Friday, July 13, 2012

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM KONSEP MA'RIFATULLAH MENURUT AL-GHAZALI. 2

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


ABSTRAK
Menurut Al-Ghazali ma'rifat merupakan sumber dan puncak kelezatan beribadah yang dilakukan seorang muslim. Lebih lanjut lagi ia memberi pandangan yang luas tentang kebahagiaan dan kelezatan bagi manusia setelah mencapai ma'rifatullah, yaitu dengan Mengenal dan mencintai Allah dengan sepenuhnya. Selanjutnya Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara dan jalan untuk menuju kepada Allah SWT pertama mukhasyafah (pembuka hijab), kedua dengan wahyu (dalil) dan ketiga akal pikiran. Jalan mukhasyafah bisa dicapai manusia setelah terlebih dahulu membersihkan dan mensucikan hatinya dari segala noda dan dosa. Karena hati manusia tempat bersarangnya segala kebaikan dan keyakinan kepada Allah SWT dan hasil yang diperoleh lewat jalan ini adalah ma'rifat yang hakiki. Dengan demikian manusia akan memperoleh kesenangan yang luar biasa dari yang lainnya. Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui "Nilai-nilai Pendidikan Dalam Konsep Ma'rifatullah Menurut Al-Ghazali". Untuk itu metode yang digunakan dalam pengumpulan data-data adalah metode penelitian (Library Reseach), yaitu dengan cara menelaah buku-buku atau kitab yang berkaitan dengan pembahasan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui ilmu ma'rifat ini manusia akan memperoleh kebahagiaan, keselamatan, ketenangan dan ketentraman jiwanya baik di dunia ini maupun di akhirat kelak, dan kebahagiaan jiwa yang seperti ini tidak dapat diperoleh dengan cara-cara lain menurut Al-Ghazali.
BAB I
PENDAHULUAN
A.         Latar Belakang Masalah
Ma'rifat adalah suatu ilmu atau pengetahuan untuk mengenal dan mengetahui   Sang Pencipta alam ini, yaitu Allah Swt, Juga memahami rahasia-rahasia-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan kerajaan-Nya. Dan pengetahuan ini merupakan pengetahuan yang tertinggi kedudukan derajatnya, dan disamping sangat mulia dari segala pengetahuan yang ada di dunia fana ini, karena segala kehidupan jasmaniah dan rohaniah manusia ditegakkan di atasnya. Dengan kata lain, orang ma’rifatullah adalah orang yang paling dekat jiwanya dengan Allah.
“Mengenal Allah Swt merupakan dasar utama dalam agama Islam, sebab dengan mengenal dan mengetahui-Nya secara benar, manusia akan melaksanakan semua kewajibannya sebagai makhluk yang diciptakan oleh-Nya, Melalui berma'rifatullah otomatis akan timbul ma'rifat terhadap hasil ciptaan-Nya, yakni kepada Rasul dan Nabi-Nya, malaikat-malaikat-Nya, hari kiamat, qadha dan qadar-Nya”.[1]
Al-Qur'an yang mulia sebagai dasar utama untuk mengetahui dan mengenal Allah Swt, dengan ajaran-ajaran-Nya itu (Al-Qur'an) telah mewajibkan kepada manusia untuk mengenal dan mengetahui Allah Azza Wajalla dengan cara yang benar. Adapun cara-cara yang ditunjuki dalam Al-Qur'an sebagai pedoman atau jalan bagi manusia untuk dapat mengenal-Nya, ada dua cara yaitu:
1.                  Dengan menggunakan akal pikiran, yaitu memeriksa secara teliti apa-apa yang telah diciptakan-Nya.
2.                  Dengan mema'rifati nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan pemahaman yang mendalam.
Jadi, “perintah untuk mengenal Allah Swt itu adalah perintah lansung dari-Nya sendiri, oleh sebab itu manusia sebagai ciptaan Allah Ta'ala wajib mengetahui hal itu, jika diabaikan dan berpaling dari perintah tersebut, maka sangat merugi bagi manusia, karena manusia tidak mengenal Allah secara benar yang pada akhirya manusia tidak mengamalkan perintah-Nya. Tetapi apabila manusia dapat mengenal Allah secara benar, maka manfaatnya sangatlah besar, yakni memperoleh kebahagiaan, keselamatan, kenikmatan dan ketenangan jiwa raga yang tiada tara, baik di dunia maupun di akhirat nantinya”.[2]
Pengkajian dan pengembangan pemikiran ma'rifat inilah yang sangat menarik perhatian Al-Ghazali untuk menjelaskan secara mendetil.
“Menurut Al-Ghazali ma'rifat itu merupakan sumber dan puncak kelezatan beribadah yang dilakukan oleh seorang manusia di dunia ini. Lebih jauh lagi ia memberi pandangan yang luas tentang kebahagiaan dan kelezatan bagi manusia untuk mencapai ma'rifatullah. Mengenal dan mencintai Sang pencipta dengan sepenuhnya. Dengan demikian manusia akan memperoleh kesenangan yang luar biasa dari yang lainnya”.[3]
B.         Penjelasan Istilah
Untuk menghindari kekeliruan dan kesalah pahaman dalam memahami pembahasan skripsi ini, maka penulis merasa perlu untuk menjelaskan beberapa istilah berikut:
a.       Nila-nilai
Pengertian nilai-nilai di dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “Sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna, Sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya, Konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia etika nilai yang berhubungan dengan akhlak, nilai yang berkaitan dengan benar dan salah yang dianut oleh suatu masyarakat”.[4]
b.   Pendidikan
Menurut para ahli pendidikan diartikan sebagai berikut:
1).   S.A. Branata dkk
Pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik lansung maupun dengan cara tidak lansung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan.
2).   John Dewey
Pendidikan adalah “proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia”.[5]
Dari kedua penjelasan istilah di atas dapatlah penulis pahami bahwa nilai pendidikan yang penulis maksud adalah suatu keadaan yang sangat positif dan berguna dalam pendidikan adalah membentuk pribadi manusia menjadi manusia yang berakhlakul karimah kepada Sang Pencipta  dan juga terhadap makhluk ciptaan Allah SWT lainnya.
c.       Konsep
“Konsep adalah pengetahuan yang diambilkan oleh manusia dengan cara berpikir tentang kualitas hubungan benda-benda jelas. Jika di lihat dari sudut Subjektif konsep berarti suatu kegiatan akal untuk menangkap sesuatu. Sedangkan dari sudut Objektif konsep adalah sesuatu yang ditangkap oleh kegiatan akal manusia yang timbul dari pemahaman dan pengalaman yang komplek”.[6]
d.      Ma'rifatullah
Ma'rifat artinya “pengetahuan, tingkat penyerahan diri kepada Tuhan, yang naik setingkat demi setingkat sehingga akhirnya sampai pada tingkat keyakinan yang kuat dalam Tasauf”.[7]
Adapun arti Ma’rifatullah adalah “kondisi (hal) yang bermuara dari upaya-upaya mujahadat dan menghapus sifat-sifat yang jelek, pemutusan semua hubungan dengan makhluk, serta pengharapan inti/hakikat cita-cita kepada Allah yang dilakukan oleh seseorang. Dalam kondisi ini, maka Allah kemudian hadir dan mengisi hati orang tersebut dan kemudian Allah memenuhi hati orang tersebut dengan rahmat, memancarkan Nur-Nya, melapangkan dada, membuka padanya rahasia alam semesta, tersingkaplah dari hati orang tersebut kelengahan sebab kelembutan rahmat-Nya, serta berkilauanlah disana hakikat masalah-masalah Ilahiyat”.[8]
Dari kedua penjelasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa konsep ma'rifatullah yaitu pengetahuan yang diambil oleh manusia dengan cara berpikir yang timbul dari pengetahuan, pemahaman dan tingkat penyerahan diri kepada Allah yang naik setingkat demi setingkat sehingga akhirnya sampai kepada tingkat keyakinan yang kuat yaitu ma'rifatullah.
e.       Ma' rifatullah Menurut Al-Ghazali
Zakiah Adnati mengemukakan pendapat Imam Al-Ghazali menjelaskan; “Ma'rifat adalah mengenal, yaitu mengenal akan Allah Swt sebagai sumber puncak kelezatan beribadah yang dikerjakan oleh manusia di dunia ini. Al-Ghazali memberi pandangan yang luas tentang kebahagiaan yang berkesudahan dengan memberi rasa lezat kepada marmsia yang berma'rifatullah, mengenal dan mencintai Sang Khalik dengan sepenuhnya bahkan dapat menimbulkan kesenangan yang luar biasa dari lainnya”.[9]
C.                Dasar-Dasar Pemikiran
Adapun dasar-dasar pemikiran ini, Seiring dengan semakin jauh berlalunya masa, Syariat Islam juga nampaknya semakin tenggelam, dan manusia disibukkan dengan kesibukan dunia. Akibatnya lenyaplah keimanan manusia untuk mengenal Allah dengan sesungguhnya. Padahal mengenal Allah SWT merupakan dasar utama dalam agama Islam, sebab dengan mengenal dan mengetahui-Nya secara benar, manusia akan melaksanakan kewajibannya sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah, melalui berma'rifatullah timbul ma'rifat hasil ciptaan-Nya, yakni kepada Rasul dan Nabi-Nya, Malaikat-Malaikat-Nya, hari kiamat, Qadha dan Qadar-Nya. mewajibkan manusia untuk mengenal dan mengetahui Allah Azza Wajalla dengan benar.
                        Kita yang telah mengenal dan mengetahui keberadaan Allah sudah sepatutnya apabila kita senantiasa mengabdikan diri secara bulat dan utuh semata-mata demi mengharapkan Keridhaan-Nya. Salah satu tanda bagi orang yang berma’rifat kepada Allah adalah, bahwa ia senantiasa bersandar dan berserah diri kepada Allah semata. Apapun yang telah dan akan terjadi pada dirinya selalu diterima dengan baik. Apabila ia diberi kenikmatan ia bersyukur, sedang apabila ia mendapatkan musibah ia terima dengan sabar. Selain itu orang yang berma’rifat kepada Allah tidak pernah menyombongkan diri. Sebagai makhluk yang lemah dan tidak berdaya, manusia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas pertolongan dan izin-Nya.
“Namun sampai pada tataran "hakikat" dan "ma 'rifat dan nilai seperti itulah yang ingin dicapai dalam nilai-nilai pendidikan dalam konsep Ma’rifatullah menurut Al-Ghazali menjadi suatu tuntutan dan kebutuhan mutlak umat manusia dan bertujuan sebagai berikut:
1.    Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan Allah),Tercapainya tujuan hablum minannas (hubungan dengan manusia), dan Tercapainya tujuan hablum minal’alam (hubungan dengan alam).
2.    Ma’rifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup manusia selanjutnya. Karena ma’rifatullah akan menjelaskan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan ma’rifatullah membuat banyak orang hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhluk hidup lain (binatang ternak). QS.47:12
3.    Ma’rifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar.
 
4.    Ma’rifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan Allah.
5.    Dari Ma’rifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi, seperti Malaikat, jin dan ruh.
6.    Dari Ma’rifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan kehidupan  akhirat”.[10]
D.    Tujuan Pembahasan
Adapun yang menjadi tujuan pembahasannya adalah untuk : Mengetahui  nilai-nilai pendidikan    yang    terdapat    dalam    konsep ma'rifatullah yang dikemukakan oleh Al-Ghazali. Pemenuhan kepentingan lahiriah atau jasmaniah yang melebihi kebutuhan yang seharusnya melahirkan apa yang disebut “Hubbudunya” yaitu cinta dunia yang berlebih-lebihan yang dampaknya sangat menghawatirkan. Hal inilah yang kiranya mendorong penulis untuk menyusun suatu skripsi tentang nilai-nilai pendidikan dalam konsep ma’rifatullah menurut Al-Ghazali yang berisi membangun kembali fitrah manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang berkewajiban beribadah kepadanya. Sebagai mahluk ciptaan Tuhan sudah seharusnya mengembalikan hubungan dengan Allah pada jalur semestinya. Jalan yang dimana kita konsisten pada arah jalur ini akan tercipta kebahagian dunia dan akhirat. Konsep inilah yang mengisyaratkan pentingnya kita sebagai mahluk mengenal diri kita sendiri lebih dahulu.
 “Sebagaimana dalam suatu keterangan disebutkan ungkapan dari Yahya bin Muadz Ar-Razy (Orang yang suka memuji lagi bersyukur, menerima apa adanya lagi penyabar, seorang sufi dan juru nasihat lagi banyak berdzikir, seorang yang zuhud lagi Arif). Mengenal diri adalah cara sufi dalam mengenal TuhanNya.
Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang mengungkapkan dengan kaedah :
      مَن عَرَفَ نَفسَه فَقَد عَرَفَ رَبه
   “ Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia telah mengenal Tuhan-Nya.”[11]
Jadi pengenalan diri adalah pintu yang harus dimasuki dalam rangka berkenalan dengan Allah. Konsep inilah yang mengisyaratkan pentingnya kita sebagai makhluk mengenal diri kita, bagaimana kedudukan kita di dunia mau dibawa kemana arah tujuan kita dan akhirnya sampailah kita pada kesadaran diri ingin mengenal pencipta diri kita.
Mengetahui dengan sesungguhnya Allah itu Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dari mengetahui tentang Zat dan Sifat Allah, maka selanjutnya Al-Ghazalipun memberi kesimpulan bahwa : “Ma’rifat adalah mengetahui akan rahasia-rahasia Allah, dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada “ lebih lanjut ditegaskannya bahwa : “Ma’rifat itu adalah memandang kepada wajah Allah SWT”. [12]
Untuk mengetahui bahwa sumber kebaikan manusia terletak pada kebersihan rohaniah dan taqarub kepada Allah. Karena itu Al-Ghazali tidak hanya mengupas kebersihan badan lahir saja (At-Thaharah) tetapi juga kebersihan rohani. Dalam penjelasannya yang panjang lebar tentang Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, dapat disimpulkan bahwa bagi Al-Ghazali semua amal ibadah yang wajib itu merupakan pangkal dari segala jalan pembersihan rohani. Menurut Al-Ghazali Ukhrawi merupakan tujuan kebahagiaan manusia, kebahagiaan yang lebih tinggi ialah ma’rifatullah mengenal Allah dengan dekat dan rasa cintanya kepada Allah. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 165:
šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB äÏ­Gtƒ `ÏB Èbrߊ «!$# #YŠ#yRr& öNåktXq6Ïtä Éb=ßsx. «!$# ( tûïÉ©9$#ur (#þqãZtB#uä x©r& ${6ãm °! 3.................., ( البقرة( ÇÊÏÎÈ:  
Artinya:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah”... (QS.Al-Baqarah:165).[13]
Selanjutnya tujuan pembahasan ini penulis lakukan ingin mengetahui sejauh mana nilai-nilai pendidikan dalam konsep ma’rifatullah menurut Al-Ghazali itu sendiri dalam menciptakan manusia yang sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Al-Hadist.
Hal yang demikianlah sangat menarik perhatian penulis untuk membahas lebih jauh dan merangkumkannya dalam sebuah skripsi dengan judul : Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Konsep Ma’rifatullah Menurut Al-Ghazali.
Lewat penulisan skripsi ini penulis inginkan para muslim dapat timbulnya kesadaran terhadap eksistensi yang hakiki dalam hidup di dunia ini.
E.    Metode Pembahasan
Adapun metode yang digunakan dalam pembahasan skripsi ini adalah “metode deskriptif analisis berdasarkan Library Reseach, yaitu pengumpulan data dan ulasan-ulasan dari kepustakaan berupa kitab-kitab, buku-buku agama, naskah-naskah, majalah-majalah yang bersumber dari khazanah kepustakaan, yang didahului dengan cara menelaah dan menganalisa dengan mendetail tentang ma’rifatullah. Pembahasan massalah ini perlu di dukung dan diperkuat oleh Ayat-Ayat Al-Qur’an dan selanjutnya mengadakan analisis dan menjabarkannya lebih lanjut terhadap data yang terkumpul dari Sunnah Rasulullah Saw. Karena sumber utama untuk ma’rifatullah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, baru kemudian dikembangkan oleh pendapat para Sahabat Nabi Saw, para Ulama dan cendikiawan muslim dari berbagai daerah dibumi ini”.[14]
            Pembahasan tentang Nilai-Nilai Pendidikan Dalam Konsep Ma’rifatullah Menurut Al-Ghazali lebih lanjut akan dikaitkan dengan berbagai kitab Al-Ghazali itu sendiri, karena titik tolak pembahasannya adalah berfokus pada kajian imam Al-Ghazali. Selanjutnya dengan cara mengambil inti sari dari kajian buku-buku Al-Ghazali untuk nilai-nilai pendidikan agama.
            Akhirnya dalam pembahasan dan penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku Panduan Menulis Skripsi Bagi Mahasiswa Fakultas Tarbiyah, yang diterbikan oleh Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Tahun 2008.
BAB II
MA’RIFATULLAH  DALAM ISLAM
Islam sebagai agama yang bersifat universal dan mencakup berbagai jawaban atas segala kebutuhan manusia. Selain menghadapi kebersihan lahiriyah juga menghendaki kebersihan batiniyah. Lantaran itu penelitian yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batinnya.
            Ma’rifatullah merupakan bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia, yang selanjutanya dapat menimbulkan akhlak mulia. Dari suasana demikian itu, ma’rifat diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral yang mengambil bentuk seperti manipulasi, korupsi, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan dan kesempatan, penindasan, dan sebagainya. Untuk mengatasi masalah ini dibina secara intensif tentang cara-cara agar seseorang selalu merasakan kehadiran Allah dalam dirinya. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan pengetahuan. Pesan Islam tentang pentingnya peningkatan intelektual dan keilmuan akan banyak kita dapati di berbagai rujukan tradisional yang tidak terhitung jumlahnya. Sebagaimana telah berkata Saidina Ali, “tidak ada ibadah seperti tafakur / yang melebihi tafakur dalam hal kebaikannya”.[15]
Dan tempat berlalunya tafakur itu banyak sekali, diantaranya yang paling utama adalah tafakur tentang keajaiban-keajaiban ciptaan Allah pada alam semesta, dan jejak atau bekas dari taqdir Allah baik yang dhahir maupun bathin, dan apa yang terjadi pada langit dan bumi, dan yang demikian ini akn menambah ma’rifat akan Dzat Allah dan sifat-Nya dan Asma-Nya.
Sedemikian tinggi nilai ma'rifat di mata Islam, sehingga ia dikategorikan sebagai paling mulianya ibadah, yang jika dibandingkan dengan ibadah sekian puluh tahun lamanya dan tanpa didasari ilmu dan ma'rifat maka ia jauh lebih baik dari pada ibadah tersebut. Semakin tinggi derajat ma'rifat seseorang, semakin tinggi pula kualitas perbuatannya, meskipun perbuatan itu secara lahiriah nampak remeh. ketakwaan tidak mungkin didapati kecuali dengan ilmu dan ma'rifat. Di samping itu, kemuliaan manusia yang dinilai dengan ketakwaannya, juga dinilai dengan sumber ma’rifatullahnya. Penciptaan makhluk yang ada di alam semesta ini, khususnya manusia yang memiliki berbagai potensi, adalah untuk berma'rifat kepada Allah yang merupakan tujuan utama penciptaan.[16]
Sehubungan dengan ma'rifatullah dalam pandangan Islam, “Setiap manusia harus meyakini keberadaan Allah Swt dengan berbagai konsekuensi ketuhanan-Nya, Dalam konteks ibadah sehari-hari, kita selalu dianjurkan berniat untuk taqarrub, yaitu mendekatkan diri kepada-Nya. Taqarub di sini mengisyaratkan pada tasyabbuh (penyerupaan diri dengan sifat-sifat-Nya). Semakin bertambah kualitas dan kuantitas manisfestasi sifat-sifat kesempurnaan Ilahi dalam diri asyiq (seorang pecinta Tuhan), niscaya ia semakin dekat dengan ma'syuq-Nya (kekasih). begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, dalam menuju kesempurnaan abadi dan maslahat hakiki, selain diperlukannya ma'rifat sebagai pondasinya, juga tarbiyah yang dalam bahasa Al-Quran disebut tazkiyah (penyucian diri) sebagai salah satu fungsi diutusnya Rasul”.[17]
Mengenal Allah Swt adalah kewajiban bagi setiap manusia, demikian disebutkan oleh Al-Quran dan Al-Sunnah, karena dengan mengenal Tuhannya manusia akan mengenal dirinya. Juga sebaliknya manusia yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya dipermukaan bumi fana ini, begitu ajaran Islam. Dasar utama manusia tersebut untuk mengetahui dan mengenal Allah Swt dengan sempurna adalah dengan Al-Qur’anul Karim dan Al-Hadist Rasulullah Saw, Nabi akhir zaman. Hal ini dalam Firman Allah Swt surat Ali Imran:31
ö@è% bÎ) óOçFZä. tbq7Åsè? ©!$# ÏRqãèÎ7¨?$$sù ãNä3ö7Î6ósムª!$# öÏÿøótƒur ö/ä3s9 ö/ä3t/qçRèŒ 3 ª!$#ur Öqàÿxî ÒOÏm§
 (ال عمران: ÇÌÊÈ )
Artinya: Katakanlah (Muhammad): "Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Ali Imran:31).[18]
Dari penjelasan ayat di atas manusia dapat memahami bahwa Allah Ta’ala hanya memberikan kebaikan kepada orang-orang yang mengenal-Nya dan mencintai-Nya saja, yakni yang beriman dan bertakwa serta beramal shaleh.
A.       Pengertian Ma’rifatullah
     Ma’rifat dari segi bahasa berasal dari kata عرف,- يعرف عرفاـ معرفة-, yang artinya pengetahuan atau pengalaman. Ma’rifat dapat pula berarti pengetahuan rahasia hakikat Agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang didapat oleh orang-orang pada umumnya.
     Menurut Musthafa Zahri, ma’rifat adalah mengetahui Allah dari dekat sehingga hati sanubari melihat Allah.[19]
     Dalam kitab Ar-Risalah, seperti diikuti oleh Musthafa Zahri, Al-Qusyairi (Nama lengkap Al-Qusyairi adalah Abu Al-Qaim Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Talha bin Muhammad Al-Qusyairi. Beliau dilahirkan pada tahun 376 H/986 M di Ustu, kawasan nishabur. Al-Qusyari adalah tokoh sufi utama dari abad kelima Hijriah. Dalam dunia tasawuf, kedudukannya demikian penting).[20]. Beliau mengatakan:
المَعرِفَةُ هي الغِيبَةً عَنِ الغَيرِيَةٌ بِشُهُودِ الأَحَدِيَة.
            Artinya: “Ma’rifat itu ialah lenyap dari segala yang lain, ketika tampaknya Yang Maha Esa”.[21]
     Ma’rifat ialah; “mengenal Allah Tuhan seru sekalian Alam”. Jalan untuk mengenal Allah adalah dengan memperhatikan segala makhluk-Nya dan memperhatikan segala jenis kejadian dalam alam ini. Sesungguhnya segala yang diciptakan Allah semuanya menunjukkan akan “adanya Allah”. Untuk mema’rifati Allah, maka Dia telah menganugerahkan akal dan pikiran. Akal dan pikiran itu adalah alat yang penting untuk mema’rifati Allah, Dzat yang Maha Suci, Dzat yang tiada bersekutu dan tiada yang serupa. Dengan memakrifati-Nya tumbuhlah keimanan dan keislaman. Makrifat itulah yang menumbuhkan cinta, takut dan harap. Menumbuhkan khudu’ dan khusyuk didalam jiwa manusia. Karena itulah makrifat dijadikan sebagai pangkal kewajiban permulaan Agama, yakni mengenal Allah dengan keyakinan yang teguh”.[22]
  
Ma’rifat berarti mengetahui Allah dari dekat sehingga hati sanubari dapat melihat-Nya. Beberapa sufi menjelaskan ma’rifat sebagai berikut:
1.        Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, kepalanya akan tertutup, dan ketika itu yang dilihatnya hanyalah Allah.
2.        Ma’rifah adalah cermin, kalau seorang ‘arif melihat cermin itu, yang dilihatnya hanya Allah.
3.        Yang dilihat orang ‘arif baik sewaktu tidur maupun terjaga hanyalah Allah.
4.        Sekiranya ma’rifah mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tidak tahan melihat kecantikan serta keindahannya, semua cahaya keindahan yang gilang gemilang.[23]
“Ulama sufi membagi ma’rifah menjadi dua macam, pertama ma’rifat umum, yaitu mengenal Allah yang diwajibkan kepada seluruh makhluk-Nya, lalu memuji dengan pujian yang sesuai dengan keadaan masing-masing. Kedua, ma’rifat khusus, yaitu pengenalan yang lahir dari musyahadah yang dengannya mengenal sifat, nama, dan perbuatan Allah”. [24]
     Ma’rifat adalah mengenal, jadi ma’rifatullah adalah mengenal dan mengetahui akan Allah Swt yang Maha segala-galanya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan sebenar-benarnya (معرفة اليقين). Al-Qur’an menganjurkan dan menyuruh kita semua yang berakal untuk mengenal Allah dengan sebaik-baiknya dan apabila manusia mengingkari tentu saja akan berakibat buruk bagi manusia itu sendiri. Ma’rifat Allah Swt salah satu syarat untuk memperoleh ketentraman. Allah Swt dengan tegas mengatakan bahwa ketentraman itu hanya diperoleh oleh manusia yang selalu mengingat Allah. Hal ini sesuai dengan Firman Allah surat Ar-Ra’du Ayat 28:
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ÉÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ÉÎ/ «!$# ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$#  (الرعد:ÇËÑÈ )
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS.Ar-Ra’du:28)”.[25]
Dalam kuliah ma’rifatullah, pengertian ma’rifatullah adalah “mengenal atau mengetahui akan Allah Swt dengan cara memperhatikan segala hasil ciptaan-Nya, yakni mengenal segala potensi akal pikiran dan kalbu (batin).Saluran pikiran manusia diarahkan kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain serta kepada alam sekitarnya, dan bahkan kepada sang pencipta alam fana ini. Jadi dapat disimpulkan bahwa ma’rifatullah merupakan suatu ilmu atau pengetahuan tentang Allah Swt, tentang diri manusia itu sendiri dan tentang alam sekitarnya (dunia) serta alam akhirat nanti. Ini semua harus dimengerti dan dipelajari oleh manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt. Melalui ini pula semua insan akan menemukan segala yang dicarinya didunia ini, yaitu kebenaran yang hakiki”.[26]
       Ma’rifatullah yaitu sampainya seseorang mukmin kepada derajat Ihsan, yakni derajat yang paling tinggi di dalam Ber-Tawajjuh (menghadap) kepada Allah Swt, dan juga derajat yang di syaratkan oleh Al-Qur’an di dalam surat Al-’Ankabut ayat 69:
z`ƒÏ%©!$#ur  (#rßyg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏöks]s9 $uZn=ç7ß 4 ¨bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$# (الانكبوت:ÇÏÒÈ )
Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.(QS. Al-‘Ankabut:69).[27]
Untuk mengenal ihsan yang merupakan dasar bagi ajaran ma’rifat, di dalam hadist shahih, Rasulullah Saw telah bersabda tatkala ditanya mengenai islam,iman, ihsan dan hari kiamat:
عَن عُمَرُ بن الخَطَّابِ قَالَ بَينَمَا نَحنُ جُلُوسٌ عِندَ رَسُولِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَومٍ إِذ طَلَعَ عَلَينَا رَجُلٌ شَدِيدٌ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَعرِ لَا يُرَى عَلَيهِ أَثَرِ السَّفَرِ وَ لَا يَعرِفهُ مِنَا أَحَدٌ حَتَى جَلَسَ إِلَى النَّبَي صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ فَأَسنَدَ رُكبَتَيهِ وَوَضَعَ كَفّيهِ عَلَى فَخِذَيهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخبِرنِي عَنِ الإِسلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهَ عَلَيهِ وَسَلَمَ الإِسلَامُ أن تَشهَدَ أن لاَ إله إلا َالله وأن محمَدَا رَسولَ الله وَتقيم الصَلاةَ وتؤتي الَزَكَاةَ وَتَصومَ رَمَضَانَ وَتَحجَ البَيتَ إن استطعتَ إليه سَبيلا قاَل صَدَقتَ قال فَعجبنَا لَه يَسأَله ويصَدقه قال فأخبرني عن الإيمان قال أن تؤمنَ بالله ومَلائكَته وكتبه وَرسله واليوم الأخر وتؤمن بالقدر خيره وشره قال صدَقت قال فأخبرني عن الإحسَان قال أَن تَعبدَ اللهَ كَأنَك تَرَاه فإن لَم تَكن تَرَاه فإنه يراك قال فأخبرني عن الساعة قال ما المسئول عنها بأعلم من السائل قال فأخبرني عن أمارتها قال أن تَلدَ الأَمَة رَبّتَها وأن تَرَاى الحفَّاةَ العَرَاة العَالَةَ رعَاءَ الشَّاء يَتَطَاَولونَ في البنيَان قال ثمَّ انطَلقَ فلبثتَ مليَا ثم قال لي يا عمر أتدري من السَائل قلتَ الله وَرَسوله أَعلم قال فإنه جبريل أَتَاكم يعلّمكم دينَكم (رواه مسلم)
     Artinya: “Dari Umar bin Khattab, beliau berkata: “Pada suatu hari ketika kami duduk disamping Rasulullah, tiba-tiba muncullah seorang lelaki berpakaian putih bersih dan rambutnya hitam legam. Tidak terlihat bekas perjalanan jauh sedikitpun. Tidak seorangpun diantara kami yang mengenalinya, lalu ia duduk dihadapan Rasulullah sambil menyandarkan lututnya kepada lutut Rasulullah dan meletakkan kedua telapak tangannya diatas paha Rasulullah seraya berkakta: “Wahai Muhammad, Beritahukah kepadaku tentang Islam”.       Rasulullah menjawab: “Islam itu adalah engkau harus bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Mendirikann Shalat, membayar Zakat, berpuasa Ramadhan dan menunaikan Haji ke Baitul Haram jika kamu mampu”. Lelaki itu berkata: “Engkau benar”. Kami terheran-heran ia bertanya dan membenarkan. Lelaki itu bertanya kembali: “Beritahukan kepadaku tentang Iman!”.Rasulullah menjawab: “Engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir dan Percaya kepada takdir baik maupun buruk”. Lelaki itu berkata: “Engkau Benar”. Lalu berkata: “Beritahukan kepadaku tentang Ihsan”. Rasulullah menjawab: “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya dan meskipun engkau tidak bisa melihat Allah sesungguhnya Allah melihatmu”. Lelaki itu berkata: “beritahukan kepadaku tentang hari kiamat?”. Rasulullah menjawab: “Orang yang ditanya tidaklah lebih tahu dari pada yang bertanya”. Lelaki itu berkata: “beritahukan kepadaku tanda-tandanya”. Rasulullah menjawab: “hamba sahaya melahirkan anak tuannya, engkau melihat orang tidak beralas kaki, telanjang, lagi fakir berlomba-lomba meninggikan bangunan mereka”. Lalu lelaki itupun pergi dan aku terdiam lama. Rasulullah pun bertanya kepadaku: “Tahukah kamu wahai Umar, siapa orang yang bertanya tadi?”. Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Rasulullah berkata: “Dia adalah Malaikat Jibril yang datang kepadamu untuk mengajarkan kepadamu Agamamu”.(HR. Muslim)[28]         
Dengan demikian, Islam, yaitu tunduk dan menyerahkan diri terhadap Agama melalui ucapan lahir dan mengerjakan ibadah-ibadah. Juga terdapat iman, yaitu pembenaran dengan hati, keyakinan dengan akal, dan merasa tenang dan yakin dengan apa yang diucapkan oleh lisan. Juga terdapat yang disebut ihsan, yaitu tawajjuh (menghadap) kepada Allah secara total, berhubungan dengan-Nya secara kontinu, senantiasa berpikir mengenai sifat-sifat dan tanda-tanda kekuasaan-Nya, memperhatikan terus-menerus akan keagungan dan kebesaran-Nya, dan senantiasa menyaksikan nur dan cahaya-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.
“Islam terwujud dengan ucapan dua kalimat syahadat dan amalan-amalan lahir. Iman terwujud dalam bentuk keyakinan hati dan ketenangan jiwa. Sementara ihsan terwujud di dalam yakin dan ikhlas. Derajat yang paling tinggi adalah semata-mata berhubungan dengan Allah, dan berkawan dengan-Nya dengan hati, akal dan seluruh anggota tubuh. Sehingga tidak ada lagi yang di harapkan kecuali Allah. Dan tidak ada yang lebih di takutkan kecuali dosa”.[29] 
B.                                                                                                                                  Keutamaan Ma’rifatullah
Ma'rifat adalah mengenal yang hak pada segala Asma dan sifat-Nya dengan sebenar-benarnya. Ma'rifat adalah keistimewaan yang tertinggi yang ada pada hati, karena seseorang yang sudah ma'rifat hubungan antaranya dan Allah sudah sangat dekat dan harmonis hingga dirinya seolah-olah menyatu dengan Allah, sifatnya adalah sifat Allah dan semua aktivitasnya adalah qudrat Allah.
            Perjalanan seseorang menuju ma'rifat berangkat dari keyakinan seseorang yang kemudian melalui upaya-upaya yang tidak mudah, seseorang melakukan perjalanan naik/perkembangan positif dalam kondisi internalnya dalam bentuk maqam. Keyakinan seseorang mengindikasikan kekuatan imannya kepada Allah, hari akhir, surga dan neraka. Setelah keyakinan ini, seseorang naik kepada maqam (kedudukan/tempat berdiri) berikutnya yaitu khauf (takut) dan raja' (harapan). Berikutnya tahap Shabr, yang menghantar kepada satu tahap diatasnya yaitu mujahadah, dzikr, dan tafakkur. Dzikir mengantarkan kepada tahap uns (suka cita). Tafakkur menghantarkan kepada sempurnanya ma'rifat. Sempurnanya ma'rifat dan uns menghantar kepada mahabbah. Mahabbah menyebabkan kerelaan sesorang atas segala tindakan yang dicintainya dan percaya akan pertolongan-Nya.

       Dalam kaitan dengan ma'rifat, ada dua term yang sering disebutkan oleh Al-Ghazali yaitu ma'rifat al-Dzat dan ma'rifat al-sifat. Pengertian ma'rifat al-dzat adalah pengetahuan bahwasanya Allah adalah dzat maujud, tunggal (فرد), esa (واحد), dan sesuatu yang agung yang tegak dengan dirinya serta tidak diserupai oleh sesuatu apapun. Sedangkan ma'rifat al-sifat berarti pengetahuan bahwa Allah adalah dzat yang hidup (حي), maha mengetahui (عالم), maha berkuasa(قادر), maha mendengar(سامع), maha melihat (بصير) dan seterusnya dengan sifat-sifat yang lain.[30]
            Yang tercakup dalam ma'rifat adalah empat hal yang pokok yaitu mengetahui diri (نفس), mengetahui Tuhan (الرب), mengetahui dunia, dan mengetahui akhirat. Diri diketahui dengan jalan beribadah, merendah (ضوء), dan menjadi faqir (إفتقار). Tuhan diketahui dengan kemuliaan, keagungan, dan kekuasaa-Nya. Ia dapat diketahui juga dengan keberadaan hamba sebagai seorang asing di dunia, keberadaannya sebagai orang yang sedang melakukan perjalanan dari dunia ke akhirat, dan orang yang menjauhi syahwat-syahwat kebinatangan (بهمية).
Orang yang mengenali Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah, pengajar, mujahid, pelayan masyarkat, dermawan, dan seterusnya. Tidak ada ruang dan waktu ibadah kepada Allah, kecuali dia ada di sana. Dan tidak ada ruang dan waktu larangan Allah kecuali ia menjauhinya.
Sebagian ulama yang mengatakan : “Duduk di sisi orang yang mengenali Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu : dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu’ (rendah hati), dari buruk hati menjadi nasehat”.[31]
Beberapa khazanah perbendaharaan Ma’rifatullah adalah sebagai berikut:
1.        Pendekatan kita kepada Allah adalah pendekatan ilmu,  sebab mustahil terjadi suatu pendekatan kepada kebenaran  Allah tanpa ilmu.
2.    Barang siapa yang mengenal Allah, maka ia akan menangkap kebesaran kuasa Allah dalam segala sesuatu. Jika ia yang selalu ingat (berzikir) kepada Allah, maka ia akan melupakan yang lain kecuali Allah. Dan siapa saja yang mencintai Allah, maka ia akan mencintai dan melaksanakan ajaran-Nya dan mencampakkan ajaran lain.
3.   Jika kita menginginkan pintu rahmat terbuka luas, resapilah dalam sanubari akan nikmat yang dianugerahkan Allah kepadamu. Dan jika kita berharap agar hati kita merasa takut akan siksa, renungilah kelalaian kita dalam mengabdi kepada - Nya.
4.    Tanda-tanda seseorang ‘aulia’ yang arif adalah senantiasa memelihara rahasia antara dia dengan Allah, tangguh dalam menghadapi cobaan yang merintangi kehidupannya. Lebih-lebih pada cobaan yang diciptakan manusia ia selalu membalasnya dengan cara yang lebih bijaksana. Mengingat tingkat intelektual mereka (tiap orang) tidak sama.
5.    Barang siapa menyadari, bahwa Allah senantiasa mengingin kan kita menjadi orang baik dan Allah lebih memahami tentang hal-hal yang mengundang kemaslahatan, maka artinya kita mampu mensyukuri nikmat Allah dan berhati tentram.
6.    Bila kita berkeinginan melacak sampai dimana derajat kita di sisi Allah, maka renungilah perbuatan kita sendiri kegigihan kita dalam beribadah dan sebagainya.
7.    Ma’rifat terbangun atas tiga fondasi; Takut kepada Allah, Malu kepada Allah dan cinta kepada Allah.
8.    Orang arif adalah orang yang tidak pernah berhenti untuk berdzikir, tak enggan dalam menunaikan ibadah dan senang berdialog dengan Allah. Sehingga tercetak dalam lubuk hatinya sikap enggan bercengkrama dengan hal sia-sia yang tidak dilatarbelakangi manfaat agama.
9.    Alangkah janggalnya jika seseorang yang telah menyaksikan ke Maha Kuasaan Allah, namun dia mendurhakai-Nya. Kemanakah dia akan lari untuk mencari tempat perlindungan, sedangkan ia menganggap bahwa Allah selalu mengawasi sepak terjangnya. Bagaimana akan berlalai-lalai jika ia merasakan nikmat Allah selalu datang silih berganti kepadanya.
10.  Kearifan laksana tanah yang bisa diinjak-injak oleh orang baik dan buruk. Ia bagaikan awan yang mampu mengayomi segala sesuatu, dan bagaikan hujan yang akan jatuh kepada teman maupun lawan.
11.  Kearifan, adalah bukanlah apa yang dapat dikeruhkan oleh segala sesuatu. Justru sebaliknya segala sesuatu akan tampak jernih.
12.  Ma’rifat kepada Allah sebagai intensitas seseorang hingga menimbulkan rasa malu dalam hatinya, rasa malu kepada Allah yang didasarkan pada rasa mengagungkan. Sebagaimana tauhid merupaka pembangkit rasa puas (rela) terhadap takdir dan timbul rasa berserah diri kepada Dzat Yang Maha Pengatur.
13.  Ma’rifat, bila telah mendarah daging, maka menjadikan kehidupan seseorang akan jernih (tidak tertindih oleh kepedihan-kepedihan hidup) pencahariannya akan bersih dari hal-hal atau unsur-unsur yang haram. Segala sesuatu akan segan kepadanya. Rasa takut kepada sesama mahkluk akan lenyap dari hatinya dan akan cenderung untuk menyibukkan diri dalam ibadah kepada Allah.
14.  Orang yang memandang sesuatu di dunia ini dari kaca mata ma’rifatnya, walau sesuatu itu dipandang, namun yang tergambar dalam benaknya adalah kekuasaan Allah. Oleh karena itu, mata boleh menangis lantaran melihat cobaan yang menimpa, namun hatinya bersukacita lantaran dosa-dosa yang telah lampau terhapuskan.
15.  Belum merasa puas orang arif ketika ia meninggalkan dunia terhadap dua perkara, yaitu; Meratapi terhadap kekurangan dalam beribadah dan Kurangnya banyak memuji Tuhannya.[32]
      Menurut Imam Ghazali , “Utama Ma’rifatullah ialah keinginan untuk mengenal Dzat, Sifat Allah dan menolak segala sifat kekurangan dan menetapkan sifat kesempurnaan bagi Allah. Ma’rifat yang demikianlah yang wajib bagi setiap insan, sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Al-Sunnah serta sesuai dengan ijma’ ummat. Jadi untuk mencapai ma’rifat itu tidak cukup dengan jalan melalui dalil-dalil atau bukan semata didapat melalui akal atau banyaknya amalan akan tetapi ma’rifatullah dapat dicapai dengan pertolongan Allah , disamping berusaha mendapatkanya melalui amal shaleh”.[33]
C.        Jalan Yang Dapat Menyampaikan Kepada Ma’rifatullah
            Orang berpikiran jernih akan menuju kepada kesucian hati dan akan mudah menerima pancaran Nur Sir. Mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah Swt Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia ingin ditemui dan dikenali. Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang kepada Allah Swt. Allah Swt hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan  ‘diri-Nya’. Penemuan kepada hakikat bahwa “tidak ada jalan yang terhulur kepada gerbang  makrifat” merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Karena “pengertian” itu tidak ada dalam Ilmu apapun. Ilmu tidak mampu menelurkan pengertian itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa “tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah Swt” maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apa lagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sampai di sini seseorang itu tidak ada pilihan lagi melainkan menyerah sepenuhnya kepada Allah Swt.
Ada orang yang mengetuk pintu gerbang makrifat dengan doanya. Jika pintu itu tidak terbuka maka semangatnya akan menurun, hingga akhirnya membawa kepada berputus asa. Ada pula orang yang berpegang dengan janji Allah Swt bahwa Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada jalan-Nya. Kuatlah dia beramal agar dia lebih layak untuk menerima kurniaan Allah Swt sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk pintu gerbang makrifat. Bila pintu tersebut tidak terbuka juga maka dia akan merasa ragu-ragu.
Dalam perjalanan mencari makrifat, seseorang tidak terlepas daripada kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa.  Hal itu menandakan dia masih bersandar kepada sesuatu selain Allah Swt. Hamba tidak ada pilihan kecuali berserah kepada Allah Swt, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali diri-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah Swt. Menyerahkan diri atau Aslim kepada Allah Swt itulah yang dapat membawa kehadapan pintu gerbang makrifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang berkemungkinan menerima kurniaan makrifat.
Allah Swt menyampaikan hamba-Nya di sini adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya. Aslim adalah maqam tertinggi untuk menghampiri Allah Swt. Seseorang yang sampai kepada maqam ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Allah Swt kehendaki dari maqam inilah hamba diangkat ke hadirat-Nya.
Jalan Aslim menuju pintu gerbang makrifat pada umumnya terbagi kepada dua, yaitu:
1. Jalan orang yang mencari, dan
2. Jalan orang yang dicari.
a)                  Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia kuat melakukan mujahadah (perjuangan/usaha), Berjuang melawan godaan hawa nafsu, kuat melakukan amal ibadat dan gemar menuntut ilmu. Lahirnya sibuk melaksanakan tuntutan syariat dan batinnya memperteguhkan iman. Dipelajarinya hakikat ma’rifat, mengenal sifat-sifat yang tercela dan berusaha mengikiskannya daripada dirinya. Kemudian diisikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan dirinya agar semakin lepas dari nafsunya itu agar menjadi bertambah suci hingga meningkat ke tahap yang diridhai Allah Swt. Inilah orang yang dimaksudkan Allah Swt dalam firman-Nya :
$ygƒr'¯»tƒ ß`»|¡RM}$# y7¨RÎ) îyÏŠ%x. 4n<Î) y7În/u %[nôx. ÏmŠÉ)»n=ßJsù (الانشقاق:ÇÏÈ)
     Artinya:  “Hai manusia, Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya”.(QS.Al-Insyiqaaq:6).[34]
            Maksudnya ayat di atas: manusia di dunia ini baik disadarinya atau tidak adalah dalam perjalanan kepada Tuhannya. dan tidak dapat tidak dia akan menemui Tuhannya untuk menerima pembalasan-Nya dari perbuatannya yang buruk maupun yang baik.
Orang yang bermujahadah pada jalan Allah Swt dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyakkan ibadat, berzikir, menyucikan hati, maka Allah Swt menunjukkan jalan dengan memberikan taufik dan hidayah sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah Swt tanpa ragu-ragu dan ridha dengan aturan/perlakuan Allah Swt. Dia akan dibawa kedekat pintu gerbang makrifat dan hanya Allah Swt saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke hadirat-Nya ataupun tidak, dikurniakan makrifat ataupun tidak.
b)                  Golongan orang yang dicari menempuh jalan yang berbeda daripada golongan yang mencari. Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan bermujahadah. Tetapi, Allah Swt telah menentukan satu kedudukan kerohanian kepadanya, maka takdir akan menyeretnya sampai ke kedudukan yang telah ditentukan itu. Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan sesuatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan kepada hidupnya. Perubahan sikap dan kelakuan berlaku secara mendadak. Kejadian yang menimpanya selalu berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang antaranya dengan Allah Swt. Misalnya “dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkan dia tidak mampu mendekati Allah swt, maka Allah Swt mencabut kerajaan itu daripadanya. Terlepaslah dia daripada beban tersebut dan saat itu juga timbul satu keinsafan di dalam hatinya, yang membuatnya menyerahkan diri kepada Allah Swt dengan sepenuh hatinya. Sekiranya dia seorang hartawan takdir akan memutuskan hartanya sehingga dia tidak ada tempat bergantung kecuali kepada Allah sendiri. Sekiranya dia berkedudukan tinggi, takdir mencabut kedudukan tersebut dan ikut tercabut kemuliaan yang dimilikinya dan digantikan pula dengan kehinaan sehingga dia tidak ada tempat untuk dituju lagi kecuali kepada Allah Swt”.
Orang dalam golongan ke dua ini dihalang oleh takdir daripada menerima bantuan daripada makhluk.  Sehingga mereka berputus asa terhadap makhluk. Lalu mereka kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah Swt dan timbullah dalam hatinya suasana penyerahan atau aslim yang benar-benar terhadap Allah Swt. Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa daripada makhluk menjadikan mereka ridha dengan apa saja takdir dan perlakuan Allah Swt. Suasana begini membuat mereka sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang makrifat walaupun ilmu dan amal mereka masih sedikit. Orang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana dan tetap dalam istiqamah (Ridha dalam perlakuan Allah Swt) akan lebih cepat sampai ke pintu gerbang kema’rifatan”.[35]
D.      Hikmah Ma’rifatullah
            Ada riwayat yang menyatakan bahwa masalah pertama yang mesti dilaksanakan dalam agama adalah mengenal Allah (اول الدين معرفةالله). Pertama-tama tentang Agama adalah mengenal agama Allah, maka kita akan mengenali Allah sendiri. Siapakah kita, di manakah kedudukan kita dibandingkan makhluk-makhluk yang lain, Apakah sama misi hidup kita dengan binatang-binatang yang ada di bumi ini, Apakah tanggung jawab kita dan ke manakah kesudahan hidup kita, Semua persoalan itu akan terjawab secara tepat setelah kita mengenali betul Allah sebagai Rabb dan Ilah, Yang Mencipta, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.
            Firman Allah Swt dalam surat Muhammad ayat 19 yaitu:
óOn=÷æ$$sù ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) žwÎ) ª!$# öÏÿøótGó$#ur šÎ7/Rs%Î! tûüÏZÏB÷sßJù=Ï9ur ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ öNä3t7¯=s)tGãB  /ä31uq÷WtBur( محمد: ÇÊÒÈ )
            Artinya: “Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah yang patut disembah kecuali Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu”.(QS.Muhammad:19).[36]
            Ma’rifatullah yang sahih dan tepat itu mestilah bersandarkan dalil-dalil dan bukti-bukti kuat yang telah siap disediakan oleh Allah untuk manusia dalam berbagai bentuk agar manusia berpikir dan membuat penilaian. Oleh karena itu banyak fenomena alam yang dibahas oleh Al-Qur‘an dan diakhiri dengan kalimat pertanyaan: tidakkah kamu berpikir, tidakkah kamu mendengar. Pertanyaan-pertanyaan itu mendudukkan kita pada satu pandangan yang konkrit betapa semua fenomena alam adalah di bawah milik dan aturan Allah Swt. Mengamati fenomena yang ada di langit dan di bumi merupakan cara yang tepat untuk mengenal eksistensi Allah. Sebagaimana kita juga diarahkan untuk memikirkan penciptaan alam semesta, dan memikirkan seluruh keteraturan yang hadir ke dunia ini sebagai suatu jalan untuk memahami tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Allah Swt berfirman:
¨bÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏG÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$yg¨Y9$#ur Å7ù=àÿø9$#ur ÓÉL©9$# ̍øgrB Îû ̍óst7ø9$# $yJÎ/ ßìxÿZtƒ }¨$¨Z9$# !$tBur tAtRr& ª!$# z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# `ÏB &ä!$¨B $uŠômr'sù ÏmÎ/ uÚöF{$# y÷èt/ $pkÌEöqtB £]t/ur $pkŽÏù `ÏB Èe@à2 7p­/!#yŠ É#ƒÎŽóÇs?ur Ëx»tƒÌh9$# É>$ys¡¡9$#ur ̍¤|¡ßJø9$# tû÷üt/ Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbqè=É)÷ètƒ ( البقرة:  ÇÊÏÍÈ )
                Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.(QS.Al-Baqarah : 164).[37]
            Dan juga Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 170-171:
#sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% ãNßgs9 (#qãèÎ7®?$# !$tB tAtRr& ª!$# (#qä9$s% ö@t/ ßìÎ6®KtR !$tB $uZøxÿø9r& Ïmøn=tã !$tRuä!$t/#uä 3 öqs9urr& šc%x. öNèdät!$t/#uä Ÿw šcqè=É)÷ètƒ $\«øx© Ÿwur tbrßtGôgtƒ ÇÊÐÉÈ ã@sVtBur tûïÏ%©!$# (#rãxÿŸ2 È@sVyJx. Ï%©!$# ß,Ïè÷Ztƒ $oÿÏ3 Ÿw ßìyJó¡tƒ žwÎ) [ä!$tãߊ [ä!#yÏRur 4 BL༠íNõ3ç/ ÒôJãã óOßgsù Ÿw tbqè=É)÷ètƒ ÇÊÐÊÈ ( البقرة( 170-171:
                Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti”.(QS. Al-Baqarah:170-171).[38]
            Kemudian kita juga dituntut untuk berpikir, memaksimalkan potensi akal supaya dapat berkarya serta melakukan berbagai macam pemanfaatan terhadap sumber daya yang ada di bumi untuk kebaikan hidup manusia. Oleh sebab itu, berpikir bagi seorang muslim juga merupakan suatu proses yang harus dijalani untuk dapat memahami syariat islam yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadist).[39]
            Adapun hikmah Ma’rifatullah adalah: dapat menghasilkan peningkatan iman dan taqwa. Apabila kita betul-betul mengenal Allah mentadaburi dalil-dalil yang dalam, hubungan kita dengan Allah menjadi lebih akrab. Apabila kita dekat dengan Allah, Allah lebih dekat lagi kepada kita. Setiap ayat Allah baik ayat qauliyah maupun kauniyah tetap akan menjadi bahan berpikir kepada kita dan penambah keimanan serta ketakwaan. Dari sini akan menghasilkan pribadi muslim yang merdeka, tenang, penuh keberkatan, dan kehidupan yang baik. Tentunya tempat abadi baginya adalah surga yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba yang telah diridhaiNya.
            Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 96 yang berbunyi:
öqs9ur ¨br& Ÿ@÷dr& #tà)ø9$# (#qãZtB#uä (#öqs)¨?$#ur $uZóstGxÿs9 NÍköŽn=tã ;M»x.tt/ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur `Å3»s9ur (#qç/¤x. Mßg»tRõs{r'sù $yJÎ/ (#qçR$Ÿ2   bqç7Å¡õ3tƒ( الاعراف: ÇÒÏÈ)
            Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.(QS.Al-A’raf:96).[40]
            Dan juga dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat: 97. Allah Berfirman:
ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍósãZn=sù Zo4quym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ ( النحل:ÇÒÐÈ )
            Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan”.(QS.An-Nahl:97).[41]
            Allah Swt tidak menampilkan wujud Dzat-Nya Yang Maha Hebat di hadapan makhluk-makhluk-Nya secara langsung dan dapat dilihat seperti kita melihat sesama makhluk. Maka, segala sesuatu yang tampak dan dapat di lihat dengan mata kepala kita, pasti itu bukan Tuhan. Allah menganjurkan kepada manusia untuk mengikuti Nabi Saw. supaya berpikir tentang makhluk-makhluk Allah. Jangan sekali-kali berpikir tentang Dzat Allah. Dalam sebuah hadist disebutkan, Rasulullah Saw pernah bersabda: “
تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في ذات الله
            Artinya: “Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali  engkau berpikir tentang Dzat Allah”.(Hadist diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilahtu Ahadist Ash-Shahihah berderajat Hasan).[42]
Hadist di atas berbicara tentang salah satu cirri khas manusia yang membedakannya dari makhluk yang lain, bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan kemampuan itulah manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan, ketaatan, keimanan, kebaikan dan ketundukan kepada Allah Swt. Rasulullah melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan mampu menjangkaunya, dan berpikir tentang Dzat Allah bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan. Makhluk-makhluk yang menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah yang disarankan di dalam banyak ayat Al-Qur’an agar menjadi bahan berpikir tentang kebesaran Allah. Ma’rifatullah (mengenal Allah) adalah prinsip terpenting bagi setiap insan. Karena tujuan hidup dan ibadahnya tidak akan bisa tercapai apabila dia tidak mengenal Allah itu sendiri. Allah Berfirman:
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) È brßç7÷èuÏ9( الذاريات: ÇÎÏÈ )
            Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.(QS. QS. Adz Dzariyaat : 56).[43]
Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab [al-Fawa’id, hal. 163] menerangkan: ”Mengenal Allah Swt ada dua macam :
1.        Ma’rifah (pengenalan) yang berupa pengakuan (tentang Allah). Maka ini adalah sesuatu yang dikerjakan oleh semua orang, yang baik maupun yang bejat, orang yang taat maupun orang yang suka bermaksiat.
2.        Ma’rifah yang melahirkan perasaan malu terhadap-Nya, kecintaan karena-Nya, ketergantungan hati kepada-Nya, kerinduan hati untuk bisa bersua dengan-Nya, perasaan takut kepada-Nya, keinginan kuat untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya, ketenangan dan ketentraman bersama-Nya, meninggalkan (ketergantungan hati kepada) makhluk dan bergegas menuju kepada-Nya. Inilah ma’rifah khusus yang mengalir melalui lisan orang-orang pilihan. Perbedaan tingkat keutamaan mereka dalam hal ini tidaklah bisa diketahui secara persis kecuali oleh (Allah) Dzat yang telah memperkenalkan diri-Nya kepada mereka dan telah menyingkapkan tirai ma’rifah kepada-Nya untuk hati-hati mereka; yang hal itu disamarkan oleh-Nya bagi orang-orang selain mereka.[44]
“Sesungguhnya manusia yang paling bahagia di akhirat kelak ialah, orang yang paling kuat cintanya kepada Allah Swt, karena di akhirat lah ia mendatangi Allah dan bertemu dengan-Nya. Alangkah besar kenikmatan yang dirasakan oleh seseorang yang sedang mencinta ketika ia bertemu dengan yang dicintainya setelah lama merindukannya. Apalagi ia akan bias selalu memandang-Nya dengan leluasa, tanpa harus berdesak-desakan”.[45]
Ada dua hal yang dapat menambah rasa cinta, yaitu:
1.    Mengosongkan hati dari selain yang dicintainya. Sebab, seperti halnya sebuah bejana yang apabila dalam keadaan kosong dari sesuatu, tentu bisa diisi oleh Sesuatu yang lain. Memutuskan kesenangan-kesenangan duniawi itu dapat membuat seseorang leluasa menyendiri dan mengandalkan Allah saja.
Itulah yang diisyaratkan oleh firman Allah Swt:
            È@è% ª!$# ( ¢OèO öNèdösŒ Îû öNÍkÅÎöqyz t bqç7yèù=tƒ( الانعام: ÇÒÊÈ )
Artinya: Katakanlah (Muhammad): "Allah-lah (yang menurunkannya)", Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya”.(QS.Al-An’am:91).[46]
Perkataan “biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya” adalah sebagai sindiran kepada mereka seakan-akan mereka dipandang sebagai kanak-kanak yang belum berakal, dan seorang yang masuk tercebur ke dalaman air, sungai/laut, tetapi tidak pandai berenang dan kakipun tidak menyentuh dasar sungai atau laut tempat ia tercebur itu, tentu saja tidak dapat berjalan karena ia tidak memiliki pijakan. Demikianlah keadaan seseorang yang melecehkan agama, ia berbicara tanpa dasar. Ayat di atas mengecam orang-orang yahudi yang memilah-milah dalam berbagai bagian kitab suci mereka. Kecaman terhadap orang-orang Yahudi adalah karena tujuan mereka memilah-milah itu adalah untuk menyembunyikan sebagian isinya, bukan untuk mempermudah membaca bagian-bagian tertentu dari tuntunan Allah”.  [47]
2.    Kesempurnaan Ma’rifat. Yang pertama, contohnya adalah membersihkan tanah dari rerumputan liar, dan yang kedua, contohnya adalah meletakkan benih didalam tanah. Benih ini bisa tumbuh dan menghasilkan pohon makrifat, yaitu bkalimat yang baik.[48]
       Sebagaimana Allah Swt berfirman:
öNs9r& ts? y#øx. z>uŽŸÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhŠsÛ ;otyft±x. Bpt7ÍhsÛ $ygè=ô¹r& ×MÎ/$rO $ygããösùur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# (إبراهيم :ÇËÍÈ )
            Artinya:  “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.(QS.Ibrahim:24).[49]
            Maksudnya” termasuk dalam Kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala Ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. Terhadap pribadi seseorang mukmin, iman terhunjam ke dalam hatinya, seperti terhunjamnya akar pohon kedalam tanah, cabangnya menjulang ke atas (angkasa), yakni amal-amalnya banyak diterima oleh Allah, buahnya yakni ganjaran Allah pun bertambah setiap saat”. [50] 
Post a Comment