Tuesday, July 3, 2012

PENGERTIAN HAQIQAT NUR MUHAMMAD & ROSULLOH MUHMMAD SAW

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

PENGERTIAN HAQIQAT NUR MUHAMMAD & ROSULLOH MUHMMAD SAW

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ

Allah adalah cahaya langit dan bumi (QS. 24:35)

 Sesungguhnya Allah Swt. sebelum menciptakan segala sesuatu, terlebih dahulu menciptakan cahaya nabimu dari Nur Allah (Hadis)

Jika bukan karena engkau, jika bukan karena engkau, wahai Muhammad, Aku tak akan pernah menciptakan langit yang tinggi dan mengejawantahkan Kedaulatan-Ku (Hadis).

الفكرة سراج القلب فإذا ذهبت فلا إضاءة له

"Pikiran merupakan lampu hati, ketika hilang pikiran tersebut, maka tidak ada penerangan bagiNya"



Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda,

انا من نور الله وخلق كلهم من نري 
Ana min nurullaahi, wa khalaq kuluhum min nuuri

”Aku berasal dari cahaya Allah, dan seluruh dunia berasal dari cahayaku.”

Dalam hadis lain dari Ibnu Abbas disebutkan, “Sesungguhnya ada seorang Quraisy, yang ketika itu masih berwujud nur (cahaya), di hadapan Alloh Yang Maha Perkasa lagi Mahaagung, dua ribu tahun sebelum penciptaan Nabi Adam as. Nur itu selalu bertasbih kepada Alloh…”

Alloh menciptakan Nur Muhammad, atau al-haqiqat Al-Muhammadiyya (Hakikat Muhammad) sebelum menciptakan segala sesuatu. Nur Muhammad disebut sebagai pangkal atau asas dari ciptaan. Ini adalah misteri dari hadis qudsi yang berbunyi ..

لولاك لولاك ما خلقت العفعلك 
lawlaka, lawlaka, maa khalaqtu al-aflaka—

”Jika bukan karena engkau, jika bukan karena engkau (wahai Muhammad),
Aku tidak akan menciptakan ufuk (alam) ini.” Alloh ingin dikenal, tetapi pengenalan Diri-Nya pada Diri-Nya sendiri menimbulkan pembatasan pertama (ta’ayyun awal).

Ketika Dia mengenal Diri-Nya sebagai Sang Pencipta, maka Dia “membutuhkan” ciptaan agar Nama Al-Kholiq dapat direalisasikan. Tanpa ciptaan, Dia tak bisa disebut sebagai Al-Khaliq. Tanpa objek sebagai lokus limpahan kasih sayang-Nya, dia tak bisa disebut Ar-Rahman. Maka, perbendaharaan tersembunyi dalam Diri-Nya itu rindu untuk dikenal, sehingga Dia menciptakan Dunia—seperti dikatakan dalam hadis qudsi, “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku rindu untuk dikenal, maka kuciptakan Dunia.” 

Tetapi kosmos atau alam adalah kegelapan, sebab dalam dirinya sendiri alam sebenarnya tidak ada. Dalam kegelapan tidak akan terlihat apa-apa. Karenanya, agar sesuatu segala sesuatu muncul dalam eksistensi ini diperlukanlah cahaya.

Melalui cahaya inilah Dia memahami dan dipahami sekaligus. Inilah manifestasi pertama dari Perbendaharaan Tersembunyi, yakni Nur Muhammad. Jadi yang pertama diciptakan adalah Nur Muhammad yang berasal dari “Cahaya-Ku”. Nur Muhammad adalah sebentuk “pembatasan” (ta’ayyun) atas Keberadaan Absolut; dan bagian ini tidaklah diciptakan, tetapi sifat dari Pencipta.

Dengan demikian, berdasar hadis-hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa dunia adalah dari Nur Muhammad dan Nur Muhammad berasal dari Nur Alloh. Karena fungsinya sebagai prototipe aturan tata semesta dalam keadaan global, maka Nur Muhammad adalah wadah tajalli-Nya yang sempurna dan sekaligus kecerdasan impersonal yang mengatur tatanan kosmos, atau Logos, seperti dikatakan dalam hadis masyhur lainnya, “Yang pertama diciptakan Alloh adalah akal (aql al-awwal).”

الفكرة فكرتان فكرة تصديق وإيمان وفكرة شهود وعيان

فالأولى لأرباب الاعتبار والثانية لأرباب الشهود والاستبصار

 "Fikiran dibagi menjadi dua, fikiran yang timbul dari tashdiq dan iman, dan fikiran yang tumbuh dari menyaksikan Allah dan membuktikan wujudNya, yang pertama buat orang-orang yang mempunyai pertimbangan sedangkan yang kedua bagi orang-orang yang mempunyai persaksian kepada Alloh dan penglihatan dengan menggunakan hati". al-hikam


إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26) (البقرة2/26)

 Artinya : "Sesungguhnya Alloh tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari  al-ilah mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Alloh menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Alloh, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Alloh kecuali orang-orang yang fasik. (Q.S. Al-Baqoroh : 26)


Jadi, Nur Muhammad adalah semacam “wadah” yang senantiasa dialiri oleh Cahaya Pengetahuan ilahiah, yang dengan Pengetahuan itulah alam semesta ditata. Maulana Rumi menyatakan bahwa pada saat penciptaan Nur itu, Allah menatap Nur Muhammad itu 70,000 kali setiap detik. Ini berarti bahwa Hakikat Muhammadiyyah itu terus-menerus dilimpahi Cahaya Pengetahuan, Cahaya Penyaksian. Cahaya demi Cahaya terus berdatangan—cahaya di atas cahaya—masuk ke dalam hakikat Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad. Karenanya pengetahuan yang diterima Nabi Muhammad terus-menerus bertambah. Inilah misteri dari doa Nabi yang termasyhur, “Ya Alloh tambahkan ilmu pengetahuan kepadaku.” Sebagai Logos, kecerdasan impersonal, yang menjadi dasar tatanan semesta, sudah barang tentu pengetahuan yang diterimanya tak pernah berhenti, terus bertambah, hingga akhir zaman.

Di dalam Nur Muhammad ini termuat al-a’yan Al-Mumkinah (entitas-entitas yang mungkin). Entitas yang mungkin ini akan menjadi aktual dalam bentuk alam empiris melalui perintah “kun” / seperti firman alloh.

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (4) (الجمعة 62/4)

 Artinya : "Demikianlah karunia Alloh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Alloh mempunyai karunia yang besar". (Q.S.Al-Jum'ah : 4)

. Tetapi tujuan penciptaan belum tercapai hanya melalui alam, sebab alam bukan cermin yang bening bagi Allah untuk mengenal Diri-Nya sendiri. Di sinilah wajah Nur Muhammad yang kedua berperan, yakni sebagai hakikat kemanusiaan—haqiqat Al-Muhammadiyyah atau Insan Kamil. 

SebenarNya Alloh secara langsung mengatur dunia, sebab Dzat-Nya adalah tanzih, tiada banding secara mutlak (transenden). Dia mengatur melalui Nur Muhammad, Logos. Jika Dzat-Nya turut campur dalam pengaturan alam yang penuh pertentangan, maka kalimat Allohu Ahad (lihat kembali bab satu) menjadi tidak berarti....


SebenarNya Alloh secara langsung mengatur dunia, sebab Dzat-Nya adalah tanzih, tiada banding secara mutlak (transenden). Dia mengatur melalui Nur Muhammad, Logos. Jika Dzat-Nya turut campur dalam pengaturan alam yang penuh pertentangan, maka kalimat Allohu Ahad (lihat kembali bab satu) menjadi tidak berarti....  

pengertian ini di ambil dari dialognya NABI MUHAMMAD DAN NABI IBRAHIM dalam firman alloh 

 ‏:‏ عن قول الله - تعالى - ‏:‏ ‏{‏والله خلقكم وما تعملون‏}‏ ‏؟‏

Dan Allah menciptakan kamu dan apa yang Anda lakukan

 فأجاب بقوله ‏:‏هذا مما قاله إبراهيم ، عليه الصلاة والسلام ،
لقومه ‏{‏قال أتعبدون ما تنحتون ‏

Rosululloh Saw menjawab: Ini adalah apa yang dia katakan khabibulloh ibrahim As pada kaumnya
Dikatakan kaumnya: apakah kamu semua bisa menyembah dengan apa yang kamu sekalian tidak mendiami / menempati pada penyembahan itu  sedang AL-ILAH 

 ‏ والله خلقكم وما تعملون‏‏
 
Allah menciptakan kamu dan apa yang Anda lakukan..

أي ما تعملون من هذه الأصنام ليقيم عليهم الحجة بأنها لا تصلح آلهة ،
لأنها إذا كانت مخلوقة لله - تعالى - فمن الذي يستحق العبادة المخلوق أم الخالق‏؟
 
artinya : perkara Apa yang  Anda lakukan di dalam penyembahan ini adalah salah satu berhala hidup apakah itu sebuah haqiqat penyembahan . karena sesungguhnya  mahluk tidak pantas menyembah alloh dengan dirinya untuk melayani AL-ILAH . karena sesungguhnya jika mereka diciptakan oleh alloh  - Maha Kuasa - siapakah yang layak menyembah makhluk atau Sang Pencipta itu sendiri ... ??

 
 ‏ الجواب الخالق‏.‏

Jawabannya yang pantas menyembah adalah Sang Pencipta sendiri ...??

 وهل يستحق المخلوق أن يكون شريكاً في هذه العبادة ‏؟‏ 

Apakah makhluk itu layak menjadi mitra (sekutu) dalam ibadah

لا ‏.‏ فإبراهيم ، عليه الصلاة والسلام ، أراد أن يقيم الحجة على قومه بأن ما عملوه من هذه الأصنام التي نحتوها مخلوق الله -عز وجل.‏

Tidak makhluk tidak pantas menjadi sekutu bagi alloh . 
Kemudian kholilulloh  ibrahim AS menghendaki dan memberi pengertian pada qoumnya bahwa apa yang umat-Nya lakukan dari berhala-berhala yang dia bikin itu di sembah dengan dirinya yang juga sama'' mahluk alloh dan makhluk Alloh yang Maha Kuasa itu menyembah alloh SWT dengan dirinya ??

 - فكيف يليق بهم أن يشركوا مع الله -تعالى - هذا المخلوق ‏.

 Bagaimana bisa memperoleh sebuah makna UBUDIYAH jika dalam penyembahan itu hamba sendiri marasa pantas menjadi sekutu kepada alloh swt . untuk melibatkan mereka dengan AL-ILAH  yang Maha Kuasa - makhluk ini dan itu kata-kata ini apa yang Anda lakukan "apa" nama yang melekat ke bagian belakang mengatakan apa Ini wajah ini menghadap kepada alloh swt ...

 
وليس فيها أنه يبرر شركهم بالله ويقول ‏:‏ إن عملكم مخلوق لله فأنتم بريئون من اللوم عليه ،

 Ini bukan maqom yang dibenarkan Alloh dan mereka syirik mengatakan bahwa makhluk dengan AL-ILAH Anda tidak bersalah dari kesalahan untuk itu ketika keadaanmu (tingkah ubudiyah) tidak menghendaki pada penyembahan itu .. namun hanya alloh yang menyembah dan disembah dan yang beramal 

 عن قول الله - تعالى - ‏:‏ ‏{‏والله خلقكم وما تعملون‏}‏ ‏؟‏
فأجاب بقوله‏:‏هذا مما قاله إبراهيم ، عليه الصلاة والسلام ،
لقومه ‏{‏قال أتعبدون ما تنحتون ‏.‏ والله خلقكم وما تعملون‏}‏
أي ما تعملون من هذه الأصنام ليقيم عليهم الحجة بأنها لا تصلح آلهة ،
لأنها إذا كانت مخلوقة لله - تعالى - فمن الذي يستحق العبادة المخلوق أم الخالق‏؟
 الجواب الخالق‏.‏ وهل يستحق المخلوق أن يكون شريكاً في هذه العبادة ‏؟‏ لا ‏.‏ فإبراهيم ، عليه الصلاة والسلام ، أراد أن يقيم الحجة على قومه بأن ما عملوه من هذه الأصنام التي نحتوها مخلوق الله -عز وجل -فكيف يليق بهم أن يشركوا مع الله -تعالى - هذا المخلوق
وليس فيها أنه يبرر شركهم بالله ويقول ‏:‏ إن عملكم مخلوق لله فأنتم بريئون من اللوم عليه ،
==============================================================================

Semoga keterangan di atas bisa mencerahkan kita dalam jalan yang di ridloi alloh serta selalu dalam bimbingan rolulloh ....

Maka fungsi pengaturan berada dalam tahap wahidiyyah ini, yakni tahap Haqiqat Al-Muhammadiyyah. Rububiyyah (penguasaan, pemeliharaan) menimbulkan kebutuhan adanya hamba dan sesuatu yang dipelihara (kosmos, alam), dan karenanya dibutuhkan penghambaan (ubudiyyah). Haqiqat Al-Muhammadiyyah mengalir dari nabi ke nabi sejak Adam sampai pada gilirannya akan terwujud dalam pribadi Muhammad yang disebut rosul dan hamba (abd)—Muhammad abduhu wa Rosullulloh.

Ketika Muhammad, setelah bertafakur sekian lama di gua, ia mencapai tahap keheningan di mana gelombang dirinya bertemu dengan gelombang Nur Muhammad, maka layar kesadarannya terbuka terang melebihi terangnya seribu bulan.

مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ

Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar....

Maka jadilah ia Rosul. Maka Rosul Muhammad adalah cahaya yang menerangi alam secara lembut dan bisa disaksikan, sebab terang cahaya itu dibandingkan dengan seribu bulan, bukan seribu matahari. 

Dalam konteks ini secara simbolik “Rosul” adalah manifestasi yang lengkap dari tahapan manifestasi, yakni dari martabat wahdah ke martabat alam ajsaam (alam dunia, materi, sebab-akibat). Dilihat dari sudut pandang lain, rasul adalah “utusan” Tuhan yang menunjukkan jalan menuju cahaya atau kepada Tuhan. Karena merupakan manifestasi “lengkap dan sempurna” maka tidak dibutuhkan lagi sesuatu yang lain sesudahnya, dan jadilah dia disebut khotam (penutup)—”tak ada lagi nabi dan rosul setelah aku (Muhammad).” 

الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ

Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.

 Bagian kedua kalimat syahadat, Muhammad rosullulloh, adalah deskripsi dari ciptaan. Muhammad adalah “barzakh” yang memperantarai manusia dengan AL-ILAH . Berbeda dengan bagian pertama syahadat, Laa ilaha illa Allah, yang menegaskan KeESAan dan karenanya eksklusivitas mutlak (tanzih), bagian kedua syahadat ini menunjukkan inklusivitas (tasybih), karena merupakan manifestasi dari Alloh.

Sebagai sebuah deskripsi dari manifestasi, syahadat kedua ini menggambarkan tiga hal sekaligus, yakni Prinsip Asal yang dimanifestasikan (Muhammad) manifestasi Prinsip (Rasul) dan Prinsip Asal itu sendiri (Alloh). Dengan demikian, “Rasul” adalah penghubung “Dzat yang dimanifestasikan” dengan Dzat itu sendiri.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَة

"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu, yang telah menciptakan kamu dari yang satu"

Rosul menjadi perantara antara alam yang fana' dengan Dzat Yang Kekal. Tanpa “Muhammad Rosulluloh” dunia tidak akan eksis, sebab ketika dunia yang fana' dihadapkan pada Yang Kekal, maka lenyaplah dunia itu. Menurut Al-faqir, jika Rosul diletakkan di antara keduanya, maka dunia bisa terwujud, sebab Rasul secara internal adalah tajalli sempurna dari Alloh, dan secara eksternal tercipta dari tanah liat yang berarti termasuk bagian dari alam.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ

"Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah." – (QS.23:12)


ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ


"Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani, (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)." – (QS.23:13)

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." – (QS.23:14)


خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

"Dia menciptakan manusia dari tanah kering, seperti tembikar," – (QS.55:14)

Jadinya, Rosul adalah “Utusan” manifestasi, yang mengisyaratkan “perwujudan” atau “turunnya” Tuhan dalam “bentuk manifestasi atau ayat-ayat” ke dunia, yang dengannya Dia dikenal. Kerasulan adalah alam kekuasaan (alam jabarut). Dengan demikian Muhammad Rosululloh adalah penegasan perpaduan KeESAan Dzat (Wujud), Sifat (shifaat) dan Tindakan (af’al).  Karenanya,menurut pandangan al-faqir—dalam kerosulan, Rasul tidak hanya berhadapan dengan Alloh saja, tetapi juga berhadapan dengan manusia (alam) pada saat ia berhadapan dengan AL-ILAH

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ 

"Sesungguhnya telah datang kepadamu, seorang rasul dari dalam diri kamu sendiri (NUR MUHAMMAD)  sebagai penerang dan awal sebuah syafa'at  nabi MUHAMMAD SAW .. berupa pengertian haqiqat keIMANAN & TAUHID pada diri tiap'' muslim ....

Pengangkatan Rasul, yang berarti “turunnya” AL-ILAH ke dunia, yakni “bersatunya” kesadaran Muhammad dengan Nur Muhammad, terjadi pada laylat Al-Qadr (Malam Kekuasaan), yang terang cahayanya melebihi seribu bulan. Allah dan Nabi Muhammad bertemu dalam “Rasul” yang dijabarkan dalam Risalah, atau Wahyu, yakni Al-Quran. Inilah cahaya petunjuk (Al-Huda) yang menerangi kegelapan alam, yang memisahkan (Al-Furqan) kebatilan atau kegelapan dengan kebenaran atau cahaya. Karena itu Al-Quran sesungguhnya adalah manifestasi “kehadiran penampakan” Alloh di dunia ini.

Sayyidina Ali karromallohu wajhah dalam Nahj Al-Balaghoh mengatakan “Alloh Yang Maha suci menampakkan Diri kepada tiap-tiap hamba-hamba-Nya dalam firman-Nya, hanya saja mereka tidak melihatNya.”
Imam Ja’far shodiq, cucu Rosululloh saw, juga mengatakan, “Sesungguhnya Alloh menampakkan Diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dalam Kitab -Nya (kitab hidup / alam semesta), tetapi mereka tidak melihat.” 

 Di sisi lain, sebagai manusia yang mengandung unsur tanah dan air, Muhammad memperoleh sisi kemanusiaannya. Dia makan, minum dan menikah. Faktor ini amat penting karena menunjukkan bahwa walau Muhammad adalah manifestasi

وجودك عين وجود ربه 

"keadaanmu (mahluk) menjadi kenyataan dari keADAannya tuhanmu"

atau dengan kata lain  tajalli sempurna, insan kamil, dari Alloh, tetap saja Muhammad bukanlah Alloh. Atau, dengan kata lain, yang dimanifestasikan bukanlah Prinsip yang bermanifestasi, dan karenanya tidak ada persatuan antara manusia dan AL-ILAH  dalam pengertian panteisme. Kedudukan manusia paling tinggi justru dalam realisasi penghambaannya yang paling sempurna, abd, “abdi”—gelar yang hanya disebut oleh Alloh bagi Muhammad Saw. 

 Al-’abd adalah “Hamba” atau abdi yang sepenuhnya pasrah kepada Alloh. Seorang abd hidup dalam kesadaran sebagai seorang abdi Alloh. Abd dicirikan oleh keikhlasan. Karenanya, penghambaan sejati bukan lantaran kewajiban atau keterpaksaan. Dalam pengertian umum, kegembiraan seorang hamba adalah ketika dia dimerdekakan oleh tuannya. Tetapi ‘abd merasakan kegembiraan tatkala ia menjadi hamba (Alloh). 

 Derajat ‘abd adalah derajat tertinggi yang bisa dicapai manusia, dan karena itu Alloh menyandingkan kerosulan Nabi Muhammad Saw dengan ‘abd—”Tiada tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah ‘hamba’ dan Rosul-Nya.” Ketika mengundang Rosululloh saw di malam mi’roj, Alloh menyebutnya dengan gelar “hamba”—Mahasuci Alloh yang memperjalankan hamba-Nya di kala malam (QS. 17:1)—dan ini sekaligus menunjukkan kebesaran kualitas ‘abd, sebab hanya ‘abd-Nya-lah yang berhak mendapat undangan langsung menemui-Nya di tempat di mana bahkan Malaikat Jibril pun terbakar sayap-sayapnya.

Dalam tingkatan yang paripurna, hamba yang ingat akan menjadi yang diingat, yang mengetahui akan menjadi yang diketahui, dan yang melihat akan menjadi yang dilihat, yang menghendaki menjadi yang dikehendaki, dan yang mencintai menjadi yang dicintai, karena ia sudah fana pada Allah dan baqa dengan baqa-Nya, dan ia menghabiskan waktunya untuk memandang kebesaran dan keindahan-Nya terus-menerus, seakan-akan dirinya pupus, seakan dia adalah Dia (Allah).

Ini adalah maqom seperti yang disebutkan dalam hadis Qudsi: … “(Aku) menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia memegang, menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan, dan menjadi lidahnya yang dengannya dia bicara.” Jadi jelas bahwa derajat tertinggi adalah pada kehambaan, sebab hanya hamba yang telah menemui kesejatianlah yang akan “naik / asro ” menuju AL-ILAH . Dan pada sang hamba sejatilah Alloh “turun” untuk menemuinya. Ini adalah misteri mi’roj. 

 Penurunan dan kenaikan, laylatul al-qodr dan laylatu al-mi’roj, mempertemukan hamba dengan Tuhannya, melalui kewajiban yang ditetapkan pada saat pertemuan Nabi dengan Alloh, yakni shalat. Setiap mukmin harus mengikuti jejak Rosululloh agar bisa mi’roj, sebab sekali lagi, hanya melalui Rosullulloh sajalah, yakni prinsip “barzakh,” manusia bisa menemukan AL-ILAHnya. Rosul pernah mengatakan bahwa mi’roj-nya umat Muslim adalah sholat. Tanpa sholat, tidak ada mi’roj. Karenanya, sholat adalah wajib. Sholat pula yang membedakan Muhammad (dan umatnya) dengan kaum kafir.
 Sholat adalah langkah pertama dan terakhir dalam perjalanan menuju Tuhan, sebagaimana Nabi Muhammad adalah Nabi paling awal dan paling akhir dari mata rantai kenabian.

Rosululloh saw pernah mengatakan bahwa sholat akan mengangkat hijab, membuka pintu kasyaf, sehingga hamba-Nya berdiri di hadapan-Nya (IKHROM) . Rosululloh juga berkata, “Di dalam sholatlah terletak kesenanganku.” Sebab, sholat adalah bentuk percakapan rahasia antara Alloh dengan hamba. “Percakapan / Munajah ” ini terutama melalui bacaan Induk Kitab Suci, Surah Al-Fatihah. Surah ini terdiri dari dua bagian: yang pertama dikhususkan bagi Alloh dan yang kedua dikhususkan bagi hamba-Nya. Dua bagian percakapan ini disebutkan dalam hadis yang masyhur di kalangan Sufi:
 Aku membagi sholat menjadi dua bagian di antara Aku dan hamba-Ku, setengahnya untuk-Ku dan setengahnya untuk hamba-Ku. (Rasulullah bersabda}”Ketika hamba berucap alhamdulillahi rabbil ‘alamin, Alloh berkata ‘Hamba-Ku memuji-Ku. Ketika hamba berucap Ar-Rohman Ar-Rohim, Alloh berkata ‘Hamba-Ku memuja-Ku.’ Ketika hamba berucap maliki yaumiddin, Alloh berkata ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku.’ Ketika hamba berucap Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Alloh berkata ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku.’ Ketika hamba berkata ihdinash shirothol mustaqim—sampai akhir ayat, Alloh berkata ‘Ini bagi hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’ 

 Sholat bisa dilihat dari dua sisi (IBDAL / pengganti). Sebagai gerak perlambang dan doa/dzikir. Gerakan sholat bukan sekadar gerak tanpa makna, tetapi sebuah tindak “menulis” ayat Alloh dan merealisasikannya. Muslim “membaca” Al-Quran untuk mendapatkan petunjuk tentang hakikat dirinya guna mengenal Alloh, dan Muslim melakukan sholat untuk “menulis” hakikat diri.

Ini berarti pula bahwa dengan shalat seorang Mukmin melahirkan kandungan hakikat kediriannya, seperti sebuah pena yang mengalirkan tinta saat dipakai untuk menulis. Apa yang “ditulis” dalam sholat adalah hakikat kemanusiaan, adam, yakni bahwa manusia sesungguhnya adalah “adam” atau tiada, dan eksistensinya muncul adalah lantaran eksistensi Alloh yang dipancarkan melalui Nur Muhammad.

Dalam salah satu tafsir Sufi, posisi berdiri tegak lurus melambangkan huruf "ALIF" posisi rukuk melambangkan huruf "DAL"  dan sujud melambangkan huruf "MIM". Ketiga huruf ini membentuk kata “ADAM”. Huruf alif bernilai numerik satu yang melambangkan keESAan AL-ILAH. Karenanya begitu seseorang mengangkat tangannya dan berseru “Allohu Akbar,” ia sama artinya dengan “mengorbankan” diri dalam kesatuanNya .

Jika kesadaran tertentu telah dicapai dalam tingkatan keESAan, maka ia akan menunduk, yang mencapai puncaknya dalam sujud. Dalam posisi sujud, otak (rasio) diletakkan lebih rendah daripada hati. Bisa dikatakan rasio haruslah menjadi aspek sekunder dalam mendekati AL-ILAH, sebab “alam semesta tak bisa menampung Alloh, hanya hati yang bisa menampung Alloh” (hadis qudsi). 

Sujud melambangkan penghapusan diri. Diri yang mengaku-aku, begitu berhadapan dengan AL-ILAH yang Esa dan bercakap intim dengan-Nya, menjadi sadar akan hakikat dirinya sendiri.

Maka dia sujud, menghapuskan diri, fana'. Ada dua kali sujud dalam setiap rakaat, yang berarti sang hamba tenggelam dalam fana al-fana', penghapusan dalam penghapusan. Penghapusan pertama dihapuskan lagi, dan jadilah dia pada baqa. Fana' al-fana' menjadikan seseorang adam, “tiada,” yang merupakan hakikat dirinya, dan karena kehapusan diri ini berada dalam pandangan Alloh maka ia hapus dalam keabadian Alloh, baqa', sehingga ia mengalami hidup yang sebenarnya. Sebab, pelenyapan diri dalam Keesaan Alloh berarti pula baqa' “bersama” Alloh.

Dengan kata lain, seorang yang sujud dalam arti sebenar-benarnya ini akan keluar dari kesementaraan dunia, dan masuk ke hari-hari di sisi Al_ilah, atau yaumiddin. Jadinya, akhirat (yaumiddin), bagi seorang sufi, bukanlah waktu di ujung waktu temporal dunia, tetapi dialami pada momen “saat ini”. Sufi adalah putra waktu (Ibnu al-waqt), demikian salah satu prinsip Tasawwuf. Karena secara hakikat sudah “melampaui ruang dan waktu,” maka Sufi sama artinya melakukan sholat yang kekal, “sholat daim”. 

 Di sisi lain, yakni dalam pengertian shalat sebagai doa, ketika Muhammad diperintahkan sholat, maka ini artinya Alloh menjadikan Muhammad sebagai hamba yang memohon (berdoa) dan Alloh adalah menjadikan diri-Nya sebagai yang dimintai permohonan. Karena rosul adalah utusan dari AL-ILAH kepada manusia atau perantara, dan doa juga perantara atau “utusan” dari manusia kepada AL-ILAH dalam bentuk permohonan, maka rosul menjadi titik temu hubungan ini, yang berarti Rosul adalah doa itu sendiri, yakni ‘barzakh” atau pintu perantara antara manusia dengan Tuhan. Di sinilah terletak fungsi sholawat. 

 Dalam sholawat terkandung doa, pujian dan cinta. Karenanya, shalawat adalah salah satu jalan menuju cinta kepada rosul, yang pada tingkat tertinggi menyebabkan seseorang lebur dalam totalitas eksistensi, atau hakikat Muhammad, atau Nur Muhammad.

قال تعالى :  إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." – (QS.33:56)


اللهم صلي وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Shalawat adalah “berkah” yang biasanya disandingkan dengan kedamaian (salam). Shalawat karenanya berfungsi sebagai berkah dari Alloh untuk “menghidupkan” hati dan membersihkan hati agar terserap dalam Nur Muhammad dan sekaligus sebagai kedamaian yang menenteramkan. Dengan demikian, shalawat menjadi pembuka pintu keterkabulan doa seseorang seperti dikatakan dalam hadis, “Doa tidak akan naik ke langit tanpa melewati sebuah ‘pintu’ atau tirai. Jika doa disertai shalawat kepadaku maka doa akan bisa melewati tirai (yakni membuka pintu) itu dan masuklah doa itu ke langit, dan jika tidak (disertai sholawat) doa itu akan dikembalikan kepada pemohonnya.” 

 Sholawat yang diamalkan oleh Sufi dan terutama dalam thoriqoh-thoriqoh amat banyak macamnya—bisa mencapai ratusan. Imam Jazuli mengumpulkan sebagian di antaranya dalam kitabnya yang terkenal, Dalail Khairat. Sebagian lafadz sholawat ini tidak dijumpai dalam hadis standar (shohih) demi wujud cintanya pada rosulloh, dan karenanya sebagian fuqoha menyebut sholawat dari para Sufi adalah bid'ah.

Ini tidak mengherankan karena para fuqaha', yang gagal, atau bahkan tidak mau melampaui sudut pandangnya sendiri, tidak mengakui kasyaf yang menjadi dasar dari bermacam-macam sholawat. Sebagian sholawat Sufi diperoleh dari ilham robbani, atau kasyaf robbani, atau dari mimpi yang benar (ru’ya as-shodiqoh), di mana dalam kondisi itu para Sufi bertemu atau bermimpi bertemu dengan Nabi dan diajarkan lafadz sholawat tertentu dan disuruh untuk menyebarkannya. Karena itu susunan kata dalam sholawat Sufi bervariasi, dan sebagian besar mengandung kalimat yang indah, puitis, yang mengandung misteri dari hakikat Nabi Muhammad & Nur Muhammad, atau misteri fungsi kerosulan dan kenabian Muhammad pada umumnya. 


Penulis pernah ditunjukkan oleh seorang kyai, yang oleh sebagian sudah dianggap berkedudukan Wali Allah, sebuah buku catatan berisi banyak sekali lafaz shalawat yang khusus, misalnya, ada shalawat yang menjadi wasilah untuk mendapatkan ilmu ladunni dan ada juga shalawat untuk menggapai mukasyafah (menyingkap tirai kegaiban spiritual).

Salah satu contoh lain shalawat khusus adalah shalawat terkenal, shalawat Al-Fatih, yang menjadi amalan penting bagi beberapa tarekat seperti Syadiziliyyah dan Tijaniyyah. Menurut sebagian keterangan, Lafaz shalawat ini diilhamkan kepada Syekh Muhammad Al-Bakri r.a., dalam bentuk tulisan di atas lembaran cahaya, ketika Syekh Al-Bakri melakukan khalwat di Kakbah untuk mencari petunjuk cara terbaik bershalawat kepada Nabi. Terjemahannya kira-kira sebagai berikut:

Ya Allah, curahkan rahmat dan keselamatan serta berkah atas junjungan kami Nabi Muhammad saw yang dapat membuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada beliau, keluarganya dan semua sahabatnya dengan sebenar-benar kekuasaan-Nya Yang Mahaagung.

Dalam shalawat ini terangkum banyak hal yang melambangkan misteri kerasulan Muhammad Saw. Sebagian shalawat lain bahkan lebih jelas lagi dalam susunan katanya yang mengakui fungsi hakikat risalah kenabian, seperti: nabi sebagai cahaya Dzat-Nya (shalawat nur al-dzati); yang melapangkan rezeki dan membaguskan akhlak (shalawat litausil arzaq); pengumpul atau kumpulan kesempurnaan (shalawat jauhar asy syaraf); yang memecah-belah barisan orang kafir (shalawat al-muffariq); pemenuh hajat, pengangkat derajat, pengantar ke tujuan mulia (shalawat munjiyat); penghilang keruwetan, pencurah hujan rahmat (shalawat nariyah); penyembuh penyakit hati dan jasmani, cahaya badan (shalawat syifa dan tibbul qulub); dan sebagainya. Bahkan ada shalawat khusus yang hanya untuk penerimanya saja, dan karenanya tak diajarkan kepada orang lain. Shalawat semacam ini biasanya berkaitan dengan kedudukan atau maqam sang Sufi atau Wali itu sendiri. Shalawat rahasia ini mengandung doa dan pujian yang “mengerikan” dari perspektif apapun. Penulis pernah mendengar keterangan shalawat dari seorang Wali Allah, yang dalam artinya mengandung pernyataan “penyatuan atau pencampuran” ruh seseorang dengan ruh Muhammad.

Semua shalawat mengalirkan barakah kepada pembacanya sebab dengan shalawat seseorang “terhubung” dengan “Perbendaharaan Tersembunyi” yang kandungannya tiada batasnya, atau dengan kata lain, dengan shalawat seseorang berarti akan memperoleh berkah “kunci” dari Perbendaharaan Tersembunyi yang gaib sekaligus nyata (yakni dalam wujud Muhammad saw). Karenanya, dalam tradisi Sufi diyakini bahwa bacaan shalawat tertentu mempunyai fungsi dan faedah tertentu untuk mengeluarkan kandungan Perbendaharaan Tersembunyi sesuai dengan kandungan misteri yang ada dalam kalimat-kalimat bacaannya. Misalnya, shalawat Fatih di atas diyakini memiliki pelebur dosa, meluaskan rezeki, bertemu nabi dalam mimpi dan bahkan dalam keadaan terjaga, dan dibebaskan dari api neraka. Contoh lainnya yang masyhur adalah Shalawat Nariyyah, yang menjadi amalan banyak Wali Allah dan juga umat Muslim awam. Diriwayatkan bahwa shalawat ini bisa dengan cepat mendatangkan hajat jika dibaca sebanyak 4444 kali dalam sekali duduk. Seorang putra dari Wali Allah menyatakan bahwa jumlah bacaan shalawat ini tergantung pula pada niatnya. Misalnya, masih menurut beliau, jika kita membacanya dengan niat agar bisa mukasyafah (terbuka hijab gaib), dianjurkan sering-sering membaca 4444 kali dalam sekali duduk, atau setiap malam 313 kali secara istiqamah.

Proses kita menuju totalitas tersebut merupakan upaya untuk menyerap semua nama dan sifat Tuhan secara sempurna dan harmonis melalui perantaraan (barzakh) Rasul. Ini adalah salah satu aspek dari fana fi-rasul. Seorang Sufi atau Wali Allah yang telah mencapai taraf fana fi-Rasul, atau “menyatu” dengan Nur Muhammad, maka ia akan merasakan kehadiran Muhammad bahkan dalam keadaan terjaga, dan bercakap-cakap dengannya. Imam al-Haddad, sang penyusun amalan “Ratib Haddad” yang termasyhur itu, menurut riwayat pernah berziarah ke makam Rasulullah dan mengucapkan salam. Lalu terdengar jawaban dari Nabi atas salam itu. Semua yang hadir bisa mendengarkan jawaban itu.


Bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi dan halus, sebagian Sufi melalui penglihatan batinnya (kasyaf) mereka bisa melihat sosok seorang Sufi sama persis dengan sosok Muhammad, baik dalam bentuk tubuh maupun parasnya. Abu Bakar Syibli, misalnya, dalam keadaan fana mengatakan “Aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu salah seorang muridnya melihat Sybli dalam rupa Muhammad seperti yang pernah disaksikan dalam mimpinya dan kasyafnya.



Maka mendengar sang guru berkata seperti itu, secara spontan ia menjawab “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.” Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Samman. Ketika Syekh Samman sedang fana ia akan terus memuji Muhammad saw dengan membaca shalawat yang menguraikan hakikat Muhammad, yakni shalawat Sammaniyah. Pada keadaan ini kadang beliau berucap, “Aku adalah Muhammad yang dituju” atau “Aku adalah Nabi Muhammad dan Nur Muhammad,” dan “jasadku mirip dengan jasad Muhammad.” 

Salah satu contoh lagi isyarat rahasia terdalam dari Nur Muhammad ini dialami oleh salah seorang murid dari Wali Allah Syekh As-Sayyid Qamarullah Badrulmukminin Musyawaratul Hukuma Qamaruzzaman.

Dalam sebuah mimpi ia melihat Rasullullah, Imam Mahdi dan gurunya memiliki bentuk tubuh dan paras yang sama persis. Dan setiap kali ia bermimpi tentang Rasul, ia selalu menyaksikan gurunya di sisi beliau. Kadang-kadang, menurut muridnya, dalam beberapa perbincangan dengan Syekh As-Sayyid Qamarullah, tidak jelas apakah yang bicara itu Syekh ataukah Rasulullah. Bahkan di beberapa kesempatan, barangkali dalam keadaan “ekstase,” Syekh ini menyatakan dirinya diberi amanat untuk memberi keselamatan (rahmat) alam, sebuah tugas Nabi Muhammad. 

Tetapi tentu saja semua contoh di atas tidak bisa dilihat dari perspektif umum atau lahiriah, sebab hal-hal ini berada dalam konteks gaib dan rahasia ilahi yang hanya dipahami oleh orang-orang yang memang diberi izin dan diberi hak untuk memahaminya.


Kondisi tertinggi dalam persatuan dengan Nur Muhammad ini, secara teori, biasanya dialami oleh para wali yang telah mencapai kedudukan tertinggi, seperti wali Qutb (Kutub) atau Qutb Al-Aqtab (Rajanya Para Kutub) atau Sulthanul Awliya.


Ini adalah salah satu misteri terdalam (al-haqiqot) dari hubungan antara Alloh, Nur Muhammad, Muhammad saw, alam dan manusia (orang mukmin). Sebuah misteri yang tak bisa diselami makna hakikinya hanya dengan  melalui kata-kata. Dan, misteri agung yang suci ini terangkum dalam sholawat agung dari Syekh ‘Arif Billah Al-Qutb As-Syekh Muhammad Samman, sang pendiri tarekat Sammaniyah:

AL-faqir  pernah ditunjukkan oleh seorang kyai, yang oleh sebagian ulama' sudah dianggap berkedudukan Wali Allah karena ke'arifanNya, sebuah buku catatan berisi banyak sekali lafadz sholawat yang khusus, misalnya, ada sholawat yang menjadi wasilah untuk mendapatkan ilmu pengertian Hidup dan ada juga sholawat untuk menggapai mukasyafah (menyingkap tirai keghaiban spiritual). 

 Salah satu contoh lain sholawat khusus adalah sholawat terkenal, sholawat Al-Fatih, yang menjadi amalan penting bagi beberapa Thoriqoh seperti Syadiziliyyah dan Tijaniyyah serta Syathooriyah . Menurut sebagian keterangan, Lafadz sholawat ini di ilhamkan kepada Syekh Muhammad Al-Bakri r.a., dalam bentuk tulisan di atas lembaran cahaya, ketika Syekh Al-Bakri melakukan kholwat di Kakbah untuk mencari petunjuk cara terbaik bersholawat kepada Nabi.

Terjemahannya kira-kira sebagai berikut:

 Ya Alloh, curahkan rahmat dan keselamatan serta berkah atas junjungan kami Nabi Muhammad saw yang dapat membuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus. Semoga Alloh mencurahkan rahmat kepada beliau, keluarganya dan semua sahabatnya dengan sebenar-benar kekuasaan-Nya Yang Maha Agung.

 Dalam shalawat ini terangkum banyak hal yang melambangkan misteri kerosulan Muhammad Saw. Sebagian shalawat lain bahkan lebih jelas lagi dalam susunan katanya yang mengakui fungsi hakikat risalah kenabian, seperti: nabi sebagai cahaya Dzat-Nya (sholawat nur al-dzati) yang melapangkan rezeki dan membaguskan akhlak (sholawat litausil arzaq) pengumpul atau kumpulan kesempurnaan (sholawat jauhar asy syarof) yang memecah-belah barisan orang kafir (sholawat al-muffariq) pemenuh hajat, pengangkat derajat, pengantar ke tujuan mulia (sholawat munjiyat); penghilang keruwetan, pencurah hujan rohmat (sholawat nariyah); penyembuh penyakit hati dan jasmani, cahaya badan (sholawat syifa dan tibbul qulub) dan sebagainya. Bahkan ada sholawat khusus yang hanya untuk penerimanya saja, dan karenanya tak diajarkan kepada orang lain.

Sholawat semacam ini biasanya berkaitan dengan kedudukan atau maqom sang Sufi atau Wali itu sendiri. Sholawat rahasia ini mengandung doa dan pujian yang “mengerikan” dari perspektif apapun. 
Al-faqir pernah mendengar keterangan sholawat dari seorang khoz , yang dalam artinya mengandung pernyataan “penyatuan atau pencampuran” ruh seseorang dengan ruh Muhammad.

 Semua sholawat mengalirkan barakah kepada pembacanya sebab dengan shalawat seseorang “terhubung” dengan “Perbendaharaan Tersembunyi” yang kandungannya tiada batasnya, atau dengan kata lain, dengan shalawat seseorang berarti akan memperoleh berkah “kunci” dari Perbendaharaan Tersembunyi yang gaib sekaligus nyata (yakni dalam wujud Muhammad saw). 

Karenanya, dalam tradisi Sufi diyakini bahwa bacaan shalawat tertentu mempunyai fungsi dan faedah tertentu untuk mengeluarkan kandungan Perbendaharaan Tersembunyi sesuai dengan kandungan misteri yang ada dalam kalimat-kalimat bacaannya. Misalnya, sholawat Fatih di atas diyakini memiliki pelebur dosa, meluaskan rezeki, bertemu nabi dalam mimpi dan bahkan dalam keadaan terjaga, dan dibebaskan dari api neraka. Contoh lainnya yang masyhur adalah Sholawat Nariyyah, yang menjadi amalan banyak

Wali Alloh dan juga umat Muslim awam. Diriwayatkan bahwa sholawat ini bisa dengan cepat mendatangkan hajat jika dibaca sebanyak 4444 kali dalam sekali duduk. Seorang putra dari Wali Alloh menyatakan bahwa jumlah bacaan sholawat ini tergantung pula pada niatnya. Misalnya, masih menurut beliau, jika kita membacanya dengan niat agar bisa mukasyafah (terbuka hijab gaib), dianjurkan sering-sering membaca 4444 kali dalam sekali duduk, atau setiap malam 313 kali secara istiqomah.

 Proses kita menuju totalitas tersebut merupakan upaya untuk menyerap semua nama dan sifat Tuhan secara sempurna dan harmonis melalui perantaraan (barzakh) Rasul. Ini adalah salah satu aspek dari fana fi-rasul. Seorang Sufi atau Wali Alloh yang telah mencapai taraf fana fi-Rosul, atau “menyatu” dengan Nur Muhammad, maka ia akan merasakan kehadiran Muhammad bahkan dalam keadaan terjaga, dan bercakap-cakap dengannya. Imam al-Haddad, sang penyusun amalan “Rotib Haddad” yang termasyhur itu, menurut riwayat pernah berziarah ke makam Rosululloh dan mengucapkan salam. Lalu terdengar jawaban dari Nabi atas salam itu. Semua yang hadir bisa mendengarkan jawaban itu. 

 Bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi dan halus, sebagian Sufi melalui penglihatan batinnya (kasyaf) mereka bisa melihat sosok seorang Sufi sama persis dengan sosok Muhammad, baik dalam bentuk tubuh maupun parasnya. Abu Bakar Syibli, misalnya, dalam keadaan fana mengatakan “Aku adalah Rasulullah.” Pada saat itu salah seorang muridnya melihat Sybli dalam rupa Muhammad seperti yang pernah disaksikan dalam mimpinya dan kasyafnya.

Maka mendengar sang guru berkata seperti itu, secara spontan ia menjawab “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rosululloh.” Hal yang sama juga pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Samman. Ketika Syekh Samman sedang fana ia akan terus memuji Muhammad saw dengan membaca shalawat yang menguraikan hakikat Muhammad, yakni sholawat Sammaniyah. Pada keadaan ini kadang beliau berucap, “Aku adalah Muhammad yang dituju” atau “Aku adalah Nabi Muhammad dan Nur Muhammad,” dan “jasadku mirip dengan jasad Muhammad.” 
Salah satu contoh lagi isyarat rahasia terdalam dari Nur Muhammad ini dialami oleh salah seorang murid dari Wali Allah Syekh As-Sayyid Qamarullah Badrulmukminin Musyawaratul Hukuma Qamaruzzaman.

Dalam sebuah mimpi ia melihat Rosullulloh, Imam Mahdi dan gurunya memiliki bentuk tubuh dan paras yang sama persis. Dan setiap kali ia bermimpi tentang Rosul, ia selalu menyaksikan gurunya di sisi beliau. Kadang-kadang, menurut muridnya, dalam beberapa perbincangan dengan Syekh As-Sayyid Qamarullah, tidak jelas apakah yang bicara itu Syekh ataukah Rosululloh. Bahkan di beberapa kesempatan, barangkali dalam keadaan “ekstase,” Syekh ini menyatakan dirinya diberi amanat untuk memberi keselamatan (rohmat) alam, sebuah tugas Nabi Muhammad. 

 Tetapi tentu saja semua contoh di atas tidak bisa dilihat dari perspektif umum atau lahiriah, sebab hal-hal ini berada dalam konteks gaib dan rahasia ilahi yang hanya dipahami oleh orang-orang yang memang diberi izin dan diberi hak untuk memahaminya. Kondisi tertinggi dalam persatuan dengan Nur Muhammad ini, secara teori, biasanya dialami oleh para wali yang telah mencapai kedudukan tertinggi, seperti wali Qutb (Kutub) atau Qutb Al-Aqtab (Rajanya Para Kutub) atau Sulthanul Auliya'.

Ini adalah salah satu misteri terdalam (al-haqiqot) dari hubungan antara Alloh, Nur Muhammad, Muhammad saw, alam dan manusia (orang mukmin). Sebuah misteri yang tak bisa diselami makna hakikinya hanya dengan  melalui kata-kata. Dan, misteri agung yang suci ini terangkum dalam sholawat agung dari Syekh ‘Arif Billah Al-Qutb As-Syekh Muhammad Samman, sang pendiri tarekat Sammaniyah:

Ya Alloh, semoga Engkau sampaikan sholawat bagi yang kami hormati Muhammad; dia adalah asal-usul dari segala yang maujud, yang meliputi semua falak (benda-benda langit) yang tinggi; huruf  "ALIF " pada Ahmad artinya adalah dzat yang mengalir pada setiap molekul; huruf "HA'" pada ahmad artinya hidupnya makhluk dari awal sampai akhir; huruf " MIM " pada kata Ahmad berarti tahta kerajaan ilahi yang tiada banding; huruf " DAL " pada lafal Ahmad artinya  DILALAH (petuntuk al-ilah) akan keabadian yang awal tanpa akhir . Engkau yang telah menampakkan diri pada Nur Muhammad yang Engkau cintai. Ia adalah tahta kehormatan yang padanya Engkau percikkan cahaya Dzat-Mu. Engkau menampakkan Diri (kepadanya) dengan Cahaya-Mu.

Hakikat Muhammad adalah cermin yang memantulkan keindahan-Mu, memantulkan sinar dalam Asma-Mu dan Sifat-sifat-Mu. Ia bagaikan matahari kesempurnaan yang memancarkan cahayanya bagi seluruh makhluk di alam, yang telah Engkau bentuk seluruh alam ini dari padanya (yakni dari Nur Muhammad).


الأنوار مطايا القلوب والأسرار

"Cahaya adalah kendaraan hati dan rahasia-rahasia"

 Alloh memberi Al-Warid lewat نور dan menuju hati agar bisa dekat kepada Alloh. Hati adalah suatu organ tubuh yang berisi perasaan-perasaaan yang mendorong pada kebaikan dan mencegah maksiat. Hati dibuat Alloh agar manusia cinta kepada-Nya. Namun ketika manusia sibuk dengan dunia yang notabene melalaikan manusia dari Alloh maka dia disebut قطاع الطريق (pemberontak)


إ ن الله ا صطفى ا جسا ما حل فيها بمعا نى الر بو بية و ا زا ل عنها معا نى البشر ية.

 “Sesungguhnya Alloh memilih jasad-jasad (tertentu) dan menempatinya dengan makna ketuhanan (setelah) menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan.”

Setiap orang yang mencapai hakikat Muhammad akan Engkau dudukkan di atas permadani yang berdekatan dengan-Mu. Engkau tetapkan (berikan) kepadanya sebuah kunci perbendaharaan kekasih-Mu yang agung; kunci itu gaib dan tersembunyi tetapi ia (juga) nyata. Kunci perbendaharaan itu menjadi perantara di antara Engkau dan hamba-hamba-Mu. Hamba-Mu hanya bisa naik dengan cinta kepada Ahmad (Muhammad Saw.) untuk menyaksikan kesempurnaan-Mu. (shalawat) ini juga bagi keluarganya yang mengalirkan ilmu hakikat, dan bagi para sahabatnya yang menjadi pelita yang menunjukkan jalan bagi setiap insan. 

Sholawat ini adalah dari-Mu bagi Ahmad, diterima olehnya dari kami dengan berkah keutamaan-Mu. Sholawat ini melekat pada Dzat-Nya dalam gumpalan cahaya tajalli-Nya. Sholawat yang menyucikan hati kita dan rahasia-rahasia batin kita. Shalawat yang mengangkat roh-roh kita dan melimpahkan berkah kepada kita, guru-guru kami, kedua orang tua kami, saudara-saudara kami, dan segenap umat Muslim. Shalawat ini beriring dengan salam dari Engkau Ya Alloh, hingga hari kiamat. Shalawat dan salam yang jumlahnya tak terhitung bagi Muhammad Al-Amin, dan juga kepada keluarganya dan para sahabatnya; segala puji bagi-Mu dari-Mu sepanjang masa. 

Dengan mengaktualisasikan potensi yang bersifat ilahiah ini, berarti kita menafikan wujud kita dan menegaskan wujud Allah, karena wujud kita hanyalah wujud dalam arti majaz (kias), dengan demikian kita kembali ke sifat asli kita yakni ketiadaan, adam, dan karena itu pula kita menjadi cermin yang bening kembali, menjadi seperti pribadi Nabi, yang memantulkan nama dan sifat ILAHIYAH
Post a Comment