Saturday, July 14, 2012

PANDANGAN DUNIA ISLAM TAUHID

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi:


Pelajaran Pertama

Konsep Agama

Prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya:
a)Pandangan dunia dan ideologi
b)Pandangan dunia ilahiah dan pandangan dunia materialistik
c)Agama-agama samawi dan prinsip-prinsipnya.


Konsep Agama

Manfaat buku ini adalah untuk menjelaskan kepercayaan/keimanan dalam Islam, yang dikenal dalam peristilahan Islam sebagai “Ushul al-diin” (pokok-pokok agama). Sebelum mengkaji masalah ini, sangatlah penting untuk mendefinisikan kata “agama” secara ringkas. Sebuah definisi, dalam konteks ilmu logika, menandai permulaan konseptualisasi.

Kata Arab untuk agama adalah ‘Diin’, dan makna leksikalnya (berdasarkan kamus) adalah : ‘ ketaatan’, ‘pahala’, dan ‘ketundukan’.
Dalam istilah teknis, agama berarti mempunyai satu kepercayaan/keimanan kepada “Sang Maha Pencipta” manusia dan alam semesta.Perbuatan-perbuatan yang ditentukan terkait dengan kepercayaan ini juga termasuk di dalam cakupan istilah agama ini. Mereka yang percaya kepada satu Pencipta, bahkan seandainya pun kepercayaan/keimanan mereka tercampur dengan takhayul dan kejahatan, tetap dianggap sebagai ‘beragama’ (‘religious’).Adapun mereka yang menganggap bahwa alam semesta ini sekedar sebuah kebetulan saja sebagai akibat dari sebab-sebab alami dan material saja, mereka ini disebut kaum ‘materialis”.
Atas dasar inilah maka agama-agama kontemporer dapat dikelompokkan menjadi agama yang benar dan agama yang palsu. Agama yang benar dapat juga disebut sebagai sebuah tradisi, yang membawa kepercayaan yang benar, yang sesuai dengan realitas/kenyataan, dan yang dari padanya memancar berbagai perilaku yang menjelaskan dan menguraikan secara rinci agama dan dikuatkan dengan perasaan menjadi benar dan aman.
Prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya
Dengan memahami definisi teknis yang diiberikan kepada kata ‘agama’, menjadi jelaslah bahwa agama dapat dikelompokkan menjadi dua komponen utama :
1) Kepercayaan mendasar atau keimanan, yangmenjadi pondasi bagi peraturan-peraturan praktis, yang terkait dengan agama dan muncul dari dasar-dasar keimanan.
Bagian ini, yang terkait dengan kepercayaan agama, disebut sebagai “pokok-pokok” (Ushul),2). dan bagian yang terkait dengan peraturan praktis dikenal sebagai cabang-cabangnya (furu’). Para ulama Islam menggunakan istilah-istilah ini untuk mengenali dua kategori berikut :
a. Pandangan dunia dan Ideology
Pandangan dunia dapat didefinisikan sebagai “serangkaian kepercayaan universal dan harmonis mengenai manusia dan alam semesta”.
Sedangkan ‘Ideologi’ secara umum dapat dimaknai sebagai “serangkaian cara pandang universal dan harmonis mengenai perilaku umat manusia.”
Dengan mempertimbangkan hal di atas maka istilah ‘pandangan dunia’ (‘worldview’) dapat diterapkan kepada “prinsip-prinsip kepercayaan”, dan “ideologi” dapat digunakan dalam kaitannya dengan ‘hal-hal cabang atau peraturan praktis universal’. Walaupun tetap harus dicatat bahwa, pandangan dunia maupun ideologi tidaklah mengandung aspek-aspek partikular dari prinsip-prinsip dan cabang-cabang. Ideologi juga dapat, kadang-kadang, tumpang tindih dengan pandangan dunia dan mengandung makna-makna dari pandangan dunia.
b. Pandangan Dunia Ketuhanan dan Pandangan Dunia Materialis
Melalui berbagai masyarakat manusia yang berbeda-beda, pandangan dunia yang beraneka ragamnya muncul dan eksis. Pandangan-pandangan dunia itu dapat dikelompokkan menjadi “yang berketuhanan (Ilahiyah)” dan “yang materialistik”.Sebuah ‘pandangan dunia ilahiyah’ adalah berdasarkan realitas metafisikal,sementara pandangan dunia materialistik tidak berdasarkan realitas metafisikal.
Di masa lalu, para pengikut pandangan dunia materialistik dikenal sebagai atheis (dahree), naturalis (tabi’ee), dan kadang-kadang disebut sebagai dualists (zindiq) atau pelaku bid’ah (mulhids).
Materialisme zaman kini muncul dalam berbagai bentuk dan ragam, yang paling terkenal adalah ‘materialisme dialektik’, yang dapat disaksikan dalam filsafat Marxisme.
Melalui pelajaran dalam diskusi ini, menjadi jelas nyata bahwa istilah pandangan dunia dan ideologi dapat juga diterapkan dalam konteks non-agama.
c. Agama Samawi dan prinsip-prinsipnya
Ada berbagai pendapat yang berbeda-beda di antara para sosiolog, antropolog, dan sejarahwan agama, berkaitan dengan kemunculan agama. Bagaimana pun juga dari bukti-bukti yang diketemukan di dalam Islam, kemunculan agama adalah dianggap bersamaan dengan kemunculan umat manusia. Manusia pertama di atas muka bumi ini adalah Adam (as), Rasulullah, yang memproklamasikan monotheisme (al Tauhid).Politheisme dan penyimpangan kebenaran yang kita lihat di sekitar kita adalah merupakan akibat dari manusia yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak mengikuti pedoman yang benar.
Agama-agama monotheistik (Tauhidi), yang juga dikenal sebagai “agama yang diturunkan dari langit (Samawi)”, mempunyai tiga prinsip umum mendasar:
1.Beriman/percaya kepada Satu Tuhan
2.Beriman/percaya kepada kehidupan abadi di akhirat, dan bahawa manusia akan menerima ganjaran atau hukuman terhadap setiap perbuatan yang dilakukannya semasa hidup di dunia.
3.Beriman/percaya kepada Rasul Utusan Tuhan, yang dikirimkan untuk membimbing umat manusia ke arah kesempurnaan dan ke arah pencapaian kebahagian di dunia dan di akhirat kelak.
Tiga prinsip fundamental ini mempersiapkan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan berikut, yang dapat dipertanyakan oleh orang-orang berakal:
“Siapakah Sang Maha Pencipta?’;
“Apakah tujuan akhir penciptaan”
“Dari manakah kita dapat mencari petunjuk agar dapat hidup dengan benar?
Bimbingan tersebut telah menjadi aman melalui turunnya wahyu, dan dikenal sebagai ideologi keagamaanyang telah mewujudkan dirinya di dalam pandangan dunia ketuhanan (illaahi).
Prinsip-prinsip keimanan/kepercayaan agama adalah terdiri dari akibat-akibat wajar, implikasi-implikasi dan detail-detail, yang berbeda-beda yang membawa kepada kemunculan agama yang berbeda-beda, mazhab dan aliran sekte.
Perbedaan dalam keimanan mengenai kenabian, dapat terlihat misalnya dalam prinsip-prinsip Trinitas (sebagai keimanan Kristiani), dan perbedaan dalam kepercayaan terhadap ‘Imamah’(kepemimpinan sosial-politik), yang telah mengarah kepada perbedaan kepercayaan terhadap prinsip-prinsip suksesi (pergantian kepemimpinan atas umat Islam) yang telah memisahkan antara kelompok Sunni dan Syiah.
Point utama yang harus dipertimbangkan adalah monotheisme (Tauhiid); kenabian (Nubuwah), dan hari kebangkitan (Ma’ad), yang merupakan prinsip dasar (fundamental principles) dari semua agama samawi.
Akibat-akibat wajar(corollaries), bagaimanapun juga telah dianggap sebagai satu bagian dari prinsip dasar. Sebagai contoh, kepercayaan terhadap Eksistensi dan kesatuan Tuhan adalah sebuah prinsip dasar. Beberapa ulama Syiah mempercayai bahwa keadilan (‘adl) dapat dianggap sebagai sebuah prinsip yang terpisah, namun dalam kenyataannya hal itu sebenarnya adalah bagian dari prinsip pertama yang telah disebut tadi. Contoh lain adalah bahwa ‘Imamah, yang dianggap oleh beberapa ulama sebagai sebuah prinsip di dalam hak-hak miliknya, sementara kenyataannya hal itu hanyalah kelanjutan dari prinsip kenabian.
Di atas landasan inilahistilah ‘prinsip-prinsip agama’ dapat dikategorikan ke dalam bentuk umum dan bentuk particular. Bentuk umum, ‘prinsip agama’ (ushuludin) berhadapan dengan ‘cabang-cabang’ (furu’din), danpenggunaan partikular istilah-istilahnya adalah untuk sekte particular dan kepercayaan. Bentuk umum juga memasukkan agama-agama samawi lainnya, yang berbagi prinsip-prinsip umum (tauhid, nubuwah, ma’ad).

Pelajaran 2

Pencarian Agama
Dorongan untuk menyelidiki
Adalah merupakan fitrah manusia untuk mencari dan peduli kepada kenyataan (realitas). Manusia dilahirkan dengan kualitas ini, yang tetap akan ada sampai matinya. Kadang-kadang insting untuk mencari kebenaran mungkin saja dirujuk sebagai sebuah “rasa ingin tahu” (‘sense of curiosity’), di mana manusia terdorong untuk merenungkan masalah-masalah keagamaan dan berbagai macam amal perbuatannya, yang akan menolongnya untuk memahami dan mewujudkan sebuah agama yang benar.Dalam proses perwujudan inilah ia menghadapi berbagai pertanyaan:
·Adakah sebuah wujud yang bukan materi yang tak dapat dilihat dan dipersepsi (ghaib)?
·Jika memang ada, adakah kaitannya antara wujud bukan materi dengan dunia materialkita?
·Dalam kehadiran hubungan ini, adakah sebuah Realitas, yang telah menciptakan alam semesta?
·Apakah keberadaan (eksistensi) manusia terbatas hanya pada bentuk/dunia material saja?
·Jika manusia tidak terbatas hanya pada materi/kehidupan dunia, adakah alam yang lain ?
·Dan jika memang ada hubungan antara dua dunia/alam tersebut? Lebih dari itu manusia membutuhkan ilmu pengetahuan mengenai cara terbaik, yang dengannya dia dapat memenuhi kehidupannya dengan kebaikan yang akan menjaminnya hidup bahagia di dunia maupun di akhirat kelak.
Sifat-sifat utama yang dibutuhkan manusia dalam mencari realitas, adalah watak yang intrinsik (hati nurani) dalam dirinya.Keinginan (gairah) manusia, adalah faktor lain yang dapat menantang dan mengukuhkan diadalam mencari kebenaran.Keinginan / gairah tersebut mungkin tidak selalu bersifat ilahiyah (fitrah), tapi juga mungkin berupa nafsu yang diharapkannya memenuhi kebutuhan dunia dan kekayaan materialistiknya. Hal ini tergantung perjuangannya di dalam lapangan ilmu pengetahuan dan kemajuan ilmu pengetahuan eksperimental. Jika agama agama dapat menyediakan alat bagi manusia untuk mencapai tujuan-tujuan duniawinya tanpa kerugian, hal ini akan mengilhaminya untuk lebih jauh menyelidiki agama, karena adalah merupakan fitrah manusia untuk bergerak ke arah kesuksesan dan mencegahnya dari kegagalan.
Dengan memahami alam realitas yang sangat luas, sukar dan berada di luar jangkauan, manusia melarikan diri dengan memilih alam dunia yang lebih mudah dipahaminya dan bersifat eksperimental. Dia memiliki keraguan apakah dia akan menerima suatu keuntungan dari pencariannya terhadap agama, dan apakah dia akan mendapat suatu hasil pada semua hal yang terkait dengan wataknya yang kompleks dibandingan dengan ilmu pengetahuan yang lebih mudah dicapai, dan terus terang manusia mesti mengenali bahwa menyelidiki suatu masalah selain daripada agama tidak mempunyai nilai subjektif, sementara masalah-masalah keagamaan memiliki nilai yang tertinggi.
Perlu dicatat bahwa ilmu psikologi menghitung bahwa ibadah kepada Tuhan adalah menjadi salah satu fitrah/insting bebas manusia, yang terwujud dari ‘rasa keberagamaan’, yang berjalan sejajar dengan rasa ingin tahu, kebaikan dan keagungan. Sejarah dapat meneguhkan para psikolog dan antropolog, bahwa ibadah kepada Tuhan dalam bermacam-macam bentuknya selalu bergabung bersama jejak langkah manusia. Ini selanjutkan membuktikan bahwa ada sebuah kualitas intrinsic (fitrah) yang ada dalam dirinya
Fakta bahwa watak fitrah ini adalah inherent atau ada di dalammanusia, tidak selalu berarti bahwa fitrah ini selalu aktif dan bergetar. Fitrah itu harus lebih dulu ditarik kepeduliannya dan kesadarannya di antara manusia ke arah watak alaminya yang benar. Kekurang-pedulian, konsekuensi lingkungan danpengaruh yang menyesatkan, akan dapat menjatuhkan manusia dari perwujudan watak fitrahnya. Lebih jauh, penyimpangan ini dapat juga terjadi pada insting kita lainnya, yang berakar dari watak yang sangat fitri ini.
Argumentasi untuk pencarian agama dikuatkan dengan insting bebas manusia, yang tidak memerlukan suatu alasan atau pembuktian untuk pertanggungjawabannya.
Bagaimanapun juga, al-Qur’an dan Sunnah Nabi menyediakan kesaksian bahwa agama adalah hal yang fitrah bagi manusia, walaupun kenyataannya bahwa manusia yang bodoh mungkin akan menolak kenyataan ini.

{بَلْ يُرِيدُ الإِنسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ}(القيامة/5).

“Tidak, Manusia ( yang mengingkari hari kebangkitan dan perhitungan. Sehingga dia) berkeinginan untuk terus berbuat dosa.” ( QS Al Qiyamah, 75: 5)
Jika, manusia tidak menyadari watak fitrahnya, dia akan gagal menyaksikan akibatnya dan akan mengingkari eksistensinya. Fakta inilah yang akan menyediakan pera pembaca dengan pembuktian-pembuktian intelektual berikut ini:
a. Pentingnya pencarian ke dalam agama
Menjadisangat jelas bahwa watak fitrah manusia untuk mengetahui realitas dan gairah untuk memenuhi karunia duniawinya adalah daya pendorong bagi perwujudan berbagai sudut pandang manfaat yang berbeda-beda dan penguasaan ilmu pengetahuan.
Dengan melihat kembali kepada sejarah, manusia menjadi peduli bahwa semua manusia terbaik telah menyatakan bahwa mereka telah dikirim oleh Tuhan Sang Maha Pencipta untuk membawa pesan-pesan dan petunjuk bagi umat manusia. Lebih lanjut, untuk penyampaian pesan inilah mereka telah meraih apa-apa yang mereka dapat lakukan dan bahkan telah mengorbankan kehidupan mereka untuk itu.
Di atas landasan itulah, insting alami manusia akan mengilhaminya untuk mencari agama dan untuk merasakan apakah para Rasul dan pesan-pesannya adalah benar dan sesuai dengan penalaran rasional atau tidak. Ketika manusia menyadari bahwa undangan tersebut mencakup kebahagiaan dan kenikmatan abadi, yang berakibat memalingkannya dari darihukuman dan kerugian, untuk alasan apakah kita tidak akan menyelidiki agama?
Ada kemungkinan bahwa manusia tidak akan memutuskan untuk mengejar pencarian yang sesuai ini, dikarenakan kemalasannya, sikap apatis atau prospek agama yang dianggapnya akan membawa pengekangan yang tak diinginkannya. Dalam kasus ini manusia selayaknya mempersiapkan dirinya untuk menghadapi akibat dari perbuatannya, yang akan berakibat pada azab hukuman yang abadi.
Kondisi orang tersebut, yang tidak tertarik kepada agama, adalah sama seperti anak kecil yang belum dewasa yang sakit, yang merasa takut merasakan obat dan menghindari berdekatan dengan dokter. Anak kecil yang berusia muda tidaklah dapat memperhitungkan keuntungan dan kerugian, namun seorang individu yang peduli dan mempunyai kapasitas intelektual untuk membedakan dan meramalkan hasil akhir, tidak akanmenukar kenikmatan duniawi yang sementara ini dengan azab hukuman yang abadi. Al Qur’an menyebutkan orang-orang yang tak peduli telah menukar kerugian abadi dengan kenikmatan duniawi yang sementara, seperti hewan ternak atau bahkan lebih buruk lagi.
{وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنْ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ}(الأعراف/179).
“……Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS Al A’raaf, 7: 179)
Dalam contoh lain, Al Qur’an telah menyebutkan :

{وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآياتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ}(الأنعام/55).

Sungguh binatang terburuk dalam pandangan Allah adalah [mereka yang tak mau mendengar dan masa bodoh dan tak mau memahami] orang-orang yang kafir, karena mereka tidak beriman.”
(QS Al Anfaal, 6: 55)
a. Memecahkan keraguan
Adalah mungkin orang-orang tertentu memandang bahwa pencarian agama adalah tidak menguntungkannya, karena hal itu tidak akan dapat memuaskan hawa nafsunya atau memberikan hasil yang cukup. Mereka bagaimanapun juga lebih suka memanfaatkan waktu dan energi mereka untuk mengejarhal-hal yang akan memberikan hasil penuh buah bagi mereka. Untuk menjawab keraguan ini, kita mesti berargumen bahwa pemecahan masalah-masalah keagamaan adalah tidak lebih rendah nilainya dibandingkan dengan ilmu pengetahuan lainnya. Kita juga selalu peduli bahwa pemecahan masalah ilmu pengetahuan dapat menjadi suatu proses yang panjang dan menyeret keluar, oleh karena itu menyelidiki agama tidak dapat mengabaikan landasan yang akan memanfaatkan terlalu banyak waktu dan energi.
Lebih lanjut, kemungkinannya adalah tidak sebanding,hasil dari kemungkinan juga harus menjadi bahan pertimbangan. Sebagai contoh: dalam bisnis ada sekian persen peluang untuk sukses, dan dalam bisnis B punya …persen peluang. Bagaimana pun juga hasil yang tersedia dalam A akan menjadi $….,dan B akan menjadi $…. Karenanya bisnis A adalah 5 kali lebih disukai daripada bisnis B karena keuntungannya yang prospektif (menjanjikan).
Kita dapat menyimpulkan bahwa kemungkinan dari hasil akhir pencarian agama adalah kemanfaatan yang tak terbatas. Bahkan jika hasil akhirnya adalah kepastian, adalah sangat lemah.
Penelitian yang telah dilakukan terhadap masalah keagamaan adalah sangat penting dibandingan penelitian terhadap issue-issue terbatas, tanpa seseorang dapat mencapai kepastian, penyelidikan keagamaan adalah tidak punya point; tapi dapatkah manusia menemukan kepastian tersebut.
Pelajaran 3 :
Syarat wajib bagi kehidupan umat manusia
·Pendahuluan
  • Dorongan untuk melakukan penyelidikan
  • Manusia adalah makhluk yang mencari kesempurnaan
a)Kesempurnaan manusia tercapai dengan mengikuti akal (intellectual)
b)Peraturan praktis bagi akal intelek yang dibutuhkan sebagai basis spekulasi,
c)Hasil-hasil yang harus dicapai.
Pendahuluan
Pada pelajaran terdahulu kita telah secara relatif membuktikan kebutuhan untuk mencari agama yang benar, yang disandarkan atas watak intrinsik manusia dan insting fitrahnya untuk mencari keuntungan.Motivasi-motivasi inidapat diketemukan pada semua manusia yang tidak bias pandangannya dan yang mempunyai kepedulian intuitif terhadap watak alami mereka.
Tujuan kami dalam bab ini adalah untuk membahas masalah yang sama dari sudut pandang yang berbeda dengan pembahasan pendahuluan lebih halus yang berbeda. Hasil akhir dari argumentasi tersebut adalah bahwa jika seseorang tidak menyelidiki agama dan juga tidak memegang pandangan dunia atau ideologiyang benar, mereka tidak akan mencapai kesempurnaan kemanusiaan. Maka sebuah kondisi yang penting bagi kesuksesan kehidupan seseorang adalah memiliki pandangan dunia dan ideologi yang benar.
Hasil-hasil di atas tergantung pada tiga persyaratan berikut:
1.Manusia secara eksistensial berusaha meraih kesempurnaan.
2.Kesempurnaan manusia dapat tercapai melalui cahaya aktif kehendak bebas, yang muncul atas perintah akal (hukm al-aql)
3.Aturan praktis bagi akal diambil di bawah cahaya pemahaman melalui perenungan realitas. Bagaimanapun juga yang paling penting dari segala realitas tersebut adalah tiga prinsip fundamental pandangan dunia:
a.Keimanan/kepercayaan kepada Tuhan Sang Pencipta,
b.Akhir kehidupan,
c.Sebuah program yang dapat menjamin kesuksesan dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat kelak.

Manusia adalah makhluk yang mengejar kesempurnaan

Seseorang yang peduli kepada watak fitrahnya (instrinsic nature) dan kecenderungan psikologisnya, akan melakukan pencarian sehingga melalui perbuatan-perbuatannya itu memungkinkannya meraih kesempurnaan.
Tidak ada seorang pun yang suka menjadi cacat atau tidak sempurna; dia akan selalu berusaha membuang ketidaksempurnaannya untuk meraih kondisi kesempurnaan. Lebih lanjut ia berusaha menyembunyikan kesalahannya di hadapan orang lain. Gairahnya untuk mengejar kesempurnaan hanya akan efektifjika hal itu diatur melalui latihan-latihan bagi watak fitrahnya, sebagai lawan dari jalan perbuatan yang tidak wajar,yang akan memandu dia ke arah kualitas penyakit-penyakit hatiseperti kesombongan, kemunafikan dan pengagungan diri sendiri.
Oleh karena itu dorongan untuk mencari kesempurnaan adalah sebuah elemen fitrah yang bertenaga, yang dapat dirasakan di kedalaman jiwa manusiaoleh kesadaran masing-masing orang.
a.Kesempurnaan manusia dicapai dengan mengikuti akalnya.
Kesempurnaan tetumbuhan di dunia tumbuhan adalah dengan menghasilkan buah tertentu yang tergantung dari pada kondisi-kondisi tertentu yang cocok bagi pertumbuhan dan perkembangan buah tertentu tersebut. Bagaimanapun juga kondisi tersebut telah ditentukan bagi mereka, karena tidak adanya kehendak bebas bagi dunia tetumbuhan. Di alam dunia binatang, kehendak bebas adalah terbatas pada level insting, yang terbatas pada indera jasmaniah.
Pada umat manusia, bagaimana pun juga, lebih dari dunia hewan dan tumbuhan, memiliki dua keutamaan spiritual, yaitu:
1.Gairah intuisional, yang tidak terbatas hanya pada kebutuhan fisikal saja.
2.Daya akal, yang dengannya manusia dapat memperluas wawasan dunia pengetahuannya secara tidak terbatas. Dua keutamaan ini akan menambah wilayah cakupan ‘kehendak bebas’-nya ke arah yang tak terbatas.
Dengan cara yang sama dengan kualitas tertentu yang telah membantu dunia tumbuhan untuk mencapai kesempurnaannya, dan sama dengan alat bantu indera jasmaniah pada dunia hewan kepada kesempurnaannya, manusia melengkapi kesempurnaannya dengan pertimbangan akal sehat yang tergabung dengan kepeduliannya. Inilah akal /intelek, yang akan dapat membedakan berbagai tingkatan yang berbeda pada gairah/nafsu dan memilih yang terbaik pada saat yang bertumpuk-tumpuk. Berdasar hal di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa perilaku manusia secara tetap dimantapkan dengan kualitas kehendak bebas, yang berevolusi dari gairah khusus yang terpilih dan diakui oleh akal sehat.
b. Aturan praktis bagi akal yang membutuhkan landasan perenungan (speculation)
Perilaku manusia yang digunakan dalam kaitannya dengan ‘kehendak bebas’ adalah sebuah alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Perilaku ini, karenatujuannya adalah bernilai, ini mempengaruhi kesempurnaan manusia. Sebuah perilaku yang akan menyimpangkan dari kesempurnaan bagaimana pun juga, akan berakibat mempunyai nilai negatif.
Ketika akal dapat menilai perilaku manusia dan memastikan nilai harganya, manusia kemudian akan peduli dengan keberadaannya (eksistensinya) dan tingkatan-tingkatan kesempurnaan. Dia dapat mengetahui dimensi yang berbeda-beda dari keberadaan maujudnya dan tujuan penciptaannya. Di atas landasan inilah, ideologi yang benar, yang mengatur system nilai perilaku manusia menjadi saling tercampur dengan pandangan dunia yang benar. Bagaimana pun juga kita tidak dapat menilai perilaku manusia tanpa kita tiba pada prinsip-prinsip tersebut. Pemahaman spekulatif (renungan) yang membentuk pandangan dunia, adalahbasis bagi peraturan praktis bagi akal.
c.Hasil yang tercapai
Dengan mengambil persyaratan persiapan ke dalam pertimbangan, kita dapat memahami pentingnya pencarian (inquiring) ke dalam agama dan memiliki sebuah pandangan dunia atau ideologi yang benar.
Manusia dengan wataknya untuk mengejar kesempurnaan bermaksud mencapai kedudukan sempurna melalui kinerja perbuatan dan perilakunya. Bagaimana pun juga untuk mengetahui perilaku jenis apakah yang dapat membantunya mencapai tujuan ini, ia pada awalnya harus peduli kepada tingkatannya yang tak terbatas dari kesempurnaan.
Untuk memahami hal ini, sangatlah perlu bagi dia untuk memahami keberadaanyanya sendiri, mengetahui asal-usulnya, dan tujuan akhirnya, dan kemudian untuk memahami hubungan positif dan negatif di antara berbagai jenis perilaku yang berbeda-beda dan apa akibat-akibatnya. Dia juga harus dapat mengenali bermacam-macam tingkatan kesempurnaan. Tanpa dia menyadari persyaratan-persyaratan tersebut, yang secara mendasar berlandaskan kepada pengetahuan spekulatif (renungan terhadap prinsip-prinsip pandangan dunia), dia tidak akan dapat memahami aturan praktis bagi akal, yaitu ideologi.
Untuk menyimpulkannya, kita dapat mengklaim bahwa pencarian ke dalam sebuah agama yang benar, yang terdiri dari sebuah pandangan dunia dan ideologi yang benar, adalah sangat penting. Tanpa kepercayaan tersebut, manusia tidak akan dapat mencapai kesempurnaannya, karena perilaku yang didasarkan pada pandangan dunia dan ideologi yang salah tidak akan membawanya ke mana-mana.
Mereka yang mempertahankan kesombongannya,nafsunya yang sakit, dan kekafirannya/ketidak-berimanannya setelah mengetahui kebenaran, pada kenyataannya tidak lebih dari sekedar hewan. Mereka hanya terdorong untuk memuaskan aspek instinghewaniyahnya, sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an:  “Mereka yang tidak beriman dan bersenang-senang dan makan seperti binatang liar makan, maka nerakalah yang pantas baginya.” (QS:)
Ketika manusia telah menghancurkan potensinya untuk menjadi sempurna, dia akan menghadapi akibat-akibat hukuman yang abadi:
“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang, dan mereka terperdaya angan-angan, niscaya mereka akan tahu. “ (QS:)
Pelajaran ke 4 :
Cara pemecahan masalah mendasar
Pengantar
Ragam Epistemologi yang berbeda
a)Jenis-jenispandangan dunia yang berbeda-beda
b)Kritisisme dan penelitian
c)Hasil yang dicapai
Pengantar
Ketika manusia memasuki wilayah pemecahan masalah mendasar pandangan dunia dan cara perwujudan pemahaman prinsip-prinsip sebuah agama yang benar, dia pada mulanya akan menemuibeberapa pertanyaan berikut: Bagaimanakah masalah-masalah itu dapat dipecahkan? Dan bagaimana seseorang mencari asas-asas epistemologi (asal-usul dan cara memperoleh pengetahuan)dan apasarana untuk mencapai hal itu?
Penelitian intensif dan profesional atas pemahaman ini dalam filsafat dikenal sebagai ‘epistemologi’, di mana pemahaman-pemahaman yang berbeda-beda dari manusia dibicarakan dan nilai-nilainya diakui.
Untuk mulai memasuki sebuah diskusi tentang semua jenis pemahaman yang beragam mungkin akan jauh menyimpangkan kita dari tujuan buku ini. Namun kami telah meringkaskan subjek yang dibutuhkan, sebagaimana disajikanberikut ini:

Jenis-jenis epistemologi yang beragam

Pemahaman manusia dalam dibagi ke dalam empat bagian:
1.Pemahaman Eksperimental
Pemahaman yang kita dapatkan melalui indera jasmani dikenal sebagai pemahaman/pengetahuan eksperimental. Akal, bagaimana pun juga memainkan peran aktif dalam mensarikan dan menganlisis presepsi inderawi ini.
Ilmu pengetahuan eksperimental seperti fisika, kimia dan biologi adalah ilmu yang dibangun atas pemahaman eksperimental ini.
2.Pemahaman intelektual
Pemahaman intelektual dibangun melalui abstraksi konsep-konsep. Proses ini sebagian terbesar dibantu oleh akal/intelek, bagaimana pun jugasilogisme mungkin kadang-kadang digunakan sebagai sebuah premis. Wilayah pemahaman intelektual adalah logika, filsafat dan matematika.
3.Pemahamankeimananatau pemahaman religius
Pemahaman ini didasarkan atas informasi yang telah didapat sebelumnya melalui sumber-sumber terpecaya dan telah diterima karena berasal dari orang yang terpercaya dan punya otoritas. Jenis pemahaman ini kadang-kadang dapat menjadi lebih kuat dibanding kepercayaan yang telah berevolusi dari presepsi inderawi dan pengetahuan inderawi.
4.Pemahaman mistikal atau intuitif
Jenis pemahaman ini adalah bertentangan dengan jenis pemahaman/pengetahuan yang telah disebutkan terdahulu. Esensi realitas diketahui tanpa satupun bantuan konsepsi mental,perantaraan atau suatu prosedur apa pun.
Bagaimana pun juga karena pemahaman intuitif atau mistikal didasarkan atas penafsiran atas kesaksian,yang dapat saja berbuat kesalahan, di sinilah kemudian kemungkinannya pemahaman ini juga akan menjadi salah.
a. Ragam pandangan dunia yang berbeda-beda
Dengan mempertimbangan pembagian epistemologi di atas, pandangan dunia pun dapat dibagi sebagai berikut:
1.Pandangan dunia ilmiah:
Didasari oleh hasil dari ilmu pengetahuan eksperimental, manusia membangun sebuah visi universal, yang dikenal sebagai pandangan dunia ilmiah/scientific.
2.Pandangan dunia filosofis
Pandangan dunia ini didasari oleh visi yang didapatkan dari argumentasi intelektual (akal).
3. Pandangan dunia keagamaan:
Manusiadalam pandangan keimanannya dan kepercayaan-nya terhadap para pemimpin agama datang menghampiri perwujudan sebuah visi, yang dapat diklasifikasikan sebagai sebuah pandangan dunia keagamaan.
4.Pandangan dunia irfani:
Pandangan dunia yang didapat melalui pensucian diri, sebagai hasil dari pencerahan (kasyaf) dan penyaksian (syuhuud)
Kita sekarang akan melihat apakah keempat prosedur di atas akan dapat memecahkan masalah mendasar pandangan dunia dan menyiapkan pemecahan masalah yang bijaksana. Kemudian kita akan memutuskan, pandangan dunia yang mana yang paling baik.
b. Kritisisme dan Penelitian
Pemahaman eksperimental adalah terbatas hanya pada alam/duniamateri. Ilmu pengetahuan ilmiah dan eksperimental telah membuktikan atau menafikan masalah-masalah yang terkait dengan prinsip-prinsip pandangan dunia.
Sebagai contoh, seseorang tidak dapat membuktikan membuktikan atau menyangkal eksitensi Tuhan dengan bantuan sebuah eksperimen laboratorium.
Lebih lanjut, dunia pemahaman eksperimental adalah terbatas (tidak dapat) dalam memahami dan menjawab masalah mengenai kenyataan/realitas metafisikal.
Oleh karena itu, menjadi jelaslah bahwa seseorang tidak dapat memahami prinsip-prinsip pandangan dunia, dan memecahkan masalah yang terkait dengannya, atau bahkan untuk menjadi peduli dengan teka-teki yang terkait dengannya bila mendasarkan diri kepada pemahaman ilmiah & pengetahuan eksperimental.
Pemahaman yang memancar keluar dari ketaatan dan tuntutan agama sebagaimana telah disebutkan, kemapanannya tergantung kepada satu sumber yang dapat dipercaya
Pertama-tama keberadaan ‘Yang Asli’ (‘Yang Awal’) harus dibuktikan, yang diikuti dengan pembuktian kenabian, sehingga karenanya pesan-pesan dapat diketahui dan aman. Prinsip eksistensi/keberadaan ‘Yang Asli’ (Yang Awal) dan kenabian tidak dapat dibuktikan melalui pesan (ayat-ayat). Sebagai contoh, sesorang tidak dapat berargumentasi, bahwa karena al-Qur’an telah menyebutkan adanya Tuhan maka Tuhan telah terbukti adanya.
Sesungguhnya, setelah membuktikan eksistensi Tuhan, mengenali Nabi Utusan Tuhan, dan kebenaran Al Qur’an, seseorang dapat menerima bantuan keimanan dan amal-amal yang didasarkan saluran terpercaya (Nabi Allah) dan sumber terpercaya (Tuhan Allah).
Oleh karena itu, masalah-masalah tersebut tidak dapat memanfaatkan ketaatan untuk menjawab pertanyaan mendasar tentang prinsip-prinsip (eksistensi/keberadaan Tuhan, kenabian, dll.) yang terkait dengan pandangan dunia.
Bagaimanapun juga, sarana ma’rifat (irfan) dan pencerahan membutuhkan serangkaian diskusi :
·Sebuah pandangan dunia adalah pemahaman yang dicapai melalui kebaikan konsepsi mental; namun tidak ada tempat bagi konsepsi mental dalam dunia persaksian.
·Sebuah penafsiran kesaksian dan ekspresinya dalam kata-kata membutuhkan pikiran intelektual dan keterampilan yang memiliki latar belakang penelitian ekstensif dalam filsafat. Mereka yang lemah akalnya dan tidak punya sarana yang terampil untuk membawa/menyampaikanmakna-makna secara akurat, dapat menggunakan konsep dan kata-kata yang sama namun yang mengarahkan ke penyimpangan umum dan ketidakwajaran.
·Seringkali, realitas, yang telah disaksikan, berada di bawah pengaruh khayalan dan penjelasan yang diberikan pikiran, bahkan untuk kesaksian seseorang yang tidak akurat.
·Mendapatkan realitas, yang dikenal sebagai pandangan dunia (sebagaimana ditafsirkan oleh akal) adalah melampaui perjalanan spiritual (ruhaniah). Penerimaan jalan ruhaniyah (syair wa suluk), yang dengan sendirinya berasal dari pemahaman praktis, membutuhkan landasan perenungan/pemikiran spekulatif dan masalah-masalah pandangan dunia. Untuk mengawali perjalanan ruhaniah, seseorang harus memecahkan masalah-masalah mendasar pandangan dunia. Pemenuhan masalah-masalah ini akan melibatkan pemahaman Gnostic (Irfani/ma’rifat).Sesungguhnya, mistisisme yang benar (‘irfan), hanya dapat terwujud pada diri seseorang yang berada dalam jalan pengabdianibadah dan yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk kebenaran. Proses ini adalah tunduk patuh kepada pemahaman terdahulu terhadap Tuhan dan jalan pengabdian (ibadah) dan penyerahan diri (Islam).
c.Kesimpulan
Satu-satunya jalan untuk memecahkan masalah mendasar pandangan dunia adalah secara intelektual (aqly), yaitu melalui penggunaan akal sehat. Untuk alasan inilah pandangan dunia yang benar dapat dikenal sebagai pandangan dunia filosofis.
Bagaimanapun juga mengetahui cara memecahkan masalah-masalah melalui pandangan dunia filosofis tidaklah cukup, namun untuk mencapai sebuah pandangan dunia yang tepat, juga tidak perlu memecahkan semua masalah filsafat. Tapi cukup memecahkan beberapa masalah filsafat yang sederhana yang sebenarnya swabukti (terbukti dengan sendirinya) untuk membuktikan eksistensi Tuhan (masalah mendasarpandangan dunia).
Tidak perlu dilihat secara berlebihan, bahwa untuk menjadi terspesialisasi dalam masalah-masalah keagamaan dengan maksud untuk memiliki kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan dan keraguan-keraguan, membutuhkan kajian filsafat yang mendalam. Selanjutnya, pemikiran filsafat harus diwujudkan karena jenis lain dari epistemologi adalah terbatas bila dibandingkan dengan pemahaman intelektual (akal), namun ini tidak berarti bahwa hal-hal itu tidak revelan, informasi selebihnya darinya dapat juga dimanfaatkan dalam memecahkan masalah-masalah.
Mayoritas argumentasi intelektual menggunakan sebuah kombinasi pengetahuan intuitif, pemahaman eksperimental dan persepsi inderawi sebagai premis-premis. Oleh karena itu setelah menyimpulkan sebuah pandangan dunia dan ideologi yang benar seseorang dapat sampai pada visi mistikal (mukasyafah) melalui perjalanan ruhaniyah tanpa satupun perantara konsepsi mental. Bagaimana pun juga intuisi-intuisi mistikal tersebut dapat dibuktikan dengan argumentasi intelektual.
Pelajaran ke-Lima
Mengenal Tuhan
·Pendahuluan
·Pengenalan melalui Ilmu hudhuri (knowledge by presence) dan
Ilmu capaian (knowledge by acquisition).
·Pengenalan melalui watak hakiki
Pendahuluan
Dasar-dasar agama adalah kepercayaan/keimanan terhadap Tuhan Sang Maha Pencipta Alam Semesta. Point ini membentuk bagian-bagian yang dapat dibagi lagi, yang memisahkan pandangan dunia ketuhanan dari padangan dunia materialistik.Faktor utama yang muncul dalam pencarian realitas adalah apakah Tuhan itu ada atau tidak ada (eksis atau tidak eksis). Kita harus sampai pada kesimpulan positif atau negatif melalui penggunaan akal. Jika kesimpulannya adalah positif, kemudian kita meneruskan untuk meninjau masalah kedua (seperti: keesaan, keadilan, sifat–sifat Tuhan lainnya.)Jika, dengan kata lain hasilnya membuktikan menjadi negatif, kemudian kita menerima pandangan dunia materialistik dan tidak ada lagi kebutuhan untuk melakukan penyelidikan ke dalam agama.
Pengetahuan melalui ‘ilmu hudhuri’ (knowledge by presence) dan ilmu capaian (knowledge by acquisition)
Ada dua cara untuk mengetahui Tuhan; cara pertama adalah melalui ilmu pengetahuan capaian(acquired knowledge/knowledge by acquisition) dan cara yang lain adalah melaui ilmu hudhuri ( Ilmu yang dihadirkan/ knowledge by presence).
Makna dari Ilmu Hudhuri adalah berarti bahwa seseorang mengetahui Tuhan melalui sejenis persaksian bathiniah, tanpasatupun perantara atau konsepsi mental. Hal ini adala swabukti (terbukti dengan sendirinya)bahwa jika seseorangmemiliki kesadaran penyaksian Tuhan –cara yang telah diakui oleh para Irfan yang agung— kemudian dia tidak membutuhkan satupun pembuktian intelektual ataupun penalaran. Bagaimana pun juga untuk rata-rata orang, pengetahuan dan visi jenis ini hanya dimungkinkan melalui pembinaan diri dan perjalanan ruhaniyah. Walaupun sebuah versi yang lemah darinya hadir dalam rata-rata orang, ini tidak tercampur dengan kepedulian dan tidak dianggap cukup untuk mencapai pandangan dunia.
Makna pengetahuan capaian adalah bahwa seseorang melalui usaha pencapaian dengan bantuan konsep-konsep universal –seperti Sang Maha Pencipta, Sang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dll.— menyatakan secara intelektual (aqly) Wujud (eksistensi) Tuhan.
Bagaimana pun juga pemahaman ini terbatas dan tidak memadai karena hal ini melekat pada kapasitas intelektualdari orang tersebut dan kemudian dia terkait dengan tambahan ilmu pengetahuan capaian bagi landasan ini untuk memantapkan sebuah sistem kepercayaan yang harmonis (pandangan dunia). Ilmu pengetahuan capaian muncul dari pembuktian intelektual (akal) dan pemikiran filosofis. Sekali capaian dapat dimasuki oleh seseorang, dunia pemahaman dan mewujudkan pengetahuan Hudhuri (yang dihadirkan) akan terbuka.
Pengetahuan melalui watak fitrah (intrinsic nature)
Dalam kebanyakan wacana para wali, ‘urafadan filosof, kita menemukan bahwa mengenal Tuhan adalah watak insting alami manusia, dan sesuatu yang inherent dalam dirinyamelalui watak intrinsik (fitrah-nya). Untuk mengerti definisi ini seseorang harus menentukan hakikat makna watak fitrah (intrinsic nature).
Dalam bahasa Arab, kata ‘fitrah’ digunakan untuk menyatakan ‘sejenis Penciptaan’ . Hal tersebut, yang terkait dengan watak hakiki, disebut‘fitri’, dan melalui hal itu makhluknya tergantung pada sesuatu yang telah Wujud (eksistent)Kita menganggap hal tersebut, yang fitri, mempunyai gambaran tertentu :
1. Makhluk-makhluk yang berbeda-beda semuanya mempunyai watak fitrah yang sama di dalam spesies mereka, walaupun ada banyak variasi mengenai kekuatan dan kelemahan.Hal yang terkait dengan watak fitrah dalam wacana sejarah telah ditentukan sebagai permanen dan abadi.
Fitrah Allah, yang dengannya umat manusia telah diciptakan. Tidak ada perubahan dalam fitrah penciptaan oleh Allah. ( 30-30)
2. Watak fitrah adalah mencukupkan dirinya sendiri dari pendidikan dan pelatihan, bagaimana pun juga fitrah ini dapat diintensifkan dan dibimbing melalui bantuan disiplin. Watak fitrah ini dapat dibagi ke dalam dua bagian:
a. Pengetahuan yang terkait dengan watak fitrah yang dikaruniakan kepada manusia dan tidak didapat melalui belajar.
b. Kecenderungan dan gerak hati yang terkait dengan watak fitrah dan yang merupakan elemen penting dalam penciptaan setiap individu.
Di atas landasan ini, jika kepedulian terhadap Tuhan muncul dari dalam diri setiap umat manusia dan bukan merupakan hal yang dibutuhkan manusia untuk didapat melalui penelitian, lalu hal ini dapat disebut “mengenal Tuhan melalui watak ‘fitrah’. Jika semua manusia cenderung beribadah kepada Tuhan, lalu itu dapat dikenal sebagai ‘ibadah melalui watak fitrah’
Di dalam pelajaran kedua kami telah menyebutkan bahwa banyak ahli di bidang antropologi dan psikologi telah memiliki kecenderungan ke arah agama sebagai psikologis dan telah melabelinya sebagai ‘rasa keberagamaan’ atau ‘sentimen beragama’.
Kita mesti menekankan bahwa ‘mengenal Tuhan’ adalah berdasarkan watak fitrah manusiawi. Bagaimana pun juga watak fitrah pengetahuan dan pengabdian kepada Tuhan adalah tidak dengan kepedulian penuh dalam sebuah cara sehingga hal itu akan dapat mencukupkan orang-orang awam dari penalaran intelektual.
Kita tidak boleh lupa bahwa elemen ilmu hudhuri ada dalam setiap individu dalam sebuah derajat yang paling rendah dan disempurnakan melalui penalaran intelektual.Sebagai kesimpulan, mengenal Tuhan adalah watak fitrah, berarti bahwa hati manusia peduli terhadap Tuhan, dan jiwanya memiliki potensi mengenal Tuhan dengan kepedulian penuh.
Pelajaran ke-Enam
Cara sederhana mengenal Tuhan
Cara-cara mengenal Tuhan
a) Kekhususan cara-cara sederhana
b) Tanda-tanda yang mudah diketahui

Cara-cara mengenal Tuhan

Ada beberapa medium yang melaluinya manusia dapat mengenal Tuhan, banyak di antaranya yang telah disebutkan dalam beragam buku-buku filsafat, theologi, dan di dalam wacana para wali (orang-orang suci).Medium tersebutatau cara-cara yang telah menggunakan bentuk-bentuk tertentu penalaran dan pembuktian: sebagai contoh beberapa orangtelah menggunakan indera jasmaniah dan ilmu pengetahuan eksperimental, dengan kata lain beberapa orang telah menerapkan argumentasi intelektual sebagai premis untuk mengetahui Tuhan. Beberapa mazhab berusaha untuk membuktikan adanya Tuhan secara langsung dan mazhab tertentu hanya membuktikan keberadaan/eksistensi-Nya, yang tidak tergantung kepada satupun eksitent (necessary existent/wajibul wujud). Untuk memahami kompleksitas-Nya (sifat-sifatnya), pembinaan argumen lainnya dibutuhkan.
Pembuktian dan penalaran pengetahuan tentang Tuhan dapat dibandingkan kepada keanekaragaman cara seseorang menyeberangi sebuah sungai: beberapa orang lebih suka berenang, beberapa orang lainnya lebih suka menggunakan jembatan kayu yang melintang di atas sungai, sehingga seorang pejalan yang berat dapat melintasi dengan mudah dan mencapai tujuannya. Jembatan lain mungkin dibangun dari batu-batu, sehingga menjadi lebih kuat dan tahan lama, cara-cara tersebut lalu menjadi lebih panjang. Akhirnya, beberapa jembatan seperti jembatan besi yang meliuk-liuk, yang terdiri darijalur kereta api, menyiapkan cara perjalanan yang lebih kompleks.
Seorang dengan pikiran yang sederhana dapat mengenali Tuhan melalui cara yang sangat sederhana dan memenuhi tanggung jawabnya dalam beribadah. Jikaseseorang menemui banyak kritisisme, yang menyebabkan keraguannya, lalu dia lebih suka jembatan batu. Orang yang terlibat dengan keraguan yang ekstrim dan pertanyaan yang harus memilih jalan yang kompleks; ini adalah penting baginya, bahkan walau melalui jalannya mejadi semakin panjang.
Kita kini bermaksud membuat garis besar tiga tingkatan yang berbeda, yang denganya manusia dapat mengenal Tuhan. Pertama dengan membatasi pada cara sederhana, lalu carapertengahan, dan akhirnya cara yang lebih kompleks, jalan/cara-cara ini menghasilkan beberapa masalah mendasar dalam filsafat dan bagi pemikirannya, yang penuh dengan keraguan dan yang telah menjadi menyimpang dari kenyataan dan tujuan.
a. Kekhususan cara sederhana
Cara sederhana dalam mengetahui/mengenal Tuhan diberikan dengan berbagai keuntungan dan keistimewaan, yang paling penting di anataranya dikemukankan sebagai berikut ini:
1. Cara permulaaan adalah cara yang paling sederhana dari semuanya dan tidak memerlukan premis yang rumit atau canggih. Ini mudah dipahami oleh semua tingkatan pemikiran.
2. Cara/jalanini langsung menerima Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta yang Maha Bijaksana. Dalam jalan ini tidak seperti filsafat atau theologi(kalam) di mana pembuktianeksistensi Tuhan adalah yang pertama dilengkapi dan kemudian diikuti dengan pembuktian kebenaran sifat-sifat-Nya melalui penalaran akal.
3. Cara ini didasarkan dan penekanan pada watak fitrah manusia. Melalui perenungan dan pemikiran manusia akan menyaksikan keindahan Tuhan dalam penciptaan sebagaimana dalam perwujudannya yang lain.
4. Para wali (orang suci) membimbingumat untuk memanfaatkan cara ini, yang berdasarkan watak fitrah manusia. Bagaimana pun juga ketika berdiskusi atau berdebatdengan kaum atheis, filosof materialis atau orang-orang yang sok cerdas, para imam akan memilih metode yang beragam untuk berdebat
b.Tanda-tanda yang mudah dikenal
Dengan merenungkan tanda-tanda (ayat-ayat) di sekitar kita, manusia akan sampai kepada sebuah pemahaman terhadap Penciptanya.Dalam peristilahan al-Qur’an perenungan tersebut disebut sebagai ‘merenungkan atau memikirkan tanda-tanda kebesaran Tuhan Allah’. Karena itu segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi dan apa-apa yang ada di dalam diri manusia sendiri mencerminkan Tuhan dan menjadi saluran qalbu merasakan kehadiran bimbingan Tuhan di alam semesta.
Buku yang Anda pegang di tangan saat ini adalah sebuah tanda dari penulisnya. Bukankah benar bahwa dengan membacanya, Anda menjadi peduli bahwa penulisnya adalah cerdas dan mempunyai sebuah tujuan? Pernahkah Anda berpikir bahwa karya tulis ini adalah hasil akibat dari serangkaian reaksi tanpa tujuan? Bukan itu sebuah pikiran yang absurd jika mengatakan bahwa sebuah ensiklopedia yang terdiri dari ratusan jilid hadir keberadaannya sebagai sebuah efek ledakan yang terjadi di tambang logam, pecahannya yang mengambil bentuk huruf-huruf dan melalui perjumpaan yang terjadi secara kebetulan dengan sepotong kertasmenjadikan tulisan muncul dan kemudian dan lalu kertas-kertas itu juga secara kebetulan menjadi teratur dan menjadi berjilid-jilid?
Menerima peristiwa secara buta sebagai sebuah alat untuk menjelasakan alam semestasebagai sebuah fenomena kebetulan saja, dengan segala rahasia tersembunyi dan yang terbukadan kebijaksanaan di balik itu, adalah ribuan kali lebih absurd dari pada pemikiran yang sudah disebutkan tadi! Setiap tatanan yang sudah ditentukan adalah sebuah tanda-tanda dari sebuah penentu yang mengatur dan menentukan. Jenis keteraturan tatanan dapat dirasakan di semua jagat alam semesta.
Keteraturan tatanan di alam semesta ini telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta Yang Maha Bijaksana, yang secara terus-menerus mengelola (me-manage) alam semesta ini.
Semak-semak tanaman bungan mawar akarnya tertanam dalam lumpur dan tanah di dalam sebuah kebun yang indah, yang mempunyai warna-warna tertentu dan wewangian yang beraneka ragam, sebuah pohon apel berasal dari sebuah biji dan setiap tahun menghasilkan banyak buah apel yang sangat enak rasanya, bagus warnanya dan harum baunya.
Kemudian nyanyian burung bul-bul, anak ayam yang menetas dari sebuah telur, dengan paruhnya yang mematuk-matuk tanah, dan anak sapi yang baru lahir yang menyusui induknya, pada saat yang sama dadanyasiap dengan suplai susu untuk bayi manusia, dll. Semua ini adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Bukankah menakjubkan melihat bahwa lebah madu, sapi dan kambing menyediakan bagi manusia madu dan susu khusus hanya untuknya dalam jumlah yang tak terbatas?Manusia yang tak mau berterima kasih (bersyukur) bagaimana pun juga tidak mengetahui karunia-karunia yang mudah dikenali ini, dan menghadapi semua ini dengan konfrontasi dan pengingkaran.
Di dalam tubuhnya sendiri manusia dapat melihat akibat yang jelas dari kebijaksanaan pengawasan Tuhan; bentuk badan dengan pembagian fungsinya yang seimbang, struktur luaran yang vital dengan organ dalam harmonis yang tersusun dari jutaan sel, yang semuanya berasal dari sebuah sel induk, masing-masing sel mengandung porsi tertentu materi khusus untuk suatu fungsi yang tepat, seperti ketika kita bernafas: oksigen melewati paru-paru, lalu diangkut oleh sel darah merah ke sel-sel, dan hati yang memproduksi gula yang dibutuhkantubuh manusia, dan penggantian sel-sel rusak dan mati dengan sel-sel yang baru, dan pertahanan tubuh manusia oleh sel darah putih melawan virus-virus dan mikroba-mikroba, dan berbagai jenis hormon –yang diproduksi oleh berbagai kelenjar- mengorganisasikan tugas-tugas psysiologis dari tubuh manusia, semua yang disebut di atas adalah tanda-tanda kekuasaan Tuhan AllahYang Maha Kuasa.
Sistem physiologis ini begitu misterius, dan bahkan melalui puluhan abad yang telah lewat, manusia masih harus terus melakukan penelitian untuk menemukan fungsi-fungsinya. Jika seseorang melakukan penelitian terhadap detil-detil yang paling kecil dari sel hidup, dia tidak akan ragu lagi bertanya siapakah yang telah mengatur dan menciptakannya di balik itu semua. Ini adalah kebijaksanaan Tuhan Maha Pencipta yang Maha Sempurna dan Maha Pengatur, yang mengurus semua urusan:
 {إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنْ الْحَيِّ ذَلِكُمْ اللَّهُ فَأَنَّا تُؤْفَكُونَ}(الأنعام/95).
Yang demikian itu ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling. (QS Al An’aam, 6-95).
Jelas nyata, karena ilmu pengetahuan mengembang dan menumbuhkan hasil-hasil dalam makin banyak penemuan hukum-hukum alam dan hubungan-hubungan antar hukum-hukum alam tersebut, hal itu akan menghasilkan pembukaan rahasia kebijaksanaandi balik penciptaan. Bagaimana pun juga dengan memikirkan dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan tersebut, yang sederhana dan dapat dilihat dengan jelas adalah cukup bagi hati yang ikhlas dan tidak teracuni.
Pelajaran ke-Tujuh
Pembuktian bagi Eksistensi Wajib
(Yang diperlukan adanya)
Pendahuluan
Teks-teks argumentasi (pembuktian)
Kemungkinan dan Kewajiban(Yang diperlukan)
a) Sebab dan akibat
b)Ketidakmungkinan rentetan sebab-sebab yang tak berujung.
c) Peneguhan argumentasi

Pendahuluan

Pada pelajaran terdahulu, kita telah mengetahui bahwa para filosof dan para ulama teologi (mutakalimun) telah memantapkan beberapa argumentasi pembuktian adanya Tuhan.
Pada pelajaran ini kita akan mengambil salah satu dari sekian banyak argumentasi tersebut, karena faktanya sangat elementer dan sederhana dan tidak membutuhkan pengantar untuk memantapkan sebuah eksistensi sebagai wajib (diperlukan adanya). Bagaimana pun juga kebenaran argumentasi ini hanya untuk membuktikan eksistensi wajib (wajib al-wujud), seperti sebuah eksistensi yang tidak membutuhkan, memerlukan atau tergantung kepada eksistensi lain untuk keberadaannya, dan untuk membuktikan sifat-sifat positifnya (Maha Mengetahui/’Ilm, Maha Kuasa, tidak terikat ruang dan waktu) membutuhkan tambahan argumentasi.

Teks-teks pembuktian

Eksistensi melalui presepsi akalapakah ituadalah eksistensi wajib ataukah eksistensi yang mungkin. Secara akal, tidak ada eksistensi yang terletak di luar dua asumsi ini dan setiap eksistensi tidak dapat diketahui sebagai sebuah ‘eksistensi yang mungkin’ karena suatu ‘eksistensi yang mungkin’ selalu membutuhkan sebuah sebab (ill’ah). Jika semua sebab-sebab adalah eksistensi yang mungkin, masing-masing mereka pada gilirannya membutuhkan satu sebab, maka tidak ada eksistensi yang akan pernah ada, dengan kata lain sebuah rangkaian serial yang tak terbatas (tasalsul) dari sebab-sebab adalah tidak mungkin (muhal). Oleh karena sebuahrangkaian yang tak terbatas dari sebab-sebab (yang di belakang) memaksa untuk mengakhirinya dalam sebuah eksistensi (maw’jud), yang tidak memerlukan suatu sebab (ma’lul) berupa eksitensi lain, inilah eksistensi wajib.
Argumentasi inilah yang merupakan argumentasi yang paling sederhana dalam filsafat untuk membuktikan eksistensi (keberadaan) Tuhan.Argumen ini telah dibangun dengan beberapa silogisme intelektual dan tidak memerlukan satupun bentuk presepsi inderawi atau eksperimentasi ilmiah sebagai sebuah premis.
Bagaimana pun juga hal ini telah menggunakan istilah-istilah dan konsep-konsep filsafat, karenanya ini membutuhkan sebuah penjelasan tentang premis-premis dan istilah-istilah (terminologi) tersebut dalam argumentasi.

Hal yang Mungkin dan Wajib

Semua proposisi (pernyataan) mempunyai dua konsep mendasar (subjek dan predikat) tanpa memperhatikan apakah hal-hal itu sederhana ataukan kompleks, sebagai contoh adalah beberapa aksioma, ‘Matahari bersinar’ yang mengemukakan bersinarnya matahari, ‘Matahari’ adalah subjek dan ‘bersinar’ adalah predikat.
Tegaknya sebuah predikat bagi subjek memiliki tidak lebih dari tiga kedudukan: apakah itu tidak mungkin, seperti: ‘tiga adalah lebih besar dari empat’, ataukah itu wajib, seperti ‘dua adalah setengah dari empat’, ataukah hal itu mungkin dan juga wajib, seperti contoh: ‘ matahari ada di kepala kita’. Dalam terminologi logika, proposisi pertama memiliki kedudukan ‘tidak mungkin’ (imtina’), proposisi yang kedua adalah sifat yang diberikan dari ‘yang wajib’ (wujub), dan pernyataan yang ketiga adalah dianggap sebagai mungkin (imkan).
Bagaimana pun jugadalam filsafat hanya eksitensi yang telah didiskusikan dan hal-hal tersebut, yang menjadi tidak mampu ada atau terjadi dan tidak mungkin (mumtani’) tidak pernah akan memiliki sebuah eksistensi (al-wujud al-kharij). Untuk alasan inilah filsafat memperhatikan eksistensi dari sebuah persepsi akal sebagai keberadaan yang merupakan eksistensi yang wajib atau eksistensi yang mungkin.
Eksitensi yang wajib dikenal sebagai ‘existent’, yang ada dengan sendirinya dan tidak tergantung kepada eksistensi yang lain. Sebenarnya existent tersebut tidak memiliki awal dan akhir, karena yang bukan eksistensi atau apa pun dalam sebagian waktu adalah indikasi bahwa keberadaannya adalah bukan berasal dari diri sendiri, karena ‘non-eksistensi’ dari sesuatu dalam satu waktu partikular adalah sebuah indikasi bahwa eksistensinya adalah tidak berasal dari dirinya sendiri. Untuk menjadi eksistensi dia membutuhkan eksistensi lain, yang berupa sebab atau kondisi bagi perwujudannya. Ketidak hadiran kondisi tersebut atau sebab-sebab akan menjadi alasan ketiadaan.
Eksistensi yang mungkin (mum’kin al-wujud) dikenal sebagai sebuah eksistent yang tidak akan eksis dengan sendirinya dan tergantung kepada eksistensi lain untukterwujudnya.
Pembagian ini, yang mengambil tempat melalui presepsi akal, secara esensial mengabaikan eksistensi ketidakmungkinan (mumtani’ al-wujud), namun ini tidak memiliki satupun indikasi apakah eksistent itu adalah eksistensi yang mungkin ataukah eksistensi yang wajib. Dengan kata lain keaslian persepsi dapat dikonseptualisasikan dalam tiga bentuk esensial:
1.Setiap eksistent adalah eksistent wajib
2.Setiap eksistent adalah eksistent yang mungkin
3.Beberapa eksistent adalam eksistent wajib dan beberapa adalah eksistent yang mungkin,
Berdasarkan asumsi yang pertama dan ketiga, keberadaan satu eksistensi wajib adalah mantap, oleh karena itu asumsi yang harus ditinjau ulang adalah apakah semua eksistensi (keberadaan) adalah eksistensi yang mungkin atau tidak?
Bagaimana pun juga dengan penyangkalan asumsi ini (bahwa semua eksistents adalah eksistent yang mungkin), keberadaan eksistensi wajib adalah jelas pasti dan terbukti dengan meyakinkan.
Kemantapan kesatuan (unity) dan sifat-sifat lain, harus terbukti dengan dengan argumen lain. Oleh karena itu untuk menyangkal asumsi kedua, argumen tambahan mesti digunakan, yaitu: “apakah mungkin bahwa semua eksistensi adalah menjadi ‘eksistensi yang mungkin’? Karena argumentasi ini tidak terbukti dengan sendirinya, ini dapat diterangkan sebagai berikut: Setiap eksistensi yang mungkin membutuhkan sebuah sebab dan tidaklah mungkin memiliki rangkaian sebab yang tak berakhir (tak ada ujungnya) Maka rangkaian sebab yang tak ada akhirnya itu terpaksa berakhir pada sebuah eksistensi yang tak lagi membutuhkan sebuah sebab apapun, yaitu eksistensi wajib (yang diperlukan). Argumentasi ini telah memperkenalkan konsep filsafat yang lain, yang membutuhkan suatu penjelasan ringkas baginya dan hal-hal yang terkait dengannya.

Sebab dan akibat

Jika sebuah eksistensi membutuhkan eksistensi lain dan tergantung kepada eksistensi lain untuk keberadaannya, kemudian dalam terminologi filsafat, eksistensi yang disebabkan dikenal sebagi ‘akibat’ dan eksistensi lainnya dikenal sebagai ‘sebab’. Bagaimana pun juga adalah mungkin bahwa sebuah sebab dapat juga menjadi sebuah akibat, dan menjadi sebuah eksistensi yang tergantung, tidak secara mutlak bebas dari kebutuhan. Jika sebuah sebab secara mutlak bebas dari kebutuhan dan tidak tergantung kepada yang lain, lalu itu akan menjadi ‘Sebab yang Mutlak’
Sekarang kita menjadi familiar dengan definisi istilah ‘sebab’ dan ‘akibat’. Kita sekarang akan membuktikan sebuah penjelasan dan premis yang telah disebutkan di muka (“setiap eksistensi yang mungkin membutuhkan sebuah sebab”).
Eksistensi yang mungkin, tidaklah eksis dengan sendirinya dan tidak punya alternatif selain tergantung kepada eksistensi lainnya. Maka setiap predikat yang dikenal untuk subjek adalah muncul baik dengan sendirinya (bil-that) atau dengan perantaraan yang lain selain dirinya (bilghayr). Sebagai contoh: setiap hal yang bersinar di dalamnya dan dengan sendirinya atau membutuhkan sesuatu yang lain untuk penyinarannya, atau setiap tubuh yang berminyak dengan sendirinya atau membutuhkan minyak untuk menjadi berminyak. Adalah tidak mungkin bagi sesuatu dalam dirinya sendiri tidaktersinari atau terminyaki dan tidak menerima sinar atau minyak dari apa pun, dan pada saat sama menjadi berminyak dan bersinar.
Oleh karena itu kemunculan/tegaknya sebuah eksistensi bagi sebuah subjek apakah melalui esensinya atau dengan perantaraan selain dirinya, dan ketika itu tidak melalui esensinya, lalu itu harus dengan perantaraan selain dari dirinya. Maka setiap eksistensi yang mungkin, yang terwujud tidak melalui esensinya, menjadi terwujud dengan perantaraan yang selain dirinya, secara tersirat itu adalah sebuah akibat. Hal ini menyajikanprinsip fundamental bagi akal, bahwa setiap ‘eksistensi yang mungkin’ membutuhkan sebuah sebab.
Bagaimana pun juga, beberapa orang telah memahami bahwa prinsip penyebaban berarti bahwa semua eksistensi membutuhkan sebuah sebab, maka Tuhan membutuhkan sebuah sebab Primer. Mereka telah terlalu berlebihan dalam melihat fakta bahwa subjek dari prinsip penyebaban adalah eksistensi dalam pengertian ‘eksistensi yang mungkin’ dan akibatnya,tapi tidak berlaku bagi ‘Eksistensi Mutlak’ (Tuhan). Tidak semua eksistensi membutuhkan sebuah sebab, hanya eksistensi-eksistensi yang membutuhkan dan tergantung sajalah yang membutuhkan suatu sebab.
b. Ketidakmungkinan rangkaian penyebab tanpa akhir
Premis terakhir yang digunakan dalam argumentasi ini adalah bahwa rangkaian sebab harus berakhir pada sebuah eksistensi, yang bukan merupakan sebuah akibat. Dalam istilah teknis sebuah rangkaian tanpa akhir dari sebab-sebab adalah tidak mungkin. Hal ini kemudian memantapkan bahwa eksistensi yang wajib adalah penyebab awal, yang hidup dengan sendirinya dan tidak tergantung kepada eksistensi lain.
Filsafat telah mendatangkan banyak argumentasi untuk menyanggah rangkaian tak terbatas (tasalsul); meskipun dengan kurangnya pemikiran, rangkaian tak terbatas akan seolah-olah terlihat terbukti dengan sendirinya. Oleh karena itulah dikatakan, mengingat eksistensi dari sebuah akibat membutuhkan sebuah sebab dankondisi atas sebab itu. Lagi pula jika keadaan tersebabkan (ma’luliyyah) dan kondisi ini adalah universal, lalu tidak adaeksistensi yang akan terwujud di mana pun juga. Hal ini adalah karena asumsi beberapa eksistensi yang tergantungtanpa keberadaan dari sebuah eksistensi adalah bertentangan dengan akal.
Marilah kita umpamakan bahwa ada sekelompok pelari yang menunggu untuk mulai balap lari, mereka semua telah memutuskan bahwa mereka tidak akan mulai berlari sampai yang lainnya mulai berlari. Jika keputusan ini berlaku bagi semua di antara mereka, lalu tak ada seorang pun yang akan mulai berlari.
Dalam cara sama jika keberadaan setiap eksistensi adalah tergantung dari kondisi (syarat) atas perwujudan (keberadaan) eksistensi lain, maka tidak akan pernah ada satu pun eksistensi yang mewujud. Perwujudan sebuaheksistensi eksternal menunjukkan bahwa ada sebuah eksistensi, yang tidak membutuhkan apapun dan tidak tergantung pada syarat apa pun.
c. Penegasan kebenaran argumentasi
Pada peristiwa ini, dengan memahami premis-premis tersebut. Tidak ingin kembali menegaskan kebenaran argumentasi kita:
Semua hal yang dapat dipertimbangkan sebagai sebuah eksistensi, memiliki tidak lebih dari dua keadaan:
1.Eksistensi yang dibutuhkan adanya (wajib) dan berada(eksis) dengan esensinya sendiri. Dalam bahasa teknis ini disebut dengan ‘eksistensi yang wajib’ (necessary existent).
2.Eksistensi yang keberadaannya tidak wajib dan perwujudannya tergantung kepada eksistensi lain. Dalam bahasa teknis hal ini dikenal dengan istilah ‘eksistensi yang mungkin’ (the possible existent).
Adalah terbukti dengan sendirinya bahwa jika perwujudan (realisasi) dari sesuatu hal adalah tidak mungkin, lalu itu tidak pernah akan menjadi wujud; maka setiap eksistensi adalah sebuah eksistensi yang mungkin atau sebuah ‘eksistensi yang wajib’ adanya.
Dengan memfokuskan pada konsep ‘eksistensi yang mungkin’, menjadi jelaslah bahwa setiap rujukan konsep ini adalah sebuah akibat dan membutuhkan sebuah sebab.
Lebih lanjut jika sebuah eksitensi tidak eksis (ada) karena esensinya sendiri kemudian menjadi perlu bahwa itu menjadi ada melalui eksistensi lain, karena setiap sifat yangtidak wujud dengan esensinya sendiri, musti eksis dengan perantaraan sebab eksistensi yang selain dirinya.
Prinsip sebab-akibat menegaskan bahwa setiap eksistensi tergantung dan mungkin membutuhkan sebuah sebab. Namun tidak semua eksistensi membutuhkan sebuah sebab; sebaliknya seseorang mungkin akan menyimpulkan bahwa kemudian mesti ada sebuah sebab bagi Tuhan. Dari sisi lain hal itu mesti dilihat bahwa jika semua eksistensi adalah eksistensi yang mungkin, maka tidak akan pernah ada satupun eksistensi yang mewujud. Hal ini adalah seperti mengasumsikan bahwa sekelempok orang telah mensyaratkan aksinya kepada yang lainnya, yang berarti tidak ada aktifitas. Bagaimana pun juga, aktifitas eksternal dari eksistensi memunculkan keberadaan sebuah eksistensi yang wajib.
Pelajaran ke Delapan
Sifat-Sifat Tuhan
Pendahuluan
Sifat Abadi Tuhan
a) Sifat-sifat negative
b) Penyebab yang memberikan eksistensi
a)
Kekhususan penyebabyang memberikan eksistensi

Pendahuluan

Dalam pelajaran terdahulu kita telah membicarakan argumentasi pembuktian adanya eksistensi yang wajib (Tuhan). Dengan menurunkan argumentasi lain kita sekarang akan membuktikan sifat negatif dan sifat positif dari eksistensi ini. Hal ini perlu sehingga kita kita mengenali Tuhan Sang Pencipta berbeda dari makhluk/ciptaan-Nya. Tidaklah cukup untuk hanya mengenali Diasebagai ‘eksistensi wajib’, karena beberapa orang menganggap bahwa materi dan energi adalah rujukan –sebagai sebuah konsep-(misdaq) bagi eksistensi wajib ini.
Wacana berikut adalahdari dua sudut pandang:
1.Dengan memantapkan sifat-sifat negatif maka eksistensi wajib dimuliakan dan disucikan dari watak anthropomorphic dan tidak dibandingkan dengan makhluk-Nya
2.Dengan memantapkansifat-sifat positif maka Tuhan Sang Pencipta dapat diketahui sebagai wujud yang pantas disembah dan diibadahi, dan untuk meletakkan landasan untuk membuktikan prinsip lain seperti kenabian, hari kebangkitan dan cabang-cabangnya.
Dari argumentasi di atas kita telah menyadari bahwa eksistensi wajib tidak membutuhkan satupun sebab dan bahwaDia adalah sebab bagi ‘eksistensi yang mungkin’. Kemudian kita telah siap memantapkan dua sifat bagi eksistensi wajib, yaitu:
1.Tidak tergantung kepada satupun eksistensi lain
2.Eksistensi wajib adalah sebab pertama bagi eksistensi yang mungkin.
Dengan menerapkan dua hasil ini kita akan memberikan ilustrasi selanjutnya dan memantapkan sifat negatif dan sifat posistif dari eksistensi wajib melalui argumentasi yang mudah diketahui dan terkait dengan argumentasi sebelumnya.

Sifat abadi Tuhan

Jika sebuah eksistensi adalah sebuah akibat,yang tergantung dan membutuhkan eksistensi lain, maka eksistensi yang membutuhkan ini akan hadir setelah adanya sebab. Jika sebab tersebut tidak ada atau tidak terwujud maka tidak akan ada akibat (eksistensi). Dengan kata lain, bagi sebuah eksistensi untuk menjadi tidak eksis (tidak ada) dalam sebuah interval waktu, menunjukkan bahwa itu adalah sebuah eksistensi yang tergantung dan eksistensi yang mungkin. Karena eksistensi yang wajib eksis dengan esensinya sendiri dan tidak membutuhkan satupun eksistensi lain untuk keberadaannya, ia akan selalu ada dan karena itu ia tidak seperti eksistensi yang mungkin.
Dengan alat argumentasi di atas, seseorang dapat membuktikan lagi dua sifat eksistensi wajib:
1.Tuhan adalah tanpa permulaan, berarti bahwa Dia tidak pernah memilikisebuah pendahuluan sebagai non-eksistensi.
2.Tuhan adalah tanpa akhir, berarti bahwa ia tidak akan pernah menjadi ‘non-eksistensi’ (tidak ada).
Kadang-kadang dua sifat tersebut disebutkan bersama-samadisebut sebagai ‘keabadian’ (sarmady). Oleh karena itu setiap eksistensi yang mempunyai sebuah masa lalu sebagai non-eksistensi atau mempunyai kemungkinan untuk menjadi tidak ada, tidak akan pernah menjadi eksistensi yang wajib. Fakta-fakta ini akan membuktikan bahwa anggapan materi (maddah) sebagai eksistensi wajib adalah salah.
a. Sifat sifat Negatif
Essensi lain dari eksistensi wajib adalah terpisah dan tak dapat dilihat, karena setiap campuran (composite) adalah sebuah sintesis ataumembutuhkan bagian-bagian untuk menjadi lengkap. Eksistensi wajib tersucikan dan bebas merdeka dari segala kebutuhan.
Eksistensi wajib tidak dibuat dari bagian-bagian. Hal ini karena sebuah benda yang potensial dibagi-bagi, secara intelektual (aqliyah) lalu memiliki sebuah kemungkinan menjadi tidak ada. Telah nyata bahwa Eksistensi wajib tidak mungkin menjadi tidak ada. Karena distribusi bagian-bagian dalam potensi (bil ‘quwwa) dan dalam aktualitas (bil fa’il) adalah khusus untuk hal-hal yang bersifat jasmaniah, Eksistensi Wajib adalah telah nyata adalah sesuatu yang bukan jasmaniah (immaterial). Maka hal ini berimplikasi pada kesimpulan bahwa Eksistensi Wajib tidak dapat dilihat dengan mata jasmaniah dan tak dapat dirasakan dengan indera jasmaniah.
Dengan memisahkan eksistensi jasmaniah dari Eksistensi Wajib, beberapa kemungkinan lain juga terbatalkan. Eksistensi wajib kemudian tidak terbatas pada atau menjadi subjek dalam waktu (zaman) dan ruang/tempat (makan). Pembatalan ini adalah karena ruang adalah terbayangkan untuk sebuah benda, yang mempunyai sebuah tubuh, dan dengan kata lain setiap objek temporal mempunyai kemungkinan untuk terbagi-bagi dalam interval. Karena temporalitas (kesementaraan waktu) bukanlah sifat Eksistensi Wajib, transisi, pertumbuhan dan gerak juga tidak berlaku bagi-Nya, karena tidak akan ada gerakan tanpa berada dalam ruang dan waktu.
Berdasarkan hal di atas, mereka yang percayakepada anggapan bahwa Tuhan berada dalam singasana, turun dari langit ke bumi dan dapat dilihat dengan mata telanjang adalah menganggap Dia sebagai subjek dalam ruang, pertumbuhan dan gerakan. Hal ini menunjukan bahwa mereka telah gagal untuk sepenuhnya memahami pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Secara umum berbicara mengenai setiap konsep yang menunjukkan ketidaksempurnaan, kebutuhan atau keterbatasan adalah tertolak dari ke-Maha Kuasa-an Tuhan dan hal itu dikelompokkan sebagai ‘sifat-sifat negatif ‘Tuhan.
b. Penyebab yang memberikan eksistensi
Kesimpulan yang muncul dari argumentasi di atas adalah bahwa eksistensi wajib adalah alasan atau penyebab bagi eksistensi yang mungkin.
Kami kini bermaksud menentukan berbagai jenis penyebab yang berbeda-beda dan kekhususan penyebab yang menganugrahkaneksistensi.
Penyebab, dalam makna yang biasa, berarti bahwa setiap eksistensi adalah tergantung pada eksistensi lain, dan memasukan persyaratan dan keadaan lingkungannya. Tuhan tidak mempunyai penyebab, artinya bahwa Dia tidak tergantung kepada satupun eksistensi lain, juga tidak membutuhkan persyaratan bagi-Nya untuk menjadi wujud. Tuhan adalah penyebab bagi penciptaan dan mempunyai sifat menganugrahkan eksistensi. Hal ini dikenal sebagai jenis khusus penyebab efisien (‘illliyah fa’ileyyah).
Sebelum menjelaskan penyebab ini, para pembaca perlu mempelajari beberapa jenis penyebab, yang dibahas secara detil dalam buku-buku filsafat. Untuk menumbuhkan sebutir biji, kita tahu bahwa mesti ada beberapa faktor seperti biji-bijian, tanah, air, lingkungan yang kondusif dan faktor aktif (manusia atau alam) yang dapat menumbuhkan biji dan memeliharanya. Semua agen-agen tersebut adalah mengenai alasan-alasan dan penyebab-penyebab yang beragam yang membantu tanaman untuk tumbuh.
Penyebab yang beragam tersebut dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yang khas, sebagai contoh: penyebab yang secara terus menerus dibutuhkan bagi eksistensidari sebuah akibat yang dikenal sebagai ‘penyebab riil’ (al-‘ill’ah al haqiqiyyah).
Kelangsungan hidup eksistensi dari sebuah akibat adalah tidak tergantung kepada kelangsungan hidup penyebab tersebut (seperti petani bagi tanaman), jenis penyebab ini dikenal sebagai ‘penyebab yang mempersiapkan’ (the preparatory cause / ‘illah mau’edah).
Penyebab-penyebab yang mempunyai sebuah kemungkinan alternatif, dikenal sebagai penyebab substitutif (the substitute causes / ‘illah in’hesariyyah).
Walaupun ada penyebab-penyebabjenis-jenis lain, yang sangat berbeda dari contoh-contoh di atas dan dapat diketemukan melalui jiwa kita dan fungsi-fungsinya. Ketika seseorang membayangkan sesuatu atau bermaksud melakukan sesuatu, dia telah mempunyai apa yang disebut ‘bayangan’ (image) dalam pikirannya (al-surah thehniyyah), yang diaktualisasikan dengan perantaraan ‘kehendak’, yang tergantung kepada eksistensi (keberadaan) jiwa. Karena hal itu bergantung, hal itu dikenal sebagai sebuah akibat, tapi akibat ini adalah sebuah akibat yang tidak bebas merdeka dari segala penyebab dan tidak mempunyai eksistensi dengan sendirinya.
Aktifitas jiwa berkenaan dengan ‘kehendak’ dan ‘pikiran’(idea) adalah bersyarat pada beberapa elemen terbatas, yang mewujud dari eksistensi yang mungkin. Ketika aktifitas ini dibandingkan dengan aktifitas eksistensi wajib, kita menyadari bahwa eksistensi wajib adalah Maha Agung dan Maha Mulia, dan tiada bandingan bagi-Nya dan setiap akibat tergantung kepada-Nya secara total.
c.Kekhususan penyebab yang menganugrahkan eksistensi.
Mengingat pertimbangan-pertimbangan yang telah kita bicarakan di atas kita dapat mengklasifikasikan beberapa gambaran unik penyebab yang menganugrahkan eksistensi:
a)‘Penyebab yang menganugrahkan eksistensi’ mestilah lengkap dalam kesempurnaannya yang eksis dalam akibat-akibatmenuju pengertian yang mutlak. Hal ini adalahkarena penyebab dapat menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan bagi eksistensi sebagai lawan dari penyebab material dan penyebab persiapan, yang hanya menciptakan lingkungan. Tidaklah perlu bagai penyebab-penyebab ini untuk memiliki kesempurnaan relatif dari akibat-akibat; sebagai contoh: tidaklah perlu bagi tanah untuk memiliki kesempurnaan tanaman atau orang tua untuk memiliki kesempurnaan anak-anaknya. Maka Tuhan yang menganugrahkan penciptaan mestilah mutlak sempurna dalam esensi-Nya.
b)‘Penyebab Yang menganugrahkan eksistensi’ membawa akibat-akibat-Nya dari non-eksistensi (ketiadaan) kepada eksistensi (keberadaan), akibat-akibat itu diciptakan, dengan perantaraan yang tidak akan mengurangi dan menghilangkan apapun dari ‘Eksistensi (Tuhan) Penyebab yang menganugrahkan eksistensi’.
c)‘Penyebab Yang menganugrahkan eksistensi’ adalah penyebab riil yang akibat-akibat sepenuhnya bergantung kepada kelangsungan-Nya, sebagai lawan dari penyebab persiapan yang kelangsungan akibatnya tidak tergantung padanya.
Di atas landasan inilah kita dapat menyangkal klaim yang dibuat oleh beberapa theolog Sunni yang menyatakan bahwa alam semesta tidak membutuhkan Tuhan untuk kelangsungannya, seperti yang dikatakan oleh para filosof Barat yang mengklaim bahwadunia (alam) adalah seperti sebuah jam weker, yang telah dibuat dan lalu ditinggalkan begitu saja untuk beroperasi bebas dari Tuhan.
Sebaliknya, alam semesta tergantung keseluruhannya kepada Tuhan, dan jika Dia menahan atau melepaskan Ke-Agung-annya sesaat saja, maka seluruh makhluk akan musnah.
Pelajaran Sembilan
Sifat-sifat Tuhan
Pendahuluan
Sifat-sifatesensi dan sifat-sifat perbuatan
Pembuktian untuk sifat-sifat esensi
a) Maha Hidup (‘hayat)
b) Maha Mengatahui (‘ilm)
c) Maha Kuasa (qudrah)
Pendahuluan
Tuhan adalah penyebab utama (primal cause) dan penganugraheksistensi. Dia sepenuhnya memiliki kesempurnaan dan bertanggung jawab atas segala kesempurnaan yang kita saksikan dalam eksistensi, tanpa sedikitpun mengurangi kesempurnaan esensi-Nya. Sebagai contoh, hal ini adalah seperti seorang guru yang mengajari muridnya dengan ilmu pengetahuan yang ia miliki tanpa ia kehilangan sedikitpun pengetahuannya tersebut.
Bagaimanapun juga kesempurnaan ontologis Tuhan Yang Maha Kuasa adalah jauh lebih tinggi dari contoh bandingan tersebut. Sebuah deskripsi yang lebih akurat dapat dikatakan bahwa penciptaan adalah tidak lain dari pada perwujudan dan pancaran esensi suci Tuhan. Al Qur’an telah mengakatakan:
.
“Allah Cahaya langit dan bumi.”.( QS An Nuur, 24-35)
Karena kesempurnaan Allah adalah abadi, maka setiap konsep yang menyebutkan kesempurnaan tanpa menghadirkan sedikitpun kekurangan atau keterbatasan adalah benar bagi Allah. Selanjutnya dalam ayat-ayat Al-Qur’an al-Karim, ada cerita suci dan permohonan doa dari Yang Maksum, (as), konsep seperti Cahaya (nur), Kesempurnaan (kamal), Keindahan (jamal), Cinta (hubb) dan Kebahagiaan (bahjat), dll, yang semuanya terkait dengan Tuhan.
Buku-buku filsafat dan theologi telah menggolongkan sifat-sifat Tuhan ke dalam dua kelompok (sifat-sifat esensial dan sifat-sifat perbuatan). Kamiakan menyajikan sebuah penjelasan ringkas tentang dua kelompok sifat tersebut, yang diikuti dengan sebuah diskusi dan pembuktian untuk memantapkan mana yang paling penting.

Sifat-sifat esensial dan sifat-sifat perbuatan

Sifat-sifat terkait dengan Tuhan Yang Maha Luhur, adalah konsep-konsep yang diabstraksikan dari esensi Ilahiyah dengan memfokuskan pada satu jenis kesempurnaan ontologis, seperti: Maha Hidup (Hayat), Maha Mengetahui (Ilm) dan Maha Kuasa, atau konsep-konsep yang diabstraksikan dari sejenis hubungan antara Tuhan dengan Makhluk-makhluk-Nya, seperti, Maha Pencipta dan Maha Pemelihara.
Konsep kelompok pertama disebut dengan sifat-sifat esensial (the attributes of essence) dan kelompok kedua disebut sebagai sifat-sifat perbuatan (the attributes of action).
Perbedaan esensial antara dua kelompok sifat ini adalah bahwa konsep kelompok pertama berkenaan dengan kualitas esensi Ketuhanan Yang Maha Suci, sementara konsep kelompok kedua terkait dengan hubungan dan keterkaitan antara Tuhan dengan makhluk-Nya. Konsep tersebut disarikan dari ketergantungan makhluk terhadap Penciptanya, yaitu: Yang Maha Pencipta, Maha Pemelihara, Yang Awal.
Sifat-sifat esensial Tuhan yang paling penting adalah Maha Hidup, Maha Mengetahui, dan Maha Kuasa. Bagaimana pun juga jika mendengar dan melihat dianggap sebagai memiliki kekuatan (kemampuan) untuk melihat dan mendengar atau menjadi peduli terhadap pendengaran dan penglihatan, semua itu akan kembali kepada sifat-sifat esensial. Namun jika makna dari sifat-sifat tersebut adalah terkait dengan sebuah aktifitas yangdisarikan karena sebuah hubungan antara yang melihat sebuah objek dan yang mendengar sebuah suara, maka itu akan berkenaan dengan sifat-sifat perbuatan.
Kadang-kadangsifat Maha Mengetahui digunakan dalam cara tersebut dan dianggap sebagai pengetahuan aktif (Al-Ilm al-fa’ily).
Beberapa ulama theologi menganggap Berbicara dan Berkehendak sebagai sifat-sifat esensial, yang akan didiskusikan kemudian..

Pembuktian sifat-sifat esensial

Cara yang paling sederhana untuk membuktikan bahwa Tuhan adalah Maha Hidup, Maha Berkuasa dan Maha Mengetahui, adalah pertama dengan menyadari ketika konsep tersebut juga digunakan bagi makhluk, ini adalah kesempurnaan ontologis, yang merujuk kepada-Nya. Yang lebih utama dan sempurna dari kesempurnaan ontologis tersebut mestilah berada di dalam sebab-sebab yang telah memberikan eksistensi.
Sang Maha Pencipta mestilah sepenuhnya memiliki semua kesempurnaan yang ada di dalam penciptaan,karenanya tidaklah mungkin bahwa penyedia atau pemberi kehidupan, tidak hidup, atau penganugrah ilmu pengetahuan dan kekuasaan, diri-Nya sendiri bodoh dan tak berdaya.
Eksistensi kesempurnaan ontologis ini dalam makhluk maka menunjukan kehadiran mereka di dalam Pencipta yang Maha Tinggi tanpa satupun pembatasan atau kekurangan. Dengan kata lain Tuhan Yang Maha Agung, memiliki sifat-sifat abadi Maha Hidup, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa, Kami sekarang akan menyajikan penjelasan singkat mengenai sifat-sifat ini.
a. Maha Hidup (‘hayat)
Konsep ini (Kehidupan) digunakan untuk menegaskan dua kelompok makhluk: tetumbuhan, yang mempunyai ciri-ciri pertumbuhan, dan untuk manusia dan hewan, yang ciri sifatnya memilikikehendak dan kesadaran. Pengertian pertama tidak dapat disandangkan kepada Tuhan sebab ini terbatas dan tidak sempurna, karena tetumbuhan membutuhkan faktor eksternal untuk perkembangan dan pertumbuhannya untuk mencapai kesempurnaannya, dan hal ini berkenaan dengan sifat-sifat negatif Tuhan sebagaimana telah disebutkan dalam pelajaran terdahulu. Bagaimana pun juga pengertian kedua dari kehidupan, walaupun hal itu mengandung keterbatasan dan cacat, dapat diterapkan kepada Tuhan, namun dengan mempertimbangkan ketidakterbatasannya.
Secara fundamental, kehidupan adalah karakteristik esensial dari eksistensi immaterial. Seperti ilmu pengetahuan dan aktifitas, yang selalu melekat bersama kehidupan adalah immaterial.
Walaupun kehidupan terkaitmakhluk hidup material, dalam kenyataannya ini adalah sifat spiritual dari sebuah makhluk material dan jasad material dalam akibat darinya (the spirit / ruh), yang berkaitan sebagai kehidupan (penerapan sifat-sifat hidup kepada eksistensi material adalah sementara). Dengan kata lain, hanya karena kemajuan adalah esensial bagi eksistensi material, maka secara sama, hidup adalah esensial bagi eksistensi immaterial. Dengan memfokuskan pada subjek ini, argumentasi lain dapat ditegakkan, bahwa karena esensi suci Tuhan adalah immaterial dan semua eksistensi immaterial memiliki sifat-sifat esensial kehidupan,oleh karena itu Tuhan mempunyai sifat-sifat esensi kehidupan.
b. Maha Mengetahui (‘ilm)
Konsep pengetahuan adalah yang paling jelas nyata dan terbukti dengan sendirinya dari semua konsep, namun rujukan konsep ini di dalam makhluk adalah terbatas dan kurang (tidak sempurna),dan dengan kekhususan ini tidaklah mungkin untuk mengeneralisir hal ini Bagi Tuhan yang Maha Tinggi. Bagaimana pun juga, hal ini sebelumnya telah menunjukkan bahwa intelek (akal), untuk kesempurnaan ontologis mungkin dapat diandaikan sebuah rujukan yang tidak memiliki satu keterbatasan atau kekurangan (kesempurnaan ontologis) dan menjadi esensi pengetahuan itu sendiri. Inilah pengetahuanmengenai esensi Tuhan Yang Maha Mulia. Pengetahuan Tuhan dapat dibuktikan dari berbagai sudut yang berbeda. Salah satu cara adalah dengan menerapkan metode yang sama sebagaimana yang digunakan untuk membuktikan semua sifat-sifat esensial. Karena pengetahuan eksis di dalam makhluk, sesungguhnya bentuk sempurna dan paripurna dari pengetahuan mestilah eksis di dalam Tuhan Maha pencipta.
Cara kedua untuk membuktikan pengetahuan Tuhan adalah melalui argumentasi ‘keteraturan’ (order):Penyajian yang sangat teratur dan sempurna atau perwujudan (alam semesta) adalah jelas sebuah indikasi dari sebuah pengetahuan yang tepat dan sempurna dari Sang Pewujud. Sebuah buku intelektual, puisi yang fasih dan semua hasil karya seni adalah tanda-tanda dari kebijaksanaan, cita rasa dan kualifikasi dari seniman, tidaklah mungkin bahwa semua karya itu adalah hasil dari orang yang bodoh dan dungu. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seseorang beranggapan bahwa alam semesta yang sangat luas ini dengan segala rahasia dan misteri yang menakjubkan adala sebuah akibat dari satu eksistensi yang tidak berpengetahuan?
Cara ketiga, untuk menegakkan Pengetahuan Tuhan adalah melalui premis filsafat spekulatif, yang tidak terbukti dengan sendirinya, seperti prinsip ‘bahwa semua eksistensi immaterial adalah mengandung ilmu pengetahuan dengan sendirinya.’, sebagai telah terbukti dalam buku-buku terkait (filsafat dan theologi). Memfokuskan pengetahuan Tuhan, memainkan peran yang dalam membangun jati diri (pensucian jiwa), dan dari sudut pandang inilah maka telah disebutkan dalam Al Qur’an:
[رفاغ ةروس : 19 ].روُد.صلا يِفْخُت اَمَو ِنُيْعَ.ا َةَنِئاَخ ُمَلْعَي.
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.
.(QS.Al Mu’min, 40: 19)
c. Maha Kuasa (qudrah)
Ketika satu agen menghasilkan sebuah perbuatan dengan sebuah niat dan kehendak bebas yang dimilikinya, dikatakan bahwa individu ini memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk mewujudkan sebuah perbuatan. Oleh karena itu kekuasaan berarti sebuah agen sukarela yang ada pada awal (mabda’) perbuatannya.
Level kekuasaan adalah tergantung kepada level kesempurnaan dari sebuah eksistensi; oleh karena itu sebuah eksistensi dengan kesempurnaan yang tak terbatas akan memiliki kekuasaan yang juga tak terbatas.
Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu..
(QS Al Mumtahanah,60: 7)
Bagaimana pun juga kita harusmenyadaribeberapa point berikut:
1.Sebuah perbuatan yang datang dari pengawasan kekuasaan harus memiliki kemungkinan aktualisasi, maka satu hal yang secara esensial tidak mungkin atau secara wajib absurd (tidak masuk akal/tidak mungkin) tidak akan pernah punya hubungan atau keterkaitan dengan kekuasaan. Fakta bahwa Tuhan memiliki kekuasaan tidak berarti bahwa Dia akan menciptakan Tuhan yang lain atau bahwa Dia akan membuat angka dua lebih besar daripada angka tiga, sementara nilai dari dua tetap dua, atau menciptakan seorang anak sebelum ayahnya, sementara sang anak hadirnya setelah ayahnya.
2.Fakta bahwa Tuhan memiliki kekuasaan untuk membentuk segala sesuatu, tidak otomatis berarti bahwa Dia akan membentuk apa saja, namun apapun yang Dia niatkan, Dia akan melaksanakannya, dan Tuhan Yang Maha Bijaksana, tidak akan membentuk suatu perbuatan yang tidak bijaksana, bahkan setelah memiliki kekuasaan untuk membentuk suatu perbuatan tak senonoh.Dalam pelajaran berikutnya kami akan menerangkan lebih dalam tentang kebijaksanaan Tuhan.
3.Kekuasaan, dalam hal ini, termasuk kualitas kehendak bebas. Tuhan Yang Maha Tinggi memiliki kekuasaan tak terbatas, yang berarti bahwa Dia mempunyai kehendak bebas yang sempurna, yang tidak terpengaruh oleh apapun.
.
Pelajaran Sepuluh
Sifat-sifat PerbuatanTuhan
Pendahuluan
a) Tuhan Maha Pencipta ( Khaliqiyyah / Creatorship )

b) Tuhan Maha Pemelihara( Rububiyyah / Lordship )

c) Tuhan Yang Layak disembah & di-ibadah-i ( Objek Pengabdian / Uluhiyyah / Divinity)

Pendahuluan

Kita kini menyadari bahwa sifat-sifat perbuatan adalah konsep yang diabstraksikan (disarikan) oleh akal denganmembuatsebuah perbandingan khusus antara esensi ketuhanan yang suci dari Tuhan dan makhluk-Nya dan dengan mempertimbangkan hubungan yang ada antara keduanya. Dalam konteks ini Sang Pencipta dan yang diciptakan (makhluk) menimbulkan hubungan bilateral (dua arah) yang darinya semua konsep penciptaan terabstraksikan dengan sendirinya. Jika hubungan bilateral ini tidak dipertimbangkan maka konsep ini tidak dapat diwujudkan.
Pertimbangan hubungan yang ada antara Tuhan dan makhluk-Nya tidaklah memiliki suatu perbatasan atau keterbatasan, bagaimana pun juga hal itu dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok umum:
1.Hubungan langsung yang ada antara Tuhan danmakhluk-Nya (seperti hubungan langsung, permulaan dansumber asal).
2.Hubungan yang merupakan akibat dari hubungan seketika (seperti hubungan yang berkenaan dengan penyiapan kelansungan hidup bagi makhluk-Nya)
Sebelum mensarikan sebuah sifat perbuatan bagi Tuhan kadang-kadang perlu pada awalnya mensarikakn beberapa bentuk hubungan. Hal ini juga mungkin, bahwa sebuah hubungan selanjutnya berdasarkan beberapa hubungan bilateral di antara Tuhan dan makhluk-Nya. Satu contoh adalah ‘kepemaafan’/ Maha Pengampun (forgiveness), yang berdasarkan atas legislasi Ketuhanan (hukum) ilahiyah, di mana masalah kepenguasaan muncul dari Tuhan dan pelanggaran hukum dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.
Substansi materi bagi perwujudan sifat-sifat perbuatan adalah melalui perbandingan antara Tuhan Yang Maha Tinggi dan makhluk-makhluk-Nya.Sebagaimana telah ditunjukkan, adalah mungkin bahwa perwujudan dari sebuah sifat perbuatan adalah dengan pertimbangan sumber asalnya, yang memperkenankan hal itu (sifat-sifat perbuatan) untuk kembali kepada sifat-sifat esensial. Sebagai contoh jika Sang Pencipta dipahami sebagai seseorang yang mempunyai kekuatan untuk mencipta, kemudian hal itu dikembalikan kepada sifat-sifat ke-Maha Kuasa-an, sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat ditafsirkan sebagai pengetahuan terhadap apa yang dapat didengar dan dilihat, dan ini akan kembali kepada sifat Maha Mengetahui (‘aliim).
Adalah memungkinkan bahwa beberapa konsep sifat-sifat esensial dianggap sebagai berhubungan atau secara aktif terhubung. Dalam kasus ini, hal-hal itudikenal sebagai sifat-sifat perbuatan.
Konsep ‘pengetahuan’ sebagai contoh, telah digunakan beberapa kali dalam Al-Qur’an Suci sebagai sebuah sifat perbuatan Tuhan.
Bagaimana pun juga mestilah dipertimbangkan bahwa ketika sebuah sifat perbuatan bagi Tuhan diabstraksikan dari hubungan yang ada di antara Tuhan dan suatu eksistensi material,hal ini tergantung ruang dan waktu. Bagaimana pun juga kondisi ini adalah terbatas pada sisi material, di sisi lainnya menjadi bebas dari dan maha mulia jauh berada di luar pembatasan tersebut. Sebagai contoh, untuk mempersiapkan kelangsungan bagi suatu kebutuhan, yang terbatas ruang dan waktu, adalah sebuah karakteristik yang disifatkan kepada kebutuhan dan tidak kepada Tuhan Sang Penjamin Kelangsungan Hidup (Sustainer).
Esensi Ketuhanan Yang Suci adalah berada jauh di balik suatu kerangka ruang dan waktu. Point ini membutuhkan sebuah perhatian khusus dan merupakan kunci bagi banyak kesulitan dan masalah yang muncul di antara polemik para ulama, ketika berusaha memahami sifat-sifat esensial dan sifat-sifat perbuatan Tuhan.
a.Tuhan Maha Pencipta(Creatorship / Khaliqiyyah)
Setelah memapankan eksistensi wajib sebagai sebab awal/pertama bagi penampakan eksistensi yang mungkin, konsep kepenciptaan dapat disarikan dan diterapkan kepada eksistensi wajib, dan konsep penciptaan diterapkan kepada eksistensi yang mungkin. Konsep Pencipta, yang disarikan atas dasar hubungan esksistensial, adalah sama dengan sebab yang menganugrahkan eksistensi. Semua eksistensi yang mungkin, yang membutuhkan sebab ini, adalah kemudianberkenaan dengan penciptaan.
Kata ‘penciptaan’ kadang-kadang dapat digunakan dalam satu cara yang terbatas, seperti ketika mendefinisikan eksistensi material sebagai perbandingan dengan konsep ‘pembaharuan awal’ [‘primordial innovation’ (ibda’) ], di mana eksistensi, yang ada lebih dahulu daripada materi juga dipertimbangkan. Untuk dibawa kepada eksistensi dapat dibagi menjadi ‘pembaharuan awal’ dan penciptaan. Kemampuan Tuhan untuk menciptakan tidak akan pernah dapat dibandingkan dengan perbuatan manusia, yang membutuhkan pergerakan dan penggunaan peralatan, yang terkait dengan perbuatan. Pencapaian perbuatan ini dikenal sebagai hasil dari perbuatan ini.
Bukanlah suatu kasus bahwa ‘menciptakan’ adalah satu hal dan ‘diciptakan’ adalah hal lain, karena Tuhan lebih penting daripada pergerakan dan kekhususan eksistensi jasadi. JikaTuhan ‘menciptakan’ memiliki suatu rujukan nyata (misdaq‘ainy) berupa sebuah konsepsebagai tambahan bagi esensi-Nya, hal itu dapat dihitung sebagai eksistensi yang mungkin dan hal yang diciptakan di anatar makhluk-makhluk-Nya dan diskusi bahwa penciptaan akan telah diulangi (dalam kaitannya dengan hal itu). Sifat-sifat perbuatan lainnya adalah konsep yang disarikan dengan sebuah perbandingan khusus antara Tuhan dan makhluk-Nya dan konsistensinya adalah hak akal intelek.
b. Tuhan Yang Maha Kuasa (Lordship/Rububiyyah)
Hubungan yang ada di antara Tuhan dan makhluk ciptaan-Nya tidak hanya karena makhluk/ciptaan adalah akibat dari Tuhan, tetapi ciptaan yang dari semua aspek eksistensialnya memerlukanAllah SWT. Makhluk/ciptaan seluruhnya tergantung kepada Allah SWT, dan Ia dapat campurtangan dan mengatur urusan dengan cara apa saja yang Ia kehendaki.
Ketika hubungan ini dipertimbangkan dalam suatu bentuk yang umum, konsep Ketuhanan Yang Maha Kuasa diringkaskan. Manajemen urusan-urusan adalah faktor yang penting di sini, yang darinya beberapa rujukan konsep ini dapat diturunkan, seperti konsep: perlindungan dan pemeliharaan, memberi kehidupan dan menyebabkan kematian, menyediakan makanan atau minuman bergizi untuk kelangsungan hidup dan memberi bimbingan, dll.
Maqom/stasiun Ketuhanan Yang Maha Kuasa dapat dibagi menjadi dua kelompok umum:
I.Kuasametafisik, yang meliputi me-manage/mengelola urusandari semua yang ada danmenyediakan kebutuhan mereka – dengan begitu menyebabkan alam semesta.
II. Kuasa legislatif, yang khusus bagi eksistensi itu, yang mempunyaikemauan bebas dan kecerdasan. Hal Itu meliputi masalah seperti menjadikan wakil (mengutus) para nabi,menurunkan kitab suci, menyarankan tanggung-jawab dankedisiplinan dan pembuatan aturan.
Kemutlakan Kuasa Tuhan berarti bahwa semua makhluk tergantung pada Tuhan. Ketergantungan yang ada antara makhluk juga kembalinya kepada ketergantungan kepadaTuhan.
Ia adalah Yang mengatur urusan-Nya melalui makhluk-Nya, dan Yang memandueksistensi yang cerdas (melalui akal dan persepsi lainnya) dan menugaskantanggung-jawab, peraturan dan hukum untuk mereka.
Tuhan Yang Maha Kuasa adalah serupa dengan konsep Tuhan Yang Maha Pencipta dalam konsep terkait, bagaimanapun dengan perbedaan bahwa kadang-kadang hubungan antara makhluk adalah juga dipertimbangkan, seperti tersebut di awalketika mendiskusikan keberlangsungan hidup.
c. Ketuhanan (uluhiyyah)
Berkenaan dengan konsep Tuhan (illah) dan ketuhanan (Uluhiyyah), beberapa wacana telah dibahas, yang direkam di dalambuku-buku tafsir al-Qur’an. Makna yang lebih disukai oleh kita untuk Tuhan (illah) adalah: Sesuatu yang disembah(Ma’abud), atau Sesuatu Yangpantas untuk disembah dan ditaati ( salih lil ‘ ibadah wa ita’a'ah). Ini adalah cara yang sama dengan konsep: ‘suatu buku’ berarti suatuyang ditulis dan suatu hal yang mempunyai suatu keunggulan yang tertulis.
Menurut makna tersebut, sifat Ketuhanan harusdiringkas melalui hubungan pertanggungjawaban, kewajiban dan pemujaan ataupenyembahan. Walaupun mereka yang tersesat sudah mengenalidewata/tuhan palsu bagi diri mereka, satu-satunya yang berhak/layak disembah adalah Tuhan Yang telah menciptakan mereka, dan itu adalah Tuhan Pencipta alam semesta. Terlepas dari mengenali Tuhan sebagai EksistensiYang diperlukan Adanya (necessary existent), Pencipta, Yang Maha Kuasa dan Pemula, tiap-tiap individu harus mengetahui bahwa Ia (Allah) adalah pantas untuk disembah (diibadahi). Oleh karenanya inilah seluruh aspek yang dikenaldi dalam kesaksian Islam: ‘ Tidak ada tuhan (ilahi) selain Allah ( La ilaha illa Allah).
Pelajaran Sebelas
Sifat-sifat Perbuatan Tuhan
Pendahuluan
Kehendak (iradah)
a) Maha Bijaksana (hikmah)
b) Maha Berbicara (kalam)
c) Maha Benar (sidq)

Pendahuluan

Masalah Kehendak Tuhan adalah suatu hal yang telah sering diperdebatkan. Berbagai pandangan telah dibahas dan diperdebatkansecara berlebihan, seperti apakah hal itu dianggap sebagai suatu sifat esenssial (inti sari) atau sifat perbuatan, apakah hal ituada sejak awal (pre-existent/qadim) atau sementara (haadith) dan apakah hal itu bentuk tunggal atau jamak, dll.
Batas luar dan unsur-unsur ‘Kehendak’ tersebut, dan terutama ‘Kehendak Tuhan’, dibahas di dalam filsafat. Topik ini adalah sangat luas dan tidak bisa dibahas di sini secara detil, tetapi kita akan menyediakan suatu definisi ringkas konsep ‘Kehendak’, yang diikuti oleh suatu diskusi ringkas mengenai batas luar ‘Kehendak Tuhan’.

Maha Berkehendak

Ekspresi ‘Kehendak’ dalam penggunaan yang umum diterapkan paling tindak dalam dua cara: yang pertama, adalah pengharapan atau keinginan, dan yang lainnyaadalahmemutuskan untuk melaksanakan suatu tindakan. Maknayang pertama adalah lebih luas dibandingkanmakna yang kedua,sebab makna yang pertama meliputi menginginkan tindakan diri sendiri, tindakan dari yang lain dan menginginkan berbagai hal didunia yang eksternal. Makna yang keduabagaimanapun meliputi hanya tindakannya sendiri.
Kehendak dalam pengertian yang pertama adalah setara dengan cinta kasih (muwaddah) kepada apapun jugaderajat tingkatannya. Di dalam kasus manusia adalah dari kualitas kebetulan dan fisikal (kaif nafsany) dan dapat diringkas dalam suatu pengertian yang tak terbatas (sebagai konsep umum) melalui bantuan akal. Konsepumum ini dapat berlaku untuk eksistensi yang substansiil (muwjudat juwhareyyah) dan bahkan untuk Tuhan, Yang Maha Tinggi, seperti yang dibahas sebelumnya berkenaan dengan pengetahuan. Dari sudut pandang inikita dapat mempertimbangkan cinta (hubb), yang dapat diterapkan bagi Cinta Tuhan dalam hubungan dengan inti sari (esensi)-Nya (atau dengan kata lain Tuhan mencintai Esensi-Nya sendiri) sebagai suatu sifat esensi. Karenanya Kehendak Tuhanberarti cinta kesempurnaan ontologisyangpadatingkatan awaldiarahkan untukkesempurnaan Tuhandan padatingkatan bawahan diarahkan untukkesempurnaan eksistensi, yang meluap dari kebaikan dan kesempurnaanEsensi Ketuhanan.
Bagaimana pun makna kedua dari Kehendak, yang membutuhkan pembuatan keputusan untuk mewujudkan sebuah tindakan, adalah suatu sifat perbuatan karena hal itu terkait dengan keputusan yang terkait dengan waktu dan mempunyai suatu kualifikasi keruangan. Lebihlanjut al-Qur’an al Karim juga menggunakan makna ini dalam beberapa kesempatan seperti :
“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalahberkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah dia.” (QS Surat Yasin, 36 : 82)
Penting diingat bahwa terkait dengan sifat perbuatan Tuhan, hal ini tidak berarti bahwa sebuah perubahan telah terjadi di dalam esensi ketuhanan atau bahwa suatu kualitas aksidental telah terjadi untuk menyusun/menperkembangkan Tuhan. Dengan kata lain hal itu dapat dipertimbangkan sebagai sebuah hubungan dengan sifat perbuatan yang diterapkan kepada Tuhan, yang disarikan dengan membandinkan perbuatan penciptaan kepada esensi Tuhan.
MengenaiKehendak, hubungan, yang dijadikan pertimbangan, adalah bahwa sesuatu yang diciptakan telah diciptakan dari aspek yang mempunyai kebaikan, kesempurnaan dan kemanfaatan (maslahat). Keberadaan mereka adalah dalam ruang dan waktu tertentu danterkait dengan pengetahuan Tuhan dan cinta.Dia menciptakan mereka diluar keinginan nafsu-Nya dan bukan karena Dia terpaksa melakukan hal itu. Pengamatan terhadap hubungan ini menjadi alasan bagi abstraksi konsep terkait yang disebut Kehendak,yang berada dalam hubungan dengan sesuatu hal yang terbatas dan terlarang menjadi terbatas dan terlarang. Oleh karena itu konsep relatif (mafhuwm idafiy) adalah memberikan sifat temporalitas dan keberagaman.
a. Maha Bijaksana
Menjadi sangat terang melalui penjelasan yang diberikan berkenaan dengan ‘Kehendak Tuhan’, bahwa kehendak Tuhan tidaklah terkait dengan menciptakan sesuatu secara absurd; malahan hal ini secara mendasar lebih terkait dengan aspek kebaikan dan kesempurnaan dari sesuatu itu.
Meskipun demikian dalam kaitannya dengan fakta bahwa ada benturan perihal, hasil daridalam pembusukan dan pembinasaannya, penentuan Cinta Tuhanuntuk kesempurnaan adalah bahwa keseluruhanpenciptaan adalah dalam yang suatu cara sedemikian sehingga mereka menerima sebanyak mungkin kesempurnaan dan kebaikan. Dengan pertimbangan atas hubungan jenis ini, kita dapat memahami konsep kebermanfaatan, yang tidak berada dengan bebas dari eksistensi ciptaan, dan oleh karena itu tidak akan menyebabkan produksi mereka (ciptaan), jauh dari menjadi agen efektif untuk Kehendak Tuhan( iradah).
Kita dapat simpulkan bahwa perbuatan-perbuatan Tuhan menemukan sumbernya dalam ilmu pengetahuan, kekuasaan, dan cinta kepada kesempurnaan dan kebaikan, yang merupakan sifat-sifat esensi Tuhan, hal-hal itu akan selalu terwujud sebagai sesuatu yang bermanfaat. Tipe Kehendak ini (yang ingin mengirimkan kebaikan dan kesempurnan paripurna) dikenal sebagai Kehendak yang Bijaksana (iradah hakimah).Sifat perbuatan Tuhan yang lainnya dari sini dapat diabstraksikan, dengan nama Maha Bijaksana (Hakim), yang juga sebagaimana sifat perbuatan yang lainnya kembali kepada sifat-sifat esensi Tuhan.
Orang perlu ingat bahwa hanya karena pemenuhan manfaat suatu tugas,itu tidak berarti bahwa manfaat itu adalah penyebab yang terakhir (‘illah gha’iyyah) bagi TuhanYang Maha Tinggi. Melainkan hal itu terhitung sebagai jenis sarana untuk mencapai tujuan itu. Penyebab akhir yang pokok untuk pemenuhan suatu pekerjaan adalah cinta ke arah kesempurnaan esensial tanpa batas, yang juga secara subordinat berhubungan dengan kesempurnaan ciptaan.
Maka dari sinilah dikatakan bahwa penyebab utama bagi perbuatan Tuhan adalah penyebab sangat aktif (‘illah fa’ilieyyah) dan Tuhan Yang Tinggi tidak mempunyai tujuan ekstra selain esensi-Nya. Bagaimanapun juga subjek ini tidak bertentangan dengan pemahaman bahwa kesempurnaan, kebaikan dan kemanfaatan dari eksistensi dianggap sebagai tujuan sekunder. Untuk alasan perbuatan-perbuatan Tuhan di dalam al Qur’an al-Karim dianggap sebagai penyebab segala urusan, yang kesemuanya akan kembali kepada kesempurnaan dan kebaikan bagi penciptaan.
b. Maha Berbicara
Salah satu konsep yang terkait dengan Tuhan Yang Maha Agung, adalah konsep ‘berbicara’ (kalam).
Diskusi tentang‘pembicaraan’ Tuhan, sudah ada sejakmasa lalu di antara parasarjana filsafat dan theology dan bahkan dikatakan bahwa karena itulah mengapa mereka menamakan theology sebagai ilmu pembicaraan (ilm al-kalam). Para penganut ilmu ini yang biasa berdebat tentang apakahBicara-nya Tuhan adalah sebuah sifat esensi Tuhan, seperti yang kaum Ashariyah percayai, ataukah hal ini terkait dengan sifat-sifat perbuatan Tuhan, sebagaimana yang dipercayaai oleh kaum Mu’tazilah. Salah satu konflik keras di antara dua mazhab pemikiran ini adalah apakah al-Qur’an yang merupakan kalam Tuhan diciptakan (makhluk) ataukah bukan makhluk. Hal ini seringkali membawa kedua kelompok ini mengecam satu sama lain. Dengan menfokuskan kepada definisi yang diberikan bagi sifat-sifat esensi dan bagi sifat-sifat perbuatan, menjadi jelaslah bahwa berbicara adalah sifat perbuatan. Untuk mengabstraksikan konsep ini, seseorang harus mempertimbangkan siapakah yang dituju (dialamatkan/mukhatab) dan siapakah yang memahami keperluan pembicaraan melalui sarana mendengarkan suara, membaca sebuah teks, atau dengan memahami sebuah konsep dalam pikiran seseorang. Dalam kenyataannya konsep ini diabstrasikan dari hubungan yang ada di antara Tuhan dan yang dituju-Nya, di mana Tuhan berkehendak untuk menyampaikan kebenaran kepada tujuannya, yang menyadari kebenaran. Bertentangan dengan itu, jika berbicara dianggap sebagai kemampuan atau kekuatan untuk berbicara, maka kemudian itu menjadi sifat-sifat esensi. Jenis aliran ini telah kita sebutkan di muka mengenai sifat-sifat perbuatan Tuhan. Bagaimanapun juga Al Qu’an, dalam pengertian huruf-huruf, kata-kata atau konsep yang hadir di dalam benak pikiran seseorang adalah makhluk (yang diciptakan).
Jika sesorang menganggap ilmu pengetahuan Tuhan sebagai realitas Al Qur’an, hal ini akan menjadi sifat-sifat esensi Tuhan. Bagaimana pun jenis penafsiran ini adalah jauh dari pada pemahaman umum dan tak perlu diindahkan.
c. Maha Benar (Sidq/Truth)
Jika kalam Tuhan dirujukkan kepada struktur dari, atau sebagai sebuah perintah, penyataan atau larangan, kerangka itu keluar dari tanggung jawab praktis dari pengabdian, di mana hal itu tidak dapat disifatkan sebagai benar atau salah.Bagaimana pun juga sekiranya (pembicaraan/kalam) adalah dalam bentuk sebuah ramalan kenabian (prophecy), lalu itu akan disifati sebagai kebenaran, karena Al-Qur’an al-Karim menyebutkan:
.اًثيِدَح ِهّللا َنِم ُقَدْصَأ ْنَمَو.
[ءاسنلا ةروس : 87 ]
“Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) selain daripada Allah?” (QS, An-Nissa, 4:87)
Maka tak seorang pun akan punya alasan untuk tidak menerima hal ini. Sifat-sifat ini dianggap sebagai sebuah dasar untuk berbagai jenis argumen (yang dikenal sebagai tradisional dan pengabdian/ibadah), yang digunakan untuk membuktikan topik-topik yang berkaiatan dengan pandangan dunia atau ideologi.
Di sisi lain, argumentasi intelektual untuk membuktikan sifat-sifat ini dapat ditegakkan, pembicaraan Tuhan berasal dari maqom ketuhanan (Ilahiyah/lordship), dan pengelolaan (management) alam semestadan manusia adalah didasarkan atas ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Dengan kata lain, ini berarti bahwa panduan bagi penciptaan dan sarana untuk mewujudkan kebenaran bagi yang dituju telah terbukti.
Pelajaran keduabelas
Memeriksa alasan penyimpangan
Pendahuluan
Alasan-alasan penyimpangan
a) Alasan-alasan psikologis bagi penyimpangan
b) Aasan-alasan sosiologis bagi penyimpangan
c) Alasan-alasan Intelektual bagi penyimpangan
Kampanye melawan elemen-elemen yang menyimpang

Pendahuluan

Sebagaimana telah disebutkan dalam pelajaran pertama, pandangan dunia dapat dibagi ke dalam dua kelompok: pandangan dunia Ilahiyah dan pandangan dunia materialistik. Perbedaan utama di antara kedua pandangan dunia tersebut adalah bahwa pandangan dunia Ilahiyah (Ketuhanan) menerima satu Tuhan Pencipta Yang Maha Bijaksana sebagai prinsip fundamental, sementara hal ini ditolak oleh pandangan dunia materialistik.
Pada pelajaran sebelumnya, kami telah membuktikan wacana yang tepat untuk membuktikan eksistensi Tuhan, menegakkan sifat-sifat negatif dan sifat-sifat positif yang sangat penting dan memberikan diskusi berkenaan dengan sifat-sifat esensi dan sifat-sifat perbuatan.
Untuk meneguhkan kepercayaan dengan prinsip fundamental ini, kami akan memberikan kritisisme singkat terhadap pandangan dunia materialistik dengan menegakkan pandangan dunia Ilahiyah (berketuhanan), yang akan menyingkapkan bahwa pandangan dunia materialistik adalah tidak berdasar dan impoten.
Untuk mewujudkan hal ini, kami akan memulai diskusi berikut dengan menyediakan alasan-alasan bagi keberangkatan pandangan Ilahiyah ke arah bid’ah, yang diikuti dengan sebuah penjelasan kelemahan elemen-elemen dalam pandangan dunia materialistik.
Alasan-alasan penyimpangan
Bid’ah, atheisme, dan materialisme telah mempunyai masa lalu yang panjang dalam sejarah umat manusia. Namun demikian, selalu ada jejak-jejak kepercayaan kepada Sang Pencipta dalam masyarakat manusia. Meskipun demikian, penyebaran kecenderungan anti-agama yang telah dimulai di Eropa selama abad ke delapan, dan secara bertahap menyebar luas ke bagian-bagian lain di dunia.
Walaupun kedatangan kecenderungan anti agama ini adalah merupakan sebuah respon terhadap sistem gereja dan ditujukan untuk menghadapi Kritenitas, namun gelombangnya telah menyapu bagian lain dunia. Kecenderungan anti agama ini, bersamaan dengan industri, seni dan teknologi Barat, telah diekspor ke bagian-bagian lain dunia. Selanjutnya, pada abad-abad terakhir, tranformasi ini dan penyebarannya telah mewarnai secara ekonomi dan sosial; pemikiran Marxist, yang diterapkan di berbagai negara, hasilnya adalah kejatuhan nilai-nilai kemanusiaan.
Alasan-alasan dan faktor-faktor yang diperlukan bagi kemunculan dan pengembangan pemikiran yang terdistori ini adalah banyak, penyelidikan tentangnya akan membutuhkan buku terpisah tersendiri. Namun demikian, hal itu dapat digeneralisasikan ke dalam 3 kelompok, yaitu:
a. Alasan psikologis bagi penyimpangan
Kualitas-kualitas (manusia) seperti tidak bertanggung jawab, kecerobohan dan hawa nafsu untuk mengejar kenikmatan adalah semua kecenderungan yang akan memperdayakan individu manusia ke arah atheisme.
Untuk individu seperti itu, dari satu sisi, hal ini berarti adanya rasa sakit dalam penelitian dan penyelidikan yang perlu, khususnya ketika isu-isu tersebut tidak menyediakan kenikmatan jasmaniah dan material.Maka bagi mereka yang malas berusaha seperti itu, akan menjadi rintangan terbesar dalam jalannya. Dari sudut lain, kecenderungan manusia ke arah kebebasan kebinatangannya, kecerobohannya, kebebasan dari segala batasan dan disiplin, hanya akan semakin menjauhkannya dari pandangan dunia Tuhan (Ilahiyah).
Penerimaan terhadap pandangan dunia Tuhan berdasarkan atas kepercayaan kepada Tuhan Maha Pencipta Yang Maha Bijaksana, akan memunculkan serangkaian kepercayaan, yang akan mewajibkan tanggung jawab atas setiap perbuatan sukarela manusia.
Tanggung jawab ini membutuhkan pengorbangan dan kedisiplinan dalam banyak bidang. Menerima kedisiplinan dengan kecerobohan di dalamnya adalah kontradiksi. Maka kecenderungan ke arah kebebasan hewaniyah, bahkan sekiranya masing-masing individu tidak perduli padanya, menjadi alasan utama yang karenanya akar tanggung jawab terpenggal, dan secara lebih fundamental membawa penolakan terhadap eksistensi Tuhan.
Ada beberapaelemen lainnya, yang menyimpangkan manusia dari keberagamaannya, dan inilah yang menjadi lebih nampak ketika kecenderungan lainnya telah terungkap.
b.Alasan Sosiologis bagi Penyimpangan
Ketika suatu perubahan bentuknampak di dalam suatu masyarakat, yang secara parsial terkait dengan tokoh-tokoh agama, maka kejadian ini dapat digolongkan sebagai alasan sosiologis. Perubahan bentuk dari suatu masyarakat bisa memaksa orang-orang menyalahkan para tokoh pemuka agama, akibatnya masyarakat yang menjadi tidak puas dengan agamadan doktrin-doktrinnya.
Alasan di belakang ini adalah orang kebanyakan itu secara intelektual lemah, dan tidak mampu untuk menganalisa, menafsirkan dan menyadari pertimbangan yang benar di belakang peristiwa jahat (korup). Mereka berpikir bahwa kekacauan dan kebingungan ini adalah karena keterlibatan otoritas religius dan sebagai hasil dari agama, dengan demikian mereka berasumsi bahwa kepercayaan religius adalah alasan bagi perubahan bentuk dan penyimpangan ini. Mereka sesudah itu menjadi tidak puas terhadap agama dan doktrinnya.
Post a Comment