Saturday, July 21, 2012

BURHAN SHIDDIQIEN

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
BURHAN SHIDDIQIEN



Mukadimah
        jika kita menengok tipologi-tipologi berbagai argumen yang ditempuh oleh manusia dalam membuktikan wujud Tuhan, dapat kita katakan bahwa setiap manusia mampu memiliki argumen dan jalan untuk menemukan wujud Tuhan. Dan bisa jadi setiap orang -dalam menemukan dan mengenal Tuhan- dapat menggunakan pendekatan yang berbeda-beda.  Atas dasar ini dapat dikatakan bahwa jalan untuk mengenal Tuhan tidak terbilang banyaknya. Orang-orang bijak mengatakan bahwa "Jalan untuk mengenal Tuhan sebanyak desah nafas manusia."
        Tetapi ketika kita mengamati common point (titik-titik persamaan) di antara jalan-jalan tersebut, kita dapat membaginya kepada beberapa bagian yang lebih universal. Para filosof, teolog dan urafa mengemukakan beberapa jalan yang memiliki karakteristik tipikal pada bidangnya masing-masing.
        Sebagai contoh, pada sebuah pembagian universal, terdapat dua jalan dalam mengenal Tuhan:
1.    Jalan penalaran (rasional)
2.    Jalan syuhudi (penyaksian mata batin)
 Yang dimaksud dengan jalan penalaran di sini ialah bahwa seseorang berupaya untuk membuktikan wujud Tuhan dan sifat-sifat-Nya dengan cara mengaplikasikan proposisi-proposisi dan kaidah-kaidah rasional. Adapun jalan syuhudi ialah bahwa seseorang dapat mencapai peringkat penyaksian wujud Tuhan dengan mata hatinya melalui jalan pensucian jiwa, yaitu dengan meniti sair dan suluk.  Dengan jalan penataan batinnya ia dapat menyingkap tirai yang menyelimuti keindahan (jamaliyah, fascinant) dan keagungan (jalaliyah, tremendum) Tuhan. Jalan pertama (penalaran akal) disebut sebagai jalan filosofis. Sementara cara yang kedua disebut sebagai jalan irfani atau sufistik. Namun terdapat orang-orang tertentu -dari kalangan filosof sekaligus arif (sufi)- yang mampu mengintegrasikan dan mensintesakan kedua jalan tersebut.
Di antara sekian jalan dan argumen yang terbentang dalam membuktikan dan mengenal wujud Tuhan, dengan kelemahan dan kelebihan yang dimiliki, terdapat satu argumen yang disebut dengan burhân shiddiqîn.
 
Makna Shiddiqin
Shiddiqîn adalah bentuk pleonasme dan secara leksikal merupakan jamak dari kata shiddîq yang berarti orang yang benar dan jujur dalam tutur kata. As-Shiddiqin dapat pula diartikan orang-orang yang telah mencapai keimanan yang sangat tinggi. Argumen tersebut dinamakan sebagai burhân shiddiqîn, karena dua kemungkinan:
1.    Kemungkinan pertama lantaran argumen ini merupakan argumen yang paling utama dan paling kokoh yang digunakan untuk mengenal wajib al-wujud (Tuhan Pencipta). Sementara argumen-argumen yang lain tidak lepas dari berbagai kelemahan.
2.    Kemungkinan kedua lantaran shiddiqîn -sebagai hamba-hamba pilihan Tuhan- memilih dan menggunakan argumen ini untuk mengenal dan membuktikan wujud Tuhan.
         Burhân shiddiqîn secara teknikal disebut sebagai burhân shiddiqîn, lantaran argumen ini menawarkan sebuah pendekatan yang menyampaikan manusia kepada Tuhan tanpa media, yaitu dengan menggunakan inferensi (istidhlâl) dan menganalisa wujud manusia sampai pada wujud Tuhan secara murni. Hal ini sebagaimana dalam khazanah doa disebutkan "ya man dalla dzatihi bidzatihi". (wahai yang menujukkan dzat-Nya dengan dzat-Nya).  Bukan melalui efek-efek-Nya, seperti yang digunakan dalam argumen kebaruan (huduts) -yang diusung oleh para teolog- dimana huduts ini merupakan efek materi. Dan bukan pula seperti argumen gerak (burhan harakat) -yang ditawarkan oleh Aristoteles- atau burhan imkan (kontingen). Tetapi ruh dan substansi burhân shiddiqîn ini melakukan inferensi pada kemutlakan wujud hingga mencapai wujud mutlak.
        Mengingat bahwa argumen ini dapat pula dikatakan sebagai argumen fitri dan swabukti (badihi), maka kita tidak dapat mengatakan secara akurat tentang siapa penggagas argumen ini. Tetapi yang paling popular sebagai orang pertama yang menggagas argumen ini adalah seorang filosof-arif yang bernama Abu Nasir al-Farabi yang mendemonstrasikannya dalam bentuk argumentatif  dan logis. Setelah itu, argumen ini mencapai usia balighnya di tangan Ibn Sina, kemudian Mulla Shadra, Sabzawari, dan Allamah  Thabathabai. Setelah burhân shiddiqîn ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, ia memasuki kosmos pemikiran Barat. Di antara filosof masyhur Barat -yang dapat ditunjuk jari- sebagai orang yang mempopulerkan argumen ini adalah Thomas Aquinas (filosof sekaligus teolog), kendati ia menyebutnya sebagai argumen ontologis.  
        Bahwa burhân shiddiqîn mengajak manusia mengenal Tuhan tanpa media dan tidak dengan efek-Nya melainkan dengan diri Tuhan sendiri, memang sesuatu yang perlu ditunjukkan. Karena ia merupakan argumen yang utama dan paling kokoh dalam mengenal Tuhan, yang melebihi argumen-argumen lainnya yang memiliki cacat dan kelemahan. Selanjutnya saya mengajak Anda untuk menelisik satu persatu gagasan dan pendapat para filosof dan urafa ihwal burhân shiddiqîn ini.
 
Al-Farabi
          Al-Farabi (872-950 M) beranggapan bahwa burhân shiddiqîn merupakan argumen yang paling kuat dan paling ringkas dalam membuktikan dan mengenal wujud Tuhan. Ia menuturkan gagasannya ihwal burhân shiddiqîn sebagai berikut:
        "jika mata rantai seluruh wujud itu terjadi tanpa Wajib al-Wujud, sementara mabda' dan permulaannya berupa mumkinul wujud yang terjadi dengan sendirinya, maka kondisi seperti ini melazimkan dua hal yang kedua-duanya itu batil. Kemestian pertama adalah bahwa sesuatu itu menciptakan dirinya sendiri, dan hal ini batil. Kemestian kedua adalah bahwa sesuatu itu meniadakan dirinya sendiri, dan hal ini lebih batil".  
Dengan kata lain bahwa silsilah seluruh wujud, jika tanpa wâjib al-wujud, akan menjadi mumkin al-wujud. Jika demikian halnya, maka  akan timbul pertanyaan: Bagaimana keberadaan yang pertama itu dapat terwujud?, dari mana ia mengambil wujudnya sendiri, dengan asumsi bahwa wujud kontingen sifatnya adalah adannya dan tiadanya adalah sama dan ekuivalen serta tidak memiliki prioritas untuk mengada dan meninggalkan titik persamaan antara ada dan tiada?.
Dalam situasi seperti ini terdapat dua hipotesa bagi mabda:
Hipotesa pertama, mabda ini menjadi wajibul wujud, apakah ia memberi keberadaan kepada wujudnya sendiri dan mencegah seluruh ketiadaan? Ataukah ia tidak memberi wujud terhadap dirinya?  Masing-masing dari kedua ini memiliki isykalan (keberatan ilmiah). Adapun bentuk yang pertama, jika mabda yang  memberikan wujud terhadap dirinya sendiri, maka keniscayaan yang akan muncul adalah bahwa sebab dan akibat akan menjadi satu. Artinya bahwa sesuatu itu di samping ia sebagai sebab bagi dirinya, ia juga sebagai akibat. Dan hal ini tentu saja mustahil secara akal, karena meniscayakan daur (circular reasoning).
Hipotesa yang kedua, mabda (awal) tidak menjadikan dirinya menjadi wajibul wujud. Jika demikian, maka hal ini meniscayakan mabda meniadakan dirinya sendiri. Karena -sesuai dengan asumsi bahwa- ia tidak menjadikan dirinya wajib untuk mengada.
 
Jawaban atas Satu Isykalan
        Pada dalil di atas telah disebutkan dengan istidlâl (inferensi) bahwa sesuatu tidak dapat menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Tetapi ia mesti bersandar kepada sebab selain dari dirinya. Sebenarnya isykalan ini juga dapat menjadi niscaya pada wajib al-wujud. Artinya bahwa Tuhan juga memerlukan sebab yang menjadikannya wujud.
        Isyakalan ini dapat dijawab, bahwa mabda awal yang memerlukan sebab tersebut, lantaran kekontingenan (imkan) wujudnya. Artinya bahwa mengingat wujudnya adalah kontingen (mumkin), sementara wujud kontingen senantiasa memerlukan kepada yang lain, maka dengan demikian, harus terdapat sebab dan wujud yang lain. Tetapi wujud Tuhan adalah wujud yang mandiri secara esensial, hakiki dan tidak memerlukan sebab yang lain.
        Kesimpulannya bahwa mabda awal yang kontingen, tidak dapat menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu ia memerlukan kepada yang lain, yang dirinya tidak kontingen, dan  dapat memberikan wujud kepada kontingen. Sedang yang memberikan wujud atas kontingennya adalah wajib al-wujud.
        Poin inferensi di sini adalah bahwa kontingen dapat wujud berkat busana wujud yang dikenakan kepadanya oleh wajib al-wujud. Tanpanya, ia tidak dapat mengada dan mewujud. Dan kita saksikan bahwa kosmos kontingen dapat mengada, maka kita dapat memahami bahwa terdapat satu wujud mandiri dan bersifat mesti (wajib).
 
Ibn Sina (Avicenna)
        Ibn Sina (980-1037 M) yang juga dikenal sebagai Syaikh ar-Rais  dalam karyanya al-Isyârat menyinggung burhân shiddiqîn ini dan mengurainya sebagai berikut:
        "Setiap maujud dari sisi dzatnya, adakalanya ia bersifat wâjib al-wujud atau bersifat mumkin al-wujud. Mumkin al-wujud tidak akan pernah mengada tanpa sesuatu yang mengadakannya. Oleh karena itu ia memerlukan sesuatu selainnya. Dan sesuatu tersebut adalah wâjib al-wujud".
 
Mulla Shadra
        Mulla Shadra (w 1050) filosof-arif  -yang lebih dikenal sebagai Shadru al-Mutaallihin, berkat Filsafat Hikmah (hikmah al-Muta'alih) yang digagasnya -menjelaskan burhân ash-shiddiqîn sebagai berikut:
"Berdasarkan konsep ashâlat al-wujud (kehakikian wujud), maka sebagai prinsip utama adalah realitas. Atas dasar itu, kehadiran wujud tidak dapat ditolak. Namun harus diingat bahwa yang dikatakan wujud sebagai prinsip realitas ialah: Manakala wujud bergantung pada selainnya, tentu ia butuh kepada wujud yang tidak bergantung pada lainnya pula. Wujud yang tidak bergantung kepada yang lainnya itulah yang merupakan prinsip segala realitas. Dialah Tuhan."(lihat, Achmad Muchaddam Fahham, Tuhan dalam Filsafat Allamah Thabathabai, hal. 60)
        Mulla Shadra memandang bahwa burhân shiddiqîn ini merupakan jalan dan argumen yang paling kokoh dan paling bercahaya dibanding jalan dan argumen lain, seperti yang ia tuturkan pada kitab magnum opus-nya al-Asfar:
        "Ketahuilah, sesungguhnya jalan menuju Tuhan itu banyak. lantaran Dia memiliki segala keutamaan dan kesempurnaan. Dan masing-masing kelompok memiliki kiblat yang ditentukan oleh Tuhan baginya. Namun terdapat sebagian jalan yang lebih kokoh, lebih baik dan lebih bercahaya dari yang lain. Argumen (burhan) yang paling kokoh dan paling baik adalah argumen yang premis tengahnya (middle term) tidak lain adalah wajibul wujud. Dalam keadaan seperti ini, jalan dan tujuan akan menjadi satu.   Jalan itu adalah jalan para shiddiqin, dimana mereka menyaksikan Tuhan, kemudian dzat-Nya, kemudian sifat atas perbuatan-Nya. (lihat Shadru al-Mutallihin, Asfar, jil. 6, hal. 17)          Dalam burhan ini, Mulla Shadra menyingkap tirai wujub melalui hakikat wujud dimana hal tersebut memerlukan beberapa premis pendahuluan:
          Kehakikian wujud dan abstraksi mentalnya kuiditas. Setelah kita menerima bahwa terdapat realitas luaran dan kita mengabstraksikan dua pahaman masing-masing dari realitas ini; yang pertama adalah wujud dan selainnya adalah kuiditas (mahiyyah); telah dibuktikan bahwa realitas luaran merupakan mishdâq (obyek luar) wujud. Dan kuiditas merupakan abstraksi mental (i'tibari) yang diabstraksikan dari batasan realitas eksternal.
          Tasykik al-wujud: Mulla Shadra memiliki keyakinan bahwa wujud-wujud eksternal, baik ia kuat atau lemah, sebab atau akibat, semuanya merupakan sistematika dari sebuah hakikat dan yang menjadi keragamannya adalah keseragamannya dan keseragamannya adalah keragamannya (ma bihi al-isytirak 'ain ma bihi al-iftirak wa ma bihi al-iftirak 'ain ma bih al-isytirak) bersumber dari satu genus yang disebut sebagai tasykik al-wujud (gradasi wujud). Sebagai misal -untuk memudahkan pemahaman- intensitas cahaya matahari dibandingkan dengan cahaya bulan, cahaya bintang dan cahaya lampu adalah lebih kuat dan yang belakangan adalah lebih lemah. Tetapi dengan keragaman cahaya yang ada, dari sisi intensitas, ia seragam dalam sebutan sebagai cahaya.
Dari tasykik al-wujud inilah muncul apa yang disebut sebagai derajat wujud atau gradasi wujud. Lantaran ketika keragaman wujud-wujud kembali kepada keseragamannya, yaitu wujud itu sendiri, maka sudah tentu keragaman bersumber dari tingkatan wujud itu sendiri, tidak kepada kuiditas (mahiyyah).
        Besathat al-Wujud (simpelitas wujud); wujud merupakan sebuah realitas simpel. Ia tidak memiliki bagian dan bukan merupakan bagian dari sesuatu. Karena kita tidak memiliki sesuatu selain wujud.
          Kriteria Perlunya Akibat kepada Sebab; Standar perlunya akibat kepada sebab adalah terelasikannya wujud relasi terhadap wujud. Dengan kata lain, kelemahan tingkatan "wujud akibat" hingga yang paling lemah sekalipun dalam keberadaannya secara niscaya memerlukan sebuah wujud yang lebih tinggi dan lebih kuat.
Berdasarkan empat premis di atas, burhân shiddiqîn dapat disimpulkan sebagai berikut:
"Tingkatan wujud -kecuali yang paling pamungkas yang memiliki kesempurnaan tanpa batas (unlimited) dan tidak berhajat kepada apapun dan siapapun dan memiliki wujud yang mandiri secara mutlak- adalah berhajat dan bergantung. Dan jika tidak ada wujud yang paling pamungkas, maka tingkatan-tingkatan wujud yang lain tidak akan pernah ada; karena  asumsi ini meniscayakan bahwa hadirnya tingkatan-tingkatan wujud yang lain tanpa hadirnya tingkatan yang paling tinggi dari jajaran wujud, adalah tingkatan-tingkatan wujud, mandiri dan tidak berhajat kepadanya. Sementara dimensi wujudnya adalah bergantung dan fakir serta berhajat kepada wujud yang paling tinggi tingkatannya.(Mulla Shadra, Asfar, jil. 6, hal. 6-14)
Dengan kata lain, jika seluruh tingkatan wujud yang bergantung itu tidak berujung kepada wujud mandiri dan tidak bergantung, maka niscaya wujud-wujud yang lain tidak akan pernah ada. Namun wujud-wujud memiliki kebergantungan kepada sesuatu, maka wujudnya mestilah mandiri dan tidak bergantung. 
         
Mulla Hadi Sabzawari
          Pasca Mulla Shadra, orang yang paling berperan dalam menghidupkan ajaran Shadrian adalah sosok Marhum Haji Sabzawari. Di samping mengulas tipologi khas ajaran Mulla Shadra, seperti ashâlat al-wujud, tasykik, harakah al-jauhariyah dan sebagainya, Mulla Hadi juga memberikan ulasan atas burhân shiddiqîn yang disampaikan oleh Mulla Shadra. Mulla Hadi menunjukkan dua uraian atas burhân shiddiqîn. Uraian pertama ia sampaikan pada catatan kaki (ta'liqah) Asfar. Dan uraian kedua pada Syarh Manzumah (buku filsafat yang berisi kuplet filosofis-irfani).
 1.    Uraian Pertama pada Asfar
Uraian yang paling kukuh dan paling ringkas atas burhân shiddiqîn adalah setelah menetapkan ashâlat al-wujud dan i'tibâri mahiyyah (abstraksi mental kuiditas). Disebutkan bahwa hakikat wujud yang merupakan realitas dan kenyataan, pure hakikat dan mustahil bahwa ia menerima ketiadaan. Lantaran tidak satupun kontra menerima kontranya (artinya wujud [keberadaan] yang merupakan kontra ketiadaan, tidak akan menerima ketiadaan. Atau ketiadaan yang merupakan kontra keberadaan, tidak akan menerima keberadaan). Hakikat mursal yang menolak ketiadaan ini adalah wâjib al-wujud  bidzâti. Oleh karena itu, hakikat wujud itu adalah mursal (omnipresence, ada dimana-mana), mutlak atau pure, dan wâjib al-wujud secara esensial. Hal inilah yang merupakan perkara ideal.(Lihat Asfar, jilid 6, hal. 14)
Inferensi Mulla Hadi ini merupakan inferensi yang lebih kukuh dan ringkas dari inferensi yang dilakukan oleh Mulla Shadra. Inferensi ini bertengger di atas beberapa prinsip:
a.    Wujud, merupakan hakikat yang nyata yang memiliki ashâla (kesejatian) dan kuiditas merupakan abstraksi mental (i'tibari).
b.    Wujud merupakan hakikat mursal (omnipresence, ada dimana-mana).
c.     Wujud yang merupakan kontra dari ketiadaan, sekali-kali tidak akan pernah menerima ketiadaan.
 2.    Uraian kedua pada Syarh Manzumah
Mulla Hadi Sabzawari memberikan ulasan lain ihwal burhân shiddiqîn pada Syarh Manzumah-nya yang sedikit berbeda dari apa yang ia sampaikan pada catatan kaki Asfar.
Jika wujud itu adalah wajib (maka Dialah Tuhan)
Tetapi jika wujud itu adalah mumkin, maka ia perlu kepada wajib al-wujud.(Lihat, Syarh Manzhumah, Sabzawari, hal. 18)
 Dalam mengomentari bait kuplet ini, ia memberikan dua bentuk argumen lain terhadap burhân shiddiqîn.
  1. Hakikat wujud dimana ashâlah telah terbukti baginya dan hakikat bagi yang memiliki sebuah hakikat ia ada dan wujud melalui hakikat, jika wajib al-wujud secara esensial, yang maksud dan idealnya telah terbukti. Tetapi jika mumkin al-wujud yaitu wujud yang fakir dan berhajat kepada sesuatu yang lain, maka hal itu meniscayakan wajib secara esensial. Lantaran melalui argumen reductio ad absurdum menyatakan bahwa hakikat dan realitas itu adalah wujud, ia tidak memiliki wujud kedua sehingga ia bergantung dan berhajat kepada yang lain. Tetapi apa saja yang kita asumsikan sebagai yang kedua ia adalah hakikat wujud dan bukan yang lain. Dan keadaan ketiadaan dan kuiditas adalah jelas (ketiadaan adalah pure invalid dan kuiditas pada esensinya, relasinya sama antara ada dan tiada). Oleh karena itu, burhân shiddiqîn melalui jalan reductio ad absurdum berdiri di atas prinsip-prinsip di bawah ini:
1.    Wujud merupakan realitas yang real.
2.    Wujud bergantung kepada wujud yang kaya secara esensial.
3.    Hakikat wujud tidak memiliki keduaan.
4.    Ketiadaan merupakan hakikat yang batil.
5.    Kuiditas pada esensinya memiliki relasi yang sama antara ada dan tiada.
 
  1. Penjelasan Inferensi melalui burhan mustaqim
Wujud merupakan sebuah hakikat yang real dan memiliki tingkatan, jika wujud sedemikian, merupakan wâjib al-wujud secara esensial, dalam keadaan seperti itu, adalah tsabit dan ideal. Tetapi jika tingkatan dari tingkatan-tingkatan wujud adalah mumkin al-wujud, maka ia akan memerlukan kepada yang lain. Mengingat bahwa daur dan tasalsul merupakan perkara yang mustahil, maka ia harus berakhir pada wâjib al-wujud secara esensial. Oleh karena itu, uraian ini terdiri dari berapa prinsip utama:
1.    Wujud merupakan realitas yang real
2.    Wujud merupakan realitas yang memiliki tingkatan dan gradasi
3.    Wujud terbagi dua wajib al-wujud atau mumkin al-wujud.
4.    Setiap wujud kontingen (mumkin al-wujud) perlu kepada maujud yang kaya secara esensial.
5.    Daur dan tasalsul dalam silsilah kausalitas adalah mustahil.
 Marhum Sabzawari dalam membuat komparasi antara uraian pertama dan kedua, memandang bahwa uraian pertama yaitu argumen reductio ad absurdum (burhan khulf) di atas lebih kuat dan lebih ringkas. (Lihat, Syarh Manzhumah, Sabzawari,  jilid 2, hal. 19)
 
Allamah Thabathabai
        Allamah Sayid Muhammad Husain Thabathabai (w. 1981) dikenal sebagai filosof-arif kiwari dan corak filsafatnya juga Shadrian. Artinya ia banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Mulla Shadra. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hossein Nasr, bahwa Allamah Thabathabai merupakan seorang filosof kontemporer  terkemuka Persia yang telah melakukan studi-studi ekstensif terhadap banyak sekali masalah-masalah filosofis yang pelik bagi para filosof tradisional dan mutakhir. Kebanyakan filosof yang kini menjadi para pemikir dan produsen pemikiran filosofis-filosofis Islam di Iran adalah orang-orang yang pernah bersimpuh belajar di hadapan Allamah Thabathabai. Dalam mendemonstrasikan burhân shiddiqîn, Allamah Thabathabai menggunakan penalaran dan inferensi dari wujud itu sendiri (nafs al-wujud) kepada wujud Tuhan yang memberikan keyakinan dan tanpa media. Berbeda dengan ulasan yang disampaikan oleh Shadru al-Mutaallihin yang berhenti pada prinsip-prinsip yang beragam.
Burhân shiddiqîn yang diuraikan oleh Allamah Thabathabai merupakan argumen yang paling baik dari uraian-uraian yang ada. Dalam catatan kaki yang ia torehkan pada Asfar dan pada karyanya Usul-e Falsafeh wa Rawesy-e Realism, ia menulis:
        "Realitas wujud merupakan suatu realitas yang dengannya kita dapat membantah kaum Sophist. Kita jumpai bahwa seluruh maujud yang berakal tidak dapat menghindar dari keberadaannya; realitas wujud ini secara esensial tidak akan pernah sirna dan tiada. Bahkan dengan asumsi bahwa realitas ini sirna dan tiada, maka akan meniscayakan wujud dan tsubut-nya realitas. (    jika kita beranggapan bahwa realitas telah sirna, kita membenarkannya dalam asumsi invaliditas dan sirnanya). Artinya jika kita berasumsi bahwa seluruh realitas telah sirna dan tiada pada satu detik atau secara mutlak, dalam keadaan seperti ini seluruh realitas pada hakikatnya telah sirna dan tiada, bukan tiada dan sirna dalam bentuk fantasi dan khayalan.
        Demikian juga jika kaum Sophist beranggapan bahwa segala sesuatu adalah khayalan, apakah ia ragu pada realitasnya. Di sisi mereka fantasi dan khayalan sebenarnya adalah sebuah realitas. (di samping ketiadaan dan kesirnaan, kita telah menetapkan realitas kesirnaan dan ketiadaan tersebut). Lantaran hakikat realitas tidak dapat menerima ketiadaan dan kesirnaan, maka wâjib al-wujud adalah secara esensial eksis. Maka realitas wâjib al-wujud secara esensial telah terbukti dan tertetapkan.
        Dan sesuatu yang memiliki realitas dan dalam wujudnya ia berhajat dan berdiri di atas wajib al-wujud (artinya tatkala kita melihat realitas sesuatu, kita melihat ia sirna sebelumnya dan akan sirna dan dari sini kita pahami bahwa benda-benda tersebut bukanlah wajib al-wujud secara esensial, melainkan ia berdiri di atas realitas mutlak dan wajib). Maka jelaslah, bahwa hakikat wujud wajib al-wujud secara esensial bersifat niscaya bagi manusia. (Lihat, Asfar, jilid 6, hal. 14)
 
Kesimpulan        
          Dari uraian filosof-urafa di atas terdapat sesuatu yang common dan niscaya di antara mereka dan hal itu adalah wujudnya dzat yang wajib dan mesti.
Dialah sumber segala wujud yang ada. Dialah wujud mutlak dan mutlak wujud, yang tanpanya seluruh maujud tidak akan pernah menikmati anugerah eksistensi.
        Wujud-Nya adalah mandiri dan kaya secara esensial. Sekali-kali Dia tidak pernah bergantung dan berhajat kepada selain-Nya. Sebab wujud kontingen (lantaran relasi ekuivalen antara ada dan tiada yang dimilikinya) sekali-kali tidak akan pernah kaya dari wujud al-wâjib. Wujud kontingen (mumkin) mengada karena ada sesuatu yang mengadakannya. Dan sesuatu tersebut adalah wâjib al-wujud.
 Dalam burhân shiddiqîn, wujud wajib (baca: Tuhan) dibuktikan secara demonstratif dan tidak seorang pun yang dapat mengingkari karena sifatnya yang swabukti, fitri, kuat dan ringkas.  Sehingga filosof-urafa semisal Mulla Shadra menyebutnya sebagai "burhan yang paling kuat" (asadd al-barâhin) atau al-Farabi yang menyebutnya sebagai (asadd wa al-ahdhar) "burhan yang paling kuat dan paling ringkas".
Para urafa memilih jalan ini untuk membuktikan wujud Tuhan, karena minimnya (untuk tidak mengatakan tidak ada) kesalahan dan kekurangan dalam argumen ini. Dan juga tidak menggunakan piranti dan media apapun selain menganalisa wujud sehingga dapat memahami wujud al-wâjib. Atau dengan kata lain, menjelajahi dzat Tuhan dengan dzat Tuhan.
Post a Comment