Wednesday, July 11, 2012

Menghidupkan Hidup Melalui Kematian

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Tak ada yang tak kenal mati. Tapi seringkali kita tak kenal hidup walau sedang berada di dalamnya. Tidak jarang keluhan terlontar, sekecil apapun di depan mata. Seberapa lengkap pun kebutuhan terpenuhi, masih saja keluhan kerap sambut-menyambut dalam benak. Hingga aku tiba di satu departemen yang harus kulalui, bagian dari pendidikan kedokteran: forensik.
Seorang teman yang sudah berpengalaman melalui forensik pernah bercerita, “Keterlaluan kalau nggak jadi lebih hati-hati keluar dari forensik. Di sini kita bisa lihat kalau kita tuh nggak ada apa-apanya, kesenggol dikit sama motor, jatuh, meninggal”, dan seterusnya ceritanya di dunia otopsi ini. Awalnya aku hanya berpikir, seram. Selama 3 minggu bertemu dan orang tak bernyawa dan harus diotopsi pula. Namun ternyata minggu pertama di sana memberikan begitu banyak kesan .
Forensik bukan departemen pertamaku di dunia dokter muda, untungnya. Tidak kaget begitu langsung berhadapan dengan jenazah karena toh dari awal juga sudah pernah di bagian bedah, sudah sering melihat yang berdarah-darah dan dipanggil Allah swt setelahnya. Tidak begitu kaget tapi heran, kok tetap saja merinding begitu melihat ada “tamu” yang menunggu di ruang otopsi. Ditambah melihat keluarga yang ditinggalkan ikut mengantar sambil terisak-isak, polisi mondar-mandir mengurus persuratan permintaan pemeriksaan luar maupun dalam. Mungkin bagi yang sudah lama bertugas lama di forensik akhirnya terbiasa, tapi tidak terbayang olehku jika “tamu” yang datang berasal dari keluarga sendiri, na’udzubillah mindzalik ya Rabb.
Kebanyakan datang dengan kasus kecelakaan kerja atau kecelakaan lalu lintas, sebagian karena pembunuhan, sebagian karena bunuh diri, sebagian karena ditemukan di jalanan diduga karena sakit. Setidaknya itulah kasus-kasus yang kutemukan selama 1 minggu ini, langsung beragam. Dan sensasi observasi otopsi pemeriksaan dalam, benar-benar menyadarkan diri ini hanya seonggok daging yang diberi akal dan kesempatan untuk hidup. Umur pun bukan menjadi jaminan keselamatan. Tidak jarang kulihat yang datang masih berumur 18-20 tahun. Ya Allah, jika memang Dia Yang menghendaki kita dipanggil, maka tidak ada yang bisa menghalangi-Nya. Berapapun umurnya, siapapun dia.
Minggu pertama di forensik, setiap “tamu” berdatangan, terkadang wajahnya masih terbayang, sulit untuk tidak. Jika tidak terbayang wajahnya, yang teringat bagaimana meninggalnya. Duh, kalau orang lain kedatangan tamu malah senang dan beramah tamah, aku malah harus menahan seram sekaligus sedih. Terbayang-bayang. Hikmah yang harus kuambil, bersyukur. Dunia ini hanya sebentar dibandingkan dengan akhirat, seperti perbandingan antara setetes air laut dengan air laut itu sendiri, yang luasnya seluas-luasnya samudera. Begitu singkat, dan belum tentu kita bisa mempersiapkan “hidup” yang lebih baik di akhirat sana nanti.
Ah, seharusnya di sinilah menjadi tempat introspeksi diri, apakah sudah siap jika memang harus dihadapkan dengan kematian? Dan kematian itu sendiri bukan kita yang memilih jalannya. Entah kita mati dalam keadaan buruk atau baik, entah bekal yang dibawa cukup untuk hidup di alam akhirat sana. Mereka yang telah dipanggil telah habis waktunya, sedangkan kita? Apa masih bisa bersantai-ria melihat mereka yang telah habis jatah persiapan “hidup”nya? Apa masih bisa ber-haha-hihi melihat waktu yang semakin menipis? Beginilah pertanyaan-pertanyaan yang muncul setiap kutemui para “tamu”.
Menerapkan memang tidak semudah berkata-kata. Dan di sini aku masih menunggu panggilan “tamu” yang menanti untuk diperiksa. Ya Allah Yang Maha Mendengar, ambil kami dalam keadaan beriman pada-Mu.
Post a Comment