Tuesday, July 10, 2012

Hadis palsu dalam kitab kuning

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Hadis palsu dalam kitab kuning

ADA sebuah kesepakatan di Pondok Pesantren Al Hikmah, Brebes, Jawa Tengah: menjauhkan beberapa kitab kuning dari dunia pesantren. Kesepakatan itu, setidaknya, datang dari 75 murid Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki, ulama besar non-Wahabi di Mekah, akhir Desember lalu. "Kami bersepakat untuk tidak membaca kitab-kitab itu," kata K.H. Najih Maimoen, 38 tahun, salah seorang bekas murid itu, yang kini mengasuh sebuah pondok pesantren. Soalnya, di beberapa kitab klasik tersebut, misalnya Durrotun Nasihin, Wasyiyatul Mustofa, Ushfuriyah, dan Qurrotul Uyun, ditemukan hadis palsu. Yang populer, di antaranya, "Barang siapa menghormati hari kelahiran saya (maulid Nabi) niscaya saya akan memberi syafaat di hari kiamat." Itu menyesatkan, menurut mereka. K.H. Maimoen Zubeir, kiai sepuh pemimpin Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, membenarkan masalah itu. Kata Maimoen Zubeir, 65 tahun, Nabi sendiri melarang mengatakan sesuatu yang bukan sabda Rasul sebagai hadis sahih. Masalahnya, andai kata kesepakatan tak membaca kitab kuning berkembang luas, itu tentu akan memiskinan khazanah intelektual Islam, setidaknya di kalangan suni yang banyak menggunakan kitab itu. Soalnya, seperti yang dikatakan Masdar Masudi, tokoh muda intelektual Islam, kitab-kitab itu tidak hanya berisi hadis maudlu, tapi juga ayat-ayat Quran, hadis-hadis sahih, dan pendapat para ulama yang bagus. Jadi, perlu pertimbangan sungguh-sungguh apakah kitab itu akan ditinggalkan atau tetap dipakai. Bila hal itu ditelusuri lebih jauh, menurut Masdar, tentu akan menyerempet kitab-kitab lain, misalnya Ihya Ulumuddin karangan Imam Al Ghazali. Soalnya, dalam kitab yang sangat kaya tradisi keilmuan Islam itu banyak ditemukan hadis daif alias lemah, bahkan palsu. K.H. Sahal Mahfudh, pemimpin Pondok Pesantren Maslakul Huda, Pati, Jawa Tengah, lebih tegas lagi. "Kitab kuning itu banyak manfaatnya," kata Wakil Rais Am Syuriah PB Nahdlatul Ulama itu. Soalnya, kata Sahal, sebagian besar isinya bisa memotivasi kebaikan. Misalnya, Hubbul wathon minal iman, bahwa cinta tanah air itu sebagian dari iman. Ungkapan ini, meskipun bukan hadis, kata Sahal, isinya mendorong masyarakat agar berjiwa nasional. Dari pernyataan Sahal tersebut, setidaknya tergambar bahwa para pengarang kitab itu memiliki tujuan tertentu dengan memasukkan hadis maudlu itu. Mungkin untuk merangsang masyarakat tertarik pada Islam, seperti yang dikatakan K.H. Maimoen Zubeir. Ini tentu baik. Tapi hal sebaliknya juga bisa terjadi, mengingat sejarah munculnya hadis-hadis palsu atau lemah. Menurut Adib Masruchan, yang juga alumni santri Alawi, masalah hadis palsu ini telah muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Ketika itu, telah terjadi perpecahan dalam tubuh umat Islam. Setiap kelompok, kata Adib, mencari dasar atau landasan agama untuk memperkukuh kelompoknya. Itu, antara lain, dilakukan dengan mengarang hadis. Keadaan itu, agaknya, semakin diperburuk oleh terlambatnya penulisan hadis. Setidaknya selama satu abad hadis disampaikan lewat lisan. Tentu hal ini akan menyulitkan generasi berikutnya, termasuk ulama pengarang kitab kuning, dalam menilai hadis. Imam Buchari, pengumpul dan peneliti hadis terkemuka, misalnya, hanya menemukan 7.275 hadis dari 600 ribu yang diseleksinya. Begitu banyaknya hadis yang tak memenuhi syarat tersebar ketika itu. Jadi, tak mengherankan bila dalam kitab-kitab klasik itu terselip hadis-hadis palsu. Bahkan, Jalaluddin Rakhmat, dalam penelitiannya, tidak saja menemukan hadis palsu pada kitab-kitab kuning, tapi juga pada kitab yang dipandang sahih oleh orang banyak. Misalnya, hadis Nabi kena sihir sampai tak menyadari apa yang dilakukannya. "Hadis ini palsu," kata Jalaluddin, meskipun ada dalam shohih Buchari. Meskipun sudah ada yang menghimpun hadis daif dan maudlu, seperti yang dilakukan Nasiruddin al Albani, seorang penghafal hadis, tak tertutup kemungkinan hadis palsu berkembang dalam masyarakat muslim. Sebab, kata Adib Masruchan, pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah, kitab-kitab klasik itu diajarkan pada masyarakat tanpa penjelasan hadis ini palsu atau tidak. Adalah para dai sebagai faktor lainnya yang mendukung perkembangan hadis palsu. Sebab, menurut Adib, hadis palsu banyak mengandung cerita yang jarang terdengar sehingga cepat menarik perhatian. Tapi apa dampak hadis palsu? Menurut Jalaluddin, itu berpengaruh bila berkenaan dengan amal. Jika hadis itu tidak ditarik, ada sebagian orang beramal berdasarkan hadis palsu. Maka, otomatis amalnya juga palsu. Tapi tak akan ada pengaruh apa pun bila hadisnya tak berkaitan dengan amal. Untuk itu, Adib menyarankan agar para ulama menyeleksi kitab-kitab kuning yang beredar di masyarakat dan memberikan catatan kaki terhadap hadis-hadis di dalamnya, seperti yang pernah dilakuan Al Iroqi, dari Universitas Al Azhar, terhadap kitab Ihya Ulumuddin. Jika ini dilakukan, tentu, kitab-kitab itu tak perlu ditarik. Persoalan ini, agaknya, memberikan indikasi bahwa dalam tubuh Nahdlatul Ulama telah tumbuh gerakan puritanisasi atau pemurnian, seperti halnya Muhammadiyah atau Persis tempo dulu. Gerakan yang berkembang di kalangan ulama muda Nahdlatul Ulama itu lebih ke masalah substansial daripada sanad.
Post a Comment