Friday, July 20, 2012

MENGIKIS BERBAGAI KERAGUAN TERHADAP WUJUD TUHAN

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Mukadimah
  Terkadang dan biasanya, keraguan (as-Syak) diartikan sebagai lawan dari keyakinan (al-Yaqin). Dan terkadang pula, ia diartikan dengan as-Syubhat yang berarti al-Isykal (kritikan). Keraguan dengan kedua maknanya itu, dapat diterapkan  pada tulisan dan kajian kita kali ini.
   Orang bilang; keraguan dan keyakinan,-sebagai makna yang pertama- laksana minyak dengan air, selamanya tidak akan pernah bersatu dan berkumpul dalam satu majlis hati. Rasa ragu dan yakin, adalah dua hal yang senantiasa menyertai setiap hati manusia -secara bergantian- selama hayatnya di kandung badan, atau selama ruh itu setia mengontrol dan membimbing jasadnya. Setelah ajal dan kematian tiba, atau setelah berpisahnya ruh dengan fisik dan kepompongnya, keraguan tidak lagi memiliki hak untuk mengikuti hati yang merupakan bagian ruh seseorang. Di sini, dan pada pringkat ini, hanyalah terdapat keyakinan sejati yang sama sekali tidak terusik, tersentuh dan terganggu oleh keraguan. Kematian merupakan perapatan, ujung jalan dan tempat berpisahnya antara keraguan dengan hati ruh seseorang. Ketika seseorang meninggal dunia, hati dan ruhnya berkata:
"Selamat tinggal wahai keraguan untuk selamanya. Aku pergi jauh dan tak kan pernah kembali lagi bersama keyakinan yang akan senantiasa menyertaiku dengan penuh setia setiap saat".
     Manusia, selama hidup di dunia fana ini, sering kali mengalami keraguan dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk persoalan agama dan keyakinan.  Keraguan yang paling besar di sepanjang sejarah hidup umat manusia, adalah keraguan terhadap Sang Pencipta diri mereka dan alam semesta ini. Apakah Tuhan Pencipta itu memang betul-betul ada, ataukah tidak?  Apakah manusia dan alam raya ini terwujud dengan sendirinya, ataukah ada yang mengadakannya, yaitu Tuhan Yang Mahakuasa?  Atas dasar keyakinan atau keraguan terhadap wujud Tuhan Pencipta inilah, tingkah laku, sikap dan gaya hidup umat mansuia berbeda-beda. Keadilan dan kezaliman terhadap sesama umat manusia itupun, tidak lepas dari dasar keyakinan atau keraguan terhdapap wujud Tuhan Pencipta jagat raya ini. 
 
Tiga golongan para peragu
    Dapat dikatakan, bahwa orang-orang yang mengalami dan dijangkiti firus keraguan hati tehadap wujud Tuhan Pencipta, -dari satu sisi- dibagi menjadi tiga golongan. Segolongan dari mereka, merasa bangga dan dengan terus terang meneriakkan keraguan hatinya kepada semua orang, tanpa merasa dosa sedikitpun. Golongan kedua, dengan tenang hati dan secara diam-diam menikmati keraguan tersebut. Mereka tidak berteriak dan tidak merasa peduli, baik terhadap sentilan-sentilan telinga yang disampaikan oleh kaum agamawan, maupun terhadap sorak sorai kaum peragu yang berterus terang, dan bahkan berusaha mempertahankan keraguannya tersebut. Sementara golongan ketiga, bisa jadi keraguan hatinya itu merupakan prolog dan langkah awal untuk menemukan dan mendaptkan keyakinan atas wujud Tuhan Pencipta. Golongan ketiga inilah yang penyakit keraguan hatinya itu, agak mudah diobati dan disembuhkan. Barangkali pembaca setia situs Al-Balagh sependapat dengan keyakinan hati kami, bahwa missi Al-Balagh -yang berusaha menebarkan benih-benih Tauhid berdasarkan logika dan filsafat- sangat bermanfaat buat para peragu terhadap wujud Tuhan yang termasuk kepada golongan ketiga tersebut.  Adapun golongan pertama, dimana keraguannya itu mereka jadikan dasar untuk mengingkari wujud Tuhan Pencipta, dan bahkan hal itu menjadi akidah dan keyakinan mereka, kita tunggu saja detik-detik ajal dan kematian mereka. Pada saat itu, tidak ada lagi yang namanya keraguan. Yang eksis dalam hati mereka hanyalah keyakinan. Pada saat itu, tabir keraguan akan terangkat, maka kalbu-kalbu mereka menjadi sangat tajam dan sangat terang.
 
Keraguan terhadap realitas non inderawi
   Para peragu yang meneriakkan dan melontarkan isi hati dan pandangan mereka seputar keimanan kepada Tuhan Pencipta berkata:
"Bagaimana mungkin kita dapat beriman kepada realitas yang tidak dapat diindera, yang kita tidak mungkin mengetahuinya dengan perantara indera?"
    Keraguan semacam ini, timbul dari orang-orang yang merasa heran dengan adanya "Maujud" yang tidak dapat dijangkau oleh indera dan persepsi. Bahkan sebagian ilmuwan yang melandaskan pemikirannya dengan otentisitas indera, juga mengingkari realitas yang tak bisa diindera tersebut. Atau minimalnya, mereka mempunyai pandangan, bahwa "Maujud" ini tidak bisa diketahui secara yakin dan pasti. Kepada para peragu terhadap segala sesuatu, para filosof Ilahi mengatakan:
"Ketika Anda merasa ragu terhadap sesuatu, sebenarnya pada saat yang bersamaan, Anda tidak merasa ragu -sama sekali- bahwa Anda sedang ragu".
       Di sini, dapat berkumpul dan bersatu -pada saat yang sama di dalam hati seseorang-, antara rasa ragu terhadap sesuatu, dengan rasa yakin terhadap wujud ragu tersebut. Karena objeknya memang berbeda. Yang jelas, hal itu menunjukkan bahwa di dalam diri setiap insan terdapat suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri sama sekali. Karenanya, mereka itu tahu kalau mereka itu ragu.
   Jawaban yang dapat diberikan atas keraguan yang dilontarkan oleh orang-orang yang hanya meyakini hal-hal yang dapat diindera semata ialah, bahwa  pengetahuan-pengetahuan inderawi itu, bisa diperoleh hanya dengan adanya hubungan antara anggota-anggota badan dengan materi. Masing-masing indera kita, dapat mengetahui fenomena-fenomena materi yang sesuai dengan kodrat indera itu sendiri, dan di bawah syarat-syarat tertentu. Sebagaimana kita yakin bahwa mata kita tidak mungkin dapat melihat suara, dan telinga kita tidak mungkin dapat menangkap warna, maka begitu pula, kita harus mengerti bahwa indera kita tidak akan mampu mengetahui seluruh makhluk  yang ada di alam ini. Karena, terdapat sebagian realitas materi di alam raya ini, yang memang tidak mungkin dapat dijangkau oleh indera. Misalnya, indera kita tidak akan mampu menjangkau pancaran sinar ultraviolet atau infra merah, atau gelombang-gelombang magnetis listrik dan sebagainya.
   Indera, bukan segala-galanya untuk mencapai suatu keyakinan. Setiap orang di dalam kehidupan di dunia ini, mampu mengetahui dan meyakini berbagai hakikat dan realitas tanpa melalui indera lahiriah. Bahkan lebih dari itu, mereka meyakininya dengan mantap, padahal hakikat tersebut tidak dapat dijangkau oleh indera. Misalnya, setiap orang -pada saat-saat tertentu- merasakan adanya rasa takut, cinta atau keinginan dalam diri mereka. Dan mereka pasti meyakini hakikat dan keberadaan hal tersebut. Padahal itu semua termasuk kondisi jiwa –seperti ruh itu sendiri– yang tidak mungkin dapat dipersepsi dan dilihat oleh indera kita. Bahkan idrak (persepsi) itu sendiri merupakan perkara nonmateri yang tidak dapat diindera.
   Dengan demikian, dapat disimpulkan abhwa, tidak terjangkaunya sesuatu melalui indera, bukan merupakan dalil atas ketiadaannya. Bahkan tidak selayaknya hal ini membuat kita heran dan merasa aneh.
 
Rasa takut dan kebodohan melahirkan keimanan
   Takut dan khawatir, merupakan perasaan hati dan kondisi jiwa yang dapat dipastikan -sedikit banyaknya dan pada kondisi tertentu- setiap insan merasakannya dalam hidup di dunia ini. Adakah hubungan erat antara rasa takut dan khawatir dengan munculnya keimanan terhadap wujud Tuhan Pencipta? Atau, betulkah apa yang dikatakan sebagian ilmuan bahwa rasa takut dan khawatir itu melahirkan keimanan? Sebagian sosiolog melontarkan sebuah keraguan. Mereka berkata bahwa:
"Iman kepada wujud Tuhan itu lahir akibat rasa takut dari berbagai bahaya dan ancaman, seperti bahaya gempa, halilintar dan bencana alam lainnya. Demi menenangkan hati, manusia menciptakan realitas khayalan yang dinamakan Tuhan. Kemudian, Tuhan khayalan itu mereka sembah. Oleh sebab itu, -ujar sosiolog tersebut- semakin banyak diketahui sebab-sebab alami dan cara penanggulangannya, iman mereka semakin bertambah lemah".            Bahkan sebagian orang marxis merumuskan pandangan ini dengan penuh antusias. Mereka menilai bahwa hal itu merupakan sebuah pandangan sosiologi, yang kemudian sanggup memikat pikiran orang.
 
Jawab:
Pertama: Sesungguhnya dasar keraguan semacam ini, adalah merupakan asumsi yang dilontarkan oleh sebagian sosiolog yang tidak didukung oleh argumen ilmiah.
 Kedua: Dewasa ini, banyak para ilmuwan yang telah mengenal sebab-sebab di balik berbagai peristiwa dan fenomena tersebut. Namun demikian, mereka mengimani adanya Tuhan Yang Bijak secara mutlak. Dengan demikian, iman kepada Tuhan, bukan  timbul dari rasa takut dan kebodohan.
Ketiga: jika kondisi jiwa seperti; rasa takut terhadap sebagian bencana atau ketidaktahuan akan sebab-sebab alami pada sebagian fenomena, menjadi faktor yang mendorong seseorang untuk mengenal Tuhan,  hal itu tidak berarti bahwa Tuhan adalah sebagai penyebab timbulnya rasa takut dan kebodohannya. Karena seringkali kita dapati, betapa motif jiwa –seperti cinta kelezatan, ingin tenar dan sebagainya– mendorong seseorang untuk serius   melakukan kajian ilmiah, seni dan filsafat. Sementara usaha semacam itu tidak dinilai buruk sama sekali.
Keempat: jika ditemukan sebagian individu yang meyakini bahwa Tuhan adalah sebab terjadinya berbagai peristiwa yang tidak diketahui sebab-sebabnya, kemudian dengan terungkap sebab-sebab alaminya itu iman mereka menjadi lemah, justru kita harus menilai, bahwa hal itu merupakan bukti atas lemahnya pemahaman dan iman mereka, bukan bukti atas irrasionalitas iman kepada Tuhan. Karena, Tuhan sebagai sebab fenomena-fenomena alam ini tidak sejajar secara horizontal dengan sebab-sebab alami. Tetapi, Dia berada di atas garis vertikal bagi seluruh sebab-sebab materi maupun nonmateri. Dan tahu atau tidaknya akan sebab-sebab alami, sama sekali tidak berpengaruh pada penetapan maupun penafian wujud Tuhan.
  
Invaliditas hukum kausalitas
   Para filosof Ilahi berpandangan bahwa, Tuhan Yang Mahakuasa menciptakan alam jagat raya ini dengan meletakkan hukum kausalitas (sebab akibat) di dalamnya. Di dalam kitab suci Islam, hukum kausalitas itu dikenal dengan istilah "Sunnatullah" atau "Sunnah Ilahiyyah", yang tidak akan mengalami pergantian dan perubahan sama sekali. Pengertian dari hukum kausalitas tersebut -secar ringkas- ialah bahwa setiap akibat, pasti memiliki sebab dan bersumber darinya. Dan sebaliknya setiap sebab (illat), jika mukadimah-mukadimahnya telah terpenuhi, pasti akan melahirkan akibat. Kajian secara mendalam mengenai hal ini, memerlukan pembahasan tersendiri. Yang perlu kami singgung -sehubungan dengan keraguan dan kritikan yang dilontarkan oleh sebagian orang- adalah bahwa hukum kausalitas yang diyakini oleh para filosof Ilahi itu, berlaku umum dan tidak menerima pengecualian yang berlaku di alam raya ini. Dengan kata lain, ia berlaku bagi seluruh maujud yang bersifat mumkinul wujud. Dan tidak berlaku bagi wajibul wujud. Karena hal itu akan melahirkan tasalsul (mata rantai) yang tidak berujung pangkal. Dan hal itu mereka pandang sebagai sesuatu yang mustahil. Sementara sebagian orang, terutama sebagian ilmuan Barat, tidak memahami arti hukum kausalitas yang dimaksudkan oleh para filosof Ilahi. Sehingga mereka melontarkan keraguan dan kritikan atas hukum kausalitas tersebut.
    Mengkritisi atas hukum kausalitas ini, sebagian ilmuwan Barat mengatakan bahwa:
"jika memang hukum kausalitas itu berupa konsep yang universal, tentunya hukum ini juga berlaku pada Tuhan Pencipta! Jika demikian –lanjut mereka-, kita mesti berasumsi bahwa Tuhan pun memiliki sebab juga. Padahal mereka (para filosof Ilahi) telah membuktikan bahwa Tuhan Pencipta, merupakan sebab utama yang tidak memiliki sebab apapun selain-Nya. Dengan demikian, maka iman kepada Tuhan yang tidak memiliki sebab, justru menggugurkan Hukum Kausalitas itu sendiri. Di samping itu juga, menunjukkan bahwa hukum itu tidak bersifat universal. Jika kita mengingkari universalitasnya, maka kita tidak mungkin dapat membuktikan Tuhan -sebagai  wajibul wujud- dengan berlandaskan pada hukum ini. Sebab, bisa jadi seseorang menganggap, bahwa asal materi atau energi itu terwujud dengan sendirinya, yakni tanpa memerlukan sebab. Dan dengan berubahnya asal materi dan energi tersebut, muncullah semua fenomena dan makhluk. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa hukum kausalitas tersebut batil. Karena ia tidak dapat membuktikan wujud Tuhan yang tidak memiliki sebab dan illat di atas-Nya".
    Sebagaimana telah kami singgung di atas, bahwa keraguan ini muncul lantaran penafsiran yang keliru tentang Hukum Kausalitas. Mereka mengira bahwa maksud hukum ini ialah:  "Bahwa segala sesuatu butuh kepada sebab". Padahal maksud yang benar adalah bahwa: "Setiap sesuatu yang mumkinul wujud, atau setiap wujud rabith (yang bergantung), butuh kepada sebab". Hukum ini bersifat umum, pasti (dharuri) dan tak terkecualikan, bagi mumkiniul wujud itu. Adapun asumsi bahwa materi dan energi utama bisa terwujud tanpa sebab, dan bahwa perubahannya merupakan sebab wujudnya segala sesuatu di alam ini, adalah sumsi yang dapat dikritisi dengan berbagai catatan. Dan hal ini akan kami bahas pada kesempatan lainnya.
 
Ketiadaan tidak melahirkan keberadaan
     Ilmu pengetahuan umat manusia dan teknologi, setiap saat mengalami perubahan, perkembangan dan kemajuan yang amat pesat. Sejalan dengan kemajuan dan perkembangan tersebut, semakin pesat pula berbagai isykal, keraguan dan kritikan yang dilontarkan ke atas kaum teolog dan filosof Ilahi. Keraguan lain yang layak diamati ialah adanya sekelompok ilmuan Barat yang mengatakan bahwa:
"Meyakini wujud pencipta alam dan manusia, tidak sesuai dengan sebagian hasil penelitian ilmu modern. Misalnya dibuktikan dalam ilmu Kimia, bahwa kuantitas materi dan energi senantiasa ada. Atas dasar ini, dapat dikatakan bahwa tidak mungkin setiap sesuatu itu muncul dari ketiadaan dan tidak mungkin pula maujud apa pun mengalami ketiadaan. Sedangkan orang mukmin meyakini bahwa Tuhan mereka telah menciptakan makhluk-Nya dari ketiadaan. Begitu pula telah dibuktikan di dalam ilmu Biologi, bahwa makhluk hidup lahir dari benda-benda mati, lalu ia mengalami perkembangan (evolusi) secara bertahap, sampai akhirnya menjadi manusia yang hidup akibat perkembangan tersebut. Padahal orang mukmin meyakini, bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu dengan cara yang mandiri".
    Jawaban yang dapat diberikan atas isykal dan keraguan tersebut adalah:
Pertama: Hukum keutuhan materi dan energi adalah hukum ilmiah empiris, yang hanya bisa dijadikan sebagai landasan bagi hal-hal yang tunduk kepada eksperimen saja. Dan tidak mungkin dapat mengatasi masalah-masalah filosofis seperti: apakah materi atau energi itu bersifat abadi atau tidak?
Kedua: Bahwa keutuhan kuantitas totalitas materi dan energi, tidak berarti bahwa ia tidak membutuhkan kepada pencipta. Bahkan, semakin panjang usia alam materi, ia semakin butuh kepada pencipta. Karena, tolok ukur butuhnya akibat kepada sebab adalah sifat substansialnya, yakni imkan dan fakir dzati (ketergantungan substansial). Dan bukan huduts (kejadian) dan masanya yang terbatas. Artinya, materi dan energi merupakan sebab material bagi alam ini dan –sama sekali– bukan sebab  pelaku baginya. Dan keduanya itu (yakni materi dan energi) pada gilirannya membutuhkan sebab pelaku pula.          Ketiga: Bahwa tetapnya kuantitas materi dan energi, tidak melazimkan ternafikannya kemunculan berbagai fenomena yang baru atau bertambah dan berkurangnya fenomena tersebut.
Keempat: Sesungguhnya realitas seperti ruh, hidup, rasa, kehendak dan lain-lain, tidaklah seperti materi dan energi, dimana bertambah atau berkurangnya dapat menafikan hukum keutuhan materi dan energi.                              
Kelima: Bahwa teori evolusi – di samping bahwa hal itu tidak mendapatkan pengakuan nilai ilmiah yang cukup, teori ini pun telah ditolak oleh kebanyakan ilmuan besar – tidak bertentangan
Keenam: Dengan iman kepada Tuhan Pencipta, maksimalnya teori evolusi ini hanya menetapkan sebab penyiap di antara makhluk-makhluk hidup, dan sama sekali tidak menafikan hubungan mereka dengan Tuhan. Bukti atas hal ini adalah, bahwa mayoritas pendukung teori ini beriman kepada Tuhan Pencipta alam dan manusia.
Post a Comment