Friday, July 6, 2012

Kesadaran Ruh Ilahi

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Kesadaran Ruh Ilahi

Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia sejati (insan kamil) terdapat secuil ‘unsur yang sangat mulia,’ yaitu yang dibahasakan dalam Al Qur’an sebagai ‘Ruhul Quds’. Ruhul Quds bukanlah malaikat Jibril a.s., Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruh Al-Quds. Ruh Al-Quds juga dikenal dengan sebutan Ruh min Amr, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab). Dalam agama saudara-saudara dari nasrani, disebut Roh Kudus.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku [Ruh min Amri Robbi], dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al Israa’: 85)

Ruh-Nya atau Ruhul Quds ini bukan dalam pengertian bahwa Allah memiliki ruh yang menghidupkan-Nya seperti kita. Ruh ini merupakan ruh ciptaan-Nya, sebagaimana ruh yang menjadikan diri kita hidup sekarang, namun dalam martabat tertingginya, dalam tingkatannya yang paling agung dan
paling dekat kepada Allah.

Dengan adanya Ruh yang berasal dari sisi Allah swt inilah manusia mempunyai kesadaran akan Tuhan dan bisa terhubung dengan Tuhan, Kesadaran bertuhan inilah yang saya sebut
Kesadaran Ruh Ilahi. Ruh ini bersifat sebagai Cermin yang Suci dan jernih yang mampu memantulkan kembali Cahaya Nur Allah dan Sifat-sifat Allah yang Maha Agung, dan Mampu memantulkan kembali Getaran Cahaya Nama-nama Indah Allah swt (Asma'ul Husna). Sehingga menjadi terang benderanglah diri kita.

Roh itu termasuk urusan Tuhanku
[Ruh min Amri Robbi] bermakna Hanya melalui Kesadaran Ruh Ilahiah inilah manusia mampu terhubung dengan Cahaya Allah yang memancar dari ARSY ALLAH atau Alam Maha Kosmos atau Alam Ketuhanan. Karena Kesadaran ini tidak muncul dan berasal dari kemampuan manusia dalam mengolah dan meningkatkan kesadaran spiritualnya, namun murni anugerah Allah swt. dari Alam Amr Tuhan

Apabila
Ruh Ilahi diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani di ibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya.
Setiap ciptaan memiliki ruh. Manusia (ruh insani), tanaman (ruh nabati), hewan (ruh hewani), bahkan benda mati pun memilikinya. Atom-atom dalam benda mati sebenarnya ‘hidup’ dan terus berputar, dan ruh bendawi inilah yang menjadikannya ‘hidup’. Karena itu pula, benda, tumbuhan, hewan, bahkan anggota tubuh kita kelak akan bersaksi mengenai perbuatan kita di dunia ini. Namun demikian, ruh-ruh ini bukanlah ruh dalam martabat tertingginya seperti Ruh Al-Quds.

Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruh Al-Quds, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk manapun juga. Termasuk lebih mulia dari Malaikat dan Iblis dan seluruh makhluk di alam semesta.


Allah swt berfirman dalam Surat Al Kahfi ayat 50,
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim."[QS. Al Kahfi : 50]

Dengan adanya kesadaran Ruh Ilahiah inilah seorang manusia mampu untuk mengakses dan menundukkan segala kekuatan yang ada di alam semesta tanpa khawatir terkena resonansi negatif  (Magnet Dunia/Hubbud Dunya) dari mereka. Allah swt berfirman :

"Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”
(QS. Al-Jaatsiah; 13)

Perhatikan juga kata ‘Ruh-Ku’ dalam ayat 38:72, yang ditiupkan pada diri Adam saat penciptaannya:

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya.”.
(Q.S. 38:72)

Pada Adam as dan Isa as, dua manusia yang diciptakan-Nya langsung dengan ‘tangan-Nya’ tanpa melalui proses pembuahan, Kesadaran Ruh ilahiyah ‘penyempurna’ ini langsung ‘terbuka' ketika mereka diciptakan. Karena itulah, dalam proses penciptaan Adam as, setelah ditiupkannya Ruh-Nya, para malaikat pun sujud kepada Beliau.


Sedang pada kita manusia biasa yang tercipta melalui proses alamiah atas kehendak-Nya, Kesadaran Ruh Ilahi ini masih terhijab dari kesadaran jiwanya. Sehingga Cahaya Ilahi belum dapat sepenuhnya memancar ke dalam hati dan diri kita.


Manusia biasa selain Nabi Adam as dan Isa as, untuk dapat terbuka kesadaran Ruh Al-Qudsnya, harus melewati perjuangan diri. Mereka harus membuktikan pada Allah bahwa mereka layak untuk dianugerahi ‘unsur’ yang paling agung yang bisa didapatkan oleh makhluk ke dalam jiwanya. Mereka harus mampu meningkatkan kesadaran dirinya hingga derajat kesempurnaan jiwa atau Insan Kamil.


Hal ini tentu saja tidak mudah dan membuat kesadaran Ilahiah ini menjadi konsep yang melangit dan tidak terjangkau oleh umat manusia. Oleh karena itulah karena sifat Kasih sayang Allah swt, maka setiap manusia bisa memperolehnya melalui
MEKANISME & SISTEM HIDAYAH yang telah diberikan Allah swt untuk umat manusia melalui utusan-Nya yaitu Rasulullah saw dengan mendapatkan syafaat dari beliau dan para pewaris beliau..

Berikut ini adalah gambaran Mekanisme Hidayah menurut Al-Quran & Hadits :


"
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan."( QS. Al Maidah 5:15 )

“Katakanlah (hai Muhammad), “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat (kitab-kitab)-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Al-A’raaf : 158)

"
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus."
( QS. Asy Syuura 42:52 )

"
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."( QS. Al An'am 6:125 )

"
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. Al Baqarah 2:272 )

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya
(وَلِيّاً مُّرْشِداً)." (QS. Al Kahfi : 17 )

Sabda Rasulullah SAW :


إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ


Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bahagian yang banyak.”
(Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Imam Syafi`i berkata,

“Aku mengadukan perihal keburukan hafalanku kepada guruku, Imam Waki’ bin Jarrah. Guruku lalu berwasiat agar aku menjauhi maksiat dan dosa. Guruku juga berkata, ‘Muridku, ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang suka berbuat maksiat.’”


Ibn Al-Qayyim menulis bahwa,

Sesungguhnya ilmu adalah sinar yang diletakkan oleh Allah di dalam hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut”


Nur AL-WASILAH
, adalah Nur syafaat dari Rasulullah yang diberikan kepada umat manusia dan yang kemudian Beliau wariskan kepada para sahabat dan diwariskan secara berantai oleh Para Guru Sufi. Nur AL-WASILAH inilah yang kami warisi dari Guru kami, yang mana guru-guru kami tersebut bersambung hingga ke Sahabat Abu Bakar Ashiddiq.

Dengan adanya Nur Al-Wasilah yang ditanamkan ke dalam dada manusia, maka lapisan tubuh spiritual manusia pada dimensi atas termasuk Kesadaran Ruh Ilahiahnya akan terbuka hijabnya. Sehingga Cahaya Allah dapat menerobos ke relung jiwa dan hati manusia yang tergelap dan paling dasar sekalipun. Mengenai 7 Lapis Tubuh Energi Manusia, silahkan baca
di sini... Link : http://www.naqsdna.com/2011/10/7-lapis-tubuh-energi-kesadaran-ruh.html

"
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."( QS. Az-Zumar 39:22 )

Tekhnik untuk memperoleh dan mewarisi NUR ini adalah melalui kekuatan hubungan bathin yang terbina dan terjalin melalui hubungan Silaturahmi dan keakraban secara lahir dan bathin dengan manusia yang sudah lebih dulu memperolehnya. Sebagaimana sahabat yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Sedangkan perangkat untuk menumbuh kembangkan NUR tersebut adalah diolah melalui Qalbu, syariat lahir, dan syariat batin.


Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:

“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah rådhiyallåhu ‘anhu berkata,

“Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya.”


Dengan demikian, bagi manusia yang belum memiliki ‘unsur’ ini dalam dirinya, sangat wajar jika malaikat tidak akan tunduk padanya, dan dia memang belum layak untuk ‘disujudi’.


Jadi kurang tepat jika kita mengatakan dengan terlalu mudah bahwa manusia, atau kita, adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta. Manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah diperangkati Allah dengan ‘unsur :
Kesadaran Ruh Ilahi’ ini. Jika belum diperangkati dengan unsur ini, bahkan kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak.

Perhatikan Firman Allah swt ini :

"atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)."
(Q.S. 25:44)
Post a Comment