Friday, July 13, 2012

4 MAQAM MUSYAHADAH : TAUHIDUL ASMA (3)

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
4 MAQAM MUSYAHADAH : TAUHIDUL ASMA (3)
Tauhidul Asma
Nama ada dua pengertian:
1. Ismun Jami’ : menghimpun, memandang yang banyak pada yang satu.
2. Ismun mani’ : mencegah, memandang yang satu pada yang banyak, mencegah selain Allah.

Apabila melhat orang yang sabar maka hendaklah syuhud, bahwa sabar itu adalah nama Allah Assobuur.
falillahi asma’ul husna fad’uhu biha. Allah ta’ala menentukan dirinya dengan nama bukan dengan sifat. Dan sesungguhnya yang kamu seru itu adalah dia yang mendengar (Sami’un).

Kalau Allah itu bersifat berarti Allah itu majhul, karena yang butuh sifat adalah dzat yang tidak diketahui.
Tauhidul asma’ adalah maqom kedua yang dianugerahkan kepada salik, maqom ini adalah natijah dari maqom pertama (tauhidul af’al), dan yang akan menyampaikan maqom selanjutnya (tauhidus sifat).

Ismun jami’ syuhudul katsroh fil wahdah, sekalian alam ini adalah dari Allah yang satu
Ismun mani’ syuhdul wahdah filkatsroh , dari Allah jua lah terbitnya alam semesta. Sekalian alam ini adalah madzharnya Allah.

Kita kendatipun faham tentang ilmu tauhid tetapi tidak boleh meninggalkan etika, syariat. Oleh karena itu uraian tauhid tidak boleh meninggalkan syari’at. Simpan tauhid sebgai syuhud musyahadah, jalankan syariat dengan baik dan benar sesuai perintah, contoh nabi.
Ismun jami’ menghimpun nama nama Allah dalam asmaul husna. Nama yang baik itu adalah predikat kita. Ismun mani’ adalah nama yang tak pantas. Nama buruk kita juga punya yaitu panggilan panggilan yang kita tak pantas menempatkan pada tempat sakral.
Contoh: nama asli Jony, ada nama panggilan,meong, nggak mungkin nama panggilan ditempatkan pada ijazah, atau KTP.
Simpan semua nama, ungkapkan yang baik pada Allah, ungkapkan yang buruk kepada hamba, meski hakikatnya semua milik  Allah.

Tulkiyem itu hakikatnya nama Allah, tapi harus dicegah menjadi nama Allah dan biarkan menjadi nama hamba itu, tulkiyem itulah ismun mani’.
Sami’un bashirun itu nama Allah, dan harus dikembalikan pada Allah, Apa bila kita mendengar dan melihat maka yang sami’un bashirun itu adalah Allah, sami’un bashirun itulah ismun jami’.
Post a Comment