Thursday, July 5, 2012

Turunnnya Manusia ke Alam yang Paling Bawah

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Ketahuilah, semoga engkau diberi taufiq kepada segala yang dicintai dan diridhai Allah. Makhluk yang pertama yang diciptakan Allah adalah Ruh Muhammad s.a.w. Ia diciptakan daripada cahaya Jamal Allah. Sebagaimana firman Allah di dalam Hadits Qudsi: “Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya-Ku”. Nabi s.a.w. bersabda:
“Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah akal.”
Ruh, cahaya, qalam, dan akal pada dasarnya adalah satu, yaitu hakikat Muhammad. Hakikat Muhammad disebut nur, karena bersih dari segala kegelapan yang menghalangi sebagaimana firman Allah:
“Telah datang kepadamu cahaya dan kitab penerang dari Allah”.
Hakikat Muhammad disebut juga akal, karena ia yang menemukan segala sesuatu. Hakikat Muhammad disebut qalam, karena ia yang menjadi sebab perpindahan ilmu seperti halnya mata pena sebagai pengalih ilmu di dalam huruf (pengetahuan yang tertulis). Ruh Muhammad adalah ruh yang termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk, sesuai dengan sabda Rasul s.a.w.:
“Aku dari Allah dan makhluk lain dari aku.”
Dan dari ruh Muhammad itulah Allah menciptakan semua ruh di alam Lahut dalam bentuk yang terbaik yang hakiki. Itulah nama seluruh manusia di alam Lahut. Alam Lahut adalah negeri asal setelah 4.000 tahun dari penciptaan Ruh Muhammad maka Allah menciptakan Arasy dari Nur Muhammad. Begitu pula seluruh makhluk lainnya diciptakan dari Nur Muhammad.
Selanjutnya ruh-ruh diturunkan ke alam yang terendah, dimasukkan pada makhluk yang terendah, yaitu jasad. Sebagaimana firman Allah: “Kemudian Ku turunkan manusia ke tempat yang terendah”. Proses turunnya adalah setelah ruh diciptakan di alam Lahut, maka diturunkan ke alam Jabarut dan dibalut dengan cahaya Jabarut. Sebagai pakaian antara dua haram lapis kedua ini disebut ruh Sultani. Selanjutnya diturunkan lagi ke alam Malakut dan dibalut dengan cahaya Malakut yang disebut ruh Ruhani. Kemudian diturunkan lagi ke alam Mulki dan dibalut dengan cahaya Mulki. Lapis keempat ini disebut ruh Jismani.
Selanjutnya Allah menciptakan badan (jasad) dan Mulki (bumi), sebagaimana firman Allah:
“Dari bumi Aku mencipta kamu. Kepada bumi Aku mengembalikanmu. Dan dari bumi pulalah Aku mengelurkanmu.”
Setelah terwujud jasad, maka Allah memerintahkan ruh agar masuk ke dalam jasad dan ruh masuk ke dalam jasad, sebagaimana firman Allah: “Ku tiupkan ruh dari-Ku dalam jasad”.
Ketika ruh berada di dalam jasad dan merasa senang berada pada jaad, ruh lupa akan perjanjian awal di alam Lahut, yaitu hari perjanjian: “Alastu birabbikum?” (Bukankah Aku ini Tuhanmu?) Ruh menjawab: “Benar, Engkau adalah Tuhan kami”. Karena ruh lupa pada perjanjian awal, maka ruh tidak dapat kembali ke dalam Lahut sebagai tempat awal. Dengan kasihnya Allah menolong mereka dengan menurunkan kitab-kitab samawi sebagai peringatan tentang negeri asal bagi mereka, sesuai dengan firman Allah: “Berikanlah peringatan pada mereka tentang hari-hari Allah”, yaitu hari pertemuan antara Allah dengan seluruh arwah di alam Lahut. Lain halnya dengan para nabi, mereka datang ke bumi, dan kembali ke akhirat badannya di bumi, sedangkan ruh intinya berada di negeri asal karena adanya peringatan ini. Sangat sedikit orang yang sadar dan kembali serta berkeinginan dan sampai ke alam asal.
Karena sedikitnya manusia yang mampu kembali ke alam asal, maka Allah melimpahkan kenabian kepada ruh agung Muhammad Rasulullah. Penutup penunjuk jalan dari kesesatan ke alam terang. Ia diutus untuk mengingatkan mereka yang lupa dan membuka hatinya. Nabi mengajak mereka agar kembali dan sampai serta bertemu dengan Jamal Allah yang azali, sesuai dengan firman Allah:
“Katakanlah: ini adalah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah dengan pandangan yang jelas. Aku dan para pengikutku”.
Nabi bersabda:
“Para sahabatku seperti bintang-bintang, mengikut yang mana pun kamu akan mendapat petunjuk”.
Pada ayat tadi dijelaskan bahwa Nabi mengajak manusia kembali kepada Allah dengan pandangan yang jelas, yang di dalam Al-Quran disebut basyirah. Basyirah ini adalah ruh asli yang terbuka pada mata hati bagi para aulia. Basyirah tidak akan terbuka hanya dengan ilmu zahir sahaja, tetapi untuk membukanya harus dengan ilmu Ladunni batin (ilmu yang langsung dari Allah). Sesuai dengan firman Allah: “Kepada dia Ku berikan ilmu yang langsung dari Aku.” Untuk menghasilkan basyirah manusia mengambilnya dari ahli basyirah dengan mengambil talqin dari seorang wali mursyid yang dapat menunjukkan dari alam Lahut.
Wahai saudaraku, sadarlah dan bergegaslah untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu, sebagaimana firman Allah:
“Bergegaslah kamu untuk mendapat ampunan dari Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.”
Wahai saudaraku, masuklah pada tariq (jalan kembali kepada Allah) dan kembalilah kepada Tuhanmu bersama golongan ahli ruhani. Waktu sangat sempit, jalan hampir tertutup dan sulit mencari teman untuk kembali ke negeri asal (alam Lahut). Keberadaan kita di bumi yang hina dan yang akan hancur ini tidak hanya untuk berpangku dengan makan, minum dan memenuhi nafsu belaka.
Seorang ahli Sya’ir berkata: “Nabimu selalu menunggu, sangat khawatir memikirkanmu”. Sabda Nabi: “Aku mengkhawatirkan umatku yang ada di akhir zaman”.
Ada dua macam ilmu yang diturunkan kepada kita, yaitu:
  1. Ilmu zahir, yakni syariat.
  2. Ilmu batin, yakni ma’rifat.
Syariat untuk jasad kita dan ma’rifat untuk batin. Kedua-duanya harus dipadu dan dari perpaduannya membuahkan hakikat, seperti halnya pohon dan daun yang menghasilkan buah, sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-rahman ayat 19-20:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing”.
Dengan ilmu zahir sahaja manusia tidak akan mencapai hakikat dan tidak akan sampai pada inti tujuan ibadah. Ibadah yang sempurna hanya dapat diwujudkan oleh perpaduan antara ilmu zahir dan ilmu batin, sebagaimana firman Allah dalam surah Az-dzariyat ayat 56:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan mereka supaya menyembah-Ku”.
Yang dimaksudkan dengan ibadah di sini ialah ma’rifat. Manusia tidak akan beribadah secara sempurna kepadanya tanpa ma’rifat yang sesungguhnya. Ma’rifat dapat berwujud setelah hilangnya segala sesuatu yang menghalangi cermin hati dengan terus berupaya membersihkannya sehingga manusia dapat melihat indahnya sesuatu yang terpendam dan tertutup di dalam rasa di lubuk hati. Firman Allah dalam Hadits Qudsi:
“Aku adalah Kanzun Mahfiyya (yang terpendam dan tertutup). Aku ingin ditemukan dan dikenali. Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”.
Maka jelaslah bahwa tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia ma’rifat kepada Allah. Ma’rifat itu ada dua macam, yaitu ma’rifat sifat Allah dan ma’rifat zat Allah. Ma’rifat sifat adalah tugas jasad di dunia dan akhirat (di alam Lahut, sejak manusia hidup di dunia), sebagaimana firman Allah:
“Ku perkuat manusia dengan ruh Al-Qudsi” (Surat Al-Baqarah ayat 87).
Seluruh manusia dalam dirinya diperkuat oleh ruh Al-Qudsi. Ma’rifat sifat dan ma’rifat zat hanya dapat dicapai dengan perpaduan antara ilmu zahir dan ilmu batin. Rasul bersabda:
“Ilmu itu ada dua macam. Pertama: Ilmu lisan, sebagai hujjah Allah dan kepada hambanya. Kedua: Ilmu batin yang bersumber di lubuk hati, ilmu inilah yang berguna untuk mencapai tujuan pokok dalam ibadah”.
Mula-mula manusia memerlukan ilmu syariat agar badannya mempunyai kegiatan dalam mencari ma’rifat pada ma’rifat sifat, yaitu darajat. Kemudian memerlukan ilmu batin agar ruhnya mempunyai kegiatan untuk mencapai ma’rifatnya pada ma’rifat zat. Untuk mencapai tujuan ini manusia harus meninggalkan segala sesuatu yang menyalahi syariat dan tariqat. Hal ini akan dapat dicapai dengan melatih diri meninggalkan keinginan nafsu walaupun terasa pahit dan melakukan kegiatan ruhaniyyah dengan tujuan mencapai ridha Allah serta bersih dari riya’ (ingin dipuji orang lain) dan sum’ah (mencari kemasyhuran). Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 110:
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal soleh. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”.
Yang dimaksudkan dengan alam ma’rifat adalah alam Lahut, yaitu negeri asal tempat diciptakan ruh Al-Qudsi dalam wujud terbaik. Yang dimaksudkan ruh Al-Qudsi ialah hakikat manusia yang disimpan di lubuk hati; keberadaannya akan diketahui dengan taubat dan talqin dan mudawamah (mengamalkan dengan terus-menerus) kalimat “Laa Ilaha Illallah”. Pertama dengan lidah fisiknya, kemudian bila hatinya sudah hidup beralih dengan lidah hatinya. Ahli tasauf menamakan ruh Al-Qudsi dengan sebutan Tiflul Ma’ani (bayi ma’nawi) karena ia dari ma’nawiyah qudsiyyah. Pemberian nama tiflul ma’ani didasarkan kepada:
  1. Ia lahir dari hati, seperti lahirnya bayi dari rahim seorang ibu dan ia diurus dan dibesarkan hingga dewasa.
  2. Dalam mendidik anak-anak tentang keislaman, ilmu yang didahulukan adalah ilmu ma’rifat. Begitu pula bagi bayi ma’nawi ini.
  3. Bayi bersih dari segala kotoran dosa lahiriyah. Begitu pula bayi ma’nawi, ia bersih dari syirik (menyekutukan Allah) dan ghaflah (lupa kepada Allah).
  4. Perumpamaan bayi ma’nawi merupakan gambaran kesucian karena anak-anak lebih banyak yang suci daripada yang lainnya. Oleh karena itu bayi ma’nawi terlihat dalam mimpi dengan rupa yang indan dan tampan.
  5. Ahli surga disifati dengan sifat anak-anak, sebagaimana firman Allah: “Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap mudanya” (Surah Waqi’ah: 17). Firman Allah: “Anak-anak muda melayani mereka, bagai mutiara yang terpendam” (Ath-Thur: 24).
  6. Karena bayi ma’nawi itu halus dan suci.
Penggunaan nama tiflul ma’ani adalah majazi ditinjau dari kaitannya dengan badan, ia berwujud seperti rupa manusia, juga karena manisnya bukan karena kecilnya: dan dilihat dari awal adanya, ia adalah manusia hakiki karena dialah yang berhubungan langsung dengan Allah, sedangkan badan dan ruh jasmani bukan mahramnya bagi Dia berdasarkan Hadits Nabi s.a.w.: “Aku punya waktu khusus dengan Allah; malaikat terdekat, nabi dan rasul tidak akan dapat memilikinya”. Yang dimaksudkan dengan malaikat terdekat dalam hadits tadi adalah ruh ruhani yang diciptakan di alam Jabarut, seperti halnya malaikat dapat masuk ke alam Lahut. Sabda Nabi s.a.w.: “Allah memiliki surga yang tanpa bidadari dan istana serta tanpa madu dan susu. Kenikmatan di surga itu hanya satu, yaitu melihat zat Allah”. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran: “Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri” (Al-Qiyamah: 22). Juga dijelaskan dalam Hadits Nabi s.a.w.: “Kamu sekalian akan melihat Tuhanmu, seperti kamu melihat sinar bulan purnama”. Bila malak jasmani, yakni segala sesuatu selain ruh Al-Qudsi masuk di alam Lahut, maka pasti akan terbakar.

Turunnnya Manusia ke Alam yang Paling Bawah

Ketika Allah menciptakan Ruh Al-Qudsi dalam wujud yang terbaik di Alam Lahut, maka Allah berkehendak menurunkan manusia ke alam yang terendah untuk menyempurnakan kemanusiaannya dan pendekatannya kepada Allah di Maq’adi Sidqin Inda Malikin Muqtadir. Itulah maqam para wali dan para Nabi. Pertama-tama Allah menurunkan Ruh Al-Qudsi (Ruh termurni) yang diciptakan dari Nur Muhammad ke alam Jabarut dengan membawa bibit tauhid, maka dititipkan dari cahayanya di alam tersebut; dan dibalut dengan pakaian cahaya (balutan cahaya). Begitu pula perpindahan dari alam Jabarut ke alam Malakut dan dari alam Malakut ke alam Mulki. Di setiap alam yang tiga ini Allah melapisi Ruh Al-Qudsi dengan lapisan-lapisan sampai ke lapisan Mulkiyah yang disebut Qiswah Unsuriyah, agar jasad tidak terbakar oleh Ruh Al-Qudsi. Lapisan yang dibalutkan di alam Jabarut disebut Ruh Sultani. Lapisan di alam Malakut disebut Ruh Sairani Rawani. Dan lapisan di alam Mulki disebut Ruh Jismani.
Tujuan utama didatangkannya manusia ke alam terendah ini, agar manusia berupaya kembali mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai darajat, dengan menggunakan hati dan jasad. Maka ditanamkan Bibit Tauhid di ladang hati agar tumbuh menjadi pohon tauhid yang akarnya tertanam di dalam rasa dan menghasilkan Buah Tauhid untuk mencapai ridha Allah Ta’ala. Bibit Syariat ditanamkan di ladang hati dan akan tumbuh menjadi Pohon Syariat. Buahnya adalah Buah Darajat.
Kemudian Allah memerintahkan Ruh dengan seluruh lapisannya untuk masuk ke dalam jasad dan Allah menentukan tempatnya masing-masing. Tempat Ruh Jismani adalah di dalam jasad antara daging dan darah. Tempat Ruh Al-Qudsi adalah Rasa. Setiap Ruh mempunyai Hanut (tempat) di daerah keberadaannya, dan bekal/ alat untuk pengolahannya dan keuntungan/ hasil pengolahannya dan cara pengolahannya yang tidak pernah sia-sia yang diketahui secara tertutup (rahasia) maupun secara terbuka. Mereka mengharapkan perjuangan yang tidak sia-sia.
Wajib bagi semua manusia untuk mengetahui bagaimana cara mengolah dirinya, sebab apa yang dilakukan di muka bumi ini akan diminta pertanggungan jawabnya di hari kiamat. Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-‘Adiyat ayat 9 dan 10:
“Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada”.
Firman Allah dalam surah Al-Israa ayat 13:
“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya”

Kembalinya Manusia ke Tempat Asal

Manusia terdiri dari dua bahagian, yaitu jasmani dan ruhani. Jasmani adalah bahagian manusia yang umum, sedangkan ruhani adalah bahagian manusia yang khusus. Kembalinya bahagian manusia yang umum ke tempat asalnya disebut darajat karena mengamalkan ilmu Syariat, Tariqat dan Ma’rifat. Rasul bersabda:
“Hikmah yang mencakup adalah mengenal Allah bila dilakukan tanpa riya’ dan sum’ah”.
Darajat ada tiga tingkatan, yaitu:
  1. Surga di alam Mulki, yaitu Jannatul Ma’wa.
  2. Surga di alam Malakut, yaitu Jannatul Nai’m.
  3. Surga di alam Jabarut, yaitu Jannatul Firdaus.
Ini adalah kenikmatan jasmani. Jasmani tidak akan sampai kepada alamnya kecuali dengan tiga ilmu, yaitu Syariat, Tariqat dan Ma’rifat. Nabi bersabda: “Hikmah yang mencakupi adalah mengenal Allah dan mengamalkannya”. Oleh karena itu Rasul berdoa:
“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang benar dan berilah kami kemampuan mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa kebatilan itu adalah sesuatu yang batil maka itu berikanlah kami kemampuan menjauhinya”.
Sabda Nabi:
“Barangsiapa yang mengenal dirinya dan melawannya, berarti dia mengenal Tuhannya dan mengikutinya”.
Kembali dan sampainya manusia yang khusus (ruhani) aalah Qurbah dengan sebab mengamalkan ilmu Hakikat, yaitu tauhid di alam Qurbah, yaitu alam Lahut. Pencapaian alam ini di saat ia hidup di dunia, karena sesuatu yang ia biasakan dalam keadaan tidur maupun terjaga. Bahkan bilamana tidur, hati akan menemukan peluang untuk kembali ke negeri asalnya secara menyeluruh atau sebahagian. Firman Allah dalam surah Az-Zumar ayat 42:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan”.
Oleh karena itu Nabi bersabda: “Tidurnya seorang ‘Alim lebih besar pahalanya daripada orang bodoh”, yaitu orang yang telah hidup hatinya dengan cahaya tauhid dan dengan lisan sirri tanpa huruf dan suara. Firman Allah dalam Hadits Qudsi:
“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia manusia”.
Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:
“Ilmu batin adalah rahasia di antara rahsia-Ku. Aku jadikan di dalam hati hamba-hamba-Ku dan tidak ada yang menempatinya kecuali Aku”.
Firman Allah:
“Aku ini berada pada sangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Bila dia mengingat-Ku pada hatinya, Aku pun mengingatnya pada zat-Ku. Dan bila dia mengingat-Ku pada suatu kumpulan, maka Aku pun akan mengingatinya di dalam kumpulan yang lebih baik daripadanya”.
Yang dimaksud dengan Hadits ini adalah manusia pada wujud manusia, yaitu di alam tafakur.
Nabi s.a.w. bersabda:
“Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah setahun”.
Sabda Nabi s.a.w.:
“Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah 70 tahun”.
Rasul bersabda:
“Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah seribu tahun”.
Maksudnya ialah manusia yang berpikir dalam masalah-masalah Furu’ (cabang), maka nilai tafakurnya lebih besar daripada ibadah setahun. Berpikir untuk mengetahui hal-hal yang diwajibkan oleh Allah dalam ibadah dan berpikir tentang aturan-aturan ibadah wajib, maka nilai tafakurnya lebih besar daripada ibadah 70 tahun. Dan berpikir tentang ma’rifat kepada Allah, maka nilai tafakurnya lebih besar daripada beribadah seribu tahun. Syeikh Al-Ansari bersya’ir (tidak diterjemahkan).
Ini adalah alam ma’rifat, yaitu alam tauhid. Seorang arif akan sampai kepada yang diketahui dan dicintainya. Hasilnya adalah terbang dengan ruhani ke alam Qurbah.
Seorang abid berjalan ke surga, sedangkan seorang arif terbang ke alam Qurbah. Sebahagian ulama mengatakan:
“Orang-orang yang merindukan Allah hatinya mempunyai mata. Mata hatinya melihat segala sesuatu yang tidak dilihat oleh penglihatan biasa. Hati mereka mempunyai sayap yang terbang tanpa bulu, terbang ke Malakut Rabbul Alamin”.
Hal seperti ini terdapat pada orang arif, yaitu insan hakiki. Dialah kekasih Allah, mahram Allah dan pengikutnya. Abu Yazid Al-Bustami berkata: “Ahlinya Allah adalah pengantin-pengantinnya Allah”. Dalam suatu riwayat dikatakan: “Para wali Allah adalah pengantin-pengantinnya Allah, tidak ada yang mengetahui kepada seorang pengantin, kecuali mahramnya. Mereka tertutup dalam penghalang kemanusiaan. Tidak ada yang melihat kepada mereka, kecuali Allah Ta’ala.
Hadits Qudsi: “Wali-wali-Ku berada di bawah kubah-kubah-Ku. Tidak ada yang mengetahuinya selain Aku”. Manusia tidak akan melihat dari sisi lahir pada seorang pengantin, kecuali yang dilihat hanya keindahan lahiriyahnya.
Sayyid Yahya bin Muadz Ar-Razi berkata: “Seorang wali adalah wangi-wangian Allah di bumi. Orang-orang yang benar akan mencintainya”. Kewangiannya akan sampai pada hatinya dan timbullah kerinduan untuk bertemu dengan Tuhannya. Ibadahnya semakin meningkat sesuai dengan keadaannya masing-masing dan sesuai dengan kefanaannya, karena bertambahnya qurbah tergantung pada bertambahnya fana. Seorang wali adalah seorang yang fana (melebur diri) dalam keadaannya dan yang kekal musyahadah kepada Allah. Dirinya seakan-akan tidak punya kemampuan memilih dan tidak ada tempat kembali selain Allah. Mereka adalah orang-orang yang diperkuat dengan karamah, tetapi mereka tertutup dalam karamah, mereka tidak diberi izin untuk menjelaskannya, karena menjelaskan rahasia ketuhanan adalah kufur.
Orang-orang yang memiliki karamah, mereka tertutup dan karamah adalah hadinya seorang lelaki. Seorang wali memiliki seribu maqam. Maqam yang pertama adalah karamah. Orang yang telah menyelesaikan tingkatan karamah akan masuk ke tingkatan yang lain dan bila tersendat dalam karamah, maka tidak akan mampu melanjutkannya.

Post a Comment