Friday, July 13, 2012

MAQAMAT

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam studi tasawuf dikatakan bahwa kata tasawuf memiliki berbagai macam dasar makna kata. Ada yang mengatakan berasal dari kata shaf, shafa, saufi, shuf, shaufanah, ahlu suffah, dan kata dasar lain pembentuk kata tasawuf itu sendiri. Apabila tasawuf dari (segi istilalah) diartikan sebagai sebuah ilmu/cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT maka secara analogi apabila mengaju pada kata “mendekatkan diri” berarti kita ini jauh, cukup jauh, kurang dekat dengan Allah SWT. Kalau diawal perkuliahan akhlaq tentang prinsip keseimbangan dikatakan bahwa manusia itu bisa lebih tinggi derajatnya daripada malaikat tetapi juga bisa lebih rendah dari binatang atau syetan. Ditambah lagi di dalam al Qur’an -terjemahan- tertulis bahwa manusia itu tempat lupa dan salah. Dari situlah ada dan diperlukan upaya-upaya untuk berintrospeksi diri guna mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, Allah SWT.
Dalam dunia tasawuf kita mengenal istilah syari’at, thariqat dan haqiqat. Ketiga hal tersebut merupakan urutan dalam bertasawuf. Thariqat memilki arti jalan yang ditempuh untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Dalam ilmu tasawuf terdapat istilah maqam (maqamat) dan hal (ahwal). Ibarat kita mau ke lantai teratas disebuah gedung bertingkat atau lebih akrabnya kita akan ke lantai empat di Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga maka kita akan melewati lantai pertama (dasar) kemudian lantai kedua. Selanjutnya naik ke lantai ketiga dan akhirnya sampai di lantai keempat sebagai lantai teratas. Di masing-masing lantai kita akan menemui isi dan suasana yang berbeda-beda. Seperti itulah gambaran tentang maqam dan hal. Di makalah ini akan mencoba menguraikan tentang kedua hal tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN


A. MAQAMAT (MAQAMAT)
Dalam tasawuf itu adalah menundukkan jasad jiwa dengan jalan yang disebut sebagai usaha mencapai hakikat kesempurnaan jiwa dan mengenal zat ketuhanan agar lebih dekat kepada Allah. Jadi Allah-lah tujuan dari tasawuf mengingat bahwa tasawuf adalah ilmu/cara untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Untuk bisa lebih dekat (mahabbah/ma’rifat) kepada Allah seorang Abdullah haruslah melewati tingkatan-tingkatan/station-station. Tingkatan/stations ini dalam kajian tasawuf dikenal dengan sebutan maqamat. Secara harfiah maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Dalam bahasa Inggris maqamat dikenal dengan istilah stages yang berarti tangga. Harun Nasution menyebut dengan istilah stations.
Abu Nasr al Sarraj al Tusi mengatakan sebagai tingkatan seorang hamba di sisi Allah yang diperolehnya kerena ibadah, mujahadah, riyadah dan putusnya hubungan dengan selain Allah SWT. Dengan demikian maqam adalah hasil dari kesungguhan dan perjuangan yang terus-menerus.[1] Di kalangan kaum sufi urutan-urutan maqamat berbeda-beda, Harun Nasution dalam bukunya yang berjudul Falsafat dan Mistisisme dalam Islam mengatakan bahwa buku-buku tasawuf tidak selamanya memberikan angka dan susunan yang sama tentang sation-station (maqamat) ini.
Al Kalabadzi –dalam bukunya At Ta’arruf li Madzhab al Thashawwuf- menjadikan taubat sebagai kunci ketaatan, kemudian zuhud, sabar, faqr, tawadhu’, khauf, taqwa, ikhlas, syukur, tawakal, ridha, yaqin, zikir, uns qarb, dan mahabbah. Al Qusyairi salam bukunya Al Risalah Al Qusyairiyah memberikan urutan maqamat sebagai berikut: Taubat, mujahadah, khalwat, ‘uzlah, taqwa, wara’, zuhud, khauf, raja’, qana’ah, tawakal, syukur, sabar, muraqabah, ridha, ikhlas, zikir, faqir, mahabbah dan syauq. Berbeda lagi dengan yang dirumuskan al Ghazali, Asy Syukhrawardi dan para sufi lainya.[2] Tatapi menurut Abu Nasr al Sarraj al Thusi dalam kitab al-Luma’ yang paling populer dikalangan sufi adalah tujuh maqam yaitu; Taubat, wara’, zuhud, faqir, sqbar, tawakal, dan ridha.[3] Kalau kita kaji lagi, memang maqamat ini terkait dengan pengalaman spiritual sang sufi yang bersangkutan, jadi pasti antara sufi yang satu dengan yang lain berbeda dalam merumuskan maqamat. Di sini kita akan uraikan urutan maqamat menurut Al Thusi yang ada tujuh ( seperti yang telah disebutkan sebelumnya) diatas. Ketujuh maqam tersebut adalah:
1. Maqam Taubat (At-Taubah).
Taubat dari kata taba yang bertarti kembali. Orang yang bertaubat kepada Allah SWT adalah orang yang kembali dari sesuatu yang menuju sesuatu.[4] Menurut para sufi, yang menyebabkan manusia jauh dari Allah adalah karena dosa. Sebab dosa adalah sesuatu yang kotor, sedangkan Allah Maha Suci dan menyukai yang suci. Oleh karena itu apabila seseorang ingin mendekatkan diri kepadaNya atau ingin “melihat”-Nya, maka ia harus membersihkan diri dari segala macam dosa dengan jalan bertaubat.
Dalam bukunya (Kuliah Akhlaq) Yunahar Ilyas menyatakan ada lima dimensi taubat. Pertama adalah menyadari kesalahan, kedua yaitu menyesali kesalahan, ketiga adalah memohon ampun kepada Allah SWT. Keempat barjanji tidak akan mengulangi, dan kelima menutupi kesalahan masa lalu dengan amal shalih.[5] Memang dalam pengejawantahanya ini bukan suatu hal yang mudah, tetapi yang perlu diingat –sebagai suri tauladan- bahwa Rasulullah SAW yang telah dicap sebagai Ahl al Jannah (ahli surga) dalam suatu hadits diriwayatkan bahwa beliau menyatakan taubat (istighfar) sampai seratus kali dalam sehari. Subhanallah, inilah bukti dalam al-Qur’an yang dikatakan bahwa sesungguhnya dalam diri Rasulullah SAW terdapat suri tauladan yang baik, maka dari itu kita perlu mencontoh beliau dalam bertaubat.
2. Maqam Wara’ (Al-Wara’)
Pengertian dasar dari kata wara’ adalah menghindari apa saja yang tidak baik. Tetapi orang sufi mempunyai penafsiran sendiri, dimana mereka mengartikan wara’ itu meninggalkan sesuatu yang tidak jelas (syubhat) persoalanya baik yang menyangkut makanan, pakaian maupun persoalan.[6] Laku hidup wara’ memang penting bagi perkembangan mentalitas keislaman apalagi bagi tasawuf. Dalam tasawuf wara’ merupakan langkah kedua setelah taubat dan disamping merupakan pembinaan mentalitas juga merupakan tangga awal untuk membersihkan hati dari ikatan keduaniaan. Mungkin kita masih buram dengan definisi diatas maka kita akan mencoba sedikit mengulas, menurut Qomar Kailani, para sufi membedakan wara’ itu dua macam. Pertama, wara’ lahiriyah yaitu tidak mempergunakan anggota tubuhnya untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT. Kedua, adalah wara’ bathin yaitu tidak menempatkan atau mengisi hatinya kecuali Allah SWT.
3. Maqam Zuhud (Al Zuhd)
Setelah maqam wara’ dikuasai mereka baru berusaha menggapai maqam diatasnya yaitu zuhud. Berbeda dengan wara’ yang pada dasarnya merupakan laku menjauhi yang syubhat dan setiap yang haram, maka zuhud adalah tidak tamak atau tidak ingin dan tidak mengutamakan kesenangan duniawi.[7] Sebagai contoh dalam hal makan, kita makan tidaklah harus berlebihan seperti makan di restoran ternama dengan harga yang begitu mahal hanya untuk sekedar gengsi. Padahal ada nilai yang lebih penting dalam hal makan. Dan contoh perilaku zuhud lainya, tetapi perlu kita ketahui -seperti yang pernah disampaikan pada awal-awal perkuliahan akhlaq tasawuf- bahwa zuhud jangan diartikan meninggalkan segala aktifitas keduniaan sehingga hanya beribadah secara vertikal saja. Kita dapat melihat contoh kisah –ada dalam cerpen karya A.A. Navis- tentang seseorang yang membuat terlantar anak-istrinya hanya karena sibuk dengan urusan ibadah secara vertikal. Kemudian saat Hari Penghitungan Amal ternyata ibadah yang selama di dunia ia lakukan hanya sia-sia saja.
4. Maqam Fakir (Al Faqr)
Faqir dapat berarti sebagai kekurang harta dalam menjalani kehidupan di dunia.[8] Tetapi hal ini jangan kita artikan hanya letterlek/tekstual saja. Pada umumnya yang menjadi fokus faqir adalah sikap hidup yang tidak memaksa diri untuk mendapatkan sesuatu. Artinya tidak menuntut lebih dari apa yang telah dimiliki atau melebihi kebutuhan primer. Sebenarnya bagaimanapun penekanan yang diberikan masing-masing sufi dalam masalah ini, pesan yang tersirat adalah agar manusia bersikap hati-hati terhadap pengaruh negative yang bisa diakibatkan oleh keinginan kepada harta kekayaan. Oleh karena itu kita dianjurkan mengambil sikap hidup tidak “ngoyo” (memaksakan kehendak) tetapi “nrimo” (menerima) apa adanya saja.
5. Maqam Sabar (Al Shabr)
Secara etimologi sabar berarti menahan dan mengekang.[9] Sabar berarti konsekuen dan konsisten dalam melaksanakan semua perintah Allah SWT, berani menghadapi kesulitan dan tabah dalam menghadapi cobaan selama perjuangan demi tercapaiya tujuan.[10] Sabar menurut al-Ghazali, jika dipandang sebagai pengekangan tuntutan hawa nafsu dan amarah, dinamakan kesabaran jiwa, sedangkan menahan terhadap penyakit fisik disebut sebagai sabar badani. Kesabaran jiwa sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek. Misalkan untuk menahan nafsu makan dan seks yang berlebihan.
Dalam perkuliahan mengenai bab Akhlaq Pribadi disimpulkan bahwa sabar itu tidak ada batasnya. Hal ini cukup menarik karena kita sering mendengar perkataan bahwa sabar itu ada batasnya. Memang dalam taraf teoritis yang ideal ternyata benar bahwa sabar itu tidak ada batasnya. Tetapi mungkin karena dalan relitasnya/ kontekstualisasinya sangat sulit untuk sabar, sehingga munculah statement yang menyatakan bahwa sabar itu ada batasnya. Pemakalah ingat dalam artikel Emha Ainun Najib disitu diterangkan ternyata dalam hal rejeki (rizqi) kita jangan sampai terlalu sabar sehingga kita hanya sabar menunggu datangnya rezeki tersebut tanpa adanya usaha yang maksimal. Tetapi ini pada pembahasan sabar dalam kajian hal-hal yang baik sehingga kata sabar memiliki sudut pandang arti yang berbeda. Kalau kita artikan sabar adalah mengekang dan menahan hawa nafsu seperti dijelaskan diatas maka kembali pada statement sabar itu tidak ada batasnya. Karena ini maqam yang cukup tinggi maka untuk penerapanya dalam kehidupan sehari-hari penuh dengan tantangan.
6. Maqam Tawakkal (Al Tawakal)
Tawakkal adalah membebaskan diri dari segala ketergantungan kepada selain Allah SWT dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepadaNya.[11] Dalam syariat Islam diajarkan bahwa tawakkal dilakukan setelah segala daya upaya dan ikhtiyar dilakukan. Kita bisa mengambil contoh kisah yang ada dalam hadis, bahwa ada seorang badui yang membiarkan untanya tidak diikat karena menurutnya itulah tawakkal. Sehingga Rsulullah SAW lalu menegurnya dan berkata ikatlah dan bertawakkallah. Sebagai contoh lain, saat kita akan mengikuti ujian UAS maka jangan hanya bertawakkal saja seperti orang badui tadi. Tetapi belajarlah dahulu dengan sungguh-sungguh baru hasilnya kita pasrahkan kepada Allah.
7. Maqam Ridha (Al Ridha)
Al-Junaid mengartikan ridha itu meninggalkan usaha, sedangkan Dzun An-Nun al-Mishri mengatakan ridha itu menerima qada dan qadar dengan kerelaan hati. Kiranya pengertian ridha ini merupakan perpaduan antara sabar dan tawakkal sehingga melahirkan sikap mental yang merasa senang dan tenang menerima segala situasi dan kondisi.[12] Sehingga ridha adalah ajaran untuk menaggapi dan mengubah segala bentuk penderitaan, kesengsaraan dan kesusahan menjadi kegembiraan dan kenikmatan yakni seperti dikatakan Imam al-Ghazali, rela menerima apa saja.[13] Karena ini maqam yang tertinggi maka implementasinya tentunya banyak tantangannya. Dari sinilah nantinya kita akan mengenal Allah SWT (ma’rifatullah).
Bagi kebanyakan sufi sebagaimana telah diungkapkan diatas mengartikan ma’rifah sebagai sebagai pengenalan Allah melalui kalbu dan merupakan maqam tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia. Tetapi bagi para sufi yang beraliran tasawuf falsafi memandang ada maqam yang lebih tinggi lagi yang bisa dicapai manusia. Faham-faham tasawuf tipe ini antara lain menganut konsep fana’ dan baqa’, ittihad, hulul, wahdat al wujud, dan isyraq.

B. HAL (AHWAL)
Menurut para sufi al-ahwal (jamak dari hal, inggris: state) adalah situasi kejiwaan yang diperoleh seseorang sebagai karunia Allah, bukan hasil usahanya. Datangnya kondisi mental itu tidak menentu, kadang datang dan perginya berlangsung sangat cepat. Menurut al-Qusyairi, hal itu selalu bergerak naik setingkat demi setingkat sampai ketitik kulminasi yaitu puncak kesempurnaan rohani. Akan tetapi apabila diperhatikan isi dari apa yang disebut hal sebenarnya adalah merupakan manifestasi dari maqam yang mereka lalui. Dengan kata lain, bahwa kondisi mental yang diperoleh itu adalah sebagai hasil dari amalan yang ia lakukan.[14]
Sebenarnya maqam dan hal adalah dua aspek yang saling terkait. Makin tinggi maqam yang dicapai seseorang makin tinggi pula hal yang ia peroleh. Kalau maqam merupakan tingkatan sikap hidup yang deapat dilihat dari laku perbuatan seorag, maka hal adalah kondisi mental yang sifatnya abstrak. Ia tidak dapat dilihat tetapi hanya dapat dipahami dan dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Diantara sekian banyak nama dan sifat hal yang terpenting dan biasa disebut oleh para sufi antara lain:
1. Khauf (Al Khauf)
Khauf (takut) menurut para ahli sufi berarti suatu sikap mental merasa takut kepada Allah kerena khawatir kurang sempurnanya pengabdian. Dalam bukunya (Kuliah Akhlaq) Yunahar Ilyas mendefisikanya sebagai kegalauan hati membayangkan sesuatu yang tidak disukai yang akan menimpanya atau membayangkan hilangnya sesuatu yang disukainya. Definisi ini sepertinya mengacu pada iImam al-Ghazali yang membagi khauf kepada dua macam (1) Khauf karena khawatir kehilangan nikmat dan (2) khauf kepada siksaan sebagai konsekuensi perbuatan kemaksiatan. Oleh karena adanya perasaan seperti itu maka seorang sufi selalu berusaha agar sikap dan laku perbuatanya tidak menyimpang dari yang dikehendaki Allah.
2. Raja’ (Al Raja’)
Kata ini berarti satu sikap mental optimisme dalam memperoleh karunia dan nikmat ilahi yang disediakan bagi hamba-hambaNya yang shalih. Karena ia yakin bahwa Allah itu Mah Pengasih, Penyayang dan Maha Pengampun. Jiwanya penuh pengharapan akan mendapat ampunan, merasa lapang dada penuh gairah menanti rahmat dan kasih sayang Alah SWT.
3. Syauq (Asy Syauq)
Syauq atau rindu adalah dampak dari sikap mahabbah, karena setiap orang yang cinta kepada sesuatu tentu ia merindukannya. Kondisi kejiwaan yang menyertai mahabbah yaitu rasa rindu yang memancar dari kalbu karena gelora cinta yang murni. Pengetahuan dan pengenalan yang mendalam terhadap Allah akan menimbulkan rasa senang dan gairah.[15]


4. Uns (Al Unsu)
Uns adalah keadaan jiwa dan seluruh ekspresi terpusat penuh kepada satu titik sentrum yaitu Allah. Tidak ada yang dirasa, tidak ada yang diingat, tidak ada yang diharap kecuali Allah SWT. Segenap jiwanya terpusat bulat sehingga seakan-akan tidak menyadari dirinya lagi dan berada dalam situasi hilang ingatan terhadap alam sekitar. Uns (intim) adalahg sifat selalu berteman, tidak pernah merasa sepi.
5. Yaqin (Al Yaqin)
Perpaduan antara pengetahuan yang luas dan mendalam dengan rasa cinta dan rindu yang bergelora bertaut lagi dengan perjumpaan secara langsung tertanamlah dalam jiwanya dan tumbuh bersemi perasaan yang mantap.[16] Selanjutnya dalam terminologi para sufi kita mengenal istilah ilm al-yaqin, ‘ain al-yaqin, haqq al-yaqin. ‘Ilm al-yaqin ialah suatu keyakinan yang telah diperoleh manusia yang merupakan hasil akal fikiranya dalam memikirkan dan memperhatikan bukti dan dalil. ‘Ain al-yaqin ialah keyakinan yang kuat yang diperoleh seseorang dengan perantaran kasyf dan limpahan karunia Allah. Sedangkan Haqq al-yaqin ialah keyakinan yang diperoleh seseorang setelah menyaksikan dengan mata kepalanya atau mata hatinya.[17]
Demikianlah diantara nama-nama hal, karena hal ini bersifat abstrak dan tergantung kepada pengalaman yang dirasakan oleh seseorang saat mendekatkan diri kepada Allah maka untuk mengetahunya (bahwa ini khauf, raja’, syauq, uns, dan yaqin) maka implementasinya adalah dengan melakukan perbuatan/tindakan tasawuf. Sehingga kita bisa memahami apa yang telah diungkapkan oleh para sufi. Selain diatas, untuk memperoleh ma’rifatullah dapat dilakukan melalui upaya-upaya tertentu seperti:
1. Mujahadah
Mujahadah berarti bersungguh hati melaksanakan ibadah dan teguh berkarya amal shaleh, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT yang sekaligus menjadi amanat serta tujuan diciptakannya manusia. Dengan beribadah, manusia menjadikan dirinya ‘abdun (hamba) yang dituntut berbakti dan mengabdi kepada Ma’bud (Allah Maha Menjadikan) sebagai konsekuensi manusia sebagai hamba wajib berbakti (beribadah). Mujahadah adalah sarana menunjukkan ketaatan seorang hamba kepada Allah, sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya.
2. Riyadhah
Pengarang Manazilus-Sa’irin berkata, “Riyadhah artinya melatih jiwa untuk menerima kebenaran.” Hal ini bisa mengandung dua pengertian: Pertama, melatihnya untuk menerima kebenaran, jika kebenaran ini disodorkan kepadanya, yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun kehendaknya. Apabila kebenaran ini ditawarkan kepadanya, maka dia langsung menerimanya. Kedua, menerima kebenaran dari orang yang menawarkan kepadanya, firman Allah. Riyadhah juga sering dikenal sebagai latihan-latihan mistik, sebagai latihan kejiwaan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal yang mengotori jiwanya.[18] Riyadhah dapat diimplementasikan dengan banyak berdzikir dan tafakur.
3. Khalwat
Pada mulanya khalwah bagi manusia adalah prinsip dasar yang mengawali kehidupannya, lalu pada perkembangan selanjutnya, berbaurlah manusia. Oleh karena itu tidak seharusnya manusia itu berbaur kecuali lantaran ada kepentingan yang harus dipenuhi. Kalaupun manusia itu berbaur seyogianya ia diam, karena diam juga dasar yang mengawalinya. Khalwah dengan hati terjadi ketika hati lebur dalam universalitas Yang Maha-Haqq. Hatinya diam tertuju kepada-Nya, terpesona, seolah-olah la nyata bersamanya.
Satu hal prinsip yang harus dilalui oleh seorang salik adalah memperbanyak amalan zikir lewat hati dan lisan secara total, sampai zikirnya itu mengalir ke seluruh seluruh anggota raganya dan mengalir bersama peluh keringatnya, lalu merasuk ke dalam jiwa, seketika lisannya akan terdiam, hanya hatinya yang melantunkan lafaz “Allah…, Allah…” dalam lantunan batin, dan menafikan aktivitas raga dalam berzikir. Sampai kemudian hatinya terdiam, dan terjadilah peleburan jiwa terhadap Zat yang dicarinya, hanyut dalam pesona musyahadah dengan-Nya.
4. Uzlah
‘Uzlah itu sendiri memiliki dua macam pola, yaitu: ‘uzlah faridah dan ‘uzlah fadilah. ‘Uzlah faridah berarti ‘uzlah (menghindar) dari segala keburukan dan golongan buruk lainnya. Adapun ‘uzlah fadilah adalah ‘uzlah yang dilakukan untuk menghindari dari segala unsur berlebih-lebihan, dan hal-hal semisalnya.


5. Muraqabah
Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sehingga merasa lebih derkat kepadaNya. Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat dan ingin kepada kebaikan dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan, meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran. Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba jika meyakini bahwa Allah SWT senantiasa melihat dirinya.[19]




BAB III
PENUTUP
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa maqamat adalah tingkatan yang dicapai oleh orang yang sedang mendekatkan diri kepada llah Azza Wajalla. Sedangkan hal adalah perasaan/suasana yang terjadi saat berada di masing-masing maqam tersebut. Jika maqam itu sebagai upaya aktif manusia maka hal merupakan sebuah anugerah dari Allah tanpa adanya usaha. Mengenai urutan maqamat antara sufi yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Tetapi pada umumnya menjadikan taubat sebagai dasar maqam dan ma’rifatlah yang tertinggi, tetapi hal ini tidak bagi kaum sufi falsafi karena mereka masih memahami ada maqam yang lebih tinggi lagi, seperti wahdatul wujud, hulul, ittihad dan maqam yang lebih tinggi lagi.
Untuk mencapai maqamat dapat dilakukan dengan cara riyadhah, mujahadah, kalwat, uzlah dan muraqabah. Sedangkan untuk nama-nama hal itu menyangkut masalah pengalaman seorang sufi dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sehingga muncul istilah khauf, raja’, syauq, uns, dan yaqin. Yaitu perasaan atau suasana yang mengikuti saat berada pada suatu maqam. Untuk bisa mengetahui dan memahami: “Ini lho yang disebut taubat, sabar, faqir, ridha, khauf, raja’, yaqin” dan istilah lain yang diungkapkan para sufi, maka tidak lain adalah melakukan dengan meniru seperti apa yang telah dilakukan oleh para sufi.
Post a Comment