Sunday, July 15, 2012

Pusaka Madinah

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Pusaka Madinah: diturunkan dari Nabi Muhammad Rasulullah Saw. melalui jalur khawasul khawas. Karena sudah diamanahkan, maka wajib bagi saya untuk menyampaikannya. Dengan bismillaahirrahmaanirraahhiim saya mulai:

Sifat Nafsiyah

Allah sudah menyatakan kelakuan-Nya dan perbuatan-Nya (Af'al-Nya) yang berwujud segala ciptaan-Nya kepada manusia. Kita melihat ciptaan Allah, itu artinya Allah memperlihatkan kelakuan-Nya dan perbuatan-Nya. Berarti Allah menyatakan hal-hal keadaan Diri-Nya yang bersifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma`ani, dan Ma'nawiyah. Hanya orang-orang tauhid dan ulama besar masa lalu yang tahu benar soal ini.

Allah menunjukkan kepada hamba-Nya karena Allah Ta'ala ini Esa Zat-Nya, Esa Sifat-Nya, Esa Asma-Nya, dan Esa Af'al-Nya. Tahulah kita asalnya Allah Ta'ala itu Esa Zat-Sifat-Asma-Af`al-Nya.

Sifat Nafsiyah menjelaskan Zat Allah itu ada selama-lamanya dan adanya Zat Allah itu tidak disebabkan oleh suatu sebab.

Jelaslah Zat itu di-ada-kan Allah. Allah sendiri tanpa sebab apa pun. Jadi, ada juga yang di-ada-kan Allah dengan sebab, tetapi Zat Allah itu di-ada-kan Allah dengan sendiri-nya tanpa sebab dan ada selama-lamanya. Kekal tidak rusak-binasa. Inilah pengertian Sifat Nafsiyah, yaitu menerangkan tentang Diri Zat.


Tentang Diri Allah sendiri, tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af'al. Selain dari Diri Allah Pribadi ber-zat, ber-sifat, ber-asma, ber-af'al.


Maka dalam beramal ibadah:

"Jangan kausembah Zat-Ku, Sifat-Ku, Asma-Ku, Af'al-Ku, tetapi sembahlah Aku." (Hadis Qudsi)

Tubuh Mahasuci

Allah itu tubuh alam. Bagaimana Tubuh Allah itu? Wajib Mahasuci. Bersih sebersih-bersihnya: tidak berwarna, tidak berbau, tidak berbentuk, tidak bertempat, bukan terang, bukan gelap, bukan kabut, bukan mendung, bukan seperti batas pandang, tetapi Tubuh Allah itu Mahasuci: tiada seumpamanya. Ini yang perlu kita ketahui.

Tubuh Allah itu meliputi sekalian alam. Alam apa saja. Bukan alam yang meliputi Tubuh Allah, melainkan Tubuh Allah meliputi sekalian alam.


Sewaktu tubuh alam saja yang ada, tentulah belum ada sesuatu. Sewaktu Tuhan saja Ada, tentulah belum ada tubuh alam atau tubuh maharuang. Inilah diistilahkan kosong sekosong-kosongnya. Ruang tidak ada, bahkan kosong pun tidak ada.

Di kosong sekosong-kosongnya sudah tetap ADA. Yang sudah tetap ADA jangan dikata lagi. Naik saksilah kamu (syahadat).

Sebenarnya tubuh alam atau maharuang adalah
min nuurihi Nabiyika; Cahaya Nabi; Nur Muhammad dari Nur Ilahi. {ada pertentangan soal ini, silakan klik tautan berikut menuju catatan kaki}
Maharuang itulah Nur Ilahi. Nur ini jangan diartikan berupa "cahaya (tampak/muhaddas)", tapi Nur mengacu pada Nama. Jadi, Cahaya Tuhan itulah bernama Allah. [Allah Pribadi tak bernama, Bukankah Allah itu Ismu Zat alias Nama bagi Zat?]

Cahaya Tuhan ini tidak bisa ditembus oleh sesuatu apa pun, tetapi Cahaya Tuhan dapat menembus segala sesuatu. Zat dan cahaya-cahaya pun ditembus-Nya.


Tuhan terlindung oleh Cahaya-Nya. Bukan
berlindung, melainkan terlindung. Cahaya Tuhan itu Mahasuci; bersih sebersih-bersihnya. Mengapa manusia banyak yang tidak tahu? Masih ragu akan perjumpaan dengan Tuhannya.
أَلَآ إِنَّہُمۡ فِى مِرۡيَةٍ۬ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمۡ‌ۗ أَلَآ إِنَّهُ ۥ بِكُلِّ شَىۡءٍ۬ مُّحِيطُۢ
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu. (Q.S. Fushilat: 54)

Maka dalam hidup ini hendaklah kita sadar sesadar-sadarnya bahwa keber-ada-an kita ini di dalam Tubuh Mahasuci dan bertubuhkan Mahasuci. Kalau kesadaran ini men-"jadi", segala alam apa saja yang ada di Tubuh Mahasuci akan kelihatan.

Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan-jalan. Beliau bertemu dengan seorang sahabat Anshar bernama Haritsah. 
Rasulullah SAW bertanya: "
Bagaimana keadaanmu ya Haritsah?
Haritsah menjawab, "Hamba sekarang benar-benar menjadi seorang mukmin billah". 

Rasulullah SAW menjawab: "Yaa Haritsah, pikirkanlah dahulu apa yang engkau ucapkan itu, setiap ucapan itu harus dibuktikan!"

Haritsah menjawab : "Ya Rasulullah, hawa nafsu telah menyingkir, kalau malam tiba hamba berjaga untuk beribadah kepada Allah dan di waktu siang hamba berpuasa.... Sekarang ini hamba dapat melihat Arsy Allah tampak dengan jelas di depan hamba... Hamba dapat melihat orang di surga saling kunjung mengunjungi, Hamba dapat melihat orang di neraka berteriak-teriak..."

Maka Rasulullah Saw. berkata, "Engkau menjadi orang yang imannya dinyatakan dengan terang oleh Allah SWT di qolbimu".



Sabda Rasulullah Saw.:

…takutlah kamu akan firasat orang-orang mukmin, sebab mereka memandang dengan cahaya Allah…


Bukan ilmu yang men-"jadi", tapi kesadaran yang men-"jadi". Kalau ilmu saja, belum tentu dapat melihat sekalian alam (alam barzakh, alam akhirat, alam para nabi, dll). Akan tetapi, kalau kesadaran kita betul-betul sadar dan tidak ada keraguan lagi bahwa kita bertubuhkan Mahasuci dan berada di dalam Mahasuci--kalau kesadaran ini men-"jadi"--Anda akan merasakan sendiri kebenarannya.

Jadi, penting sekali kesadaran itu dijaga siang-malam, di mana saja berada. InysaAllah tidak akan ada ilmu apa pun yang bisa menembus Anda. Karena Anda sudah bertubuh Mahasuci atau bertubuhkan zat mutlak. Jangan Anda saja yang ada di dalam Mahasuci, bawa semua anak-istri-sanak-keluarga Anda. InsyaAllah terhindarkan dari gangguan-gangguan yang bersifat kesetanan.

Begitu juga ketika Anda menghadapi siapa saja. Sadari Mahasuci tubuh Anda, di dalam Mahasuci Anda berada. Bacalah syahadat. Sudah itu diam sediam-diamnya. Jangan baca ini-itu. Jangan ada zikir-zikir lagi karena Tuhan bukan berupa baca-baca dan zikir-zikir. 

Kalau mau bukti, silakan pakai untuk menghadapi orang-orang kebatinan, kanuragan, dan orang-orang "sakti" lainnya. Atau pakai ketika berada di tempat yang terkenal angker. Tak usah pakai baca-baca. Cukup dengan kesadaran dan diam saja.


Tentang Diam

Apa yang dimaksud dengan diam?
Yang dikatakan diam itu: tidak ada sesuatu lagi, hanya Tuhan saja ADA. Tidak ada dipikir-pikir, dirasa-rasa. Inilah pengertian diam sediam-diamnya. Artinya Tuhan saja ADA. [Laysa kamitslihi syai'un saja yang ADA.]
Di sinilah kita menyatukan pikiran dan perasaan. Bagaimana cara menyatukan pikiran dan perasaan? Diamkan pusat (sama-tengah-hati). Mendiamkan pusat itu bukan ditarik ke dalam atau dinaik-naikkan. 

Jika sudah mempraktikan ini, silakan beritahu saya bagaimana rasanya. Kalau sudah mempraktikkan ini, tidak perlu lagi mengonsumsi obat-obat penenang dan sebagainya.

Agama Itu Bukan Kebatinan 

Tasawuf itu kebatinan. Baru sampai sir saja (sampai ke batin), sedangkan tauhid hakiki itu sampai ke yang ada di dalam sir itu. Sampai ke wa fi sirri Ana.

Ketahuilah, agama itu bukan kebatinan. Agama itu mengandung kejasmanian, kenuranian, keruhanian, dan kerabbanian.

Kebatinan itu masih mempergunakan tekanan alam: untuk ini-untuk itu. Sedangkan, keruhanian adalah tekanan ketuhanan. Itulah sebabnya kebatinan tidak bisa melawan tekanan ketuhanan.

Lihatlah benda-benda angkasa itu. Berapa milyar ton beratnya. Mengapa tidak berguguran menabrak Bumi atau saling menabrak di antara mereka sendiri? Sedangkan gaya tarik (gravitasi) saja masih bisa ditembus. Orang tauhid bilang karena ada tekanan ketuhanan. Tekanan ketuhanan ini tekanan zat mutlak.


Ingat postulat Einstein:

"Segala sesuatu di jagat raya ini bergerak, hanya satu yang diam."
[Tetapi  Einstein pun tidak bisa menyebutkan apa yang diam itu.]

Kelebihan zat asam (
ether) mati, kekurangan zat asam mati. Coba kalau bertubuhkan zat mutlak, tidak akan mati. Buktinya: di akhirat nanti, mengapa kita tidak pandai mati? Karena di akhirat kelak kita hidup dengan zat mutlak.

Rasulullah Saw. bermikraj bisa sampai ke mana saja. Hidup terus. Tidak bawa zat asam karena beliau sudah hidup dengan zat mutlak.



pancaran-budduhun

Tentang Budduhun

Manusia banyak tidak menyadari bahwa pada setiap dahi manusia itu ada mahkotanya. Mahkota itulah Nur Illahi (Cahaya Tuhan). Biasa ulama lama mengatakan."Ada budduhun-nya."

Maka untuk perisai keselamatan dunia-akhirat diri kita, pakailah:
"Tuhan tubuhku. Ya Budduhun."

(Jangan terbalik! Jangan salah paham. Bukan tubuhku Tuhan, tapi Tuhan tubuhku. Dahulukan Tuhan)

Coba kita lihat, orang yang salat itu mengaku dirinya Tuhan. Jangan salah paham dengan perkataan ini. Bukan kita mengaku diri kita Tuhan, melainkan Diri Tuhan yang kita akui "Allahu Akbar" atau ketika membaca Fatihah dan surat-surat lain, semua itu yang kita aku: Diri Tuhan.Maka dalam salat itu hati kita harus kekal terus dengan Tuhan. 

Kalau kita aku diri kita Tuhan, kafir.
   Kalau tidak kita aku diri Tuhan, kufur.

4 Potensi Pandangan Manusia

Jangan lupa, perlu kita ketahui bahwa kita ini mempunyai 4 pandangan:
  1. pandangan jasmani,
  2. pandangan ruhani,
  3. pandangan nurani (rahasia)
  4. pandangan Rabbani (Tuhan)

سَنُرِيهِمۡ ءَايَـٰتِنَا فِى ٱلۡأَفَاقِ وَفِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ‌ۗ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ ۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ شَہِيدٌ
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur'an itu benar.(Q.S. Fushilaat: 53)



Bagaimana kita meng-karam-kan pandang kita pada pandangan Rabbani?

Jika pandangan Rabbani ini kita gunakan, Anda duduk di kutub utara, kami bisa melihat Anda. Pelajarilah kacamata yang empat ini. Hanya orang-orang arif billah yang bisa mempraktikkannya. Carilah pengetahuan orang-orang arif billah karena banyak manusia tidak tahu, sekarang manusia sudah banyak terbenam dalam lumpur sehingga untuk bertemu pun susah.

scratches-lparchive.org
Jika kita bertubuhkan kertas kosong, mustahil tidak mengetahui dengan pasti detail setiap huruf dan maknanya.

ocean-life
Jika kita bertubuhkan samudera, mustahil tidak tahu detail kehidupan air.


Musyahadah yang benar:
Hasilnya bisa mendapatkan kasyaf qalbi dan kasyaf sir.


Wassalam
. Amin.

- Syaikh Sirad -


"Jika kebenaran yg disampaikan Rasulullah kepadaku aku berikan kepada kalian, niscaya kalian akan menghalalkan darahku dan memenggal kepalaku."
-Ali bin Abi Thalib r.a.-


catatan kaki:
Sobat mungkin ada yang belum mengetahui soal adanya konflik tiada henti soal ke-sahih-an suatu hadis. Konflik ini erat kaitannya dengan fenomena bergolongan-golongannya di tubuh Islam, utamanya golongan besar Sunni dan Syiah [jika Allah berkehendak, insyaAllah kita bahas soal hadis "73 golongan" ya]. Kedua golongan ini saling mensahihkah hadis "keluaran" sendiri dan mengingkari hadis keluaran selainnya. Keduanya saling menuduh "berbohong atas nama Rasulullah Saw.". Salah satunya hadis tentang "makhluk pertama yang diciptakan Allah."

Hadis "makhluk pertama" yang dipegang kelompok Sunni:
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Ia menjawab: ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah taqdir segala sesuatu sampai terjadinya hari Kiamat.’” HR. Abu Dawud [no. 4700], Shahih Abi Dawud [no. 3933], at-Tirmidzi [no. 2155, 3319], Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah [no. 102], al-Ajurry dalam asy-Syari’ah [no.180], Ahmad [V/317], Abu Dawud ath-Thayalisi [no. 577], dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu, hadits ini shahih).

Hadis "makhluk pertama" yang dipegang kelompok Syiah:
“Saya bertanya: ‘Wahai Rasulullah, Demi bapak dan ibu saya sebagai tebusan bagimu, kabarkan kepada saya tentang makhluk yang pertama Allah ciptakan sebelum Dia menciptakan selainnya.’ Beliau menjawab: ‘Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu yang Dia ciptakan dari cahaya-Nya. Kemudian Dia menjadikan cahaya tersebut berputar dengan kuat sesuai dengan kehendak-Nya. Belum ada saat itu lembaran, pena, surga, neraka, malaikat, nabi, langit, bumi, matahari, bulan, jin, dan juga manusia. Ketika Allah hendak menciptakan, Dia membagi cahaya tersebut menjadi 4 bagian. Kemudian, Allah menciptakan pena dari bagian cahaya yang pertama; lembaran dari bagian cahaya yang kedua; dan `Arsy dari bagian cahaya yang ketiga. Selanjutnya, Allah membagi bagian cahaya yang keempat menjadi 4 bagian lagi. Lalu, Allah menciptakan (malaikat) penopang `Arsy dari bagian cahaya yang pertama; Kursi dari bagian cahaya yang kedua; dan malaikat yang lainnya dari bagian cahaya yang ketiga. …[di akhir hadits beliau mengatakan] Beginilah permulaan penciptaan Nabimu, ya Jabir.” Diriwayatkan oleh Abdur-Razzaq (wafat 211H) dlm Musannaf-nya, menurut Imam Qastallani dlm al-Mawahib al-Laduniyya (1:55) & Zarqani dlm Syarah al-Mawahib (1:56 dari edisi Matba’a al-’amira di Kairo)

Untuk kasus ini, saya cenderung berbaik sangka pada keduanya dan mencari bukti keterkaitan keduanya pada sumber Islam yang tak perlu sanad lagi, yaitu Quran. Allah itu Esa, maka segala sesuatu itu saling terkait. 

Dalam ilmu linguistik (kebahasaan) ada subdisiplin yang disebut semiotika, yaitu ilmu tentang hubungan tanda-penanda-petanda. Berikut ini analogi sederhana tentang kemungkinan yang ada:


semiotic-chart-of-ilm
Semiotika Qalam dan Nur

Singkatnya, silakan Sobat perdalam ayat-ayat Quran yang menyebutkan soal "nuur". Dalam analisis sederhana ini disimpulkan adanya kemungkinan kedua kelompok sama-sama menerima hadis yang benar. Keduanya menerima hadis bermakna serupa dengan redaksi yang berbeda. 

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, siapa pun yang menafsirkan Nur Muhammad identik dengan Nabi Muhammad Saw. bin Abdullah binti Aminah yang lahir di Mekah dan wafat di Madinah, sungguh Anda kurang cermat meng-iqra dalil. 

Mohon bedakan klausa berikut:
Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah cahaya Nabimu 
                                                    dengan
Wahai Jabir, makhluk yang pertama Allah ciptakan adalah Nabimu. 

Ya, saya sadari tulisan ini akan membuat sebagian orang menandai saya sebagai seorang Syiah atau pendukung Syiah. Itu saya serahkah di hadirat Allah Swt. saat ini detik ini juga. Sejujurnya saya tidak berani beranalogi ini-itu seandainya informasi soal Nur Muhammad tersebut bukanlah dari seorang arif billah yang tidak berdiri dalam golongan mana pun. Mengenai ini semua, tentu akan kita dapati kebenarannya di hadapan al-Mizan kelak. Allahu'alam.

Post a Comment