Friday, July 20, 2012

LANGKAH-LANGKAH MENUJU AGAMA

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله



Dalam 
LANGKAH-LANGKAH MENUJU AGAMA
 
PERSIAPAN SEBELUM PERJALANAN
Teritori Kalam terhampar luas di hadapanku. Aku hendak memulai perjalanan dan pengembaraan pada teritori ini, dengan menunggangi kendaraan rasionalitas. Dan engkau di sini, dengan ajakanku, menemaniku pada pengembaraan dan perjalanan ini. Supaya tidak membuatmu lelah dan letih pengembaraan dan pelancongan khusus ini akan berlangsung cepat. Kelak suatu ketika engkau akan menjadi pelancong musiman, sehingga kemudian engkau dapat menikmati pelancongan dan pengembaraan jauh.
Kita mulai pelancongan dan pengembaraan ini tanpa adanya prakonsepsi atau prajudis, tapi dengan pikiran terbuka, dengan akal kita sebagai pemandunya.
Dalam memilih pemandu, kita memandang akal kita mampu membedakan dua atau beberapa pilihan, untuk memutuskan yang mana yang benar.


TINGKATAN PERTAMA
Kita memulai pengembaraan ini dengan observasi sederhana. Kita melihat dunia sekeliling kita dan memikirkan sebuah pertanyaan klasik: Bagaimana seluruh hal ini dapat terwujud dan dari mana datangnya? Kita mencari di sana-sini jawaban atas pertanyaan klasik ini. Kita menemukan tidak hanya satu jawaban, tapi banyak jawaban yang tersedia. Kita berikan pilihan untuk memilih bagi akal kita yang mana yang benar di antara jawaban-jawaban tersebut.  Dalam penjelajahan kita, kita menemui sebuah buku yang menghadirkan mata rantai penalaran, yang membimbing kita pada sebuah jawaban atas pertanyaan kita.
Buku tersebut berkata:
Sesuatu atau wujud yang dengan wujudnya wujud yang lain mewujud atau yang wujudnya bergantung kepadanya disebut sebagai sebab.
Sesuatu atau wujud yang bergantung atau berhutang budi atas eksistensinya disebut sebagai akibat atau fenomena.
Eksistensi sebuah akibat tidak dapat bergantung kepada sebuah ketiadaan atau non-eksisten. Hal ini menandakan bawha mata rantai sebuah akibat  dan sebabnya harus berujung dan bermuara pada sebuah sebab mandiri (self-existing cause), kalau tidak akan bermakna eksitensi sebuah wujud atau sesuatu dimunculkan oleh sebuah ketiadaan (non-being) atau kekosongan (naught); yang mana hal ini merupakan hal yang absurd dan absurditasnya adalah jelas dan gamblang dengan sendirinya (self-evident).
        Dasar seluruh investigasi ilmiah menegaskan bahwa tidak akan ada sebab tanpa adanya akibat. Redaksi "sebab" merupakan sebuah terma yang berarti sesuatu yang bertanggung jawab bagi wujud dan eksisnya sebuah wujud dan eksisten: dan sebab ini terdiri dari dua bagian, sebab struktural  dan sebab kreatif.
Struktur sebab-sebab merupakan bagian dan komponen akibat-akibat.
Sebab kreatif atau sebab agensial merupakan sebab yang memproduksi dan melahirkan faktor-faktor, yang membawa struktur menjadi ada akan tetapi ia bukan bagian dari struktur.
Sebab struktural terdiri dari dua jenis sebab, material dan form. Sebab material merupakan sesuatu yang terbuat dari luar struktur. Sebab forma merupakan bentuk atau form struktur itu sendiri.
Sebab pengada bermakna bahwa faktor yang memproduksi bagian-bagian dan pengaruh-pengaruh terhadap susunannya. Sebab ini terdiri dari dua model, genetik dan objektif, yang pertama disebut sebagai sebab pertama dan sebab aktif dan yang belakangan disebut sebagai sebab tujuan atau sebab final.
Segala sesuatu atau wujud yang terkomposisi dengan alam merupakan sebuah akibat, artinya eksistensinya tidak berasal dan bersumber darinya, dan sebagaimana bergantung kepada salah satu, setidaknya, bagian dan wujudnya adalah disebabkan oleh mereka. Bagian-bagian sebuah wujud atau wujud-wujud ia tidak dapat berasal dari ketiadaan.
Pertanyaan, kemudian, mengemuka di sini ihwal apakah bagian-bagian tersebut ada dengan sendirinya atau mereka adalah rangkapan, bergantung kepada bagian-bagiannya? jika mereka merupakan bagian-bagian rangkapan maka kita harus menelusuri ke belakang proses hingga kita mencapai komponen-komponen terakhir yang akan menuntun kepada kesimpulan bahwa mereka merupakan wujud non-rangkapan ada dengan sendirinya dimana seluruh bangunan besar akibat-akibat dan sebab-sebabnya bertengger.
Akan tetapi, tidak ada wujud dari sebuah tabiat yang memiliki dimensi dapat dihadirkan pada skop ruang dan waktu, dan dapat menjadi sebuah tabiat non-rangkapan sebagai wujud paling sederhana dan paling mikro yang mendiami ruang adalah bersifat dimensional dan dapat dibagi secara geomteris dan berantung kepada bagian-bagiannya.
Oleh karena itu, tidak ada wujud dimensional yang dapat dipandang sebagai sebuah wujud yang eksis dengan sendirinya (self-existing) dan maka dipandang sebuah Sebab Pertama dan Pemula dalam mata rantai keawalan. Kita harus menerima baik bahwa rantai tersebut bersandar kepada ketiadaan, yang mana hal ini merupakan hal yang absurd atau kita terpaksa keluar dari domain mata rantai material dalam mencari wujud non-rangkapan, non-dimensional dan "Ada" dengan sendirinya (self-existing 'Being') dan menegaskan bahwa mata rantai sebab dan akibat-akibat berdasarkan kepada Wujud.
Hal ini bermakna bahwa seluruh domain dimensional dapat dihadirkan dalam pentas ruang dan waktu dan waktu merupakan sebuah akibat dan fenomena sebuah Wujud non-dimensional dan non material. Bertolak dari sini, kita harus meninggalkan domain dimensional dan berproses mencari Wujud yang Ada dengan sendirinya (self-existing Being) yang bertanggung jawab atas fenomena mata rantai sebab dan akibat dalam sebuah domain dimana logika dan metode tidak memiliki pendekatan kepadanya sama sekali.
Dengan demikian, Wujud Swa-Ada (Self-Existing Being) haruslah bersifat nirbatas, tidak terangkum dalam pentas ruang dan waktu. Ia harus di luar (beyond) seluruh batasan dimensional dan non-dimensional, dan sebagainya, dan wujud tersebut tidak dapat kecuali ia Esa; lantaran konsep dua wujud swa ada melambangkan adanya batasan-batasan dari keduanya.
Konklusi yang dapat dicapai di sini adalah bahwa Wujud Swa-Ada itu Satu, Unit yang real, yang tidak dapat dibagi sama sekali, dalam artian waktu, dan dalam pandangan bentuk dan setiap aspek imaginable (yang dapat dibayangkan).  
Dengan demikian, wujud itu adalah Real Unik, wujud yang serupa dengannya dalam artian apa pun adalah mustahil.
Unit Unik ini yang dengannya wujud-wujud terbatas terbagi dan sebagai sebuah keseluruhan adalah eksis, adalah tidak alpa dan lalai dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia sadar atas dirinya sendiri.
Akal kita mengikuti penalaran yang diberikan dalam buku itu dan tidak ditemukan setitik kesalahan pun di dalamnya. Kita memiliki jawaban atas pertanyaan pertama yang kita ajukan, dan jawaban ini juga membuktikan untuk dapat dijadikan kendaaraan yang membawa kita untuk melanjutkan perjalanan yang tersisa.
Kita sampai pada kesimpulan bahwa terdapat, sebuah waktu yang nirbatas, Mahakuasa, Entitas Serba Meliputi, Yang Menciptakan segalanya dan kita menyebut-Nya sebagai Tuhan atau Allah.
 
Kembara Perdana:
Alkisah, seseorang bertanya kepada seorang yang paling bijak bestari dari suatu masa untuk memandu dan membimbingnya kepada Tuhan, ia berkata bahwa ia selama ia kebingungan oleh kalimat polemis yang menyesakkan batinnya.
Sang bijak bestari bertanya: "Apakah engkau pernah menaiki bahtera mengarungi samudera?"
Ia menjawab: "Iya."
Sang bijak bestari berkata: "Apakah bila bagian badan bahtera itu mengalami kebocoran dan tidak ada seorang pun di tempat itu yang dapat menyelamatkanmu dari karam dalam amukan gelombang ombak samudera?
"Iya."
"Pada saat-saat yang genting tersebut dan asamu putus dari segalanya,  apakah engkau memiliki perasaan bahwa sebuah kekuataan tak terbatas dan mahakuasa yang dapat menyelamatkanmu dari nasib yang mengenaskan itu?"
        "Iya, begitulah kira-kira."
Sang bijak bestari berkata kemudian: "Dialah Tuhan Yang menjadi sumber andalan dan kepada-Nya setiap insan melabuhkan harapan ketika seluruh pintu-pintu asa tertutup."
 
 Kembara Kedua:
Seorang materialis berkebangsaan Mesir bertolak ke Mekkah untuk melakukan perdebatan, dan di tempat itu ia berpapasan dengan seorang bijak bestari yang kita jumpai pada pengembaraan kita sebelumnya dan yang akan kita jumpai kembali pada perjalanan dan pengembaraan berikutnya. (Nama sang bijak bestari dan sumber-sumber bahan-bahan perjalanan ini akan kita ketahui setelah kita sampai pada tingkatan keempat dari perjalanan kita ini, selamat jalan)
Ketika diskusi telah dimulai, sang bijak bestari berkata: "Apakah Anda menerima bahwa bumi ini memiliki atas dan bawah?"    
Orang Mesir itu berkata: "Iya."
Lantas bagaimana Anda tahu apa yang ada di bawah bumi?"
Orang Mesir itu berkata: " Aku tidak tahu, tapi aku kira tidak ada sesuatu di bawah bumi ini."  
Sang bijak bestari berkata: "Berkhayal merupakan simbol ketidakmampuan ketika Anda tidak mendapatkan kepastian. Kini katakan kepadaku, Apakah Anda pernah naik ke atas langit?"
"Tidak. " Jawab orang Mesir itu pendek.
"Alangkah anehnya Anda belum pernah ke Timur dan Barat, Anda belum pernah menuruni bawah bumi dan naik ke angkasa, atau melintasinya untuk mengetahui apa saja yang tersimpan dan tertimbun di baliknya akan tetapi Anda mengingkari apa yang ada di situ. Akankah seorang bijak mengingkari realitas yang sebenarnya ia tidak ketahui? Dan Anda mengingkari eksistensi Sang Pencipta lantaran Anda tidak melihat-Nya dengan mata kepala Anda?
Orang Mesir itu berkata: "Tidak ada seorang pun yang pernah berkata hal ini kepadaku. "
Sang bijak bestari berkata: "Jadi, sesungguhnya Anda memiliki keraguan ihwal keberadaan Tuhan; Anda pikir bahwa Dia itu boleh jadi ada atau boleh jadi tidak?"
"Barangkali demikian."
"Duhai kisanak, orang yang tidak tahu adalah kosong dan hampa dari segala bukti; orang jahil tidak akan pernah memiliki bukti. Sadarlah bahwa kita tidak pernah memiliki keraguan atau syak akan keberadaan Tuhan. Tidakkah engkau perhatikan matahari dan bulan, siang dan malam yang secara reguler berputar dan mengikuti alurnya yang tetap? Jika mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan atas diri mereka sendiri, biarkanlah mereka keluar dari jalurnya dan tidak kembali. Mengapa mereka secara konstan kembali? Jika mereka bebas dan merdeka dalam rotasi dan perputarannya, mengapa siang tidak menjadi malam dan malam menjadi siang? Aku bersumpah demi Tuhan mereka tidak memiliki pilihan dalam gerakan-gerakan mereka; Dialah yang menyebabkan fenomena ini mengikuti sebuah jalur yang tetap? Dialah yang memerintahkan mereka; dan kepada-Nyalah kembali segala kebesaran dan keagungan.
Orang Mesir itu berkata: "Anda berkata benar."
Sang bijak bestari itu melanjutkan: "Jika engkau bayangkan bahwa semestalah yang melahirkan manusia, lalu mengapa semesta tidak menariknya? Jika ia menariknya, mengapa ia tidak menghadirkannya? Ketahuilah bahwa tujuh petala langit dan bumi adalah tunduk di bawah kehendak-Nya. Mengapa tujuh petala langit itu tidak jatuh menimpa bumi?  Mengapa lapisan-lapisan bumi tidak terguling dan mengapa mereka tidak berjejal bertumpuk hingga mencapai langit? Mengapa mereka yang menghuni bumi tidak setia kepada satu dengan yang lain? "
Akhirnya, orang Mesir itu tunduk dan menerima kebenaran, "Tuhan Dialah Penguasa dan Junjungan tujuh petala langit dan bumi yang melindungi mereka dari kejatuhan dan kerusakan."
 
Kembara Ketiga:
Seorang yang bernama Mufaddhal, yang merupakan salah seorang pengikut sang bijak bestari ini, pernah bertanya: "Tuanku, beberapa orang berkhayal bahwa keteraturan dan keakuratan dalam sistem semesta yang kita lihat ini merupakan sistem dan mekanisme kerja alam."
Sang bijak bestari berkata: "Tanyakan pada mereka apakah semesta melalukan semua ini dengan segala akurasi yang terhitung berdasarkan ilmu pengetahuan, pemikiran dan kekuasaan dirinya sendiri. Jika mereka berkata bahwa semesta memiliki pengetahuan dan kekuasaan, apa yang menghalangi mereka untuk menegaskan dan membuktikan dzat azali Ilahi dan mengakui keberadaan prinsip yang lebih suprim? Jika, pada sisi lainnya, mereka berkata bahwa semesta mengerjakan tugasnya secara regural dan dengan benar tanpa pengetahuan dan kehendak, maka mekanisme bijak dan akurat ini, hukum-hukum yang serba terhitung dan terkalkulasi merupakan buah cipta, karya dan kerja dari seorang pencipta yang Serba mengetahui dan Mahabijaksana. Apa yang mereka sebut sebagai semesta, sebuah hukum dan kebiasaan yang ditunjuk oleh tangan kekuasan Ilahi untuk mengatur penciptaan."
 
TINGKATAN KEDUA
Pada tingkatan kedua dari perjalanan dan pengembaraan ini, kita berada di persimpangan jalan dan menjumpai dua jalan bercabang.
Satu jalan memandang bahwa keadilan bukan merupakan sifat Tuhan. Tuhan tidak perlu berlaku adil. Asumsi ini tentu saja akan menuntun orang pada chaos, lantaran membuat seluruh kehidupan, termasuk perjalanan yang kita tempuh kali ini sepenuhnya tanpa makna.
Akal kita (dengan kekuatannya untuk membedakan baik dan buruk) memutuskan bahwa ketidakadilan adalah sebuah perbuatan keliru. Dengan kata lain, asumsi ini melambangkan dan menyiratkan ketidaksempurnaan pada Tuhan. Tentu saja akal kita tidak dapat menerima hal ini.
Jalan lain menyatakan adalah bahwa Tuhan senantiasa berlaku dan berbuat adil.
Akal kita menerima dan menempuh jalan ini kemudian, dan menuntun kita untuk mengayunkan langkah ke depan.
 
TINGKATAN KETIGA
Ketika Keadilan Tuhan diterima sebagai sebuah kenyataan, berikut ini terdapat beberapa konklusi-konklusi logis sebagai berikut:
  1. Penciptaan bukan sebuah fenomena tanpa tujuan;
  2. Ketika penciptaan memiliki tujuan, makhluk-makhluk haruslah dibimbing secara proporsional kepada tujuan tersebut.
Kita jumpai bahwa kita telah sadar bahwa seorang pemandu telah disiapkan pada tujuan kilat ini. Dialah akal kita, yang mampu menuntun kita sejauh ini dalam perjalanan rasional kita ini. Ialah penuntun dan pemandu internal kita.
Adalah akal yang menuntun kita kepada fakta dan realitas bahwa ia sendiri tidak memadai untuk menuntun kita. Akal dapat menyesatkan kita. Terdapat hajat dan kebutuhan terhadap penuntun eksternal yang terang. Dan Tuhan adalah Hakim, hendaknya mengirim panduan ini kepada kita dalam bentuk yang kita dapat pahami dan ikuti.
Hajat dan kebutuhan terhadap panduan dan bimbingan tersebut terus berlanjut. Ia harus tersedia setiap saat.
Kajian sejarah menunjukkan bahwa terdapat beberapa orang di masa lalu yang menyebutkan bahwa mereka diutus oleh Tuhan untuk memandu dan membimbing manusia. Bimbingan dan panduan ini, selama masa hidup mereka, menunjukkan jalan yang benar kepada umat manusia. Beberapa orang dari mereka meninggalkan naskah-naskah, sehingga umat manusia dapat mengikuti naskah-naskah suci ini setelah para pemandu dan pembimbingnya beranjak dari arena kehidupan ini.
Dituntut juga bahwa pemandu tersebut harus diutus berulang-ulang, setelah seorang pemandu datang dan pergi, terkadang orang-orang lantaran alasan-alasan egois, memanipulasi ajaran-ajaran dan naskah-naskah dan bahkan medistorsinya demi kepentingan personal mereka.
Atas alasan ini, diperlukan untuk mengirim pemandu dan pembimbing secara berulang, memperbaharui naskah-naskah dan maklulmat-maklumat, pada setiap dekade atau abad.
Pada tingkatan ini, kita memiliki tugas untuk mengavaluasi kebenaran, stetement-stetment orang-orang tersebut dalam sejarah, yang menyebutkan dan mengklaim diri mereka sebagai utusan Tuhan.
Untuk setiap bentuk evaluasi, kita memerlukan standar dan kriteria. Sekali lagi, akal kita datang untuk menolong dan menunjukkan beberapa standar dan kriteria kepada kita.
        1. Karena orang-orang ini berasal dari sisi Tuhan, mereka harus terbebas dari kesalahan dan perbuatan keliru. Setiap orang yang melakukan setiap kesalahan pada setiap waktu hidupnya tidak akan terbimbing secara benar. Lantaran bagaimana orang yang melakukan kesalahan, mendesak dan menuntut orang lain untuk tidak melakukan kesalahan? Juga, jika seseorang tidak terbebas dari kesalahan, lalu siapa yang akan berkata bahwa bagian mana ajarannya yang benar dan yang salah? Pada sisi lain, mereka haruslah menjadi pemimpin bagi umat manusia dalam kualitas-kualitas dan nilai-nilai.
2. Mereka haruslah tidak pernah mendapatkan pelajaran dari orang lain di dunia ini. Dan lagi mereka haruslah menjadi orang yang paling cendikia di antara seluruh manusia pada masanya. Pengetahuan mereka haruslah nihil dan hampa dari kesalahan dan kekeliruan. Dan yang lain, argumen yang disebutkan di atas, dapat juga diterapkan pada masalah berikut ini: Jika pengetahuan mereka rawan kesalahan, siapa yang dapat berkata bahwa bagian mana dari perintah-perintah dan titah-titah mereka yang benar dan yang keliru dan menyesatkan?
Hal ini akan menyisakan panduan dan bimbingan tanpa integritas, dan oleh karena itu, tiada gunanya. Lantaran pemandu dan pembimbing berasal dari Tuhan, pendidikan dan pengetahuan mereka haruslah berasal dari Sang Pencipta dan bukan berasal sesuatu yang lain dalam penciptaan, karena hanya pengetahuan dari Tuhanlah yang nihil dan kosong dari kesalahan.
3. Ketika diminta, mereka harus mampu menunjukkan kekuatan-kekuatan supranatural (baca: mukjizat) sebagai tanda-tanda dari Tuhan akan kebenaran mereka.
4. Prinsip-prinsip dan nilai-nilai mereka haruslah tidak berubah dari waktu ke waktu, karena perubahan yang terjadi pada prinsip dan nilai-nilai yang mereka anut menyiratkan ketidaksempurnaan pada satu tingkatan atau pada tingkatan yang lain.
Hal yang lain, indikator-indikator kebenaran seorang utusan Tuhan- mengutus seorang pembimbing, akan tetapi kriteria di atas harus memadai bagi kita untuk mengevaluasi kebenaran yang menyatakan bahwa ia adalah seorang pembimbing yang diutus oleh Tuhan.
Dibekali dengan kriteria di atas, kita selidiki seluruh jalan-jalan sejarah. Kita jumpai beberapa nama yang tidak ragu lagi adalah pembimbing-pembimbing yang merupakan utusan Tuhan. Orang-orang tersebut disebut sebagai para rasul atau nabi-nabi Tuhan. Beberapa nama yang kita jumpai adalah: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa (Semoga Tuhan merahmati mereka seluruhnya)
Kini kita jumpai bahwa beberapa orang berhenti pada nama Musa dan tidak melangkah lebih jauh darinya. Orang-orang yang dalam perjalanan ini melanggeng jauh hingga mencapai nama Isa. Beberapa orang kemudian berhenti di sini dan menolak untuk melangkah lebih jauh.
Kendati demikian, melihat tidak satu pun dari mereka (seperti Musa, Isa dan orang-orang mulia lainnya) yang menyatakan bahwa mereka merupakan utusan terakhir dari Tuhan, beberapa orang dari kita masih mencari dan mengkaji serta mengevaluasi criteria kita, hingga kita sampai pada sebuah nama: Muhammad.
Mari kita amati Nabi Muhamamad Saw berkenaan dengan empat kriteria yang disebutkan di atas:
1. Infallibilitas, bahkan sebelum mendeklarasikan kenabiannya, Muhammad telah digelari sebagai "Shadiq" (Orang yang benar) dan "Amin" (Orang yang dapat dipercaya), oleh kaum politeis dan musyrik Mekkah. Bahkan setelah orang-orang politeis ini menjadi musuh-musuhnya (setelah deklarasi kenabiannya), tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa di antara kaum musyrik tersebut dapat mencari cela dan cacat pada diri Muhammad Saw.
2. Muhammad Saw, memiliki sebuah kitab yang diwahyukan, Kitab Suci al-Qur'an. Kitab suci ini merupakan salah satu tanda-tanda terkuat dari kebenaran Muhammad Saw. Ihwal buku ini, seorang ilmuan dewasa ini, Dr Maurice Bucaille dari French Academy of Medicine, menyatakan pandangannya sebagai berikut:
"Objektifitas in toto, dalam pandangan ilmu pengetahuan modern, menuntun kita untuk mengenali kesepakatan antara dua, sebagaimana telah disampaikan pada berbagai kesempatan.  Hal ini membuat kita memandangnya tidak dapat dipikirkan bagi orang-orang pada masa Muhammad  untuk menjadi pengarang atas stetment-stetment semacam itu, mengingat kondisi ilmu pengetahuan hari ini. Pertimbangan-pertimbangan semacam ini adalah bagian dari apa yang menjadikan wahyu Qur'ani menduduki tempat yang unik dan memaksa ilmuan yang jujur dan netral untuk mengakui ketidakmampuannya untuk menyediakan sebuah penjelasan yang semata-mata bersandar pada penaralan materialistik.
Ia juga mengatakan: "Sedikit pun perubahan dan distorsi yang terjadi pada al-Qur'an pasti akan merusak pertalian dan hubungan luar biasa yang menjadi karakterisik al-Qur'an. Qur'an merupakan sebuah khutbah yang diperkenalkan kepada manusia melalui pewahyuan yang berlangsung selama dua puluh dua tahun. Pewahyuan ini berlangsung selama dua periode yang sebanding dengan masing-masing sisi gua Hira."[1]
Sebagaimana jelas pada sentimen yang diekspresikan Dr Bucaille, hanya Qur'an merupakan bukti yang banyak atas kriteria kedua, ketiga, dan keempat bagi seorang nabi yang benar, sebagaimana yang disebutkan di atas.
Kini kita perhatikan bahwa Muhammad Saw, memenuhi seluruh kriteria  bagi seorang pembimbing benar dari Tuhan, juga dikatakan bahwa ia merupakan seorang Nabi Allah yang terakhir, dan tidak ada nabi dan rasul lagi yang diutus selepasnya. Orang-orang yang telah mencapai sejauh ini dalam pencarian mereka mencari nabi-nabi Allah, adalah disebut sebagai Muslimin dan jalan yang mereka ikuti disebut sebagai Islam.
        Pada poin ini kita hentikan pencarian kita dan menerima Islam sebagai jalan kita. Kita meyakini kebenaran Muhammad Saw, dan Kitab Suci Al-Quran.
Hingga kini, kita telah melakukan perjalanan dengan menggunakan pertolongan akal semata. Pada penghujung tingkatan ini, kini kita harus memiliki dua kendaraan lagi untuk membawa kita melanjutkan perjalanan ini. Kedua kendaraan ini adalah: Ayat-ayat Qur'an dan sunnah otentik Nabi Saw.
        Dan tingkatan ketiga dari perjalanan kita ini berakhir.
 
Ekskursi:
Sekelompok ulama Kristen dari Najran datang kepada Nabi Saw dan terlibat perdebatan dengannya ihwal keyakinan Kristen melawan keyakinan Islam.   
Sebagaimana Kristen meyakini bahwa Yesus Kristus merupakan putra Tuhan memandang bahwa ia lahir tanpat seorang ayah, Kitab Suci Al-Qur'an pertama kali menolak penalaran mereka dengan logika, "Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, "Jadilah" (seorang manusia) maka jadilah ia." (Qs. Ali Imran [3]: 59)
Ketika ulama Kristen menolak menerima nalar, Tuhan memerintahkan Nabi Saw sebagai berikut:
"Dan siapa  yang membantahmu tentang kisah 'Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (Qs. Ali Imran [3]; 61) (Ayat ini juga kerap disebut sebagai ayat Mubâhalah)
Nabi Saw menyampaikan titah Tuhan kepada para pendeta Kristen itu. Telah disepakati bahwa esok harinya akan menjadi hari yang menentukan.
Esok harinya, Nabi Saw, menjalankan titah Tuhan, membawa cucundanya Hasan As dan Husain As, putri kinasihnya Fatimah As dan saudara sepupu sekaligus menantunya (Ali As) untuk menghadapi para pendeta Kristen itu.
Abu Haris bin Alqama, salah seorang pemimpin kelompok Kristen, menyaksikan prosesi Nabi Saw dan menyampaikah hal tersebut kepada kawan-kawannya.
"Aku melihat wajah-wajah yang jika mereka berdoa kepada Tuhan untuk memindahkan gunung, maka Tuhan niscaya mengabulkan doa-doa mereka. Janganlah kalian melawan mereka atau kalian akan binasa."
Kemudian, kelompok Kristen itu menerima kekalahan mereka dan menyetujui untuk menyerahkan jizyah (semacam pajak) kepada Nabi Saw.
Peristiwa ini dinukil secara mendetail dalam beberapa kitab-kitab Islam termasuk, "Shahih Muslim", "Madârij an-Nubuwwah", dan sebagainya.
 
TINGKATAN KEEMPAT
Sebagaimana yang telah kita temukan pada awal-awal tingkatan ketiga ini, terdapat sebuah kebutuhan bagi kemestian tersedianya bimbingan secara berkelanjutan, kalau tidak masyarakat boleh jadi merubah ajaran-ajaran pemandu mereka untuk kepentingan dan kemaslahatan pribadi mereka masing-masing.
Tapi Nabi Muhammad Saw merupakan Nabi Pamungkas yang diutus oleh Tuhan untuk membimbing manusia kepada-Nya. Hal ini bermakna bahwa risalah yang ia bawa harus tetap terjaga dari segala bentuk manipulasi dan distorsi setelah ia wafat. Hal dapat dilakukan jika suksesor Muhammad Saw tetap ada, orang yang dipercaya untuk menunaikan tugas menjaga risalah. Dan akal mendikte bahwa para suksesor ini juga harus terbebas dan terjaga dari dosa dan perbuatan salah, sebagaimana Nabi Saw sendiri.
Kemudian, apakah Muhammad Saw, dalam masa hidupnya menunjuk pengganti dan penjaga risalah selepasnya? Pada poin ini, terdapat dua jalan lagi yang membentang di depan kita.
        Pengembara atau pengelana salah satu jalan tersebut mengatakan bahwa tentu saja, Nabi Saw menunjuk seseorang sebagai khalifahnya dan tidak masuk akal untuk mengasumsikan sebaliknya, yaitu mengatakan bahwa Nabi Saw tidak menunjuk seseorang untuk menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Kalau tidak, bagaimana mungkin Nabi Saw menjadi sosok yang tidak bertanggung jawab meninggalkan agama tanpa seorang penjaga selepasnya? Orang-orang yang memilih dan menempuh jalan ini disebut sebagai "Syiah."
        Pengelana yang menempuh jalan yang satunya disebut sebagai "Sunni." Mereka berkata bahwa Nabi secara khusus tidak menunjuk seseorang menjadi pengganti dan khalifahnya. Namun, penjejalahan dan pengembaraan kita mengindikasikan bahwa pengingkaran terhadap adanya penunjukkan merupakan perbuatan keliru dan tidak logis, sebagaimana telah dibuktikan dari Ahlul Kitab yang mengingkari kenyataan ini.
Penjelajahan kita lakukan menyingkap kenyataan-kenyataan berikut ini:
Nabi Saw menyebutkan bahwa jumlah khalifahnya adalah dua belas orang. Hadits ini dinukil dari berbagai sumber dalam sumber-sumber penting Ahlusunnah, termasuk Bukhâri, Muslim, Musnad Ahmad bin Hanbal, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Tabarani, Musnad al-Hamidi, Mustadrak al-Hakim dan sebagainya. Beberapa penulis telah menghitung lebih dari dua ratus perawi hadis ini. Hal ini membuat hadis ini tidak tertolak.
Kemudian, siapa keduabelas khalifah Nabi Saw ini?
Tanpa syak lagi, Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah Nabi Saw yang pertama, sebagaimana dijelaskan oleh hadis-hadis sahih, pemimpin dari mereka yang disebutkan pada hadis al-Ghadir sebagai berikut:
Beberapa bulan sebelum wafatnya, Nabi Saw menunaikan ibadah haji yang terakhir. Dalam memenuhi seruan Nabi Saw, ribuan kaum Muslimin dari jauh dan dekat bergabung besertanya menunaikan ibadah haji. Setelah menunaikan ibadah haji, Nabi Saw beserta kaum Muslimin bertolak menuju Madinah. Mereka belum pergi terlalu jauh, sesuai dengan titah dan perintah Tuhan, Nabi Saw meminta mereka berhenti seluruhnya di sebuah tempat yang disebut sebgai Ghadir Khum.  Di tempat ini, Nabi Saw meminta mimbar dari pelana-pelana unta didirikan. Ketika mimbar telah siap, Nabi Saw naik ke atas mimbar dan menyampaikan khutbahnya. Kemudian, ia mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib di atas tangannya dan berkata:
"Barang siapa yang menjadikan Aku sebagai mawlanya maka Ali adalah mawlanya."
Dan kemudian ia mengangkat tangannya ke atas dan berdoa kepada Tuhan, katanya:
"Wahai Tuhanku! Cintailah orang yang mencintai Ali dan bencilah orang yang membencinya; tolonglah orang yang menolongnya dan tinggalkanlah orang yang meninggalkannya."      Dan kemudian, di hadapan ribuan kaum Muslimin, Nabi Saw menunjuk Ali sebagai khalifah dan penggantinya.
Hadis ini dinukil dari sumber-sumber otentik Ahlu Sunnah, di antaranya adalah sebagai berikut:
·        Muslim: Sahih
·        Ahmad bin Hanbal: Musnad
·         Nisai: Kitâb al-Khasâis
·         Hakim Naisapuri: Mustadrak
·         Hakim Hakani: Syawâhid at-Tanzil
·         Suyuti: Tafsir Durr al-Mantsur
·         Razi: Tafsir Kabir
·         Muhammad Abduh: Tafsir al-Manar
·         Ibn Asakir Shaafa'i: Târikh Damaskus
·         Ibn Talha Shaafa'i: Mathâlib as-Suâl
·         Ibn Sabagh Maliki: Fusûl al-Muhimma
·         Sulaiman Qandazi Hanafi: Yanabi' al-Mawadda
·         Ibn Jurair Tabari: Kitâb al-Wilâyah
·         Badruddin Hanafi: Umdat al-Qari fi Sharh al-Bukhari
·         Abdulwahhab Bukhari: Tafsir al-Qur'ân
·         Hafiz Abu Na'eem: Nuzûl al-Qur'ân
·         Humwaini: Farâidh al-Simtain
 
Hadis ini telah dinukil secara langsung dari Nabi Saw oleh setidaknya seratus sepuluh sahabat Rasulullah Saw. Untuk lebih detilnya, silahkan rujuk ke kitab Al-Ghadir, karya Allamah Amini Ra.
Khalifah kedua dan ketiga adalah Imam Hasan As dan Imam Husain As, putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah As. Hal ini merupakan perkara yang jelas dari Nabi Muhammad Saw, hadis yang menegaskan masalah ini di antaranya adalah sebagai berikut:
"Ali adalah saudaraku, pewarisku, khalifahku dan pemimpin kaum Mukminin setelahku; kemudian Hasan; kemudian Husain; kemudian putra-putra Husain: Qur'an bersama mereka dan mereka bersama Qur'an. Keduanya tidak akan berpisah satu dengan yang lain hingga keduanya sampai di telaga Kauthar)." (Humwaini)
Berkenaan dengan sembilan khalifah yang merupakan keturunan Imam Husain, izinkan saya untuk menukil satu lagi hadis (dari sekian hadis): Dalam kitab Sayid Ali Hamadan, Shafai, Akhtab Khawarizm dan sebagainya, dinukil dari Salman Ra bahwa ia pernah melihat Nabi Saw sementara Husain duduk di pangkuannya dan Nabi Saw mengecup matanya dan bibirnya dan bersabda, "Engkau adalah sayid (tuan) dan putra dari tuan. Engkau adalah imam dan putra dari imam. Engkau adalah hujjah dan ayah dari sembilan hujjah, hujjah yang kesembilan adalah Qa'im As."
Apakah Nabi Saw pernah mengindikasikan seluruh keduabelas khalifanya dan menyebut nama-nama mereka?
Lagi jawabannya adalah: Iya.
Seorang Yahudi bernama Natsal, bertanya kepada Nabi Muhammad Saw beberapa pertanyaan. Dalam pertanyaan itu, ia bertanya ihwal khalifah Nabi Saw. Nabi Saw bersabda: "Setelahku, khalifahku adalah Ali bin Abi Thalib dan setelahnya kedua putraku, Hasan dan Husain, dan kemudian terdapat sembilan Imam dari keturunan Husain." Natsal bertanya perihal nama-nama mereka. Nabi Saw menjawab: "Ketika Husain telah tiada, putranya Ali akan menjadi khalifah setelahnya; ketika Ali telah tiada, putranya Muhammad akan menjadi khalifah setelahnya; ketika Muhammad telah tiada, putranya Ja'far akan menggantinya sebagai khalifah; ketika Ja'far telah tiada, putranya Musa akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Musa telah tiada, putranya Ali akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Ali telah tiada, putranya Muhammad akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Muhammad telah tiada, putranya Ali akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Ali telah tiada, putranya Hasan akan menggantikannya sebagai khalifah; ketika Hasan telah tiada, putranya Al-Mahdi akan menggantikannya sebagai khalifah. Mereka berjumlah dua belas Imam." (Qandozi: Yanabi' al-Mawadda)
Seharusnya tidak ada keraguan ihwal nama-nama kedua belas khalifah Nabi Muhammad Saw.
Bukti yang ada sangat banyak menegaskan kenyataan ini bahwa Rasulullah Saw menunjuk seorang khalifah sebelum wafatnya. Sejatinya, Nabi Saw mengumumkan seluruh jalur khalifahnya, hingga hari Kiamat, tanpa adanya gap yang mengantarainya. Dari hadis-hadis di atas, jelas bahwa seluruh khalifah ini berjumlah dua belas orang; tidak lebih, tidak kurang. Para khalifah ini disebut sebagai "Imam."
Kedua belas Imam ini juga dirujuk sebagai "Ahlulbait" (Keluarga Nabi Saw). Kedua ulama baik Syiah dan Sunni menerima fakta ini. (Untuk merujuk pandangan Sunni, silahkan lihat, "Arjah al-Mathâlib" karya Ubaidullah Amritsari).
Adapun hadis yang dinukil di sini, dan banyak lagi hadis-hadis yang sejenis dengannya, seluruh ahli hadis (muhaddits) dan ulama serta mayoritas ahli hadis Sunni menerima fakta bahwa Imam Keduabelas merupakan putra Hasan Askari As. Namanya adalah nama Rasulullah Saw dan ia telah dilahirkan kurang lebih dua ribu tahun yang silam, dan ia hidup, kendati gaib dari pandangan kita.
Ia tetap akan berada dalam masa ghaibah hingga masa yang dikehendaki oleh Tuhan, dan kemudian, sesuai dengan titah Tuhan, ia akan menunjukkan dirinya kepada dunia dan menguasai dunia serta memenuhinya dengan keadilan.
Kita hampi mendekati akhir dari perjalanan kita, kita akan melintasi senarai pilihan beberapa referensi Sunni, yang menegaskan fakta yang disebutkan di atas.  
Namun, beberapa orang meragukan tentang khalifah terakhir. Mari kita mencoba menjernihkan keraguan-keraguan ini.
Dari sumber-sumber otentik, Imam Keduabelas, yang namanya mirip dengan nama Nabi Saw, dan yang memiliki gelar sebagai "Al-Mahdi", lahir pada tahun 869 M. Imam Hasan al-Askari As syahid pada tahun 874 M. Hal ini berarti bahwa Imam Keduabelas telah menjadi pemimpin umatnya pada usia lima tahun.
Beberapa orang mengajukan keberatan dan bertanya: Bagaimana mungkin seorang bocah lima tahun menjadi pemimpin umat ini? Ada apa sedemikian perkara ini tidak dapat dipercaya? Tidakkah Qur'an memberikan kita beberapa contoh orang-orang yang menjadi pemimpin sementara usia mereka masih sangat belia? Mari kita lihat beberap contoh:
1. Nabi Isa menjadi nabi dan berbicara dengan orang-orang selagi ia masih seorang bayi dalam ayunan (Qs. Maryam [19]: 29-31).
2. Berkenaan dengan Yahya, Kitab Suci al-Qur'an berkata: "Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak." (Qs. Maryam [19]:12)
3. Nabi Sulaiman ditunjuk oleh Allah sebaga pewaris ayahnya Nabi Daud, dan menjadi raja bagi umatnya padahal ia belum lagi mencapai masa baligh.
 
Jika Nabi Isa, Yahya, Sulaiman dapat menjadi pemimpin pada masa kecil mereka, lalu mengapa al-Mahdi tidak boleh?
Keraguan yang kedua yang mengemuka bagi sebagian orang adalah ihwal hidup panjang Sang Imam.
Ketika tidak mammpu menghadapi kenyataan ihwal hidup panjang Imam, beberapa orang  meyakini bahwa khalifah keduabelas Nabi Saw tidak hidup sekarang, melainkan akan lahir pada masa mendatang. Asumsi ini tidak memiliki dasar sama sekali dalam hadis-hadis nabawi, lantaran hal ini akan memutus mata rantai para khalifah.
Mari kita lihat beberapa bukti yang menegaskan keberadaan Imam Keduabelas, dari sumber al-Qur'an dan hadis-hadis nabawi.
Pada surah ke-13, ayat ke-7, al-Qur'an menyebutkan: "(Wahai Muhammad!) Engkau tidak lain seorang pemberi peringatan, pada setiap umat terdapat seorang pemberi petunjuk."
Siapakah pembimbing dan pemberi petunjuk hari ini?
Pada surah ke-8, ayat 33, al-Qur'an menyebutkan: "Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sementara engkau berada di sisi mereka."
Banyak ulama Sunini, termasuk Ahmad bin Hanbal dalam "Musnad", dan Ibnu Hajar dalam bukunya "Sawâiq al-Muhriqah", menukil hadis berikut ini dari Nabi Saw dalam menafsirkan kedua ayat di atas:
Rasulullah Saw bersabda: "Bintang gemintang merupakan media rahmat bagi para penduduk langit, dan jika bintang-gemintang itu binasa, maka penduduk langit juga akan binasa. Dan Ahlulbaitku merupakan media rahmat bagi para penduduk semesta, dan jika Ahlulbaitku tiada, para penduduk semesta akan binasa."
Ibnu Hajar dalam mengomentari hadis tersebut berkata: "Ahlulbait merupakan media rahmat bagi para penduduk semesta sebagaimana Rasulullah Saw adalah media rahmat bagi mereka." Selanjutnya ia menulis: "…Allah menciptakan semesta ini untuk Rasulullah, dan membuat keberadaan semesta ini bersyarat kepada eksistensi Ahlulbait lantaran mereka memiliki beberapa keutamaan yang sama dengan Rasulullah Saw, sebagaima yang disebutkan oleh Fakhrurrazi, dan lantaran Rasulullah Saw bersabda tentang keutamaan mereka bahwa: Wahai Allah! Mereka berasal dariku dan Aku berasal dari mereka", lantaran mereka merupakan bagian darinya karena ibu mereka, Fatimah adalah bagian darinya. Oleh karena itu mereka juga merupakan amnesti bagi penduduk bumi."
Hadis-hadis di atas secara jelas menunjukkan bahwa keberadaan khalifah Rasulullah Saw tidak boleh terputus dan terpotong.
Hal ini bermakna bahwa khalifah keduabelas dan khalifah terakhir Nabi Saw telah dilahirkan dan hidup, kendati sekarang sedang melewati masa ghaibah (tersembunyi dari pandangan kita)
Kembali kepada pertanyaan ihwal masa hidup yang panjang, apakah hal ini sesuatu yang menakjubkan dan sebuah hal yang baru?
Tidak. Bukti-bukti sangat melimpah dalam sejarah umat manusia orang-orang yang memiliki usia panjang. Dan bukti-bukti itu adalah sebagai berikut:
1. Menurut al-Qur'an (surah ke-29, ayat 14) Nabi Nuh As berdakwah selama 950 tahun. Tentu saja usianya lebih panjang dari bilangan itu.
2. Disepakati oleh seluruh kaum Muslimin bahwa Nabi Khidr As masih hidup hingga saat ini. Al-Qur'an menyebutkan kisah perjumpaannya dengan Nabi Musa As, dan seterusnya, Khidr kini berusia lebih dari 3000 tahun. Ia juga tersembunyi dari pandangan manusia.
3. Ulama mazhab Hanafi, Sibt Ibn al-Jauzi, dalam kitabnya, "Tadzkirât al-Khawâs al-Ummah" membeberkan nama-nama 22 orang yang diyakini oleh kaum Muslimin telah hidup dengan beragam usia semenjak 3000 tahun turun hingga 300 tahun.
4. Bahkan berbicara secara ilmiah, tidak ada persoalan serius untuk menegaskan usia panjang seseorang. Sekelompok ilmuan mengadakan serangkaian eksperimen di Rockefeller Institute di New York pada tahun 1912 pada bagian-bagian tertentu tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Ilmuan ini termasuk Dr. Alex Carl, Dr. Jack Lope, dan Dr. Warren Lewis dan istrinya, dan lain sebagainya. Di antara eksperimen yang dilakukan adalah ekperimen yang secara langsung berkaitan dengan syaraf, otot, hati, kulit dan ginjal manusia.
Organ-organ ini tidak berhubungan dengan raga manusia. Sebagaimana disimpulkan oleh ilmuan ini bahwa bagian-bagian ini atau organ-organ ini dapat berlanjut hidup hampir secara pasti sepanjang dirawat secara proporsional, dan selama organ-organ ini dilindungi dari interaksi-interaksi negatif dengan dunia luar seperti mikroba-mikroba dan penghalang-penghalang lainnnya yang dapat merintangi perkembangan organ-organ ini.
Terlebih, penegasan yang dibuat oleh para ilmuan tersebut bahwa sel-sel dapat tumbuh secara normal di bawah kondisi-kondisi tersebut, dan pertumbuhan tersebut adalah secara langsung berkenaan dengan tersedianya makanan secara proporsional.
Kembali, menjadi tua tidak memiliki pengaruh terhadap organ-organ ini, dan mereka tumbuh setiap tahunnya tanpa ada tanda-tanda ketuaan. Para ilmuan itu menyimpulkan bahwa organ-organ ini akan tetap tumbuh sepanjang kesabaran para ilmuan itu tidak habis, yang menyebabkan mereka meninggalkan proses pemberian makanan.
Akhirnya, lantaran kita telah menerima Tuhan, apakah di luar kekuasaannya untuk tetap menjaga dan memelihara seseorang untuk tetap hidup sesuai dengan kehendak-Nya?
Orang-orang yang ragu terkadang bertanya: "Apa faidahnya seorang pemimpin yang tidak dapat dilihat?"
Mari kita jawab pertanyaan ini dengan mengajukan pertanyaan lain: Apakah mesti bagi seseorang harus dilihat untuk dapat menjadi penting dan bermanfaat, atau menerima bimbingan darinya? Dapatkah Anda melihat Tuhan?
"Dan Allah berfirman bahwa Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." (Qs. Al-Baqarah [2]: 142)
Dari hadis-hadis yang dinukil di atas, cukup jelas bahwa keberadaan bumi sendiri bergantung kepada kehadiran seorang Imam di muka bumi. Wujudnya dalam masa ghaibah tidak merubah situasi dan keadaan.
Dunia mengambil manfaat dan keuntungan dari Imam dalam masa ghaibah persis seperti ia mengambil manfaat dari matahari yang tersembunyi di balik gugusan awan.
Sekarang poin yang lain yang perlu dijelaskan dan diterangkan pada tingkatan ini adalah mengapa ghaibah? Mengapa khalifah terakhir dan pamungkas Rasulullah Saw tersembunyi dari pandangan masyarakat dan kapan ia menunjukkan dirinya?
Terdapat banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dan jawaban yang paling sederhana adalah sebagai berikut:
1. Kegaiban Imam merupakan sebuah ujian bagi orang-orang beriman bagi para pengikutnya, sebagaimana Musa gaib selama 40 hari dari para pengikutnya. Kegaiban ini merupakan sebuah ujian bagi para pengikutnya. (silahkan rujuk al-Qur'an surah ke-7 ayat 42) (Dalam konteks ini, perhatikan bahwa sebuah ujian dari Tuhan sebenarnya kenyataan bagi kita sendiri adalah sebagai saksi, selain dari itu Tuhan memiliki pengetahuan atas segala sesuatu).
2. Kegaiban Imam adalah untuk menjaga mereka dari kejahatan para oppresor dan tiran dunia. Imam al-Mahdi As akan segera datang bilamana masyarakat telah siap sedia untuk menyambut kedatangannya. Masyarakat sepanjang sejarah tidah pernah siap sedia. Mereka membunuh para nabi dan para imam, secara bergiliran satu dengan yang lainnya. Namun, Allah tetap mengirim para nabi hingga akhirnya Dia mengutus Muhammad Saw yang membawa risalah terakhir pada masa akal manusia mencapai masa balighnya dan kemudian Allah membekali mereka dengan agama yang paling lengkap dan pamungkas. Setelahnya tidak ada lagi keperluan untuk mengutusi dan mengirim risalah baru.
Lalu Dia mengutus para penjaga, pembimbing, pemberi petunjuk (para imam) yang memelihara dan menjelaskan risalah kepada masyarakat. Akan tetapi para penindas dan tiran di antara masyarakat tetap membunuh para imam. Situasi dan kondisi ini terus berlanjut hingga pada masa dimana masyarakat menyadari bahwa mereka membutuhkan seorang imam  yang ditunjuk oleh Tuhan yang memerintah mereka.
Ketika keadaan ini terjadi secara universal, dan tatkala orang-orang menjadi frustrasi dan kecewa dari segala jenis dan model "dosa" dan mengangkat tangan mereka untuk meminta tolong, kemudian orang-orang akan menjadi siap sedia menyambutnya.
Imam al-Mahdi As akan datang ketika segala jenis ideologi diuji dan gagal. Pada saat masyarakat menyadari bahwa mereka tidak memiliki solusi sejati untuk mengatasi segala problema yang mereka hadapi, dan mereka akan menerima solusi yang ditawarkan dan diberikan oleh Imam al-Mahdi As.
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, mayoritas ulama dan ahli hadis Sunni, dalam menimbang hadis-hadis yang melimpah dari Nabi Saw, percaya kepada al-Mahdi persis sebagaimana kepercayaan dan keyakinan Syiah. Jika kita ingin membuat senarai dari para ahli hadis ini, senarai akan menjadi panjang. Kami akan memilih lima dari hadis-hadis tersebut:
·        Sulayman al-Qandozi al-Hanafi, dalam kitabnya, "Yanabi' al-Mawaddah".
·         Abu Abdullah Muhammad ibn Yusuf Ganji, asy-Syafi'i, dalam "Al-Bayan fi Akhbar Sahib az-Zaman" and "Kifayah al-Talib".
·         Shaikh Nuruddin Ali ibn Muhammad ibn Sabbagh al-Maliki, dalam "Al-Fusûl al- Muhimmah".
·         Ibn Arabi (Muhyuddin) al-Hanbali, in his book "Al-Futûhat al-Makkiyah".
·         Sibt ibn al-Jawzi, dalam kitabnya "Tadzkirat al-Khawwas".
 
Mazhab Sunni memiliki empat mazhab fiqih - Maliki, Hanafi, Syafi'i, Hanbali – dinamakan setelah empat imam mereka, Malik, Abu Hanifa, Syafi'i and Ahmad  bin Hanbal. Perhatikan keseluruh empat mazhab Sunni telah terwakilkan pada kutipan dan nukilan di atas. Hal ini mengindikasikan bahwa kepercayaan terhadap al-Mahdi As adalah bersifat universal di kalangan kaum Muslimin.
Sibt ibn al-Jawzi (yang dikutip di atas) menulis ihwal Imam Keduabelas sebagai berikut:
"Gelar (Imam al-Mahdi) adalah Abu Abdullah dan Abul Qasim. Ia merupakan khalifah terakhir Nabi Saw. Ia merupakan Imam Pamungkas Ahlulbait. Ia merupakan hujjah (al-Hujjah) Tuhan di muka bumi. Ia merupakan Tuan dari masa (Shâhib az-Zaman). Ia adalah insan yang dinantikan (al-Muntazhar).
 
Kembara Perdana:
Yunus bin Ya'qub meriwayatkan:
Aku bersama Abu Abdillah (Imam Ja'far al-Sadiq As, khalifah keenam Nabi Saw) ketika seorang Suriah datang kepadanya. Ia berkata: "Aku adalah seorang alim dalam bidang Kalam, Fiqih, dan hukum-hukum waris. Aku datang untuk berdebat dengan para pengikutmu."
"Apakah ilmu Kalam yang engkau miliki adalah berasal dari Nabi Saw atau dari dirimu sendiri? Tanya Abu Abdillah As.
"Sebagian dari Nabi Saw dan sebagian dari diriku sendiri," jawab orang itu.
"Kalau begitu engkau adalah mitra Nabi Saw?" Tanya Abu Abdillah As.
"Tidak," Jawabnya.
"Apakah engkau pernah mendengar ilham langsung dari Tuhan?"
"Tidak," Jawabnya.
"Apakah ketaatan kepadamu diharuskan sebagaimana ketaatan kepada Nabi Saw?"
"Tidak," jawabnya.
Abu Abdillah memalingkan wajahnya kepadaku dan berkata: "Yunus bin Ya'qub, orang ini telah menentang dirinya sendiri sebelum ia memulai (perkara yang sesunguhnya) diskusi. Kemudian ia berkata: "Yunus, jika engkau ahli dalam ilmu Kalam, engkau harus berdiskusi dengannya."
Betapa sedihnya kala itu, karena aku berkata kepadanya: "Semoga aku menjadi tebusanmu, aku pernah mendengar bahwa Anda melarangku (ikut serta) dalam perdebatan ilmu Kalam dan Anda berkata: Celakalah para teolog yang berkata jalan ini yang benar dan jalan itu yang keliru; hal ini termasuk dan hal itu tidak termasuk; kita menerima hal ini sebagai rasional dan tidak menerima hal itu sebagai rasional."
"Aku hanya berkata," tutur Abu Abdillah As,  "Celakalah mereka, jika mereka meninggalkan apa yang aku katakana dan memenuhi keinginan mereka sendiri." Lalu ia berkata kepadaku: "Keluarlah dan carilah orang-orang yang pandai ilmu Kalam dan bawa mereka kemari."
Aku beranjak keluar dan mendapatkan Humran bin A'in yang mahir dan ahli dalam ilmu Kalam dan Muhammad bin al-Nu'man al-Ahwal (juga dikenal sebagai Mu'min Taq), yang merupakan seorang teolog, dan Hisyam bin Salim dan Qays bin al-Masir, keduanya merupakan teolog. Aku membawa mereka kepadanya. Setelah ia meminta kami duduk dalam majelis – kami berada di dalam kemah Abu Abdillah di puncak sebuah gunung di pinggir kota Mekkah dan pada hari itu adalah hari-hari sebelum hari ziarah haji – Abu Abdilllah mengeluarkan kepalanya dari kemah tersebut. Di luar tiba-tiba muncul seekor unta melenggang berwibawa. Ia berseru, "Demi Tuhan Ka'bah, Hisyam!"
Kami berpikir bahwa orang itu adalah Hisyam, salah seorang putra Aqil, sosok yang sangat mencintainya, namun lihatlah, orang itu adalah Hisyam bin al-Hakam yang datang. Wajahnya masih belum jenggotan. Seluruh orang yang hadir di tempat itu adalah lebih tua darinya. Abu Abdillah As mempersilahkan ia masuk dan berkata: "(Ini dia) orang yang akan menolong kita dengan hati, lisan dan tangannya."
Ia berkata kepada Humran, "Berdebatlah dengan orang itu." – yang dimaksud adalah orang Syam. Humran berdebat dan berhasil mengalahkannya. Lalu Imam berkata, "Wahai Taqku, berdebatlah dengannya," lalu Muhammad bin al-Nu'man berdebat dengannya dan berhasil mematahkan argumen orang itu. Lalu ia berkata: "Hisyam bin Salim, berdebatlah dengannya." Lalu keduanya adu argumentasi. Abu Abdillah As mulai tersenyum melihat perdebatan mereka berdua lantaran orang Syam itu mencari jalan untuk lari dari perdebatan. Ia berkata kepada orang Syam itu, "Berdebatlah dengan kacung ini," – yang dimaksud adalah Hisyam bin al-Hakam.
"Iya," jawab orang Syam itu dan berkata, "Wahai kacung, Tanyakanlah ihwal imamah orang ini" – yang dimaksud adalah Abu Abdillah As.
Hisyam gregetan marah namun kemudian berkata, "Kisanak, apakah Tuhanmu memelihara makhluk-makhluknya atau mereka sendiri yang mengurus diri mereka?"
"Tentu saja," jawab orang Syam itu, "Tuhanku memelihara makhluk-makhluk-Nya."
"Apa yang Dia lakukan untuk memelihara agama mereka?"
"Dia memberikan tugas kepada mereka dan membekali mereka dengan hujjah dan bukti atas segala sesuatu yang Dia tanyakan dari mereka. Dia menghilangkan segala kelemahan yang mungkin mereka miliki."
"Apa bukti yang telah Dia ajukan untuk mereka?" Tanya Hisyam kepadanya.
"Bukti itu adalah Nabi Saw," jawab orang Syam itu.
"Bukti apa setelah Nabi Saw?"
"Kitab dan Sunnah."
"Apakah Kitab Suci dan Sunnah memberikan manfaat kepada ktia dengan segala perbedaan yang ada sehingga ikhtilaf yang ada dapat dihilangkan dan kita mampu mencapai kata sepakat?" Tanya Hisyam.
"Iya," jawab orang Syam itu.
"Kalau begitu kami berbeda denganmu." Tukas Hisyam, "sehingga engkau datang dari Syam untuk berdebat dengan kami? Engkau mengklaim penilaian pribadi merupakan metode agama sementara engkau ketahui bahwa penilaian pribadi tidak membawa orang yang berbeda pendapat kepada satu doktrin."
Orang Syam itu terdiam sejenak seolah-olah berpikir. Kemudian Abu Abdillah As bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tidak mendebatnya?"
"Jika aku berkata: Kami tidak berbeda," jawabnya, "Aku hanyalah seorang yang berkepala batu. Jika aku berkata: Kitab Suci dan Sunnah dapat menghilangkan ikhtilaf yang terdapat di antara kita, aku melakukan kesalahan keduanya memuat intepretasi yang berbeda. Namun, aku dapat menggunakan argumen yang sama dalam menyanggahnya."
"Kalau begitu, bertanyalah kepadanya," kata Abu Abdillah kepadanya, "Engkau akan dapatkan ia sebagai orang yang kompeten. "
Lalu orang Syam itu bertanya kepada Hisyam, "Siapa yang memelihara makhluk-makhluk-Nya, Tuhan mereka atau mereka sendiri?"
"Tentu saja Tuhan mereka memelihara mereka," jawab Hisyam.
"Apakah Dia mengutus seseorang bagi mereka yang mengharmoniskan doktrin mereka, menghilangkan ikhtilaf yang ada dan menjelaskan yang benar dari yang salah kepada mereka?" tukas orang Syam itu.
"Iya," jawab Hisyam.
"Siapa gerangan dia?" Tanya orang Syam itu.
"Pada masa-masa awal diturunkannya syariah, adalah Nabi Saw akan tetapi selepas Nabi Saw, ada orang lain yang menjalankan tugas tersebut."
"Siapa lagi selain Nabi Saw, yang menggantikan posisinya sebagai hujjah Tuhan di muka bumi?" Tanya orang Syam itu.
"Sekarang atau sebelumnya?" Hisyam bertanya.
"Pada masa sekarang ini," jawab orang Syam itu.
"Orang yang duduk di sini," kata Hisyam – yang dimaksud adalah Abu Abdillah." Ia adalah orang yang engkau tuju; ia adalah orang yang mewartakan kepada kita ihwal langit dan merupakan pewaris dari ayah dan datuknya."
"Bagaimana aku dapat memiliki pengetahuan tersebut?" Tanya orang Syam itu.
"Bertanyalah kepadanya apapun yang terlintas dalam benakmu," kata Hisyam kepadanya.
"Engkau telah menyanggah setiap argumenku namun kini aku memiliki sebuah pertanyaan," orang Syam itu mengumumkan.
"Aku akan mengatakan apa yang ingin engkau katakan." kata Abu Abdillah As kepadanya. "Aku akan ceritakan ihwal perjalanan dan muhibahmu. Engkau berangkat pada hari ini dan hari itu. Jalan yang engkau lalui seperti ini dan seperti itu. Engkau melintasi orang ini dan orang itu."
Setiap saat ia berkata sesuatu kepadanya tentang dirinya, orang Syam itu akan berkata, "Benar, demi Allah." Lalu orang Syam itu berkata kepadanya, "pada saat ini aku telah berserah diri (aslamtu) kepada Tuhan. "
"Bahkan pada saat ini engkau telah beriman (amanta) kepada  Tuhan," kata Abu Abdillah As. Islam (berserah diri kepada Tuhan) adalah sebelum iman (keyakinan kepada Tuhan). Berdasarkan hal yang pertama diatur ihwal warisan dan pernikahan; berdasarkan iman manusia diberi ganjaran. "
"Benar," jawab orang Syam itu, "Pada saat ini aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, dan engkau adalah (wasi Tuhan) di antara orang-orang yang dipilih oleh Allah."
[Kemudian, Imam mengomentari setiap jenis debat yang diperagakan oleh para pengikutnya]
Ia berkata kepada Hisyam bin al-Hakam, ia berkata, "Hisyam engkau hampir saja terjatuh, lantaran engkau selitkan pada kakinmu (seperti seekor burung); ketika engkua hendak jatuh, engkau terbang. Oleh karena itu orang sepertimu seyogyanya berdebat dengan masyarakat.
 
Kembara Kedua:
Hisyam bin Hakam merupakan seorang sahabat utama dari Imam Keenam dan Ketujuh dan mendapatkan perhatian atas kemahirannya berdebat dan berretorika.
Yunus bin Ya'qub meriwayatkan bahwa pada suatu hari, orang-orang berkumpul di sekeliling Imam Keenam, di antara orang-orang yang berada di samping Imam Keenam adalah Humran bin A'in, Mu'min Taq (Muhammad bin Ali bin Nu'man), Hisyam bin Salim, Hisyam bin Hakam, dan sebagainya.
Imam berpaling kepada Hisyam bin Hakam dan berkata, "Apa yang engkau katakan kepada Amr bin Ubaid? Pertanyaan-pertanyaan apa yang engkau ajukan?"
Hisyam berkata, "Aku merasa malu membicarakannya tentang hal tersebut di depan Anda, lidahku kelu dan membisu."
"Mengapa engkau harus merasa malu ketika Aku sendiri yang memerintahkanmu? Ceritakanlah peristiwa itu."
Hisyam memulai: "Aku mendengar bahwa Amr bin Ubaid membincang permasalahan-permaslahan ilmiah di masjid Basrah. Hari itu adalah hari Jum'at ketika aku tiba di kota Basrah dan beranjak menuju masjid. Aku melihat Amr bin Ubaid dikerumuni oleh masyarakat sekitar. Aku melangkah maju dan mendekatinya yang tengah dikerumuni oleh orang-orang dan  berkata, "Wahai orang yang berlimu dan bermakrifat, Aku adalah seorang asing di tempat ini dan datang dari tempat jauh. Izinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan? "Silahkan," ,jawab Amir."
Perbincangan tersebut berlangsung seperti demikian:
Hisyam: Apakah engkau memiliki mata?
Amr: Anak muda! Pertanyaan macam apa ini? Bertanyalah sesuatu yang pantas.
Hisyam: Aku hanya akan mengajukan tiga pertanyaan saja.
Amr: Baiklah! Bertanyalah dan aku akan menjawabnya, kendati pertanyaanmu itu adalah pertanyaan konyol.
Hisyam: Apakah engkau memiliki mata?
Amr: Iya.  
Hisyam: Apakah kegunaan mata tersebut?
Amr: Gunanya adalah untuk melihat aneka warna dan beragam bentuk.
Hisyam: Apakah engkau memiliki hidung?
Amr: Iya.
Hisyam: Apakah kegunaan hidung tersebut?
Amr: Untuk mencium.
Hisyam: Apakah engkau memiliki mulut?
Amr: Iya.
Hisyam: Apakah kegunaan mulut tersebut?
Amr: Untuk mengecap makanan.
Hisyam: Apakah engkau memiliki akal dan pikiran?
Amr: Iya.
Hisyam: Apakah kegunaan akal dan pikiran?
Amr: Segala sesuatu yang aku rasakan melalui panca indraku (kedua mata, hidung, mulut dan sebagainya) aku mengenalinya melalui akal dan pikiranku.
Hisyam: Apakah panca indramu tidak membuat dirimu terbebas dari akal dan pikiranmu?
Amr: Tidak.
Hisyam: Mengapa, ketika seluruh organmu utuh dan lengkap?
Amr: Tatkala panca indramu menghadapi keraguan, ia merujuk kepada akal untuk menghilangkan keraguan dan menegaskan kebenaran.
Hisyam: Hal ini bermakna bahwa Tuhan telah memberikan kita akal untuk menghilangkan segala keraguan indra kita dan mewartakan kebenaran kepadanya.
Amr: Iya, tentu saja.
Hisyam: Jadi kita bergantung pada akal kita dalam keadaan apapun.
Amr: Iya.
Hisyam: Tuhan tidak membiarkan organ dan indra kita tanpa seorang imam yang dapat menjelaskan dan menerangkan keraguannya, tapi Tuhan yang sama telah meninggalkan makhluknya di tengan keraguan mereka dan tidak menetapkan imam bagi mereka yang dapat menghilangkan segala keraguan dan menegaskan kebenaran?
Amr terdiam beberapa lama, kemudian ia bertanya keapda Hisyam, "Darimana gerangan engkau datang?
"Aku berasal dari Kufah," kata Hisyam.
"Barangkali engkau adalah Hisyam?"
Kemudian ia mendudukkan Hisyam di tempatnya dan selama Hisyam berada di tempat itu, ia menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang berada di sekitarnya. Setelah beberapa lama Hisyam pergi.
Setelah Hisyam mengisahkan peristiwa ini kepada Imam Ja'far ash-Sadiq As, Imam tersenyum dan berkata, "Siapa yang mengajarimu argumen ini?"
"Tidak seorang pun, Wahai Putra Rasulullah!" kata Hisyam. "Hal itu datang begitu saja dalam benakku."
Imam berkata, "Demi Allah! Argumen ini disebutkan dalam Mushaf Ibrahim dan Musa." (Rijal Kishi)
 
Kembara Ketiga:
Masih ingat tiga pengembaraan yang kita jalani pada tingkatan pertama dari perjalan kita? Kini kita melalui perjalanan ini untuk menyingkap identitas sang bijak bestari yang kita jumpai dalam pengembaraan tersebut. Kita jumpai bahwa sang bijak bestari yang dijadikan sebagai tempat rujukan adalah Ja'far ash-Shadiq As (702-765 M), khalifah keenam Nabi Muhammad Saw dan Imam Keenam mazhab Syiah. Peristiwa-peristiwa yang diungkapkan dalam pengembaran-pengembaran tersebut adalah bersumber dari kitab "Bihar al-Anwar" karya Majlisi, sebagaimana dinukil dalam buku "God and His Attributes" karya Sayid Mujtaba Musavi Lari.
 
TINGKATAN KELIMA
Kita menelusuri langkah-langkah kita hingga tingkatan kedua dari pengembaraan kita ini, Keadilan Tuhan. Dari sudut pandang ini, kita menukik pada etape akhir dari pengembaraan dan perjalanan kita.
Tuhan adalah adil. Keadilan Tuhan adalah sempurna dan tanpa cacat. Keadilan tanpa cacat ini menandaskan bahwa penciptaan kita memiliki sebuah tujuan (sebagaima disebutkan sebelumnya). Petunjuk dan bimbingan telah diutus keatas kita untuk menunjukkan jalan kepada kita bagaimana memenuhi tujuan tersebut, dengan mengenal Sang Pencipta dan menata hidup dan kehidupan kita berdasar dan berasaskan titah dan perintahnya.
Keadilan Tuhan juga menegaskan bahwa seluruh manusia akan disidang dan diadili seadil-adilnya suatu hari kelak, ihwal seberapa jauh makhluk tersebut memenuhi tujuan penciptaannya. Pengadilan akan berakhir dengan mendapatkan jatah ganjaran atau hukuman, berdasarkan niat dan perbuatan setiap manusia.
Camkan baik-baik hal tersebut dalam benak, kini mari kita merenungkan mata rantai sebab dan akibat.
Pikiran-pikiran yang saya pikirkan, atau perbuatan-perbuatan yang saya kerjakan, tidak sepenuhnya berasal dari diriku, mandiri dari segala pengaruh eksternal. Tidak! Terdapat pengaruh-pengaruh eksternal. Ayahku, lingkunganku, teman bermainku, buku yang saya baca, setiap orang – masing-masing dari hal ini telah mempengaruhi cara saya berpikir dan jalan saya bertindak. Sumber-sumber pengaruh ini secara bergilir mendapatkan pengaruh dari faktor-faktor yang lain. Dan demikian seterusnya. Dan tatkala ketika Anda mengarahkan rantai ini ke arah yang lain,  pikiran dan tindakanku telah terpengaruhi, dan boleh jadi akan mempengaruhi beberapa orang lain yang melakukan kontak dan interaksi denganku.
        Kemana semua hal ini berujung dan bermuara?
Hal ini menuntun kepada kenyataan bahwa bahkan jika secuil aksi yang dilakukan akan mendapatkan pengadilan dengan tingkat ketelitian dan akurasi yang sangat tinggi, secuil aksi dan perbuatan harus diadili dan disidang landasan apa yang melatari perbuatan tersebut dan terjalin dalam sebuah jaringan sebab dan akibat yang terangkum dalam spektrum ruang dan waktu. Terhimpunnya jaringan ini pada akhirnya akan mencakup seluruh umat manusia, semenjak awal hingga akhir. Kalau hal ini tidak dilakukan, pengadilan dan persidangan yang dijalan ke atas diriku tidak akan berlangsung sempurna dan komplit. Dan keadilan Tuhan adalah sempurna dan komplit.
Dan seluruh hal yang tak terbantahkan ini menunjukkan bahwa Hari Perhitungan harus ada – Hari Perhitungan ketika seluruh insan yang mati bangkit dan seluruh ciptaan Tuhan dikumpulkan bersama dan setiap lembaran jaringan sebab dan akibat mengelilingi mereka ditelusuri seluruhnya, dan dengan demikian persidangan dan mahkamah dijalankan.
Banyak ayat-ayat al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw berkisah ihwal Hari Kiamat (Ma'ad).
 
Kembara Perdana :
Keadilan Tuhan, dan keberadaan Hari Kiamat, yang meyiratkan adanya kebebasan berkehendak di antara seluruh makhluk-Nya (pada kesempatan mendatang kita akan mengulas secara tuntas pembahasan Keadilan Tuhan, Kenabian, Imamah dan Hari Kiamat secara filsofis dan rasional).
Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh beberapa ayat dari al-Qur'an yang tertuang dalam beberapa ayat berikut ini:
·        "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula." (Qs. al-Zalzalah [99]:7-8)
·        "Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." (Qs. an-Nahl [16]:93)
·        "Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka." (Qs. ar-Ra'ad [13]:11)
·        "Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri." (Qs. al-Anfal [8]:53)
 
DEBRIEFING
Kini kita tiba pada penghujung pengembara Kalam kita ini, yang telah membawa kita kepada lima teritori: Tauhid, Keadilan Ilahi, Kenabian, Imamah dan Hari Kebangkitan (Ma'ad). Kami berharap bahwa perjalanan ini menarik dan berhasil menstimulir pikiran dan memuaskan akal.
Sebagaimana disebutkan pada awal-awal pengembaraan ini, pengembaraan ini dikemas menjadi sebuah pengembaraan yang singkat. jika Anda seorang pengembara musiman, dan ingin menjelajah dan mengembara yang lebih jauh dan luas, kami menyarankan untuk mengkaji buku-buku pegangan di bawah ini sebagai buku pegangan utama yang akan menemani Anda dalam pengembaran yang lebih jauh dan luas: (seluruh buku ini tersedia dalam bahasa Inggris dan sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia):
1."Nahjul Balagha", Nahjul Balagha, Penerbit Lentera.  
2."Fundamentals of Islam", karya Haji Mirza Mehdi Pooya.
3."God and His Attributes", by Sayyid Mujtaba Musavi Lari.
4."Some Discourses on Imam al-Mahdi" by Ayatullah Baqir al-Sadr.
5."Then I Was Guided", (Akhirnya Kutemukan Kebenaran) karya Dr Muhammad Tijani.
6."The Voice of Human Justice", (Suara Keadilan), Penerbit Lentera,  karya George Jordac.
 

[1] . Kutipan di atas diambil dari ucapan Dr Bucaille's ihwal "Qur'an and Modern Science", yang disampaikan di the Commonwealth Institute, London, pada 14 Juni 1978.
Post a Comment