Thursday, July 12, 2012

Kesempurnaan MANUSIAWI

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Hakikat Kesempurnaan
Setiap hakikat yang maujud memestikan totalitas dirinya, zatnya, dan sifat-sifatnya. Jadi, ketika kita mengasumsikan hakikat A memiliki sifat-sifat seperti B dan C, maka hakikat ini dalam zatnya meniscayakan bahwa A adalah tidak nâqish (kurang) dan nâqish dari A itu sendiri tidak lain adalah bukan A itu sendiri, sementara kita mengasumsikan bahwa ia adalah A. Dan demikian pula hakikat ini mesti memiliki sifat-sifat seperti B dan C dari dimensi dirinya adalah dirinya dan nâqish dari B dan C itu sendiri tidak lain bahwa tidak tersifati B dan C, sementara kita mengasumsikan tersifati B dan C dan bukan selain dari mereka. Ini adalah merupakan perkara yang sangat jelas. Dan ini sesuatu yang merupakan kemestian setiap hakikat dalam zatnya serta sifat-sifat yang dimilikinya, dan kita menamakan hakikat ini dengan kesempurnaan.
Selanjutnya, hakikat setiap kesempurnaan tidak lain adalah sesuatu yang dalam zatnya terkait dengan kait ketiadaan. Jadi setiap kesempurnaan dalam zatnya memiliki hakikat dirinya dan tidak ada sesuatu pun yang tak termiliki zatnya kecuali dari sisi kait ‘adami (ketiadaan) yang secara daruri menyertainya.
Hakikat A, misalnya memiliki sesuatu yang telah diasumsikan baginya, dan batas pemisah keberadaan sesuatu ini dari A dengan sesuatu lainnya dari A hanyalah dikarenakan kait ketiadaan mereka, dan dikarenakan kait ini maka masing-masing dari keduanya ini tidak memiliki kekhususan sesuatu lainnya. Karena itu, bagi hakikat A terdapat dua tingkatan: Pertama, tingkatan zatnya, dimana tidak ada sesuatu pun yang hilang dari zatnya dan kedua, tingkatan partikularisasinya, dimana dalam bentuk ini sesuatu akan hilang dari kesempurnaannya.
Dari uraian ini menjadi jelaslah bahwa hakikat setiap kesempurnaan adalah bentuk absolutnya, ketakbergantungannya, dan kepermanenannya. Dan kadar kedekatan setiap kesempurnaan terhadap hakikatnya sebanding dengan kadar zuhur hakikatnya pada kesempurnaan tersebut; yakni kedekatannya dinisbahkan terhadap kait dan batas yang menjadi fokus tinjauan. Oleh karena itu, setiap sesuatu yang kaitnya banyak maka zuhurnya sedikit dan sebaliknya, setiap sesuatu yang kaitnya sedikit maka zuhurnya adalah banyak.
Dari paparan ini menjadi jelaslah bahwa Allah SWT merupakan hakikat akhir dan final setiap kesempurnaan, dikarenakan Allah SWT adalah kesempurnaan sejati dan keindahan murni dan kadar kedekatan setiap eksistensi dinisbahkan kepada-Nya adalah sekadar batas dan kait ketiadaan yang menyertainya.
Demikian pula menjadi jelaslah bahwa  wusulnya (sampainya) setiap eksistensi kepada kesempurnaan hakikinya, merupakan kemestian kefanaan dari eksistensi tersebut; sebab wusul kepada kesempurnaan hakiki merupakan kemestian dari kefanaan dari kait dan batas  dalam zat atau dalam sifat-sifat. Yakni kefanaan setiap maujud meniscayakan kebakaan hakikat maujud itu dengan sendirinya. Tuhan berfirman: : “Semua yang ada (di bumi) akan fana (binasa). Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (QS. Ar-Rahman [55], ayat 26-27)
Kesempurnaan Insani
Kesempurnaan hakiki setiap mumkinul wujud adalah kefanaan mereka pada-Nya. Dan kesempurnaan hakiki bagi manusia adalah pemutlakan, pelepasan diri dari seluruh kait-kait, dan memfanakan diri pada-Nya. Dan bagi manusia tidak ada kesempurnaan sedikit pun selain dari itu.
Sebagaimana dalam pengetahuan nafs dikatakan bahwa syuhud manusia pada zatnya tidak lain adalah zatnya itu sendiri dan ini adalah syuhud seluruh hakikat-hakikatnya dan hakikat akhirnya. Dan ketika manusia memfanakan dirinya, maka dia pada saat yang sama dalam keadaan fana, juga menyaksikan dirinya. Dengan kata lain, hakikat dirinya tidak lain adalah syuhud nafsnya dalam keadaan dia fana.
Jadi, kesempurnaan hakiki bagi manusia adalah wusulnya kepada kesempurnaan hakiki dirinya dari sisi zat, sifat, dan perbuatan, dimana ini adalah kefanaan zat, kefanaan sifat, dan kefanaan perbuatan pada Haq SWT yang diibaratkan dengan tauhid zat, tauhid sifat, dan tauhid perbuatan (ketiga tauhid ini diungkapkan dengan ungkapan laa ilaaha illallah wahdahu, wahdahu, wahdahu). Maqam ini merupakan hasil dari syuhud manusia dimana dia menemukan bahwa tidak ada satu pun zat, sifat, dan perbuatan kecuali bagi Haq SWT dengan tanpa masalah ini berakhir kepada hulul (inkarnasi) dan penyatuan, karena Tuhan Yang Maha Suci niscaya bersih dan suci dari kedua perkara ini.
Oleh karena itu, jalan yang paling dekat bagi manusia untuk wusul kepada kesempurnaan hakiki adalah jalan makrifat nafsnya dan jalan makrifat nafs ini merupakan jalan penjauhan dan pelepasan diri dari selain Tuhan dan berpaling secara totalitas kepada-Nya.
Menapak Jalan Kesempurnaan
Jika seseorang mendapatkan syuhud nafsnya maka niscaya dia akan menemukan syuhud Tuhannya (sesuai hadits: Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu). Dan ini merupakan jalan yang terbaik bagi wilayat dan bagi syuhud jamal (keindahan) serta jalal (keagungan) Allah SWT.
Jika manusia ingin menyaksikan dirinya, jalannya adalah membawa dirinya kepada kepapaan dan kefakiran. Dan ketika dia telah membawa dirinya kepada kepapaan dan kefakiran maka dia tidak lagi akan bertumpu pada dirinya dan tidak juga bersandar kepada orang lain. Tapi perlu diketahui bahwa jalan ini tidak mungkin dapat dilewati kecuali dengan tauhid. Bahkan pada hakikatnya, jalan wilayat adalah jalan tauhid. Cara menapaki jalan ini adalah, ketika manusia menemukan dirinya fakir sejati dan menyaksikan dirinya rabt (hubungan, relasi, nisbah) murni; bukan suatu zat yang memiliki rabt maka saat itu dia menemukan bahwasanya Tuhan Yang Maha Suci adalah ketidakbutuhan (kaya) murni; bukan suatu zat yang memiliki ketidakbutuhan, dan ketidakbutuhan itu bukanlah sifat yang datang dan beraksiden kepada-Nya (Wahai manusia! Kamu adalah maujud-maujud fakir di hadapan Allah dan Allah adalah Maha Kaya lagi Maha Terpuji; petikan bebas dari salah satu ayat Al-Quran).
Sedemikian hingga manusia mesti menyaksikan kefakiran murni dirinya dan bukan zat yang memiliki kefakiran; sebab jika dia adalah zat yang memiliki kefakiran dan kefakiran ini adalah sifat niscaya baginya, dan karena sifat tidak berada dalam tingkatan yang disifati (zat yang disifati) maka kemestian dari ini bahwa manusia dalam maqam zat insan tidaklah fakir. Dan jika kefakiran tidak punya jalan kepada zat maka zat tersebut adalah kaya dan berdiri sendiri; sementara manusia secara zat adalah budak dan hamba Tuhan serta kefakiran murni. Oleh karena itu, ketika manusia menyaksikan zatnya yang sedemikian ini maka dia akan melihat bahwasanya perbuatan dan tindakannya fana dalam fâ’il (pelaku) yang mandiri, yakni Allah SWT. Selanjutnya baginya menjadi jelas bahwa maujud-maujud yang lainnya juga demikian, tidak ada satu pun di antara mereka yang memiliki kemandirian. Dan karena mereka tidak mempunyai kemandirian maka fi’il (perbuatan) mereka juga fana dalam perbuatan Allah SWT. Dengan demikian, manusia dengan makrifat seperti ini niscaya tidak akan berani melakukan perbuatan-perbuatan buruk, maksiat, dan dosa. Kata urafa, alam ini seluruhnya adalah mazhar (manifestasi) Tuhan maka janganlah berbuat dosa dan maksiat dalam mazhar Tuhan.
Dan dikarenakan maksiat serta dosa akarnya kembali kepada kekurangan dan ketakberpunyaan, yakni tidak membutuhkan mabda (sumber, pangkal) zati maka maksiat dan dosa tidak memiliki sandaran kepada Tuhan Yang Maha Suci dan tidak berakhir kepada Zat Maha Suci Tuhan. Dengan demikian tersisa perbuatan-perbuatan wujudi, baik, dan sempurna. Dan perbuatan-perbuatan wujudi, baik, dan sempurna ini merupakan kekhususan dan terbatas hanya bagi Allah SWT, Zat Yang Maha Kaya.
Sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya bahwa maksiat dan dosa akarnya kembali kepada kekurangan dan kefakiran, yakni tidak membutuhkan mabda zati, karena itu maksiat dan dosa tidak memiliki sandaran kepada Tuhan Yang Maha Suci dan tidak berakhir kepada Zat Maha Suci Tuhan. Sebaliknya perbuatan-perbuatan wujudi, baik, dan sempurna merupakan kekhususan zat suci Haq SWT dan terbatas hanya bagi Allah SWT sebagai satu-satunya Zat Yang Maha Kaya dan Maha Sempurna,  karena itu setiap perbuatan baik yang muncul dari setiap pelaku mesti fana dalam perbuatan Tuhan dan ini merupakan asas dari tauhid perbuatan.
Tauhid perbuatan, yakni seseorang mencapai kedudukan dimana dia memandang seluruh perbuatan-perbuatan baik dari setiap pelaku, semuanya fana dalam perbuatan Tuhan. Seseorang, ketika mencapai kedudukan ini, dia akan mengizinkan dirinya berkata, seluruh alam berada di bawah naungan rububiyyah Rabbul ‘Alamin. Dirinya, perbuatannya, dan sifat-sifatnya, semuanya merupakan kisah dan lukisan dari perbuatan dan sifat-sifat perbuatan Tuhan. Dan dia menyaksikan maujud-maujud lainnya beserta sifat dan perbuatan mereka juga seperti demikian. Oleh karena itu, ketika dia melihat perbuatannya fana dalam perbuatan Tuhan dan menyaksikan (musyahadah) perbuatan pelaku-pelaku lainnya juga fana dalam perbuatan Tuhan, niscaya dia tidak akan bersandar kepada dirinya dan kepada orang lain. Dia telah mencapai maqam dimana dia melepaskan segala bentuk sandaran, termasuk kepada dirinya sendiri dan melihat tidak ada sama sekali sandaran kecuali bersandar kepada Allah SWT. Dia telah melepaskan dirinya dari kekurangan ini (bersandar kepada diri dan kepada yang lain selain Tuhan) dan mencapai tingkatan hanya bersandar kepada Haq SWT.
Ketika telah lewat dari tauhid perbuatan, yakni fananya seluruh perbuatan dalam perbuatan Tuhan, seseorang akan sampai pada tauhid sifat, yakni fananya sifat pada sifat Tuhan. Seseorang, ketika dia belum sampai pada penyaksian sifatnya dan sifat-sifat maujud-maujud lainnya fana dalam sifat-sifat Tuhan maka pada hakikatnya dia bukan seorang muwahhid (orang bertauhid) hakiki. Sebab jika Tuhan memiliki sifat-sifat sempurna dan sifat-sifat itu tidak terbatas maka tidak ada tempat bagi sifat lainnya di samping sifat tak terbatas tersebut, meskipun sifat itu terbatas. Jika Tuhan memiliki ilmu dan ilmu itu tidak terbatas maka tidak bisa dikatakan lagi bahwa di samping ilmu tak terbatas Tuhan terdapat ilmu-ilmu maujud lainnya, kendatipun ilmu-ilmu itu adalah terbatas.
Pemikiran yang memandang ilmu Tuhan tidak terbatas dan ilmu maujud-maujud lainnya terbatas atau ilmu Tuhan mandiri dan ilmu maujud-maujud lainnya bil-ghair (bergantung kepada yang lain); adalah suatu pemikiran yang tidak benar; sebab jika terdapat suatu ilmu yang berhadapan dengan ilmu Tuhan, meskipun ia terbatas, pada hakikatnya ia telah membatasi ilmu Tuhan. Padahal jika suatu ilmu tidak terbatas maka ia dengan sendirinya tidak menyisakan ruang sama sekali bagi keberadaan ilmu lainnya. Karena tidak terbatas, yakni tidak berakhir dan bertepi. Jika sesuatu tidak terbatas dan tidak berakhir maka ia tidak mempunyai batas dan akhir dimana kita dapat mengatakan ini ilmu Tuhan dan ini ilmu selain-Nya. Oleh karena itu, ketika sifat Tuhan dilihat tidak terbatas maka seluruh sifat-sifat mesti juga disaksikan fana dalam sifat-sifat Tuhan. Ini adalah fananya sifat-sifat dalam sifat-sifat Tuhan yang disebut tauhid sifat.
Ketika seseorang dalam tingkatan sifat telah muwahhid, dimana dia menyaksikan seluruh sifat-sifat fana dalam sifat-sifat Haq SWT, dia akan beranjak menuju tahap yang lebih tinggi, yakni tauhid zat. Dalam tahap ini, dia telah mencapai batin alam dan batin agama. Dan dari batin ini dia juga menyaksikan batin dan kedalaman lain, dimana tidak lain adalah fana zati, yakni dia menyaksikan tidak ada satupun zat yang mandiri dan tidak satupun eksistensi yang terpisah. Dia melihat serta menyaksikan seluruh zat dan eksistensi fana dalam zat dan eksistensi murni, sebab jika eksistensi Tuhan adalah eksistensi yang tidak terbatas maka niscaya tidak ada lagi asumsi bahwa terdapat eksistensi-eksistensi lain yang berhadapan dengan eksistensi tak terbatas tersebut, apakah mereka itu terbatas ataukah tidak terbatas. Sebagaimana asumsi terdapat dua eksistensi tidak terbatas adalah suatu asumsi yang tidak benar maka asumsi terdapat satu eksistensi tidak terbatas dan eksistensi lainnya terbatas juga adalah asumsi yang salah; sebab sesuatu yang tidak terbatas niscaya ia tidak menyisakan lagi suatu kekosongan dimana sesuatu lain yang terbatas mengisi kekosongan tersebut. Ketika itu dia menyaksikan seluruh eksistensi-eksistensi fana dalam eksistensi mutlak Hak SWT, seperti gambar-gambar cermin yang menampakkan dan memperlihatkan eksistensi pemilik zat. Oleh karena itu, seluruh alam adalah alamat dan ayat-ayat Ilahi. Dan ketika nafs sampai pada kedudukan ini maka tauhid zat telah menjadi bagiannya, yakni ia menyaksikan seluruh zat dan eksistensi fana dalam zat Haq SWT dan ini disebut dengan fana zati. Dan nafs yang sampai pada tahap ini telah sampai pada paling tingginya sair wilayat (perjalanan wilayat) dan penyaksian, sebab ia tidak melihat lagi dirinya dan yang lain, ia hanya menyaksikan satu zat dan itu hanya Haq SWT.
Fana zati tidak bermakna bahwa manusia hancur dan lenyap, sebab kehancuran, ketiadaan, dan kelenyapan adalah kekurangan, bukan kesempurnaan; sementara paling tingginya tingkatan wilayat insani adalah fana zati dan ini adalah puncak kesempurnaan yang dapat diraih oleh seorang manusia dalam perjalanan suluknya kepada Haq SWT. Oleh karena itu, fana zati, yakni ia tidak melihat suatu zat kecuali zat suci dan agung Tuhan. Ia tidak melihat dirinya, sifatnya, dan perbuatannya, serta ia tidak melihat irfan dan kemurnian perjalanan suluknya. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Sina tentang hal ini, barang siapa menginginkan irfan untuk irfan maka ia pada hakikatnya telah berpandangan (adanya keberadaan dan tujuan) yang kedua.
Seorang pesuluk yang telah mencapai muwahhid dan tauhidnya telah sempurna, dia tidak hanya tidak melihat sesuatu yang lain, tetapi lebih dari itu dia tidak melihat dirinya dan irfannya, yang dia lihat hanya ma’ruf (yang dikenal) dan tidak ada yang lain.
Parameter Jalan Menuju Kesempurnaan
Jika kita meneliti kandungan ayat-ayat Al-Quran dan kandungan riwayat-riwayat manusia suci (Maksumin) serta mempunyai kontemplasi dan perenungan yang cukup terhadap mereka, maka kita akan mendapatkan kebenaran masalah ini bahwa ukuran dan parameter pahala dan dosa, balasan pahala dan siksa akhirat tidak keluar dari ketaatan dan ‘inad (penentangan) terhadap perintah dan larangan Tuhan. Jadi sesuatu yang menjadi keniscayaan ajaran dari Al-Quran dan riwayat adalah, dosa-dosa yang keluar dari anak dan cucu Adam, hatta itu dosa besar, jika keluarnya dosa-dosa tersebut dikarenakan ketiadaan pengetahuan dan terjadi dikarenakan kejahilan murni maka mereka itu tidak akan menyebabkan balasan siksa bagi pelakunya. Sebagaimana ibadah dan perbuatan yang dilakukan jika tidak dimaksudkan untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Tuhan dan taat kepada-Nya maka pekerjaan-pekerjaan itu tidak akan membuahkan pahala. Kecuali ketaatan-ketaatan dan perkara-perkara yang merupakan kemestian secara zat dari ketundukan dan kepatuhan kepada Haq SWT dimana bentuk ketaatan dan perkara ini akan mendapatkan pahala, seperti sebagian dari keutamaan-keutamaan akhlak mulia.
Demikian pula pekerjaan dosa yang dilakukan seseorang yang tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang keberdosaan  dalam melakukan pekerjaan itu maka ia tidak patut dicela dan dipandang buruk, tapi seseorang yang mengerjakan perbuatan ketaatan dengan maksud penentangan dan mempermainkan hak Tuhan maka perbuatannya itu tidak kosong dari celaan dan keburukan. Oleh karena itu, ukuran ketaatan dan maksiat seseorang secara bergradasi dilihat dari tingkat makrifatnya terhadap ketaatan dan penentangan yang dilakukannya. Dalam riwayat terdapat hadis yang menyebutkan, paling utamanya amal adalah paling susahnya (dalam mengerjakannya). Dan mizan serta ukuran yang dihukumi akal terhadap pahala dan dosanya suatu perbuatan adalah makrifat dan kepatuhan kepada Haq SWT serta makrifat dan penentangan kepada-Nya.
Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia baik di dunia dan terlebih di akhirat tidak terlepas dari dua perkara tersebut, yakni ketaatan dan inad; karena itu kepatuhan dan penentangan secara esensial dan  bergradasi memiliki medan yang sangat luas. Dan dari pendekatan ini jelaslah bagi kita juga bahwa kebahagiaan bagi orang beragama hak (baca; orang muslim) adalah kesempurnaannya. Adapun mutlak kebahagiaan itu sendiri tidak terbatas bagi orang beragama hak, akan tetapi orang-orang lain juga akan mendapatkannya dengan syarat memiliki jiwa ketaatan dan kepatuhan kepada Haq SWT serta bersih dari sifat penentangan dan inad terhadap-Nya. Dan ini adalah sesuatu yang dihukumi akal dan terdapat dalam matlab syariat. Sebab syariat itu sendiri menegaskan perkara-perkara yang akal hukumi secara rasional dan argumentatif. Sebagaimana dalam hadis dinukil bahwa Nabi SAW bersabda: “Saya diutus untuk menyempurnakan makârim akhlak”. Demikian juga terdapat dalam riwayat bahwa Hâtim Thâii dikarenakan kedermawanannya maka dia tidak akan mendapatkan azab, sedangkan si fulan dikarenakan keadilannya maka dia tidak akan disiksa.
Kebanyakan ayat-ayat Al-Quran menjanjikan azab dan siksa bagi orang-orang yang telah sampai dalil dan penjelasan kebenaran kepada mereka serta hujjah kebenaran telah sempurna bagi mereka tetapi mereka tetap melakukan penentangan dan pembangkangan terhadapnya. Dan Al-Quran juga memandang kekafiran itu berkaitan dengan pembangkangan dan penentangan terhadap kebenaran ayat-ayat Tuhan: “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.” Di samping itu Al-Quran memandang satu-satunya ukuran kebahagiaan dan penderitaan, yaitu kebersihan jiwa dan kesucian hati: “Pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Cara ini adalah cara yang ditarbiyahkan oleh para nabi dan seluruh agama-agama Ilahi, dan tujuan capaian jalan ini adalah mutlak kesempurnaan insani di mana ia merupakan teori dan pandangan para filosof dan urafa Ilahi.
Makrifat Nafs, Jalan Syariat Islam
Jalan syariat Islam dalam meraih kesempurnaan dan kebahagiaan insani  (sebagaiman telah diisyaratkan pada paparan-paparan sebelumnya) adalah makrifat kepada Tuhan dengan jalan makrifat kepada nafs, di mana jalan ini merupakan paling dekatnya jalan dan paling sempurnanya natijah yang akan dicapai; sebab jalan ini merupakan paling kuat dan kokohnya jalan dalam membangun dan membentuk manusia menjadi manusia paripurna. Oleh karenanya ayat-ayat Al-Quran dan riwayat serta sunnah maksumin menjadikan titik perhatian jalan ini. Dengan berbagai bahasa dan ungkapan, manusia diajak kepada jalan lempang dan lurus ini, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” Ayat ini merupakan penjelasan yang menggambarkan kebalikan dari sabda Rasulullah SAW yang telah disebutkan sebelumnya: “Barang siapa yang mengenal dirinya maka sungguh dia mengenal Tuhannya.” Yakni, apabila orang melupakan Tuhan maka niscaya dia akan melupakan dirinya sendiri. Sementara jika orang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.
Perlu diketahui bahwa salah satu implikasi dari pengenalan diri yang akan membawa kepada pengenalan Tuhan adalah mengetahui  hak Tuhan dan mengetahui tugas serta kewajibannya sebagai hamba-Nya. Dan salah satu dari kewajiban hamba kepada Tuhan adalah mematuhi segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Seluruh bangunan akidah, hukum, sosial, politik, ekonomi, dan lainnya dalam Islam, serta akhlak sosial dan individual, semuanya bertujuan untuk menyempurnakan manusia. Oleh karenanya menaati dan mematuhinya akan membersihkan dan menyempurnakan nafs manusia serta membawa manusia kepada kebahagiaan. Sebaliknya, menentang dan melanggarnya akan mendegradasikan jiwa manusia dan menyeret manusia kepada penderitaan akhirat. Bersedekah dan berinfak sebagai salah satu wujud perbuatan sosial dan ekonomi Islam memiliki efek kepada nafs manusia. Sebagaimana dijelaskan oleh naql bahwa bersedekah dan berinfaklah supaya nafs kamu terbersihkan. Karena itu, pada hakikatnya seluruh bangunan syariat Islam adalah jalan untuk memsucikan jiwa dan menyempurnakan manusia.
Di dalam kitab Gurarul Hikam wa Durarul Kalim yang menyebutkan kalimat-kalimat qishâr Imam Ali, terdapat sekitar 22 hadis yang mengungkapkan tentang makrifat nafs, di antaranya: “Orang pintar dan cerdik adalah orang yang mengenal dirinya dan ikhlas (untuk Tuhan) dalam amal serta perbuatannya”, “Orang arif adalah orang yang mengenal nafsnya dan membebaskannya serta mensucikannya dari segala yang menjauhkannya (dari Tuhan)”, “Paling tingginya hikmah adalah pengetahuan manusia pada nafsnya”, “Makrifat pada nafs adalah paling bermanfaatnya dua makrifat.”
Allamah Thabathabai mengatakan dalam Tafsir Al-Mizan, secara zahir maksud dari Para Imam dari dua makrifat adalah makrifat terhadap ayat-ayat anfusi dan ayat-ayat afaqi, di mana Tuhan berfirman: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Tuhan adalah hak. Tidak cukupkah untuk jelasnya kebenaran Tuhanmu bahwa Dia hadir dan syahid atas segala sesuatu?”
Dengan melakukan perenungan dan kontemplasi terhadap ayat-ayat anfusi dan âfaqi akan membawa kita kepada pengenalan kepada Tuhan, dimana ini akan berimplikasi kepada pemahaman akan kehidupan abadi manusia yang dapat mendidik manusia untuk meraih kesempurnaan akhlak dan insaniah. Di samping itu, untuk mendapatkan kesempurnaan mesti berpegang kepada keyakinan tauhid, nubuwwah, dan maad. Maka peran agama hak dan syariat Ilahi dalam membimbing manusia dalam meraih kesempurnaan dan kebahagiaan sangatlah urgen dan dalam menapaki jalan hidayah ini, kedua jalan, yakni jalan anfusi dan âfaqi sangatlah berpengaruh dan bermanfaat dalam mengantarkan manusia kepada agama, keimanan, dan ketakwaan, namun berjalan pada jalan ayat-ayat anfusi lebih bermanfaat. Sebab berjalan pada jalan anfusi akan memberikan hasil makrifat hakiki dan hakikat makrifat.
Sebagian ulama berpandangan bahwa pengenalan nafs sebagai kait kepada pengenalan Tuhan (Barang siapa yang mengenal dirinya maka sungguh dia mengenal Tuhannya) adalah suatu perkara yang mustahil, sebab pengenalan Tuhan merupakan perkara mustahil; jadi pengenalan nafs juga adalah perkara yang tidak mungkin. Akan tetapi hadis di atas dan lahiriah hadis-hadis yang dikatakan Imam Ali dalam kalimat qisharnya menolak pandangan ini. Dan demikian pula sabda Nabi SAW lainnya yang menyatakan, “Paling arifnya kamu terhadap nafsnya adalah yang paling arifnya kamu kepada Tuhannya.” Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa makrifat kepada Tuhan, bukanlah suatu perkara mustahil (maksudnya makrifat dengan perantara ilmu hushuli, bukan hudhuri dan syuhudi) dan dalam batas kemungkinan manusia mengenal-Nya, bukan pengenalan dan pengetahuan yang mencakup secara sempurna kepada Tuhan, yang mana ini adalah perkara yang mustahil untuk dicapai manusia. Oleh karena itu, pengenalan manusia kepada Tuhan sebatas kemampuan manusia mengenal-Nya adalah suatu perkara mungkin dan natijah dari ini adalah kemungkinan manusia juga mengenal nafsnya (dan ini lebih mungkin lagi dan lebih terjangkau oleh fakultas makrifat manusia, sebab nafs, kendatipun ia wujud non-materi tetapi ia adalah wujud mumkin).
Jadi, jalan makrifat nafs merupakan perkara mungkin bagi setiap orang dan ini juga merupakan jalan yang disyariatkan Islam, sebagaimana dalil naqli dan aqli yang kita ungkapkan. Dan karena jalan ini adalah jalan yang paling dekat untuk sampai pada kesempurnaan maka sangat urgen untuk diketahui cara sayr dan suluk pada jalan ini. Pertanyaan kita sekarang adalah, bagaimana cara sayr dan suluk pada jalan ini? Siapa yang dapat menunjukkan kepada kita cara menapak pada jalan ini? Apakah berbagai cara dapat ditempuh dalam menapak jalan ini? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan masalah ini.
Ibadah dengan Jalan Syariat
Sesuai dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya, jelaslah bahwa kadar kesempurnaan seorang hamba sesuai dengan kadar ketaatan dan kepatuhannya kepada syariat Ilahi. Dan perkara kesempurnaan ini memiliki gradasi dan tingkatan-tingkatan derajat.
Sebagian ahli sayr dan suluk menyatakan bahwa meninggalkan sayr suluk syariat dan beralih kepada riyadah-riyadah yang berat merupakan suatu bentuk pelarian dari sayr suluk yang lebih sulit kepada yang lebih mudah!? Sebab mematuhi syariat itu sendiri merupakan suatu bentuk mematikan nafs secara berkesinambungan dan berangsur-angsur. Dan selama nafas masih ada maka selama itu juga mesti riyadah-riyadah syar’i dijalankan. Akan tetapi riyadah-riyadah berat (dimana syariat tidak mengizinkannya) terhitung sebagai mematikan nafs secara sekaligus dan tidak berangsur-angsur, karena itu bentuk riyadah ini lebih pendek, lebih mudah, dan lebih sedikit pengorbanannya.
Singkat matlab, syariat tidak melepaskan jalan sayr dan suluk dari jalan nafs dan makrifat terhadapnya.
Di dalam hadis Maksumin disebutkan bahwa terdapat  tiga bentuk ibadah hamba: Pertama, hamba beribadah dikarenakan menginginkan surga, kedua, hamba beribadah dikarenakan takut dari neraka, ketiga, hamba beribadah semata-mata dikarenakan untuk Tuhan, tidak karena takut dari neraka dan tidak karena menginginkan surga.
Dari ketiga bentuk ibadah yang disebutkan dalam hadis tersebut, selain bentuk ketiga, kedua bentuk lainnya ditinjau dari aspek tujuan untuk mendapatkan kemudahan dan terbebas dari azab maka tujuan akhirnya juga terhitung sebagai hasil dari keinginan nafsâni manusia. Oleh karena itu, arah dan tujuan ibadah kepada Tuhan dalam bentuk seperti ini, hanya dikarenakan untuk memenuhi keinginan nafsâni. Dalam ibadah ini manusia menjadikan Tuhan sebagai perantara untuk mencapai keinginan-keinginan nafsâni dirinya. Karena itu, ditinjau dari dimensi ini maka perantara sebagaimana ia perantara, tidak akan pernah menjadi maksud dan tujuan secara zat. Ia hanya akan menjadi maksud dan tujuan secara aksiden.
Hakikat ibadah seperti ini tidak lain merupakan pengejewantahan ibadah syahwat nafsâni, karenanya hanya ibadah bentuk ketiga, yakni ibadah murni untuk Tuhan yang dapat dihitung sebagai ibadah hakiki dan menjadi jalan sayr suluk para nabi-nabi Tuhan serta para wali-wali-Nya. Di dalam kitab suci Al-Quran diisyaratkan: “Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dalam hadis Maksumin diriwayatkan: “Barang siapa mencintai Allah Azza wa Jalla maka niscaya Allah mencintainya; dan barang siapa yang dicintai Allah, niscaya dia berada di antara orang-orang aman.”
Dinukil dalam  kitab Manaqib bahwa Rasulullah SAW sedemikian menangis hingga sampai pingsan. Kemudian mereka berkata kepada Nabi SAW, Wahai Rasulullah! Bukankah Tuhan telah mengampuni seluruh dosa-dosa kamu yang telah lalu dan akan datang?! (maksudnya ini semua tangisan untuk apa?) Nabi SAW lantas berkata, Apakah tidak ada aku sebagai hamba yang bersyukur ?!….
Sebenarnya, kembalinya syukur dan kecintaan itu hanya kepada satu hal, sebab syukur itu sendiri tidak lain adalah pujian terhadap sesuatu yang indah sebagaimana  ia indah. Oleh Karena itu, ibadah murni tidak lain merupakan perhatian yang sungguh-sungguh dan merendah serendah-rendahnya dalam berhadapan dengan Allah SWT, sebab hanya Dia yang secara zat Maha Indah dan Maha Agung. Jadi hanya dengan ini ibadah kepada-Nya dapat menjadi maksud dan tujuan bagi diri-Nya, bukan untuk maksud dan tujuan selain-Nya. Sebagaimana difirmankan-Nya: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Mahabbah Kepada Tuhan
Mahabbah dan kecintaan memiliki pengertian yang dalam dan penuh makna di dalam relung jiwa setiap pemiliknya. Ia bermakna kenyataan sempurna dan realitas keindahan serta keterpesonaan. Ia menjadi penyebab terciptanya hubungan mesra dan harmoni antara muhib (pecinta) dengan mahbub (dicintai). Karena itu, mahabbah merupakan wasilah bagi terjalinnya hubungan antara setiap pencari dan tujuan akhir, antara setiap murid dengan muradnya. Setiap pecinta mendapatkan daya tarik kepada yang dicintainya sehingga dia dengan perantara pertemuan (wusul) dengan mahbub (yang dicintai) menemukan hakikat keterpesonaan dan kefanaan.
Orang yang meyakini eksistensi pemilik keindahan mutlak, amat sangat kecintaannya kepada-Nya dan hatinya senantiasa terikat serta terpaut terhadap-Nya.
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”
Orang mukmin, hatinya terikat kepada Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai pusat perhatian dan kecintaannya. Para penyembah berhala menjadikan berhala-berhalanya sebagai teman sejatinya dan kecintaannya. Akan tetapi kecintaan orang-orang mukmin kepada Tuhan adalah lebih sangat dibandingkan kecintaan para penyembah berhala terhadap berhala-berhala mereka. Sebab, tidak ada keindahan seukuran kesempurnaan keindahan Tuhan dan tidak ada makrifat sempurna seukuran kesempurnaan makrifat kepada-Nya. Dan orang mukmin adalah orang yang paling arif (mengetahui) tentang keindahan dan kesempurnaan. Karena itu, orang mukmin adalah orang yang paling pecinta terhadap pemilik keindahan dan kesempurnaan mutlak.
Kecintaan tidak memiliki ukuran kuantitatif, kendatipun ia mempunyai tingkatan-tingkatan kualitatif. Ia memiliki gradasi keberadaan sesuai dengan derajat kecintaan itu sendiri. Sebab itu keistimewaan dan keutamaan kecintaan orang mukmin kepada Tuhan dibandingkan kecintaan penyembah berhala terhadap berhalanya dikarenakan; berhala (apapun bentuknya, termasuk syahwat hawa nafsu), kendatipun ia indah tapi keindahannya sebatas penglihatan dan pandangan atau sebatas keindahan imajinasi dan fantasi. Mempersepsi keindahan seperti ini dengan perantara indera dan imajinasi serta pengaruhnya sebatas alam penginderaan atau sebatas alam imajinasi dan fantasi. Oleh karena itu, mereka yang tenggelam dalam kecintaan berhala pada hakikatnya mereka yang tidak mempunyai kedalaman makrifat tentang alam realitas dan eksistensi. Mereka hanya mempunyai pengetahuan terhadap alam ini sebatas penginderaan, imajinasi, dan fantasi. Dan tentu saja persepsi keindahan mereka tidak akan melampaui batas-batas makrifat mereka terhadap alam realitas dan eksistensi tersebut. Karenanya mereka tidak akan pernah sampai pada kedalaman hakikat realitas dan eksistensi.
Adapun orang-orang mukmin tidak hanya memandang dengan penglihatan inderawi yang efeknya sebatas efek alam tabiat, atau memandang dengan pandangan imajinasi dan fantasi yang efeknya sebatas efek alam mitsali, tetapi mereka juga memandang dari jalan akal yang memiliki kesempurnaan efek lebih dari kedua alam tersebut. Maka dari itu pandangan orang-orang mukmin terhadap alam realitas dan eksistensi jauh lebih kuat dan lebih sempurna dari pandangan para penyembah berhala dan ini tentu saja melahirkan kecintaan yang lebih kuat mereka kepada Tuhan ketimbang kecintaan penyembah berhala terhadap berhala-berhala mereka.
Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”
Kesimpulannya, jika mahabbah dan kecintaan seseorang kepada dunia dan akhirat atau kepada Tuhan dan selain Tuhan adalah sama maka ia sebenarnya bukanlah seorang mukmin; sebab orang seperti ini tidak memiliki makrifat sempurna tentang alam realitas dan eksistensi. Padahal makrifat itu sendiri merupakan landasan fundamental mahabbah dan kecintaan terhadap sesuatu.
Nizhami, di akhir cerita Laila dan Majnun menuturkan: Laila, di akhir-akhir hayatnya mengalami sakit dan kesegarannya perlahan-lahan pupus. Ia mewasiatkan kepada ibunya, sampaikan pesanku kepada Majnun dan katakan kepadanya: Jika ia ingin memilih kekasih maka janganlah memilih teman dan kekasih sepertiku, dimana dengan satu sakit seluruh kesegarannya akan punah; ambillah teman yang selamanya tetap langgeng dan tidak akan pernah musnah.
Oleh karena itu, makrifat akan memberikan kecintaan hakiki dan kelalaian serta ketidaktahuan akan memberikan kecintaan palsu dan imitasi.
Makrifat, Ibadah, dan Kecintaan
Orang-orang mukmin hakiki memandang eksistensi ini memiliki ketunggalan dan keesaan. Mereka memandang realitas hanya milik eksistensi Tuhan beserta asma-Nya dan tajalli-Nya. Sebab sebagaimana dalil membuktikan bahwa tidak mungkin ada eksistensi lain selain eksistensi maha sempuna dan absolut Tuhan. Jika ada eksistensi lain, kendatipun ia wujud mungkin dan bergradasi rendah, selama ia diyakini memiliki hakikat dan realitas maka selama itu ia menjadi pembatas dari kesempurnaan absolut eksistensi Tuhan. Dan ini menyalahi statemen kesempurnaan tak terbatas dan absolut eksistensi Tuhan.
Ibadah kepada Tuhan tidak mungkin terealisasi secara maksimum dan sempurna tanpa dibarengi dengan makrifat yang sempurna kepada-Nya. Kendatipun ibadah itu sendiri juga merupakan mukaddimah dan persiapan untuk meraih makrifat yang lebih sempurna terhadap-Nya, tetapi untuk merealisasikan ibadah hakiki dibutuhkan perjalanan makrifat. Karena itu, ibadah dan makrifat memiliki hubungan saling meniscayakan satu sama lainnya, sebagaimana dinukil riwayat dari Ismail bin Jabir dimana Imam Shadiq bersabda : Ilmu dan amal saling meniscayakan satu sama lain; maka barangsiapa yang mengetahui dan mengamalkannya maka niscaya dia akan mendapatkan ilmu. Dan juga hadis dari Rasulullah SAW : Barangsiapa mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allah akan merezekikan kepadanya ilmu terhadap perkara yang belum diketahuinya.
Dari kedua hadis tersebut di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa ibadah mesti dilaksanakan berdasarkan makrifat sehingga ia dapat menciptakan ilmu dan makrifat yang lebih dalam dan hakiki. Dan sebaliknya makrifat yang hakiki dapat mengantarkan pada ibadah yang hakiki pula.
Firman Tuhan: “Barangsiapa menghendaki kemuliaan maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan baik, dan amal shaleh akan mengangkatnya.”
Demikian juga persepsi akal akan menguatkan statemen kita tentang kecintaan. Yakni kadar kecintaan dan keterikatan kepada sesuatu akan melahirkan kadar perhatian terhadapnya. Dan perhatian yang diejawantahkan dalam bentuk amal perbuatan akan menguatkan ilmu dan kecintaan.
Perlu diketahui bahwa dari ketiga kategori di atas; makrifat, ibadah, dan kecintaan, maka yang prinsipil dan asalah adalah makrifat. Sebab makrifatlah yang menjadi landasan ibadah dan kecintaan. Semakin dalam dan hakiki makrifat maka semakin hakiki ibadah dan kecintaan. Dan sebagaimana disinggung sebelumnya, untuk mendapatkan makrifat dibutuhkan pergerakan afaqi (di luar nafs) dan pergerakan anfusi (dalam nafs). Pergerakan afaqi adalah memikirkan, merenungkan, dan memandang kepada maujud-maujud afaqi (maujud-maujud di luar nafs manusia) seperti ciptaan dan karya Tuhan di langit dan di bumi; sehingga pergerakan afaqi ini membuahkan keyakinan kepada Tuhan, asma, dan perbuatan-Nya. Sebab maujud-maujud, efek-efek, dan makhluk-makhluk ini membuktikan keberadaan pengadanya Yang Maha Tunggal dan Maha Perkasa.
Adapun pergerakan anfusi adalah merujuk kepada nafs dan mengenal Tuhan dari jalannya; sebab nafs ditinjau dari segi keberadaan adalah tidak mandiri secara murni dan mengetahui maujud mandiri yang menjadi penegaknya tidak bisa dipisahkan darinya.
Kesimpulannya, untuk mencapai tujuan ini terdapat dua jalan; pergerakan afaqi dan pergerakan anfusi. Dan sebagaimana dijelaskan sebelumnya pergerakan anfusi atau maktrifat nafs adalah lebih utama dari pergerakan afaqi; sebab pengetahuan terhadap maujud-maujud afaqi ditinjau ia sebagai alamat dan efek Tuhan hanya akan membuahkan ilmu husuli terhadap wujud Tuhan dan sifat-sfat-Nya. Dan ilmu seperti ini hanya berhubungan dengan qadiyah yang memiliki subyek dan predikat dan keduanya tidak lain hanyalah mafhum atau komprehensi. Untuk menjelaskan masalah ini lebih jauh dibutuhkan uraian dan penjelasan filsafat yang bukan tempatnya di sini.
Adapun makrifat nafs, natijahnya adalah makrifat hakiki; sebab seseorang yang ingin memusatkan perhatiannya kepada Tuhan dan meninggalkan setiap apa yang menjadi penghalang yang menyibukkan dirinya kepada selain Tuhan, ia mesti menyibukkan diri terhadap makrifat nafs sampai ia menyaksikan (dengan jalan musyahadah) bahwa nafsnya secara zat butuh kepada Tuhan. Dan barangsiapa yang mencapai maqam seperti ini, ia menyaksikan dirinya tidak terpisahkan dari menyaksikan penegaknya, yakni Tuhan. Dengan demikian ia akan mengenal Tuhan dengan makrifat badihi dan jelas.
Tidak diragukan bahwa setiap orang secara fitrah menginginkan kesempurnaan sejati dan keindahan hakiki dan jalan untuk menggapai tujuan ini tidak lain adalah makrifat, ibadah, dan kecintaan kepada eksistensi pemilik kesempurnaan dan keindahan absolut. Dengan pergerakan anfusi (makrifat nafs dan sayr suluk), manusia selangkah demi selangkah akan bergerak menuju tingkatan kesempurnaan insani dan menjadi manusia sempurna atau insan kamil. Dan orang yang mencapai maqam ini layak diseru oleh Al-Quran dengan, “Wahai jiwa (nafs) yang tenang ! Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”


Post a Comment