Tuesday, July 3, 2012

PENGERTIAN BER'TAJALLI DALAM PANDANGAN ILMU TAUHID

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

LAA HUA ILLA HUA
Penegasan bahwa manusia dapat bertajalli dengan Nabi Muhammad SAW harus
dipahami sebagai melihat dengan penglihatan Nabi Muhammad SAW, dan inilah
penglihatan yang sempurna. Dalam pengertian demikian, maka Nabi Muhammad
sebagai pemberi petunjuk dan pembawa rahmat adalah seperti yang
dikonfirmasikan dalam firman berikut,
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi,
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,
supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
menguatkan (agama) Nya, membesarkan-Nya.
Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu
sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. (QS 48:8-10)”
Kalimat “
supaya kamu sekalian beriman
” mengandung arti bahwa beriman
kepada Muhammad SAW mesti sebagai subyek (pemberi risalah) dan sebagai
obyek (yang diberi risalah). Karena itu, kalimat tauhid yang berlaku bagi Umat
Islam –bahkan semua makhluk - yang formal dan resmi secara hukum adalah
kalimat syahadat “
Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah
Utusan Allah
”. Disini, sisipan kata sambung “dan” menjadi jelas sebagai suatu
pengertian kuantum yang tidak terbedakan, suatu makna hakiki atas Pengesaan
Tuhan yang mencerminkan pengertian lahir dan batin yang menunjukkan
penetapan keimanan yang benar

Dalam konteks “Nur Muhammad dan Nabi Muhammad SAW” sebagai suatu
perantara maka pantulan Cahaya Allah sebagai Cahaya Diatas Cahaya adalah
suatu cahaya hakiki yang dapat memusnahkan semua makhluk. Sehingga, “Nur
Muhammad dan Nabi Muhammad SAW” adalah ibarat cermin kaca yang dapat
meneruskan Cahaya Allah kepada semua makhluk sebagai suatu rahmat bagi
seluruh alam beserta semua isinya. Dialah yang memberikan semua kehidupan.
Sedangkan pengertian sebagai media penyaksian atau filter penyaksian, maka
“Nur Muhammad dan Nabi Muhammad SAW” bersifat melindungi semua hamba
Allah dari menyaksikan dan melihat Allah SWT secara langsung (Ma’rifat Dzat)
dengan sifat-sifat
ar-Rububiyyah
-Nya. Dalam pengertian fisikal dan eksoteris,
maka “Nur Muhammad dan Nabi Muhammad SAW” sebagai cahaya adalah ia
yang menjadi awal mula penciptaan semua makhluk, ia yang membangun
eksistensi alam semesta yang semula (di singularitas) berupa unifikasi energetis
gelombang gravitasi (membangun alam makro) dan gelombang elektromagnetik
(membangun alam mikro). Maka tidak salah kalau dikatakan bahwa Nur
Muhammad ada dalam semua makhluk-Nya karena memang semua wujud
makhluk mulai dari dunia sub-atomis (kuantum) sampai alam semesta (jamak –
al –Aalamin) itu sendiri berasal dari Nur Muhammad
Kalau saya analogikan apa yang diuraikan oleh AL-FAQIR maupun para
MUWAKHHID BILLAH
umumnya, yang mengakui totalitas tauhid dengan kalimat “
La Huwa illaa Huwa

maupun dalam bentuk formal sebagai kalimat syahadat, dengan sudut pandang
sains modern, sebenarnya konsep-konsep Teori Kuantum ketika seorang hamba
mencapai suatu kedekatan yang sangat dekat dengan Allah SWT dapat
diterapkan. Sebagai contoh ilustrasi
2
, ambilah sebuah kapur dan letakkan di
tangan kanan Anda. Ketika Anda tanyakan kepada seseorang “dimanakah
kapur?”. Orang tersebut akan menjawab, “di tangan kanan Anda”. Kemudian
ketika Anda patahkan sebatang kapur itu menjadi dua bagian sehingga tangan
kanan dan kiri Anda masing-masing memegang potongan kapur yang dipatahkan
itu, kemudian Anda tanyakan kembali ke orang tersebut, ”dimanakah kapur?”.
Maka orang yang ditanya akan menjawab, “di tangan kanan dan kiri Anda”.
Analogi demikian, dapat diterapkan untuk menjelaskan pengertian kalimat “
La
Huwa illaa Huwa
” dan syahadat, maka ketika seseorang menanyakan
“dimanakah Allah?” , maka dijawab “di dalam hamba Allah”. Lalu, ketika
ditanyakan “dimanakah hamba Allah?”, maka dijawab,”di dalam Allah”. Demikian
juga ketika ditanyakan “siapakah Allah?”, maka dijawab,”hamba Allah”. Atau,
ketika ditanyakan “siapakah hamba Allah”, maka dijawab ”Allah”. Demikianlah,
kenapa kemudian pengertian Dzauqi lebih diutamakan dalam mengungkapkan
totalitas tauhid dikarenakan hubungan antara “hamba Allah dan Allah”
sedemikian dekatnya sehingga dalam pengertian logika Teori Kuantum “tidak
terbedakan”, dan memang sulit dipahami kalau hanya sekedar mengandalkan
ungkapan-ungkapan verbal. Sehingga lebih sering dikatakan bahwa kalau
seseorang mengalami hal ini lebih baik “
membisu saja
”. Apa yang saya
analogikan diatas memperjelas beberapa pendapat kaum sufi tentang tauhid
seperti diungkapkan Ruwaim bin Ahmad bin yazid al-Baghdadi
[9]
,
”Menghilangkan bekas-bekas sifat manusia (al-basyariyah) dan memurnikan
Sifat Ketuhanan (
Uluhiyyah
)”. Yang dimaksud dengan ungkapan menghilangkan
bekas-bekas sifat manusia adalah memurnikan akhlak manusia yang penuh
cacat nafsu menjadi sediaka kala, yaitu dalam penyaksian pra-eksistensi dimana
ruhnya yang murni sebagai suatu nur ilahiyah menjadi saksi atas Keesaan Tuhan
(QS 7:172).
Ketika totalitas tauhid tercapai, yakni manusia melakukan suluk dan menyingkap
lapis demi lapis hijab dirinya hingga sampai pada tauhid pertama tauhid “Allah
oleh Allah”, maka semua penisbahan terhadap makhluk dinafikan, ia akan
menafikan selain-Nya, maka dari relasi tauhid dan kosmologis yang tersisa
hanyalah simetri yang memecah secara mandiri : “Engkau
Allah, Yang Maha
Esa
.”(QS 7:172); Dia Yang Satu; Allah oleh Allah adalah Satu,
Huwa
(Dia),
======================================================
kemudian
Anta
(Engkau), lantas
Hu
, akhir segala sesuatu adalah membisu.
Kusyairkan saja tauhid seperti berikut,
Dalam gelombang samudera Asma dan SifatNya,
si hamba melihat hakikat dari yang dilihat,
“Tidak ada sesuatu seperti Dia (Laisa kamitslihi Syai-un)”,
karena sesuatu itu adalah Huwa (Dia).
Dalam gelombang samudera Asma dan SifatNya,
pijakan dan rahasia yang mantap mengakhiri kemabukan,
medan Sirr Al Asrar membuka,
di atas Air Samudera Kemahakuasaan (‘Arsy)-Nya,
kuncup bunga mulai mekar membuka,
tampilkan kelopak aneka warna dan rupa,
wangi semerbak menyelimutinya dalam kelembutan kasih sayang yang
tercurah sebagai rahmat-Nya,
lantas si hamba yang mandiri berkata “Huwa (Dia)”.
Dalam gelombang yang semakin menenang,
dalam keheningan malam tak berbintang,
dia berada dibatas-batas antara tanpa tapal batas,
antara nafs dan ruh,
jaraknya cuma sedekat “Qabaa Qausaini (sedekat dua ujung busur
panah)”, bahkan lebih dekat lagi.
Ketika batas-batas ketetapan telah terlampaui,
si hamba akan berkata “Anta (Engkau)”.
Si hamba pun bisu.
Tanpa kabar. Tanpa berita.
Lantas “Hu”,
menyeruak mandiri dengan kemurnian Nur awal mula
yang menyaksikan Allah Yang Esa,
Iapun menjadi hamba Allah semata.
Ketika si hamba mengatakan “
Huwa
” maka dimulailah tahap awal kefanaan
dirinya, sedangkan tahap akhir dimana si hamba mengatakan “
Anta
”, itulah fana
yang sebenarnya. Pada kondisi fana sebenarnya inilah dikatakan oleh Abu Yazid
Al-Busthami
[16]
bahwa “
segala bentuk rumus dan/atau bahasa tidak mampu
mengutarakannya
”. Kemudian, dalam kesunyian fana dirinya didalam-Nya,
pemurnian dalam kebaqaan-Nya menyeruakkan “
Hu
” sebagai ingatan yang
kembali muncul tiba-tiba karena semua aspek
lathifah (halus)
dirinya termunikan
sejak penyaksian pra-eksistensi dirinya (QS 7:172), sebagai tapal batas terakhir
kemakhlukannya. Pada akhirnya yang menjadi awalnya, totalitas dirinya yang
termurnikan dalam kebaqaanNya adalah hakikat
ubudiyah
nya sebagai hamba
Allah yang menjalani ketaatan dengan ilmu-Nya, yang mematuhi semua
perintah-Nya dan larangan-Nya, yang menyelaraskan diri dengan sunnatullah
dan kehendak Allah (yakni ridha atas semua takdir Allah), dan yang mengikuti
sunnatulrosul.
Hakikat-hakikat sufistik yang menyingkapkan hubungan manusia dengan
Tuhannya pada akhirnya memang seringkali membingungkan kalangan yang
awam dan tidak teliti. Kendati seringkali disalahpahami sebagai
HULLUL (penyuntikan) atau inkarnasi dalam ungkapan-ungkapan verbal al-Hallaj (ana al-
Haqq, Akulah Kebenaran) maupun Abu Yazid (Subhanii, Mahasuci Aku), maka
sebenarnya tidak perlu terjadi kesalahpahaman dari apa yang diungkapkan oleh
kedua sufi tersebut. Pengertian hulul atau inkarnasi sendiri jelas-jelas
sebenarnya tidak memadai, atau bahkan sebenarnya salah sama sekali, untuk
menjelaskan ungkapan-ungkapan dzauqi sufistik dalam tingkatan fana dan baqa.
Karena sejatinya, apa yang dimaksud oleh al-Hallaj maupun Abu Yazid memang
bukan hulul atau inkarnasi, tetapi suatu pemurnian (ISYQ) dimana akhlak
manusia yang fana dan terbaqakan didalam-Nya termurnikan adalah dia yang
kembali menyadari kehambaan dirinya dihadapan Allah SWT Yang maha Esa.
Dan dalam hal ini totalitas tauhid sebagai suatu pengakuan atau ikrar bagi
semua Umat Islam dimana-mana sama yaitu dengan mengikuti apa yang
disebutkan oleh Nabi SAW yaitu kalimat syahadat. Namun yang menjadi
pedoman adalah yang ada di dalam qolbu atau hati, dan bukan yang keluar dari
lisan.
DEMIKIANLAH SEDIKIT URAIAN AL-FAQIR TENTANG TAJALLI (KELIHATAN / NAMPAK ) SEMOGA MENJADI JALAN BUAT SAUDARAKU FILLAH SEMUANYA AGAR MENCAPAI TITIK TEMU DALAM WASHILAH RUBUBIYAH
Post a Comment