Saturday, July 21, 2012

Dialog Ihwal Pembuktian Wujud Tuhan

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Dialog Ihwal Pembuktian Wujud Tuhan
 

Seorang pemuda komunis datang pada saya dan berkata: "Apakah Anda mengizinkan saya untuk berdialog dengan Anda tentang Tuhan?"
Saya berkata: "Silahkan!"
Dia berkata: "Apakah telur ayam yang lebih dulu ada kemudian ayam ataukah sebaliknya ayam dulu kemudian telur?"
Saya berkata: "Menurut Anda bagaimana?"
Beberapa menit dia berpikir lalu berkata: "Saya tidak tahu."
Saya berkata: "Apa kaitan pertanyaan ini dengan ada dan tiadanya Tuhan?" Anggaplah telur lebih dulu dari pada ayam atau sebaliknya ayam lebih dulu dari pada telur, maksudnya apa?"
Dia berkata: "Kelompok komunis mengatakan: Stetmen semacam ini menjadi dalil bahwa Tuhan itu tidak ada."
Saya berkata: "Bagaimana bisa ini menjadi dalil tidak adanya tuhan?"
Dia berkata: "Saya juga tidak tahu."
Saya berkata: "Lalu bagaimana Anda bisa berdialog tentang sesuatu yang Anda tidak tahu, pergi dan carilah seorang komunis dan tanyakan padanya tentang maksud dari pernyataan di atas, kemudian bawa ke sini jawabannya dan kita berdialog kembali."
Kemudian saya berkata: "Namun pertanyaan ini, kebalikan dari apa yang dikatakan oleh komunis tersebut kepada Anda merupakan dalil akan eksistensi Tuhan."
Dia berkata: "Bagaimana?"
Saya berkata: "Karena, kedua telur dan ayam ini harus diciptakan secara bersamaan ataukah pertama ayam kemudian bertelur atau sebaliknya telur dulu lalu menjadi ayam, pada akhirnya apapun yang lebih dulu, pasti ada penciptanya."
Dia berkata: "Apa yang dikatakan oleh komunis?"
Saya berkata: "Pergi dan tanyakan saja pada mereka."
Dia berkata: "Apakah Anda tahu apa yang dikatakan oleh komunis itu?"
Saya berkata: "Iya."
Dia berkata: "Apa yang mereka katakan?"
Saya berkata: "Mereka mengatakan: Sesuatu yang paling awal ada di alam tabiat adalah sel-sel, kemudian sel-sel ini menjadi banyak sehingga berbentuk seekor hewan, lalu hewan tersebut berubah menjadi seekor ayam dan ayam itu pun bertelur."
Dia berkata: "Apa jawaban Anda?"
Saya berkata: "Jawaban saya sangat jelas, tentang keberadaan sesuatu yang memberi kehidupan terhadap sel-sel yang menurut Anda adalah awal keberadaan. Saya bertanya apakah sesuatu yang memberi kehidupan kepada yang lain itu adalah sesuatu yang hidup ataukah sesuatu yang mati?"
Kalau dikatakan: "Sesuatu yang memberikan kehidupan kepada sel-sel tersebut adalah sesuatu yang tidak hidup dan mati, maka akan kita katakan: Sesuatu yang dia sendiri tidak hidup, tidak akan bisa memberi kehidupan kepada yang lain, apakah logis jika Anda bisa memberi uang kepada seseorang sementara Anda sendiri tidak punya uang?"
Dia berkata: "Tidak!"
Saya berkata: "Dan jika dikatakan: Hal atau sesuatu yang memberi kehidupan kepada sel-sel tersebut adalah sesuatu yang hidup dan menghidupkan, maka kita akan bertanya kepada mereka: Sesuatu tersebut, - yang mana adalah sesuatu yang hidup -, itu apa?"
Di sini terpaksa harus mengakui tentang eksistensi Tuhan, karena sesuatu tersebut adalah sesuatu yang maha hidup dan itu tidak lain adalah Allah Swt.
Dia berkata: "Kenapa tidak mungkin, di mana hayat (hidup) yang ada pada sel-sel paling awal tersebut adalah sesuatu yang terwujud secara kebetulan?"
Saya berkata: "Kebetulan itu apa? Apakah maknanya adalah hayat  yang ada dalam sel-sel tersebut terwujud, tanpa sebab atau dengan sebab?"
Dia berkata: "Dengan sebab."
Saya berkata: "Sebab itu, apa?"
Saya berkata: "Tanpa sebab."
Saya berkata: Tidak logis jika sesuatu itu terwujud tanpa sebab, karena ibaratnya Anda mengatakan pulpen ini atau kamar ini ada tanpa sebab. Apakah ada di antara manusia berakal mengizinkan dirinya untuk mengungkapkan hal semacam ini?"
Dia berkata: "Kalau setiap sesuatu itu bisa terwujud karena ada sebab, maka sebab wujud tuhan apa?"
Saya berkata: "Eksistensi setiap sesuatu itu bersumber dari Tuhan, sementara eksistensi Tuhan itu bersumber dari zat-Nya, sebagaimana dingin sesuatu itu bersumber dari es dan dingin es itu bersumber dari diri es itu sendiri, dan panas sesuatu itu bersumber dari api tetapi panas api itu bersumber dari api itu sendiri."
Kemudian saya berkata pada dia: "Contoh-contoh yang saya ungkapkan tadi hanya sekedar untuk memudahkan dalam memahami dan hanya sekedar pendekatan pikiran. Dan kalau tidak salah, hal yang saya ungkapkan tadi merupakan salah satu kaidah filsafat dimana dikatakan bahwa:
"Segala sesuatu itu mempunyai kebergantungan kepada yang lain dan harus berhenti pada sesuatu yang dzati, sementara sesuatu yang dzati itu tidak mempunyai kebergantungan kepada yang lain."
 Dia berkata: "Kenapa ilmu-ilmu semacam ini tidak diajarkan di sekolah-sekolah? Saya sejak pertama kali datang ke sekolah  sampai saat ini di mana saya telah lulus magister dari sebuah universitas, tidak pernah mendengar hal semacam ini."
Saya berkata: "Sistem pelajaran kita diatur sedemikian rupa oleh para kolonial sehingga kering dari unsur maknawi dan spiritual serta fadilah-fadilah, dan menciptakan pelajar-pelajar atheis dan dengan mudah mereka menjajah dan memperbudaknya, dan mencapai tujuan yang diinginkan hati mereka!"
Dia berkata: "Kalian orang-orang theis (beragama), kenapa tidak berusaha untuk melenyapkan segala bentuk mimpi-mimpi buruk semacam ini?"
Saya berkata: "Karena kekuasaan tidak berada di tangan kami."
Post a Comment