Sunday, July 8, 2012

Psikologi Lahirnya Agama

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Psikologi Lahirnya Agama-Agama 1

Dalam ilmu psikologi, situasi yang dialami oleh anak pada masa pertumbuhannya membentuk pribadi dan karakternya di masa dewasa. Pada masa anak-anak ambisi, semangat, dan karakter terbentuk. Pada masa ini terbentuk pula luka batin yang akan membawa karakter negatif dalam hidupnya. Saya merasa bahwa psikologi perkembangan ini juga dialami oleh agama-agama.

Buddha

Sejarah agama Buddha mulai dari abad ke-6 SM sampai sekarang dengan lahirnya sang Buddha Siddharta Gautama. Setelah kehidupan awalnya yang penuh kemewahan di bawah perlindungan ayahnya, raja Kapilavastu, Siddharta melihat kenyataan kehidupan sehari-hari dan menarik kesimpulan bahwa kehidupan nyata, pada hakekatnya adalah kesengsaraan yang tak dapat dihindari.

Siddharta kemudian meninggalkan kehidupan mewahnya yang tak ada artinya lalu menjadi seorang pertapa. Kemudian ia berpendapat bahwa bertapa juga tak ada artinya, dan lalu mencari jalan tengah (majhima patipada). Jalan tengah ini merupakan sebuah kompromis antara kehidupan berfoya-foya yang terlalu memuaskan hawa nafsu dan kehidupan bertapa yang terlalu menyiksa diri.

Di bawah sebuah pohon bodhi, ia berkaul tidak akan pernah meninggalkan posisinya sampai ia menemukan Kebenaran. Pada usia 35 tahun, ia mencapai Pencerahan. Pada saat itu ia dikenal sebagai Gautama Buddha, atau hanya “Buddha” saja, sebuah kata dalam Sanskerta yang berarti “ia yang sadar” (dari kata budh+ta).

Perjalanan rohani Buddha Gautama menjadi bagian dari psikologi agama budha. Film Kera Sakti memperlihatkan agung dan mendalamnya ajaran Buddha. Kemendalaman ajaran Budha ini tak terlepas dari keagungan perjalanan Sang Siddharta Gautama dalam memperoleh kebenaran dan mencapai Pencerahan.

Berdasarkan psikologi kelahirannya, agama Buddha tidak punya hasrat untuk masuk ke dalam dunia politik. Dunia politik bagi Buddha sangat identik dengan kemewahan yang telah ditinggalkan oleh Siddharta. Sadar bahwa kesengsaraan tidak dapat dihindari, umat Buddha lebih masuk pada pergulatan rohani pribadi, daripada masuk ke dunia politik yang sangat sarat pada nafsu dan dosa. Meski demikian, Buddha mengajarkan welas asih. Inilah yang menjadi dasar untuk berrelasi dengan dunia.

Hindu

Agama Hindu (Sanskerta: Sanātana Dharma “Kebenaran Abadi”, dan Vaidika-Dharma (”Pengetahuan Kebenaran”) adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini.

Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul.

Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di dunia. Dalam agama Hindu pada umumnya, konsep yang dipakai adalah monoteisme. Konsep tersebut dikenal sebagai filsafat Adwaita Wedanta yang berarti “tak ada duanya”. Dalam konsep tersebut, posisi para dewa disetarakan dengan malaikat dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri, melainkan dipuji atas jasa-jasanya sebagai perantara Tuhan kepada umatnya.

Ajaran agama dalam Hindu didasarkan pada kitab suci atau susastra suci keagamaan yang disusun dalam masa yang amat panjang dan berabad-abad, yang mana di dalamnya memuat nilai-nilai spiritual keagamaan berikut dengan tuntunan dalam kehidupan di jalan dharma.

Sebagaimana dengan Agama Buddha, Agama Hindu menjadi agama yang lahir atas dorongan untuk mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan itu didapat melalui kontemplasi dan perjalanan batin. Hingga kini, psikologi Hindu tersebut membawa umat Hindu pada pencarian kemerdekaan dari penderitaan manusia melalui praktik-praktik askese atau meditasi yang mendalam, atau dengan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui cinta kasih, bakti dan percaya (Sradha).

Psikologi Lahirnya Agama-agama 2

Yahudi

Agama Yahudi adalah agama ibu dari agama Kristen dan Islam. Yahudi pada dasarnya adalah agama eksklusif orang-orang Yahudi. Agama ini lahir pada satu kepercayaan kepada Yahwe yang menjadikan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Allah yang didasari oleh sebuah perjanjian: Yahwe adalah Allah orang Israel dan Israel adalah umat pilihan Allah.

Kitab Pentateukh memperlihatkan sejarah keselamatan Tuhan orang Israel. Tuhan telah membuat perjanjian dengan Abraham bahwa beliau dan cucu-cicitnya akan diberi rahmat apabila mereka selalu beriman kepada Tuhan. Perjanjian ini kemudian diulangi oleh Ishak dan Yakub. Dan karena Ishak dan Yakub menurunkan bangsa Yahudi, maka mereka meyakini bahwa merekalah bangsa yang terpilih. Penganut Yahudi dipilih untuk melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab khusus, seperti mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dan beriman kepada Tuhan. Sebagai balasannya, mereka akan menerima cinta serta perlindungan Tuhan.

Psikologi Yahudi tidak berawal dari kisah manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa. Psikologi Yahudi justru terjadi pada momen di mana Allah memberikan tanah terjanji kepada Abraham. Setelah peristiwa Laut Merah, Tuhan menuntun Musa dan umat-Nya pergi menuju tanah terjanji. Tanah yang dijanjikan Allah itu adalah Israel (dalam pengertian waktu itu). Peperangan-peperangan yang terjadi tidak jauh dari persoalan tanah.

Dari titik tersebut kita bisa menangkap bagaimana orang Yahudi hingga kini masih mengharapkan tanah yang dijanjikan oleh Allah itu kembali. Di sisi lain, hingga kini mereka masih mengharapkan munculnya Mesias yang dijanjikan untuk membawa Israel pada kemuliaan Israel.

Kristen - Katolik

Para pengikut Kristus disebut sebagai Kristen pertama kali di Antiokhia. Setelah Yesus wafat, murid-murid Kristus mulai memiliki cara berdoa yang berbeda. Setelah mereka berdoa di Bait Allah bersama dengan umat Yahudi lain, mereka lalu berkumpul di rumah-rumah jemaat lalu memecahkan roti bersama. Di sini, orang-orang Farisi dan Saduki menyebut kelompok itu sebagai sekte Yahudi yang harus dibunuh karena dianggap menghina Tuhan.

Paulus adalah salah seorang Farisi Yahudi yang merasakan terang kebangkitan Kristus. Ia adalah salah satu dari golongan Farisi yang mempunyai misi untuk membunuh orang-orang Kristen. Jemaat Kristen sejak awal sudah mengalami penganiayaan dan kesulitan dalam beribadah. Bahkan mereka berdoa di katakombe-katakombe (kuburan bawah tanah) yang pengap dan berbau.

Jemaat Kristen baru lepas dari pengejaran dan penindasan setelah pada tahun 313 Kristen menjadi agama negara setelah Kaisar Konstantinus menjadi Kristen. Sebagai agama resmi negara Kekristenan menyebar dengan sangat cepat. Abad gelap Gereja adalah saat di mana Kristen menjadi agama negara. Dengan menjadi agama negara, Gereja justru mengabdi kepada pemerintah. Martin Luther, pendiri Kristen Protestan, adalah seorang imam Katolik yang memprotes praktek Gereja ini. Pecahnya Gereja Kristen menjadi Gereja Katolik dan Gereja Kristen Protestan menjadi titik balik kesadaran Gereja bahwa menjadi masuknya agama ke tata pemerintahan justru membawa agama pada kegelapan.

Sejarah umat Kristen yang panjang diawali dengan serangkaian kesengsaraan orang Kristen dalam melaksanakan iman akan ketuhanan Yesus. Kristen juga mengalami pergerakan yang sangat lambat. Kristen baru menyebar ke seluruh dunia ratusan tahun kemudian setelah jemaat Kristen terbentuk. Psikologi perkembangan Agama Kristen bukanlah psikologi menang dan juga bukan psikologi penguasa. Kristen, sebagaimana pada masa lalu, kini menjadi jemaat yang sabar menghadapi segala bentuk penindasan dan arogansi. Sikap ini terbentuk pada masa yang sangat lama.

Gereja tidak lagi ingin mengulangi abad gelapnya dengan berniat menjadi agama negara. Tak ada ambisi untuk menjadi agama yang paling berpengaruh di dunia. Tak ada hasrat untuk menegakkan hukum Kristus untuk sebagai hukum bagi semua orang. Cukuplah bahwa masing-masing orang Kristen menjadi alter Kristus, menjadi wujud kehadiran Kristus di tengah dunia, maka orang Kristen telah menegakkan kerajaan Allah di dunia.

Demikianlah psikologi lahirnya empat agama yang berani saya telusuri dengan kacamata saya yang terbatas ini. Sungguh, jalan cerita lahirnya agama mempengaruhi karakter agama tersebut pada masa kini. Inilah pentingnya merunut sejarah. Semoga mencerahkan bagi pembaca.

Post a Comment