Thursday, July 5, 2012

Al-Hikam

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

BAB 1

Perbuatan Zahir dan Suasana Hati

 

Sebagian dari tanda bersandar kepada amal (perbuatan zahir) adalah berkurangnya harapan (suasana hati) tatkala terjadi kesalahan.
Imam Ibnu Athaillah memulai Kalam Hikmah beliau dengan mengajak kita merenungi hakikat amal. Amal dibagi kepada dua jenis, yaitu perbuatan zahir dan perbuatan hati atau suasana hati yang berhubungan dengan perbuatan zahir itu. Beberapa orang melakukan perbuatan zahir yang sama tetapi suasana hati yang berhubungan dengan perbuatan zahir itu tidak sama. Kesan perbuatan zahir kepada hati akan berbeda antara seseorang dengan lainnya. Jika perbuatan zahir itu mempengaruhi suasana hati, maka hati itu dikatakan bersandar kepada perbuatan zahir. Jika hati dipengaruhi perbuatan batin, maka hati itu dikatakan bersandar kepada perbuatan, sekalipun ia melakukan perbuatan batin. Hati yang bebas dari bersandar kepada perbuatan zahir dan batin adalah hati yang menghadap kepada Allah swt dan meletakkan kepasrahan kepada-Nya tanpa terbawa perbuatan zahir dan batin, serta tunduk sepenuhnya kepada Allah swt tanpa disertai takwil atau tuntutan. Hati yang demikian tidak menjadikan perbuatan zahir dan batin walau banyak sekalipun sebagai alat tawar-menawar dengan Tuhan untuk mendapatkan sesuatu. Perbuatan tidak dijadikan perantara dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini tidak membatasi kekuasaan dan kemurahan Tuhan untuk mengikuti kepada perbuatan manusia. Allah swt berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya tanpa dipengaruhi siapapun dan suatu apapun. Apa saja yang dikehendaki Allah swt adalah mutlak, tiada larangan, pengecualian dan pembatasan. Oleh karena itu orang arif tidak menjadikan amal sebagai alat untuk “memaksa” Allah swt berbuat sesuatu menurut perbuatan makhluk. Perbuatan Allah swt berada di atas dan perbuatan makhluk di bawah. Tidak akan pernah terjadi Allah swt mengikuti perkataan dan perbuatan seseorang atau sesuatu. Sebelum menjadi seorang yang arif, hati manusia memang berhubungan erat dengan perbuatan dirinya, baik yang zahir maupun yang batin. Manusia yang bersandar kepada perbuatan zahir adalah mereka yang mencari keutamaan keduniaan dan mereka yang bersandar kepada perbuatan batin adalah yang mencari keutamaan akhirat. Kedua jenis manusia tersebut percaya bahwa amalnya akan menentukan apa yang akan mereka peroleh baik di dunia dan juga di akhirat. Kepercayaan yang demikian kadang-kadang membuat manusia lupa atau berkurang kepasrahannya kepada Tuhan. Kepasrahan mereka hanya semata-mata kepada amal, kalaupun mereka pasrah kepada Allah swt, maka kepasrahan itu akan bercampur dengan keraguan. Seseorang dapat memeriksa dirinya sendiri apakah kuat atau lemah kepasrahannya kepada Allah swt. Kalam Hikmah 1 yang dikeluarkan Ibnu Arhaillah memberi petunjuk mengenai hal tersebut. Lihatlah kepada hati apabila kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. Jika perbuatan tersebut membuat kita berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah swt, itu tandanya kepasrahan kita kepada-Nya sangat lemah. Firmannya:
“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).
Ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah swt menggantungkan kepasrahan kepada-Nya walau dalam keadaan bagaimanpun. Kepasrahan kepada Allah swt membuat hati tidak mudah berputus asa dalam menghadapi cobaan hidup. Kadang-kadang apa yang diinginkan, dirancang, dan diusahakan tidak mendatangkan hasil ayng diharapkan. Kegagalan mendapatkan sesuatu yang diinginkan bukan bermakna tidak menerima pemberian Allah swt. Ketika seseorang itu beriman dan pasrah kepada-Nya, ketika itulah Dia melimpahkan rahmat-Nya. Kegagalan memperoleh apa yang diinginkan bukan bermakna tidak mendapt rahmat Allah swt. Apapun yang Allah swt lakukan kepada orang yang beriman pasti didalamnya terdapat rahmat-Nya, walaupun keinginannya belum terpenuhi. Keyakinan terhadap yang demikian menjadikan orang yang beriman tabah dalam menghadapi ujian hidup, tidak akan berputus asa. Mereka yakin bahwa apabila semua masalah disandarkan kepada Allah swt, maka apapun amal kebaikan yang mereka lakukan tidak akan menjadi sia-sia.
Orang yang tidak beriman kepada Allah swt. berada dalam situasi yang berbeda. Kepasrahan mereka hanya tertuju kepada amal yang terdapat di dalam ilmu dan usaha. Apabila mengadakan suatu usaha berdasarkan pengetahuan, mereka berharap akan mendapat hasil yang setimpal. Jika ilmu dan usaha (termasuk pertolongan orang lain) gagal mendatangkan hasil, mereka tidak mempunyai tempat bersandar lagi. Jadilah mereka orang yang berputus asa. Mereka tidak dapat melihat hikmah kebijaksanaan Allah swt dalam mengatur perjalanan takdir dan mereka tidak mendapat rahmat dari-Nya.
Jika orang kafir tidak bersandar kepada Allah swt dan mudah berputus asa, di kalangan sebagian orang Islam juga ada yang sifatnya menyerupai sifat orang kafir. Orang yang seperti ini melakukan amal karena kepentingan diri sendiri, bukan karena Allah swt. Orang seperti ini mengharapkan dengan amalnya dia dapat mencapai kemakmuran hidup di dunia. Dia mengharapkan amal kebajikan yang dilakukannya dapat mengeluarkan hasil dalam bentuk bertambah rizki, kedudukan, atau pangkatnya, orang lain semakin menghormatinya dan dia juga dihindarkan dari bala penyakit, kemiskinan dan sebagainya. Bertambah banyak amal kebaikan yang dilakukannya, maka akan bertambah besar harapan dan keyakinan tentang kesejahteraan hidupnya.
Sebagian kaum Muslimin yang lain mengaitkan amal kebaikan dengan kemuliaan hidup di akhirat. Mereka memandang amal salih sebagai tiket untuk memasuki surga, juga dapat menjauhkan dari azab api nereka. Keruhanian orang yang bersandar kepada amal sangat lemah, terutama mereka yang mencari keuntungan keduniaan dengan amalnya. Mereka tidak akan tahan menempuh ujian. Mereka mengharapkan perjalanan hidup mereka senantiasa berhasil dan segalanya berjalan menurut apa yang direncanakan. Apabila sesuatu terjadi di luar rencana, mereka akan cepat panik dan gelisah. Bala bencana membuat mereka berprasangka bahwa merekalah manusia yang paling malang di atas muka bumi ini. Bila memperoleh kebaikan, mereka merasakan kejayaan itu disebabkan kepandaian dan usaha mereka sendiri. Mereka mudah menjadi egois serta suka menyombongkan diri.
Apabila ruhani seseorang bertambah kuat, dia melihat amal sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Hatinya tidak cenderung kepada duniawi dan ukhrawi tetapi dia berharap mendapatkan kurnia Allah swt seperti terbukanya hijab-hijab yang menutupi hatinya. Orang ini merasakan amal yang membawanya kepada Tuhan. Dia sering mengaitkan pencapaian dalam bidang keruhanian dengan amal yang dilakukannya seperti berzikir, bersembahyang sunat, berpuasa dan lain-lain. Bila dia ketinggalan melakukan suatu amal yang biasa dilakukannya atau bila dia tergelincir melakukan kesalahan maka dia merasa dijauhkan oleh Tuhan. Inilah orang pada peringkat permulaan mendekatkan dirinya dengan Tuhan mellaui amalan tariqat tasawuf.
Jadi, ada golongan yang bersandar semata-mata kepada amal dan ada pula golongan yang bersandar kepada Tuhan melalui amal. Kedua golongan tersebut berpegang kepada amal dalam mendapatkan sesuatu. Golongan pertama berpegang kepada amal zahir, yaitu perbuatan zahir yang dinamakan usaha atau ikhtiar. Jika salah memilih ikhtiar, hilanglah harapan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ahli tariqat pada peringkat permulaan bersandar kepada amal batin seperti sembahyang dan berzikir. Jika meninggalkan suatu amalan yang biasa dilakukan, maka akan berkurang harapan mereka untuk mendapatkan anugerah dari Allah swt. Sekiranya tergelincir melakukan dosa, maka putuslah harapan mereka untuk mendapatkan anugerah Allah swt.
Dalam masalah bersandar kepada amal ini, di dalamnya juga termasuk bersandar kepada ilmu; ilmu ada dua jenis, yaitu ilmu zahir dan ilmu batin. Ilmu zahir merupakan ilmu yang mengurusi suatu masalah menurut kekuatan akal. Ilmu batin adalah ilmu yang menggunakan kekuatan batin dalam menyampaikan keinginan, termasuk di dalamnya penggunaan ayat-ayat Al-Quran dan jampi. Kebanyakan orang meletakkan ketercapaian sesuatu kepada ayat, jampi, dan usaha sehingga mereka lupa kepada Allah swt yang meletakkan ketercapaian kepada tiap sesuatu itu.
Selanjutnya, atas izin Tuhan, keruhanian seseorang meningkat kepada maqam yang lebih tinggi. Di dalam hatinya ada kalimat:
لاحول ولا قوت الا با الله
“Tiada daya dan upaya kecuali beserta Allah.”
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. Ash-Shaffat: 96).
Orang pada maqam ini tidak lagi melihat kepada amalnya; walaupun banyak amal yang dilakukan, namun hatinya tetap melihat bahwa semua alam tersebut adalah karunia Allah swt kepadanya. Jika tidak karena taufik dan hidayah Allah swt, tentu tidak ada amal kebaikan yang dapat dilakukannya. Allah swt:
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih. (QS. Al-Insan: 30-31).
Semuanya adalah karunia Allah swt dan menjadi milik-Nya. Orang ini melihat kepada takdir yang ditentukan Allah swt, tidak terlihat olehnya jejak perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya sendiri. Maqam ini dinamakan maqam arifin, yaitu orang yang mengenal Allah swt. Golongan ini tidak bersandar kepada amal, mereka paling kuat mengerjakan amal ibadah.
Orang yang masuk ke dalam lautan takdir telah ridha dengan segala yang ditentukan Allah swt, hidupnya akan senantiasa tenang, tidak berduka cita bila kehilangan atau ketiadaan sesuatu. Mereka tidak melihat makhluk sebagai penyebab semuanya.
Pada awal perjalanan menuju Allah swt, seseorang mulai beramal menurut tuntutan syariat. Dia melihat amal itu sebagai kendaraan yang membawanya kepada Allah swt. semakin kuat dia beramal, semakin besar harapan untuk sukses dalam perjalanannya. Apabila dia mencapai satu tahap, pandangan mata hatinya terhadap amal mulai berubah. Dia tidak lagi melihat amal sebagai alat atau penyebab. Pandangannya beralih kepada karunia Allah swt. Dia melihat semua amal adalah karunia Allah swt dan perjumpaannya dengan Allah swt juga karunia-Nya. Selanjutnya terbuka hijab yang menutupi dirinya, dia mengenali diri dan Tuhannya. Dia melihat dirinya sangat lemah, hina, bodoh, serta kekurangan, dan faqir. Tuhan adalah Maha Kaya, Berkuasa, Mulia, Bijaksana, dan Sempurna dalam segalanya. Bila dia sudah mengenali diri dan Tuhannya, pandangan mata hatinya tertuju kepada Qudrat dan Iradat Allah swt yang melingkupi segala sesuatu di alam maya ini. Jadilah dia seorang arif yang senantiasa memandang kepada Allah swt, berserah diri kepada-Nya, bergantung dan pasrah kepada-Nya. Dia hanyalah hamba Allah swt yang faqir.


BAB 2 :

Ahli Asbab dan Ahli Tajrid

Hikmah Satu menerangkan tanda orang yang bersandar kepada amal. Bergantung kepada amal adalah sifat manusia biasa yang hidup dalam dunia ini. Dunia ini dinamakan alam asbab. Apabila perjalanan hidup keduniaan dipandang melalui mata ilmu atau mata akal, akan dapat disaksikan kerapian susunan sistem sebab-akibat yang mempengaruhi segala kejadian. Tiap sesuatu terjadi menurut sebab yang menyebabkan ia terjadi. Hubungan sebab dengan akibat sangat erat. Mata akal melihat dengan jelas jejak sebab dalam menentukan akibat. Kerapian sistem sebab-akibat ini membuat manusia mengambil manfaat dari anasir dan kejadian alam. Manusia dapat menentukan anasir yang memudaratkan kesehatan lalu menjauhkannya dan manusia juga dapat menentukan anasir yang menjadi obat lalu menggunakannya. Manusia dapat membuat ramalan cuaca, pasang surut air laut, angin, ombak, letusan gunung berapi dan lain-lain karena sistem yang mengawal perjalanan anasir alam berada dalam suasana yang sangat rapi dan sempurna membentuk hubungan sebab-akibat yang padu.
Allah swt menciptakan sistem sebab-akibat yang rapi untuk kemudahan manusia menyusun kehidupan mereka di dunia ini. Kekuatan akal dan panca indera manusia mampu membuka kehidupan yang dikaitkan dengan perjalanan sebab-akibat. Hasil penelitian dan kajian akal itu melahirkan berbagai jenis ilmu tentang alam dan kehidupan, seperti ilmu sains, astronomi, kedokteran, teknologi dan sebagainya. Semua jenis ilmu itu dibentuk berdasarkan perjalanan hukum sebab-akibat. Kerapian sistem sebab-akibat menyebabkan manusia terikat dengan hukum sebab-akibat. Manusia bergantung kepada amal (sebab) dalam mendapatkan hasil (akibat). Manusia yang melihat kepada jejak sebab dalam menentukan akibat serta bersandar kepadanya dinamakan ahli asbab.
Sistem sebab-akibat atau perjalanan hukum sebab-akibat sering membuat manusia lupa kepada kekuasaan Allah swt. Mereka melakukan sesuatu dengan yakin bahwa akibat lahir dari sebab, seolah-olah Allah swt tidak ikut campur dalam urusan mereka. Allah swt tidak menyukai hamba-Nya yang “mempertahankan” suatu kekuatan sehingga mereka lupa kepada kekuasaan-Nya. Allah swt tidak menyukai jika hamba-Nya sampai kepada tahap mempersekutukan-Nya dan kekuasaan-Nya dengan anasir alam dan hukum sebab-akibat ciptaan-Nya. Dia yang menciptakan jejak kepada anasir alam, maka berkuasa pula membuat anasir alam itu menjadi lemah. Dia yang menciptakan kerapian pada hukum sebab-akibat, maka berkuasa pula untuk merombak hukum tersebut. Dia mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi dengan membawa mukjizat yang dapat merombak hukum sebab-akibat untuk mengembalikan pandangan manusia kepada-Nya, agar imajinasi (wahm) terhadap sebab-akibat tidak menghijab ketuhanan-Nya. Kelahiran Isa as, terbelahnya laut dipukul oleh tongkat Nabi Musa as, hilangnya kekuatan membakar yang ada pada api tatkala Nabi Ibrahim as masuk ke dalamnya, keluarnya air yang jernih dari jari-jari Nabi Muhammad aw dan banyak lagi yang didatangkan Allah swt merombah jejak hukum sebab-akibat untuk menyadarkan manusia tentang hakikat bahwa kekuasaan Allah swt yang melingkupi perjalanan alam maya dan hukum sebab-akibat. Alam dan hukum yang berlaku padanya seharusnya membuat manusia mengenal Tuhan, bukan menutup pandangan kepada Tuhan. Sebagian dari manusia diselamatkan Allah swt dari imajinasi (wahm) sebab-akibat.
Sebagai manusia yang hidup dalam dunia, mereka masih bergerak dalam sistem sebab-akibat tetapi mereka tidak meletakkan jejak hukum kepada sebab. Mereka senantiasa melihat kekuasaan Allah swt yang menetapkan atau mencabut keberlakuan suatu hukum sebab-akibat. Jika suatu sebab berhasil memunculkan akibat sebagaimana yang biasa terjadi, mereka melihatnya sebagai kekuasaan Allah swt yang menetapkan kekuatan kepada sebab tersebut dan Allah swt juga yang memunculkan akibatnya. Allah swt berfirman:
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 1-2).
Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 73).
Orang yang meyakini kekuasaan Allah swt melingkupi hukum sebab-akibat tidak meletakkan jejak kepada hukum tersebut. Kepasrahannya hanya kepada Allah swt, bukan kepada amal yang menjadi sebab. Orang yang seperti ini dipanggil ahli tajrid.
Ahli tajrid, seperti juga ahli asbab, melakukan sesuatu menurut peraturan sebab-akibat. Ahli tajrid juga makan dan minum. Ahli tajrid memanaskan dan memasak juga dengan menggunakan api. Ahli tajrid juga melakukan suatu pekerjaan untuk memperoleh rizki. Tidak ada perbedaan di antara amal ahli tajrid dan ahli asbab. Perbedaannya terletak di dalam diri, yaitu hati. Ahli asbab meyakini kepada kekuatan hukum alam, sebaliknya ahli tajrid meyakini kepada kekuasaan Allah swt pada hukum tersebut. Walaupun ahli asbab mengakui kekuasaan Allah swt, tetapi penghayatan dan kekuatannya pada hati tidak sekuat ahli tajrid.
Dalam melakukan kebaikan ahli asbab melakukan mujahadah. Mereka memaksa dirinya berbuat baik dan menjaga kebaikan itu agar tidak rusak. Ahli asbab memperingatkan dirinya supaya berbuat ikhlas dan melindungi keikhlasannya agar tidak dirusak oleh riya (berbuat baik dengan memperlihatkan kepada orang lain agar dikatakan sebagai orang baik), takabur (sombong dan merasa diri lebih baik, lebih tinggi, lebih kuat dan lebih cerdik dari orang lain), dan sum’ah (mencari perhatian orang lain atas kebaikan dirinya dengan cara menceritakan agar orang lain mengakui bahwa dia adalah orang baik). Jadi, ahli asbab memelihara kebaikan sebelum melakukannya dan juga setelah melakukannya. Suasana ahli tajrid berbeda dari apa yang dialami oleh ahli asbab. Jika ahli asbab memperingatkan dirinya supaya ikhlas, ahli tajrid tidak bersandar kepada ikhlas karena mereka tidak bersandar kepada amal kebaikan yang mereka lakukan. Kebaikan apapun yang dilakukannya diserahkan kepada Allah swt yang mengaruniakan kebaikan tersebut. Ahli tajrid tidak menentukan apakah perbuatannya ikhlas atau tidak ikhlas. Melihat keikhlasan pada perbuatan sama dengan melihat diri sendiri yang ikhlas. Apabila merasa dirinya sudah ikhlas, sesungguhnya masih tersembunyi keegoan diri yang membawa kepada riya, ujun (merasa diri sudah baik) dan sum’ah. Apabila tangan kanan berbuat ikhlas dalam keadaan tangan kiri tidak menyadari perbuatan itu, barulah tangan kanan itu benar-benar ikhlas. Orang yang ikhlas berbuat kebaikan dengan melupakan kebaikan itu. Orang tajrid yang diberi keikhlasan oleh Allah swt mengembalikan kebaikan mereka kepada Allah swt. Jadi, orang asbab bergembira karena melakukan perbuatan ikhlas, orang tajrid meyakini bahwa Allah swt yang menentukan semua peristiwa. Ahli asbab senantiasa bersyukur, ahli tajrid berada dalam kepasrahan.
Kebaikan yang dilakukan ahli asbab merupakan teguran agar mereka ingat kepada Allah swt yang memandu kepada kebaikan. Kebaikan yang dilakukan ahli tajrid merupakan karunia Allah swt untuk semua manusia yang tidak mempedulikan diri dan kepentingannya. Ahli asbab meyakini kepada jejak hukum sebab-akibat. Ahli tajrid meyakini kepada jejak kekuasaan dan ketentuan Allah swt. sebagian ahli tajrid meyakini kekuatan hukum sebab-akibat. Orang-orang ini bukan sekadar tidak melihat kepada jejak hukum sebab-akibat, mereka meyakini Allah swt menguasai hukum sebab-akibat. Mereka adalah nabi-nabi dan wali-wali pilihan. Para nabi dianugerahkan mukjizat dan wali-wali dianugerahkan karamah. Mukjizat dan karamah merombak jejak hukum sebab akibat.
Para wali pilihan yang dikaruniai kekuatan mengawal hukum sebab-akibat itu seperti Syeikh Abdul Kadir al-Jailani, Abu Hasan as-Sazili, Rabiatul Adawiah, Ibrahim Adham, dan lain-lain. Cerita tentang kekaramahan mereka sering terdengar. Orang yang cenderung kepada tariqat tasawuf biasanya meneladani kehidupan auliya Allah swt tersebut, dan yang mudah memikat perhatian adalah bagian kekaramahan. Karamah biasanya dikaitkan dengan perilaku kehidupan zuhud dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt. Timbul anggapan bahwa jika mau memperoleh karamah seperti mereka, mestilah hidup sebagaimana mereka. Orang yang berada pada tingkat permulaan berkariqat cenderung memilih jalan bertajrid, yaitu membuang segala ikhtiar dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt. Sikap bertajrid membuat seseorang meninggalkan pekerjaan, istri, anak-anak, masyarakat dan dunia seluruhnya. Semua harta disedekahkan karena dia melihat Sayidina Abu Bakar as-Siddik berbuat demikian. Ibrahim bin Adham meninggalkan takhta kerajaan, istri, anak, rakyat dan negerinya lalu tinggal di dalam gua. Biasanya orang yang berbuat demikian tidak dapat bertahan lama. Hasilnya dia mungkin meninggalkan tariqatnya dan kembali kepada kehidupan duniawi. Ada juga yang kembali kepada kehidupannya yang lebih buruk daripada keadaannya karena dia mau menebus kembali terhadap apa yang telah ditinggalkannya untuk bertariqat. Keadaan yang demikian terjadi akibat bertajrid. Orang yang baru masuk ke dalam latihan keruhanian sudah mau beramal seperti auliya Allah swt yang sudah berpuluh-puluh tahun melatihkan dirinya. Tindakan meninggalkan semua yang dimilikinya secara tergesa-gesa membuatnya berhadapan dengan cibiran dan fitnah yang dapat menggoncangkan iman dan mungkin juga membuatnya berputus-asa. Apa yang harus dilakukan bukanlah meniru kehidupan auliyah Allah swt yang telah mencapai maqam yang tinggi. Seseorang harus melihat kepada dirinya dan mengenal kedudukan, kemampuan, dan daya tahannya. Ketika masih berada dalam maqam asbab, seseorang harus bertindak sesuai dengan hukum sebab-akibat. Dia harus bekerja untuk memperoleh rizki dan harus pula berusaha menjauhkan dirinya dari bahaya atau kemusnahan.
Ahli asbab harus berbuat demikian karena dia masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dia masih meyakini bahwa tindakan makhluk memberi efek terhadap dirinya. Oleh karena itu wajar sekiranya dia mengadakan tindakan yang menurut pandangannya akan mendatangkan kesejahteraan kepada dirinya dan orang lain. Tanda Allah swt menjadikan seseorang pada kedudukan ahli asbab ialah apabila urusan dan tindakannya sesuai dengan hukum sebab-akibat dengan tidak mengabaikan kewajiban terhadap tuntutan agama. Dia tetap merasa ringan untuk berbakti kepada Allah swt, tidak berlebihan dengan nikmat duniawi dan tidak merasa iri hati terhadap orang lain. Apabila ahli asbab berjalan menurut hukum sebab-akibat maka jiwanya akan maju dan berkembang dengan baik tanpa menghadapi goncangan besar yang menyebabkan dia berputus asa dari rahmat Allah swt. Ruhaninya akan menjadi kuat sedikit demi sedikit dan menolak ke dalam maqam tajrid sebelum benar-benar kuat. Akhirnya dia mampu untuk bertajrid sepenuhnya.
Ada pula orang yang dipaksa takdir supaya bertajrid. Orang ini awalnya adalah ahli asbab yang berjalan menurut hukum sebab-akibat sebagaimana kebanyakan manusia. Kehidupan seperti itu kemungkinan tidak memberikan kematangan ruhaninya. Diperlukan perubahan jalan baginya supaya berkembang dalam bidang keruhaniannya. Oleh karena itu takdir memaksanya untuk terjun ke dalam lautan tajrid. Dia akan mengalami keadaan di mana hukum sebab-akibat tidak lagi membantunya menyelesaikan masalah. Sekiranya dia seorang raja, maka takdir mencabut kerajaannya. Sekiranya dia seorang hartawan, maka takdir menghapuskan hartanya. Sekiranya dia seorang wanita cantik, maka takdir menghilangkan kecantikannya. Takdir memisahkan apa yang dimiliki dan dikasihinya. Menerima ketetapan takdir yang demikian pada peringkat permulaan bagi ahli asbab akan membuatnya berikhtiar menurut hukum sebab akibat untuk mempertahankan apa yang dimiliki dan dikasihinya. Jika dia tidak berdaya untuk menolong dirinya, dia akan meminta pertolongan orang lain. Setelah puas berikhtiar termasuk meminta bantuan kepada orang lain, kekuatan takdir tetap merombak sistem sebab-akibat yang terjadi atas dirinya. Apabila dia sendiri dengan dibantu orang lain tidak mampu mengatasi arus takdir maka dia tidak ada pilihan lain kecuali berserah kepada takdir. Dalam keadaan begitu, dia akan lari kepada Allah swt dan “merayu” agar Allah swt menolongnya. Pada peringkat ini seseorang akan kuat beribadah dan menumpukan sepenuh hatinya kepada Tuhan. Dia benar-benar berharap Tuhan akan menolongnya mengembalikan apa yang pernah dimilikinya dan dikasihinya. Tetapi, pertolongan tidak juga sampai kepadanya sehingga dia benar-benar terpisah dari apa yang dimiliki dan dikasihinya itu. Hilanglah harapannya untuk memperolehnya kembali. Dia merasa ridha dengan perpisahan ini. Dia tidak lagi merayu kepada Tuhan, sebaliknya dia menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Dia menyerah secara total kepada Allah swt, tidak ada lagi ikhtiar, pilihan dan kehendak diri sendiri. Jadilah dia seorang hamba Allah swt yang bertajrid. Apabila seorang hamba benar-benar bertajrid maka Allah swt akan mengurus kehidupannya. Allah swt menggambarkan suasana tajrid dengan firman-Nya:
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 60).
Makhluk Allah swt seperti burung, ikan, kuman dan sebagainya tidak memiliki tempat simpanan makanan. Mereka adalah ahli tajrid yang dijamin rizkinya oleh Allah swt. Jaminan Allah swt itu meliputi juga untuk manusia. Tanda bahwa Allah swt memberikan karunia kepada hamba-Nya yang berada di dalam maqam tajrid ialah dengan memudahkan rizki yang datang dari arah yang tidak diduganya. Jiwanya tetap tenteram sekalipun terjadi kekurangan pada rizkinya atau ketika menerima cobaan.
Bila ahli tajrid dengan sengaja memindahkan dirinya kepada maqam asbab, maka hal ini bermakna bahwa dia melepaskan jaminan Allah swt lalu bersandar kepada makhluk. Hal ini menunjukkan kebodohannya tentang rahmat dan kekuasaan Allah swt. Tindakan yang bodoh itu menyebabkan berkurangnya atau hilangnya keberkahan yang telah Allah swt karuniakan kepadanya. Misalnya, seorang ahli tajrid yang tidak mempunyai pekerjaan tetap kecuali membimbing masyarakat kepada jalan Allah swt; walaupun tidak mempunyai pekerjaan tetap, namun rizki datang kepadanya dari berbagai arah dan tidak pernah putus tanpa dia meminta-minta atau mengharap-harap. Pembelajaran yang disampaikan kepada masyarakat sangat berkesan sekali. Keberkahannya terlihat sekali, seperti doanya makbul dan ucapannya biasanya menjadi kenyataan. Seandainya dia meninggalkan suasana tajrid lalu berasbab karena tidak puas hatinya dengan rizki yang diterima, maka keberkahannya akan hilang. Pembelajarannya, doanya, dan ucapannya tidak memiliki efek seperti ketika bertajrid. Ilham yang datang kepadanya menjadi tersendat-sendat dan kefasihan lidahnya tidak selancar biasanya.
Seorang hamba harus menerima dan ridha dengan kedudukan yang Allah swt karuniakan kepadanya. Berserahlah kepada Allah swt dengan yakin bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Allah swt mengetahui apa yang pantas bagi setiap makhluk-Nya. Allah swt sangat bijak mengatur urusan hamba-hamba-Nya.
Keinginan kepada pertukaran maqam merupakan tipu daya yang sangat halus. Di dalamnya tersembunyi rangsangan nafsu yang sukar disadari. Nafsu di sini mencakup kehendak, cita-cita dan angan-angan. Orang yang baru terbuka pintu hatinya setelah lama hidup di dalam kelalaian, akan mudah tergerak untuk meninggalkan suasana asbab dan masuk ke dalam suasana tajrid. Orang yang telah lama berada dalam suasana tajrid, apabila kesadaran dirinya kembali maka akan muncul kembali keinginan, cita-cita, dan angan-angannya. Nafsu mencoba untuk bangkit kembali menguasai dirinya. Orang asbab perlu menyadari bahwa keinginannya untuk pindah kepada maqam tajrid mungkin secara halus digerakkan oleh ego yang tertanam jauh di dalam jiwanya. Orang tajrid perlu menyadari bahwa keinginannya untuk kembali kepada asbab itu mungkin didorong oleh nafsu rendah yang masih belum berpisah dari hatinya. Ulama tasawuf mengatakan seseorang mungkin dapat melampaui semua maqam nafsu, tetapi nafsu pada level awal tidak kunjung padam. Oleh karena itu perjuangan atau mujahadah dalam kerangka mengawasi nafsu harus senantiasa berjalan.

BAB 3 :

Kekuatan Takdir

 

Kalam Hikmah yang pertama menyentuh tentang hakikat amal yang membawa kepada pengertian tentang amal zahir dan amal batin. Ia mengajak kita untuk memperhatikan amal batin (suasana hati) berhubung dengan amal zahir yang kita lakukan. Sebagai manusia biasa, hati kita cenderung menaruh harapan dan meletakkan kebergantungan kepada jejak amal zahir. Hikmah kedua menjelaskan mengenai amal dengan membuka pandangan kita kepada suasana asbab dan tajrid. Bersandar kepada amal terjadi karena seseorang melihat kepada jejak sebab dalam melahirkan akibat. Apabila terlepas dari imajinasi (wahm) sebab-akibat, barulah seseorang itu masuk kepada suasana tajrid.
Dua Hikmah yang telah dibahas memberikan pendidikan yang halus kepada jiwa. Seseorang mendapat pemahaman bahwa bersandar kepada amal bukan jalan terbaik. Pengertian yang demikian melahirkan kecenderungan untuk pasrah kepada Allah swt. Sikap pasrah tanpa persiapan keruhanian dapat menggoncangkan iman. Agar orang yang semangatnya tinggi tidak keliru memilih jalan, dia harus diberi pengertian mengenai kedudukan asbab dan tajrid. Pemahaman tentang maqam asbab dan tajrid membuat seseorang mendidikn jiwanya agar pasrah kepada Allah swt dengan cara yang benar dan selamat, bukan mengambil sikap menyerah begitu saja.
Hikmah ketiga ini mengajak kita merenung kepada kekuatan takdir yang memagari segala sesuatu. Ketika membincangkan tentang ahli tajrid, kita mendapati ahli tajrid meyakini kekuasaan Tuhan yang meletakkan jejak kepada suatu sebab dan menetapkan lahirnya akibat. Hal ini bermakna bahwa semua kejadian dan segala hukum mengenai suatu perkara berada di dalam kekuasaan Allah swt. Dia yang menguasai, mengatur, dan mengurus setiap makhluk-Nya. Urusan ketuhanan yang menguasai, mengatur, dan mengurus atau kekuasaan Allah swt itu dinamakan takdir. Tidak ada sesuatu yang tidak dikuasai, diatur, dan diurus oleh Allah swt. Oleh karena itu tidak ada sesuatu yang tidak termasuk di dalam takdir.
Manusia terhijab untuk meyakini takdir karena imajinasi (wahm) sebab-akibat. Kedirian seseorang menjadi alat sebab-akibat yang paling kuat menghijab pandangan hatinya dari keyakinan terhadap takdir. Keinginan, cita-cita, angan-angan, semangat, akal fikiran, dan usaha menutupi hati untuk meyakini kekuasaan, aturan, dan urusan Tuhan. Hijab kedirian itu jika disimpulkan menjadi hijab nafsu dan hijab akal. Nafsu yang melahirkan keinginan, cita-cita, angan-angan, dan semangat. Akal menjadi tentara nafsu, menimbang, merancang, dan mengadakan usaha dalam memuaskan apa yang diinginkan oleh nafsu. Jika nafsu menginginkan sesuatu yang baik, akal bergerak kepada kebaikan itu. Jika nafsu menginginkan sesuatu yang buruk, akal juga akan bergerak kepada keburukan. Dalam banyak perkara, akal tunduk kepada arahan nafsu, bukan menjadi penasihat nafsu. Oleh sebab itulah, ketika mau menundukkan nafsu tidak boleh meminta pertolongan akal.
Dalam proses memperoleh penyerahan secara total kepada Allah swt, terlebih dahulu akal dan nafsu perlu ditundukkan kepada kekuatan takdir. Akal harus mengakui kelemahannya di dalam membuka misteri takdir. Nafsu harus menerima hakikat kelemahan akal dalam perkara tersebut dan tunduk terhadap takdir. Bila nafsu dan akal sudah tunduk, barulah hati dapat beriman dengan sebenarnya kepada takdir.
Beriman kepada takdir seharusnya melahirkan sikap penyerahan yang disertai pengetahuan, bukan menyerah kepada kebodohan. Orang yang bodoh tentang hukum dan perjalanan takdir tidak dapat berserah diri dengan sebenarnya kepada Allah swt karena dibalik kebodohannya itulah nafsu akan menggunakan akal untuk menimbulkan keraguan terhadap Allah swt. Ruhani orang yang bodoh dengan hakikat takdir itu masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan biasa. Dia masih melihat bahwa makhluk dapat mendatangkan efek terhadap kehidupannya. Tindakan orang lain dan kejadian-kejadian sering mengacaukan jiwanya. Keadaan yang demikian menyebabkan dia tidak dapat bertahan untuk terus berserah diri kepada Tuhan. Seandainya dia memahami tentang hukum dan peraturan Tuhan dalam masalah takdir, tentu dia dapat bertahan dengan keimanannya. Hadist berikut menjelaskan tentang takdir:
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, apakah iman?” Jawaban Rasulullah saw, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian. Juga engkau beriman kepada Qadar yang baik atau buruk, manis dan pahitnya adalah dari Allah swt”.
Pandangan kita sering keliru dalam memandang takdir yang berlaku. Kita dikelirukan oleh istilah-istilah yang biasa kita dengar. Kita cenderung untuk merasakan seolah-olah Allah swt hanya menentukan yang fundamental saja, sementara yang partikular ditentukan-Nya kemudian, yaitu seolah-olah Dia Melihat dan Mengkaji perkara yang muncul, barulah Dia membuat keputusan. Kita merasa apabila berusaha dengan gigih untuk mengubah masalah yang mendasar yang telah Allah swt tetapkan dan Dia Melihat kegigihan kita itu dan bersimpati atasnya lalu Dia pun membuat ketentuan baru supaya terjadi takdir baru yang sesuai dengan perjuangan kita. Kita merasa kehendak dan keinginan kita berada di depan, sementara Kehendak dan Kekuasaan Allah swt mengikutinya di belakang. Anggapan dan perasaan yang demikian dapat membawa kepada kesesatan dan kedurhakaan yang besar karena kita meletakkan diri setaraf dengan Tuhan dan Tuhan kita letakkan setaraf hamba yang menuruti telunjuk kita. Untuk menjauhkan diri dari kesesatan dan kedurhakaan yang besar itu kita harus memahami soal sunnatullah atau ketentuan Allah swt. Segala sesuatu terjadi menurut ketentuan dan kekuasaan Allah swt. Tidak ada yang berlaku secara kebetulan. Ilmu Allah swt meliputi yang awal dan yang akhir, yang azali dan yang abadi. Apa yang dizahirkan dan apa yang terjadi telah ada pada Ilmu-Nya.
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid: 22).
Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Mulk: 1).
Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk (QS. Al-A’la: 3).
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, Maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan (QS. Al-Qamar: 12).

 

Semua perkara—atau apapun istilahnya—merupakan ketentuan Allah swt. Apa yang kita istilahkan dengan perjuangan, ikhtiar, doa, karamah, mukjizat, dan lain sebagainya semuanya adalah ketentuan Allah swt. takdir melingkupi semuanya dan tidak ada sebesar atom pun yang mampu menembus benteng takdir. Perjuangan dan ikhtiar tidak akan terjadi melainkan telah berada dalam takdir. Tidak berdoa orang yang berdoa melainkan berdoa itu adalah takdir yang sesuai dengan ketentuan Allah swt untuknya. Perkara yang didoakan juga tidak dapat lari dari ketentuan Allah swt. Tidak berlaku kekaramahan dan kemukjizatan melainkan keduanya adalah takdir yang tidak menyimpang dari kekuasaan Allah swt. Tidak satu hirup nafas atau satu denyutan nadi melainkan adalah takdir yang merealisasikan ketentuan Allah swt pada masa azali.
إِنَّا لِلهِ وَاِنَّ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
“Kami berasal dari Allah dan kepada Allah kami kembali.”
Semua perkara berasal dari Allah swt atau Dia yang menciptakan ketentuan tanpa campur tangan siapapun. Semua perkara kembali kepada-Nya karena Dia-lah yang memastikan hukum ketentuan-Nya terlaksana tanpa siapapun mampu menghindarinya.
Apabila sudah difahami bahwa usaha, ikhtiar, penyerahan diri dan semuanya adalah takdir yang sesuai ketentuan Allah swt, maka seseorang itu tidak lagi merasa bingung. Ikhtiar dan berserah diri sama-sama berada di dalam takdir. Jika seseorang menyadari maqam asbab atau tajrid maka dia hanya perlu bertindak sesuai dengan maqamnya. Ahli asbab perlu berusaha dengan gigih menurut keadaan hukum sebab-akibat. Apapun hasil yang muncul dari usahanya dapat diterima dengan senang hati karena dia tahu bahwa hasil itu adalah takdir Allah swt. Jika hasilnya baik, dia akan bersyukur karena dia tahu bahwa kebaikan itu berasal dari Allah swt. Karena jika tidak ada ketentuan yang baik untuknya, niscaya dia tidak mungkin mendapat kebaikan. Jika hasil yang buruk menimpanya, dia akan bersadar karena dia tahu apa yang menimpanya itu adalah sesuai ketentuan Allah bukan tunduk kepada usaha dan ikhtiarnya. Walaupun hasil yang sesuai dengan keinginan menimpanya, tetapi usaha yang dilakukannya tetap diberi pahala dan keberkahan oleh Allah swt jika dia bersabar dan ridha dengan takdir yang menimpanya itu.
Ahli tajrid hendaknya ridha dengan suasana kehidupannya dan tetap yakin dengan jaminan Allah swt. Dia tidak harus marah jika terjadi kekurangan rizki atau kesusahan menimpanya. Suasana kehidupannya adalah takdir yang sesuai dengan apa yang Allah swt tentukan. Rizki yang diterimanya juga merupakan ketentuan Allah swt. Jika terjadi kekurangan atau kesusahan maka ia juga merupakan takdir yang ditentukan Allah swt. Begitu juga jika terjadi keberkahan pada dirinya dia harus meyakini sebagai takdir yang menjadi bagiannya.
Persoalan takdir terkait erat dengan persoalan hakikat. Hakikat mengerucutkan pandangan dari yang kompleks kepada yang satu (substansi). Perhatikan satu biji benih kacang. Setelah di tanam, benih yang kecil itu akan tumbuh dengan sempurna, menghasilkan banyak buah kacang. Buah kacang tersebut dijadikan pula benih untuk menumbuhkan pokok-pokok kacang yang lain. Begitulah seterusnya sehingga kacang yang semula dari satu biji menjadi jutaan kacang. Kacang yang jutaan tidak ada bedanya dengan kacang yang pertama. Benih kacang yang pertama itu bukan saja mampu untuk menjadi sebatang pohon kacang, malah ia mampu menghasilkan semua generasi kacang sehingga hari kiamat. Ia hanya menghasilkan kacang, bukan benda yang lain.
Kajian akan dapat menghasilkan bahwa semua kacang memunyai zat yang sama, yaitu zat kacang. Zat kacang pada benih pertama serupa dengan zat kacang pada yang ke sejuta, malah ia adalah zat yang sama atau yang satu. Zat kacang yang satu itulah yang “bergerak” pada semua kacang, memastikan bahwa kacang akan menjadi kacang, bukan menjadi benda yang lain. Walaupun diakui wujud zat kacang mengawali pada pertumbuhannya, namun zat kacang itu tidak mungkin ditemui pada semua kacang. Ia tidak berupa dan tidak mendiami semua kacang, tetapi ia tidak terpisah dengan semua kacang. Tanpanya tidak mungkin ada wujud kacang. Zat kacang ini dinamakan “Hakikat Kacang”. Ia adalah kekuasaan Tuhan yang menentukan dan mengawal seluruh pertumbuhan kacang dari awal sampai akhir, sampai hari kiamat. Hakikat Kacang inilah ketetapan Allah swt yang Dia tentukan untuk semua kejadian kacang. Apa saja yang dikuasai Hakikat Kacang tidak ada pilihan kecuali menjadi kacang.
Kekuasaan Allah swt yang menetapkan dan mengawal wujud keturunan manusia dinamakan “Hakikat Manusia” atau “Hakikat Insan”. Allah swt menciptakan manusia yang pertama, yaitu Adam as menurut Hakikat Insan yang ada pada sisi-Nya. Pada penciptaan Adam as telah disimpan potensi dan upaya untuk melahirkan semua keturunan manusia sampai har kiamat. Manusia akan tetap melahirkan manusia karena hakikat yang menguasainya adalah Hakikat Manusia.
Pada Hakikat Manusia itu terdapat hakikat yang menguasai individu manusia dan hubungannya dengan segala kejadian alam yang lain. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Nabi” pasti menjadi Nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Wali” pasti akan menjadi wali. Ketentuan Allah swt atau hakikat itu menguasai ruh yang berkaitan dengannya. Ruh bekerja memperlihatkan segala ketentuan yang ada dengan hakikat yang menguasainya. Kerja ruh adalah menjalankan ketentuan Allah swt, yaitu menyatakan hakikat yang ada pada sisi Allah swt.
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Isra: 85).
Kekuasaan Allah swt menguasai ruh dan hal itu memperlihatkan ketentuan-Nya sejak masa azali. Allah swt telah menentukan hakikat sesuatu sejak azali. Tidak ada perubahan pada ketentuan Allah swt. Segala sesuatu dikawal oleh hakikat pada sisi Allah swt. Untuk tidak bisa meminta menjadi kambing. Monyet tidak bisa meminta menjadi manusia. Manusia tidak bisa menjadi malaikat. Segala ketentuan telah diputuskan Allah swt.

BAB 4 :

Allah SWT Mengatur Segala Urusan

 

Kita bertauhid melalui dua cara: pertama, bertauhid dengan akal dan kedua, bertauhid dengan hati. Bidang akal ialah ilmu; liputan ilmu sangat luas, dimulai dari pokok kepada dahan dan seterusnya kepada ranting-ranting. Setiap ranting ada ujungnya, yaitu penyelesaiannya (solusi). Pada pokok biasanya tidak ada perselisihan, sementara pada cabang, ranting dan solusi biasa dijumpai perbedaan pendapat. Jawaban terhadap suatu masalah selalu berubah-ubah menurut pendapat terbaru yang ditemukan. Apa yang dianggap benar pada awalnya, bisa saja menjadi salah di kemudian hari. Oleh karena sifat itu yang demikian itu, orang awam yang terlalu larut membahas suatu masalah dapat mengalami kekeliruan dan kekacauan pikiran. Salah satu masalah yang mudah mengganggu pikiran adalah soal takdir atau Qada dan Qadar. Jika persoalan ini dibahas sampai mendetail, seseorang akan menemui kebuntuan karena ilmu tidak mampu memberikan jawaban yang konkrit. Qada dan Qadar diimani dengan hati. Tugas ilmu adalah membuktikan kebenaran yang diimani. Jika berpotensi menggoyangkan keimanan, maka ilmu harus diisolasi dan hati pun harus tunduk kepada iman. Kalam Hikmah keempat di atas membimbing ke arah itu agar iman tidak bercampur dengan keraguan.
Selama nafsu dan akal menjadi hijab, beriman kepada perkara ghaib dan tawakal tidak akan dicapai. Qada dan Qadar termasuk dalam perkara ghaib. Perkara ghiab disaksikan dengan mata hati atau bashirah. Mata hati tidak dapat memandang jika hati dibungkus hijab nafsu. Nafsu adalah kegelapan, bukan kegelapan yang zahir tetapi kegelapan dalam keghaiban. Kegelapan nafsu itu menghijab sedangkan mata hati memerlukan cahaya ghaib untuk melihat perkara yang ghaib. Cahaya ghaib yang menerangi alam ghaib adalah cahaya ruh karena ruh adalah urusan Allah swt. Cahaya atau nur hanya bersinar apabila sesuatu itu berhubungan dengan Allah swt.
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi (QS. An-Nur: 35)
(Dialah) yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang mempunyai ‘Arsy, yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari Pertemuan (hari kiamat) (QS. Al-Mu’min: 15).
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-kitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (yaitu) Jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan (QS. Asy-Syura: 52-53).
Apabila cahaya ruh berhasil menghalau kegelapan nafsu, mata hati akan menyaksikan yang ghaib. Penyaksian mata hati membawa hati beriman kepada perkara ghaib dengan sebenar-benarnya.
Allah swt telah menghamparkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia berfirman:
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3).
Umat Islam adalah umat utama karena Allah swt telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka. Allah swt juga menjamin bahwa Dia ridha menerima Islam sebagai agama mereka. Jaminan Allah swt itu sudah lebih dari cukup bagi mereka yang mencari keridhaan Allah swt untuk tidak menoleh ke kiri atau kanan, sebaliknya terus berjalan mengikuti landasan yang telah dibina oleh Islam. Islam adalah agama lengkap yang mencakup semua aspek kehidupan baik yang zahir maupun yang batin. Islam telah menjelaskan apa yang seharusnya diperbuat, apa yang seharusnya tidak dilakukan, bagaimana bertindak menghadapi sesuatu, dan bagaimana jika tidak melakukannya. Segala peraturan dan kode etiknya sudah dijelaskan dari yang paling kecil sampai kepada yang paling besar. Sudah dijelaskan cara beribah, cara berhubungan dengan sesama manusia, cara mencari dan membelanjakan harta, cara makan, cara minum, cara berjalan, cara mandi, cara memasuki jamban, cara melakukan hubungan suami-istri, cara menyempurnakan mayat, dan semua aspek kehidupan diterangkan dengan jelas.
Umat Islam tidak perlu bertengkar tentang solusi terhadap suatu masalah. Semua solusi telah dibentangkan, hanya diperlukan menegakkan iman dan merujuk kepada ajaran Islam niscaya segala pertanyaan akan terjawab. Begitulah besarnya nikmat yang dikaruniakan kepada umat Islam. Kita perlu menjiwai ajaran Islam untuk merasakan nikmat yang dikaruniakan itu. Kewajiban kita ialah melakukan apa yang telah Allah swt atur sementara hak mengatur adalah hak Allah swt yang mutlak. Jika terdapat peraturan Allah swt yang tidak sesuai dengan nafsu kita, jangan membuat peraturan baru. Sebaliknya, nafsu hendaklah ditekan supaya tunduk kepada peraturan Allah swt. Jika pendapat akal sesuai dengan Islam, yakinilah terhadap kebenaran pendapat tersebut, dan jika penemuan akal bertentangan dengan Islam maka akuilah bahwa akal telah khilaf di dalam mengestimasinya. Janganlah memaksa Islam supaya tunduk kepada akal yang dapat berubah pada masa yang lain, tetapi tundukkanlah akal kepada apa yang kebenarannya tidak akan berubah, yaitu peraturan yang berasal dari Tuhan.
Orang yang mengamalkan tuntutan Islam disertai dengan beriman kepada Qada dan Qadar, jiwanya akan senantiasa tenang dan damai. Putara roda kehidupan tidak membolak-balikkan hatinya karena dia melihat apa yang terjadi diyakini seharusnya memang demikian. Dia juga mengamalkan yang terbaik dan dijamin Allah swt. Hatinya tunduk kepada hakikat bahwa Allah swt yang menentukan segalanya, sementara semua hamba berkewajiban taat kepada-Nya dan tidak perlu turut campur dalam urusan-Nya.
Mungkin timbul pertanyaan, apakah orang Islam tidak boleh menggunakan akal, tidak boleh memperjuangkan kehidupannya dan tidak boleh berusaha memperbaiki kehidupannya? Apakah orang Islam harus menyerah kepada takdir tanpa usaha?
Allah swt menjelaskan tentang usahanya orang beriman:
Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang Raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha mengetahui (QS. Yusuf: 76).
Dan kepunyaan-Nya-lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung (QS. Ar-Rahman: 24).
Nabi Yusuf as dengan kepandaiannya melakukan muslihat untuk membawa saudaranya (Bunyamin) tinggal dengannya. Kepandaian dan muslihat yang pada zahirnya diatur oleh Nabi Yusuf as tetapi dengan tegas Allah swt mengatakan Dia yang mengatur muslihat tersebut dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Kapal yang zahirnya dijalankan oleh manusia tetapi dengan tegas Allah swt mengatakan kapal itu adalah kepunyaan-Nya. Ayat-ayat di atas memberi pembelajaran mengenai hakikat usaha yang dilakukan manusia.
Rasulullah saw sendiri menganjurkan agar pengikutnya mengusahakan kehidupan mereka. Usaha yang diajarkan Rasulullah saw ialah usaha yang tidak memutuskan hubungan dengan Allah swt, tidak beranjak dari tawakal dan kepasrahan kepada Tuhan yang mengatur usaha dan keterlaksanaannya. Janganlah seseorang menyangka apabila dia menggunakan otaknya untuk berfikir, maka otak itu berfungsi dengan sendirinya tanpa kehendak Ilahi. Dari mana datangnya ilham yang diperoleh otak itu jika bukan dari Tuhan? Allah swt yang membuat otak, membuatnya berfungsi dan Dia juga yang mendatangkan buah fikiran kepada otak itu. Usaha yang dianjurkan Rasulullah saw adalah usaha yang sesuai dengan Al-Quran dan as-Sunnah. Islam hendaklah dijadikan tuntunan untuk menjauhkan pendapat dan tindakan yang benar dari yang salah. Islam menegaskan bahwa seandainya tidak karena daya dan upaya Allah swt, pasti siapapun tidak dapat melakukannya. Oleh sebab itu seseorang haruslah menggunakan daya dan upaya yang dikaruniakan Allah swt kepadanya menurut keridhaan Allah swt. Seorang hamba Allah swt tidak sepatutnya melepaskan diri dari kepasrahan kepada Allah Yang Maha Mengatur. Apabila yang diusahakannya berhasil menjadi kenyataan, maka dia mengakui bahwa keberhasilan itu karena kesesuaian usahanya dengan aturan Allah swt. Jika apa yang diusahakannya tidak menjadi kenyataan, dia meyakini bahwa usahanya wajib tunduk kepada aturan Allah swt dan kegagalan itu juga termasuk di dalam kekuasaan Allah swt. Hanya Allah swt yang berhak untuk menentukan. Tidak ada siapapun yang mampu turut campur tangan dalam urusan-Nya.


BAB 5 :

Mata Hati yang Buta

 

Keinginanmu untuk memperoleh hak dengan mengesampingkan kewajiban yang diamanatkan menunjukkan butanya mata hati

Hikmah kelima ini merupakan lanjutan Hikmah yang lalu. Imam Ibnu Athaillah menjelaskan hijab nafsu dan hijab akal yang menutupi hati dari meyakini takdir yang menjadi ketentuan Allah swt. Ada tiga perkara yang dikemukakannya untuk direnungi:
  1. Jaminan Allah swt.
  2. Kewajiban hamba.
  3. Mata hati yang meyakini jaminan Allah swt dan kewajiban hamba
Penyingkapan rahasia mata hati sangat penting untuk memahami Kalam Hikmah di atas. Mata hati ialah mata bagi hati atau dapat juga dikatakan mengenal kekuatan yang dimiliki hati. Kadang-kadang mata hati ini dipanggil sebagai mata-dalam. Istilah “mata-dalam” digunakan untuk membedakan dengan mata zahir, yaitu yang dimiliki oleh indra zahir. Indra zahir terbentuk dari daging, darah, tulang, sumsum, rambut, kulit, dan lain-lain. Indra zahir ini dapat digunakan untuk melihat, mendengar, mencium, merasa, dan menyentuh. Indra zahir berlangsung melalui perjalanan darah ke seluruh tubuh dan aliran nyawa dalam bentuk gas atau yap yang keluar masuk melalui hidung dan mulut. Jika darah dikeringkan atau dibekukan, atau jika aliran uap disekat maka indra zahir akan mengalami suatu keadaan di mana semua bagiannya berhenti fungsinya dan ia dinamakan mati. Indra zahir ini susunannya dapat dikatakan bahwa ia terdiri dari fisik dan nyawa serta unsur-unsur yang dapat mengenal sesuatu yang zahir. Pusatnya berada di otak yang mengenal kesan unsur-unsur dan juga mengeluarkan daya pertimbangan atau akal fikiran.
Indra batin juga mempunyai susunan yang sama seperti indra zahir, tetapi dalam keadaan ghaib. Ia mempunyai bagian yang dipanggil kalbu atau hati. Hati yang dimaksudkan bukan segumpal daging yang berada di dalam tubuh. Ia merupakan hati ruhani. Ia bukan peristiwa di alam fisik, sebab itu ia tidak dapat dipersepsi oleh pancaindera zahir. Ia termasuk di dalam peristiwa-peristiwa ghaib yang diistilahkan sebagai Latifah Rabbaniah atau sesuatu yang menjadi rahasia ketuhanan.  Apabila di dalam keadaan suci, ia dapat mendekati Tuhan. Hati ruhani ini memiliki nyawa yang dibahasakan sebagai ruh. Ruh juga termasuk di dalam golongan Latifah Rabbaniah. Ia adalah urusan Tuhan dan manusia hanya mempunyai sedikit pengetahuan mengenainya.
Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Bani Israil: 85).
Hati ruhani mempunyai sifat yang mampu menggali pemahaman dan pengetahuan. Ia dipanggil akal yang juga termasuk di dalam golongan Latifah Rabbaniah yang tidak mampu diuraikan lagi. Akal jenis ini berguna untuk mengkaji tentang ketuhanan. Indra zahir mempunyai alat-alat untuk mengenal perkara zahiriah. Alat-alat tersebut disebut penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba; alat-alat yang bersangkutan ialah mata, telinga, hidung, lidah, kulit, dan lain-lain. Indra batin juga mempunyai alat untuk mengenal perkara ghaib dan alat ini dinamakan bashirah atau mata hati. Ia berbeda dari sifat melihat yang dimiliki mata zahir. Mata zahir melihat perkara zahir dan mata hati menyaksikan kepada yang ghaib.
Apa yang ada di sekeliling kita dapat dilihat melalui dua aspek, yaitu yang nyata dilihat dengan mata zahir dan yang ghaib dilihat dengan mata hati. Jika kita mengambil sebongkah gula, mata kasar melihat sejenis zat berwarna putih. Bila diletakkan pada lidah akan terasa manisnya. Ketika menikmati rasa manisnya, kita seolah-olah memandang jauh kepada sesuatu yang tidak ada di hadapan mata. Kemampuan seperti ini sebenarnya adalah terjemahan dari perbuatan mata hati yang memandang kepada hakikat gula, yaitu manis. Bagaimana rupa dari manis tidak dapat diceritakan tetapi mata hati mengenal bahwa gula adalah manis. Jika mata zahir melihat sebilah pedang, maka mata hati akan melihat kepada tajamnya. Jika mata zahir melihat kepada cabe, mata hati melihat kepada pedasnya. Jadi, mata zahir mengenal dan membedakan tampilan yang zahir, sementara mata hati mengenal dan membedakan hakikat kepada yang zahir. Mata hati yang hanya berfungsi mengenal manis, tajam, pedas dan tampilan luarnya masih dianggap sebagai mata hati yang buta. Mata hati hanya dianggap baik jika ia mampu melihat ketuhanan dibalik yang nyata dan yang tidak nyata.
Kekuatan pencahayaan mata hati bergantung kepada kekuatan hati itu sendiri. Semakin bersih dan suci maka bertambah teranglah mata hati. Jika cukup bercahaya, ia bukan saja melihat kepada yang tersembunyi dibalik tampilan zahir di sekelilingnya, malah ia mampu melihat atau menyaksikan apa yang di luar dunia. Dunia adalah segala sesuatu yang berada di dalam bulatan langit yang pertama atau langit dunia atau langit terendah. Langit terendah ini merupakan derajat dunia. Selepas langit dunia dinamakan Alam Barzakh. Meninggal dunia bermakna bahwa ruh yang rumahnya jasad tidak sesuai lagi untuk didiami atau dipanggil untuk mengalami kematian, dibawa keluar dari langit dunia dan ditempatkan di Alam Barzakh.
Fungsi mata hati adalah melihat yang hakiki. Mata hati yang melihat dunia secara keseluruhan sebagai perwujudan mengenali apa ang hakiki tentang dunia itu. Oleh karena penyaksian mata hati tidak dapat dinyatakan secara langsung, maka memerlukan analogi untuk memudahkan pemahaman. Analogi yang biasa digunakan untuk menceritakan tentang hakikat dunia ialah: “Dunia merupakan makhluk yang sangat tua, tubuhnya kotor dan berpenyakit, bernanah pada banyak bagian tubuhnya yang sudah dikerumuni ulat”. Begitulah kurang lebih perasaan orang yang melihat kepada hakikat dunia dengan mata hatinya. Bagaimanapun perasaan dan analogi yang demikian tidak dapat disalahkan.
Mata hati yang lebih kuat mampu pula menyaksikan Alam Barzakh dan mengenali satu lagi hakikat yang dinamakan keabadian, yaitu sifat dari akhirat. Kematian membinasakan jasad dan kiamat menghancurkan alam seluruhnya, tetapi tidak membinasakan Ruh yang di dalamnya terdapat amal masing-masing makhluk. Ahli maksiat tidak dapat selamat dari kematian dan kiamat. Ahli taat yang tidak mendapat pahala setimpal di dunia tidak akan binasa ketaatannya oleh kematian dan kiamat. Tanggung jawab seorang hamba akan terus dipikul melewati kematian, Alam Barzakh, kiamat, Padang Mahsyar dan seterusnya sampai Hari Pembalasan. Tanggung jawab tersebut hanya gugur setelah Hakim Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil lagi Maha Mengetahui serta Maha Perkasa menjatuhkan hukuman. Inilah hakikat yang ditemukan mata hati yang menyelami Alam Barzakh, bukan melihat ruh orang mati di dalam kubur.
Mata hati berfungsi mengenal perkara yang ghaib. Ma’rifat atau pengenalan kepada keabadian atau hari akhirat akan melahirkan kesungguhan menjalankan amanat Allah swt, yaitu mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauh larangan-larangan-Nya. Amanat itu akan terus dibawa oleh para hamba untuk diserahkan kembali kepada Allah swt yang memberi amanat tersebut. Ma’rifat mata hati yang demikian melahirkan sifat takwa dan beramal salih. Apabila takwa dan amal saleh menjadi sifat seorang hamba maka masuklah hamba itu ke dalam jaminan Allah swt.
Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah) (QS. Al-Mu’min: 13).
Allah swt berfirman dalam Hadits Qudsi:
“Hamba-Ku, taatilah semua perintah-Ku, jangan mengurusi keperluanmu saja”
Allah swt sebagai Tuhan, Tuan atau Majikan tidak sekali-kali mengabaikan tanggung jawab-Nya untuk memberi rizki kepada hamba-hamba-Nya, sementara itu hamba-hamba berkewajiban pula mentaati Tuannya. Rizki telah dijamin oleh Allah swt dan untuk mendapatkan rizki tersebut seorang hamba hanya perlu bertindak sesuai dengan maqamnya. Jika dia ahli asbab maka bekerjalah sesuai arah rizkinya dan jangan iri hati terhadap yang dikaruniakan kepada orang lain. Jika dia ahli tajrid maka bertawakallah kepada Allah swt dan jangan gusar jika terjadi kelebihan atau kekurangan dalam urusan rizki. Walau dalam maqam manapun berada, seorang hamba harus melakukan kewajiban, yaitu bersungguh-sungguh mentaati Allah swt dengan mengerjakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Hamba yang terbuka mata hatinya percaya dengan yakin terhadap jaminan Allah swt dan tidak mengabaikan kewajibannya. Hamba yang seperti ini akan melipatgandakan kegiatan, bertakwa, dan beramal saleh tanpa mencurigai jaminan Allah swt mengenai rizkinya.
Hamba yang buta mata hatinya akan berbuat yang berlawanan; dia tekun dan rajin mencari rizki yang dijamin Allah swt, tetapi melalaikan tanggung jawab yang diamanatkan-Nya. Orang seperti ini akan memaksimalkan daya usaha untuk memperoleh rizki tetapi sangat minimal dalam memperjuangkan amanat Allah swt dengan harapan dapat memperoleh pahala atas kebaikannya tersebut.
Mata hati melihat kepada kebenaran dalam keghaiban. Nafsu dengan minatnya terhadap keduniawian yang akan menutupi kebenaran tersebut dan akal membuat alasan untuk menguatkan keraguan yang tumbuh pada nafsu. Perkara ghaib harus diyakini dengan keimanan. Jika nafsu dan akal berkompromi menghadirkan keraguan, maka kebenaran yang ghaib akan terhijab. Orang yang mencari kebenaran tetapi gagal menundukkan nafsu dan akalnya akan berputar-putar di tempat yang sama. Keyakinan dan keraguan akan senantiasa berperang dalam jiwanya.

BAB 6 :

Pengertian Doa

Angan akan memperlambat anugerah Tuhan kepadamu. Membuatmu berputus asa, meskipun telah bersungguh-sungguh dalam berdoa. Padahal Allah swt menjamin untuk mengabulkan semua doa; menurut apa yang dikehendaki-Nya bukan atas keinginanmu dan pada waktu yang ditentukan-Nya bukan atas waktu yang kamu tentukan.

Apabila berkeinginan mendapatkan sesuatu urusan duniawi maupun ukhrawi maka kita akan berusaha bersungguh-sungguh untuk memperolehnya. Jika sudah berusaha dan tidak mampu memperolehnya, kita akan meminta pertolongan kepada orang yang yang mempunyai kemampuan. Jika mereka tidak mampu mewujudkannya, kita akan memohon pertolongan kepada Allah swt, menengadahkan tangan ke langit sambil bercucuran air mata dan suara yang mreayu-rayu menyatakan keinginan kepada-Nya. Jika keinginan belum tercapai, maka terus-menerus bermohon dengan sepenuh hati. Tidak ada kesulitan bagi Allah swt untuk memenuhi keperluan kita. Seandainya Dia menganugerahkan kepada kita semua kekayaan yang ada di dalam bumi dan langit, maka anugerah-Nya itu tidak sedikit pun mengurangi kekayaan-Nya. Begitu pula seandainya Allah swt menahan anugerah-Nya, maka tindakan yang demikian itu tidak sedikit pun akan menambah kekayaan dan kemuliaan-Nya. Jadi, dalam perkara memberi atau menahan tidak sedikit pun memberi akibat kepada ketuhanan Allah swt. Ketuhanan-Nya adalah mutlak, tidak sedikit pun terikat dengan keinginan, doa, dan amal hamba-hamba-Nya.
“Dan Allah berkuasa melakukan apa yang dikehendaki-Nya” (QS. Ibrahim: 27).
“Semuanya itu tunduk di bawah kekuasaan-Nya” (QS. Al-Baqarah: 116).
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai” (QS. Al-Anbiya: 23).
Sebagian besar dari kita tidak sadar bahwa telah mempersekutukan Allah swt dengan doa dan amal. Kita menjadikan doa dan amal sebagai penentu atau setidak-tidaknya kita menganggapnya untuk tawar-menawar dengan Tuhan. Seolah-olah kita berkata, “Wahai Tuhan! Aku sudah berdoa maka Engkau wajib memenuhinya. Aku sudah beramal maka Engkau wajib membayar upahnya!” Siapakah yang berkedudukan sebagai Tuhan, kita atau Allah swt? Seandainya tahu bahwa diri kita adalah hamba, maka berlakulah sebagai hamba dan jagalah sopan-santun terhadap Sang Tuan. Hak seorang hamba adalah rela atas apapun juga keputusan dan pemberian Tuannya.
Doa adalah bentuk kepasrahan bukan tuntutan. Kita telah berusaha tetapi gagal. Kita telah meminta pertolongan makhluk tetapi itu juga gagal. Apa lagi pilihan yang masih tersisa kecuali menyerahkan segala urusan kepada Tuhan yang di Tangan-Nya terletak segala perkara. Serahkan kepada Allah swt dan tanyalah kepada diri sendiri mengapa Tuhan belum mengabulkan apa yang kita inginkan. Apakah tidak mungkin apa yang kita inginkan dapat mendatang mudharat sehingga karenanya Allah swt Yang Maha Penyayang belum mengabulkannya? Bukankah Allah swt itu Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Mengetahui?
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)
“Dialah yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, (dan Dialah jua) yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Thagabun: 18).
“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS. Al-Baqarah: 106).
Allah swt Maha Lembut dan Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Allah swt yang bersifat demikian dapat mengganti apa saja dengan yang lebih baik atau yang sama baik. Dia dapat berbuat demikian karena tidak bersekutu dengan siapapun dan Dia Maha Kuasa. Seorang hamba senantiasa meminta pertolongan kepada Tuhan. Apa yang diingini disampaikannya kepada Tuhan. Kadang-kadang satu permintaan berlawanan dengan permintaan yang lain atau satu permintaan itu menghalangi permintaan yang lain. Manusia hanya berfokus kepada satu doa tetapi Allah swt menerima datangnya semua doa dari manusia tersebut. Manusia memiliki kalbu sehingga jiwanya dapat bolak-balik dan keinginannya tidak tetap. Tuhan yang menguasai semua perkara tidak berubah-ubah. Manusia yang telah meminta satu kebaikan boleh jadi meminta pula sesuatu yang tidak baik atau kurang baik. Tuhan yang menentukan yang terbaik untuk hamba-Nya tidak berubah kehendak-Nya.
Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi.” Katakanlah: “Kepunyaan Allah.” Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman” (QS. Al-An’am: 12).
Orang yang beriman selalu mendoakan:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al-Baqarah: 201).
Hamba yang mendapat rahmat dari Allah swt doanya di atas diterima dan doa tersebut menjadi induk atas segala doa-doanya. Doa yang telah diterima oleh Allah swt menahan doa-doa yang lain. Jika di kemudian hari si hamba meminta sesuatu yang mendatangkan kebaikan hanya kepada penghidupan dunia saja, tidak untuk akhirat dan tidak menyelamatkannya dari api neraka, maka doa induk di atas menahan doa yang datang belakang. Hamba tersebut dipelihara dari datangnya sesuatu yang menggerakannya ke arah yang ditunjukkan oleh doa induk di atas. Jika permintaannya sesuai dengan doa induk di atas, dia akan dipermudah mendapat apa yang dimintanya itu.
Oleh sebab itu, doa adalah kepasrahan kepada Yang Maha Penyayang dan Maha Mengetahui. Menghadaplah kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya serta ucapkan, “Wahai Tuhanku Yang Maha Lemah-Lembut, Maha Mengasihi, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana! Daku adalah hamba yang bersifat tergesa-gesa, lemah dan bodoh. Daku mempunyai keinginan tetapi tidak mengetahui akibatnya bagiku, sedangkan Engkau Maha Mengetahui. Seandainya keinginan ini baik akibatnya bagi dunia dan akhiratku dan melindungiku dari api neraka maka karuniakan ia kepdaku pada saat yang baik bagiku untuk menerimanya. Jika kesudahannya buruk bagi dunia dan akhiratku dan mendorongku ke neraka, maka jauhkan ia dariku dan cabutlah keinginanku terhadapnya. Sesungguhnya Engkaulah Tuhanku Yang Maha Mengerti dan Maha Berdiri Sendiri.”
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia) (QS. Al-Qashash: 68).

BAB 7 :

Janji Allah SWT

Jangan sampai kamu meragukan janji Allah yang menurutmu tidak terlaksana. Karena pasti (tiba) waktunya, supaya keraguan itu tidak merusakkan mata hati dan tidak memadamkan cahaya sir (rahasia atau batin) kamu.

Doa dan janji Allah swt berhubungan erat. Allah swt menjanjikan untuk menerima semua doa. Hamba sudah sangat kuat dan seringkali berdoa. Hamba berdoa agar diselamatkan dari suatu musibah. Waktu musibah itu sampai tetapi keselamatan dari-Nya tidak juga tiba. Timbul keraguan dalam hati hamba itu tentang janji-janji Allah swt.
Sebagian orang beriman diuji dengan diterima atau ditolak doanya, sebagian yang lain diuji dengan diterima atau ditahannya janji Allah swt. Janji Allah swt terdapat dalam bentuk umum dan bentuk khusus. Janji umum banyak terdapat di dalam Al-Quran seperti janji surga terhadap orang yang berbuat kebajikan, janji neraka terhadap orang yang durhaka, janji ketinggian derajat bagi orang yang berjihad pada jalan Allah swt, janji kekuasaan di atas muka bumi terhadap orang yang beriman dan beramal saleh, dan seterusnya. Di dalam surah An-Nisa ayat 95 Allah swt menjanjikan pahala yang besar kepada orang yang berjihad pada jalan-Nya. Dalam surah An-Nur ayat 55 Allah swt menjanjikan kepada orang yang berima dan beramal saleh bahwa mereka akan dijadikan khalifah di bumi, Dia akan teguhkan agama mereka dan Dia akan menghilangkan ketakutan mereka.
Banyak lagi janji Allah swt yang ditemukan di dalam Al-Quran. Janji-janji Allah swt secara umum berkaitan dengan amal, sesuai dengan sunnatullah yang menguasai perjalanan kehidupan. Ada juga janji secara khusus kepada orang-orang tertentu, misalnya melalui mimpi atau suara ghaib. Orang yang beriman kepada Allah swt percaya kepada semua janji-janji-Nya. Janji Allah swt menjadi pendorong kepada mereka untuk bekerja sungguh-sungguh, beramal saleh dan berjihad pada jalan-Nya. Allah swt tidak sekali-kali akan mengingkari janji-janji-Nya. Di dalam kelompok orang yang percaya kepada janji-janji Allah swt itu ada sebagian yang berpenyakit seperti yang diidap oleh sebagian orang yang berdoa kepada Allah swt. Orang yang berdoa membuat tuntutan dengan doanya dan orang yang percaya kepada janji Allah swt membuat tuntutan dengan amalnya, karena Allah swt berjanji memberinya sesuatu menurut amalannya.
Hikmah ketujuh menghubungkan janji Allah swt dengan mata hati dan Nur Sir (rahasia atau batin). Persoalan mata hati telah dijelaskan pada Hikmah kelima. Penyingkapan rahasia mata hati menemukan kita dengan persoalan lahiriah, batiniah dan selanjutnya kepada persoalan ruh. Cahaya mata hati membawa kepada pengenalan terhadap Alam Barzakh dan keabadian. Mata hati yang kuat tidak berhenti sampai Alam Barzakh, malah ia menuju kepada peringkat alam lebih tinggi yang dinamakan Alam Malakut Atas. Pandangan mata hati selanjutnya sampai kepada kulit alam yang dinamakan Arasy Yang Meliputi. Semua makhluk Allah swt menghuni ruang di dalam atau dibatasi oleh kulit atau kerangka alam, yaitu Arasy. Tidak ada makhluk yang wujud di luar dari kulit alam. walaupun kulit alam merupakan penciptaan Tuhan yang paling luar, namun mata hati tidak berhenti sampai di situ. Mata hati terus berlanjut “di luar” kulit alam, yang dipanggil Wujud ketuhanan. Sampai di sini, muncul permasalahan yang berat dan rumit untuk diuraikan. Semua penciptaan berada di dalam kulit alam. Kulit alam adalah yang terakhir. Apabila sampai kepada kulit alam tidak boleh lagi dikatakan wujud alam ketuhanan di luar, setelah, dibalik, atau istilah-istilah lain, karena tidak ada apa-apa lagi. Kewujudan ketuhanan bukanlah satu jenis alam lain. Tidak boleh dikatakan wujud alam ketuhanan setelah alam kita ini. Allah swt Berdiri Dengan Sendiri, tidak menempati ruang. Jika demikian persoalannya, bagaimanakah yang dikatakan ketuhanan sedangkan kita sudah menjelajah ke seluruh alam maya, namun Allah swt tidak juga ditemui?
Antara alam yang sementara dengan alam abadi terdapat Alam Barzakh. Barzakh adalah antara. Barzakh itulah yang menghubungkan dua keadaan yang berbeda. Misalnya, barzakh bagi laut dan sungai adalah muara. Air laut adalah asin dan air sungai adalah tawar. Air pada barzakh merupakan campuran antara asin dan tawar yang dinamakan payau. Payau itu bukan asin dan bukan pula sebagian dari asin. Payau juga bukan tawar dan bukan sebagian dari tawar. Muara itu bukan laut, bukan pula sungai, dan bukan sebagian dari laut dan sungai. Jika mau melihat laut dan sungai dengan sekali pandang pada satu waktu atau sebagi satu kewujudan, maka lihatlah kepada muara. Jika mau merasakan asin dan tawar sekaligus, maka rasakanlah air payau.
Jika terdapat barzakh di antara makhluk dengan makhluk, terdapat juga barzakh di antara Tuhan dengan makhluk. Barzakh inilah yang menjadi penghubung di antara Tuhan dengan hamba. Tanpa barzakh ini tidak mungkin berlaku kewujudan makhluk yang diciptakan Tuhan karena tidak ada pertalian atau jembatan yang menghubungkannya. Barzakh di antara Allah swt dengan hamba itu dinamakan Sir atau Rahasia, yaitu Rahasia Allah swt, yang hanya Allah swt yang mengetahui hakikat yang sebenarnya. Rahasia inilah yang memungkinkan terdapat hubungan di antara Pencipta dengan yang dicipta. Sir atau Rahasia itu memancarkan nurnya kepada mata hati. Mata hati yang bercahayakan Nur Sir (Rahasia ketuhanan) akan dapat mengenal tentang Sir dan mengalami suasana tauhid peringkat yang tertinggi. Apabila hakikat Sir ditemukan nyatalah firman Allah swt:
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Al-Qaf: 16).
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (Qs. Al-Hadid: 4).
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS. Ash-Shaffat: 96).
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (QS. At-Takwir: 29).
Apa yang ada pada kita semuanya adalah karunia dari Allah swt. Kemauan kita untuk melakukan amal saleh datangnya dari Iradat Allah swt, tanpa Iradat Allah swt kita akan menjadi bodoh, tidak berkemauan. Apabila melakukan amal kebaikan, kita tidak terlepas dari daya dan upaya yang datangnya dari Allah swt. Tanpa Kudrat Allah swt kita tidak mampu bergerak. Kemampuan kita untuk berdoa dan beramal adalah karunia dari Allah swt.
Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS. Al-Hujurat: 17).
Kehendak dan perbuatan kita adalah anugerah dari Allah swt. Jadi, apa hak kita untuk menuntut Allah swt dengan doa dan amal. Memang benar Allah swt berjanji untuk mengabulkan semua doa dan mengaruniakan sesuatu menurut amal. Tetapi, tidak ada makhluk-Nya yang layak menagih janji tersebut. Janji Allah swt kembali kepada Diri-Nya sendiri. Jangan coba-coba menuntut janji Allah swt karena seandainya Dia menuntut kamu dengan amanah yang dipertaruhkan kepadamu niscaya semua amalan akan hancur beterbangan seperti debu, tidak ada walau sebesar biji zarah pun yang layak dipersembahkan kepada-Nya apabila kamu dihadapkan kepada keadilan-Nya.
Oleh sebab itu berteduhlah di bawah payung rahmat dan ampunan-Nya, jangan mengungkit-ungkit tentang amal kamu dan janji-Nya. Contohlah akhlak Rasulullah saw yang telah menerima janji Allah swt, yaitu ketika Baginda saw bermimpi memasuki kota Makkah. Kaum muslimin percayabahwa itu adalah janji Allah swt kepada Rasul-Nya, Dia mengijinkan mereka bersama-sama memasuki kota Makkah sekalipun kaum musyrikin Quraisy masih menguasai kota tersebut. kaum muslimin berangkat dari Madinah ke Makkah. Rombongan mereka dihadapan sebelum sampai Makkah. Kaum musyrikin tidak membenarkan kaum muslimin memasuki Makkah. Kejadian dari peristiwa tersebut dikenal dengan Perjanjian Hudaibiah. Rasulullah saw sepakat agar kaum muslimin tidak memasuki Makkah pada tahun itu. Sayyidina Umar al-Khathab ra yakin akan mimpi Rasulullah saw. Beliau juga percaya bahwa mimpi Rasulullah saw itu adalah janji Allah swt yang mengijinkan mereka memasuki kota Makkah. Beliau juga yakin bahwa janji Allah adalah benar maka mereka memasuki Makkah walaupun dengan cara berperang adalah tindakan yang benar. Beliau menganjurkan agar berperang supaya kebenaran mimpin Rasulullah saw dan kebenaran janji Allah swt menjadi kenyataan. Iman Umar ra yang sangat mendalam membuatnya mau maju terus menurut petunjuk yang sampai kepadanya tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Sayyidina Abu Bakar as-Siddik yang Nur Sirnya lebih sempurna daripada Nur Sir Umar ra bersikap menyetujui tindakan Rasulullah menandatangani Perjanjian Hudaibiah. Melalui cahaya Nur Sirnya, Abu Bakar dapat menyaksikan apa yang terlindung dari padangan mata hati Umar ra.
Kemudian ternyata perjanjian tersebut banyak memberi manfaat kepada kaum muslimin. Ternyata kebijaksanaan Rasulullah saw menandatangani Perjanjian Hudaibiah dan kebenaran pandangan hati Abu Bakar ra melalui pancaran Nur Sirnya. Sesuai dengan Perjanjian Hudaibiah, pada tahun berikutnya kamu muslimin dapat memasuki kota suci Makkah secara aman. Benarlah apa yang dimimpikan oleh Rasulullah saw dan bernarlah janji Allah swt. Rasulullah saw menerima janji Allah swt sebagai satu karunia yang wajib diyakini dengan cara bertawakal kepada Allah swt dalam pelaksanaannya. Bila terjadi sesuai yang lahiriyahnya menghalangi pelaksanaan janji Allah swt itu Rasulullah saw tidak menagih kepada Allah swt atas janji tersebut, sebaliknya baginda saw mengembalikannya kepada Allah swt. Sebagai balasan terhadap keridhaan menerima takdir Allah swt, maka Allah swt mengaruniakan pula Perjanjian Hudaibiah yang banyak membantu perkembangan dakwah Islam. Allah swt juga tidak sekali-kali melupakan janji-Nya mengijinkan kaum Muslimin menziarahi tanah suci Makkah, dengan rahmat-Nya kaum muslimin memasuki kota Makkah pada tahun berikutnya dalam suasana aman. Jadi, apabila janji Allah swt dikembalikan kepada Allah swt, maka Allah swt melaksanakannya.
Peristiwa di atas memberi pengajaran kepada kita tentang Sir. Sayyidina Abu Bakar as-Siddik melebih sahabat-sahabat yang lain lantaran Sirnya, yaitu Rahasia pada hati nurani yang menghubungkannya dengan Allah swt. Sir yang menguasainya itulah yang menjadikannya as-Siddik. Beliau dapat membenarkan kebenaran Nabi Muhammad saw tanpa protes. Beliau membenarkan peristiwa Isra dan Mi’raj ketika kebanyakan kaum Quraisy menafikannya. Abu Bakar bukanlah seorang dungu yang bertaklid secara membuta. Tetapi, apa yang sampai kepadanya diakui oleh Sirnya yang memperoleh pengesahan dari Allah swt. Cahaya kebenaran yang keluar dari Rasulullah saw dan cahaya kebenaran yang keluar dari Sir Abu Bakar ra adalah sama, sebab itulah Abu Bakar ra membenarkannya tanpa protes dan tanpa meminta bukti. Bukti apa lagi yang diperlukan apabila Sir telah mendapat jawaban dari Allah swt. Sir atau Rahasia Allah swt itulah yang tidak terpisah dari Allah swt; senantiasa menghadap kepada Allah swt dan mendengar Kalam Allah swt. Sir itulah yang mengenal Allah swt.
Kemurnian Sir Abu Bakar ra terbukti lagi ketika wafatnya Rasulullah saw. Umar ra yang dikuasai oleh iman yang sangat kuat melahirkan cinta mendalam terhadap Rasulullah saw, Kekasih Allah swt, dikuasai kecintaan itu, beliau mau memancung kepala siapa saja yang mengatakan Rasulullah saw sudah wafat. Tetapi, Abu Bakar ra yang kecintaannya terhadap Rasulullah saw mengatasi kecintaan Umar ra mampu mengatakan, “Siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad sudah wafat. Siapa yang menyembah Allah swt, maka Allah swt tidak akan wafat selama-lamanya!” Begitulah murninya cahaya atau nur yang diterima Abu Bakar ra di dalam hatinya yang dipancarkan oleh Sir. Tidak salah jika dikatakan sekiranya mau memahami Sir maka fahamilah diri Sayyidina Abu Bakar as-Siddik ra. Mengenali beliau membuat seseorang mengenali tanda-tanda Sir.
Kalah Hikmah ketujuh ini memberi pannduan untuk memahami hakikat Sir. Tanda seseorang tidak mendapat cahaya Nur Sir ialah dia menagih janji-janji Allah swt kaena dia memaknai maksud janji Allah swt menurut seleranya sendiri. Bagaimana kedudukan kita terhadap janji Allah swt begitulah keadaan hati kita berhubung dengan Rahasia Allah swt atau Sir.


BAB 8 :

Jalan Memperoleh Ma’rifat


Apabila Tuhan membukakan bagimu jalan untuk ma’rifat, maka jangan hiraukan tentang amalmu yang masih sedikit karena Allah swt tidak membuka jalan tadi melainkan Dia berkehendak memperkenalkan Diri-Nya kepadamu

Kalam-kalam Hikmah yang diuraikan sebelumnya mengajak kita merenung secara mendalam tentang pengertian amal, Qada dan Qadar, tadbir dan ikhtiar, doa dan janji Allah swt, yang semuanya itu mendidik ruhani agar melihat kecilnya sesuatu yang datang dari seorang hamba dan betapa besarnya apa yang dikaruniakan oleh Allah swt. Ruhani yang terdidik seperti ini akan membentuk sikap beramal tanpa melihat kepada amalan itu, sebaliknya melihat amalan itu sebagai karunia Allah swt yang wajib disyukuri. Orang yang terdidik seperti itu tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah swt tetapi membuka hati nuraninya untuk menerima taufik dan hidayah dari Allah swt.
Orang yang hatinya suci bersih akan menerima pancaran Nur Sir dan mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah swt, Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia mau ditemui dan dikenali. Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang kepada Allah swt. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah swt. Allah swt hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan “Diri-Nya”. Penemuan kepada hakikat bahwa tidak ada jalan yang terhubung kepada gerbang ma’rifat merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu pergi lebih jauh dari itu. Apabila mengetahui dan mengakui baha tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah swt maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apalagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sampai di sini seseorang itu tidak ada pilihan lagi melainkan pasrah sepenuhnya kepada Allah swt.
Bukan kesenangan mau membulatkan hati untuk menyreah bulat-bulat kepada Allah swt. Ada orang yang mengetuk pintu gerbang ma’rifat dengan doanya. Jika pintu itu tidak terbuka maka semangatnya akan menurun hingga membawanya kepada putus asa. Adapula orang yang berpegang dengan janji Allah swt bahwa Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada jalan-Nya. Dia beramal dengan kuat agar dia lebih layak untuk menerima karunia Allah swt sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk pintu gerbang ma’rifat. Bila pintu tersebut tidak terbuka juga maka dia akan merasa ragu-ragu.
Dalam perjalanan mencari ma’rifat seseorang tidak terlepas dari kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa jika dia masih bersandar kepada sesuatu selain Allah swt. hamba tidak ada pilihan kecuali berserah kepada Allah swt, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali Diri-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah swt. aslim atau menyerah diri kepada Allah swt adalah perhentian di hadapan pintu gerbang ma’rifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang berkemungkinan menerima karunia ma’rifat. Allah swt menyampaikan hamba-Nya di sini adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya. Aslim adalah maqam terdekat dengan Allah swt. siapa yang sampai kepada maqam ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam larutan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Allah swt kehendaki dari maqam inilah hamba diangkat ke Hadrat-Nya.
Jalan menuju perhentian aslim yaitu ke pintu gerbang ma’rifat secara umum terbagi dua. Jalan pertama dinamakan jalan orang yang mencari dan jalan kedua dinamakan jalan orang yang dicari. Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia kuat melakukan mujahadah, berjuang melawan godaan hawa nafsu, kuat melakukan amal ibadah dan gemar menuntut ilmu. Zahirnya sibuk melaksanakan tuntutan syariat dan batinnya memperteguhkan iman. Dipelajarinya tariqat tasawuf, mengenali sifat-sifat yang tercela dan berusaha membuang dari dirinya. Kemudian mengisinya dengan sifat-sifat terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatihkan dirinya agar nafsunya menjadi bertambah suci hingga meningkat ke tahap yang diridhai Allah swt. Inilah orang yang diceritakan Allah swt dengan firman-Nya:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Ankabut: 69).
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS. Al-Insyiqaq: 6).
Orang yang bermujadahah pada jalan allah swt dengan cara menuntut ilmu, mengalamkan ilmu yang dituntutnya, memperbanyak ibadah, zikir, menyucikan hati, maka Allah swt menunjukkan jalan dengan memberikan taufik dan hidayah sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah swt tanpa ragu-ragu dan ridha dengan apa yang Allah swt. Dia dibawa menuju pintu gerbang ma’rifat dan hanya Allah swt saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke Hadrat-Nya ataupun tidak, dikaruniakan ma’rifat ataupun tidak.
Golongan orang yang dicari menempuh jalan yang berbeda dari golongan yang mencari. Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal dengan tekun. Dia hidup sebagai orang awam tanpa kesungguhan bermujadah. Tetapi Allah swt telah menentukan satu kedudukan keruhanian kepadanya, maka takdir akan membawanya sampai ke kedudukan yang telah ditentukan itu. Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan suatu peristiwa yang dengan serta merta membawa perubahan kepada hidupnya. Perubahan sikap dan perilaku terjadi secara mendadak. Kejadian yang menimpanya selalu berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang di antara dia dengan Allah swt. Jika dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkan dia tidak mampu mendekati Allah swt, maka Allah swt mencabut kerajaan itu darinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan pada waktu yang sama muncul satu keinsafan di dalam hati yang membuatnya menyerahkan diri kepada Allah swt dengan sepenuh hatinya. Seandainya dia seorang hartawan, takdir akan memupuskan hartanya sehingga tidak ada tempat bergantung kecuali Tuhan sendiri. Seandainya dia berkedudukan tinggi, takdir mencabut kedudukan tersebut dan ikut tercabut pula kemuliaan yang dimilikinya, digantikan dengan kehinaan sehingga dia tidak ada tempat untuk dituju lagi kecuali kepada Allah swt. Orang dalam golongan ini dihalang oleh takdir dari bantuan makhluk sehingga mereka berputus asa terhadap makhluk. Lalu mereka kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah swt dan timbullah dalam hati mereka suasana penyerahan atau aslim yang sesungguhnya terhadap Allah swt. Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa dari makhluk menjadikan mereka ridha dengan takdir apa saja takdir dan apa yang dilakukan oleh Allah swt. Suasana begini membuat mereka sampai dengan cepat ke perhentian pintu gerbang ma’rifat walaupun ilmu dan amal mereka masih sedikit. Oang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana mampu sampai ke perhentian tersebut dalam waktu dua bulan sedangkan orang yang mencari mungkin sampai dalam masa dua tahun.
Abu Hurairah ra menceritakan bahwa beliau mendengar Rasulullah saw bersabda yang maksudnya, Allah berfirman: “Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh, maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari sebelumnya dan dia dapat memperbarui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua”.
Amal kebaikan dan ilmunya tidak mampu membawanya kepada kedudukan keruhanian yang telah ditentukan Allah swt, lalu Allah swt dengan rahmat-Nya memberikan ujian yang dapat menariknya kepada kedudukan yang dekat dengan Allah swt. Oleh karena itu, tidak perlu dipersoalkan tentang amal dan ilmu seandainya keadaan yang demikian terjadi kepada seorang hamba-Nya.

BAB 9 :

Ahwal Menentukan Amal


Terdapat berbagai jenis amal dikarenakan beragamnya ahwal (hal-hal)
Hikmah sembilan di atas sangat ringkas tetapi padat. Hikmah ini merupakan lanjutan kepada hikmah kedelapan yang diuraikan sebelumnya. Hikmah yang kedelapan menjelaskan tempat perhentian di hadapan pintu gerbang danbelum menyentuh ma’rifat. Hikmah kesembilan ini memberi gambaran tentang ma’rifat tetapi tidak dikatakan ma’rifat dan tidak diuraikan secara jelas, tetapi dikatakan sebagai ahwal. “Ahwal” adalah jama’ dari kata “hal”. Hikmah ini menjelaskan bahwa hal membentuk keadaan amal. Amal adalah perbuatan atau perilaku lahiriah dan hal adalah suasana atau perilaku hati. Amal berkaitan dengan lahiriah sementara hal berkaitan dengan batiniah. Oleh karena hati menguasai seluruh anggota badan, maka perilaku hati yaitu hal akan menentukan bentuk amal (perbuatan lahiriah).
Dalam pandangan tasawuf, hal diartikan sebagai pengalaman ruhani dalam proses mencapai hakikat dan ma’rifat. Hal merupakan zauq atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan ma’rifatullah (pengenalan tentang Allah swt). Oleh karena itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak akan memperoleh ma’rifat. Ahli ilmu membina ma’rifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasawuf berma’rifat melalui pengalaman tentang hakikat.
Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli keruhanian terlebih dahulu memperoleh kasyaf, yaitu terbukan keghaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk ghaib seperti jin. Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan, kasyaf yang demikian itu tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya setan yang bersembunyi dalam berbagai bentuk dan suasana dunia ini. Kasyaf yang menerima hakikat sesuatu, walau apa pun rupa yang dihadapi, penting bagi pengembara keruhanian. Rasulullah saw sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibril as dalam rupanya yang asli dua kali saja, walaupun pada setiap kali Jibril as menemui Rasulullah saw dengan rupa yang berbeda-beda, Rasulullah saw tetap mengenalinya sebagai Jibril as. Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya setan yang menjelma dalam berbagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa yang kelihatan alim atau wara’.
Bila seorang ahli keruhanian memperoleh kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau zhauq, yaitu pengalaman keruhanian tentang hakikat ketuhanan. Hal tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu. Sebelumnya pernah dinyatakan bahwa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang ma’rifat. Seorang yang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu hampir sampai kepada pintu gerbangnya. Apabila sampai di situ seseorang hanya menanti karunia Allah swt, semata-mata karunia Allah swt yang membawa ma’rifat kepada hamba-hamba-Nya. Karunia Allah swt yang mengandung ma’rifat itu dinamakan hal. Allah swt memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilagi membuat hati mengalami hal bahwa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi kesannya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil hingga dia jatuh pingsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau zhauq atau merasakan keperkasaan Allah swt dan pengalaman ini dinamakan hakikat, yaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allahswt. Pengalaman hati tersebut membuatnya mempunyai pengetahuan tentang makna Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperoleh dari zhauq hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu dinamakan ma’rifat. Orang yang demikian dikatakan berma’rifat terhadap keperkasaan Allah swt. Oleh karena itu untuk mencapai ma’rifat seseorang itu harus mengalami hakikat. Inilah jenis ma’rifat yang tertinggi. Ma’rifat tanpa pengalaman hati adalah ma’rifat secara ilmu. Ma’rifat secara ilmu dapat diperoleh dengan belajar, sementara secara zhauq diperoleh tanpa belajar. Ahli tasawuf tidak berhenti pada kondisi ma’rifat secara ilmu, mereka mempersiapkan hati agar sesuai ketika menerima kedatangan ma’rifat secara zhauq.
Ada orang yang memperoleh hal sekali saja dan dikuasai oleh hal dalam waktu tertentu saja serta ada juga yang kekal di dalam hal. Hal yang terus-menerus atau kekal dinamakan wishal, yaitu penyerapan hal secara terus-menerus, kekal atau baqa. Orang yang mencapai wishal akan terus hidup dengan cara yang diperolehnya. Hal-hal (ahwal) dan wishal dapat diperoleh oleh:
1.  Abid:
Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau zhauq yang membuat dia merasakan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mempunyai daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, upaya, bakat-bakat dan apa saja yang ada dengannya adalah daya dan upaya dari Allah swt. Semuanya itu adalah karunia-Nya semata-mata. Allah swt sebagai pemilik yang sebenarnya; apabila Dia memberi maka Dia berhak mengambil kembali pada waktu-waktu yang Dia kehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah swt hingga seandainya dia melepaskan sandaran itu dia akan jatuh, tidak berdaya, tidak bergerak, karena dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah swt.
2.  Asyikin:
Asyikin ialah orang yang mendapat asyik dengan sifat Keindahan Allah swt. Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal baginya karena apa saja yang dilihatnya menjadi cermin untuk melihat Keindahan serta Keelokan Allah swt di dalamnya. Amal atau perilaku asyikin ialah gemar merenung alam maya dan memuji Keindahan Allah swt atas apa yang disaksikannya. Ketika duduk dia menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu. Kilauan tombak dan tetesan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang kelihatan adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah swt. Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan peraturan masyarakat. Kesadarannya bukan lagi pada alam ini. Dia mempunyai alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah swt.

3.  Muttakhaliq:
Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan bertukar sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana Qurbi Faraidh atau Qurbi Nawafil. Dalam Qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah swt menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang atau campur tangan, bahkan tidak mampu mengubah apa yang mau terjadi pada perilaku dan perbuatannya. Dia menjadi orang yang berpisah dari dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan suatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia sendiri tidak berdaya untuk mengawal atau mempengaruhinya. Hal Qurbi Faraid adalah dia melihat bahwa Allah swt melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah swt, dan diamnya juga adalah gerakan Allah swt. Orang ini tidak mempunyai kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar atau tadbir. Apa yang terjadi atas dirinya, seperti dan perbuatan dan perkataan berlaku secara spontan. Perilaku atau amal Qurbi Faraidh ialah pergantian di antara logis dengan tidak logis, mengikuti adat atau merombak adat, berperilaku alim atau bodoh. Dalam banyak perkara, penjelasan yang diberikannya ialah, “Tidak tahu! Allah swt berbuat yang Dia kehendaki.”
Dalam suasana Qurbi Nawafil, muttakhaliq melihat dengan mata hatinya terhadap sifat-sifat Allah swt yang menguasai bakt dan upaya pada sekalian anggotanya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal Qurbi Nawafil ialah berbuat dengan ijin Allah swt karena Allah swt mengaruniakan kepadanya untuk berbuat sesuatu. Contoh Qurba Nawafil adalah perilaku Nabi Isa as yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan ijin Allah swt, juga perilaku beliau menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa as melihat sifat-sifat Allah swt yang diijinkan menjadi bakat dan upaya beliau, sebab itu beliau tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadi burung dan menghidupkan orang mati dengan ijin Allah swt.
4.  Muwahhid:
Muwahhid fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid ialah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah swt. Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariyah dan sekalian maujud. Perilaku atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Abdullah, dan jika ditanya kepadanya di manakah Abdullah, maka dia akan menjawab, Abdullah tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke’Abdullah-an dan benar-benar dikuasai oleh ke-Allah-an. Ketika dia dikuasai oleh hal, dia terlepas dari beban hukum syara’. Dia mungkin mengatakan, “Akulah Allah! Maha Suci Aku! Sembahlah Aku!” Dia telah fana dari “aku” dirinya dan dikuasai oleh kewujudan “Aku Hakiki”. Walau bagaimana pun sikap dan perilakunya, dia tetap dalam keridhaan Allah swt. Apabila dia tidak dikuasai oleh hal, kesadarannya kembali dan dia menjadi ahli syariat yang taat. Perlu diketahui bahwa hal tidak boleh dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak berupaya menahannya. Ahli hal tenggelam dalam perilaku Allah swt. Bila dia mengatakan, “Akulah Allah!”, bukan bermakna dia mengaku telah menjadi Tuhan, tetapi dirinya telah fana, apa yang terucap melalui lidahnya sebenarnya adalah dari Allah swt. Allah swt yang mengatakan Dia adalah Tuhan dengan menggunakan lidah muwahhid yang sedang fana itu.
Berbeda dengan golongan mulhid. Si mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada zhauq, tetapi berperilaku dan berucap seperti orang di dalam zhauq. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat, bukan mengalami secara hakikat zhauq. Si mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata-mata. Dia berpuas hati berbicara tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini berbicara sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesadaran kemanusiaan, masih diliputi dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi sepakat mengatakan bahwa siapa yang mengatakan, “Ana al-Haq!” sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang tersebut adalah sesat dan kufur!
5.  Mutahaqqiq:
Mutahaqqiq ialah orang yang setelah fana dalam zat, turun kembali kepada kesadaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib ditunaikan. Dalam kesadaran zat, seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah swt dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. Sebab itu, orang yang demikian tidak boleh dijadikan pemimpin. Dia mesti turun kepada kesadaran sifat, barulah dia boleh memimpin orang lain. Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang dilantik oleh Allah swt menjadi khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah swt dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah swt. Orang inilah yang menjadi ahli ma’rifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, ahli tariqat yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani. Insan Rabbani peringkat teringgi ialah para nabi-nabi dan Allah swt mengaruniakan ma’shum kepada mereka, sementara yang tidak menjadi nabi dilantik sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.
Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeda-beda, dengan itu akan mencetuskan perilaku amal yang berbeda-beda. Ahwal harus difahami dengan sebenar-benarnya oleh orang yang memasuki latihan tariqat keruhanian, supaya dia mengetahui dalam amal yang bagaimanakah dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan sembahyang, zikir, atau puasa. Dia harus sungguh-sungguh berpegang kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia cepat dan selamat sampai ke puncak.

BAB 10 :

Ikhlas adalah Ruh Ibadah

 

Amalan lahiriah merupakan kerangka, sedangkan ruhnya adalah ikhlas yang tersembunyi dalam amalan tersebut
Amal lahiriah digambarkan sebagai batang tubuh dan ikhlas digambarkan sebagai nyawa yang menghidupkan batang tubuh itu. Seandainya kita kurang mendapat efek yang baik dari latihan keruhanian, hendaklah kita merenung dengan mendalam terhadap batang tubuh amal, apakah ia bernyawa atau tidak.
Hikmah sepuluh ini menghubungkan amal dengan ikhlas. Hikmah sembilan yang lalu telah menghubungkan amal dengan hal. Kedua Kalam Hikmah ini membina jembatan yang menghubungkan hal dengan ikhlas. Ikhlas menjadi persediaan yang penting bagi hati menyambut kedatangan pencahayaan Nur Ilahi. Apabila Allah swt berkehendak memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba-Nya maka dipancarkan Nur-Nya kepada hati hamba tersebut. nur yang dipancarkan kepada hati dinamakan Nur Sir atau Nur Rahasia Allah swt. Hati yang diterangi oleh nur akan merasakan hal ketuhanan atau mendapat tanda-tanda tentang Tuhan. Setelah mendapat pertanda dari Tuhan maka hati pun mengenal Tuhan. Hati yang memiliki ciri atau sifat begini adalah hati yang mempunyai ikhlas tingkat tertinggi. Tuhan berfirman untuk menggambarkan ikhlas dan hubungannya dengan ma’rifat:
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (QS. Yusuf: 24).
Nabi Yusuf as adalah hamba Allah swt yang ikhlas. Hamba yang ikhlas berada dalam pemeliharaan Allah swt. Apabila dirangsang untuk melakukan kejahatan dan kekotoran, Nur Rahasia Allah swt akan memancar di dalam hatinya sehingga dia menyaksikan dengan jelas akan tanda-tanda Allah swt dan sekaligus meleburkan rangsangan jahat tadi. Inilah tingkat yang tertinggi yang dimiliki oleh orang arif dan dekat dengan Allah swt. Mata hatinya senantiasa memandang kepada Allah swt baik semasa beramal ataupun semasa terdiam. Allah swt sendiri yang memeliharanya. Allah swt mengajarkan agar hamba-Nya terhubung dengan-Nya dalam keadaan ikhlas.
“Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. Al-Mu’min: 65).
Allah swt Yang Maha Hidup. Dia memiliki segala kehidupan. Dia jualah Tuhan sekalian alam. apa saja yang ada dalam alam ini adalah ciptaan-Nya. Apa saja yang hidup adalah diperhidupkan oleh-Nya. Jalan dari Allah swt adalah nikmat dan karunia, sementara jalan dari hamba kepada-Nya harus disertai dengan ikhlas. Hamba dituntut supaya mengikhlaskan segala aspek kehidupan untuk-Nya. Dalam melaksanakan tuntutan mengikhlaskan kehidupan untuk Allah swt ini, hamba tidak boleh merasa takut dan gentar kepada sesama makhluk.
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Al-Mu’min: 14).
Allah swt telah menetapkan kode etik kehidupan yang perlu dijunjung, dihayati, diamalkan, disebarkan dan diperjuangkan oleh kaum muslimin dengan sepenuh jiwa raga dalam keadaan ikhlas karena Allah swt, meskipun ada orang-orang yang tidak suka, orang-orang yang menghina, orang-orang yang membangkang dan mengadakan perlawanan. Keikhlasan yang diperjuangkan dalam kehidupan dunia ini akan dibawa bersama apabila menemui Tuhan kelak.
Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)” (QS. Al-A’raf: 29).
Sekalipun sukar mencapai peringkat ikhlas yang tertinggi, namun haruslah diusahakan agar memperoleh keadaan hati yang ikhlas dalam segala perbuatan baik yang lahir maupun yang batin. Orang yang telah tumbuh di dalam hatinya rasa cinta terhadap Allah swt akan berusaha membentuk hati yang ikhlas. Mata hatinya melihat bahwa Allah swt jualah Tuhan Yang Maha Agung dan dirinya hanyalah hamba yang hina. Hamba berkewajiban tunduk, patuh, dan taat kepada Tuhannya. Orang yang di dalam maqam ini beramal karena Allah swt; karena Allah swt yang memerintahkan supaya beramal, karena Allah swt berhak ditaati, karena perintah Allah swt wajib dilaksanakan, semuanya karena Allah swt, tidak karena sesuatu yang lain. Golongan ini sudah dapat memborgol hawa nafsu yang rendah dan pesona dunia tetapi dia masih melihat dirinya di samping Allah swt. Dia masih melihat dirinya yang melakukan amal. Dia gembira karena menjadi hamba Allah swt yang beramal karena Allah swt. Sifat kemanusiaan masih mempengaruhi hatinya.
Setelah keruhaniannya meningkat, hatinya dikuasai sepenuhnya oleh perlakuan Allah swt menjadi orang arif yang tidak lagi melihat kepada diri dan amalnya tetapi melihat llah swt, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Apa saja yang ada bersamanya adalah anugreah Allah swt. Sabar, ridha, tawakal dan ikhlas yang ada bersamanya merupakan anugerah Allah swt, bukan amal yang lahir dari kekuatan dirinya.
Tingkat ikhlas yang paling rendah ialah apabila amal perbuatan masih terikat dengan keinginan kepada pahala yang dijanjikan Allah swt. Ikhlas seperti ini dimiliki oleh orang yang masih kuat bersandar kepada amal, yaitu hamba yang mentaati Tuannya karena mengharapkan upah dari Tuannya itu.
Di bawah tingkatan ini tidak dinamakan ikhlas lagi. Tanpa ikhlas, seseorang beramal karena suatu tipuan keduniaan; mau dipuji, mau menutupi kejahatannya agar orang percaya kepadanya dan bermacam-macam tipuan rendah lainnya. Golongan ini walaupun banyak melakukan amalan, namun amalan mereka seumpama tubuh yang tidak bernyawa, tidak dapat menolong tuannya dan dihadapan Tuhan nanti akan menjadi debu yang tidak memberi syafaat terhadap orang yang melakukannya. Setiap orang yang beriman kepada Allah swt haruslah menguasakan ikhlas pada amalannya karena tanpa ikhlas akan menjadi syirik yang menyertai amalan tersebut.
“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (QS. Al-Hajj: 31).
Dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Yunus: 105-106).
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj: 37).
Allah swt menyeru sekaligus cupaya berbuat ikhlas dan tidak berbuat syirik. Ikhlas adalah lawan dari syirik. Jika suatu amal dilakukan dengan anggapan bahwa ada makhluk yang berkuasa mendatangkan manfaat atau mudharat, maka tidak ada ikhlas pada amal tersebut. Bila tidak ada ikhlas akan muncul syirik, yaitu sesuatu atau seseorang yang kepadanya amal itu dituukan. Orang yang beramal tanpa ikhlas itu disebut orang yang zalim, walaupun pada lahiriyahnya dia tidak menzalimin siapapun.
Intisari kepada ikhlas adalah melakukan sesuatu semata-mata karena Allah swt, tidak ada kepentingan lain. Kepentingan diri sendiri merupakan musuh ikhlas yang paling utama. Kepentingan diri lahir dari nafsu. Nafsu menginginkan kemewahan, kedudukan, kemuliaan, puji-pujian dan sebagainya. Apa yang lahir dari nafsu itulah yang sering menghalangi atau merusakkan ikhlas.

BAB 11 :

Tiada Kesempurnaan Tanpa Ikhlas

Tanamkan wujudmu dalam bumi yang tersembunyi, karena yang tumbuh dari sesuatu yang tidak ditanam itu tidak sempurna hasilnya
Hikmah sebelumnya mengarahkan pandangan kita kepada ikhlas. Ikhlas menjadi kekuatan yang dapat menghalau syirik. Jalan syirik adalah kepentingan diri sendiri. Oleh sebab itu, diri sendiri harus diperhatikan untuk menjauhkan terjadinya syirik. Bila kepentingan diri sendiri ditundukkan, barulah muncul keikhlasan.
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz-Dzariyat: 21).
Hikmah sebelas mengajak kita menyelami persoalan yanglebih halus, yaitu hakikat diri kita sendiri atau wujud kita. Kita dijadikan dari tanah, maka kembalikan ia (jasad) kepada tanah, yaitu ia (jasad) harus dilayani sebagai tanah supaya ia tidak menggunakan tipu dayanya. Apabila sudah dapat menghindari pengaruh jasad, selanjutnya kita berurusan dengan ruh. Ruh datangnya dari Allah swt, karena ruh adalah urusan Allah swt, maka kembalikan ia kepada Allah swt. Apabila seorang hamba sudah tidak terikat lagi dengan jasad dan ruh, maka jadilah ia bekas yang sesuai untuk diisi oleh Allah swt.
Pada awal perjalanan, seorang pengembara keruhanian membawa bersamanya sifat-sifat basyariyah serta kesadaran terhadap diri dan alam nyata. Dia dikawal oleh kehendak, pemikiran, cita-cita, angan-angan dan lain-lain. Anasir-anasir alam seperti mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan turut mempengaruhinya. Latihan keruhanian menghancurkan sifat-sifat yang keji dan memutuskan rantaian pengaruh anasir-anasir alam.
Jika diperhatikan Kalam-kalam Hikmah sebelumnya dapat dilihat bahwa hijab nafsu dan akal yang membungkus hati mengakibatkan kebenaran menjadi tidak kelihatan. Akal yang ditutupi oleh kegelapan nafsu, yaitu akal yang tidak menerima pancaran nur, tunduk kepada perintah nafsu. Nafsu tidak pernah kenyang dan akal senantiasa menyiapkan jawaban dan alasan. Dalil akal menjadi benteng yang kukuh untuk bersembunyinya nafsu. Jangan memandang enteng kepada kekuatan nafsu dalam menguasai akal dan pancaindera. Al-Quran telah memberi peringatan mengenainya:
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya” (dari binatang ternak itu) (QS. Al-Furqan: 43-44).
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (QS. Al-A’raf: 176).
Manusia yang menerima ayat-ayat Allah swt seharusnya menjadi mulia, tetapi bertukar menjadi hina dikarenakan mereka memperturutkan hawa nafsu. Ayat-ayat Allah swt dapat memancarkan cahaya pada hati dan akalnya, akan tetapi kegelapan nafsu membungkus cahaya itu. Di dalam kegelapan nafsu, akal membuat hujah untuk mendustakan ayat-ayat Allah swt yang dia sendiri mengetahuinya. Allah swt membuat penggambaran yang hina bagi orang yang seperti ini. Mereka umpama anjing yang yang tidak berfikir dan tidak berwibawa. Buruk sekali pandangan Allah swt terhadap orang yang mempertuhankan nafsunya. Nafsu yang tidak mengenal puas seumpama anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya, tidak memperdulikan walaupun dihalau berkali-kali.
Allah swt mewahyukan ayat-ayat yang menceritakan tentang kehinaan manusia yang menerima ayat-ayat-Nya tetapi masih juga memperturutkan hawa nafsu, supaya ajaran yang demikian memberi kesadaran kepada mereka. Jika kembali sadar, mereka akan keluar dari kegelapan nafsu. Dengan panduan ayat-ayat Allah swt yang sudah mereka ketahui akan ditemukan jalan yang benar.
Ayat-ayat yang diturunkan Allah swt memberi pemahaman kepada Rasulullah saw bahwa cendekiawan Arab yang menentangnya bukan karena tidak dapat melihat kebenaran yang dibawa Rasulullah saw, tetapi mereka dikuasai oleh kegelapan nafsu. Orang yang telah menerima cahaya kebenaran tetapi mendustakannya, itulah yang diberi perumpamaan yang hina oleh Allah swt.
Menurut cerita Ibnu Abbas, pada zaman Nabi Musa as ada seorang alim bernama Bal’am bin Ba’ura. Allah swt mengaruniakan kepada Bal’am rahasia khasiat-khasiat nama-nama Allah Yang Maha Besar. Nabi Musa as dan kaum Bani Israil, setelah selamat dari Firaun, hampir sampai ke tempat tinggal Bal’am. Raja negeri tersebut ketakutan, kalau-kalau negerinya diserang oleh kaum yang telah berhasil menewaskan Firaun. Setelah bermusyawarah dengan penasihat-penasihatnya, raja tersebut memutuskan untuk meminta pertolongan Bal’am agar ia menggunakan ilmunya untuk mengalahkan Nabi Musa as. Bal’am yang mulanya tidak mau berbuat demikian tetapi akhirnya setuju juga setelah istri kecintaannya menerima sogokan dari raja. Menurut cerita, doa dan perbuatan Bal’am dimakbulkan Allah swt dan ia menjadi sebab kaum Nabi Musa terperangkap di Padang The beberapa tahun lamanya. Nabi Musa as mendoakan gar kaumnya terlepas dari tipu daya Bal’am, Allah swt memakbulkan doa tersebut dan pada waktu yang sama turun lakna kepada Bal’am.
Sebagian orang menganggap cerita di atas sebagai cerita Israiliyat. Rasulullah saw menjelaskan bahwa cerita ahli kitab tidak dibenarkan dan didustakan seluruhnya. Cerita tersebut diungkapkan sekadar menunjukkan sejauh mana kekuatan nafsu menutupi pandangan hati sehingga Bal’am sanggup menentang Nabi Musa as walaupun dia mengetahui kebenarannya, sebagaimana cendekiawan Arab menentang Rasulullah saw sekalipun hati kecil mereka menerima kebenaran Baginda saw. Menundukkan nafsu bukanlah pekerjaan mudah. Seseorang perlu kembali kepada hatinya, bukan akalnya. Hati tidak akan berbohong dengan diri sendiri sekalipun akal menutupi kebenaran atas perintah nafsu. Kekuatan hati adalah ikhlas. Maksud ikhlas yang sebenarnya adalah:
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An’am: 162).
Dalam ikhlas tidak ada kepentingan diri. Semuanya karena Allah swt. Selagi kepentingan diri tidak ditanam dalam bumi, selagi itu pula ikhlas tidak tumbuh dengan baik. Ia menjadi sempurna apabila wujud diri itu sendiri ditanamkan. Bumi tempat menanamnya adalah bumi yang tersembunyi, jauh dari perhatian manusia lain. Ia adalah seumpama kubur yang tidak bertanda.

BAB 12 :

Uzlah adalah Pintu Tafakur


Tiada sesuatu yang sangat berguna bagi hati untuk masuk ke medan tafakur kecuali uzlah

Kalam-kalam Hikmah pertama hingga ke sebelas telah memberi gambaran tentang keperibadian tauhid yang sangat lembut. Seseorang yang mencintai Allah swt dan mau berada di sisi-Nya sangat berkeinginan untuk mencapai kepribadian yang demikian. Dalam membentuk kepribadian itu, dia gemar mengikuti fondasi syariat, kuat beribadah dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Dia sering bangun pada malam hari untuk melakukan shalat tahajud dan selalu pula melakukan puasa sunat. Dia menjaga tingkah-laku dan akhlak dengan mencontoh apa yang dilakukan Nabi saw. Hasil dari kesungguhannya itu terbentuklah kepribadian seorang Muslim yang baik. Walaupun demikian dia masih tidak mencapai kepuasan dan kedamaian. Dia masih tidak mengerti tentang Allah swt. Banyak persoalan yang timbul di dalam kepala yang tidak mampu diuraikannya. Dia bertanya kepada mereka yang alim, tetapi dia tidak mendapat jawaban yang memuaskan hatinya. Jika ada jawaban yang baik disampaikan kepadanya, dia tidak dapat menghayati apa yang telah diterangkan itu. dia mengkaji kitab-kitab tasawuf yang besar-besar. Ulama tasawuf memberikan penjelasan yang mampu diterima oleh akalnya, namun dia masih merasakan kekosongan di satu sudut di dalam dirinya. Dapat dikatakan dia kepada perbatasan akalnya.
Hikmah 12 ini memberi petunjuk kepada orang yang gagal mencari jawaban dengan kekuatan akalnya. Jalan yang disarankan ialah uzlah atau mengasingkan diri dari keramaian. Jika dalam suasana biasa akal tidak mamu memecahkan kebuntuan, dalam suasana uzlah, hati mampu membantu akal secara tafakur untuk merenungi perkara-perkara yang tidak dapat dipikirkan oleh akal biasa. Uzlah yang disarankan oleh Hikmah 12 ini bukanlah uzlah sebagai satu cara hidup yang terus-menerus tetapi ia adalah satu bentuk latihan keruhanian untuk memantapkan ruhani agar akalnya dapat menerima pancaran Nur Kalbu karena tanpa cahaya Nur Kalbu tidak mungkin akal dapat memahami hal-hal ketuhanan yang lembut, dan tidak akan memperoleh iman dan tauhid yang hakiki.
Hati adalah bangsa ruhani atau nurani yaitu hati yang berkemampuan mengeluarkan nur jika ia berada di dalam keadaan suci bersih. Nur yang dikeluarkan hati yang suci bersih itu akan menerangi otak yang bertempat di kepala yang menjadi kendaraan akal. Akal yang diterangi nur akan dapat mengimani perkara-perkara ghaib yang tidak dapat diterima oleh hukum logik. Beriman kepada perkara ghaib menjadi jalan untuk mencapai tauhid yang hakiki.
Nabi Muhammad saw sebelum diutus sebagai Rasul pernah juga mengalami kebuntuan akal tentang hal ketuhanan. Pada masa itu terdapat pendeta Nasrani dan Yahudi yang arif tentang hal tersebut, tetapi Nabi Muhammad saw tidak pergi kepada mereka untuk mendapatkan jawaban yang mengganggu fikirannya, sebaliknya Nabi saw memilih jalan uzlah. Ketika umur Nabi saw 36 tahun, ia melakukan uzlah di Gua Hira. Baginda saw tinggal sendirian di dalam gua yang sempit dan gelap, terpisah dari istri, anak-anak, keluarga, masyarakat hingga cahaya matahari pun tidak mengenainya. Amalan uzlah yang Nabi saw lakukan secara berulang-ulang sampai umur mencapai 40 tahun. Masa beruzlah di Gua Hira yang gemar baginda saw lakukan ialah pada bulan Ramadan. Latihan uzlah yang baginda lakukan dari umur 36 sampai 40 tahun telah memantapkan ruhani baginda sehingga menerima tanggung jawab sebagai Rasul. Latihan semasa uzlah telah menyucikan hati baginda saw dan meneguhkannya sehingga hati itu mampu menerangi akal untuk menafsirkan wahyu yang lembut dan lengkap. Wahyu yang dibacakan Jibril as sangat singkat tetapi Rasulullah sawt dapat menghayati, memahami dengan tepat, mengamalkannya dengan tepat dan menyampaikannya kepada umatnya dengan tepat meskipun baginda saw tidak dapat membaca dan menulis.
Begitulah kekuatan dan kebijaksanaan yang lahir dari latihan semasa uzlah. Tanpa latihan dan persiapan yang cukup, seseorang tidak dapat masuk ke dalam medan tafakur tentang ketuhanan. Orang yang masuk ke dalam medan ini tanpa persediaan dan kekuatan akan menemui kebuntuan. Jika dia masih juga menempuh tembok kebuntuan itu dia akan jatuh ke dalam kegilaan.
Orang awam hidup dalam suasana: “Tugas utama adalah mengurus kehidupan harian dan sebagai pelengkapnya menghubungkan diri dengan Allah swt”. Orang yang yang berada dalam suasana seperti ini akan kesulitan mencari kesempatan untuk bersama-sama Allah swt. Jika diperingatkan supaya mengurangi aktivitas kehidupannya dan memperbanyak aktivitas yang berhubungan dengan Allah swt, mereka memberi alasan bahwa Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya tidak meninggalkan dunia karena sibuk berurusan dengan Allah swt. Mereka ini lupa atau tidak mengerti bahwa hati Rasulullah saw dan para sahabat tidak berpisah dengan Allah swt walau satu detik pun. Orang yang mata hatinya masih tertutup dan cermin hatinya tidak menerima pancaran Nur Sir, tidak mungkin hatinya menghadap kepada Allah swt ketika sedang sibuk melayani makhluk Allah swt. Orang yang sadar akan kelemahan dirinya akan mengikuti jalan yang dipelopori oleh Rasulullah saw dan diikuti oleh para sahabat yaitu memisahkan diri dengan semua jenis kesibukan terutama pada sepertiga malam akhir. Tidak berhubungan dengan orang atau keramaian. Tidak berkunjung dan tidak dikunjungi. Tidak ada surat kabar, radio, dan televisi. Tidak berhubungan dengan segala sesuatu kecuali berhubungan dengan Allah swt.
Dalam perjalanan tarekat tasawuf, amalan uzlah dilakukan secara sistematik dan latihan yang demikian dinamakan suluk. Orang yang menjalani suluk dinamakan murid atau salik. Si salik menghabiskan kebanyakan waktunya di dalam bilik khalwat dengan diawasi dan dibimbing oleh gurunya. Latihan bersuluk memisahkan salik dengan hijab yang paling besar bagi orang yang baru menjalani jalan keruhanian yaitu pergaulan dengan orang umum. Imannya belum cukup teguh dan mudah menerima rangsangan dari luar yang dapat menggelincirkan untuk melakukan maksiat dan melalaikan hatinya dari mengingat Allah swt. Apabila dia dipisahkan dari dunia luar, jiwanya lebih aman dan tenteram mengadakan hubungan dengan Allah swt.
Semasa beruzlah, bersuluk atau berkhalwat, si murid bersungguh-sungguh di dalam bermujahadah memerangi hawa nafsu dan tarikan duniawi. Dia memperbanyak shalat, puasa, dan berzikir. Dia mengurangkan tidur karena memanjangkan masa beribadah. Kegiatan beribadah dan pelepasan ikatan nafsu dan duniawi menjernihkan cermin hatinya. Hati yang suci bersih bersiap memasuki alam ghaib yaitu Alam Malakut. Hati mampu menerima isyarat-isyarat dari alam ghaib. Isyarat yang diterimanya hanya sebentar tetapi cukup untuk menarik minatnya untuk mengkaji apa yang ditangkap oleh hatinya itu. terjadilah pembelajaran di antara fikiran dengan dirinya sendiri. Pada waktu yang sama dia menjadi penanya dan penjawab, murid dan pengajar. Pembelajaran dengan diri sendiri itu dinamakan tafakur.
Pertanyaan timul dalam fikirannya, namun fikirannya tidak dapat memberi jawaban. Karena fikiran meraba-raba mencari jawaban, dia mendapat bantuan dari hatinya yang sudah suci bersih. Keadaan hati yang demikian dapat mengeluarkan nur yang menerangi akal, lalu jalan fikirannya menjadi terang. Suatu persoalan yang awalnya rumit, tiba-tiba menjadi mudah dan jelas. Dia mendapatkan jawaban yang memuaskan hati terhadap persoalan yang dulunya mengacaukan fikiran dan jiwanya. Dia menjadi tambah berminat untuk bertafakur menguraikan segala kekusutan yang tidak dapat diuraikan selama ini. Dia gemar merenung segala perkara dan membahas dengan dirinya, menghubungkannya dengan Tuhan sehingga dia mendapat jawaban yang memuaskan hatinya. Semakin dia bertafakur semakin terbuka kegelapan yang menutupi fikirannya. Dia mulai memahami tentang hakikat, hubungan antara makhluk dengan Tuhan, rahasia ketuhanan dalam perjalanan alam dan sebagainya.
Isyarat-isyarat tauhid yang diterima hatinya membuat mata hati melihat bekas-bekas kekuasaan Allah swt dalam alam maya ini. Dia dapat melihat bahwa semuanya adalah ciptaan Allah swt, gubahan-Nya, lukisan-Nya, dan peraturan-Nya. Hasil dari kegiatan tafakur tentang Tuhan membawa dia berma’rifat kepada Allah swt melalui akalnya. Ma’rifat secara akal menjadi alat baginya untuk mencapai ma’rifat secara zauk.
Dalam mengkaji ketuhanan, akal hendaklah mengakui kelemahannya. Akal hendaklah sadar bahwa ia tidak mampu memahami perkara ghaib. Oleh karena itu akal perlu meminta bantuan hati. Hati perlu diasah supaya bercahaya. Dalam proses pengasahan hati, akal tidak perlu banyak mengadakan argumen. Argumen akal melambatkan proses pengasahan hati. Sebab itulah Hikmah 12 menganjurkan supata mengasingkan diri. Di dalam suasa pengasingan nafsu menjadi lemah dan akal tidak lagi mengikuti petunjuk nafsu. Barulah hati dapat mengeluarkan cahayanya. Cahaya hati menerangi kepada alam ghaib. Apabila alam ghaib sudah terang benderang barulah akal mampu memahami ketuhanan yang tidak mampu diuraikan sebelumnya.

BAB 13 :

Hijab yang Menghalangi Perjalanan


Bagaimana hati akan dapat disinari ketika gambar-gambar alam maya melekat pada cerminnya, bagaimana mungkin berjalan kepada Allah swt ketika masih dibelenggu oleh syahwat, bagaimana akan masuk ke hadirat Allah swt ketika masih belum suci dari kelalaian, atau bagaimana mengharap untuk memahami rahasia-rahasia yang lembut ketika belum bertaubat dari dosa.

Hikmah 12 memberi penekanan tentang uzlah yaitu mengasingkan diri. Hikmah 13 ini memperingatkan bahwa uzlah tubuh saja tidak memberi kesan yang baik jika hati tidak ikut beruzlah. Walaupun tubuh beruzlah, hati masih dapat diganggu oleh empat perkara:
  1. Gambaran, ingatan, tarikan dan keinginan terhadap benda-benda seperti harta, perempuan, pangkat dan lain-lain.
  2. Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada apa yang dikehendaki.
  3. Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah swt.
  4. Dosa yang tidak dibasuh dengan taubat masih dapat mengotorkan hati.
Tubuh manusia tersusun dari elemen tanah, air, api, dan angin. Ia juga dimasuki unsur-unsur alam seperti tumbuhan, hewan, setan, dan malaikat. Tiap-tiap elemen dan unsur itu menarik hati kepada masing-masingnya. Tarik-menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu pula menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima nur yang melahirkan iman dan tauhid. Mengobat kekacauan hati adalah penting untuk membukakan penerimaan maklumat dari Alam Malakut. Hati yang kacau dapat distabilkan dengan cara menundukkan semua elemen dan unsur tadi kepada syariat. Syariat menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang mencoba menawan hati. Penting sekali bagi seorang murid yang menjalani jalan keruhanian menjadikan syariat sebagai payung yang mengharmonikan perjalanan elemen-elemen dan daya-daya yang menyerap ke dalam tubuh agar cermin hatinya bebas dari gambar-gambar alam maya. Bila cermin hati sudah bebas dari gambar-gambar dan tarikan tersebut, hati dapat menghadap ke hadirat Ilahi.
Selain tarikan benda-benda alam, hati dapat tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan saja rangsangan hawa nafsu yang rendah. Semuan bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah swt adalah syahwat. Kerja syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan peraturan Allah swt serta membangkang takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak ridha dengan keputusan Allah swt. Seseorang yang mau menghadap Allah swt perlu melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan kehendak diri sendiri, lalu masuk ke dalam penyerahan diri kepada Allah swt dan ridha dengan takdir-Nya.
Perkara ketiga yang dimunculkan oleh Hikmat 13 ini ialah kelalaian yang diistilahkan sebagai junub batin. Orang yang berjunub adalah tidak suci dan dilarang melakukan ibadah atau memasuki masjid. Orang yang berjunub batin pun akan tercegah dari memasuki hadirat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin yaitu lalai hati, kedudukannya seperti orang yang berjunub zahir, di mana alam ibadahnya tidak diterima. Allah swt mengancam untuk mencampakkan orang yang bersembahyang dengan lalai (dalam keadaan berjunub batin) ke dalam neraka wail. Begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.
Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah swt kepada orang yang lalai? Bayangkati hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita yang zahir. Hati yang khusyuk adalah ibarat orang yang menghadap Allah swt dengan mukanya, duduk dengan tertib, berbicara dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Maharaja Yang Maha Agung. Hati yang lalai ibarat orang yang menghadap dengan punggungnya, duduk tidak beradab, bertutur kata tidak tentu ujung pangkalnya dan kelakuannya sangat tidak sopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Jika raja di dunia murka dengan perbuatan yang demikian, maka Tuhan lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang tidak beradab itu dan layak jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wail. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu sopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke hadirat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu sopan santun tidak layak mendekati-Nya.
Perkara yang keempat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia menghalangi seseorang dari memahami rahasia-rahasia yang lembut. Pintu kepada kemahakuasaan Allah swt yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyucikan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahasia Allah swt selagi dia belum bertaubat, sama seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan utangnya terpaksa menunggu di luar surga. Jika dia mau masuk ke dalam kemahakuasaan Allah swt yang tersembunyi yang mengandung rahasia yang lembut maka wajib bertaubat. Taubat itu sendiri merupakan rahasia yang lembut. Orang yang tidak memahami rahasia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah saw tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon ampunan, sedangkan sekalipun Baginda saw melakukan dosa semuanya diampunkan Allah swt. Apakah Rasulullah saw tidak yakin bahwa Allah swt mengampuni semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya (jika ada)?
Maksud taubat ialah kembali, yaitu kembali kepada Allah swt. Orang yang melakukan dosa tercampak jauh dari Allah swt. Walaupun orang ini sudah berhenti melakukan dosa, malah sudah melakukan amal ibadah dengan banyaknya namun tanpa taubat dia tetap berjauhan dengan Allah swt. Dia masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih tetapi yang berjauhan bukan berdekatan dengan Allah swt. Taubat yang lebih lembut ialah penghayatan terhadap kalimat “laa haula wa laa quwwata illa billah; tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah swt” dan “inna lillah wa inna ilaihi rajiuun; kami datang dari Allah swt dan kepada-Nya kami kembali”.
Segala sesuatu datangnya dari Allah swt, baik kehendak maupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa saja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa saja yang datang dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah membekalkan kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. jadi, ubudiyah berkewajiban mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon ampunan dan bertaubat sebagai penyesalan kesalahan. Segala urusan dikembalikan kepada Allah swt. Semakin tinggi ma’rifat seorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin kerap dia memohon ampunan dari Allah swt, mengembalikan setiap urusan kepada Allah swt, sumber datangnya segala urusan.
Apabila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah swt, maka Allah swt sendiri yang akan mengajarkan ilmu-Nya yang lembut agar kehendak hamba itu bersesuaian dengan Iradat Allah swt, kuasa hamba sesuai dengan Kudrat Allah swt, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah swt dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah swt, dengan demikian jadilah hamba mendengar karena Sama’ Allah swt, melihat karena Bashar Allah swt, dan berkata-kata karena Kalam Allah swt. Apabila semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahasia Allah swt).

 

BAB 14 :

Allah Swt Yang Menzahirkan Alam

 

Alam adalah kegelapan dan yang menerangkannya karena padanya kelihatan yang haq (tanda-tanda Allah swt). barangsiapa melihat alam tetapi dia tidak melihat Allah swt di dalamnya, di sampingnya, sebelumnya atau sesudahnya, maka dia benar-benar memerlukan wujudnya cahaya-cahaya itu dan tertutup baginya cahaya ma’rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam.

Alam ini pada hakikatnya adalah gelap atau ‘adam, tidak wujud. Wujud Allah sw yang menerbitkan kewujudan alam. tidak ada satu kewujudan yang berpisah dari wujud Allah swt. Hubungan wujud Allah swt dengan kewujudan makhluk sekiranya dibuat ibarat (sebenarnya tidak ada ibarat yang mampu menjelaskan hakikat sebenarnya), perhatikan kepada api yang berputar dalam kecepatan. Kelihatan pada pandangan kita bulatan api. Perhatikan pula kepada orang yang berbicara, akan kedengaran suara dari mulutnya. Kemudian perhatikan pula minyak kasturi, akan terhirup baunya yang wangi. Wujud bulatan api adalah wujud yang berkaitan dengan wujud api. Wujud suara adalah wujud yang berkaitan dengan wujud orang yang berbicara. Wujud bau wangi adalah wujud yang berkaitan dengan wujud minyak kasturi. Wujud bulatan api, suara dan bau wangi pada hakikatnya tidak wujud. Begitulah ibaratnya wujud makhluk yang menjadi ada dari  wujud Allah swt. Wujud bulatan api adalah hasil dari pergerakan api. Wujud suara adalah hasil dari perbuatan orang yang berbicara. Wujud bau wangi adalah hasil dari sifat minyak kasturi. Bulatan api bkanlah api tetapi bukan pula muncul selain dari api dan tidak terpisah darinya. Suara bukanlah orang yang berbicara tetapi tidak muncul selain dari orang yang berbicara. Walaupun orang itu sudah tidak berbicara tetapi masih banyak lagi suara yang tersimpan padanya. Bau wangi bukanlah minyak kasturi tetapi tidak muncul selain dari minyak kasturi. Walaupun bulatan api kelihatan banyak, suara kedengaran banyak, dan bau dapat dinikmati orang-orang, namun api hanya satu, orang yang berbicara hanya seorang dan minyak kasturi yang mengeluarkan bau hanya satu biji.
Agak sukar memahami konsep ada tetapi tidak ada, tidak bersama tetapi tidak berpisah. Inilah konsep ketuhanan yang tidak mampu dipecahkan oleh akal tanpa penerangan nur dari lubuk hati. Mata hati yang diterangi Nur Ilahi dapat melihat kaitan antara ada dengan tidak ada, tidak bersama tetapi tidak berpisah. Atas kekuatan hatinya menerima cahaya Nur Ilahi akan menentukan kekuatan mata hatinya melihat kepada keghaiban yang tidak berpisah dengan kejadian alam ini. Ada 4 tingkatan pandangan mata hati terhadap hubungan alam dengan Allah swt yang menciptakan alam.
  1. Mereka yang melihat Allah swt dan tidak melihat alam ini. Mereka adalah ibarat orang yang hanya melihat kepada api, bulatan api yang khayali tidak menyilaukan pandangannya. Walaupun mereka berada di tengah-tengah kesibukan, namun mata hati mereka tetapi bertumpu kepada Allah swt, tidak terganggu oleh keanekaan makhluk. Lintasan makhluk hanyalah ibarat cermin yang ditembus cahaya. Pandangan mereka tidak melekat pada cermin itu.
  2. Mereka yang melihat makhluk secara zahir tetapi Allah swt pada batin. Mata hati mereka melihat alam sebagai penzahiran sifat-sifat Allah swt. Segala yang maujud merupakan kitab yang menceritakan tentang Allah swt. Tiap satu kewujudan alam ini membawa sesuatu makna yang menceritakan tentang Allah swt.
  3. Mereka yang melihat Allah swt pada zahirnya sementara makhluk tersembunyi. Mata hati mereka terlebih dahulu melihat Allah swt sebagai sumber segala sesuatu, kemudian baru mereka melihat makhluk yang menerima karuia dari-Nya. Alam tidak lain merupakan perbuatan-Nya, gubahan-Nya, lukisan-Nya atau hasil kerja kekuasaan-Nya.
  4. Mereka yang melihat makhluk terlebih dahulu kemudian baru melihat Allah swt. Mereka memasuki jalan berhati-hati dan waspada, memerlukan masa untuk menghilangkan keraguan, berdalil dengan akal sehingga akhirnya meyakini akan Allah swt yang wujud-Nya menguasai wujud makhluk.
Selain yang dinyatakan di atas tidak disebut orang yang melihat Allah swt. Gambar-gambar alam, syahwat, kelalaian dan dosa menggelapkan cermin hati mereka hingga tidak mampu menangkap cahaya yang membawa kepada ma’rifat. Mereka gagal untuk melihat Allah swt berada di dalam sesuatu, di samping sesuatu, sebelum sesuatu atau sesudah sesuatu. Mereka hanya melihat makhluk seolah-olah berdiri sendiri tanpa campur tangan Tuhan.
Elemen alam dan sekalian peristiwa yang berlaku merupakan perutusan yang membawa berita tentang Allah swt. Berita itu bukan didengar dengan telinga atau dilihat dengan mata atau dipikir dengan akal. Ia adalah berita ghaib yang menyentuh jiwa. Sentuhan tangan ghaib pada jiwa itulah yang membuat hati mendengar tanpa telinga, melihat tanpa mata dan merenung tanpa akal pikiran. Hati hanya mengerti setiap utusan yang disampaikan oleh tangan ghaib kepadanya dan hati menerimanya dengan yakin. Keyakinan itu menjadi kunci kepada telinga, mata dan akal. Apabila kuncinya telah dibuka, segala suara alam yang didengar, sekalian elemen alam yang dilihat dan seluruh alam maya yang direnungi akan membawa cerita tentang Tuhan. ‘Abid mendengar, melihat dan merenungi keperkasaan Tuhan. Asyikin mendengar, melihat dan merenungi keindahan Tuhan. Muttakhaliq mendengar, melihat dan merenungi kebijaksanaan dan kesempurnaan Tuhan. Muwahhid mendengar, melihat dan merenungi keesaan Tuhan.
(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan (QS. Al-Mumin:16).
Mereka mendustakan mukjizat Kami semuanya, lalu Kami azab mereka sebagai azab dari yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa (QS. Al-Qamar:42).
Ayat-ayat di atas menggetarkan jiwa ‘abid. Hati abid sudah ‘berada’ di akhirat. Alam dan kehidupan ini menjadi ayat-ayat atau tanda-tanda untuknya melihat keadaan dirinya di akhirat kelak, menghadap Tuhan Yang Esa, Maha Perkasa, tiada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya.
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah (QS. Al-Mulk: 3-4).
Asyikin memandang kepada ciptaan dan dia mengulang-ulang pemandangannya. Semakin dia memandang kepada alam semakin dia melihat kepada keindahan dan kesempurnaan Pencipta alam. Dia asyik dengan apa yang dipandangnya.
Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai asmaaul husna. Bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Hasyr:24).
Muttakhaliq menyaksikan sifat-sifat Tuhan yang dikenal dengan nama-nama yang baik. Alam adalah media untuknya mengetahui nama-nama Allah swt dan siat-sifat kesempurnaan-Nya. Setiap yang dipandang menceritakan sesuatu tentang Allah swt.
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS. Thaha:14).
Muwahhid fana dalam Zat. Kesadaran dirinya hilang. Melalui lidahnya muncul ucapan-ucapan seperti ayat di atas. Dia mengucapkan ayat-ayat Allah swt, bukan dia bertukar menjadi Tuhan.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (QS. Al-Fatihah:1-7).
Mutahaqqiq kembali kepada kesadaran kemanusiaan untuk memikul tugas membimbing umat manusia kepada jalan Allah swt. Hatinya senantiasa memandang kepada Allah swt dan bergantung kepada-Nya. Kehidupan ini adalah medan dakwah baginya. Segala elemen alam adalah alat untuk dia memakmurkan bumi.
Apabila Nur Ilahi menerangi hati apa saja yang dipandang akan kelihatan Allah swt, di sampingnya atau sebelumnya atau sesudahnya.
Post a Comment