Thursday, July 12, 2012

Faidah Tafsir Ihdinash Shirathal Mustaqim

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

اهدنا الصراط المستقيم

beri kami hidayah menuju jalan yang lurus.
Hidayah ada dua macam:
  1. Hidayah irsyad berupa ilmu.
  2. Hidayah taufiq berupa kekuatan untuk mengamalkan ilmu sesuai manhaj yang benar.
Kita senantiasa diperintahkan meminta hidayah setiap kali shalat mengapa? Ibnu Qayyim menjawab bahwa hidayah Allah amat banyak, karena ilmu Allah amat luas dan kebutuhan kita kepada ilmu sebanyak tarikan nafas kita setiap waktu kata imam Ahmad.Bila kita telah mendapat hidayah dalam aqidah dan ibadah maka apakah kita telah mendapat hidayah dalam tingkah laku kita, cara berpakaian kita, gaya hidup kita? Masih banyak ilmu yang belum kita ketahui. Oleh karena itu amat layak bila kita selalu minta hidayah di setiap kali shalat.
Sementara ibnu Katsir memandang bahwa permohonan kita untuk diberi hidayah setiap kali shalat walaupun kita telah mendapatkannya memberikan sinyal agar kita senantiasa diberikan istiqamah dalam berpegang kepada hidayah. Karena untuk langgeng diatas hidayah amat berat dan terjal butuh kekuatan berupa taufiq dari Allah, maka kita terus memohon hidayah agar dapat istiqamah sampai akhir hayat kita.
Bagaimana mendapatkan hidayah?
Untuk mendapatkan hidayah harus terpenuhi syarat dan hilang penghalangnya. Adapun syaratnya adalah:
  1. Keinginan untuk mendapat hidayah disertai usaha untuk meraihnya.
  2. Cinta kepada hidayah dan mendahulukannya.
Dan ini tentunya membutuhkan hati yang baik, karena hujan dapat diresap oleh tanah yang subu nan gembur.
Penghalang hidayah
Adapun penghalang hidayah adalah banyak, diantaranya:
  1. Sombong. Sebagaimana iblis enggan untuk sujud kepada Adam karena kesombongannya.
  2. Hasad alias dengki. Seperti Yahudi yang hasad karena ternyata Nabi Terakhir itu muncul bukan dari banu israil tapi dari banu ismail.
  3. Lebih mendewakan akal di atas dalil.
  4. Berbaik sangka kepada nenek moyang dan fanatik kepadanya.
  5. Lebih mendahulukan teman-teman yang buruk yang menyeretnya kepada kebinasaan.
  6. Dan lain-lain.
Fawaid :
Tunjuki kami ke jalan-Mu yang lurus. Dalam ayat itu kita diperintah untuk memohon hidayah kepada jalan yang lurus, dan jalan yang lurus itu adalah jalan yang dipancangkan oleh Allah Azza wa Jalla, siapa saja yang mencari jalan lainnya maka ia tidak akan sampai kepada Allah kata ibnu Qayyim.
Jalan itu mempunyai sifat-sifat yang hendaknya kita ketahui, diantaranya:
1.  Satu tak berbilang.
Jalan menuju Allah hanya satu tak berbilang, oleh karena itu ketika Nabi mengabarkan bahwa umat islam berpecah belah kepada 73 golongan, beliau mengabarkan bahwa yang selamat hanya satu saja. Ini menunjukkan bahwa jalan kebenaran hanya satu saja.
2. Jalan Rasulullah dan para shahabatnya.
Sebagaimana dijelaskan oleh nabi bahwa golongan yang selamat itu adalah Rasulullah dan shahabat diriwayatkan abu dawud dan dihasankan oleh syaikh Al Bani.
3. Tengah-tengah antara sikap ghuluw dan sikap tafrith (menganggap enteng).
Sebagaimana islam tengah-tengah antara yahudi dan nashrani demikian pula jalan kebenaran, ia bersifat wasath (tengah-tengah) diantara kaum yang ghuluw dan kaum yang tafrith.
4. Hanya fanatik kepada Allah dan RasulNya.
Karena kebenaran hanya yang bersumber dari Al Qur’an dan sunnah maka fanatik mereka hanya kepada keduanya, bukan kepada fulan dan ‘Allan.
5. Lebih mendahulukan wahyu di atas ra’yu.

Post a Comment