Yakni Habibb Ahmad bin Ali al-Thoyyib RA, yang juga dikenal sebagai Ulama setempat dan salah satu dari guru dari Ulama besar Cianjur yakni KH Aang Nuh (Gentur-Jambu Dipa)
  2. KH Abbas bin KH Abdul Jamil (Wafat 1946 M) sesepuh dari salah satu Pondok pesantren paling berpengaruh di Indonesia Yakni Ponpes Buntet-Cirebon, Ikut berjuang di masa Perang Kemerdekaan dan memimpin tentara Hizbullah di daerahnya. Untuk penyebaran Tariqoh Tijaniyyah, KH Abbas dibantu pula oleh adik kandungnya Yakni KH Anas dan KH Muhammad Akyas, yang juga mempunyai Ijazah Tariqoh Tijaniyyah dari Sayyid Ali al-Thoyyib. Tiga bersaudara ini adalah pintu Utama dari penyebaran Tariqoh Tijaniyyah di Pulau Jawa khususnya di Jawa Tengah dan di Jawa Timur.
  3. KH Nuh bin Idris (Wafat 1966), Beliau adalah keturunan bangsawaan Cianjur dan sesepuh Ulama se-kota Cianjur. Pada masa mudanya belajar di berbagai pesantren di Jawa Barat seperti di Pesantren Gudang, Tasikmalaya yang diPimpin Oleh Mama Ajengan KH Sujai. Setelah itu, Beliau kemudian berangkat ke Tanah Suci Makkah dan Madinah dan belajar kepada berbagai Ulama di sana seperti kepada Syeikh Mukhtar Atharid RA. Sepulangnya dari tanah Suci, Beliau mendirikan Perguruan Islam al-Ianah di Cianjur dan sempat pula menjadi Dewan Konstituante RI pada tahun 1950-an. KH Nuh bin Idris ini adalah ayah Kandung dari KH Abdullah bin Nuh, seorang Ulama besar di Indonesia dan Pendiri Perguruan Islam al-Ghozali dan Majelis al-Ihya Bogor.
  4. KH Ustman Dhomiri (Wafat 1955 M) seorang Ahli Tariqoh Qodiriyyah di Cimahi Bandung. KH Ustman Dhomiri bertemu dengan Syeikh Ali al-Thoyyib di Jawa Barat, namun tidak sempat menerima Ijazah Tariqoh Tijaniyyah dari Beliau. Setelah kepulangan Sayyid Ali al-Thoyyib ke Madinah, KH Ustman Dhomiri kemudian menyusul ke Madinah dan Menerima Ijazah Tariqoh Tijaniyyah dari Sayyid Ali al-Thoyyib pada tanggal 29 sya’ban 1350 H (1931 M). sepulangnya dari Madinah, KH Ustman Dhomiri sempat tinggal di Jatinegara, Jakarta hingga saat kemerdekaan Indonesia tahun 1945. KH Ustman Dhomiri kemudian kembali Tinggal di Cisangkan Hilir, Cimahi, dimana didirikan Pondok bagi para Muriddin dan juga Masjid Baiturohmat (Cimahi-Jawa Barat)
  5. KH Badruzzaman bin Muhammad Faqih (Wafat 1972 M), ulama besar asal Kota Garut-Jawa Barat. Semasa muda belajar di Kota Suci Makkah dan Madinah sepulangnya kemudian mengasuh Pondok Pesantren al-Falah Biru-Garut. Ulama besar ini mendalami berbagai macam ilmu-ilmu agama Islam, keras yakni pemimpin tentara Hizbullah/Sabilillah Garut di masa revolusi fisik. Sempat pula menjabat sebagai wakil ketua kehormatan majelis ulama Jawa Barat semasa hidupnya. Perlu diketahui bahwa hampir seluruh ulama di Kabupaten Garut memiliki afiliasi kepada KH. Badruzzaman, di mana saat ini anak cucu beliau meneruskan perjuangannya, yaitu diantaranya : KH. Dadang Ridwan (Rancamaya), KH Ikhyan (Samarang), DLL
  6. Al-Imam al-Muhaddits Allamah Syeikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani (Wafat 1990 M) Syeikh Yasin dilahirkan di Makkah pada tahun 1915 M, dari kedua orang tua yang berasal dari Padang, Sumatra Barat. Beliau adalah seorang ulama besar dan pakar Ilmu Hadits di Haromain, semasa hidupnya beliau digelari “al-Musnid al-Ashr”, beliau tinggal di Makkah dan memimpin Madrasah Islam, “Darul Ulum” di sana. Syeikh Yasin al-Fadani mengambil ijazah Thoriqoh Tijaniyyah dari Syeikh Ali al-Thoyyib RA. Dan salah seorang ulama Indonesia yang mengambil sanad dan ijazah Thoriqoh Tijaniyyah dari Syeikh Yasin al-Fadani adalah almarhum KH. Ahmad Jauhari Khotib (Sumenep-Madura). Ayah kandung dari almarhum KH. Muhammad Tijany bin Ahmad Jauhari (mantan Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islami).
  7. Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki RA, mufti Maliki Kota Makkah dan ayahanda dari Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki RA yang termahsyur itu. Beberapa ulama-ulama Indonesia lainnya yang dinyatakan sebagai anak murid Sayyid Ali al-Thoyyib di antaranya ialah: KH. Muhammad Sujai (Pesantren Gudang Tasikmalaya), KH Asyari Bunyamin (Garut) dan KH Ahmad Sanusi bin H. Abdurrohim, seorang ulama ahli tafsir dan pendiri “al-Ittihadul Islamiyah” yang berasal dari Sukabumi-Jawa Barat.

Daftar nama-nama ulama tersebut di atas secara langsung menunjukkan bahwa Sayyid Ali al-Thoyyib adalah seorang Syaikhul Masyaikh (gurunya Para guru) di mana murid-muridnya adalah ulama-ulama besar dan berpengaruh di daerahnya masing-masing. Setelah Sayyid Ali pulang ke Madinah, anak muridnya aktif mengembangkan Thoriqoh Tijaniyyah di daerah masing-masing.

Beberapa Karya Tulis Sayyid Ali al-Thoyyib
            Sayyid Ali al-Thoyyib RA sebagaimana ulama lainnya menyusun beberapa kitab agama Islam baik dalam Ilmu Tauhid, Fiqih maupun Akhlaq/Tasawwuf. Di antara kitab yang disusun oleh beliau diantaranya adalah:
  1. Al- Munyat fi Thoriqot al-Tijaniyyah, kitab ini adalah ikhtisar dari kitab Munyatul Murid susunan Syeikh Allamah Ahmad Baba Syinqithy al-Alawy al-Tijany RA (dicetak di Tasikmalaya tahun 1346 H/ 1927 M).
  2. Tuhfatul Mubtadiin Fima Yajibu Ma’rifatuhu Min al-Din, berisikan dasar-dasar aqidah Ahussunnah wal Jama’ah, Fiqih madzhab Syafi’I dan Tasawwuf Thoriqoh Tijaniyyah (dicetakkan Isa al-Bab al-Halabi-Mesir: tanpa tahun)
  3. Nadzam Asma’ul Husna berisikan Nadzam wiridan Asma’ul Husna (dicetak di Tasikmalaya tahun 1346 H).
  4. Tuhfatul Ahiba fi Fadli Madinah al-Munawwaroh wa Manaqibi Sayyidi al-Syuhada, kitab ini dimulai dengan penjelasan tentang “Tanzih (Dzat Allah) al-Haq Subhanahu Wa Ta’ala” lalu diteruskan dengan penjelasan tentang keutamaan Kota Madinah dan Manaqib para syuhada (tanpa tahun).
  5. Mishkatul Anwar fi Shiroh al-Nabi al-Mukhtar berupa sirah (riwayat Nabi SAW). Dan masih banyak lagi kitab-kitab susunan Syeikh Ali al-Thoyyib RA.

Beberapa Nukilan dari Kitab Sayyid Ali al-Thoyyib RA:
  1. Aqidah Tauhid: dikutip dari kitab “Tuhfat al-Ahiba fii Fadli al-Madinatu wa Manaqibi Sayyidi al-Syudaha”: susunan Sayyid Allamah Ali bin Abdullah bin Mustofa al-Thoyyib as-Sufyani al-Hasani al-Tijany al-Madani RA. Berkata Sayyid Ali al-Thoyyib “ini suatu muqodimah pada menyatakan menyucikan haq Allah SWT. Ketahui olehmu mudah-mudahan memberi petunjuk akan kami oleh Allah SWT dan akan engkau. Akan bahwasanya Allah Ta’ala Azza wa Jalla itu Yang Esa pada Kerajaan-Nya. Yang menjadikan sekalian alam dengan sekalian yang di atas dan yang di bawah. Dan Arsy dan Kursy. Dan tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit. Dan barang yang antara keduanya. Bermula sekalian makhluq itu digagahi sekaliannya dengan Qudrot-Nya. Tiada oleh bergerak oleh satu semut yang kecil melainkan dengan izin-Nya. Tiada ada serta Allah Ta’ala itu yang mengatur kepada makhluq dan tiada sekutu bagi Allah Ta’ala pada kerajaan-Nya. Yang hidup yang berdiri dengan sendirinya. Tiada mengambil akan Allah Ta’ala oleh mengantuk dan tiada tidur. Yang mengetahui akan alam ghoib dan yang dilihat. Tiada samar atas Allah Ta’ala oleh suatu pada di dalam bumi dan tiada pada di dalam langit. Yang mengetahui akan barang yang pada darat dan laut. Dan tiada gugur daripada satu daun melainkan mengetahui ia akan Dia. Dan tiada suatu biji pada tempat yang gelap dan tiada yang basah dan tiada yang kering melainkan pada kitab-Nya yang nyata. Telah meliputi dengan tiap-tiap suatu ilmunya. Dan menghinggakan Ia akan tiap-tiap suatu bilangan dan telah meluaskan Ia akan sekalian alam, Rahmat-Nya dan Hilim (santun)-Nya. Memperbuat Allah bagi barang yang menghendaki Ia. Yang Kuasa atas barang yang menghendaki Ia. Bagi Allah itu Kerajaan dan Kaya. Dan bagi Allah Ta’ala kemuliaan dan kekal. Dan bagi Allah Ta’ala itu Puji dan Bagi Allah Ta’ala itu beberapa nama yang elok nan indah. Tiada yang menolak bagi barang yang telah menghukumkan oleh Allah Ta’ala dan tiada yang mencegah bagi jalan yang telah memberi Ia. Memperbuat Allah akan barang yang menghendaki pada Kerajaan-Nya. Dan menghukumkan Ia pada makhluq-Nya akan barang yang menghendaki Ia. Dan tiada mengharap Ia akan pahala dan tiada takut Ia akan siksa. Tiada ada atas Allah Ta’ala itu haq dan tiada atas Allah Ta’ala itu hukum. Maka bermula-mula tiap-tiap nikmat daripada Allah itu karunia dan bermula tiap-tiap siksa itu daripada Allah itu adil. Tiada ditanya Allah daripada barang yang memperbuat Ia. Bermula sekalian makhluq itu ditanya sekaliannya. Bermula Allah Ta’ala itu ada sebelum menjadikan makhluq. Tiada ada bagi Allah itu sebelumnya. Dan tiada kemudiannya.
  2. Tentang awraad Tijaniyyah: dalam kitabnya “Tuhfatul Mubtadiin” Sayyid Ali menyatakan: “Dan mereka (para ulama) berkata bahwa barangsiapa yang tidak  memiliki wirid, maka ia tak ubahnya seperti kera. Dan Allah telah memberkahi al-Faqir ini (Sayyid Ali al-Thoyyib) dengan mengambil Thoriqoh Tijaniyyah dari ulama-ulama besar al-Amilin” (hal:127). Dan aku berikan ijazah (Thoriqoh Tijaniyyah) kepada siapapun dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah dan mengikuti salah satu empat madzhab. Dengan syarat bahwa dia tidak meninggalkan thoriqoh ini sampai meninggalnya dan tidak menggabungkan dengan thoriqoh manapun selainnya.(hal:129)
  3. Tentang akhlaq muslim: berkata al-Imam al-Faqih Sayyidi Syeikh Ali bin Abdullah al-Thoyyib al-Hasani al-Idrisi RA “Tuntut olehmu akan pangkat iman dan sungguh-sungguh olehmu dengan memegang Islam hingga sampai kepada martabat Ihsan. Maka sekalian martabat Iman itu tiada yang mengetahui dengan dia melainkan sekalian orang yang mempunyai pengetahuan yang sempurna dan yang mempunyai keyakinan. Maka sungguh-sungguh olehmu atas menghasilkan sekalian cabang-cabang yang bermula sekalian perhimpunannya itu yaitu iman yang sempurna dan himpunkan olehmu akan dia dengan tiada menanti-nanti. Maka bermula ia cabang-cabang iman itu yaitu lebih atas 70 cabang yang telah diriwayatkan daripada Nabi kita Thoha yang bangsa Adnani. Maka sambut olehmu akan dia daripada ahlinya padahal engkau menuntut pengetahuan dan memberi pengetahuan akan orang dengan sungguh-sungguh dan meneguhkan dan ambil olehmu akan dia daripada aku supaya engkau mengetahui akan bilangannya serta barang yang ditambahkan dengan sebaik-baiknya keterangan. Inilah cabang-cabang iman. Yaitu men-tauhidkan akan Tuhan. Dan percaya dengan Rosul-Nya dan mendirikan sembahyang. Dan mendirikan zakat dan mengerjakan puasa dan mendirikan haji dan memperbuat jihad yang kedua (jihad ada 2, jihad Ashgar “kecil” yakni memerangi musuh, dan yang kedua jihad Akbar “besar” yakni memerangi hawa nafsu). Dan wudhu. Dan mandi wajib. Dan mandi pada hari Jum‘at. Dan sabar dengan mengerjakan taqwa. Dan syukur dengan sekalian rupa petunjuk. Dan wara’. Dan mempunyai (sifat) pemalu. Dan mempunyai kesentosaan yang sempurna. Dan kasihan kepada orang. Dan taat akan Sulthon (Penguasa). Dan ingat. Dan menahan daripada menyakitkan (yakni mulut). Dan menyempurnakan amanat. Dan menolong bagi orang yang di zholimi dengan baik. Dan meninggalkan zholim. Dan meninggalkan mengupat dengan sengaja (ghibah). Dan meninggalkan mengadu-ngadu. Dan meninggalkan mengintai kejahatan. Dan memasuki (rumah) dengan minta izin. Dan mengejapkan mata daripada barang yang tiada halal. Memelihara telinga daripada yang demikian itu. Dan mendengarkan perkataan yang bagus. Dan mengikut akan yang paling baik. Dan menolak musuh dengan baik seperti kepada orang yang hampir (seperti kepada sahabatnya) saja. Dan tiada mengeluarkan perkataan yang jahat. Dan menuturkan perkataan yang baik. Dan memelihara lidah. Dan mengerjakan taubat. Dan tawakkal. Dan khusyu’. Dan meninggalkan sia-sia perkataan atau kelakuan. Dan mengerjakan barang yang manfaat. Dan meninggalkan barang yang tiada manfaat karena memelihara agama. Dan mengekalkan menyempurnakan janji dan amanat. Dan mengekalkan atas taqwa. Dan bertolong atas kebaikan tiada atas zholim. Dan mendirikan taqwa dan kebaikan. Dan mendirikan taat. Dan benar perkataan. Dan meninggalkan dusta. Dan menyuruh kebaikan. Dan menegahkan kejahatan denga jalan yang bagus. Dan mendamaikan orang yang bercerai-berai/ berkelahi. Dan merendahkan diri bagi ikhwan. Dan baik kepada ibu dan bapak. Dan tiada melawan kepada keduanya selama keduanya berada pada jalan ajaran rosulullah. Mendoakan rahmat akan sekalian akan manusia dan jin. Dan menghormati akan orang yang lebih tua. Dan mengasihi akan orang yang lebih muda/ kecil. Dan mendirikan sekalian syara’. Dan meninggalkan sekalian pengakuan jahiliyah dan jahat.


Penutup:

Seorang penyair pecinta Syeikh al-Sayyid Ali al-Thoyyib menulis dalam syairnya:

Sayyid Ali putra Abdullah al-Hasani
            Madzhabnya Sunni serta Syafi’i
Thoriqohnya Muhammadi al-Tijany
            Penyambung utaian sanad kami
Sayyid Ali al-Thoyyibi….
            Moyangnya Ibrohim al-Hanifi
Kakeknya al-Musthofa al-Nabi
            Ayahnya singa Allah Sayyidina Ali
Moga rahmat salam Ilahi Robbi
            Bagi mereka yang dicintai
Sepanjang zaman ini
            Senantiasa kekal abadi

Al-Imam ahli Toriqoh al-Tijaniyyah al-Allamah al-Fadhil al-Shodiq fi-Hubbil Habibb Syeikh Ali bin Abdullah al-Thoyyib Amin al-Fatwa Syafi’iyyah Sabiqon bil Madinah al-Munawwaroh. Beliau setelah tinggal dan menyebarkan ajaran agama Islam dan ilmu Thoriqoh Tijaniyyah di Indonesia. Kemudian kembali tinggal di Madinah al-Munawarroh sampai wafatnya pada tahun 1944 M.
Innalillahi wa inna ilai Roji’un

Marilah Kita tanamkan doktrin sebagai seorang murid yang siap menjadi hamba sahaya dari seorang guru walaupun guru itu hanya mengajarkan satu huruf (alif). “Fatwa Sayyidina Ali”

Dan dengan sejarah Syeikh Ali al-Thoyyib ini adalah moqoddimah dari kitab ini (Faidhur Robbaniy “Manaqib Syeikh Ahmad al-Tijany”). Semoga menjadi kekuatan hati kita di dalam Tijany (semua muhibbin khususnya ikhwan Tijaniyyah) agar berhati-hati dalam mengamalkan Thoriqoh Tijaniyyah. Dan semoga kita menjadi murid Syeikh Ahmad al-Tijany yang melalui penyambung, pintu gerbang, penghantar kita kepada Syeikh Ahmad al-Tijany yakni dengan perantara Syeikh Ali al-Thoyyib ini agar kita diistiqomahkan di dalam thoriqoh ini. Amin

Post a Comment