Thursday, July 5, 2012

keikhlasan

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Tiada Kesempurnaan Tanpa Ikhlas


Tanamkan wujudmu dalam bumi yang tersembunyi, karena yang tumbuh dari sesuatu yang tidak ditanam itu tidak sempurna hasilnya
Hikmah sebelumnya mengarahkan pandangan kita kepada ikhlas. Ikhlas menjadi kekuatan yang dapat menghalau syirik. Jalan syirik adalah kepentingan diri sendiri. Oleh sebab itu, diri sendiri harus diperhatikan untuk menjauhkan terjadinya syirik. Bila kepentingan diri sendiri ditundukkan, barulah muncul keikhlasan.
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz-Dzariyat: 21).
Hikmah sebelas mengajak kita menyelami persoalan yanglebih halus, yaitu hakikat diri kita sendiri atau wujud kita. Kita dijadikan dari tanah, maka kembalikan ia (jasad) kepada tanah, yaitu ia (jasad) harus dilayani sebagai tanah supaya ia tidak menggunakan tipu dayanya. Apabila sudah dapat menghindari pengaruh jasad, selanjutnya kita berurusan dengan ruh. Ruh datangnya dari Allah swt, karena ruh adalah urusan Allah swt, maka kembalikan ia kepada Allah swt. Apabila seorang hamba sudah tidak terikat lagi dengan jasad dan ruh, maka jadilah ia bekas yang sesuai untuk diisi oleh Allah swt.
Pada awal perjalanan, seorang pengembara keruhanian membawa bersamanya sifat-sifat basyariyah serta kesadaran terhadap diri dan alam nyata. Dia dikawal oleh kehendak, pemikiran, cita-cita, angan-angan dan lain-lain. Anasir-anasir alam seperti mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan turut mempengaruhinya. Latihan keruhanian menghancurkan sifat-sifat yang keji dan memutuskan rantaian pengaruh anasir-anasir alam.
Jika diperhatikan Kalam-kalam Hikmah sebelumnya dapat dilihat bahwa hijab nafsu dan akal yang membungkus hati mengakibatkan kebenaran menjadi tidak kelihatan. Akal yang ditutupi oleh kegelapan nafsu, yaitu akal yang tidak menerima pancaran nur, tunduk kepada perintah nafsu. Nafsu tidak pernah kenyang dan akal senantiasa menyiapkan jawaban dan alasan. Dalil akal menjadi benteng yang kukuh untuk bersembunyinya nafsu. Jangan memandang enteng kepada kekuatan nafsu dalam menguasai akal dan pancaindera. Al-Quran telah memberi peringatan mengenainya:
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya” (dari binatang ternak itu) (QS. Al-Furqan: 43-44).
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (QS. Al-A’raf: 176).
Manusia yang menerima ayat-ayat Allah swt seharusnya menjadi mulia, tetapi bertukar menjadi hina dikarenakan mereka memperturutkan hawa nafsu. Ayat-ayat Allah swt dapat memancarkan cahaya pada hati dan akalnya, akan tetapi kegelapan nafsu membungkus cahaya itu. Di dalam kegelapan nafsu, akal membuat hujah untuk mendustakan ayat-ayat Allah swt yang dia sendiri mengetahuinya. Allah swt membuat penggambaran yang hina bagi orang yang seperti ini. Mereka umpama anjing yang yang tidak berfikir dan tidak berwibawa. Buruk sekali pandangan Allah swt terhadap orang yang mempertuhankan nafsunya. Nafsu yang tidak mengenal puas seumpama anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya, tidak memperdulikan walaupun dihalau berkali-kali.
Allah swt mewahyukan ayat-ayat yang menceritakan tentang kehinaan manusia yang menerima ayat-ayat-Nya tetapi masih juga memperturutkan hawa nafsu, supaya ajaran yang demikian memberi kesadaran kepada mereka. Jika kembali sadar, mereka akan keluar dari kegelapan nafsu. Dengan panduan ayat-ayat Allah swt yang sudah mereka ketahui akan ditemukan jalan yang benar.
Ayat-ayat yang diturunkan Allah swt memberi pemahaman kepada Rasulullah saw bahwa cendekiawan Arab yang menentangnya bukan karena tidak dapat melihat kebenaran yang dibawa Rasulullah saw, tetapi mereka dikuasai oleh kegelapan nafsu. Orang yang telah menerima cahaya kebenaran tetapi mendustakannya, itulah yang diberi perumpamaan yang hina oleh Allah swt.
Menurut cerita Ibnu Abbas, pada zaman Nabi Musa as ada seorang alim bernama Bal’am bin Ba’ura. Allah swt mengaruniakan kepada Bal’am rahasia khasiat-khasiat nama-nama Allah Yang Maha Besar. Nabi Musa as dan kaum Bani Israil, setelah selamat dari Firaun, hampir sampai ke tempat tinggal Bal’am. Raja negeri tersebut ketakutan, kalau-kalau negerinya diserang oleh kaum yang telah berhasil menewaskan Firaun. Setelah bermusyawarah dengan penasihat-penasihatnya, raja tersebut memutuskan untuk meminta pertolongan Bal’am agar ia menggunakan ilmunya untuk mengalahkan Nabi Musa as. Bal’am yang mulanya tidak mau berbuat demikian tetapi akhirnya setuju juga setelah istri kecintaannya menerima sogokan dari raja. Menurut cerita, doa dan perbuatan Bal’am dimakbulkan Allah swt dan ia menjadi sebab kaum Nabi Musa terperangkap di Padang The beberapa tahun lamanya. Nabi Musa as mendoakan gar kaumnya terlepas dari tipu daya Bal’am, Allah swt memakbulkan doa tersebut dan pada waktu yang sama turun lakna kepada Bal’am.
Sebagian orang menganggap cerita di atas sebagai cerita Israiliyat. Rasulullah saw menjelaskan bahwa cerita ahli kitab tidak dibenarkan dan didustakan seluruhnya. Cerita tersebut diungkapkan sekadar menunjukkan sejauh mana kekuatan nafsu menutupi pandangan hati sehingga Bal’am sanggup menentang Nabi Musa as walaupun dia mengetahui kebenarannya, sebagaimana cendekiawan Arab menentang Rasulullah saw sekalipun hati kecil mereka menerima kebenaran Baginda saw. Menundukkan nafsu bukanlah pekerjaan mudah. Seseorang perlu kembali kepada hatinya, bukan akalnya. Hati tidak akan berbohong dengan diri sendiri sekalipun akal menutupi kebenaran atas perintah nafsu. Kekuatan hati adalah ikhlas. Maksud ikhlas yang sebenarnya adalah:
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An’am: 162).
Dalam ikhlas tidak ada kepentingan diri. Semuanya karena Allah swt. Selagi kepentingan diri tidak ditanam dalam bumi, selagi itu pula ikhlas tidak tumbuh dengan baik. Ia menjadi sempurna apabila wujud diri itu sendiri ditanamkan. Bumi tempat menanamnya adalah bumi yang tersembunyi, jauh dari perhatian manusia lain. Ia adalah seumpama kubur yang tidak bertanda.

Ikhlas adalah Ruh Ibadah

 

Amalan lahiriah merupakan kerangka, sedangkan ruhnya adalah ikhlas yang tersembunyi dalam amalan tersebut
Amal lahiriah digambarkan sebagai batang tubuh dan ikhlas digambarkan sebagai nyawa yang menghidupkan batang tubuh itu. Seandainya kita kurang mendapat efek yang baik dari latihan keruhanian, hendaklah kita merenung dengan mendalam terhadap batang tubuh amal, apakah ia bernyawa atau tidak.
Hikmah sepuluh ini menghubungkan amal dengan ikhlas. Hikmah sembilan yang lalu telah menghubungkan amal dengan hal. Kedua Kalam Hikmah ini membina jembatan yang menghubungkan hal dengan ikhlas. Ikhlas menjadi persediaan yang penting bagi hati menyambut kedatangan pencahayaan Nur Ilahi. Apabila Allah swt berkehendak memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba-Nya maka dipancarkan Nur-Nya kepada hati hamba tersebut. nur yang dipancarkan kepada hati dinamakan Nur Sir atau Nur Rahasia Allah swt. Hati yang diterangi oleh nur akan merasakan hal ketuhanan atau mendapat tanda-tanda tentang Tuhan. Setelah mendapat pertanda dari Tuhan maka hati pun mengenal Tuhan. Hati yang memiliki ciri atau sifat begini adalah hati yang mempunyai ikhlas tingkat tertinggi. Tuhan berfirman untuk menggambarkan ikhlas dan hubungannya dengan ma’rifat:
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (QS. Yusuf: 24).
Nabi Yusuf as adalah hamba Allah swt yang ikhlas. Hamba yang ikhlas berada dalam pemeliharaan Allah swt. Apabila dirangsang untuk melakukan kejahatan dan kekotoran, Nur Rahasia Allah swt akan memancar di dalam hatinya sehingga dia menyaksikan dengan jelas akan tanda-tanda Allah swt dan sekaligus meleburkan rangsangan jahat tadi. Inilah tingkat yang tertinggi yang dimiliki oleh orang arif dan dekat dengan Allah swt. Mata hatinya senantiasa memandang kepada Allah swt baik semasa beramal ataupun semasa terdiam. Allah swt sendiri yang memeliharanya. Allah swt mengajarkan agar hamba-Nya terhubung dengan-Nya dalam keadaan ikhlas.
“Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. Al-Mu’min: 65).
Allah swt Yang Maha Hidup. Dia memiliki segala kehidupan. Dia jualah Tuhan sekalian alam. apa saja yang ada dalam alam ini adalah ciptaan-Nya. Apa saja yang hidup adalah diperhidupkan oleh-Nya. Jalan dari Allah swt adalah nikmat dan karunia, sementara jalan dari hamba kepada-Nya harus disertai dengan ikhlas. Hamba dituntut supaya mengikhlaskan segala aspek kehidupan untuk-Nya. Dalam melaksanakan tuntutan mengikhlaskan kehidupan untuk Allah swt ini, hamba tidak boleh merasa takut dan gentar kepada sesama makhluk.
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Al-Mu’min: 14).
Allah swt telah menetapkan kode etik kehidupan yang perlu dijunjung, dihayati, diamalkan, disebarkan dan diperjuangkan oleh kaum muslimin dengan sepenuh jiwa raga dalam keadaan ikhlas karena Allah swt, meskipun ada orang-orang yang tidak suka, orang-orang yang menghina, orang-orang yang membangkang dan mengadakan perlawanan. Keikhlasan yang diperjuangkan dalam kehidupan dunia ini akan dibawa bersama apabila menemui Tuhan kelak.
Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)” (QS. Al-A’raf: 29).
Sekalipun sukar mencapai peringkat ikhlas yang tertinggi, namun haruslah diusahakan agar memperoleh keadaan hati yang ikhlas dalam segala perbuatan baik yang lahir maupun yang batin. Orang yang telah tumbuh di dalam hatinya rasa cinta terhadap Allah swt akan berusaha membentuk hati yang ikhlas. Mata hatinya melihat bahwa Allah swt jualah Tuhan Yang Maha Agung dan dirinya hanyalah hamba yang hina. Hamba berkewajiban tunduk, patuh, dan taat kepada Tuhannya. Orang yang di dalam maqam ini beramal karena Allah swt; karena Allah swt yang memerintahkan supaya beramal, karena Allah swt berhak ditaati, karena perintah Allah swt wajib dilaksanakan, semuanya karena Allah swt, tidak karena sesuatu yang lain. Golongan ini sudah dapat memborgol hawa nafsu yang rendah dan pesona dunia tetapi dia masih melihat dirinya di samping Allah swt. Dia masih melihat dirinya yang melakukan amal. Dia gembira karena menjadi hamba Allah swt yang beramal karena Allah swt. Sifat kemanusiaan masih mempengaruhi hatinya.
Setelah keruhaniannya meningkat, hatinya dikuasai sepenuhnya oleh perlakuan Allah swt menjadi orang arif yang tidak lagi melihat kepada diri dan amalnya tetapi melihat llah swt, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Apa saja yang ada bersamanya adalah anugreah Allah swt. Sabar, ridha, tawakal dan ikhlas yang ada bersamanya merupakan anugerah Allah swt, bukan amal yang lahir dari kekuatan dirinya.
Tingkat ikhlas yang paling rendah ialah apabila amal perbuatan masih terikat dengan keinginan kepada pahala yang dijanjikan Allah swt. Ikhlas seperti ini dimiliki oleh orang yang masih kuat bersandar kepada amal, yaitu hamba yang mentaati Tuannya karena mengharapkan upah dari Tuannya itu.
Di bawah tingkatan ini tidak dinamakan ikhlas lagi. Tanpa ikhlas, seseorang beramal karena suatu tipuan keduniaan; mau dipuji, mau menutupi kejahatannya agar orang percaya kepadanya dan bermacam-macam tipuan rendah lainnya. Golongan ini walaupun banyak melakukan amalan, namun amalan mereka seumpama tubuh yang tidak bernyawa, tidak dapat menolong tuannya dan dihadapan Tuhan nanti akan menjadi debu yang tidak memberi syafaat terhadap orang yang melakukannya. Setiap orang yang beriman kepada Allah swt haruslah menguasakan ikhlas pada amalannya karena tanpa ikhlas akan menjadi syirik yang menyertai amalan tersebut.
“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (QS. Al-Hajj: 31).
Dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Yunus: 105-106).
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj: 37).
Allah swt menyeru sekaligus cupaya berbuat ikhlas dan tidak berbuat syirik. Ikhlas adalah lawan dari syirik. Jika suatu amal dilakukan dengan anggapan bahwa ada makhluk yang berkuasa mendatangkan manfaat atau mudharat, maka tidak ada ikhlas pada amal tersebut. Bila tidak ada ikhlas akan muncul syirik, yaitu sesuatu atau seseorang yang kepadanya amal itu dituukan. Orang yang beramal tanpa ikhlas itu disebut orang yang zalim, walaupun pada lahiriyahnya dia tidak menzalimin siapapun.
Intisari kepada ikhlas adalah melakukan sesuatu semata-mata karena Allah swt, tidak ada kepentingan lain. Kepentingan diri sendiri merupakan musuh ikhlas yang paling utama. Kepentingan diri lahir dari nafsu. Nafsu menginginkan kemewahan, kedudukan, kemuliaan, puji-pujian dan sebagainya. Apa yang lahir dari nafsu itulah yang sering menghalangi atau merusakkan ikhlas.
Post a Comment